Merawat Bara Orang Muda

PerDIK melakukan kerja-kerja pengorganisasian dan advokasi difabel baik berhadapan dengan sektor hukum, pendidikan maupun ekonomi dan sektor publik lainnya. Kami menyadari, jumlah orang muda yang tertarik dengan kerja seperti ini tak banyak. Padahal di sisi lain, kami membutuhkan lebih banyak kader yang bisa mengisi perang khususnya sebagai paralegal atau pengorganisir di tingkat warga difabel/negara.

Kami lalu melakukan pelatihan pengorganisasian orang muda. Kegiatan ini berlangsung selama 4 hari, 18 – 21 Desember 2018 di Taman Belajar Ininnawa di Maros, Sulawesi Selatan. Adapun organisasi-organisasi yang terlibat adalah PPDI Enrekang, Pertuni Sulawesi Selatan, Gerkatin Makassar, Yasmib, NPC Bantaeng/Jaringan Komunitas Disabilitas Bantaeng, alumni SJYC Bulukumba dengan organisasi kepemudaan yang baru didirikannya bernama FORMULASI, dan adapula siswa-siswi dari YAPTI.

Sesi awal: Pembukaan, Harapan dan Kekhawatiran dalam pelatihan, oleh Ishak Salim, dengan juru bahasa isyarat Rezqi Chiki Ramadhani

Pelatihan ini dipandu oleh fasilitator berpengalaman dan merupakan aktivis difabel yang sudah dikenal luas di Indonesia, yakni Jonna Aman Damanik, Ishak Salim, M. Joni Yulianto, Hari Kurniawan dan didukung pula oleh para aktivis PerDIK seperti Nur Syarif Ramadhan, Erwin, Nurhidayat dan Sakiyah. Mengingat ada sejumlah peserta Tuli/HoH (Hard of Hearing), kami menyediakan Juru Bahasa Isyarat, yakni Andi Rezki Ardiyanti (yang turut dibantu Nur Fadilah Yasin). Dengan terlaksananya kegiatan ini, maka kami dari PerDIK mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu, yakni Pengelola Taman Belajar Ininnawa, PPDI Enrekang, SIGAB Yogyakarta, Institute Inklusi Indonesia, LBH Disabilitas Jawa Timur, dan pemerintah desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros.

Jonna Aman Damanik sedang menfasilitasi

Mengapa kita memerlukan Orang muda dalam gerakan difabel?

Memahami stigma dari pengalaman sehari-hari difabel adalah proses labelisasi, stereotifikasi, segregasi dan diskriminasi yang berdampak pada penyingkiran sosial, pemiskinan ekonomi, perentanan diri, dan kesulitan-kesulitan hidup lainnya.

Jonna Aman Damanik sejak semalam berdiskusi dengan 20 orang muda dari berbagai organisasi difabel Sulawesi Selatan dan Barat.

Perspektif didefinisikan dari himpunan pengalaman sehari-hari difabel muda yang hidup di lingkungannya masing-masing. Memang ada pinjaman penjelasan dari berbagai literatur yang diimpor dari luar, tapi itu sebagai pelengkap saja. Orang-orang muda ini punya penjelasannya sendiri yang tak bisa diabaikan.

Jonna menangkap penjelasan-penjelasan itu dan mengujinya dengan pertanyaan-pertanyaan kritis yang membuat diskusi ini menjadi penuh semangat dan menantang cara berpikir mereka. Setelah mendengar dan bersuara, ada yang mengaku telah keliru mengikuti pandangan yang selama ini rupanya memapankan pandangan bahwa difabel tak mampu dan berbeda. Ada yang merasa senang karena apa yang diyakininya tidak keliru baik dalam menilai dirinya maupun lingkungan yang merentankannya.

Prinsipnya, orang muda bisa mengubah keadaan. Keadaan yang selama ini melabeli, menyematkan cap miring, memisahkan dan mendiskriminasikan menjadi keadaan yang bisa menghormati diri mereka sebagai diri yang mampu.

