Kabar Difabel dari Orang-orang Muda yang Sedang belajar di Desa

Oleh Ishak Salim, Ketua PerDIK

Desa Bonto Masunggu, kecamatan Tellu Limpoe, Bone sebenarnya tak begitu jauh dari Makassar. Hanya berkisar 85 km. Tapi menuju ke sana, khususnya dari Rumah PerDIK Sulsel di jl. Syekh Yusuf Katangka, Gowa bisa mencapai 4 jam. Itupun bisa bertambah karena kini jalan utama memasuki desa itu sedang pengecoran. Dengan melaju santai, sebutlah 4 sampai lima jam dengan singgah baru bisa tiba di desa ini.

Pintu masuk ke desa ini lebih mudah di akses dari Minasa Tene, pondok pesantren Putri IMMIM Pangkep ketimbang dari Barru. Jika masuk lewat jalur ini, kita akan membelah wilayah ekploitasi tambang semen dan marmer PT. Semen Tonasa menuju kecamatan Tondong Tallasa Pangkep. Selepas itu, kita akan berpapasan truk-truk pengangkut tanah atau bongkahan batu putih besar yang tak terikat di bak-bak truk, atau tanah urukan entah dari bagian bukit yang mana yang telah dipangkas sampai menganga.

Truk-truk itu sebagian besar bertuliskan CV Batara. Kabarnya milik keluarga Bupati Pangkep. Karena mengangkut tanah, sesungguhnya ia juga menebarkan debu-debu yang telah menyelimuti rumah-rumah, pepohonan dan apapun yang ada di kampung itu. Permintaan tanah urukan yang sangat tinggi dari Makassar, khususnya untuk membuka perumahan baru atau mereklamasi pantai membuat satu desa berdebu.

Setiap hari dua sampai tiga kali jalanan disirami oleh perusahaan itu dengan truk tangki air. Tapi itu tak begitu menolong desa ini dari balutan tulisan atau coretan “Jangan Ngebut Bosku, Banyak Debu” mudah ditemukan. Untuk menuju desa Bonto Masunggu yang menjadi bagian dari kabupaten Bone ini masih harus berbelok kiri menuju desa Tondong. Baru setelahnya kita memasuki desa Bonto Masunggu. Menurutku, desa ini memiliki pemandangan yang sangat indah, terutama saat musim sedang basah.

Saya sudah lebih lima kali datang dan pergi mengunjungi desa Bonto Masunggu ini. Kami sedang melakukan sebuah pendidikan pengorganisasian, penelitian dan pendampingan desa. Sebanyak 23 orang muda mengikuti pendidikan yang berlangsung dua bulan ini.

Salah satu kelompok yang terbentuk adalah yang meneliti soal difabel di desa ini. Pengalaman wirawiri di desa ini, kami melihat dan bersapa dengan beberapa difabel. Dua yang paling sering adalah Baco (52) dan Yaddi (18). Keduanya bisu tetapi sepertinya tidak tuli atau kemungkinan hanya kesulitan mendengar. Keduanya mengalami kondisi itu sejak masih kanak-kanak dan tak pernah menikmati duduk di bangku pendidikan selama hidupnya. Kalau tidur di sekolah keduanya pernah. Kalau belajar di sekolah, tidak pernah sama sekali.

Ada lagi warga-warga desa lainnya yang difabel, di mana ada dua atau tiga juga tampak berjalan-jalan di desa. Mereka boleh jadi mengalami kondisi perkembangan mental dan intelektual yang sulit dan kesulitan berkomunikasi dengan orang lain. Beruntung karena mereka masih diterima jika sekadar berkeliaran dan bertegur sapa dengan warga. Setidaknya mereka ini tidak dikurung di rumahnya. Walaupun beberapa juga ada yang bersikap “kasar”, mulai dari mengancamnya jika terlalu mengganggu, atau malah melabelinya dengan ungkapan yang miring, seperti ‘pepe’ (bisu) atau ‘bodo-bodo’ (bodoh).

Baco singgah minum kopi di “pondok ceria”, base camp panitia (rumah pak dusun Elle) ditemani salah satu peserta pendidikan ini.

