Kita Semua Gila dengan Cara Kita Masing-masing

Setelah membaca arti kata gila dan beragam variasinya di kamus besar bahasa indonesia, maka sesungguhnya kita semua adalah gila dengan cara kita masing-masing 馃檪

Oleh Ishak Salim (Ketua PerDIK)

Makanya, saya sepakat dengan yang dibilang Darian Leader (pengamat kegilaan) yang menyatakan: “madness and normal life are compatible rather than opposed”.
Atau yang dibilang suhu psikoanalis, Sigmund Freud, agar selalu berupaya mendengarkan atau menyimak orang yang disebut gila dari pada sekadar memandangnya saja. Pandangan inilah yang mendasari kajian psikoanalisis yang berbeda dengan kerja para psikiater pada umumnya. Maksudnya kurang lebih bahwa memahami orang yang disebut gila penting melalui mendengarkannya, menemaninya, dan tidak mengabaikannya.

Gak percaya? coba tanya sama teman saya, Kang Nurhamid Nurhamid Karnaatmaja. Dia punya komunitas dan tempat untuk “orang-orang gila” yang tidak diabaikannya, yang ia cari dan temukan lalu membawanya tinggal bersama.


Tapi saya lebih setuju dengan Nabi Muhammad yang menjelaskan kepada teman-teman dekatnya terkait siapa yang orang yang disebut gila (ini mengutip dari medsos, bisa cari sendiri).

“Tahukah kalian siapakah orang gila yang benar-benar gila?’. Lalu Rasul SAW menjelaskan : ‘kami tidak tahu’. Lalu Rasul menjelaskan : ‘Orang gila adalah orang yang berjalan dengan sombong, yang memandang orang dengan pandangan yang merendahkan, yang membusungkan dada, berharap akan surga sambil berbuat maksiat kepada-Nya, yang kejelekannya membuat orang lain tidak aman dan kebaikkannya tidak pernah diharapkan.”

Coba cermati surat Al-Qalam ayat 8 -16, yang berbunyi dan berkesesuaian dengan penjelasan Nabi:

“Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). Dan janganlah kamu ikuti setiap orang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang berlaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata : ‘(ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala. ‘kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(nya).”

Jika diurai, maka mereka itu adalah: para pembohong, berkompromi dengan hal yang tidak baik, suka sumpah bohong (palsu), suka mencela, penyebar fitnah, menghalangi orang berbuat baik, melampaui batas dalam berbuat, bersikap kasar, berbuat jahat, sombong dengan anak dan kekayaannya.

Kembali ke istilah gila dan variannya dari kamus besar bahasa kita, berikut saya kutipkan seluruhnya. Saya yakin, kalian termasuk yang disebut gila itu.

gila/gi路la/ 1 a sakit ingatan (kurang beres ingatannya); sakit jiwa (sarafnya terganggu atau pikirannya tidak normal): contoh ia menjadi gila karena menderita tekanan batin yang sangat berat;

2 a tidak biasa; tidak sebagaimana mestinya; berbuat yang bukan-bukan (tidak masuk akal): Contoh: benar-benar gila , masakan dia dapat melompat setinggi itu;

3a cak terlalu; kurang ajar (dipakai sebagai kata seru, kata afektif); ungkapan kagum (hebat);

4 v terlanda perasaan sangat suka (gemar, asyik, cinta, kasih sayang)Contoh: ia gila membaca buku roman; tidak sedang gila asmara;

5 a tidak masuk akal: menurut pendapat mereka, ide itu adalah ide yang gila;
gila anjing penyakit anjing yang berbahaya yang dapat menular kepada manusia atau binatang lain yang digigitnya dan membuat penderita menjadi gila, takut kepada air, atau cenderung menggigit mangsanya; rabies canina; gila babi penyakit ayan; epilepsi; gila bayang-bayang rasa menginginkan sesuatu yang tidak mungkin tercapai; gila harta 1 terlalu mengejar-ngejar kekayaan; 2 mata duitan; gila hormat terlalu ingin dihormati orang lain; gila pangkat 1 selalu mencari (mengejar) pangkat; 2 berubah sikapnya setelah menduduki jabatan tinggi; gila renang gila-gila air; gila sasar sangat gila; gila uang mata duitan;
gila-gila/gi路la-gi路la/ a gila;gila-gila air agak kurang beres ingatannya; gila-gila bahasa sedikit gila;

