TRAVELOGUE Seorang Pembelajar [1]: Persiapan Menuju Selandia Baru

Oleh Nur Syarif Ramadhan (Penerima beasiswa INSPIRASI 2019, aktivis PerDIK)

Sebuah peristiwa tragis terjadi. Penyerangan bersenjata di dua masjid di kota Christchurch, kota yang terletak di pulau selatan Selandia Baru. Kejadian itu memakan korban jiwa sebanyak 49 orang. Media massa seluruh dunia meliputnya dan pemerintah setempat menyebutnya sebagai peristiwa paling kelam di negara yang berada di wilayah paling selatan.

Seminggu setelah peristiwa itu, saya menerima sebuah email. Sebuah pengumuman kelulusan seorang awardee yang berkesempatan belajar selama enam bulan di Selandia Baru. Ini kabar menggembirakan.

Saat saya menyampaikan kabar kelulusan itu pada grup Whatsapp keluarga, pada awalnya respon mereka tak begitu antusias seperti ketika dulu saya lolos tahap interview. Mungkin dibenak mereka masih terngiang saat Brendon Tarrant menembaki jemaah muslim yang sedang bersiap melaksanakan ibadah shalat jum’at . Video peristiwa tersebut masih menyebar, menghantui banyak orang, menimbulkan ketakutan di mana-mana bahkan juga masih tersimpan di beberapa media grup whatsapp yang saya ikuti – termasuk grup keluarga.

Sambil mengurus beberapa dokumen pendukung keberangkatan ke NZ, usaha untuk meyakinkan keluarga, bahwa saya akan baik-baik saja selama belajar di sana terus saya lakukan. Beberapa email dari Laila Harre tentang fasilitas apa saja yang saya peroleh selama belajar seperti asuransi kesehatan, host family, dan weekly allowance, juga saya perlihatkan. Hingga izinpun mereka berikan, tetapi terlebih dahulu harus melewati “ritual adat”.

*

Mengawali perjalanan enam  bulan program belajar di negeri Kiwi, saya bersama kesembilan peserta program INSPIRASI 2019 mengikuti sejumlah kiat bagaimana beradaptasi dengan kehidupan di Selandia Baru. Kami mengikuti kegiatan Pre-Departure Workshop (PDW) selama tiga  hari (18 – 20 Juni 2019) di Hotel Park Regist Arion di Kemang, Jakarta yang difasilitasi oleh Kedubes Selandia Baru.  Bersama alumni Inspirasi 2018 (Fauzan dan Tirsa) dan beberapa Alumni Purna Caraka Muda Indonesia – Kanada, kami mengikuti proses persiapan diri menjadi seorang duta muda yang akan memperkenalkan keragaman Indonesia di Aotearoa.

Malam budaya di hotel Regist Park Jakarta

Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Pemuda dari Kementerian Pemuda dan Olahraga, Bapak Drs. Imam Gunawan, MAP menyambut kami.  Ia menyampaikan pentingnya peranan pemuda dalam pembangunan Bangsa dan Ia berharap peserta inspirasi 2019 dapat menghubungkan pekerjaan mereka dengan visi pemerintah dalam program-program kepemudaan.

Selanjutnya, Ibu Mike Ingriani sebagai perwakilan New Zealand  Embassy & Committee memberikan sekilas informasi umum tentang New Zealand dan menceritakan tentang program inspirasi dan bagaimana program ini telah berjalan dengan baik di tahun sebelumnya.

Kegiatan PDW di Jakarta

Di sesi sore hari pertama PDW, kami juga dilatih untuk sebuah penampilan seni oleh Humala P. Siahaan yang sering disapa Kak Mala. Setelah memastikan asal provinsi kami, kak Mala meminta kami menuliskan lagu daerah masing-masing . Kami menulis dua judul lagu dan liriknya. Saat itu, saya dan Zul Khaidir Purwanto dari Sulawesi Selatan menuliskan dua lagu yakni Sulawesi Parasanganta dan Alosi Ri Polo Dua. Tetapi tidak semua lagu yang dituliskan dinyanyikan. Yang dinyanyikan hanya beberapa lagu yakni; Ie Ie dari NTT, Yamko Rambe Yamko dari Papua, Alosi Ri Polo Dua dari Sulawesi Selatan, Buka Pintu dari Maluku, Kemudian ditutup dengan dua lagu wajib nasional; Tanah Airku ciptaan ibu Sud dan Kebyar-kebyar ciptaan Gombloh. Penampilan lalu ditutup dengan lagu Sajojo yang dipadukan dengan gerakan menari bersama. Kelak, ketika sudah berada di Aotearoa, menurut cerita alumni 2018, kami akan memiliki banyak kesempatan perform, menampilkan kebudayaan Indonesia.

