Makassar Barrier Free Tourism, bisa?

 

Di Jakarta, teman-teman seperti Mbak Cucu dan suaminya, Kang Faisal Rusdi (keduanya kini sedang studi di Australia) menjalankan sebuah program bernama Jakarta Barrier Free Tourism (JBFT). Acaranya sederhana. Setiap hari libur, hari Minggu, bersama belasan sampai puluhan partisipan pergi bertamasya di beberapa tempat wisata di Jakarta. Selain untuk membiasakan orang-orang Jakarta melihat dan berinteraksi dengan difabel, rombongan JBFT ini juga menilai seberapa akses tempat-tempat publik itu bagi difabel.

Continue reading “Makassar Barrier Free Tourism, bisa?”

Praktik Jurnalisme Solusi sebagai Alat Gerakan Difabel Membangun Kesadaran Kritis Warga

jurnalisme-solusi1

DALAM DISKUSI kecil bertajuk peran media dalam gerakan difabel di Sulawesi Selatan, 22 Januari 2017 lalu, terbersit satu gagasan yang mengerucut. Pada intinya, baik pengurus PERDIK maupun pewarta yang turut dalam diskusi baik dari media cetak/online maupun televisi sepakat bahwa Media adalah Pembentuk opini warga yang paling berpengaruh dalam membentuk cara pandang dan perilaku seseorang.

Continue reading “Praktik Jurnalisme Solusi sebagai Alat Gerakan Difabel Membangun Kesadaran Kritis Warga”

TERIMA KASIH ATAS DUKUNGAN ANDA KEPADA TIM EKSPEDISI DIFABEL MENEMBUS BATAS!

img_20161203_103841_hdr

Salam Sejahtera,

Alhamdulillah, Pelaksanaan Ekspedisi Difabel Menembus Batas (EDMB) 2016 telah terlaksana. Kami yang terdiri dari 3 Pendaki/Atlet difabel (Abd. Rahman, Eko Peruge dan Risma Irmawati) bersama 25 pendaki dari berbagai lembaga dan kelompok pe[n]cinta alam telah berhasil mendaki Gunung Latimojong (3478 mdpl) pada 29 Nopember – 5 Desember 2016. Kesuksesan ini tak lepas dari kerjasama dari berbagai partisipan baik secara langsung maupun tidak langsung. Tentu, bukanlah karena Ekspedisi ini diikuti oleh Difabel sehingga hal ini berhasil, tetapi karena pendakian ini dilakukan bersama-sama dengan kesungguhan saling membantu dan mendukung satu sama lain.

Continue reading “TERIMA KASIH ATAS DUKUNGAN ANDA KEPADA TIM EKSPEDISI DIFABEL MENEMBUS BATAS!”

Setelah Taklukan Gunung Latimojong, Difabel Netra Akan Bersepeda Makassar – Bulukumba

RILIS DIFABEL BERSEPEDA:
ride-blind2

MAKASSAR – Setelah sukses menapaki puncak Gunung Latimojong, pada Desember 2016 lalu, difabel netra dan daksa di Makassar kembali akan melakukan kegiatan ekspedisi. Kali ini mereka akan melakukan turing sepeda dengan rute Makassar – Bulukumba yang berjarak 153 Kilometer.
Continue reading “Setelah Taklukan Gunung Latimojong, Difabel Netra Akan Bersepeda Makassar – Bulukumba”

Debat Kandidat Bupati/Wakil Bupati Takalar 2017 ke-2 Respek Terhadap Isu Disabilitas

 

debat-publik-ke-2-kandidat-bupati-wabup-takalar_2017_1Lagi-lagi, PERDIK Sulsel perlu memberi apresiasi kepada Komisioner KPU Takalar yang melaksanakan event Debat Publik kandidat Bupati/Wakil Bupati Takalar 2017. Beberapa kemajuan itu adalah:

Pertama, jika pada debat pertama sudah tersedia seorang penerjemah bahasa isyarat maka debat publik kedua ini ada dua penerjemah bahasa isyarat. Tetapi, ukuran penerjemah masih kecil sehingga masih sulit dipahami oleh pirsawan Tuli. Apalagi kualitas gambar TV Streaming yang tidak begitu terang.

Continue reading “Debat Kandidat Bupati/Wakil Bupati Takalar 2017 ke-2 Respek Terhadap Isu Disabilitas”

Telah Terbit Jurnal DIFABEL Vol. 3 Bertema Pendidikan Inklusi

Kawan-kawan sekalian, Jurnal DIFABEL yang diterbitkan SIGAB secara berkala kini telah terbit untuk tahun 2016. Jurnal ini di review oleh Dr. Ro’fah sebagai ahli studi disabilitas dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bagi Anda yang tertarik isu difabilitas, khususnya isu Pendidikan Inklusi, sila dipesan melalui PERDIK Sulsel, hubungi email perdiksulsel@gmail.com atau WA di 08124106722. Harganya Rp. 40.000 (diluar ongkos kirim).

