UNIVERSITAS TEKNOLOGI SULAWESI (UTS) MEMPERINGATI HARI DIFABEL INTERNASIONAL 2016 MELALUI SEMINAR SEHARI.

sekkot-makassar-696x473
Keterangan foto: Sekda Kota Makassar H. Ibrahim Saleh, SE. MM sedang memberikan kuliah umum kepada mahasiswa Unv. Teknologi Sulawesi. (Sumber foto: http://www.online24jam.com)

Makassar, 28 Nop 2016

 

Hari ini bertempat di Hotel The One Universitas Teknologi Sulawesi (UTS) bekerjasama dengan Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PERDIK) SulSel memperingati Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2016 melalui kegiatan Kuliah Umum dan Seminar Sehari. Kuliah umum disampaikan oleh Bapak H. Ibrahim Saleh, SE. MM. sebagai Sekretaris Daerah Kota Makassar dan Seminar Sehari diisi oleh Kepala UPT Panti Sosial Bina Daksa Wirajaya, Makassar) bapak Drs. Aladin, Ketua Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial UTS, Bapak Drs. Moch. Soleh, MM, dan Direktur Perdik Sulsel Bapak Abd. Rahman, S.Pd.

Continue reading “UNIVERSITAS TEKNOLOGI SULAWESI (UTS) MEMPERINGATI HARI DIFABEL INTERNASIONAL 2016 MELALUI SEMINAR SEHARI.”

Prof. Caroline: Abelisme, Akar Diskriminasi atas Difabel

caroline

Isu disabilitas dialami hampir semua negara di dunia. Untuk mengatasinya, pakar disabilitas dari Universitas Flinders Australia Caroline Ellison, mengatakan, masyarakat harus mulai menjauhi sikap diskriminasi dan tak sepantasnya memaksakan standar hidup mereka.

Bahkan bagi Caroline, penyandang disabilitas tak butuh belas kasihan.

Continue reading “Prof. Caroline: Abelisme, Akar Diskriminasi atas Difabel”

MARI BERDONASI MENDUKUNG EKSPEDISI DIFABEL MENEMBUS BATAS 2016

Kami adalah Tim Ekspedisi Difabel Menembus Batas. Kami berasal dari berbagai lembaga yang konsern pada isu disabilitas dan lingkungan hidup. Salah satu lembaga utama pelaksana Ekspedisi ini adalah PERDIK atau Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan yang berkedudukan di Kota Makassar. Perdik menggalang dukungan dari beberapa Kelompok Pencinta Alam dan organisasi lain seperti Makassar Rescue dan Instansi Pemadam Kebakaran.

Tiga pendaki difabel Eko (difabel kinetik), Rahman dan Syarif (keduanya difabel netra) sedang menerima bimbingan teknik SRT dan Bina Jasmani.

Saat ini, kami sudah menghimpun dukungan secara sosial dari berbagai pihak untuk mendukung kami memulai dan mempersiapkan ekspedisi pendakian gunung tertinggi di Sulawesi Selatan, Gunung Latimojong (3478 mdpl). Pendakian dilakukan pada 29 Nopember – 6 Desember 2016 dengan diikuti 5 pendaki difabel dan belasan pendaki dari KPA kota Makassar dan kabupaten Enrekang. Selain pendakian, pada waktu yang sama, kami juga berdialog dengan pemerintah dan warga desa Latimojong terkait isu disabilitas dan pentingnya melibatkan difabel dalam kegiatan sosial dan pemerintahan di desa. Setelah pendakian, kami juga akan berbagi pengalaman terkait pendakian.