Ishak Salim mengantar sejarah politik pencacatan di Indonesia dan respon difabel dalam iklim Pencacatan itu. Ada yang tumbuh dalam lingkungan Pencacatan sebagai hal normal dan larut dalam praktik Pencacatan merentankannya, ada pula yang terus menerus melawan praktik pemerentanan itu pribadi, berkelompok maupun berorganisasi. Ada perlawanan yang mati lalu tumbuh benih-benih perlawanan baru, ada pula yang mati dan tak bangkit lagi. Sebagian kecil saja yang bertahan sampai saat ini untuk terus-menerus melawan dan menggelorakan perlawanan sehari-hari.

Intinya, sejarah disabilitas adalah sejarah perlawanan atas labelisasi, stereotifikasi, segregasi, dan diskriminasi dari dulu sampai sekarang. Orang-orang yang saat ini sudah sepuh dan masih berdiri di garis depan perlawanan perlu legowo mengijinkan dan membiarkan yang muda maju, sebagaimana dulu saat mereka masih muda dan berani maju di depan.

Sore hari saat hujan deras, Hari Kurniawan alias cak Wawa dan Fauziah Erwin (Pengacara PerDIK)) membagi pengalaman ragam perlawanan itu, dalam akhir kekalahan maupun kemenangan di berbagai front pertempuran, berikut strategi dan teknik-teknik pengorganisasian dan advokasi.

Duet Dua Pengacara (Fauzia Erwin, PerDIK) dan Hari ‘Cak Wawa’ Kurniawan, LBH Disabilitas Jawa Timur)

Joni Yulianto aktivis difabel Jogjakarta di hari ketiga, menemani orang-orang muda berdiskusi terkait kerja riset sebagai bagian dari gerakan difabel.

Joni mengantar diskusi dengan mengambil dua cerita dari kerja gerakan difabel. Cerita pertama mengenai kerja berbasis riset dan lainnya terkait perjuangan yang mengabaikan riset.

Novi, peserta dari Gema difabel mamuju, SUlawesi Barat

Dari jauh, di sebuah tempat di Jakarta sana, Joni bercerita kepada orang-orang muda di Bantimurung, Maros. Melalui video Skype, komunikasi dua pihak yang dipisahkan jarak ribuan kilometer ini berjalan baik. Hanya sesekali jaringan terputus, selebihnya berjalan baik.

Cerita pertama, Joni menyatakan bahwa kerja penelitian itu menyatu dalam kerja advokasi. Jika kita mendampingi kasus di mana difabel berhadapan dengan hukum, maka proses mengumpulkan bukti sudah merupakan kerja penelitian. Pengalaman pendampingan yang dituliskan menjadi buku–sebagaimana dilakukan oleh Sigab, rupanya berdampak positif bagi pihak-pihak terkait, semisal APH. Melalui buku, peredaran pengetahuan menjadi luas dan tak terkira. Pihak-pihak lain mendukung dan mulai mengikuti pikiran-pikiran yang sedang diperjuangkan.

Cerita lain terkait perjuangan soal mendorong RPP terkait konsesi disabilitas. Pikiran-pikiran yang apa adanya atau tidak memadai terkait pendorong gagasan konsesi ini kesulitan menjawab saat ada pertanyaan-pertanyaan balik dari pihak terkait jika kebijakan konsesi ini ingin dijalankan. Bisa dikatakan perjuangan akan sesuatu bagaimanapun amat bergantung kepada data-data pendukungnya. Jika data tak ada maka sulit merumuskan jalan keluar yang tepat.

Dalam diskusi, ketakutan untuk melakukan kerja riset sebagai sesuatu yang rumit jelas tampak. Padahal, dalam gerakan difabel, kerja riset tidak harus mengikuti ketentuan-ketentuan kaum akademis kampus yang ribet. Kita hanya butuh membangun dan memperkuat rasa ingin tahu (the Will to know). Tumbuhkan terus rasa ingin tahu itu dan mulailah mencari jawaban-jawabannya. Selebihnya biarkan spirit itu bergerak mengikuti kerja-kerja pengorganisasian yang sedang dijalankan bersama dalam satu institusi gerakan.

Boleh jadi ada diantara kita tidak piawai menulis tapi tidak boleh kehilangan rasa ingin tahu. Itulah modal yang harus dimiliki dan dipupuk sejak muda. Kira-kira begitulah kesimpulan tauziah pagi tadi oleh al-ustadz Joni Yulianto.