Baco dan Yaddi beberapa kali turut duduk jika kami ada pertemuan di kantor desa. Keduanya tidak mengganggu selain Baco meminta rokok berkali-kali dan Yaddi memints uang jika ia butuh. Yaddi yang mungkin karena masih remaja suka bercanda tetapi dengan gaya yang berbeda dengan candaan orang di desa pada umumnya. Perbedaan itu sangat mungkin karena baik Baco maupun Yaddi tidak menikmati proses pendidikan atau pembelajaran yang memungkinkan orang-orang memahami norma, nilai dan pengetahuan publik. Akibatnya apa yang dilakukannya dianggap berbeda dan kemudian berimplikasi pada perilaku membedakannya dari kebanyakan.

Dari beberapa difabel dan kondisinya dalam kehidupan keluarga dan perlakuan warga terhadap difabel yang saya baca dari catatan lapangan peneliti, saya tahu kalau kondisi fisik, mental dan kejiwaan difabel dimulai usia yang sangat dini, balita. Ada yang pernah jatuh, adapula yang step atau panas tinggi berhari-hari. Penanganan medik yang lambat menjadi penyebabnya dan boleh jadi itu karena lemahnya sistem kesehatan di desa Bonto Masunggu, dan jika ditelusuri lebih jauh bisa sampai kepada sistem kesehatan yang didesain dari kota kabupaten.

Baco sempat gabung minum kopi di “pondok ceria”, base camp panitia sebelum memutuskan duduk di luar.

Waktu tempuh dari desa ini ke puskemas Gaya Baru di Lapri sangat panjang, 7 jam lamnya. Seandainya sistem kesehatan desa melalui Poskesdes bisa lebih serius dan profesional mungkin hal-hal yang menjadi sebab seseorang di kemudian hari menjadi difabel bisa terhindarkan. Tapi desa ini terlalu terpencil dari pusat kecamatan, apalagi pusat kabupaten yang tidak berpihak pada [keterpencilan] desa ini.

Pendidikan penelitian dan pengorganisasian ini kini mulai mengarah ke upaya tindakan bersama menguraikan hasil riset dan merencanakan jalan keluar untuk ditempuh bersama-sama dan tentu saja didukung oleh manajemen tata kelola pemerintahan desa yang berpihak pada orang-orang yang mengalami marjinalisasi.

Yaddi sesekali singgah di pondok ceria, berujar sesuatu yang tak begitu dipahami atau berujar okaiiiii
Saat sesi musyawarah pembahasan stunting dan RKPDes.

Tentu saja, waktu yang pendek meneliti difabel dan kondisi-kondisi yang melemahkan kemampuan mereka belum bisa memuaskan adanya penjelasan komprehensif mengenai kondisi sosial ini. Tetapi proses pendek itu bisa mengalihkan perhatian warga dari hal-hal yang selama ini begitu dominan, katakanlah urusan air, energi, tanah, wisata dan pertanian menjadi mengurusi hal yang tampak di depan mata tapi jauh dari wacana sosial di desa. Minggu depan, setiap kelompok yang meneliti beragam isu ini akan mempresentasikan temuan mereka ke warga dan mendiskusikan temuan itu. Jika warga masih memiliki kuasa dan percaya pada kerja-kerja kolektif maka boleh jadi desa Bonto Masunggu yang terpencil ini, yang lebih satu dekade lalu warganya meminta bergabung dengan Pangkep, akan menjadi desa yang memiliki terobosan-terobosan cantik untuk menata kehidupan sosial dan pemerintahannya.

Harapan ini begitu kuat dan membawa saya pada kepercayaan yang nyaris paripurna bahwa kerja riset dan pengorganisasian tetap hal yang bisa diandalkan untuk dilakukan di tengah kekhawatiran publik pada presiden dan wakil rakyat saat ini[]

Gagasan Dari Seorang Kepala Balai Rehabilitasi

Oleh: Ishak Salim

Luthfi Agenofchange mengabarkan esok pagi kepala Brspdf Wirajaya Makassar (Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Fisik) Wirajaya, Sulawesi Selatan akan bertandang ke rumah PerDIK. Bukan obrolan serius apalagi formal, hanya sekadar kunjungan seorang teman saja.

Saya tak mengenal pak Syaiful Samad Deng Bani sebelum melihatnya turun dari mobil begitu ia tiba di Rumah PerDIK. Senyum mengembang dengan tubuh yang subur langsung mengingatkan saya pada pertemuan sekian bulan lalu.