Hari pertama PDW diakhiri sesi team building untuk mempersiapkan para peserta menjadi tim yang solid selama proses belajar di Selandia Baru. Sesi ini kami manfaatkan untuk saling mengenal satu sama lain.

Hari berikutnya diawali dengan pemaparan materi dari DR. Dorien Kartikawangi, Dosen Universitas Atmajaya. Ia berbagi pengetahuan tentang standar perilaku dan pemahaman lintas budaya. Hal ini sangat penting mengingat semua peserta akan mengalami aktivitas yang berbeda dengan aktivitas yang biasa dilakukan di daerah masing-masing saat berada di New Zealand. Peserta diharapkan mampu menghadapi tantangan yang akan ada dan menjadi terbuka tapi tetap berkarakter. Berbagi hal baru akan ditemui tidak perlu dipertentangkan, tetapi dipahami. Perlu untuk melihat hal tersebut sebagai bagian dari budaya yang menjaga keseimbangan sosial.

Sementara Abdre Wahyu, yang merupakan perwakilan komnas HAM sebagai pemateri pada sesi selanjutnya menyampaikan informasi tentang Penerapan HAM di Indonesia. Komnas HAM sedang berusaha menghidupkan tugas dan tanggung jawab mereka terhadap warga negara yakni memenuhi, melindungi dan menghormati hak asasi setiap warga negara.

Dalam materi politik lokal, Prof. Syarif Hidayat yang merupakan seorang peneliti di LIPI memberikan gambaran tentang situasi politik di Indonesia. Dalam penjabarannya, Ia menjelaskan relasi negara dan masyarakat di Indonesia. Masih ditemukan berbagai kesenjangan dalam relasi tersebut namun harapannya adalah Indonesia terus berbenah diri agar membenarkan relasi yang ada.

Kami juga menerima materi manajemen proyek untuk perubahan sosial yang memberikan gambaran tentang situasi Indonesia Timur. Materi dibawakan Sandra Nahdar yang memberikan pemahaman tentang perspektif budaya yang ada di seluruh Indonesia, tentang bagaimana setiap budaya hidup dan bertahan dengan caranya masing-masing di setiap daerah. Setiap aktivitas masyarakat selalu dilakukan dengan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. 

Semua sesi ini diharapkan memberikan sebuah pemahaman dasar tentang realitas politik di Indonesia dan menyikapi perbedaan yang ada antara dua negara ini.  Sesi hari kedua ditutup dengan pementasan budaya dan makan malam bersama dengan perwakilan dari Kedutaan Selandia Baru, Sumi Subrahamian. Pada sesi inilah kami mempersembahkan lagu-lagu dan tarian yang sebelumnya telah kami latih dibawah bimbingan kak Mala. Dengan menggunakan baju adat masing-masing, kami menyannyikan beberapa lagu daerah beserta dua lagu wajib nasional.

Pada hari terakhir PDW, Rita M. Darwis membawakan materi konflik dan manajemen stres. Materi ini bertujuan untuk mempersiapkan peserta terhadap kemungkinan mengalami stress saat berada di negara yang baru dan memiliki aktivitas yang berbeda. Salah satu cara yang disarankan oleh Rita untuk mengatasi stress dan konflik adalah melakukan apa yang disukai seperti mendengar lagu, membaca, menulis, jalan-jalan dan sebagainya untuk menyibukkan diri sehingga tidak memikirkan stres dan konflik yang ada.

Selain itu, materi lainnya adalah tips dan trik serta pengalaman dari peserta INSPIRASI angkatan sebelumnya. Tirsa Wendry Kailola dari Hekaleka Maluku dan Fauzan Ade Azizie dari Tenoon Makassar yang merupakan alumni program ini pada 2018 membagikan pengalaman mereka tentang kehidupan sehari-hari baik di host family maupun di kampus. Mereka juga berbagi tentang pentingnya manajemen waktu serta memanfaatkan kesempatan sebagai peserta inspirasi untuk belajar sebanyak-banyaknya di New Zealand.

Rangkaian Kegiatan PDW ditutup dengan doa bersama dan kami langsung bertolak untuk berangkat ke Selandia Baru.

