Perjuangan Menuju Puncak: Pengalaman Ekspedisi Difabel Menembus Batas 2016

img_20161203_103841_hdr

PADA 3 DESEMBER 2016, tiga pendaki difabel, Eko Peruge, Abdul Rahman, dan Risma Irmawati bersama 25 pendaki lain dari berbagai kelompok pencinta alam berhasil mencapai puncak Rante Mario, Gunung Latimojong, dengan ketinggian 3478 mdpl.  Menurut kebanyakan warga Dusun Karangan, ketiganya adalah pendaki difabel pertama yang mendaki di gunung tertinggi kelima di Indonesia. Gunung Latimojong juga dikenal sebagai “atap Sulawesi” karena tertinggi di Pulau Sulawesi. Eko mendaki dengan kruk dikarenakan kaki kanannya diamputasi saat remaja. Rahman mendaki dengan pendamping dikarenakan kedua matanya mengalami penurunan fungsi penglihatan sejak umur 12 tahun dan kini mengalami low vision kategori berat. Sementara, Risma sejak lahir memiliki perbedaan jumlah jemari di kedua tangannya sehingga memiliki perbedaan dalam menggenggam benda. Eko dan Rahman menggagas “Ekspedisi Difabel Menembus Batas” dan memulai ekspedisi pertama di Gunung Latimojong dari tujuh puncak yang direncanakan. Sebagai anggota tim ekspedisi, saya berupaya menuliskan pengalaman itu dan merefleksikan capaian ekspedisi ini.

 

Continue reading “Perjuangan Menuju Puncak: Pengalaman Ekspedisi Difabel Menembus Batas 2016”

Apresiasi PERDIK Kepada KPU Takalar Atas Perhatian Aspek Disabilitas dalam Debat Kandidat Pasangan Calon Bupati Takalar 2016

Makassar, 29 Desember 2016

pilkada-takalar-hak-politik-difabel

KOMISI PEMILIHAN UMUM (KPU) Kabupaten Takalar sukses melaksanakan Debat Publik Pilkada Takalar semalam, 28 Desember 2016. Acara debat ini berlangsung di Ballroom Menara Bosowa, Jl, Jenderal Sudirman, Makassar dan disiarkan secara langsung oleh Celebes TV melalui kanal 31 UHF. Debat diikuti oleh 2 pasangan calon (paslon) yang mengikuti Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Takalar. Kedua paslon yakni pasangan nomor urut 1 Burhanuddin B-M Natsir Ibrahim (HB-HN) dan pasangan nomor urut 2, Syamsari Kitta- Ahmad Se’re (SK-HD).

Continue reading “Apresiasi PERDIK Kepada KPU Takalar Atas Perhatian Aspek Disabilitas dalam Debat Kandidat Pasangan Calon Bupati Takalar 2016”

Microsoft Siapkan Aplikasi Office yang Ramah Difabel

Microsoft Siapkan Aplikasi Office yang Ramah Difabel
Jakarta, CNN Indonesia — Microsoft akan merilis aplikasi Office terbaru dengan fitur ramah difabel. Raksasa teknologi itu memastikan aplikasi seperti Microsoft Word dan PowerPoint bisa digunakan oleh tuna netra, memanfaatkan kecerdasan buatan (AI).

Pada Office versi terbaru ini, Microsoft menanamkan algoritma AI yang mereka sebut alt-text. AI ini berperan sebagai “penerjemah” setiap gambar yang tampil di berkas Word atau PowerPoint ke bentuk audio.

Microsoft menjanjikan kebutuhan kaum difabel dalam mengerjakan sesuatu menggunakan Office akan lebih mudah. Pasalnya, semenjak aplikasi Office dibuka, alt-text akan langsung muncul sebagai asisten bagi mereka yang berkebutuhan khusus.

