Pengukuhan Doktor Ilmu Politik Ishak Salim, Sebuah Kemenangan Pergerakan Difabel

Solider.id, Yogyakarta. Praktik mendominasi satu kelompok oleh penguasa atau orang yang lebih kuat atau praktik hegemoni, “lazim” dijumpai dalam kehidupan bermasyarakat. Menjadi lazim dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama, karena kelompok masyarakat yang terhegemoni tidak mampu keluar dari kuasa nilai-nilai ideologis yang diciptakan dan dibangun penguasa. Sebagai mana yang terjadi pada kelompok difabel.

Foto bersama Aktivis Gerakan Difabel

Cukup lama kelompok ini terhegemoni dan tidak berdaya menolaknya. Dominasi negara menanamkan konsep difabel dengan sudut pandang kesehatan, salah satunya. Sehingga kedifabilitasan dimaknai sebagai orang sakit. Orang yang harus direhabilitasi, diobati agar sembuh dan tidak lagi menjadi difabel.

Konsep tersebut berimplikasi secara intrinsik pada diri difabel maupun ekstrinsik. Masyarakat mengasihani difabel (karitatif), adalah sikap ekstrinsik yang diterima difabel akibat konsep negatif tersebut. 

“Kasihan sekali ya, tidak bisa jalan, tidak bisa melihat, tidak bisa bicara dan sebagainya.”

Stigmatisasi serupa mengakar dan melahirkan sikap mengasihani, menjadikan difabel sebagai obyek penerima bantuan.

Cara pandang demikian berlangsung cukup lama, karena difabel tidak kuasa keluar dari konsep cara pandang yang melemahkan nilai kemanusiaan. Celakanya, relasi kuasa yang dibangun penguasa berdampak secara intrinsik terhadap difabel. Ada sebagian difabel yang tidak menyadari, justru menikmati kondisi distigmatisasi, dikasihani, dijadikan obyek. Sebuah ironi terjadi, kelompok difabel ini hanya sanggup berpikir tentang diri sendiri, tidak peduli dengan nilai kemanusiaan yang dimatikan, dihilangkan martabat dan harga diri.

Menolak hegemoni pelemahan nilai kemanusiaan yang cukup lama dan mengakar dampaknya, membuat keprihatinan dan mewujud dalam sebuah gerakan. “Keluar dari Hegemoni Pencacatan,” sebuah gerakan yang dipraktikkan oleh Ishak Salim. Aktivis yang juga peneliti ini melakukan penelitian, dan mengangkatnya dalam sebuah karya penulisan disertasi untuk meraih gelar Doktor Ilmu Politik-nya. Sebuah disertasi Doktor Ishak Salim yang menyajikan bagaimana aktivisme difabel melawan pelemahan nilai kemanusiaan.

Gebrakan dan gerakan yang menghentak tentu saja, mengagetkan dunia yang telah terbiasa dengan cara pandang negatif terhadap difabel. Ishak sadar betul bahwa beragam model dan gerakan difabilitas selama ini, tidak lain adalah bagian dari mengubah relasi kuasa itu.

Dalam sepenggal tulisan yang diunggahnya melalui media sosial, Ishak mengaku tahu betul bahwa tidak semua warga setuju dengan stigmatisasi itu. Bahkan banyak yang tidak sepakat dengan pelabelan negatif terhadap beragam kedifabilitasan. Dari pergulatannya dengan para aktivis, disimpulkannya bahwa  tidak semua difabel menginginkan diperlakukan secara segregatif. Difabel harus sekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB), ini sebuah contoh tindakan pemisahan difabel dengan non-difabel (segregatif).

Dituturkannya pula sampai pada bagaimana difabel melakukan gerakan melawan segala bentuk diskriminasi yang dilakukan oleh para ableist (pihak yang beranggapan bahwa tubuh lengkap lebih superior dari difabel). Pada intinya, bagaimana gerakan aktivis difabel melawan praktik stigmatisasi berdasar pada pandangan hegemonik pengetahuan biomedik, dikawalnya. Sejumlah temuan dan analisis atas fakta-fakta relasi kuasa dituliskannya.

Patut gembira, karena Ishak Salim, bapak tiga orang putra putri itu berhasil meraih gelar doktor bidang Ilmu Sosial dan Ilmu Politik  setelah berhasil mempertahankan disertasinya pada sidang ilmiah di Ruang Auditorium Mandiri, Gedung BB Lantai 4 Fisipol UGM. Jalan Sosio Yustisia, Caturtunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (27/7). Aktivis dan peneliti yang aktif di PERDIK Sulawesi Selatan dan SIGAB ini, dipromotori oleh Prof. Dr. Purwo Santoso, MA dan ko-promotor Dr. Suripto, S.IP., MPA. berhasil mempertahankan karya risetnya di hadapan tim penguji, dan dinyatakan lulus dengan predikat memuaskan.

Kemenangan gerakan difabilitas

Sontak tepuk tangan semua yang hadir bergemuruh di ruangan berukuran 10 x 12 meteran itu menyambut kabar gembira yang disampaikan pimpinan sidang. Sidang terbuka selain dihadiri oleh keluarga (istri, anak dan keluarga), juga para penggerak aktivisme difabel dari berbagai wilayah di Yogyakarta, Solo, dan sekitarnya.

Pengukuhan gelar doktor bagi Ishak Salim merupakan kabar gembira sekaligus kemenangan bagi pergerakan aktivis difabel. Hal ini diakui oleh Direktur Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia Suharto. Apa yang sudah dilakukan Ishak sangat menarik, dapat membangun dialog antara dunia aktivisme dengan dunia akademik yang selama ini punya mazhab sendiri-sendiri.

“Sesuatu yang menarik yang dilakukan mas Ishak, adalah bahwa dialog antara dunia aktivisme dan dunia akademik itu telah menjadi pencerah gerakan difabilitas di Indonesia. Harapannya apa yang telah dilakukan Ishak dapat diteruskan oleh generasi-generasi berikutnya,” ungkap Suharto.

Ishak Salim sedang menjawab pertanyaan Penguji (Dok. Purwo Santoso)

Bagi gerakan difabilitas, kata dia, ini adalah satu kemenangan. Karena dapat  mengajak orang yang semula tidak punya perhatian dan minat di isu difabilitas, tapi kemudian dengan interaksi intensif, melalui metode riset PAR (Participatory Action Research), dapat membuat terlibat langsung di dalam komunitas. Lantas bergerak bersama, kemudian menjiwai dan menjadi bagian dari gerakan komunitas itu.

“Ini sebuah kemenangan kelompok difabilitas di Indonesia terhadap pergerakan keilmuan di Indonesia,” tandas Suharto.

Apa yang dilakukan Doktor Ishak Salim, sejalan dengan  visi dan misi SIGAB Indonesia. SIGAB menjadi tempat pembelajaran bersama.

“Meskipun kita pengurus yang sekian puluh tahun berpengalaman, kita tetap sama-sama belajar untuk membongkar ideologi kenormalan, termasuk juga membongkar ideologi kedifabilitasan itu sendiri. 