“Wah, Pak Ipul, kita pernah ketemu di Jakarta,” ujarku menyambutnya. Rahman, direktur PerDIK sudah lama berkawan. Melihat wajahnya mengingat-ingat pertemuan itu, saya segera berujar, “Ingat saat Pak Rahmat Koesnadi mengajak kita mendiskusikan konsep Pabrik Disabilitas?” Ia langsung manggut-manggut, pantas saja saya kayak kenal muka ta, katanya.

Ia datang bersama Pak Soleh. Saya lebih dulu mengenalnya sebagai dosen UTS jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial. Begitu ia melihat saya, ia langsung teriak, “selamat Pak Doktor” dan tawanya mengembang. Ia memang kawan yang ramah.

Sebelum Pak Syaiful duduk ia langsung tanya ada kopikah? Maksudnya kalau tidak ada dia akan minta seseorang membelinya. Saya menduganya begitu. Semalam dalam group PerDIK, kawan dari Enrekang, Lutfy Pandi, ketua PPDI Enrekang yang ditolak diakui oleh PPDI Sulawesi Selatan berujar kalau Kepala Balai adalah seorang kopiholic, “siapkan saja kopi jika beliau datang.” Untunglah kami ada stok kopi Barakawa olahan Siswandi. Dengar kabar kalau PerDIK sedang merancang usaha kedai kopi untuk menopang gerakan. “Jangan bergantung pada Donor!” Begitu kami sering mengulang-ulang entah berapa kali sudah diucap dan tera-kan.

Obrolan pun mengalir. Pandangan kepala Balai tentang aktivitasnya dalam memberdayakan difabel di 17 provinsi menunjukkan ada sejumlah perubahan kebijakan dan program yang membedakannya dengan status sebelumnya sebagai Panti. Rahman Gusdur yang masih berpikir bahwa pendekatan charity begitu dominan dalam pengelolaan balai pun mengoreksinya. Ia merasa spirit Balai dan PerDIK Sulsel ada titik temunya.

Pikiran bekerjasama untuk melakukan kerja-kerja pemberdayaan difabel pun mulai mengalir. Kepala Balai merasa perlu tahu bagaimana konsep pemberdayaan difabel yang dijalankan PerDIK. Rahman menjelaskan bagaimana PerDIK bekerja. Advokasi difabel berhadapan dengan hukum, mengembangkan literasi pergerakan difabel melalui Pustakabilitas, pengorganisasian difabel di desa, menulis di blog perdik dan beberapa lagi.

Saat penjelasan tiba pada rencana Temu Inklusi Nasional ke-4 pada 2020 di Bulukumba dan perintisan desa inklusi di Kambuno (colek Pakde Syahrullah Syam), kepala balai minta perhatian lebih untuk mendiskusikan. Ia ingin Balai bisa berkontribusi dalam event ini. Kami pun berseri-seri. Inilah pentingnya mengobrol dan menyeruput kopi.

“Apa yang bisa Balai kontribusikan untuk mendorong desa inklusi,” begitu kira-kira ujar Pak Syaiful. Kamipun mulai merencanakan beberapa rencana dan hal pertama adalah kami akan ke kambuno awal bulan depan.

Menjelang adzan Jum’at, kami sudahi obrolan. Sebelum pamit, kepala Balai menyerahkan kruk untuk PerDIK. Foto serah terima pun dilakukan.

Terima kasih kunjungannya bapak berdua. Semoga lancar niat dan usaha kita, amin.

Tiga Serangkai PerDIK Sulsel

Nur Syarif Ramadhan
Rahman Gusdur
Luthfi Agenofchange

Mereka ini sebenarnya tiga serangkai. Saling mengisi dalam mendorong PerDIK Sulsel melaju memenuhi mandat pergerakan bersama kawan-kawan yang lain.

dari Kiri: Luthfi, Rahman dan Syarif

Ketiganya ini punya energi dan keinginan kuat berbuat yang terbaik. Tentu dengan caranya masing-masing. Kalau saya coba menilainya, Rahman itu punya tenaga kuat dan emosi meluap-luap. Dia cocok mendobrak kemapanan yang kukuh. Selain itu tubuhnya memang kuat sekali. Setiap makan bersama, teman yang membantunya mengambil nasi ke piringnya akan bertanya, mau porsi Helm biasa atau Helm SNI? Maksudnya tentu porsi Jumbo ekstra. Pernah suatu kali saat piring berisi nasi itu ditaruh di depannya di meja makan, seorang kawan tanpa tahu dan merasa bersalah menyendok saja nasi menggunung di piring itu. Lantas Rahman teriak, wueh, nasiku itu! Kawan yang lantas ngakak itu bilang, kukira tadi itu bakul Nasi.