Sepuluh  anak muda yang terpilih menjadi awardee program inspirasi 2019  dari kawasan timur Indonesia adalah Vuadi Gennaio Mailoa dari Lembaga Kajian dan Advokasi untuk Pemberdayaan Perempuan (GASIRA)-Maluku, Nur Rina Maskayanti dari Banuamentor Palu, Benyamin Wompere dari Komunitas Waryesi Biak, Yuliana Magdalena Benu dari Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT) NTT, Zulkhaidir Purwanto dari WastEducation Makassar, Nur Syarif Ramadhan dari Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) Makassar, Muhammad Syukron Anshori dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sumbawa, Diana Debi Timoria dari Solidaritas Perempuan Dan Anak (SOPAN) – Sumba, Rima Melani Bilaut dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) NTT, dan Alfian Al Ayubbi Pelu dari Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS).

*

Dalam itinerary yang  telah diatur Laila Harre dari Unionaid, kami akan menggunakan pesawat Malaysia Airlines dari Jakarta menuju Auckland dengan transit di Kuala Lumpur. Ini merupakan perjalanan terjauh yang pernah saya alami, dan untuk pertama kalinya meninggalkan indonesia dalam kurun waktu yang cukup lama pula. 21 Juni 2019, pukul 18:25 waktu Jakarta, saya pun meninggalkan Indonesia, menuju Malaysia.

Seluruh penerima beasiswa INSPIRASI 2019 saat di bandara internasional soekarno hatta.

Pesawat kami dari Kuala Lumpur Menuju Auckland yang seharusnya berangkat pukul 23:15 waktu Malaysia ditunda menjadi pukul 07:15 keesokan paginya. sebagai bentuk pertanggungjawaban maskapai, mereka menyiapkan sebuah voucher dinner serta voucher menginap di hotel Empress di daerah Seppang (sekitar 20 menit dari bandara internasional Kuala Lumpur), lengkap dengan transportasinya kepada kami masing-masing

Setelah menikmati makan malam ala masakan  malaysia di foodshop airport, kami lantas menghabiskan waktu yang cukup banyak hingga akhirnya bisa sampai ke hotel. Hotelnya sih biasa saja menurutku, tapi setidaknya kami tidak menggelandang  di Malaysia dan bisa sedikit beristirahat hingga penerbangan ke Auckland. Dari bandara, kami menuju hotel dengan sebuah bis, diantar seorang driver laki-laki paruh baya yang ramah dan humoris. Dia menenangkan kami yang awalnya begitu risau, takut telat menuju bandara pagi  ini  dan ketinggalan pesawat. Dia juga menghadiahi kami masing-masing sebuah bendera mini Indonesia untuk kami bawa ke Auckland.

Menurut ceritanya, bendera itu ia peroleh dari kontingen Indonesia pada Seagames beberapa tahun yang lalu di Malaysia. Hm, semoga kelak bisa berkesempatan lagi berkunjung ke sini. Sepertinya bakalan seru jika kelak bisa menonton langsung ajang motogp sepang dan bertemu dengan bro Valentino Rossi di sirkuit Internasional Seppang, ataukah mungkin bertemu dengan tokoh-tokoh difabel Malaysia dan saling bertukar pengetahuan mengenai isu-isu disabilitas  yang di advokasi di Malaysia. Tapi itu nanti. Sekarang mari fokus dulu belajar di New Zealand.

*

Penerbangan dari Jakarta ke Kuala Lumpur dan Kuala Lumpur ke Auckland menghabiskan waktu sekitar sebelas jam dan 30 menit di udara. Selama itu saya tidak mengalami masalah berarti. Tak ada inform consent yang biasanya saya peroleh dalam penerbangan domestik jika bepergian sendiri, begitupun tidak ada perlakuan istimewa dari awak pesawat. Semuanya aman dan lancar-lancar saja. Setidaknya itu menurut pengamatan singkat saya.

Pengalaman melelahkan justru saat harus berhadapan dengan petugas dari imigrasi satu ke imigrasi lain. Dalam perjalanan ini, setidaknya ada empat kali saya berurusan dengan petugas imigrasi; saat meninggalkan Jakarta, saat tiba dan ketika akan meninggalkan Kuala Lumpur dan saat mendarat di Auckland.