menggila/meng路gi路la/ v 1 menjadi seperti gila (tentang sikap dan perbuatan): kini dia sedang menggila , semua orang dipersalahkannya; 2 menjadi-jadi; menghebat: kericuhan di kampung itu semakin menggila; 3 melonjak; meningkat (tentang harga): rakyat tidak dapat hidup tenteram karena menggila nya biaya hidup yang terus-menerus;

menggilakan/meng路gi路la路kan/ v 1 menyebabkan (membuat) gila: kabarnya ada juga dukun yang pandai menggilakan orang; 2 menganggap (memperlakukan, mempermainkan) sebagai orang gila: ia sering menggilakan anak yang satu ini; 3 ki menyebabkan (membuat) sangat suka (tertarik, jatuh hati, tergila-gila): rambut gadis yang bagaikan mayang terurai itulah yang sering tergila-gila para pria yang memandangnya;

tergila-gila /ter路gi路la-gi路la / 1 a sangat menyukai yang berlebihan; keranjingan: beberapa hari ini ia tergila-gila bermain catur sehingga ia melupakan kewajibannya;2 v menjadi-jadi: entah apa sebabnya anak itu menangis tergila-gila; 3 v jatuh hati; jatuh cinta: baru melihat wajahnya yang mungil saja dia sudah tergila-gila;

gila-gilaan /gi路la-gi路la路an / 1 v bertingkah laku seperti orang gila; pura-pura gila dan sebagainya; 2 v berbuat dengan sekehendak hati (seenak hati, asal-asalan saja): usul yang gila-gilaan; ia menjalankan mobilnya dengan gila-gilaan; 3 a kurang ajar (berbuat yang melanggar kesopanan); keterlaluan: sikap dan perbuatannya sungguh gila-gilaan terhadap gadis itu; 4 a nekat (membangkang terhadap larangan): semakin dilarang semakin gila-gilaan dia melarikan motornya;

kegilaan/ke路gi路la路an/ n 1 sifat (keadaan, perihal) gila; 2 kegemaran (keasyikan, kesukaan) yang berlebih-lebihan; 3 sesuatu yang melampaui batas; 4 kebodohan, kesalahan (dengan sengaja); 5 ketidakberesan; kericuhan; kekacauan: dari kegilaan ini aku mengharapkan suatu kebaikan;

kegila-gilaan/ke路gi路la-gi路la路an/ a 1 agak gila; rupanya seperti gila; 2 tergila-gila;
penggila/peng路gi路la/ n ki orang yang sangat menyukai atau tergila-gila pada sesuatu: penggila bola basket; penggila lukisan

Betul tidak?


Azerbaijani folk art based on the Layla and Majnun novel by Nizami Ganjavi.
(https://en.wikipedia.org/wiki/Layla_and_Majnun)

Profile of Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (English)

Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (Indonesian Diffability Movement for Equality) or PerDIK wasestablished on June 11, 2016 in Makassar, capital of South Sulawesi, Indonesia. PerDIK was legally registered in front of a public notary, Dewi Ardiana,Dahlan, SH., M.Kn, on January 27, 2017.

Movement Chairperson           : Ishak Salim, (PhD Cand.)

Executive Director                  : Abd. Rahman, S.Pd (Difabel Netra)

Cellphone Number                   : +62-823-9658-4550

Email                                        : kakrahman11@yahoo.com

Address:

Kompleks Dosen UNM

Jln. Pendidikan 1 Blok B5 No. 8
Makassar 90222 Indonesia

No. Telpon dan E-mail Organisasi

(0411) 862331 鈥 08124106722

perdiksulsel@gmail.com

Facebook: @bp.perdik

Twitter   : @media_perdik

Website  :  www.ekspedisidifabel.wordpress.com

Vision and Mission Statement

Vision

We believe injustice against the diffable (Indonesia, Difabel) is the core or roots of all ignorance over the majority of Difabel in various sectors of life. This unfair treatment is largely based on hegemonic medical (health) perspectives in construing the physical body of a person, which we call Disabling Politics. As a result, these viewpoints have encouraged the flawed practices or STIGMATIZATION upon the Difabel. The stigma is a series of processes that include: [1] disability labelling [2] incapacity stereotyping [3] normalcy-based exclusion, and [4] ignorance of the rights of the Difabel.

To fight the injustice, PerDIK  is taking important roles in the DE-STIGMATIZATION and political empowerment of Difabel in Indonesia. The de-stigmatization is a process of dismantling the disability labels, rejecting the stigma of being ‘sick’ and 鈥榠ncapable鈥, demolishing the segregation walls, and eliminating the discrimination practices against Difabel.