Berikut kami tampilkan Review singkat dari Ibu Dr. Ro’fah. Selamat membaca.

16128930_10154738148252419_187169394_n

INCLUSION IS…

Ro’fah, MA., Ph.D (Pendiri Pusat Studi Layanan Difabel (PSLD) dan Dosen Pascasarjana, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Email: roma1399@yahoo.com)

A way of thinking

A way of being

And a way of making decision

About helping everyone belong

Kutipan sederhana diatas menggambarkan hal fundamental yang sering terlupakan dalam narasi pendidikan inklusif. Kebijakan, ruang-ruang seminar, dan halaman jurnal akademik tentang pendidikan inklusif, selama ini masih terlalu fokus pada isu perbedaan dan sumberdaya: guru pendamping khusus, assessment, modifikasi kurikulum untuk siswa dan mahasiswa yang berbeda. Adapun aspek yang sangat fundamental, yakni perspektif, cara pandang, dan cara berpikir tentang perbedaan dan inklu­sivitas, masih berada di pinggiran.

Inklusif adalah ideologi atau keyakinan bahwa semua dunia ini milik semua orang, dan karenanya semua orang tanpa kecuali, punya hak untuk menjadi bagian (belong). Bahwa pendidikan adalah milik semua individu –dan karenanya semua siswa dan mahasiswa, apapun kondisinya– perlu menjadi bagian dari pendidikan. Inklusi adalah ketika perbedaan dianggap sebagai se­suatu yang wajar. Sebuah fenomena alami dari kehidupan manusia. Perbedaan bukanlah alasan untuk “membedakan” (othering), apalagi sampai memisahkan.

Tentu saja pendapat tentang aspek fundamental dari pendidikan inklusif diatas tidak dimaksudkan untuk menafikan pentingnya bicara implementasi dan strategi. Melangkah dari “why” (mengapa inklusi penting) menuju “how” (bagaimana inklusi harus dilakukan) adalah agenda penting, karena dengan “how” itulah pendidikan inklusif menjadi realitas di ruang kelas, di ruang rapat, bahkan perbincangan ringan di gardu ronda. Namun upaya dan diskusi “how” tersebut harus dibangun berdasarkan narasi inklusivitas, bukan narasi perbedaan. Mengutip Roger Slee, salah satu maha guru pendidikan inklusif. “Perhaps the question now is not so much how do we move ‘towards inclusion’ but what do we do to disrupt the construction of centre from which exclusion derives” (Slee: 2006).

Kata Slee, yang sekarang juga penting dilakukan bukan hanya bagaimana kita melangkah menuju inklusif, tetapi apa yang harus kita lakukan untuk menginterupsi konstruksi dominan (tentang perbedaan dan pendidikan) yang menjadi sumber dari eklusivitas itu sendiri. Dengan kata lain, kita perlu menengok kembali secara kritis: bagaimana konsepsi kita tentang pendidikan dan sekolah? Apa yang kita harapkan dari pendidikan dan sekolah? Apakah menjadi tempat untuk semua, ataukah hanya untuk mereka yang “berduit”, pinter, normal, dan mampu mengikuti norma sosial?

Tulisan Setya Adi Purwanta mengajak kita melihat pendidikan dari mazhab kritis. Mempertanyakan apa yang tadi sudah disebut Slee sebagai “center” atau paradigma dominan tentang pendidikan. Demikian juga tulisan mengenai aplikasi konsep pendidikan tertindasnya Paulo Freire dalam wacana pen­didikan inklusif, yang mengatakan bahwa konsep Friere bisa dipinjam untuk bisa “memanusiakan” difabel dalam wacana pendidikan inklusif.

Ini menunjukan kita perlu menginklusifkan narasi pendidikan inklusif. Pendidikan inklusif harus menjadi bagian dari perbincangan semua hal dan semua pihak: lintas disiplin, lintas sektor. Ketika narasi perbedaan, spesial, dan khusus masih mendominasi wacana pendidikan inklusif, maka cerita penolakan anak difabel di sekolah masih akan terjadi. Maka seorang dosen di perguruan tinggi masih akan mengatakan bahwa bidang keilmuannya secara inheren tidak bisa dipelajari oleh mereka yang memiliki indra berbeda. Ketika narasi perbedaan masih menjadi ukuran, maka label “anak inklusi” masih menjadi fenomena umum yang kita jumpai di sekolah, tanpa dipersoalkan bahwa label adalah pintu masuk bagi eksklusivitas.