Can any one just stand here please?” seru petugas Imigrasi di Auckland International Airport saat saya dengan lamat-lamat berjalan menuju loketnya. Waktu sudah menunjukan jam 10:30 malam. Kami mendarat kira-kira sejam sebelumnya. Sebelum menuju loket petugas imigrasi, kami menghabiskan waktu yang cukup lama mengisi declaration form yang nantinya harus diperlihatkan pada petugas saat mengambil bagasi. Saat itu, saya sengaja menunjukan identitas saya sebagai seorang low vision, berjalan dengan perlahan-lahan dengan menggunakan tongkat.

Awalnya saya tidak mengerti maksud perkataannya. Seorang kawan tiba-tiba mengikuti saya ke loket petugas tersebut. Saat saya menyerahkan paspor dan beberapa dokumen perjalanan, ia mulai mengajukan beberapa pertanyaan yang sebenarnya ditujukan untuk saya, tapi ia tanyakan pada kawan yang mengiringi saya.

Sebenarnya, saya sudah terbiasa berada dikondisi seperti ini. Sebagai seorang difabel, sering kali saya menjumpai orang-orang yang ingin tahu tentang saya, tetapi mereka menanyakannya pada orang lain, padahal saya berada ditempat yang sama. Pengalaman ini terasa istimewa karena terjadi di Auckland.

Saya semakin menyadari jika perjalanan malam itu sebenarnya tidak sebaik yang saya duga, saat tiba di di rumah host family. Setelah kira-kira mengobrol selama kurang lebih satu jam dengan orang tua asuh, saya dipersilahkan beristirahat di kamar yang telah mereka siapkan untuk saya tempati selama belajar di Aotearoa. Saat saya mengeluarkan isi kopor dan tas, saya baru tersadar bahwa salah satu tas yang saya bawa telah rusak, atau lebih tepatnya telah dirusak seseorang. Tiga bungkus mi coto Makassar, sebuah coverbag, sepasang sandal jepit dan kartu ATM sudah tak ada lagi ditempatnya. [bersambung].

Pesan Kusta Menyebar ke Desa-Desa

Oleh Ardiansyah (Ketua PerMaTa Bulukumba, Sulawesi Selatan)

KUSTA MERUPAKAN KATA yang bisa membuat bulu roma setiap orang bergidik. Dalam kenyataan sehari – hari kita bisa menyaksikan beragam tanggapan masyarakat tentang kusta. Ada yang biasa saja, namun lebih banyak yang takut, sinis, atau merasa jijik sehingga menghindarkan diri bersinggungan dengan mereka yang sedang atau pernah mengalaminya.

Kurangnya informasi yang benar tentang kusta turut membentuk persepsi keliru tentang mereka. Persepsi tersebut melahirkan stigma menyakitkan yang mengakibatkan terbentangnya jurang pemisah antara masyarakat umum dengan orang yang pernah mengalami kusta. Pada hal dari sisi medis, penyakit kusta tidak lebih berbahaya ketimbang penyakit flu atau penyakit menular lainnya. Banyak jenis penyakit yang sebenarnya jauh lebih berbahaya ketimbang kusta. Namun Kusta terlanjur mendapat predikat sebagai penyakit menakutkan yang membawa sial.

Apa yang membuat penyakit kusta demikian mengerikan sehingga orang-orang yang mengidapnya seakan-akan tertimpa bencana dahsyat dan harus dijauhi atau dikucilkan?

Isu, sekali lagi isu. Isu penyakit kusta justru jauh lebih berbahaya ketimbang penyakit kusta itu sendiri.

Seperti yang dialami penulis yang pernah mengalami kusta. Sebelumnya, saya adalah seorang pegawai honorer di Kantor Camat yang juga berasal dari keluarga besar di Bulukumba. Karena mengalami kusta, keluarga saya merasa malu dan terkesan menyembunyikan diri saya. Teman-teman sebayapun mulai menjaga jarak. Batang hidung mereka tidak pernah lagi muncul di rumah saya. Padahal sebelumnya mereka dekat dengan saya, apalagi sesama yang pernah aktif di Karang Taruna.

Kusta dan Kerja Pengorganisasian

Tapi, rupanya semua itu tidak membuat dunia saya berakhir. Berkat adanya organisasi PerMaTa, saya mulai membangun mimpi yang baru. Saya banyak mendapatkan peningkatan kapasitas selama aktif di PerMaTa hingga akhirnya rasa percaya diri saya kembali dan bisa menerima diri sendiri dengan keadaan seperti saat ini.