Di akhir perbincangan dengan Solider, Harto menegaskan bahwa di SIGAB, orang yang baru bergabung dan orang yang telah lama dan aktif dalam gerakan, tetap selalu berdialog. Yang terpenting, lanjut dia, “Bagaimana perubahan paradigma menjadi perubahan cara berperilaku, mudah-mudahan juga berpengaruh pada cara membuat kebijakan,” pungkasnya. (H)

Reporter: harta nining wijaya

Editor    : Ajiwan Arief, Ishak Salim
Tulisan diposting pertama kalinya di https://www.solider.id/baca/5358-pengukuhan-doktor-ishak-salim-sebuah-kemenangan-pergerakan-difabel?fbclid=IwAR2cC5vliOfw2WAlzj8lW5dVM-lNi4oFe-e3LcJX4FcXie6A0LvXnM60SJM

Promosi Doktor Ilmu Politik: Upaya Menjembatani Tradisi Institusi Berpengetahuan Kampus dan Aktivisme Difabel [2]

Oleh Ishak Salim

Ujian Terbuka dan Promosi Doktor Ilmu Politik yang saya jalani pada 27 Juli 2019 di Fisipol UGM, bukan kegiatan individual, tapi ini adalah performa kami bernama “aktivisme berpengetahuan”.

Kemarin, bukan hanya saya yang sedang tampil memaparkan kemampuan intelektualisme pergerakan itu, tapi kehadiran kawan-kawan aktivis di ruangan ini juga sedang mempresentasikan pengetahuannya secara langsung. Kehadiran aktivis dari berbagai organisasi gerakan difabel, penerjemah bahasa isyarat, ringkasan disertasi dalam format buku braille, dan ruang yang akses bagi peserta pengguna kursi roda adalah fakta nyata bertemunya dua produsen pengetahuan: akademikus dan aktivisme.

Para Professor dan para Doktor Ilmu Politik menguji pengetahuan gerakan difabel yang memang sengaja diberi ruang untuk memperkenalkan pengetahuannya di kampus. Jurusan Polgov UGM telah membangun jembatan mempertemukan dua tradisi berpengetahuan ini. Disertasi saya sudah menunjukkan bahwa upaya mulia itu bisa dilanjutkan.

Semoga jembatan ini semakin memudahkan pertukaran intelektual sekaligus pembauran pengetahuan kampus dan organisasi gerakan sosial demi mempermantap pemahaman problematika kemanusiaan dan ketepatan tindakan untuk pembaruan tatanan sosial yang semakin manusiawi.

Amin!

Persiapan Sebelum Promosi Doktor Ilmu Politik: Mengkaji Politik Pengetahuan Aktivisme Difabel Anti Politik Pencacatan [1]

Oleh Ishak Salim

Pagi ini, disertasi berjudul ‘Keluar dari Hegemoni Pencacatan’ akan kusampaikan kehadapan penguji dan publik yang sebagian besar akan dihadiri aktivis difabel dan kawan-kawan gerakan sosial.

Ini momen penting. Setelah ujian tertutup beberapa bulan lalu, dan perbaikan lagi di sana-sini melalui diskusi dengan promotor dan ko-promotor serta dua tiga penguji yang punya cukup waktu dan perhatian pada sebuah karya akademik, akhirnya naskah final disertasi sudah rampung dan disetor ke perpustakaan UGM.

Hari ini waktunya memaparkan pengetahuan perlawanan epistemologis ini ke teman-teman aktivisme difabel sebagai bagian dari pemilik sah dan pengguna utama naskah ini. Kita sudah bergerak bersama sekian tahun. Sekian banyak kerja menghimpun dan memproduksi pengetahuan, menerapkan dan menyebarluaskannya adalah bagian dari kerja panjang kita.

Promosi doktoral ini sekaligus awal pertanggungjawaban saya ke teman-teman. Prosesnya tidak mudah. Selain soal naskah tadi, menyiapkan ruang akses adalah hal lain. Sejak awal, saya sudah sampaikan ke pihak akademik bahwa pesertanya adalah mayoritas difabel dengan beragam kemampuan. Gedung lama yang biasa dipakai untuk promosi doktoral adalah gedung tua dengan status cagar budaya. Tidak akses dan tidak memungkinkan dibuat akses. Gedung alternatif pun dipikirkan.

Naskah Disertasi Keluar Dari Hegemoni Pencacatan

Di Fisipol UGM, ruangan akses untuk bisa menampung sekurangnya 120 peserta ada di lantai 4, berlift, bertitian (ramp), dan toilet akses di ruang akademik polgov. Itu merupakan pilihan paling baik, walau selama ini belum pernah dipakai untuk prosesi promosi. Setting ruangan pun dilakukan.

Tapi aksesibilitas yang kami pikirkan bukan hanya soal infrastruktur. Peserta dari aktivis Tuli akan hadir dan saya harus memastikan ada relawan juru bahasa isyarat bisa membantu menerjemahkan. Awalnya satu bersedia, kemudian bertambah dua JBI lainnya. Trims sista!

Berpose dengan Backdrop Bertuliskan Ujian Terbuka Program Pascasarjana, Promosi Doktor Ishak Salim

Beberapa aktivis netra juga akan hadir dan beruntung Divisi percetakan braille Sigab dengan sigap menawarkan diri mencetak 7-10 eksampelar ringkasan disertasi dalam bentuk braille. Ini sungguh anugerah buat saya. Sebuah laku kerja kolektif dari pelaku aktivisme difabel yang selama ini memang telah bergerak bersama. Pihak pengelola Fisipol juga serius mengupayakan aksesibilitas itu.

Malam sudah larut, saatnya tidur. Usaha maksimal sudah diupayakan. Sampai bertemu di pagi ini!

Foto dengan sikap terbuka pada papan instagram fisipolugm

INSPIRASI Menuju Selandia Baru

Oleh: Nur Syarif Ramadhan*

SIANG ITU KAMI SEDANG dalam perjalanan dari desa Kambuno  Bulukumba menuju Taman Belajar Ininnawa (TBI) di Bantimurung Maros, saat Ishak Salim, Ketua PerDIK mengirimkan sebuah pesan broadcast di grup whatsapp manajemen PerDIK yang entah dia peroleh dari mana. Broadcast itu berisi informasi peluang belajar selama enam bulan di Selandia baru bagi anak muda yang aktif di NGO/CSO di kawasan Indonesia timur.

Bagi Ishak dan mungkin kawan-kawan PerDIK yang lain,  saya merupakan salah satu kandidat  yang paling besar peluangnya ikut program ini mewakili PerDIK. saat itu, saya kemudian membaca informasi tersebut lebih teliti dan langsung membuka laman pendaftarannya yang full berbahasa inggris.

Program INSPIRASI (Indonesia Selandia Baru untuk Generasi Muda Inspiratif) sendiri adalah program belajar 6 bulan di Selandia Baru yang didukung oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia dan dikelola oleh UnionAID dengan dukungan dana dari New Zealand Ministry of Foreign Affairs and Trade (MFAT). Dalam mengelola program ini, UnionAID bekerja sama dengan Yayasan BaKTI sebagai mitra lokal di Indonesia dan Auckland University of Technology (AUT) di Selandia Baru.

Tes dan wawancara kandidat terpilih INSPIRASI 2019, Makassar 5-6 Maret 2019
(Sumber Foto: Yayasan BAKTI)

*

SETELAH MEMBACA LEBIH detail tentang program Inspirasi di website www.unionaid.org.nz, saya sempat merasa ragu untuk mendaftar. Pertama, saya tidak menemukan ‘disability issues’ sebagai salah satu concern yang menjadi prioritas dalam program ini. Saya sempat merasa kurang yakin akan bisa diterima menjadi salah satu peserta, bahkan untuk tahap short-listed  untuk maju ke tahap interview. Saya pun mengabaikan informasi tentang program ini, dan sama sekali tidak berniat untuk memulai mengisi aplikasi.