Seharian, materi ‘riset sebagai alat dan proses perlawanan’ difabel, dibawakan oleh Danu Cruz. Setelah Joni mengantar bagaimana riset dilakukan dalam sejumlah organisasi gerakan Difabel, Mas Danu kemudian menemani orang-orang muda ini mengenali kerja riset sebagai alat.

Irawan dalam sesi pengantar metode penelitian

Hal-hal teknis meneliti pun dibedah dan dicoba bersama. Hal paling teknis, bagaimana merumuskan tema penelitian dan menyusun pertanyaan-pertanyaan yang menopang isu utama.

Dengan sabar, Danu menjelaskan dan memandu 4 kelompok yang terbentuk. Setelah susunan pertanyaan rampung, merekapun ke rumah-rumah warga dan meminta waktunya mengobrol.

Kebanyakan peserta, baru pertama mengalami proses belajar ini. Ada kelompok diterima dengan begitu ramahnya dan ada pula yang menyimpan curiga begitu melihat mereka memasuki halaman rumah. Ada yang bilang, “saya sepertinya dipandang sebagai pengemis dan dia mengabaikan saya.”

Tetapi kebanyakan keluarga menerima dengan ramah orang-orang muda yang sedang belajar ini. Mereka bertanya meminta jawaban, di sisi lain, orang-orang muda ini menjelaskan memberikan jawaban saat warga bertanya. Di sinilah urgensi penelitian, yakni proses bertanya dan memberi jawaban dan kemudian membuat kita mengetahui dan memahami sebuah peristiwa.

Nah, ini awal yang baik, kan?
Ayo lanjutkan kerja berpengetahuan ini, kawan!

Pagi, di hari penutupan, Jonna Damanik menghentak pagi dengan lagu Cokelat berjudul Bendera dengan lirik berikut:

Biar saja ku tak sehebat matahari
Tapi s’lalu ku coba tuk menghangatkanmu
Biar saja ku tak setegar batu karang
Tapi s’lalu ku coba tuk melindungimu

Biar saja ku tak seharum bunga mawar
Tapi s’lalu ku coba tuk mengharumkanmu
Biar saja ku tak seelok langit sore
Tapi s’lalu ku coba tuk mengindahkanmu

Kupertahankan kau demi kehormatan bangsa
Kupertahankan kau demi tumpah darah
Semua pahlawan-pahlawanku

Merah putih teruslah kau berkibar
Di ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini

Merah putih teruslah kau berkibar
Di ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini

Merah putih teruslah kau berkibar
Ku kan selalu menjagamu

Maros, 21 Desember 2019

Foto Bersama

Ujian Semester Pertama, Dengan Mereka Yang Menganggap Dirinya Normal.

Saya pernah mendengar seorang teman difabel bicara tentang topik yang menarik. Dia ditanya seorang temannya, mengapa kamu tidak ingin bersekolah di sekolah normal? Lalu dia menjawab, karena usianya tidak mendukung. Lagi pula, otaknya tidak begitu mampu dipakai berpikir berat. Dia merasa SLB–Sekolah Luar Biasa, adalah tempat terpantas untuknya. Saya merasa terganggu dengan kata ‘sekolah normal’. Saya pun memutuskan nimbrung dan bertanya hal-hal yang mengganggu.

Oleh Nabila May Sweetha

“Kenapa, sekolah luar di katakan sekolah normal?” Tanya saya, heran.
“Mmmm. Karena itu tempat untuk orang yang normal. Jawabnya, enteng.
Mendengar itu, alarm bahaya di kepala saya berdenting keras. Ada apa, dengan kata normal itu.

Maksudku, apa definisi normal menurut kawan difabelku ini?

Kala itu, saya baru sekitar enam bulan bergabung dan tinggal di asrama SLB. Pastinya, untuk bersekolah. Usia saya masih empat belas tahun, baru saja menjadi difabel netra. Sementara teman yang mengeluarkan kata sekolah normal itu sudah sekitar dua tahun menetap di SLB dan asrama sana.

“Normal, maksudnya? Jadi menurut kamu, kita tidak normal? Bagaimana caranya kita bisa terhindar dari diskriminasi, kalau kita sendiri saja menganggap diri kita bukan bagian dari mereka yang normal,” desakku.

