Romansa Seorang Ibu Melawan Diskriminasi Disabilitas

Oleh Nur Syarif Ramadhan

SELAIN PERTAMA KALINYA MENGIKUTI DISKUSI pembahasan peraturan perundang-undangan terkait isu pemenuhan hak-hak difabel di Jogjakarta, saya juga beruntung bisa bertemu dan berdiskusi dengan seorang tokoh difabel yang telah sepuh. Sejak muda ia sudah berjuang untuk mengangkat harkat, martabat dan kesetaraan hidup bagi difabel.

Sebenarnya, saya sudah menemukan namanya dalam daftar peserta yang dikirimkan panitia sehari sebelum acara berlangsung. Saya menduga dia lah orangnya, tetapi saya belum yakin betul, apakah nama itu memang dirinya, atau sosok lain. Ternyata, dugaan itu benar. Dialah Ariani Soekanwo, yang dalam beberapa catatan sejarah lebih sering disebut Ariani Muin. Banyak aktivis difabel—tua maupun muda—mengenalnya sebagai aktivis yang membela hak-hak difabel—ibu Ariani lebih suka menyebut istilah Penyandang Disabilitas.

20170726_214843
Ibu Ariani Soekanwo dan Nur Syarif Ramadhan

Ia mendirikan sejumlah organisasi difabel, diantaranya adalah PERTUNI atau Persatuan Tunanetra Indonesia pada 1966, Himpunan Wanita Penyandang Cacat Indonesia (HWCI) 1997 yang belakangan berganti nama menjadi Himpunan Wanita Penyandang Disabilitas Indonesia, Pusat Pemilihan Umum Akses Penyandang Cacat (PPUA PENCA) 2007, dan yang Gerakan Aksesibilitas Umum Nasional (GAUN).

Di usianya yang telah senja (71 tahun), tak ada gurat lelah yang ia tampakkan. Suaranya masih lantang dan tegas melebihi aktivis difabel muda dalam menyuarakan hak-hak difabel. Saat diskusi penyusunan substansi Peraturan Pemerintah yang diamanhkan UU Penyandang Disabilitas, saya menyaksikan betapa bersemangatnya dia mengkritisi perwakilan kementerian sosial dan Kementerian Koordinator PMK yang ingin menyederhanakan jumlah PP yang harus dibuat. Berdasarkan UU No. 8 tahun 2016 ini, pemerintah setidaknya perlu menyiapkan 15 PP—atau sekurang-kurangnya 7 atau 8 PP. Kenyataannya, Kemensos sebagai pihak yang diminta Presiden menyiapkan sejumlah PP ini hendak menggabungnya menjadi 1 PP saja.

“Bagaimanapun, permasalahan disabilitas merupakan permasalahan yang harus menjadi tanggungjawab multisektoral. Persoalan disabilitas bukan hanya tanggungjawab kementerian sosial!” tandasnya lugas sore itu. Ibu Ariani tidak menginginkan kejadian masa lalu terulang, di mana isu-isu disabilitas hanya menjadi fokus dari kementerian sosial saja dan isu disabilitas selalu diidentikkan sebagai depsos atau dinsos.

Sayangnya, orang-orang kementerian yang hadir dalam pertemuan itu tak begitu pandai merangkai alasan selain alibi basi yang telah berulang-kali mereka dengungkan: keterbatasan dana dan kementerian lain tidak peduli.

*

SAYA BERSEPAKAT DENGAN Ishak Salim untuk mengajak berdiskusi ibu Ariani. Lalu, persekongkolan  itu kami jalankan di suatu malam di hotel Melia Purasani—tempat konsultasi nasional ini berlangsung. Kami ingin belajar kepada ibu Ariani, terutama motivasinya mendirikan banyak organisasi  difabel dan apa trik serta tips sehingga organisasi itu bisa tetap eksis hingga sekarang.

Hal lain yang kami kagumi dari beliau, ia begitu pandai menjaga semangatnya. Hingga di usianya sekarang, ia masih begitu enerjik, seperti tak pernah merasa kelelahan bergerak, memperjuangkan terciptanya kehidupan yang inklusif untuk generasi muda difabel. Sesuai waktu yang kami  sepakati, akhirnya kami berhasil “menculik” ibu Ariani dari kesibukannya, kami pun membawanya ke sebuah sudut ruangan yang masih menjadi bagian restaurant hotel dan berdiskusi di sana. Pendampingnya, Mbak Wiwik tampak senang dan pamit kepada ibu Ariani untuk jalan-jalan ke Malioboro bersama beberapa peserta.