This de-stigmatization efforts will be accomplished by deploying the political empowerment scheme of Difabel groups. Empowerment will begin with strengthening the internal aspects of awareness building on the diffability identity (power in), the technical capacity or individual skills (power to), the ability to cooperate, build alliances and network (power with) to achieve the maximum self-reliance of the diffable.

Mission

Following its vision statement, PERDIK is mandated to embark the following missions:

  • Conduct research or critical studies as the basis of assessing the context that the diffability movement is facing and identifying short and long-term solutions.
  • Develop and strengthen local diffability organizations to be self-reliance ones and capable of contributing to social transformation;
  • Organize critical education processes for Difabel to accelerate the social transformation movement;
  •  Coordinate and develop network and collaboration with various parties to encourage synergies and promote social movement towards equality and welfare for Difabel.

PerDIK Experiences in Diffability Inclusion Programs

  1. Critical awareness raising of the diffable/Perdik partners through regular public discussions and publications using PerDIK produced media. www.ekspedisidifabel.wordpress.com 
  2. Developed cooperation in campaigning and mainstreaming the diffability perspective to government or non-government sectors.
  3. Cooperation with the Technology University of Sulawesi (UTS) to initiate the establishment of the Center for Disability Studies.
  • Collaborated with a number of organizations concerned on disability issues both at the national and international level, such as with the Local Eelection Commission (2016-2018), Bulukumba District Government (2018), SIGAB (2016 鈥 2018), OHANA (2017-2918), ISJN 鈥 SJYC (2018), etc
  • Quick responses to any information on violation of the diffable rights both identified through the mass media and internal reports of the Diffable Advocacy and Organizing Program
  • Encourage the Takalar Local Election Commission to accommodate an accessible Local Election process for the diffable voters.
  • Accomplished the 2016 Beyond the Boundaries Diffable Expedition (in Latimojong Mountain, 3478 mdpl, 5th highest in Indonesia) and 2017 (Sesean Mountain in Tana Toraja)
  • Etc.[]

Hak Pilih Bagi Difabel Mental Bukan Tindakan Gila

Saya menyayangkan orang-orang yang merasa sehat jiwa menertawakan DIFABEL MENTAL memiliki hak pilih. Sedang undang-undang Disabilitas sudah lama menjamin hak pilih mereka.

Oleh: Akhir Nurul Fairyda (Fotografer dan Penikmat Kopi)

Difabel mendapatkan stigma luar biasa. Sepulang rehabilitasi mereka tidak diterima hangat di masyarakat. Pada Pemilihan Umum dianggap tak memiliki pengetahuan memadai untuk memilih. Selalu ada orang memandang mereka sudah tak utuh.

Continue reading “Hak Pilih Bagi Difabel Mental Bukan Tindakan Gila”

Jika Kebutaan bukanlah bencana

Oleh Nabila聽May Sweetha

MENJADI DIFABEL NETRA ITU MIRIS. Setidaknya itu menurutku. Sulit sekali menahan diri yang dulunya sempurna melihat, dan kini sempurna tidak melihat. Gelap, sepi, dan sendirian. Mencoba memeluk luka yang menusuk takdir.

Sekitar tiga bulan lalu aku mendapat masalah di sekolah, dan itu menjadi titik sulit dalam hidup. Melelahkan. Sempat berpikir untuk berhenti sekolah saja, melupakan cita-cita. Bagaimana tidak? Guru yang seharusnya menjadi pahlawan tanpa tanda jasa malah menghina. Katanya tidak bisa menerima siswa yang tidak bisa menulis memakai pulpen dan kertas. Pahlawan dengan kata-kata menusuk namanya.

Continue reading “Jika Kebutaan bukanlah bencana”

Belas Kasihan: Akar Diskriminasi Terhadap Difabel.

Oleh: Muhammad Arkhan

Waktu itu aku ingat, aku dan temanku, Johnny (nama samaran) sempat banyak mengobrol bersama. Kelihatannya ia senang mengobrol denganku. Terlihat dari ekspresi wajahnya yang menunjukan antusiasme. aku merasa dihargai. Aku senang.

Namun seketika aku sadar ada sebuah pembatas yang menghalangi niatnya untuk bermain denganku. Iya pembatas tersebut adalah rasa belas kasihan!

Continue reading “Belas Kasihan: Akar Diskriminasi Terhadap Difabel.”