Aku, yang tadinya berbaring di ranjang, saat itu langsung turun dan duduk di bawah lantai bersama teman. Dia diam sejenak. Tidak menemukan kata yang tepat, mungkin.

“Kita tidak normal menurut orang banyak, karena kita tidak melihat.” Ucapnya, ragu.
“Terus, dengan dasar itu kamu anggap kita tidak normal?” Aku coba memastikan maksudnya. Dia mengiyakan. Aduh, kacau. Pada saat itu, saya baru saja mengenal dunia difabel. Bahkan, saya baru juga mengenal kata seperti disabilitas, netra, tunanetra, pertuni, dan sebagainya. Saat itu, saya belum mengenal PerDIK, sebuah organisasi peduli isu difabel di mana saat ini saya sering berinteraksi dengan pengurusnya.

Sungguh, saya juga belum mengerti arti diskriminasi. Hal yang paling saya ingat, saya sama sekali belum mengenal kata difabel. Kesimpulannya, saya yang masih ingin belajar percaya begitu saja dengan kata-kata teman yang saya anggap lebih tahu.

Terus, apa hubungan kata ‘sekolah normal’ itu dengan ujian yang saya hadapi saat ini? Menurut saya, semua berkaitan erat. Sekali, bahkan. Bagaikan hatiku dengan seseorang, hehe.

Sekarang, saat saya mulai mengenal dunia disabilitas, saya akhirnya mengerti masalah besar yang kami hadapi. Setidaknya, ini menurut saya. Jika kalian membaca dengan fokus, kalian pasti menemukan keganjilan yang saya maksud. Teman saya saja, yang sudah tinggal di SLB dengan waktu yang lama, masih juga berpedoman pada kata ‘tidak normal’. Bagaimana dengan mereka, yang baru berinteraksi, dan mengenal dunia kita ini. Sampai detik ini, saya menarik benang merah. Kalau semua ini hanya tentang pemikiran kita.

Di hari pertama saya bersekolah di sekolah umum, saya bertemu dengan guru yang abstrak. Dia memberi pertanyaan, yang mungkin menurut dia paling baik untuk ditanyakan.

“Kenapa dia sekolah di sini? kan, kalau di sekolah khusus dia bisa mendapat pelajaran keterampilan,” tanyanya heran kepada pendamping saya.
Kebetulan, saat itu saya didampingi bendahara PerDIK, yang sudah terlatih bicara. Dia menjawab lugas, bahwa saya jauh lebih baik di sekolah ini, bukan di sekolah khusus.

Sebenarnya saya hendak bertanya pada guru itu, keterampilan apa yang dia maksud? Atau, keterampilan apa yang dia rasa bisa membantu saya di masa depan. Sungguh, sekolah saya membutuhkan sosialisasi soal kesadaran tentang dunia disabilitas.

Di hari kedua dan selanjutnya saya masih menemukan guru yang beragam cara berpikirnya. Salah satunya seperti Ibu guru, yang saya tidak tahu namanya. Dia mengaku bahwa beliau yang menerima saya, pada saat pertama mendaftar. Dia mengaku bahwa dia heran saat melihat cara saya menggunakan handphone. Dia juga tidak tahu bagaimana saya mengakses pelajaran. Namun, dari awal dia sudah yakin, saya bisa bergabung dengan yang lain. Belajar dengan cara yang sama, memahami pelajaran dengan porsi yang lebih, bahkan dia yakin saya layak dan bisa menjadi siswi di sekolah itu.

Guru tersebut juga mengaku baru saja mengikuti pelatihan yang diadakan salah satu Dinas di Provinsi. Katanya, dia mengangkat kasus saya. Maksudnya, mengangkat kasus difabel yang bersekolah di sekolah umum. Dari kata-kata yang beliau keluarkan, saya yakin ada harapan besar yang beliau genggam. Saya tidak tahu pastinya. Namun, saya merasa dia lebih baik dari sebagian guru di sana. Beliau tidak berencana menyingkirkan saya dari sekolah itu, sebaliknya bertanya dengan pihak Dinas. Apa yang seharusnya dia lakukan pada siswi dengan keadaan seperti saya?