314986083b49022380a8abb2d0c26dcd5979ab38

Untuk dapat mengikuti persiapan kami, silakan kunjungi www.ekspedisidifabel.wordpress.com dan jika membutuhkan sarana komunikasi via email, silakan tujukan kepada kami di email: perdiksulsel@gmail.com

Jika Anda tertarik dan hendak mendukung gerakan kami ini, silakan memberikan donasi kepada tim ini melalui:
https://kitabisa.com/ayoekspedisidifabel?ref=29a6e&utm_source=facebook&utm_medium=sharebutton_payment_summary&utm_campaign=projectshare

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Persiapan Untuk Esok adalah Kerja Keras di hari ini

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Judul tulisan ini adalah kutipan dari ucapan sang legendaris Kungfu, Bruce Lee. “Preparation for tomorrow is hard work today! Begitulah kira-kira gambaran upaya Tim Ekspedisi Difabel Menembus Batas mempersiapkan diri beberapa hari ini.

Ada beberapa [calon] pendaki yang sudah memastikan diri ikut dalam tim ekspedisi memperingati hari difabel internasional dengan mendaki ini tidak hadir berlatih. ini sudah memasuki minggu kedua latihan atau bina jasmani berlangsung. Jika latihan esok (13 Nopember 2016) sang pendaki tak jua berlatih, maka keputusan akan diambil oleh koordinator tim ekspedisi, Eko Peruge untuk mencoret nama mereka dari tim.

“Kami masih memberi toleransi bagi kawan yang hingga malam ini belum bergabung!” ujar Eko tegas di sela-sela latihan di Kantor Federasi Penyandang Disabilitas Sulawesi Selatan kemarin. Hingga menjelang tengah malam ini mereka masih berlatih dan latihan sudah berlangsung sejak siang tadi.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Beruntung tim ini memiliki Herman, anggota Makassar Rescue dan juga anggota Dinas Pemadam Kebakaran Kota Makassar. Ia memiliki pengalaman lebih dari anggota lainnya. Menurutnya, Organisasi Makassar Rescue adalah cerminan Wanadri, Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung yang ternama di Indonesia. Herman sudah mengikuti sejumlah pelatihan SAR dan siap berbagi dengan tim pendaki yang kebanyakan masih tergolong pemula.

Oleh kawan-kawan sesama tim pendaki, Herman dipanggil Komandan. Dia bukan sekadar sedang berupaya membangun kedisiplinan dalam tim tetapi lebih dari itu, ia sedang mempersiapkan tim yang prima. Dalam latihan SRT (Single Rope Technique) atau bergelantungan pada bidang vertikal ia tidak segan-segan “menghukum” anggota tim yang keliru dalam memasangkan ‘seat harness’ kepada anggota tim yang akan mencoba teknik menggantung di tali tunggal ini.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

“Push-up 50 kali!” hardiknya tak segan. Anggota tim menerima itu sebagai perintah komandan dan segera berujar lantang, Siap, Ndan!” lalu melakukan push-up dan menghitungnya.

Latihan ini bukan latihan SRT biasa. ada tiga pendaki difabel turut dalam latihan ini. setiap pendamping difabel berlatih lebih dulu baru kemudian pendaki difabel.

“Mungkin saja hal ini tidak akan kita lakukan dalam pendakian nanti, namun jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan misalnya anggota tim terjatuh maka dengan teknik ini kita bisa melakukan tindakan evakuasi dengan mudah,” demikian ujar sang komandan.

“Begitu pula bagi pendaki yang bertugas sebagai tim medis, harus pula memiliki keahlian SRT ini!” tegasnya kepada Ismi yang bertugas sebagai tim medis dalam ekspedisi ini. Ismi adalah seorang apoteker dan juga anggota KPA Capung di Makassar.

Dua hari ini, anggota tim yang berlatih adalah Abd Rahman dan Syarif (keduanya difabel netra–low vision), EKo Peruge (Difabel kinetik dan sekaligus koordinator ekspedisi), Herman, Fuad, Rizky, Nurhidayat, Farid, Wahyu hidayat, dan Joja.

“Latihan berikutnya adalah hari Minggu, kami merencanakan bisa berenang di kolam renang,” demikian ujar Herman.