Salam Inklusi!

lihat juga link berikut

https://www.sigab.or.id/id/content/jurnal-difabel-3-problem-dan-tantangan-pendidikan-inklusi-di-indonesia

 

16176111_10154738148947419_125105256_n

Sarasehan Berbagi Pengalaman Ekspedisi Difabel Menembus Batas

sarasehan-ekspedisi-21-januari-2017

Pada tanggal 21 Januari 2017, kami akan menggelar sarasehan berbagi pengalaman dalam ekspedisi difabel menembus batas. Kami mengundang salah satu pendaki senior dan sudah memuncaki 4 gunung tertinggi di dunia, yakni Bung Sabar Gorky.

Bung Sabar sekaligus akan memaparkan buku terbaru yang ia tulis dengan cara yang sederhana dan dengan isi dan pesan yang juga sederhana. Karena kesederhanaan itulah yang membuat buku ini menjadi nyaman saat membacanya. Buku yang berjudul SABAR GORKY–100 nilai hidup melawan keterbatasan di tengah keterbatasan–ini akan saya review nanti dan semoga juga bisa dengan cara yang juga sederhana. Semoga saja. Saya tahu, menulis hal-hal sederhana dengan cara sederhana tentu tidak bisa dilakukan sesederhana yang banyak orang pikirkan.

Tetapi, sebelum saya memulai menuliskan pandangan saya atas buku ini, Mari hadiri saresehan kami, apalagi jika Anda ingin tahu bagaimana kawan-kawan pendaki menaklukkan diri mereka sendiri, Datanglah!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

Dr. Andi Tenri Sompa, Calon KOMISIONER KPU-RI Berjanji Membangun Sistem PEMILU AKSES UNTUK SEMUA!

andi-tenri-sompa2
Dr. Andi Tenri Sompa saat bersama Pengurus PERDIK Sulsel, Ishak Salim.

Press Release PERDIK SULSEL, Makassar, 18 Januari 2017

Perhelatan pemilihan komisioner KPU dan BAWASLU RI masih berlangsung. Pada akhir Desember 2016 lalu, Tim Seleksi Calon telah mengumumkan hasil seleksi tahap kedua. Dari laporan tersebut, terdapat 58 dari 517 orang yang lolos tes tahap kedua. Dari jumlah tersebut sebanyak 36 orang calon anggota komisioner KPU dan 22 calon anggota Bawaslu.

Continue reading “Dr. Andi Tenri Sompa, Calon KOMISIONER KPU-RI Berjanji Membangun Sistem PEMILU AKSES UNTUK SEMUA!”

GAGASAN MENUJU WISATA SULAWESI SELATAN AKSES BAGI SEMUA!

Press Release PERDIK SULSEL

Makassar, 17 Januari 2017

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Bagi kebanyakan orang yang mengetahui indahnya alam Tana Toraja dan kekayaan budaya yang dimilikinya, dapat mengunjunginya dengan mudah adalah impian yang menyenangkan. Bagi kita yang tinggal di kota Makassar, walaupun jaraknya lebih 200 km, tetaplah jauh lebih mudah dibandingkan dengan orang dari luar pulau Sulawesi. Berwisata menikmati keindahan alam dan keragaman budaya manusia merupakan suatu hal yang perlu dilakukan setiap orang. Apalagi orang-orang yang kota dengan kesibukan sehari-hari yang melelahkan. Berwisata sejenak selama dua tiga hari di saat weekend adalah jalan keluar menyiapkan semangat prima di esok harinya.

Pendeknya, Berwisata adalah peristiwa yang menyenangkan setiap orang.

Continue reading “GAGASAN MENUJU WISATA SULAWESI SELATAN AKSES BAGI SEMUA!”

PERDIK terkait Kekerasan Seksual atas Anak Perempuan Difabel di Pasar Terong

Press Releas, Makassar, 9 Januari 2017

perempuan-difabel-berhadapan-dengan-hukum

Sejak tersiarnya berita pemerkosaan terhadap seorang gadis berusia 15 tahun di Pasar Terong, banyak pihak, khususnya dari media menghubungi PERDIK Sulsel. Pasalnya, korban adalah gadis dengan kondisi tuli dan bisu. Menurut Abd. Rahman, direktur Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan, korban kekerasan seksual, apalagi jika ia seorang Tuli harus mendapatkan perlakuan khusus (baca link http://news.rakyatku.com/read/34307/2017/01/08/gadis-tuna-wicara-diperkosa-di-pasar-terong ).

Continue reading “PERDIK terkait Kekerasan Seksual atas Anak Perempuan Difabel di Pasar Terong”