Jujur, mengetahui ada guru yang peduli dengan perjuangan saya, rasa semangat kembali tumbuh. Ibarat bara yang nyaris padam dihidupkan kembali.

Lumayan lama kami berbincang dengan beliau. Sayangnya, saat itu saya tidak bersama Kak Zakia, Bendahara PerDIK. Dia juga menyampaikan, bahwa pihak Dinas menyarankan agar guru-guru di sekolah itu melakukan komunikasi dengan organisasi disabilitas. Beliau sangat ingin menerima pengetahuan tentang disabilitas. Bagaimana mereka bisa mengerti pelajaran, dan lain-lain. Saya sempat pula mengemukakan, jika organisasi PerDIK ingin bekerja sama untuk mengadakan sosialisasi. Ibu guru itu berpesan, agar saya menyampaikan ke PerDIK. Ia dan pihak sekolah ingin menerima pemahaman. Mungkin melalui sosialisasi, agar bisa memudahkan semua proses pendidikan di sekolahnya. Saya sebagai siswi akan menerima pelajaran dengan baik, dan mereka sebagai guru bisa paham apa kebutuhan saya.

Kesimpulannya, guru itu berbeda-beda dalam merespon peserta didik difabel.

Sama halnya dengan guru kimia saya. Saat saya bertanya harus mengerjakan tugas apa untuk menutupi nilai yang anjlok, dia menyuruh untuk menyalin tugas-tugas teman. Dengan segenap kemampuan saya meminta tolong dengan teman, untuk menyalinkan. Kemudian memberi tugas yang rampung itu ke guru bersangkutan.

Tapi, usaha saya hanya dipandang sebelah mata. Andai diberi kesempatan bertanya, ingin sekali mempertanyakan banyak hal pada guru tercinta saya itu. Saya ingin menanyakan, apa salah jika saya bersekolah di sana? Apa sebagai oknum pendidik dia dirugikan?

Saya dengar, dia tanpa rasa bersalah bertanya pada Kak Zakia. Apa saya masih ingin bersekolah di sana sampai saya lulus nanti? Dan, menurut saya itu pertanyaan yang menyakitkan. Belum lagi usaha saya untuk mengumpulkan tugas, belum lagi rasa hormat saya pada beliau, belum juga seabrek rintangan yang harus saya lewati di tiap harinya. Dan itu hanya untuk bisa bersekolah di sana.

Kenapa guru itu tidak melayangkan pertanyaan seperti itu pada teman-teman saya yang lain?

Apa dia berpikir saya orang paling bodoh di dalam kelas atau di sekolahnya yang sempurna itu? Apa dia berpikir saya tidak sempurna dan dirinya sempurna?

Sakit, Bu!

Andai saja Ibu guru bisa merasa apa yang saya rasa. Usaha keras saya berjuang memantaskan diri bersekolah di sana, lalu Ibu nilai diri saya seperti itu.

Saya ingin, Ibu berhenti berpikir saya akan meninggalkan sekolah itu, sebelum saya mendapatkan ijasah. Biarlah, jika ibu ingin memberi nilai 0 di buku raport saya, saya tak peduli. Saya tidak ingin menuntut Ibu dengan nilai 0 itu. Saya tahu diri, Bu. Saya memang tidak pernah mengerti apa yang Ibu jelaskan, setiap senin siang yang gerah. Tapi, setidaknya saya tetap hormat dengan Ibu. Saya setia duduk dan mendengarkan materi yang Ibu sampaikan.

Ibu guru baik, tapi tidak untuk saya. Mungkin juga Ibu akan baik dengan saya, tapi saat saya memiliki mata yang sempurna melihat. Maaf sekali, Ibu. Hati saya terlalu sakit mendengar pertanyaan itu.

Menurut Ibu, mungkin tidak ada bedanya saya bersekolah di mana, atau lebih baik jika bersekolah di SLB. Namun, izinkan saya menyampaikan satu hal. Saya tidak pernah bercita-cita menikmati pelajaran yang santai di SLB. Bagi saya, SLB tidak dapat menjamin masa depan saya.

Dengan tulisan ini, saya ingin berterima kasih dengan jajaran guru di sekolah saya.