Menjelang bubar, Herman meminta tim briefing. Menurutnya, briefing penting untuk mengevaluasi kegiatan. Setiap anggota dimintanya bertanya terkait apa saja, khususnya hal-hal yang belum diketahui dari materi pembelajaran yang diberikan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pendakian Gunung Latimojong akan berlangsung pada 29 Nop – 6 Desember. Jika perjalanan lancar, maka pada 3 Desember atau bertepatan dengan hari difabel Internasional, tim akan menggapai puncak rantai Mario. Untuk membangun harapan keberhasilan ekspedisi ini Herman meminta seluruh tim berdoa bersama.[]

Bina Jasmani Sebelum Ekspedisi Difabel Menembus Batas

olahraga-difabel

KEGIATAN MENDAKI GUNUNG saat ini mulai banyak digemari, bahkan tidak hanya bagi orang dewasa, tapi juga anak-anak. Selain itu, difabel pun juga ingin menikmati aktivitas pendakian ini.

Sayangnya, para pendaki pemula kerap melakukan kesalahan di awal, yaitu persiapan yang kurang maksimal. Mulai dari soal perbekalan, kondisi fisik, dan alat-alat yang mendukung pendakian. Untuk itu, dalam pendakian atau Ekspedisi Difabel ini, persiapan tentu saja harus dilakukan dengan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan.

Jarak yang akan di tempuh dalam ekspedisi ini mencapai ribuan meter dengan jalanan yang terjal, menanjak, dan curam. Tentu untuk menghadapi medan yang ekstrim seperti itu sangat dibutuhkan persiapan yang matang, terutama fisik.

Apalagi, dalam ekpesidi ini, Pendaki difabel dan pendaki lainnya akan merayakan Hari Difabel Internasional di puncak Rante Mario. Maka stamina semua pendaki harus kuat atau prima betul.

Berikut ini 9 olah raga ringan yang wajib kamu lakukan untuk mempersiapkan pendakian. Sebaiknya rutin dilakukan sebulan sebelum keberangkatan.

 [1]

JOGGING

Jogging atau lari-lari kecil termasuk olahraga kardio yang paling sederhana, mudah dilakukan, dan sangat penting agar dapat memperkuat otot kaki. Saat mendaki gunung, kakimu tidak akan mudah lelah.

Cobalah untuk menempuh jarak secara berkala. Misalnya hari ini 500 meter, selanjutnya ditambah menjadi 700 meter, dan seterusnya sampai otot kakimu terasa lebih kencang.

[2]

BERSEPEDA DENGAN RUTE MENANJAK

Bagi kamu yang memiliki sepeda, olahraga kardio lainnya yang bisa kamu coba selain jogging yaitu bersepeda. Kamu bisa membuat variasi olah raga. Misalnya, hari ini jogging, besok sepeda, dan seterusnya.

Tahap awal, kamu bisa memutari komplek perumahan. Secara bertahap, cobalah jalur yang agak menanjak untuk dikayuh dengan sepeda.

Hal tersebut bertujuan untuk menguatkan otot kaki dan membiasakan diri melewati jalan tanjakan.

[3]

NAIK-TURUN TANGGA

Poin penting saat mendaki dan menuruni gunung tidak hanya ada pada kekuatan otot kaki dan stamina tubuh secara keseluruhan.

Kemantapan kaki untuk menapak pada jalanan, baik di tanah, batu, atau pasir. Pijakan yang mantap ini akan memudahkanmu berjalan dengan kondisi medan yang ekstrim sekalipun.

[4]

SQUAT JUMPS

Selain gerakan naik-turun tangga, kekuatan otot paha dan kemantapan pijakan kaki juga bisa dilatih dengan melakukan squat jumps.

 

Kira-kira lakukan lompatan selama 5 x 30 detik setiap hari setelah jogging. Rutinlah melakukan squat jumps setiap pagi atau sore untuk mendapatkan kekuatan otot paha dan memantapkan pijakan kaki.

