ELTA 2018: Belajar Bahasa Inggris Bagi [Aktivis] Difabel.

“Aktivis gerakan difabel, yang bergerak di ranah akademik maupun pengorganisasian difabel, perlu belajar bahasa Inggris. Bukan sekadar gagah-gagahan, tetapi bahasa ini adalah kunci membuka ‘pintu pengetahuan disabilitas’ yang bisa membawa Anda berkelana nun jauh dan luas di luar sana. Dengan kemampuan berbahasa Inggris, di mana-mana Anda bisa bertemu dengan para ilmuwan disabilitas, aktivis gerakan disabilitas, para pemerhati disabilitas dari berbagai negara yang juga mengandalkan bahasa ini dalam berkomunikasi. Banyak karya riset ditulis dengan bahasa ini, banyak seminar disabilitas berkelas juga memakai bahasa ini. Sebaliknya, dengan kemampuan ini, Anda juga bisa menyampaikan kabar kemajuan atau kemunduran penegakan hak-hak difabel di negeri Anda.”

Kalimat di atas pernah disampaikan oleh pendiri Perdik dalam salah satu obrolan saat kami memutuskan membawa PerDIK menjadi organisasi yang peduli pada urusan literasi disabilitas. Hal ini pulalah yang mendorong saya menuliskan soal ELTA 2018. Ini adalah peluang bagi difabel, khususnya aktivis difabel untuk bisa belajar bahasa inggris yang akses bagi difabel.

Continue reading “ELTA 2018: Belajar Bahasa Inggris Bagi [Aktivis] Difabel.”

Pemerintah Mestinya Melibatkan DIFABEL Dalam Menyediakan Fasilitas Ramah Difabel

BEBERAPA PERWAKILAN organisasi difabel di Makassar pada jumat (11/05) mendatangi kantor perwakilan Ombusman Sulawesi Selatan yang beralamat di kompleks Plaza Alauddin Blok BA no. 9 Makassar. Gabungan organisasi difabel tersebut masing-masing Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK), Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI Sulawesi Selatan), Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI Sul-Sel), Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin Sul-Sel), dan Perhimpunan Mandiri Kusta (PERMATASul-Sel).

WhatsApp Image 2018-05-15 at 14.31.07 Continue reading “Pemerintah Mestinya Melibatkan DIFABEL Dalam Menyediakan Fasilitas Ramah Difabel”

Emboss

Oleh Fauzan Mukrim

Syarif, nama lengkapnya Nur Syarif Ramadhan, terlahir dengan kondisi low vision. Low vision adalah kondisi seseorang dengan kemampuan melihat yang sangat terbatas, bahkan mendekati buta.

Sebagian besar orang dengan kondisi low vision mengalami penurunan fungsi penglihatan secara permanen dan tidak dapat diperbaiki dengan bantuan kacamata atau alat bantu optik standar. Pada umumnya, mereka hanya mampu merespon cahaya dan memiliki lapangan pandang sempit serta jarak pandang yang sangat pendek. Itu sebabnya mereka sering kesulitan dalam beraktivitas, seperti berjalan di tempat umum, dan apalagi membaca buku.

32079704_10155275573611697_2451501095571161088_o

Continue reading “Emboss”