Bahkan pada 2015, Saya bisa bekerja di sebuah kantor konsultan bersama teman sekolah, STM. Saat bekerja di kantor tersebut, Saya mendapat banyak pengalaman bersosialisasi dengan orang lain. Apalagi saat melakukan pengawasan di lapangan, tidak ada sekat antara diri saya dengan pemilik proyek dan pekerjanya.

Setelah bekerja di Kantor Konsultan, pada 2018 saya kembali aktif di PerMaTa Bulukumba. Melihat besarnya isu kusta di Bulukumba, dari data Dinas kesehataan Bulukumba pada tahun 2017 terdapat 65 kasus dan Bulukumba menjadi urutan pertama kasus kusta terbanyak di tingkat Provinsi Sulawesi Selatan, di mana angka prevalensi eliminasi kusta 1 per 10.000 penduduk.

Di tengah besarnya isu tentang kusta, Perhimpunan Mandiri Kusta Bulukumba lalu gencar melakukan penyuluhan tentang kusta di Sekolah-sekolah dan Masyarakat. Juga Talkshow di Radio untuk menjangkau lebih luas masyarakat Bulukumba mendapatkan informasi yang benar tentang kusta. Untuk melakukan gerakan perubahan tidak hanya terfokus disitu, tetapi masih banyak kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan, seperti peningkatan kapasitas  bagi orang yang pernah mengalami kusta berupa Training Of Trainer, Konseling Sebaya, dan Public speaking untuk meningkatkan rasa percaya diri mereka dan menghilangkan self stigma nya.

Menyasar Kampanye ke desa-desa

Al Qadri Sewa (PerMaTa Sulawesi Selatan) sedang menyampaikan Presentasi Terkait Kusta: pengobatan dan pemberdayaan orang yang pernah mengidap kusta di desa Kambuno

Pada hari Sabu (10/8/2019), PerMaTa Bulukumba kembali melakukan penyuluhan tentang kusta di desa. Kali ini dilakukan di Desa kambuno yang didukung oleh Until No Leprosy Remains (NLR). Salah satu alasan memilih Desa Kambuno adalah acara akbar Temu Inklusi 2020 akan digelar di Desa ini dengan membawa nama Bulukumba sebagai tuan rumah. Inklusi artinya mengikutsertakan semua warga termasuk difabel dan orang yang pernah mengalami kusta terlibat dalam kegiatan dan pembangunan Desa. Oleh sebab itu agar tidak ada seorangpun tertinggal atau No One Left Behind yang menjadi tagline pemerintah (mengikuti tagline global, red) maka perlu sosialisasi tentang kusta untuk memberikan pemahaman yang benar tentang kusta kepada warga Desa Kambuno.

PeMaTa Bulukumba berharap tidak ada diskriminasi bagi orang yang pernah mengalami kusta di Desa Kambuno, juga paradigma tentang kusta warga Desa Kambuno bisa berubah bahwa kusta bisa disembuhkan dan bukan kutukan apalagi aib keluarga. Kusta disebabkan oleh bakteri Mycobakterium Leprae yang menular dari orang yang tidak terobati. Sementara orang yang sudah berobat dan dinyatakan sembuh tidak akan menular ke orang lain.

Menurut penelitian WHO atau Organisasi Kesehatan Dunia, dari 100 orang yang terpapar bakteri ini, 95 orang orang kebal terhadap kusta dan lima orang sakit. Namun tiga diantara yang sakit itu akan sembuh dengan sendirinya karena daya tubuhnya kuat. Sedangkan dua orang akan terjangkit dan harus disembuhkan melalui pengobatan. Untuk itu, PerMaTa Bulukumba dan petugas kesehatan selalu mensosialisasikan agar orang yang terjangkit bakteri kusta diobati secara dini agar tidak mengalami keadaan disfungsi fisik yang bisa membuatnya mengalami kondisi disabilitas.

Ardiansyah (Ketua PerMaTa Bulukumba) Sedang Menyampaikan Sosialisasi Kusta dan penanganan medik di desa Kambuno

Kusta sebagai penyakit sebenarnya sudah selesai karena sudah ada obatnya, hanya saja tingginya stigma terhadap kusta sehingga orang yang terkena penyakit kusta kerap disembunyikan oleh keluarganya dan malu berobat ke puskesmas. Untuk menyelesaikan isu kusta dibutuhkan usaha ekstra dan orang–orang yang mau menjadi agen yang menggerakkan perubahan. Mengutip Mahatma Ghandi, “Jadilah perubahan yang kamu ingin lihat di dunia ini”[].