 

[5]

PUSH-UP

Jangan hanya mengandalkan kekuatan otot kaki saja untuk bisa melakukan pendakian dengan sukses sampai puncak.

 

Kekuatan otot tangan juga perlu dilatih untuk menyeimbangkan diri, membantu merangkak atau memanjat saat menghadapi kondisi jalur pendakian yang menukik dan terjal.

 

Latihan push-up yang rutin dilakukan setiap hari bisa menjadi salah satu alternatif untuk menguatkan otot tangan. Cukup 10 x 10 hitungan saja atau bisa lebih, dan lakukan setiap selesai jogging atau bersepeda.

 

[6]

BACK-UP

Olah raga ini cocok untuk melatih punggungmu agar kokoh ketika membawa keril atau ransel yang penuh dengan barang persediaan.

 

Jogging, push-up, dan bersepeda saja tidak akan cukup untuk melatih otot punggungmu. Perlu ada latihan tambahan, seperti back-up ini.

 

[7]

SENAM

Apakah senam hanya dikhususkan bagi kaum wanita, khususnya ibu-ibu saja? Salah besar. Gerakan senam yang enerjik ini ternyata sangat berguna sebagai latihan sebelum mendaki gunung.

 

Tidak perlu ada instruktur khusus yang didatangkan hanya untuk membantumu berlatih senam. Cukup unduh saja video senam di youtube, dan rutin lakukan setiap pagi. Mudah, kan?

 

[8]

BERENANG

Ada juga cara lain nih untuk melatih sistem pernapasan supaya lebih baik dan teratur, yaitu berenang. Selain membantu mengatur pernapasan, berenang juga akan menguatkan otot tangan dan kaki.

 

Berenanglah secara rutin 2 kali seminggu dan lakukan minimal 1 bulan sebelum pendakian, seperti jogging, bersepeda, dan olah raga ringan lainnya.

 

[9]

LATIHAN BERADAPTASI TERHADAP UDARA DINGIN

 

Setiap 3 hari sekali, cobalah berolahraga pukul 4 pagi sebagai proses adaptasi dengan cuaca dingin. Sebab nanti ketika kamu melakukan pendakian, kamu harus sudah siap dengan suhu dingin di gunung.

 

Kamu juga harus siap ketika mendaki pada malam hari demi mencari pos untuk bermalam atau berjalan di waktu subuh demi mengejar matahari terbit di puncak.

 

Pada waktu-waktu tersebut, udara di kawasan pendakian cukup dingin dan jalurnya yang berat akan menyulitkan pernapasanmu jika tidak diimbangi dengan persiapan matang. Lakukan saja olah raga yang sudah disebutkan di atas sebelum subuh[].

Sumber tulisan: seluruh tulisan dikutip 5 Nop 2016 dari http://www.tandapagar.com/olahraga-ringan-sebelum-mendaki-gunung/ hanya ada sedikit penyesuaian terkait ‘difabel’.

Berkarya Dalam Keterbatasan: Profile Feature of Sabar Gorky

“Semangat membuat hidupnya terus bangkit, menatap masa depan dengan segala kelebihan bukan kekurangannya…”

Sabar adalah nama aslinya, akhiran Gorky adalah nama baru yang di sematkan di belakang nama Sabar setelah dia berhasil mencapai puncak gunung Elbrus, Rusia. Menurut catatan sejarah Rusia, karena perjalanan hidupnya yang berliku maka pujangga Alexey Maximovich Peshkov mendapatkan panggilan baru Maxim Gorky, alias “Maxim si empunya hidup pahit.” Nama akhir Gorky ( pahit ) yang awalnya merupakan olok – olokan bagi si Maxim kini justru menjadi sebuah julukan bernilai positif. Indonesia pun kini telah memiliki Gorky yang lain: Sabar Gorky.

Continue reading “Berkarya Dalam Keterbatasan: Profile Feature of Sabar Gorky”