Hingga beberapa kawan dekat kembali mengingatkan dan memotivasi untuk mencoba meng-apply program ini. 15 Januari 2019 (dua hari sebelum deadline pendaftaran usai), saya baru kembali mempelajari dokumen dan formulir yang harus diisi jika ingin mendaftar. selain memerlukan informasi dasar seperti: Nama, tempat Tanggal lahir, email dan alamat, para pelamar juga diwajibkan menulis essay singkat dalam bahasa inggris tentang:

  1. Penjelasan tentang organisasi tempat bekerja sekarang.
  2. Hal positif yang pernah dilakukan yang memiliki dampak positif bagi masyarakat/komunitas.
  3. Hal-hal apa (special interest) yang ingin dipelajari di new zealand jika nanti terpilih menjadi salah satu peserta.
Nur Syarif Ramadhan (PerDIK) dan Zul Khaidir Purwanto (WASTEDUCATION) saat presentasi kelompok (Sumber foto: Yayasan BaKTI)

Tiga hal di atas harus dijawab dalam bentuk essay dalam bahasa Inggris yang jumlah katanya harus lebih dari 150 kata. Saya baru bisa menuntaskan pengisian aplikasi kira-kira 10 menit sebelum pendaftaran ditutup. Saya merasa kurang sempurna dalam menjawab 3 pertanyaan yang harus dijawab dalam bentuk essay. untuk poin pertama, tentunya saya bisa menjabarkan tentang PerDIK dan apa yang telah kami lakukan selama kurang lebih dua tahun belakangan ini. Tapi, untuk dua pertanyaan selanjutnya, saya merasa kurang maksimal. Mungkin karena terburu-buru dan dikejar deadline.

Untuk pertanyaan kedua, saya menceritakan tentang pengalaman saya saat mahasiswa dan mencoba membantu menyelesaikan beberapa problem yang dialami oleh mahasiswa difabel lainnya yang berkuliah di Makassar. Jujur, saya kurang puas dengan jawaban saya pada pertanyaan kedua ini. Saya baru menyadari, jika saya punya hal yang lebih bernilai untuk saya ceritakan dalam pertanyaan kedua ini. Tapi karena terlalu tergesa-gesa, saya melupakannya.

Untuk pertanyaan ketiga, saya hanya menuliskan bahwa saya ingin belajar apa saja tentang kehidupan difabel di New Zealand, bagaimana pemerintah New Zealand memecahkan beberapa persoalan yang dialami difabel dalam kehidupannya sehari-hari.

Bagi saya, jawaban tersebut tidak spesifik, dan terlalu umum. Itulah yang kemudian yang membuat saya kurang yakin bisa dipertimbangkan untuk bisa diterima. Hingga kemudian, sebuah email istimewa saya terima kira-kira delapan hari kemudian.

Dear Syarif

We are pleased to advise that you have been included on our PROVISIONAL SHORTLIST for INSPIRASI – the Indonesian Young Leaders Programme 2019. Congratulations! We received over 300 applications for the programme and we have shortlisted 31 applicants. There are 10 positions available. I am the manager for the programme. I will be one of the people on the selection panel and I will work with the group right through their time in Aotearoa/New Zealand. I love my job – we had a great year last year and the 2018 participants all returned home with new ideas, skills and ways of working to strengthen their organisations and communities.

Being on the PROVISIONAL SHORTLIST means that if you follow the next steps set out here you will be invited to an interview in March 2019. The date and location of the interview will be advised soon. To accept your place on the shortlist you must complete this online form: https://form.jotform.co/90300760330846 – This form must be submitted by midnight Wednesday 6 February to confirm your interview. All parts must be completed fully in English.

There are some further documents required – these can be uploaded using the above form (you can upload this in any format). The most important of these is the supporting letter from your organisation. This letter must be on your organisation’s letterhead and signed by the leader/director or a senior manager in your organisation and it must include the following:

  1. Your name and confirmation that you work with the organisation
  2. Your role in the organisation
  3. Whether your work in the organisation is paid or voluntary (or a combination of paid and voluntary – please explain how this works)
  4. How long you have worked with the organisation
  5. Whether the organisation supports your participation in the programme (Note: your organisation DOES NOT pay any money for this programme – all your travel, living and study costs are paid by UnionAID)
  6. An undertaking that the organisation will continue to employ you (or provide you with voluntary work) for AT LEAST one year after you return from New Zealand (i.e. for at least 2020)
  7. The name, role/job title and signature of the person providing the letter

If you have a TOEFL/IELTS certificate and/or a passport you will also need to upload pictures of these as provided on the form. If you do not have a passport or your passport expires before 30 June 2020 you should start the application/renewal process now. If you are selected for the programme, we will need to apply for your NZ visa immediately and so any delay with your passport could cause problems. Also, please tell us some more about yourself in the question about your hobbies. What do you enjoy doing in your spare time?

This form must be submitted by midnight Wednesday 6 February to confirm your interview. All parts must be completed fully in English.

Once we have received the completed form, we can confirm the time and place of your interview. At this stage we are holding all interviews in Makassar and Kupang between 5 and 12 March. All your travel and accommodation costs will be paid if you need to travel for the interview. The interview will be for a full day and include presentations, group work, English language testing and an individual interview with the selection panel. It will be fun!

All arrangements will be made by our partner organisation, BaKTI. The contact person for you at BaKTI is Sherly Heumasse sheumasse@bakti.or.id. If you have any questions about the form please contact Sherly.

Once more, congratulations on being shortlisted. We look forward to receiving the completed form and to meeting you in March.

Ngā mihi, Laila. Laila Harré (Programme Manager)

INSPIRASI – Indonesia Young Leaders Programme

*

para kandidat peserta inspirasi 2019 yang mengikuti tes interview hari pertama (Sumber foto: Yayasan BaKTI)

SAMBIL MELENGKAPI INFORMASI tambahaan yang disebutkan Laila pada email tersebut, saya juga mengirimkan email kepada bakti dan Laila, mengabarkan bahwa saya sangat senang menerima email jika saya masuk short leasted. Saya juga menyampaikan bahwa saya seorang difabel, yang mungkin butuh penyeseuaian saat mengikuti tes interview dan tertulis. Beberapa hari kemudian, baik Laila maupun ibu Sherly (Bakti) menyampaikan jika mereka akan mencoba melakukan penyesuaian, dan membuat agar proses yang akan saya lalui nantinya betul-betul aksesibel buat saya.

*

05 MARET 2019, TES INTERVIEW DAN TERTULIS itupun tiba.. bertempat di kantor BAKTI, ada 8 kandidat yang mengikuti tes hari pertama. Mereka  berasal dari  provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara dan Papua.

Berada diantara para kandidat lain,  saya merasa tiba-tiba down, merasa inferior. Mendengar mereka memperkenalkan diri dalam bahasa inggris yang menurutku sangat lancar makin membuatku merasa tak bisa bersaing. Saya sudah merasa kalah sebelum bertanding.

Proses seleksi hari itu  dibagi  dalam 4 tahapan yakni presentasi individu, kerja kelompok, tes bahasa inggris dan wawancara individu.  Tim panel untuk seleksi  adalah Laila Harre dan Michael Naylor dari UnionAID, Mike Ingriani dari NZ MFAT, Zusanna Gosal dari BaKTI dan beberapa alumni Program INSPIRASI 2018.

Pada Sesi presentasi individu, kami diminta memperkenalkan organisasi masing-masing, menghubungkan setidaknya dua poin dalam SDGS yang ada hubungannya dengan yang telah kami kerjakan.

