Membuat Pemilu Lebih Akses

Oleh Misda Ulviatmi Dalmi

Pelaksanaan Pemilu 2014 lalu, menyisakan sejumlah kekecewaan terhadap pemilih difabel. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sigab pada tahun yang sama, terdapat beberapa kelemahan pada Pemilu 2014 khususnya dalam memfasilitasi aksesibilitas pemilih difabel. Setidaknya ada 3 kekecewaan, yakni: 1) Petugas KPPS belum memiliki perspesktif difabilitas, 2) Petugas KPPS kurang teliti mempersiapkan alat bantu dan aksesibilitas lainnya, dan 3) Petugas KPPS kurang ramah terhadap pemilih difabel dikutip dari Difabel Merebut Bilik Suara (Ishak Salim dkk, Difabel Merebut Bilik Suara, SIGAB, 2015)

Continue reading “Membuat Pemilu Lebih Akses”

138 Artikel Terbit di Blog PerDIK

SELAMAT, SEJAK Media PerDIK, yakni ‘blog ekspedisi difabel’ diterbitkan perdana pada 24 Oktober 2016 (nyaris dua tahun), telah terhitung 138 terbitan dengan total pengunjung 16.524.

Mengingat fokus kita yang kuat pada kerja berpengetahuan, maka pencapaian ini bukan hanya perlu dipertahankan, tapi wajib kita tingkatkan.

Selamat, untuk kita semua, pengelola, penulis, dan tentu saja pembaca kita yang budiman.

foto web perdik

Continue reading “138 Artikel Terbit di Blog PerDIK”

Keriuhan di Balik Gelap

Oleh Nabila May Sweetha

Saya ingin bercerita sejenak mengapa saya bisa mengalami hal-hal di bawah ini.

Saya menyandang cacat (menjadi buta, red) sejak usia empat belas tahun. Bisa diperkirakan, satu setengah tahun lalu.

Awalnya pastilah saya takut akan banyak hal. Takut gelap, menyenggol apapun, berjalan, tidur sendiri, berpergian tanpa orang tua, terpisah dari keluarga, takut jika tidak menyentuh kulit orang lain, takut ini dan itu dan takut-takut lain yang terus berkembang.

Saya menderita di balik gelap!

Continue reading “Keriuhan di Balik Gelap”

Karena nyaris semua kita telah tunduk pada kuasa pencacatan, maka kecacatan adalah sebuah kenormalan, masih adakah kuasa untuk melawan?

SEBAGIAN KAWAN GELISAH dan mengomel. Pelaksanaan Asian Paragames menggunakan motto “The inspiring spirit and the energy of Asia” dan iklannya pun bertagar #parainspirasi. Itu sama dengan mengobjekkan difabel sebagai “barang inspirasi” dan itu cara berpikir “berideologi ableist”, kata seorang kawan, dosen Sosiologi di Malang.

Di salah satu sekolah menengah atas di Makassar, ada guru bersikap merendahkan terhadap siswinya yang baru masuk di kelas I. Ia gadis yang mengalami kebutaan beberapa tahun yang lalu. Guru itu bilang, “kamu salah pilih sekolah, tempatmu harusnya di sekolah luar biasa!”

Continue reading “Karena nyaris semua kita telah tunduk pada kuasa pencacatan, maka kecacatan adalah sebuah kenormalan, masih adakah kuasa untuk melawan?”

Mengubah Stigma tak bisa hanya dengan teriak saja

Ada yang berpikir, bahwa kami hanya bisa teriak soal ketidakadilan yang dihadapi Nabila May Sweetha saat sedang bersekolah di SMA 11 Makassar. Tidak sekadar teriak tentunya.

Mengubah keadaan membutuhkan waktu panjang. Salah satu yang terpanjang adalah mengubah cara berpikir orang yang berperilaku mengabaikan dan mendiskreditkan difabel. Berteriak adalah cara untuk mengagetkan orang-orang yang secara tidak sadar berperilaku ableist, alias mencibir dan memandang rendah seseorang hanya karena kondisi keterbatasan tubuh orang yang dicibirnya berbeda–dianggap cacat misalnya.

Continue reading “Mengubah Stigma tak bisa hanya dengan teriak saja”

Potret Buram Pendidikan Inklusi di Makassar

Menurutku, banyak orang belajar dari kejadian yang menimpa Lala di SMA 11 dan diskusi-diskusi ala medsos seminggu ini. Sudah banyak orang berkomentar, melontarkan kecewa, kemarahan, dan saran-saran. Tapi belum ada komentar dari guru-guru yang pongah itu.

Ya, akan lebih baik jika pihak sekolah memberi komentar juga. Tapi bukan komentar penjelasan yang berisi penolakan atas Lala. Untuk saat ini Anda adalah aparat negara, dan tidak punya kuasa melanggar Hak-Asasi seseorang, apalagi seorang anak.

Continue reading “Potret Buram Pendidikan Inklusi di Makassar”

Guru dan Segala Prasangka terhadap Muridnya yang Buta

Risya Rizky Nurul Qur’ani (pengurus HWDI Sulsel), membaca status yang diunggah Nur Syarif Ramadhan di akun fesbuknya tentang Lala yang mengalami perlakuan diskriminatif di sekolahnya. Tulisan Syarif bisa dibaca di sini. Ia pun berkomentar pedis. Katanya,

“Emosi saya lebih cepat membuncah ketika menemukan manusia-manusia menyulitkan manusia lain dalam kebaikan khususnya bagi disabilitas yang hendak mengakses pendidikan. Harusnya mereka diberikan apresiasi karena keterbatasan tidak menjadi alasan untuk kehilangan semangat bersekolah daripada mereka yang fisiknya sempurna tapi ogah-ogahan belajar dan bersekolah.

Continue reading “Guru dan Segala Prasangka terhadap Muridnya yang Buta”