Dari penuturannya, Ariani Soekanwo lahir di kota istimewa Yogyakarta, 30 Desember 1945. Sejak lahir, anak kedua dari empat bersaudara ini telah mendapati keanehan pada penglihatannya, yakni menurunnya fungsi pada penglihatannya (low vision). Tapi jangan salah. Itu tidak menghalangi Ariani muda bersekolah dengan giat. Sejak SD hingga SMA, ia bersekolah di sekolah regular (bukan di SLB). Bahkan, saat berkuliah, ia pun berhasil masuk ke kampus yang saat ini digelari sebagai salah satu kampus terbaik di Indonesia: di Jurusan Antropologi UGM (Universitas Gadjah Mada).

“Sewaktu kuliah, saya masih bisa menggunakan sepeda bahkan sepeda motor,” kenang Ibu Ariani. Karena penurunan fungsi penglihatan itu, ia selalu berharap, ada kawan yang bisa ia ikuti. Ia membutuhkan ‘pemandu’ di tempat tertentu seperti saat persimpangan Idi mana ia akan melintasi lampu lalu lintas. Bagi seorang low vision, hal ini biasa terjadi. Saya pun sering menggunakan teknik ini ketika ingin menyeberang jalan. Jadi, dengan sisa penglihatan yang saya miliki saya gunakan untuk minimal menyejajari langkah seseorang yang awas ketika akan menyeberang. Tentu saja si awas ini tidak mengetahui bahwa orang yang mengikutinya seorang tunanetra.

Saat kami memikirkan pertanyaan untuk memulai diskusi, malah ibu Ariani yang mendahului kami bertanya.

“Mas Ishak ini kok tertarik menulis soal disabilitas dan membantu teman-teman Penyandang Disabilitas?” tanyanya.

20170726_215612
Ibu Soekanwo berbagi pengalaman: Nur Syarif Ramadhan, Ariani Soekanwo, Nor Yasin, Ishak Salim

“Pada dasarnya, saya memang suka menulis, bu. Saya juga sedang mendalami sejarah difabel,” ujar Ishak. Saat mendengar kata difabel, Ibu Ariani sempat mempertanyakan kenapa menggunakan kata difabel dan kami sejenak berdiskusi soal perbedaan dan argumentasi di balik istilah difabel itu.

Ishak melanjutkan menjawab pertanyaan Bu Ariani.

“Pada saat ini juga, saya sedang mengambil S3 di UGM, jurusan Ilmu Politik. Disertasi saya berjudul “Politik Pencacatan di Indonesia”. Menurut saya, proses pencacatan merupakan tindakan politik yang dilakukan negara maupun non-negara. Label ‘cacat’ itu dimunculkan oleh negara ataupun masyarakat. Namun, label ‘kecacatan’ itu bagi sebagian orang—khususnya aktivis difabel merupakan istilah yang kurang tepat disematkan kepada difabel. Karena itulah mereka menolak labelisasi [negative] itu,” panjang lebar Ishak menjelaskan.

Kata Ishak, salah satu wujud perlawanan atas label itu adalah memperkenalkan istilah baru yang dianggap lebih bermakna positif, yakni difabel—dirumuskan di Yogyakarta pada 1996. Proses ini merupakan bentuk kontestasi gagasan yang saling memengaruhi penggunanya. Istilah difabel kini sudah luas dipakai di berbagai daerah. Itulah mengapa ia memberi judul [naskah/drafth] disertasinya ‘Politik pencacatan atau dalam Bahasa Inggris disebut The politic of disablement in Indonesia.

“ Jadi, yang cacat sebenarnya bukan orangnya, tapi kebijakanlah yang telah mencacatkan orang dengan labelisasi, kemudian menyematkan prasangka, memisahkannya dan mendiskriminasikan difabel dari lingkungannya,” katanya lebih lanjut.

Dari tempat duduknya, Ibu Ariani terlihat menyimak. Sesekali ia menyela dengan gumaman. Ishak kemudian menjelaskan beberapa hal yang masih terkait dengan disertasinya, di mana ia mengawali dengan menelusuri sejarah disabilitas di Indonesia, yang dimulai dari masa kolonial, kemudian saat wakil Presiden Mohammad Hatta mengeluarkan maklumat sepuluh yang mendasari dibentuknya Departemen Sosial Republik Indonesia untuk pertama kalinya.