Continue reading “Microsoft Siapkan Aplikasi Office yang Ramah Difabel”

Begini kronologi 3 Difabel capai puncak Latimojong

Begini kronologi 3 orang Difabel capai puncak Latimojong

MAKASSAR – Tiga orang Difabel akhirnya mampu menuntaskan misi ekspedisi hingga ke puncak Rante Mario, Gunung Latimojong, Dusun Karangan, Desa Latimojong, Kecamatan Buntu Batu, Kabupaten Enrekang, Sulsel. Mereka adalah Eko Peruge dan Risma yang merupakan Difabel Daksa dan Abdul Rahman Difabel Netra. Setelah menghabiskan waktu perjalanan pendakian berhari-hari di dalam hutan, ketiganya akhirnya berhasil mencapai tranggulasi puncak gunung di hari ke-5 tepatnya Minggu 4 Desember 2016.

Selain mengabadikan dokumentasi ekspedisi, MAKASSARTERKINI.com terlibat langsung dalam perjalanan juga menyaksikan segala macam rintangan yang dihadapi para Difabel sebelum akhirnya mampu mencapai tranggulasi puncak gunung tertinggi di pulau Sulawesi ini.

Dihari pertama keberangkatan Rabu 30 November 2016, sekitar pukul 13.30 Wita dari posko induk, tepatnya di Dusun Karangan, didampingi sekitar 27 orang yang tergabung dalam tim ekspedisi yang mengusung tema Difabel Menembus Batas ini, seluruh tim mulai bergerak. Setelah menapaki setiap jejal bebatuan terjal perjalanan dan disambut dengan cuaca buruk, hujan deras dan angin kencang, tim akhirnya tiba di pos pertama pendakian pukul 15.30 Wita dan kembali melanjutkan perjalanan hingga ke pos dua pukul 20.20 Wita.

Dihari kedua, Kamis 1 Desember 2016, tim kembali bergerak sekitar pukul 10.00 Wita. Setelah kembali melewati kawasan hutan lumut, dengan jalur yang terjal dan licin serta vegetasi yang sangat merapat ditambah iklim dan suhu dingin sebelum akhirya tiba di pos Lima pendakian sekitar pukul 16.00 Wita. Memasuki hari ketiga, Jumat 2 Desember 2016, tepat sekitar pukul 11.00 Wita tim melanjutkan perjalanan. Namun kali ini, kondisi yang cukup berbeda ditemui.

Tim harus melalui setiap pijakan kaki dengan kondisi jalur terbuka. Udara yang kian menipis ditambah angin kencang karena keterbukaan jalur dengan tingkat kehati-hatian yang ekstra, tim melewati setapak jurang diantara punggungan dan tebing pegunungan sebelum akhirnya seluruhnya tiba di pos ketujuh sekitar pukul 20.00 Wita yang merupakan tempat persinggahan terakhir sebelum mencapai tranggulasi puncak gunung. Selanjutnya, Sabtu 3 Desember 2016 sekitar pukul 12.00 Wita akhirnya seluruh tim tiba di penghujung perjalanan tranggulasi puncak gunung yang memiliki ketinggian 3478 Mdpl ini.

Kordinator tim ekspedisi Eko Peruge mengungkapkan jika perjalanan ini merupakan momentum yang sangat istimewa bagi dirinya dan juga para Difabel lainnya serta tim yang selama dalam perjalanan mendampingi hingga mencapai puncak gunung yang dikenal sebagai “Atap Sulawesi” ini. “Ini adalah sesuatu yang sangat istimewa, bukan hal yang mudah bagi saya tapi dengan semangat dan keyakinan serta kerja keras dari seluruh tim, kami akhirnya bisa sampai kesini,” ucap Eko dengan bangga.

Baginya pendakian ini bukan merupakan hal yang pertama, karena sebelumnya beberapa pendakian kesejumlah puncak pernah ia lakukan. Namun, untuk Sulawesi sendiri ia mengaku gunung dengan ketinggian di atas 3 ribu ini baru pertama kalinya ia tapaki. Pria Daksa ini mengaku, meski menggunakan kaki satu dengan bantuan tongkat, tak menjadi masalah untuk beradaptasi dan menapaki setiap lorong-lorong perjalanan terjal dalam pendakian menuju puncak gunung.

“Untuk gunung Latimojong sendiri, baru pertama kalinya saya daki. Kalau tingkat kesulitan pastinya ada juga tapi banyak yang bisa dimanfaatkan sebagai alat bantu seperti akar dan batang pohon misalnya,” terangnya.