Dua poin SDGS yang saya tekankan dalam presentasi saya adalah Quality of Education, dan Gender Equality. Saya menceritakan pengalaman saya saat mendorong difabel untuk lebih memilih bersekolah di sekolah umum  ketimbang harus bersekolah di SLB. Saya juga menceritakan bahwa meskipun indonesia sudah memiliki kebijakan tentang pendidikan inklusi, tapi dalam hal implementasi, panggang masih jauh dari api. Ketika seorang difabel memutuskan bersekolah di sekolah reguler, nyaris tidak ada penyesuaian yang layak (reasonable accommodation) yang dia peroleh. Dia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang tidak akses (integrasi)  dan harus memecahkan problemnya sendiri dalam hal mengakses pembelajaran maupun lingkungan sekolah yang tidak akses. Saya juga menceritakan tentang keterlibatan perempuan difabel dalam berbagai sektor juga masih sangat rendah.

Tiba di sesi presentasi inilah, saya mulai menemukan kepercayan diri  untuk berbicara. menurutku, issue/apa yang telah  kami di PerDIK lakukan tidak kalah dari apa yang telah organisasi lain lakukan.

Sesi selanjutnya adalah kerja kelompok. kami dibagi menjadi empat kelompok, tiap-tiap kelompok diminta membuat sebuah alat peraga yang  menggambarkan strategi masing-masing kelompok dalam mendorong partisipasi anak muda dalam bidang politik..

Saat itu saya berpartnert dengan Zul Khaidir Purwanto (WASTEDUCATION). Kami mereplikasi sebuah TPS (Tempat Pemungutan Suara) yang ramah bagi semua. Kami menunjukkan bagaimana area jalan ketika memasuki TPS harus bisa diakses oleh pengguna kursi roda, bagaimana seharusnya tinggi bilik suara, hingga contoh templet suara yang dapat digunakan oleh pemilih difabel penglihatan (blind, Lowvision), saat ingin menyalurkan hak suaranya. saya merasa memperoleh poin yang lebih dalam sesi ini. Laila beberapa kali terdengar terkesan dengan hasil kerja kami.

Setelah break makan siang, sesi dilanjutkan dengan interview dan tes tertulis bahasa inggris. Kami lagi-lagi dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok langsung mengikuti interview dan satunya mengerjakan tes bahasa inggris. Saya tergabung dalam kelompok yang terlebih dahulu harus mengerjakan tes bahasa Inggris. Seperti yang saya minta, mereka menyiapkan soal dalam bentuk file yang bisa saya kerjakan dengan menggunakan laptop. Tes tersebut terbagi kedalam dua bagian, yaktni tes grammar (tatabahasa), dan writing. Sayangnya, saat mengerjakan soal grammar, ada beberapa hal yang tidak bisa diakses oleh jaws (pembaca layar), karena berbentuk gambar. Akhirnya salah satu alumni inspirasi 2018 dibolehkan untuk membantu saya membacakan soalnya, dan saya langsung menuliskan jawaban saya di laptop. Untuk writing test, saya tidak menemukan kendala apapun. kita diperintahkan menulis minimal 200 kata dengan topik tertentu yang sudah mereka tentukan. Menurutku, test tersebut tidak begitu sulit, jauh lebih gampang dari ielts writing test.

Berikutnya, saya mengikuti sesi interview. Saya menjadi peserta pertama di kelompok kedua yang terlebih dahulu memasuki ruangan interview. ada empat orang yang menjadi interviewer yakni: Laila Harre dan Michael Naylor dari UnionAID, Mike Ingriani dari NZ MFAT, Zusanna Gosal dari BaKTI dan Rezky Pratiwi (alumni Inspirasi 2018).

Laila Harre memulai interview sore itu dengan menjelaskan secara singkat detail program Inspirasi. Ia menyampaikan bahwa saya merupakan disabilitas pertama yang mendaftar di program ini, meskipun pada program inspirasi tahun sebelumnya, ada salah seorang peserta yang bekerja di isu disabilitas.

“Kami belum punya pengalaman bagaimana mengakomodir seorang disabilitas, kami juga tidak tahu, apakah ada fasilitas yang dapat mendukungmu dalam proses pembelajaran nantinya jika kamu terpilih menjadi salah seorang peserta yang akan berangkat ke New Zealand. Tapi kami mungkin akan berdiskusi dengan AUT (Auckland University of Technology), jika  kamu terpilih. mungkin saja mereka bisa memberikan fasilitas yang dapat mendukung selama proses pembelajaran.” begitu kalimat yang disampaikan Laila sore itu.

Selanjutnya, secara bergantian, para panelis menanyai saya satu persatu. pada umumnya, mereka menanyakan tentang diri secara personal (misalnya asal daerah, Usia dan apa yang sedang dikerjakan). Selanjutnya mereka menanyakan tentang organisasi yang kita wakili (program kerjanya yang sudah dilakukan, dan fokus isu yang dikerjakan). selanjutnya, mereka menanyakan apa hal khusus yang ingin  dipelajari (Special Interest), jika nanti terpilih ke  Selandia baru, serta apa manfaat hal tersebut jika kelak kita kembali ke organisasi tempat kita bekerja. dua poin terakhir yang mereka tanyakan adalah: apa  yang akan dilakukan, atau akan jadi apa anda lima tahun mendatang, dan adakah skill khusus atau talenta yang kita miliki yang membuat kita special dan pantas untuk terpilih.

Mengakhiri sesi sore itu, Laila memberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan. Saya menggunakan kesempatan ini dengan menanyakan kapan saya bisa mengetahui pengumuman peserta yang akan terpilih, serta saya juga menyampaikan bahwa jika nantinya saya terpilih, saya bisa memberikan saran pada mereka mengenai fasilitas apa yang kira-kira saya butuhkan selama proses.

*

PROGRAM INSPIRASI AKAN BERLANGSUNG selama lima tahun (2018-2022). Menurutku, ini merupakan kesempatan besar bagi generasi muda Difabel yang aktif di organisasi masyarakat sipil atau organisasi non pemerintah di Kawasan Indonesia Timur untuk berpartisipasi dan memperluas jaringan  melalui program ini. Masih ada tiga kali kesempatan yakni tahun 2020, 2021, dan 2022[].

*Saat ini, Nur Syarif Ramadhan sedang mengikuti program INSPIRASI 2019 di Selandia Baru

Lelaki itu Terhalang Badai di kaki Gunung Gandang Dewata

Eko Peruge, salah satu penggagas Ekspedisi Difabel Menembus Batas 2016 Gunung Latimojong membuktikan lagi menembus batas dirinya. Dulu, saat mendiskusikan nama ekspedisi ini, kami bertukar pikiran soal memaknai kata “Batas” itu. Butuh beberapa kali pertukaran gagasan hingga sampai kata Difabel Menembus Batas. Intinya, setiap orang memiliki keterbatasan, tapi tak seorangpun bisa mengukur di mana batasan itu berada.

Saat Eko, bersama pendaki-pendaki Mamasa beberapa waktu lalu memutuskan menguji lagi batas diri masing-masing, maka menjelajah Gunung Gandang Dewata adalah sebuah pilihan tepat. Menurut kabar dari beberapa pendaki yang pernah kudengar, termasuk salah satu pendaki pelopor dari Jogja yang pernah ke sana sekitar tahun 1992 Antok Suryaden, Gandang Dewata yang ketinggiannya walau masih lebih rendah dibandingkan Latimojong memiliki medan yang jauh lebih berat dan menantang. Sayangnya, ekspedisi ini tidak melibatkan sejumlah difabel sebanyak saat ekspedisi di Latimojong dan apalagi saat ke Gunung Sesean di Toraja.