Kalau soal makan, Luthfi juga jagonya. Suatu hari, kami ke desa Kambuno, Bulukumba. Kami singgah di Warung makan sekitar TPI Lappa Balangnipa, Sinjai. Kami berlima, memesan makan dengan beberapa ekor ikan laut segar. Karena belum begitu akrab dengan kami, Lutfi malu-malu ketika ditawari makan ini dan itu. Ia makan secukupnya. Karena sajian selepas magrib itu memang melimpah dan kami tak sanggup menyikatnya sampai tandas, Lutfi lalu menunjukkan betapa taring dan perutnya dapat diandalkan. Ia pun mulai bertanya, mana tadi itu Pallu Mara? Kami menyodorkan semangkuk yang masih menyisakan kepala ikan. Masih ada? Saya sodorkan satu persatu potongan-potongan ikan goreng dan bakar padanya. Ia menandaskannya dengan keperkasaan luar biasa!

Kalau kedua temannya ini tinggi besar dan lebih tepat disebut pembesar dalam PerDIK, maka Syarif ini kurus dengan wajah tirus, beruntung ia sedikit tinggi. Ia tidak jago makan, tapi ia pelahap berita dan obrolan soal bola kaki. Ia seorang Barcelonistas atau cules. Kalau Barcelona kalah, kerjaan gerakan bisa tertunda. Kalau sedang Liga Champion main dan ia mau nonton Barca di rumahmu, sebaiknya pikir-pikir kalau mau ajak dia. Kalau tidak, kau akan menonton punggungnya sepanjang permainan. Matanya low vision, butuh sangat dekat ke layar kaca untuk menonton seluruh pemain dan bola bergerak. Saya pernah mengalaminya. Beruntung saya penggemar bola yang buruk, sehingga tak perlu kesal layar itu dikuasainya 99,9%.

Di PerDIK, untuk urusan produksi pengetahuan saya mengandalkan Syarif. Ia rajin dan tekun membaca dan menulis. Lutfi juga begitu, tapi sepertinya Syarif lebih bernafsu. Ia sudah memburu banyak buku sastra dan melahapnya. Kalau Lutfi seorang pengorganisir yang menyenangkan. Saya melihatnya beberapa kali memfasilitasi pertemuan dan mengobrol dengan kawan-kawannya sesama pekerja sosial. Suasana akan ceria jika dia ada. Dia juga seorang humoris dan pemecah es handal di setiap sesi-sesi kritis dalam ruangan ber-AC. Suatu hari, dia sebagai fasilitator di salah satu sesi pelatihan PerDIK di hotel anu di Makassar. Jam 2 siang, narasumber menyampaikan hasil survei dengan nada datar. Satu persatu peserta melamun atau tertidur. Lutfi juga beberapa kali nyaris terjatuh karena kelepasan terlelap. Saya ada disampingnya dan memegang lututnya keras-keras. Khawatir kalau dia tiba-tiba jatuh seperti Mister Bean tertidur di gereja. Ia bangun, tenang dan seperti tidak merasa tertidur. Eh, kita butuh Ice breaker, ujarku. Berikutnya sesiku. Saya tidak mau orang loyo mendengar ujaranku.Ia mengerti dan mengangguk-angguk. Tak lama ia tertidur lagi. Duh.

Benar saja, menjelang sesiku, ia berdiri di depan. Membawa tongkatnya dan memakai kacamata hitamnya. Ia lalu meminta satu persatu peserta menghitung, 1, 2, 3, 4 lalu mulai mengajarkan beberapa cara orang Jepang bersalam dan memberi hormat. Setiap angka tadi dengan ciri masing-masing. Ia pun memberi contoh dan kemudian satu persatu sesuai angka masing-masing peserta memberi salam dan hormat. Ruangan tiba-tiba menjadi serupa Dojo dan siap-siap berAikido, Judo atau malah Sumo!