Senada dengan anggota Difabel lainnya, Risma mengaku tidak terlalu mengalami banyak kendala untuk melakukan pendakian bersama dengan seluruh tim ekspedisi dalam perjalanan ini. Ia mengatakan kondisi alam di gunung Latimojong disepanjang perjalanan membuatnya yakin mampu membantunya menapaki setiap jejal bebatuan, dan tebing curam hingga ke puncak. “Mungkin ini adalah yang paling luar biasa karena bisa sampai ke puncak gunung tertinggi di sini,” katanya.

Sementara Abdul Rahman, Difabel Netra ini mengaku jika dirinya seakan tak percaya bisa sampai ke puncak gunung tertinggi ke-lima di Indonesia ini. Ia menuturkan cukup banyak rintangan yang kadang membuatnya hampir putus asa untuk bisa sampai ke puncak. “Saya tidak percaya bisa sampai kesini. Tapi berkat usaha teman-teman di tim juga yang terus memberikan motifasi dan usaha agar saya tetap semangat. Karena, jujur saja ini baru pertama kalinya untuk saya,” tutupnya. (A)

Ditulis dan diwartakan oelh Arul Ramadhan (Jurnalis Makassar Terkini)

tulisan di atas diambil dari http://www.makassarterkini.com/berita/3573/begini-kronologi-3-orang-difabel-capai-puncak-latimojong

 

Tim Ekspedisi Difabel Menembus Batas 2016, berhasil mencapai puncak Rante Mario, 3478 mdpl!

img20161203070042Anda tentu tahu, sejak beberapa minggu terakhir kami, PERDIK Sulsel dan kawan-kawan dari berbagai KPA/MAPALA, Rescue team, mempersiapkan sebuah Ekspedisi Difabel Menembus Batas.

Kami berhasil melakukannya, Kawan-kawan! Berkat kerjasama tim dan dukungan dari kalian semua. Terima kasih, kami sudah mencapai puncak Rante Mario, 3478 mdpl.

Tetapi puncak itu bukan tujuan kawan-kawan. Batu di atas sana bukanlah tujuan kami.

img_20161203_103841_hdr

Diskriminasi atas difabel bukan terjadi di sana, tetapi ada di kampung-kampung, di rumah-rumah, dan bahkan di dalam pikiran-pikiran kalian. Ke sanalah tujuan kami sesungguhnya. Kepada kalianlah, di rumah tubuh maupun rumah pikiran andalah kami akan datang, daki, jelajahi dan menjelaskan bahwa betapa diskriminasi atas difabel dan orang-orang terpinggirkan lainnya pertama-tama berasal dari cara pandang dan kekurangan pengetahuan soal-soal itu.

Jadi, jika pendakian dari pos nol ke pos 7 dan kemudian puncak sudah kita lalui, maka itu baru awal pencapaian. Di depan sana, saat kalian sudah kembali ke rumah dan mulai kembali menjelajahi cafe, perpustakaan, mall atau kantor kelurahan sebagaimana hari-hari yang lalu, disanalah jurang-jurang menganga, jalur-jalur pendakian atau penurunan yang jauh lebih menantang untuk kita lalui.

Ya, siap-siap saja. Cukup sudah sedu sedan pendakian Latimojong. Tutup albummu, lalu ambil pena, kertas dan peralatan tempurmu!

Kawan, dukungan kalian tetap kami butuhkan, bukan sekadar klik atau share dan ragam emoticon reaksi lainnya. Kami ingin kalian ada di samping kami. Memperjuangkan apa yang bisa diperbuat untuk masa depan yang lebih baik!

Selamat Hari Difabel Internasional, 3 Desember 2016

Keterangan video: isi video adalah cuplikan proses pendakian yang dilakukan oleh Rahman Gusdur dengan dipandu oleh minimal 2 pendamping; kemudian saat-saat Rahman mencapai puncak, foto bersama di puncak.

Continue reading “Tim Ekspedisi Difabel Menembus Batas 2016, berhasil mencapai puncak Rante Mario, 3478 mdpl!”