Tim Ekspedisi Difabel Menembus Batas Gunung Gandang Dewata, Juli 2019

Saya menjawab pertanyaan beberapa kawan difabel yang juga ingin mendaki bergabung dalam sebuah ekspedisi difabel ini saat mereka bertanya, “kenapa tidak mengabari? Padahal saya mau ikut kalau ada ekspedisi.” Saya hanya menjawabnya datar, “Gunung Gandang Dewata bermedan berat, biarlah Eko jajal dulu. Mari kita tunggu rencananya ke depan.

Mas Sabar Gorky tentu senang dengan capaian Eko ini. Dua orang ini bersahabat. Sama-sama mencintai gunung. Bedanya Gorky sudah menjajal limitnya di gunung-gunung paling menantang di luar negeri, seperti Elbrus, Kilimanjaro dan Aconcagua. Di Elbrus lah, Mas Sabar mendapatkan nama dari rekan seperjalannya. Katanya Gorky nama Rusia yang cocok untuk Sabar yang hidupnya pernah merasakan pahit. Gorky juga diambil dari nama penyair Rusia yang melekat pada dirinya: Maxim Gorky. Ia seorang pengarang yang dipuja sastrawan Pramoedia Ananta Toer.

Sebagai teman, saya bangga ia bisa melakukan itu di Mamasa. Pengalaman sewaktu bersama di Kampung Karangan usai ekspedisi di Latimojong lebih 2 tahun lalu, orang-orang kampung terkesima dan menyadari satu hal, kondisi diri dengan hanya satu kaki menopang tubuh dan beban di punggung, bukan berarti hidup sebagai orang dengan keterbatasan. Orang-orang di Mamasa aku yakin akan merasakan hal sama.

Mantap Eko, Proficiat.
Saya yakin, Aconcagua di Argentina selanjutnya akan menyiapkan punggungnya kau tatto dengan tapak sepatu dan krukmu.

Usahaku, Advokasiku

Oleh: Muhammad Budi Pramono*

Sudah hampir delapan bulan ini aku menggeluti usaha jual beli Set Top Box Indihome sekaligus menjual jasa untuk unlock dan isi game ke Set Top Box Indihome. Hasil dari itu aku bisa memenuhi kebutuhan hidup dan mampu membiayai aktivitas di luar rumah saat menggunakan kendaraan mobil online.

Budi dalam salah satu kegiatan di Bandung

Berawal dari kejenuhan Tontonan TV

Aku usaha seperti itu tanpa ada rencana atau kesengajaan untuk mencari uang atau mencari apapun.  Awalnya dari kesalahan membeli Set Top Box Indihomee dan kejenuhan menonton siaran televisi lokal  ingin memiliki alat untuk bisa menonton siaran televisi luar negeri yang katanya bagus dan mendidik.

Kepikiran untuk pasang Indihome di rumah tapi aku pikir-pikir kembali terlalu mahal untuk memasang. Kata orang-orang, jika tidak digunakan tetap  bayar bulanannya. Aku lalu membatalkan memasang Indihome karena harus bayar bulanan dan keluarga juga jarang menonton televisi.  

Mendapatkan informasi dari beberapa orang tentang Set Top Box Indihome unlock dan root yang memakai kuota internet dari ponsel membuat aku mencari tahu harganya di toko online, yang ternyata ada murah dan ada pula mahal. Jelas aku memilih yang paling murah, dengan rincian harus full set tanpa ada satu pun yang kurang dan ditambah mulus. Pasti semua ingin seperti itu. Langsung saja segera aku memesannya di toko online.

Aduh, kok bisa gini ya? Barang yang aku pesan sudah datang dan mendadak televisi di rumah rusak, tiba-tiba tidak ada gambar, hanya ada suaranya seakan berubah menjadi radio. Aku harus menunggu seminggu hingga televisi di rumah selesai diservis. Setelah itu aku  bisa mencoba Set Top Box Indihome yang aku pesan dari toko online.

Seminggu kemudian aku langsung mencoba memasang Set Top Box Indihome di televisi yang sudah diperbaiki.

Set Top Box Indihome

Apa yang terjadi? 

Jari tangan ini langsung menggaruk kepala sambil kebingungan karena berbeda dengan tampilannya  yang sering aku lihat di google maupun di televisi temanku. Seketika itu, aku langsung menghubungi pedagangnya untuk menanyakan perlihal yang terjadi. Masih belum bisa langsung dipakai jawabnya, saat aku tanya pada penjualnya dan membutuhkan unlock katanya.

Aku kesulitan untuk menemukan orang yang bisa unlock. Jika ada pun, jauh lokasinya dan tidak bisa dipanggil ke rumah. Pada saat itu yang menjual jasa unlock Set Top Box Indihome sangatlah sedikit jumlahnya, tidak seperti sekarang ini sudah sangat banyak yang menjajakin jasa unlock pada Set Top Box Indihome.  

Set Top Box Indihome yang aku beli itu berubah menjadi rongsokan. Aku membiarkannya tersimpan di bawah tangga bersama barang yang tidak terpakai lagi.  Sebenarnya aku sudah menemukan orang yang bisa unlock Set Top Box Indihome, namun ayahku tidak mau mengantar barangnya ke sana alasanya,

“Harusnya beli ini itu yang sudah siap dipakai bukan beli dibikin repot lagi,” katanya

Mencoba Tanpa Henti

Beberapa minggu barang menjadi barang rongsokan, aku pun mulai rajin membaca semua mengenai unlock dan root.  Ada rasa khawatir gagal walaupun dasarnya aku pernah belajar IT, saat aku membaca dengan detail ketika melakukan unlock beresiko bootloop/gagal yang berakibat mati total dll.

Aku seorang yang ingin mencoba dan selalu penasaran jika tidak mencoba walaupun berakibat buruk nantinya. Aku pikir tidak apa-apa dari sebuah kegagalan akan ada ilmu untuk memperbaikinya. Seringkali aku mengalami kegagalan saat root di handphone dan saat otak atik computer, langsung saja aku bawa pada yang ahli dekat rumah. Alhamdulillah percobaan pertama kali ini di Set Top Box Indihome berhasil tanpa ada kegagalan. 

Dari keberhasilan itu, penasaranku bertambah untuk merombak dan mengotak-atik sistem operasi Set Top Box Indihome yang hanya bisa menjadi alat untuk menonton televisi saja, namun kini bisa juga dijadikan sebagai alat untuk bermain game. Dari situ juga aku berpikir untuk menjadi seorang yang memberikan jasa setting dan mengisi game di STB indihome yang belum ada yang melakukan.

Respon Pelanggan Terhadapku

Selama aku menjual Set Top Box Indihome dan menjual jasa unlock plus isi gamenya, sikap orang yang datang ke rumah, saat baru melihatku sikapnya bermacam macam. Tubuhku kaku, menggunakan kursi roda, plus raut muka yang tidak meyakinkan bahwa orang ini yang melakukannya.

Ada yang heran, bengong atau menatap saja. Ada juga memilih mengobrol dengan orang tuaku di ruang tamu dan membayar biaya ke orang tuaku walaupun dia melihat jika aku yang mengerjakannya. Ada juga yang biasa aja ngobrol denganku di ruang kerja dan bersedia membantu jika ada kesulitan saat mencolok kabelnya. Hati ini sangat senang  jika pelanggan membayar langsung ke aku, karena  aku yang usaha bukan orang tua.