Tiga orang ini uniklah. Rahman paling temperamental, Lutfi suka melucu, dan Syarif berpembawaan tenang dan pintar. Setidaknya, dari mereka, menurutku PerDIK bisa punya masa depan.

Saat ini mereka sedang tidak bisa bertiga serangkai. Syarif sedang short course 6 bulan lamanya di Selandia Baru. Ia balik Desember 2019. Saat Syarif balik, mereka tetap tidak bisa berserangkai tiga, karena Lutfi akan ke Bali lalu Australia menempuh studi masternya di sana. Bahkan dua bulan ke depan, sepertinya Rahman juga akan ke Australia untuk pengembangan kapasitas para leader Disabled People Organizations, tak begitu lama sih, 2 mingguan.

Wah, mereka betul-betul punya peluang menjadi yang terbaik. Semoga proses pergerakan di PerDIK tetap berjalan dan mereka bisa bertahan dalam kerja panjang perjuangan difabel di Indonesia.

Semoga saja!

Dari Beranda Pustakabilitas Mengenal Skizofrenia

M. Luthfi, Koordinator Pustak@bilitas – PerDIK

Menjelang sore, peserta diskusi Mengenal Skizofrenia datang satu satu atau berkelompok. Satu kelompok orang-orang muda menyandang gitar dan beberapa alat musik lainnya sedang sibuk menyiapkan diri. Diskusi kali ini akan ditemani dengan alunan musik ‘Makassar Musical Project’. Di dapur Rumah PerDIK, Zakia dan ibunya sedang menyiapkan penganan. Ada juga Isra sedang mengaduk racikan kopi di beberapa gelas. Kopi ini spesial, dari Enrekang yang diolah secara baik dan benar. Bukan olahan kopi biasa.

Suasana Diskusi Mengenal Skizofrenia

Ini diskusi kali ketiga, Pustakabilitas – PerDIK. Dua tema sebelumnya adalah Bincang-Bincang Puisi dan Relasi Pekerjaan Sosial dan Pengorganisasian Difabel. Kali ketiga ini, Lutfi, yang menggawangi pustakabilitas mengajukan tema diskusi terkait SKIZOFRENIA. Ini pasti akan jadi tema yang menarik minat partisipan. Menjelang pukul 3, sudah banyak perempuan muda hadir. Ada pula dua mahasiswi dari jurusan Pendidikan Luar Biasa UNM, namanya Astri (dari Manggarai) dan Zizi (dari Palu), keduanya difabel netra.

Hari ini, Ahad 15 September 2019.  Ini pertama kalinya  Perdik, khususnya Pustak@bilitas secara spesifik membahas isu difabel bertemakan Mental Psikososial. Biasanya, jika membicarakan isu difabel atau penyandang disabilitas maka yang terlintas di benak  kita adalah sederet permasalahan yang terkait dengan difabel fisik, difabel sensorik, atau difabel mental intelektual. 

Lalu bagaimana dengan difabel mental psikososial?

Isu-isu ini nyaris tak  tersentuh, khususnya di Sulawesi Selatan. Hal inilah yang melatari mengapa pustakabilitas mengangkat tema skizofrenia pada September ini.

Performance dari Makassar Musical Project

Diskusi tematik  ini dihangatkan dengan sedikit uraian tentang invisible disability dan perspektif ‘kegilaan’ dalam budaya dan masyarakat. Ketua PerDIK,  Ishak Salim dalam pembukaan kegiatan ini secara singkat menjelaskan tentang 3 kategori disabilityas yakni: visible disability, invisible disability dan hidden disability. Menurut Ishak, Visible disability  dapat  dengan mudah diketahui bahwa seseorang itu difabel atau tidak. Mereka nampak perbedaan dari tubuhnya, semisal difabel fisik dan sensorik. Lalu pengertian invisible disability atau disabilitas yang tak tampak secara fisik salah satunya adalah mereka yang mengalami difabel mental, termasuk dalam hal ini difabel mental psikososial atau yang kini mulai dipopulerkan dengan istilah ODGJ atau Orang Dengan Gangguan keJiwaan. Terakhir, Hidden Disability, di mana hal ini terjadi kepada mereka (para difabel yang masih mengalami perlakuan stigmatik yang kuat)  sehingga orang-orang terdekat harus menyembunyikannya dari lingkungan mereka.