Tapi, bukan soal disertasi itu yang ingin kami diskusikan dengan Ibu Ariani. Ishak kemudian mengingatkan bahwa diskusi malam ini adalah soal ketauladanan Ibu Ariani dalam kerja panjangnya di isu disabilitas. Jadi mending kita bernostalgia, mengingat kembali perjuangan ibu Ariani di masa mudanya, bagaimana perjuangan beliau dalam menghimpun teman-teman sehingga berdirilah organisasi yang hingga saat ini selalu berada di garda terdepan, memperjuangkan hak-hak disabilitas.

Awal Mendirikan Pertuni

SAAT ITU USIA ARIANI masih 20 tahun. Ia sedang berada di masa awal berkuliah di UGM. Selain aktif sebagai mahasiswa Antropologi UGM, Ariani juga melibatkan diri dalam berbagai kegiatan sosial, mengajar para tunanetra. Ia membantu mengajar di Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (YAKETUNIS), Yogyakarta. Dari sini kita bisa melihat bahwa jiwa sosial dalam diri Ariani sudah mulai tumbuh bahkan saat usianya masih muda.

Di asrama YAKETUNIS itulah, ia dipertemukan dengan Zaki Mubaraq (Mahasiswa Universitas Islam Indonesia yang kemudian pindah ke Universitas Gadjah Mada dengan mengambil jurusan Sastra Inggris). Zaki Mubaraq kemudian yang menghubungkan Ariani dengan Ali Parto Koesomo (Semarang), dan Frans Harsana sastraningrat (Dosen IKIP Yogyakarta). Keempat tokoh tunanetra inilah yang kemudian bersepakat mendirikan organisasi Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) tepat pada 26 Februari 1966. Di awal berdirinya, program awal PERTUNI adalah menghimpun tunanetra dan  mengupayakan agar mereka memperoleh pendidikan yang baik.

“Kami saat itu mendirikan PERTUNI  karena kami memiliki keinginan besar untuk mendirikan organisasi tunanetra yang menasional,” kenang Ibu Ariani.

“Sebenarnya pada saat itu sudah ada beberapa organisasi penyandang cacat di Bandung, tetapi organisasi-organisasi tersebut hanya bergerak di wilayahnya. Mereka tidak berskala nasional,” katanya lebih lanjut.

Kalau mendengar penuturan Ariani, kredit lebih harus disematkan pada bapak Zaki Mubaraq, karena dialah yang berinisiatif untuk mengumpulkan ketiga tokoh lain, dan boleh jadi ide pendirian PERTUNI merupakan buah pikirannya.

“Bagaimana kemudian organisasi PERTUNI ini bisa menasional?” saya mengajukan pertanyaan.

“Kenapa kita bisa menjadi menasional, mungkin karena kami ini bukan anak panti, dan yang kedua, kami ini berasal dari kota yang berbeda,” ujar Ariani penuh reflektif.

Bagi saya, penjelesan Ibu Ariani ini cukup menarik untuk direnungkan. Saat saya mendengar alasannya, saya lantas teringat kota di mana saya tinggal, Makassar. Boleh jadi, organisasi Pertuni di Sulawesi Selatan saat ini tak memiliki perkembangan yang dapat dibanggakan , diakibattkan karena lokasi kantornya berada dalam lingkungan Panti Guna Yayasan Pembinaan Tunanetra Indonesia (YAPTI), dan hampir sebagian pengurusnya juga masih menggantungkan hidupnya pada yayasan tersebut.

Dari penjelasan Ariani, salah satu factor keberhasilan mendirikan organisasi Pertuni adalah adalah kuatnya dukungan keluarga. Keluarga keempat tokoh pendiri PERTUNI ini sangat mendukung mereka. Dalam perkembangannya, pada 1971, Pertuni berpindah kedudukan ke Ibukota Republik Indonesia, dan pucuk pimpinan beralih ke Ali Parto Koesomo. Beruntung, saat itu dukungan pemerintah terhadap aktivitas Pertuni disokong penuh, khususnya oleh orang kepercayaan Presiden Soeharto saat itu, yakni Ali Moertopo.