Budi bersama orang tuanya

Aku selalu memberikan nomer whatsapp kepada orang yang sudah menerima jasa Unlock atau yang sudah membeli Set Top Box Indihome. Tujuannya adalah memberikan pelayanan dariku untuk mereka bertanya jika ada yang tidak dimengerti, terlebih aku juga bisa mengadvokasi melalui hubungan yang baik agar mereka terbiasa berkomunikasi dengan seorang disabilitas berat sepertiku.

Inilah salah satu cara advokasiku terkait bahwa ‘orang dengan disabilitas berat’ seperti aku mampu produktif dan mampu membiayai diri sendiri tanpa harus meminta-minta kepada orang tua maupun orang lain.

Inilah bukti jika disabilitas berat seperti aku jika diberikan kepercayaan oleh keluarga, diberikan dukungan ilmu dan tidak membiarkan diriku pasrah dengan sebuah kondisi yang katanya ahli surga. 

Menurutku, untuk masuk Surga, seseorang membutuhkan ilmu. Tuhan menciptakan manusia tidak untuk diam saja. Untuk masuk Surga, mungkin  tidak bisa langsung masuk begitu saja kecuali meninggal dunia saat waktu bayi yang belum memiliki kewajiban[].

Budi bersama rekan-rekan aktivis difabel di kantor
BILiC (Bandung Independent Living Center)

*Budi adalah aktivis difabel dari Bandung yang memperjuangkan hak Difabel yang paling marjinal, yakni yang ia kategorikan sebagai DIsabilitas Berat.

KARUNIA DARI LUMAJANG

*ini cerita fiksi, atau semi-fiksi. Kalau ada kejadian serupa dalam hidup anda, yakinlah bahwa sebagian dari kesamaan itu fiksi belaka (Ishak Salim).

DI SEBUAH KAMPUNG KECIL DI LUMAJANG. Mamad sedang membaca Kitab malam itu. Anak-anak sudah tidur. Istrinya, Inah baru saja usai mengaji. Di atas meja kayu, ada dua koin tergeletak. Masing-masing bernilai 5 Rupiah. Mamad meraih satu koin itu dan mengamati gambarnya. Sebuah keluarga terdiri dari bapak, ibu dan kedua anaknya berdiri berjejer. Mereka sedang menatap ke dalam koin, jauh sekali seperti menuju masa depan. Tulisan ‘Keluarga Berencana’ yang melingkari tepi koin menunjukkan maksud gambar itu.

Akhir tahun 70-an, Presiden sedang getol-getolnya mengajak keluarga-keluarga mengikuti mantra pembanguan, batasi kelahiran, raih hidup sejahtera!

Malam semakin larut, tapi keduanya belum mengantuk. Mamad bercerita macam-macam hal tentang Panti Asuhan Muhammadiyah yang dikelolanya. Kebutuhan makanan anak-anak panti mulai menipis. Ia mengemukakan sejumlah rencana mengatasinya. Inah mendukung apapun yang akan dilakukan suaminya. Puas Mamad bercerita, gantian Inah yang bercerita, tentang anak-anak mereka. 

Malam sudah betul-betul larut. Inah mengajak Mamad istirahat, tidur. Di kamar, Inah berbisik, ingat, cukup enam saja anak kita. Tak usah tambah lagi.

Mamad melepas pecinya dan meletakkan di sebuah paku yang tertancap di dinding. Ia mengingat gambar koin lima rupiah tadi dan janji bahwa kali ini mereka harus ber-KB. Tapi malam itu cuaca Lumajang sedang dingin dan basah. Hujan deras sore tadi membuat aroma bumi begitu segar. Ia melepaskan kemejanya, menggantungnya di balik pintu kamar. Ia pun berbaring, lalu memeluk Inah yang membelakanginya. Ia merasakan hangat yang lembut dan aroma perempuan meruak di hidungnya.

Dasar malam sedang indah, tiba-tiba hujan turun. Deras sekali, menampar-nampar genteng dan petir sesekali mengguntur.

Malam itu, mantra ‘keluarga berencana’ melesap, tak teringat sama sekali. Keduanya lalu bergemuruh mengikuti irama hujan yang tumpah ruah. Keringat mengucur deras.

Saat dirasanya hujan tinggal rintih-rintih, dan keduanya usai dengan ritualnya, Inah menyikut perut suaminya, manja. Keduanya lalu memlih tidur. Suara kodok mendengkung tak karuan.

*

Beberapa bulan setelah malam itu, Inah berjalan di tepi sawah menuju rumahnya. Ia tampak terburu-buru. Sial, Ia terpeleset karena kerikil tanah dan terjatuh ke sisi pematang. Perutnya membentur tanah dan ia merasakan sakit yang sangat. Ia ingat janinnya.  Rasa sakit ia bawa sampai di rumahnya.
Mamad terkejut melihat Inah kesakitan. Seorang tetangga mengantarnya. Ia langsung pamit setelah Inah masuk ke rumah.

“Kita ke dokter, ma!” Mamad langsung mempersiapkan diri. Inah masih meraba perutnya dan mulai khawatir.

Di rumah, anak-anak bertanya bagaimana keadaan ibunya. Mamad yang memilih menyampaikan. Usia kandungan Inah 5 bulan, dengan kondisi kandungan yang memburuk. Dokter mengatakan bahwa bayi yang dikandung ibu mereka akan lahir cacat. Keluarga ini merasakan kesedihan. Setiap waktu Mamad mendoakan istrinya, begitupun Inah mendoakan agar bayinya baik-baik saja.

Anak ke tujuh mereka akhirnya lahir. Kerabat dekat datang menemani. Anak laki-laki menangis. Satu persatu anggota keluarga Mamad dan kerabatnya yang ada saat itu juga ikut menangis. Dugaan dokter tidak meleset.

Mamad memerhatikan tubuh anaknya. Ia mengucapkan syukur berkali-kali. Mulanya ia terkejut, namun tak lama, ia menyambut kelahiran itu dengan suka cita. Inah menangis, antara kebahagian dan kekhawatiran dengan keadaan anaknya.

Bayi itu, kedua kakinya berdempetan. Mamad memegangnya. Tangan kanannya yang bengkok. Mamad merabanya. Leher miring, selembar daging menarik leher bayi ini kearah kanan. Kepalanya seperti terkuci tak bisa bergerak.

Dokter bertindak cepat. Anak ini belum boleh dibawa pulang. Beberapa pemeriksaan harus dilakukan, termasuk kemungkinan melakukan operasi memisahkan sepasang kakinya yang berdempetan. Observasi medik pun dilakukan.

Mamad memberinya nama Hari. Ia lahir setelah azan subuh tadi. Tepat ia memulai hari di bulan Juli dengan tangisannya.

Tujuh bulan kemudian, Februari 1978, dokter memutuskan mengoperasi pemisahan kedua kaki Hari. Mamad dan Inah menyetujuinya. Mereka pun menuju Surabaya, ke Rumah sakit Dr. Soetomo. Mamad dan Inah dan anak-anak berdoa bersama. Mereka jelas berharap kaki Hari bisa terlepas dan mulai belajar merangkak atau berdiri.

Dokter bekerja dengan baik. operasi hari itu berhasil memisahkan kaki Hari. Beberapa hari kemudian mereka kembali ke Lumajang. Dokter yang mengoperasi Hari mengupakan kaki kirinya tidak bengkok.  Sayangnya, saat Mamad membawa Hari melakukan kontrol di Rumah sakit Lumajang, rupanya seorang suster melepaskan pembalut bekas operasi itu. Luka belum kering, rasa sakit menyiksa Hari.