Sebagai penutup, Ishak sedikit membahas tentang buku “Madness and Civilization” karya Michel Foucault, Pemikir asal Perancis.  Dalam buku ini dijelaskan bahwa, pada awalnya, sesuatu yang dianggap “gila” oleh masyarakat, hanyalah sebuah perbedaan yang  dianggap  biasa saja. Orang tidak memperlakukan secara khusus apalagi tertutup bagi orang-orang yang memiliki cara pandang berbeda ini. Sampai  akhirnya, pengetahuan berkembang dan mengalami institusionalisasi, di mana perlakuan terhadap seseorang mulai dipandang dari kacamata seorang dokter. Perkembangan ilmu kedokteran modern sekadar memandang  tubuh manusia ibarat sebuah benda dengan indikator-indikator “kenormalan”  ala medik. Orang-orang ini mulai ditelaah dalam institusi medik dan berupaya disembuhkan melalui Klinik, panti dan rumah sakit. Masalah kegilaan lalu sekadar menjadi urusan medik dan kehilangan fungsi sosialnya.

Usai pembukaan dan sambutan singkat itu, kawan-kawan yang telah siap menyanyi pun diminta oleh Lutfi untuk menghibur peserta sebelum sesi diskusi dimulai. Sebuah lagu lawaspun mengalun lembut.

Pemateri yang hadir pada diskusi ini adalah dari KPSI (Komunitas Peduli Skizofrenia)  Simpul Makassar. Mereka adalah Mas Indra dan Bang Izzy (keduanya Caregiver) dan Kak Akbar  seorang ODS (Orang Dengan Skizofrenia). Mereka berbagi pengalaman  saat mendampingi ODS, termasuk ketika ODS sedang dalam kondisi yang tidak stabil. Sementara Kak Akbar, lebih menceritakan, bagaimana proses penerimaan, dan penyesuaian dirinya sebagai ODS. Ia mengakui secara gamblang sebelum menuju ke lokasi  diskusi, terlebih dahulu ia meminum obat, untuk menjaga kestabilan kondisinya.  Sebagai penyakit yang belum bisa disembuhkan seorang ODS harus disiplin meminum obat, dan menjaga ritme  kehidupannya.

Diskusi mengalir sampai dua jam. Peserta begitu aktif menyimak dan menyampaikan pertanyaan. Di sela-sela diskusi, lantunan musik dari Makassar Musical Project menghibur semua yang hadir. Ubi goreng yang gurih dengan sambel yang tak begitu pedas menambah nikmatnya diskusi di Beranda Pustakabilitas ini.

Sejujurnya, kehadiran Makassar Musical Project, ini di luar rencana pelaksanaan diskusi, hanya saja ketika tim Pustak@bilitas mendapatkan tawaran dari Bang Izzy untuk turut menghadirkan kelompok akustik yang ia gawangi, tanpa berpikir panjang Tim Pustak@bilitas-pun menyetujuinya.

Hal lain yang juga menarik, rupanya diskusi tematik ini juga dihadiri perwakilan insstitusi pemerintahan walaupun tanpa mendapatkan undangan khusus. Bapak Kamaludin  dan Bapak  Hamka dari Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Dadi Makassar  (dulu bernama Rumah Sakit Jiwa Dadi) yang berinisiatif  menghadiri kegiatan ini. Melihat hal ini,  Tim Pustak@bilitas juga memberikan kesempatan kepada mereka menyampaikan  gagasan atau pengetahuan mereka.

Keduanya sangat bergembira dengan adanya kegiatan ini, karena menjadi jembatan pertemuan mereka dengan KPSI simpul Makassar yang sudah lama mereka cari. Bagi pihak RSKD, KPSI adalah komunitas yang tepat melakukan pendekatan ke masyarakat,  khususnya pasien, maupun keluarga pasien. Mereka juga menambahkan, bahwa pemahaman  aparat pemerintahan tentang ODGJ sangatlah minim.  Bahkan, Dinas Sosial-pun,  khususnya yang berada di daerah, masih menganggap ODGJ tidak  termasuk di dalam ragam  difabel yang harus mereka layani. Menutup pembicaraannya, kedua ASN tersebut, mengajak semua pihak untuk bersinergi dalam  penanganan  permasalahan kesehatan jiwa di Sulawesi Selatan.