Menurut Ariani, di sinilah kemudian awal pengembangan PERTUNI hingga ke daerah-daerah di mana berdiri sejumlah cabang Pertuni di beberapa provinsi hingga ke kabupaten/kota. Kini, PERTUNI telah hadir di 34 profinsi, dan memiliki cabang di ratusan kabupaten/kota.

*

SAAT SEKRETARIAT PERTUNI PINDAH ke Jakarta, Ariani tidak bisa seaktif sebelumnya. Apalagi saat itu, Ia tengah berupaya menyelesaikan studinya di UGM. Selama beberapa tahun ia absen dalam kegiatan Pertuni. Tetapi, ia tetap memilih aktif mengikuti kegiatan maupun gerakan-gerakan sosial di kampus. Lewat aktivitas sosial itulah, Ariani dipertemukan dengan Abdul Muin, mahasiswa Jurusan Farmasi yang kemudian menjadi suaminya. Keduanya menikah di tahun 1972. Dari perkawinan itu, mereka dikaruniai tiga orang puteri—kini semuanya telah berkeluarga dan Ariani memiliki 6 cucu.

Nama Muin di belakang nama Ariani—yang banyak ditemukan dalam catatan-catatan sejarah PERTUNI—diambil dari nama belakang suaminya. Setelah menikah, Ariani banyak berpindah-pindah, mengikuti tempat suaminya bekerja. Ia juga sempat tinggal lama di Makassar, yakni antara tahun 1986 sampai 1991. Ia mulai aktif kembali di Pertuni saat keluarga Ariani pindah ke Jakarta pada 1992.

*

Medio 1995, ada keresahan tersendiri yang dirasakan Ariani. Ia merasa perlu menghimpun semua teman-teman disabilitas lain, untuk sama-sama berjuang. Saat itu PERTUNI sudah semakin berkembang di bawah pimpinan Bapak H. Soerodjo. Masalahnya, PERTUNI merupakan organisasi masyarakat yang ranah perjuangannya hanya melibatkan tunanetra. Maka dari itu, bersama Mimi Mariani (tunanetra), Yuniati Efendi (tuli), Maulani Rutinsulu, dan Yuniati Astuti mereka menggagas pendirian Himpunan Wanita Penyandang Cacat Indonesia yang secara resmi berdiri juni 1997. Setelah beberapa tahun berdiri, organisasi tersebut mendapat dukungan anggaran dari Dewan Nasional Indonesia Untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), dan kantor pertama HWPCI juga di markas DNIKS di sekitar wilayah Tanah Abang.

Selanjutnya, HWPCI juga mengembangkan diri hingga memiliki struktur kepengurusan ke berbagai daerah. Menurut Ariani, keberadaan PPCI (persatuan penyandang cacat Indonesia) sebagai organisasi lintas disabilitas di berbagai daerah juga berandil besar dalam proses pembentukan HWPCI di berbagai daerah.

Pada 2006, HWPCI menyelenggarakan musyawarah nasional untuk pertama kalinya. Saat itu, Ariani kembali terpilih untuk menahkodai HWPCI hingga 2011. Pada munas 2011, barulah HWPCI dipimpin oleh Maulani A. Rotinsulu. Saat aktif di HWPCI itulah Ariani juga menginisiasi berdirinya Pusat Pemilu Akses bagi Penyandang Cacat (PPUA – PENCA), dan Gerakan Aksesibilitas umum Nasional (GAUN)—sejak tahun 2000 dan kini mulai digiatkan lagi. Saat ini, Ariani sedang fokus mengembangkan GAUN. Besar keinginan beliau untuk mengembangkan GAUN hingga ke seluruh Indonesia.

Malam semakin larut, nyaris tiga jam kami berbincang malam itu. Sepertinya, Ibu Ariani terbiasa berdiskusi panjang bahkan hingga larut malam. Daya tahan tubuhnya masih cukup prima. Untuk urusan disabilitas, ia seperti tak tahu mengenal masa pensiun. Itulah mengapa ia masih tetap berani bermimpi dan terus berupaya mengejar impiannya itu. Impian untuk kehormatan penyandang disabilitas di Indonesia[].

*Penulis adalah aktivis PerDIK Sulsel

Advertisements

One thought on “Romansa Seorang Ibu Melawan Diskriminasi Disabilitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s