Sejak kejadian itu, kaki kiri Hari bengkok. Mamad berupaya melakukan hal-hal terbaik untuk anak bungsunya ini. Ia telaten menjaga dan mengajarkan anaknya banyak hal. Termasuk mengurut kaki Hari agar bisa cepat belajar jalan. Mamad ternyata seorang terapis, ia ahli akupresur—sebuah teknik terapis menghilangkan nyeri. Mamad menggunakan kemampuan itu mengurut Hari setiap hari.

Hasilnya lumayan, pada usia 18 bulan, Hari mulai bisa berjalan. Terseok-seok. Kaki kirinya menapak dengan punggung kaki. Hari miring kekiri setiap berjalan, pincang. Punggung kaki itu jadi tampak kapalan, mengeras.

Mamad begitu telaten mengurus Hari. Inah apalagi. Keduanya juga tak membeda-bedakan perlakuan maupun kemanjaannya dengan kakak-kakaknya yang lain. Anak-anak mereka belajar mandiri sejak dini. Mamad ayah yang baik bagi anak-anaknya.

Suatu hari, di sekolah kakaknya, Hari menemani kakaknya membaca puisi. Hari saat itu belum pula sekolah di TK, masih berusia 4 tahun. Ia terbata-bata mengucapkannya kata-kata puisi. Ia belum lancar membaca saat itu, tapi ia percaya diri bisa melakukannya.

MAMAD MEMASUKKAN HARI di Raudlatul Athfal NU IV Lumajang. Jaraknya tak jauh dari rumahnya. Hanya berkisar 200 meter. Ia ingin Hari bisa berjalan sejauh itu sekaligus semakin menguatkan otot-otot kakinya. Beberapa kali Mamad melihat Hari di sekolah. Memperhatikan Hari dari balik jendela kelas. Melihatnya menggambar atau menulis dengan tangan kirinya. Ia tahu, anak lelakinya ini tak bisa memakai jemari tangan kanannya yang lemah. Hari melaluinya dengan mudah. Menulis dengan tangan kiri sama mudahnya menulis dengan tangan kanan bagi teman-temannya di kelas.

Mamad senang anaknya menikmati hidupnya. Dua tahun setelah itu, Hari melanjutkan sekolah di SD Lowo alias sekolah yang menjadi tempat kelelawar membagun sarang. Hari masih ingat betapa menyegat bau pesing kelelawar itu. Saking baunya, aroma sengit itu menempel dibaju seragamnya. Lama-lama ia terbiasa dengan aroma Lowo itu. Nama SD ini sebenarnya adalah Ditotrunan 1. Terletak di jalan Alun-alun Selatan.

Hari suka main bola. Ia pemain yang disukai teman-teman kelasnya. Tapi ia tidak hanya bersepak bola, ia juga pemain tenis meja yang jago. Di kampungnya, rata-rata anak-anak kecil sudah bermain tenis. Demam bermain tenis meja membuat kampungnya jadi parameter kehebatan petenis meja se Lumajang. Orang muda dan orang dewasa di kampung hari jata-rata jago memainkan bet dan bola pimpong itu.

Hari kecil tidak cuma menyukai olah raga, ia juga mengikuti kegiatan pramuka. Ia begitu aktif seolah melampaui apa yang orang-orang banyak pikir soal tubuhnya. Kaki kirinya yang pincang, lehernya yang kaku, atau jemarinya kanannya yang lemah. Sesuatu yang biasa-biasa saja.

“Bagaimana jika seandainya Hari sekolah di SLB?” ujar seorang kawan Mamad yang berkunjung ke rumahnya suatu hari. Mamad menimpali santai. Pertanyaan itu tak perlu ia jawab. Sampai kapanpun, Ia tidak pernah menyetujui ada sekolah namanya SLB. Sekolah kok luar biasa, batinnya.

“Betul, seharusnya anak-anak bermain atau belajar bersama yang lainnya. Tidak perlu dikumpul jadi satu sesama orang cacat,” kata teman Mamad sambil menikmati pisang goreng yang disajikan Inah.

“Cacat itu cuma ada pada diri orang yang perangainya buruk, mas,” tiba-tiba Inah muncul dan duduk disamping suaminya. Laki-laki itu manggut-manggut.

“Hari itu tidak pernah merasa memiliki keterbatasan,” ujar Mamad melanjutkan obrolan.

“Ia juga tidak merasa perlu dikasihani. Walau ada saja orang yang merasa perlu mengasihaninya. Mesakke katanya,” Mamad menunjukkan nada kesal.

Perasaan kasihan pada anak-anak hanya akan membuat mereka malu hati atau rendah diri. Itu tidak baik. Bebaskan saja ia ingin berbuat apa, orang tua hanya perlu mendukung saja. Membantu seperlunya.

Di tengah obrolan sore itu, tiba-tiba Hari datang. Ia memberi salam dan masuk ke rumah. Tubuhnya bau keringat.

“Main apa, Har?” Inah heran melihat anaknya dekil berdebu.

“Main gobak sodor!” teriak Hari langsung ke belakang.

Mamad teriak, “Mandi!” Hari tak menjawabnya.

Hari kecil paling senang main bola. Kalau sudah menggiring bola ia suka membayangkan dirinya sebagai Ruud Gullit atau Van Basten. Ia menyukai trio Belandan yang juga pemain AC Milan itu bersama Rijkaard. Tapi ketimbang AC Milan, ia jauh lebih mencintai Arema Malang (kini Arema FC). Ia seorang Aremania cilik saat itu. Saat pemain-pemain Arema menjuarai Galatama pada tahun 1992, ia lantas mengagumi Singgih Pitono dan Micky Tata.

Selepas Hari mandi, Mamad menghampiri Hari yang sedang duduk menonton televisi. Mamad menyodorkan beberapa buku untuknya.

“Baca, nih!” ujarnya datar. Hari meraihnya senang. Beberapa buku cerita. Ia membaca satu judul buku “Marsudi si Anak Tiri dari Desa Waleri”.

Hari menyukai cerita dalam buku itu. Kisah tentang Marsudi, si anak tiri yang kerap diperlakukan berbeda dengan saudara-saudaranya oleh ibu tirinya. Walaupun begitu, Marsudi tetap ceria, supel bahkan pandai dalam kesehariannya. Kelak ibu tirinya menyesal karena kebaikan dan kepintaran anak tirinya ini.

Sejak ayahnya Mamad sering membelikan Hari buku-buku. Ia jadi suka membaca. Itu memang pesan ayahnya yang sering diulang-ulang kepadanya.

“Jadilah seorang pembaca!” begitu katanya.

Hari mengagumi dan bangga pada ayahnya. Ia kerap mendengarkan ayahnya berbincang dengan tamu-tamu yang datang. Ia paling suka kalau ayahnya mulai berdiskusi. Selain itu, Mamad memang suka mengajak Hari jalan-jalan, termasuk ke Panti Asuhan Muhammadiyah. Bagi Mamad, membiasakan Hari dalam keramaian akan menumbuhkan rasa percaya diri pada anaknya.

*

SUATU HARI, MAMAD DAN INAH BERBINCANG soal membelikan Hari sebuah brace atau penyangga kaki kirinya. Keduanya bersetuju membelikannya dan meminta Hari untuk mau memakainya.

“Kalau mau, ayah belikan,” kata Mamad ke Hari saat ia usai menjelaskan apa itu brace.