Tak lama setelah usai, Adzan Magrib berkumandang. Semoga, budaya mendiskusikan isu disabilitas semakin marak di Makassar melalui komunitas-komunitas yang akses bagi banyak orang. Bagi semua yang telah hadir dan mendukung diskusi Mengenal Skizofrenia ini, kami berterima kasih[]

TRAVELOGUE Seorang Pembelajar [2]: Tiba di Auckland

Oleh: Nur Syarif Ramadhan

DALAM KONSEP DASAR ORIENTASI DAN MOBILISASI*, untuk memudahkan seorang difabel penglihatan mengenal sebuah ruang ataupun benda, kerapkali menggunakan sebuah landmark (tanda) tertentu yang memungkinkannya dengan mudah bergerak dalam sebuah ruang secara mandiri ataukah mengenal sebuah benda dengan tepat.

Untuk seorang low vision seperti saya, acap kali saya melabeli barang-barang yang saya miliki dengan tanda tertentu apabila hendak bepergian atau ketika akan mengikuti sebuah kegiatan yang melibatkan banyak orang. Selain memudahkan saya dalam mengenali benda tersebut, cara ini juga dapat mencegah saya untuk tidak salah ambil apabila barang tersebut memiliki kemiripan dengan barang milik orang lain misalnya tas, sepatu dan lain-lain.

 Saya mulai memiliki firasat buruk ketika tiba di pengambilan bagasi Auckland International Airport dan mendapati label berupa pita berwarna kuning yang saya ikatkan ke salah satu ransel bawaan saya raib bersama coverbag yang menyelubunginya.

“Coverbag-nya mungkin tidak sengaja terlepas saat diangkat petugas bagasi di Jakarta atau Kuala Lumpur,” komentar seorang kawan. Saya pun sejenak lupa dengan kejadian tersebut, apalagi saat keluar bandara, Laila Harre beserta orang tua asuh kami masing-masing sudah lama menunggu.

Selama enam bulan di Auckland, saya dan Zul tinggal di rumah sepasang suami isteri yang merupakan warga lokal Aotearoa. Kath Godber—sang isteri merupakan salah seorang staf pengajar di Auckland University of technology. Dia mengajar di sport and Recreation faculty. Sementara Mike Godber—suaminya—merupakan seorang warga pendatang dari Ingris yang sudah menetap di Selandia Baru sejak 1989. Menurut ceritanya, mereka sudah menikah sejak tiga puluh tahun yang lalu, dan telah dikaruniai dua orang anak yang saat ini sudah tinggal terpisah dengan mereka.

 Saya mengetahui host family yang rumahnya akan saya tinggali kira-kira sebulan sebelum berangkat ke Auckland melalui email dari Laila Harre. Dalam menentukan host family, tiap-tiap peserta INSPIRASI 2019 diwajibkan mengisi sebuah online  form yang mengharuskan kami memberikan beberapa informasi seperti hobi, preferensi makanan, riwayat kesehatan, apakah bisa hidup berdampingan dengan hewan peliharaan seperti anjing/kucing, dan informasi lain yang dianggap penting untuk diketahui oleh calon host family.

Saat tiba di auckland dan di jemput host family.

Saya menginformasikan bahwa saya seorang muslim yang memiliki pantangan untuk tidak memakan daging Babi dan minum minuman beralkohol.  olahraga yang biasa saya lakukan adalah jogging, soccer dan catur. Saya tidak ada masalah dengan kucing, tapi sedikit takut dengan anjing. Saya juga menceritakan tentang perbedaan kemampuan yang saya miliki dalam melihat serta meyakinkan calon host family bahwa meski saya seorang difabel, saya akan berusaha beradaptasi dengan cepat, dan mandiri.

 Ternyata, preferensi yang saya tulis di form tersebut banyak kesamaannya dengan apa yang Zul Khaedar Purwanto tulis, dan itu ternyata cocok dengan Kath dan Mike. Maka jadilah kami diputuskan tinggal Bersama mereka. Pada tahun ini, hanya ada delapan keluarga yang bersedia menjadi host bagi kami, jadi ada dua keluarga yang memiliki dua anak asuh, Kath dan Mike salah satunya.