Jika ada anak yang sangat bahagia bersekolah di sana, itulah saya. Andai ada dari guru saya yang membaca ini, saya ingin berterima kasih kepada kalian. Termasuk dengan guru yang menginginkan saya angkat kaki dari sekolah itu. Mereka pikir saya tidak bisa memahami pelajaran mereka. Padahal saya pun tahu, setengah dari teman kelas saya juga tidak mengerti materi kimia yang disampaikan oleh guru itu. Saya juga tahu, jika di lisan, saya bisa melebihi semua pemikiran teman saya. Dengan catatan dalam pelajaran yang saya kuasai, seperti pelajaran yang tidak mengandalkan visual. Saya tidak bisa terima dianggap bodoh, karena saya merasa lebih dari murid-murid lain yang mereka anggap pantas sekolah di sana.

Untuk guru Sejarah, Bahasa Jerman, Bahasa Indonesia, PPKN, Bahasa Inggris, Sosiologi, Agama, dan sebagainya. Saya berterima kasih. Kalian, sudah mulai menerima saya. Saya mungkin akan merasakan sakit yang sangat tiga tahun ini. Tapi saya jauh lebih sakit jika tidak bisa menerima ijasah dari sekolah yang di dalamnya kalian mengajar saya[].

Tazkia (PerDIK) mendampingi Lala ujian

Hari Difabel Internasional dan Janji Presiden mendirikan Pabrik untuk Difabel

Tentu saja terjadi pro dan kontra. 
Cara berpikir memisahkan difabel ke dalam ruang khusus alias eksklusif bukan sekali dua kali dilakukan negara. Tetapi sudah berlangsung lama dan menjadi normal pejabat berpikir dan bertindak dengan cara begitu.

Oleh Ishak Salim (Ketua Badan Pengurus PerDIK)

Dalam kajian yang saya tekuni, cara berpikir seperti ini merupakan praktik atau bagian dari teknikalisasi permasalahan dalam menangani isu disabilitas. Tekniknya tidak pernah berubah, sama saja dengan pola lainnya yang selama ini diproduksi sebagai produk kebijakan. Rehabilitasi orang cacat berbasis institusi panti, organisasi khusus disabilitas, kampung khusus kusta, sekolah luar biasa, BLK khusus difabel, pendidikan pemilih atau simulasi pemilih khusus disabilitas, kartu tanda disabilitas, disabilitas sebagai urusan Kemensos dst dst.

Terkait hak atas ketenagakerjaan, undang-undang sudah jelas mengatur: minimal 2% pekerja di institusi pemerintah dan minimal 1% pekerja di institusi swasta. Kalau ini ditegakkan, maka dengan jumlah 4,37 juta PNS seharusnya 2 % itu bisa mencapai 87 ribu PNS difabel. Ditambah 32,5 juta bekerja di sektor swasta yang kalau 1 % nya saja bisa mencapai 325 ribu karyawan atau staf difabel dan dengan jumlah buruh 21 juta dimana 1 % nya mencapai 210 ribu, maka total pekerja difabel bisa mencapai 622 ribu pekerja. Mestinya aturan ini terus ditegakkan. Ini kita belum hitung berapa unit usaha telah dibuat dan dapat terus didirikan oleh difabel di sektor kewirausahaan. Bisa berkali-kali lipat peluangnya dibuat dan dipertahankan.

Nanti kalau memang mau bikin pabrik besar dengan mayoritas pekerjanya difabel barulah dibuatkan, tetapi bukan dengan embel-embel pabrik Disabilitas. Pabriknya saja dibuat akses dan tegakkan aturannya. Syukur-syukur diterapkan melebih batas minimumnya.

Rada jengkel juga jadinya. Tapi kita juga tak bisa berdiam diri kalau menterinya panik dan mulai kejar-kejar dirjen maupun direkturnya di kemensos.