Hari memilih menolaknya. Ia justru berpikir lain. Brace hanya akan membatasi langkah dan larinya. Ia tidak ingin bermain bola dengan besi melilit kakinya. Ia tidak mau pakai brace.

Mamad tak memaksanya. Inah pun demikian. Anak bungsunya ini memang anak yang kuat, bathinnya.

Kali lain Mamad berbincang dengan Inah. Kali ini agak lebih serius dari biasanya.

“Bagaimana kalau kita meminta Hari untuk operasi leher,” Mamad ingat seorang dokter saat kaki Hari usai dioperasi, pernah menyarankan itu. Saat itu, usia Hari 12 tahun. Ia berharap Hari bisa memiliki kepala yang bisa bergerak bebas.

Jika soal brace, Inah masih menyetujui upaya suaminya, kali ini Inah yang menolaknya. Ia tidak berani membayangkan operasi kepada anak laki-lakinya dengan menyayat batang lehernya.

Mamad menyampaikan rencana itu ke Hari. Sebagai anak-anak yang mendambakan wajah serupa dengan kawan-kawannya, Hari setuju saja kalau operasi itu dilakukan. Inah menangis mendengar kesediaan anaknya. Melihat ibunya menangis, ia tidak tega. Dengan sopan ia berujar keayahnya untuk membatalkan saja rencana itu.

Hari kecil kembali melewati hari-harinya secara biasa. Bagaimanapun kondisi tubuhnya, ia tetaplah anak-anak yang nakal atau usil. Ia seperti anak-anak atau kawan-kawan lainnya.

Suatu waktu, kelasnya senyap. Teman-temannya diam menunduk. Guru Matematika Pak Joko sedang kesal. Beberapa anak tak membuat PR. Hari salah satunya. Pak Joko mengambil penghapus papan tulis dan memanggil Hari.

Hari melangkah gontai. Ia gentar menghadapi Pak Joko yang killer ini.

“Gigit!” kata Pak Joko sambil menyerahkan penghapus papan tulis itu.

Hari tak kuasa menolaknya. Ia melirik ke teman-temannya dan mulai membuka mulutnya. Penghapus itu disorongnya dan menggigitnya pelan-pelan. Ia menutup matanya yang malu-malu melihat teman-temannya mulai tersenyum dan ricuh. Kejadian itu tidak hanya sekali, terjadi beberapa kali dengan hukuman berbeda di pelajaran yang lain. bagi Hari itu kesialan saja, bukan karena ia nakal.

Saat ia lulus SD, Hari melanjutkan ke SMP Negeri 1 Lumajang. Teman-temannya kebanyakan juga bersekolah disitu. Hari senang sekali.

Tapi, sejak itu, ayahnya mulai sakit. Nyeri di dada kirinya. Inah bilang ke Hari kalau rasa sakit di dada kiri itu sudah dirasakan ayahnya dua tahun ini. Belakangan kata dokter, Mamad mengidap penyakit jantung koroner.

Tak lama setelah Hari bersekolah di SMP, ayahnya meninggal. Inah menangis sedih, kakak-kakaknya pun demikian. Hari murung selama berhari-hari. Ia amat mencintai ayahnya.

*

SEPENINGGAL AYAHNYA, HARI melewati hari-harinya seperti biasa. Ia masih sering mengenang ayahnya saat mengalami kesulitan-kesulitan dalam pergaulannya. Kalau sudah begitu, biasanya Ia membaik lagi dan akan mengatasi kesulitan yang dihadapinya itu perlahan-lahan.

Tahun demi tahun berganti. Hari melanjutkan di SMA Negeri 2 Lumajang. Hari tetap mengikuti kegiatan-kegiatan layaknya anak lelaki. Ia aktif di Tapak Suci dan mengikuti Kelompok Penempuh Rimba Pendaki Gunung “Argawana”. Saat permulaan, ia bersama anggota-anggota baru mendaki Gunung Lamongan dan mulai menyukai gagasan-gagasan pelestarian alam.

Lepas SMA tahun 1997 Hari melanjutkan pendidikannya di Universitas Brawijaya. Ia mengambil jurusan hukum. Ia masih tak berubah. Tetap aktif. Ia mengikuti banyak kegiatan. Dia aktif di UKM Tapak Suci, Forum Studi Agama, Forum Kajian dan Penelitian Hukum, Law English Study Club, dan bersama kawan-kawannya mendirikan teater “Kertas” Fakultas Hukum Uni. Brawijaya serta sempat ikut menjadi jurnalis mahasiswa di Majalah Mahasiswa Manifest.

Selama kuliah, Hari merasa dirinya seorang Sosialis. Ia menyukai gagasan-gagasan pembebasan. Ia juga mulai melirik gerakan bertemakan kecacatan saat itu. Di awal ia kuliah di Unibraw, pemerintah baru saja mengesahkan UU Penyandang Cacat No. 4 tahun 1997.

Selepas kuliah pada 2002 ia mulai ke desa dan mengorganisir petani. Di desa Lengkong, Mumbulsari, setahun setelah ia lulus ia  mendorong masyarakat membentuk Organisasi Rakyat bernama Persatuan Rakyat Lengkong. Saat pembentukan Komite Kabupaten Pergerakan Sosialis tahun 2003, Hari terpilih sebagai ketua. Sambil mengurusi petani, Hari juga mulai menekuni isu kecacatan dan bergabung ke dalam organisasi yang bernama ‘Persatuan Penyandang Cacat’ Perpenca Jember.

Sampai saat ini, Hari sudah bergerak jauh sekali. Ia telah mendirikan satu Lembaga Bantuan Hukum untuk disabilitas di Malang dan bekerja memberi layanan bantuan hukum skala Jawa Timur, termasuk Jakarta. Ia juga bergerak di kabupaten-kabupaten lain bahkan ke pelosok-pelosok desa mengabdikan diri untuk rakyat. Kini ia juga seorang pengacara yang banyak membela petani-petani yang terusir dari lahannya karena keserakahan pengusaha ataupun pemerintah. Ia tak takut membela siapapun. Tak gentar pada apapun. Ia bahkan tak takut miskin dengan hanya menjadi pengacara probono.

*

“Nama lengkapnya Hari Kurniawan,” ujar Mamad saat mendaftarkan Hari di SD Ditotrunan.

“Wah nama yang bagus ya, Pak,” kata seroang guru yang penerima pendaftaran itu. “Artinya apa toh, Pak?” tanyanya kepo.

“Hari yang dikarunia Gusti Allah!” katanya sambil tersenyum. Bu guru itu ikut tersenyum. Tiba-tiba matanya menatap koin lima rupiah di samping berkas di meja itu. Bergambar Keluarga Berencana. Ia mengenang suatu malam yang basah.

Foto ini ilustrasi atas cerita ini (milik Hari Kurniawan dan istrinya)

Hari Kurniawan, kini dikenal bukan hanya sebagai aktivis difabel. Ia adalah pengacara pembela rakyat jelata. Sebenarnya ia lebih dikenal sebagai Cak Wawa. Itu nama kecil saat ia di sekolah. Kawan-kawannya banyak memanggil begitu. Lelaki ini sangat bangga pada kedua orang tuanya, khususnya pada Mamad, ayahnya.

Saat dia akan menikahi seorang gadis ayu bernama Meiry, pada 18 Februari 2017 lalu, ia menziarahi makam ayahnya. Pada nisan itu tertera epithap, Ahmad Zain, 11 Oktober 1991. Ia bersimpuh di makam dengan doa-doa terbaik yang ia punya. Ia panjatkan sekhusyu mungkin[].

Jogjakarta, 1 Juli 2019