Tiba-tiba serasa mau ngopi racikannya Eko Sugeng #cupablecoffee
Di mana?
https://www.solider.id/…/4659-eko-sugeng-barista-ini-membon…

Pemerkosaan Terhadap Difabel sebagai Kejahatan Terhadap Martabat Manusia

Oleh: Muhammad Arkhan

Pada Senin, tanggal 26 November 2018, amarah banyak orang tersulut. Telah beredar secara luas berita Nasrianto Siadi tega memperkosa NT (gadis Difabel Tuli). Kebejatannya tak hanya sampai disitu. Dia pun menjual NT ke pria hidung belang, dan memaksa NT mengonsumsi narkoba yang dibeli pelaku dari menjual tubuh si korban .

Panik, Nasrianto panik. Ia sadar sedang dikejar-kejar polisi. Disuruh mempertanggung jawabkan kejahatannya. Namun, untuk dihukum pun ia tak sudi. Lari, ia terus lari. Tak mau disentuh polisi. Polisi kencang menembak. Usahanya terhenti. Kini ia tertangkap polisi.

Pelaku setelah dibekuk pihak kepolisian, 25 November 2018 (Foto, Detik.com)

Sudah dipastikan pasal berlapis akan mendera pelaku. Pasal 285 dari KUHP yang pada intinya menyatakan siapa pun yang memaksa seorang perempuan dengan kekerasan untuk melakukan hubungan seksual diluar pernikahan dijatuhi hukuman pidana paling lama dua belas tahun.

Berhubung dia juga menjual NT, maka dia bisa dijerat pasal 2 ayat (1) dari UU No. 21 tahun 2007 Tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang yang pada intinya menyebutkan bahwa Siapa pun yang melakukan perdagangan orang dengan kekerasan dan tanpa persetujuan pihak yang bersangkutan diancam dengan pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun dan pidana denda paling sedikit seratus dua puluh juta rupiah dan paling banyak enam ratus juta rupiah.

Tak lupa juga dia memiliki barang haram. Narkotika. Dia bisa dijerat pasal 112 ayat (1) dari UU No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika yang pada intinya menyebutkan bahwa setiap orang yang tanpa hak memiliki narkotika golongan 1 bukan tanaman dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 12 tahun dan denda paling sedikit delapan ratus juta rupiah dan denda paling banyak delapan miliar rupiah.

Jangan Berhenti di Ranah Hukum

Setelah pelaku dihukum, terkurung di dalam jeruji besi, apakah lantas kita kembali ke kamar kita masing-masing dan melupakan hal ini? Menganggap hal ini sudah selesai? 
Jika kita menganggap persoalan ini sudah selesai ketika si pelaku sudah dihukum, maka kita adalah orang naif.

Pemerkosaan dan eksploitasi terhadap NT (Difabel Netra) dapat terjadi karena stigma Difabel itu “Inferior” (lebih rendah) itu masih tumbuh di masyarakat. “Orang-orang normal” masih enggan dianggap sejajar dengan Difabel karena mereka merasa “superior” (lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih bermartabat). Contoh: Beberapa teman “normal” semasa SMA saya tidak sudi mengajak saya main karena dimata mereka Difabel Kinetik/Daksa seperti saya dianggap “lebih rendah.”

Ketika seseorang “normal” merasa “superior” dan menganggap Difabel sebagai pihak yang “inferior”, maka dia akan menindas Difabel untuk menunjukan kekuasaannya itu. Dan inilah yang terjadi pada kasus pemerkosaan terhadap NT.

Kita musti mendidik masyarakat. Ajak mereka mengenali kita–difabel. Hak-hak kita. Hak untuk dihormati, hak untuk dihargai, dan hak dilibatkan dalam aktivitas sosial. Ini membuat mereka mengerti tentang kita, dan ini membuat kita lebih bahagia. Kita tidak merasa terasing lagi.

Jika kita diam. Menganggap persoalan ini sudah selesai hanya karena pelaku telah dihukum, maka sama saja kita membiarkan bibit-bibit Ableisme (faham kenormalan tubuh, red) seperti stigma tumbuh subur. Bibit-bibit ini tumbuh subur dan akhirnya melahirkan buah-buah pahit seperti peristiwa pemerkosaan terhadap NT.

Dan kita seperti biasa. Mengecam dengan suara keras yang mengoyak cakrawala sampai retak, namun tak pernah mau belajar dari pengalaman-pengalaman pahit di masa lalu.

Lawan stigma
Wujudkan hak asasi manusia!