DI AUT, Auckland University of Technology

How do you know someone, Syarif? By Smell or by voice?” kira-kira itu pertanyaan yang ditanyakan Kath saat kami jalan bersisian, mendorong troli bagasi  menuju area parkir bandara. Sekitar lima langkah di depan kami, Zul dan Mike juga jalan bersisian, membicarakan topik yang berbeda. Mereka juga sedang berusaha saling akrab.

 “By Voice.”

Saya memang lebih mudah mengenal seseorang dengan suara, tidak terbiasa menggunakan indera penciuman. Tapi ada juga beberapa kawan buta yang lebih mudah mengenali seseorang melalui bau.

Dari Bandara International Auckland, kira-kira kami membutuhkan waktu lebih dari 25 menit dengan mobil menuju Avondale, West-Auckland. Sepanjang perjalanan, baik Kath maupun Mike, banyak bercerita tentang keluarganya, olahraga yang rutin mereka lakukan, serta memperlihatkan beberapa landmark dan nama jalan utama di Auckland yang kami lalui yang sayangnya sudah tidak mampu ditangkap oleh mata soakku. Pukul 11 malam Auckland sudah tidur. Volume kendaraan yang berlalu Lalang amatlah sedikit. Sesekali kami melewati genangan air yang menandakan kota ini baru saja diguyur hujan.

Kath dan Mike gemar berolahraga. Mike tergabung dalam sebuah klub renang di Auckland, dan Kath merupakan Atlet marathon. Keduanya pernah mengikuti kompetisi olahraga tingkat internasional di Penang Malaysia pada 1991 dan masing-masing menyumbangkan medali untuk New Zealand pada cabang olahraga yang mereka geluti. Hingga kini keduanya masih rutin berolahraga.

Saya cukup tertarik dengan cerita Kath, karena juga pernah beberapa tahun menjadi atlet lari jarak pendek (sprinter) untuk nomor lari 100 dan 200 meter. Tahun 2010, saya meraih sebuah medali emas untuk nomor lari 100 meter dengan catatan waktu 12 detik dan meraih medali perak untuk nomor 200 meter. Empat tahun selanjutnya, saya kembali meraih dua medali perak pada dua nomor lari tersebut.   namun kurangnya perhatian pemerintah kala itu bagi atlet difabilitas membuat saya pensiun dini, memutuskan  lebih fokus ke pendidikan.

Usai mendengar ceritaku, Kath hanya bisa turut prihatin. Ia berjanji akan mengajak kami sesekali ikut jogging bersama teman-temanya di klub lari marathon tempat dia bergabung.

Tiba di kediaman Kath dan Mike, kami dipandu melihat seisi rumah secara keseluruhan. Secara garis besar, rumah mereka memiliki dua lantai. Di bagian bawah terdapat sebuah ruang besar yang mereka bagi menjadi ruang menonton, ruang makan dan dapur. Terdapat sebuah kamar tidur yang berdampingan dengan kamar mandi. sebuah garasi berisi beberapa jenis kendaraan; sebuah mobil, sebuah motor, dan beberapa jenis sepeda,  terdapat di bagian samping rumah.

Di lantai atas, hanya terdapat tiga kamar tidur dan sebuah kamar mandi. Saya menempati kamar satu-satunya yang berada di lantai dasar , sedangkan Zul di lantai atas. Kath dan Mike juga menggunakan kamar di lantai atas. Kami hanya diperbolehkan menempati kamar mandi yang berada di lantai bawah, yang tepat berada di samping kamarku.

Selanjutnya, mereka menjelaskan fungsi beberapa benda dan cara menggunakannya yang mungkin sebelumnya belum pernah kami jumpai. Karena kami tiba saat Auckland sedang memasuki musim dingin, yang konon suhunya di antara 2 hingga 15 derajat, maka dua hal yang pasti kami butuhkan adalah heater (Penghangat Ruangan) dan Electric blanket (selimut elektrik). Mereka juga menjelaskan cara menggunakan Microwave, dishwasher, stove dan washing machine.

You can cook everything whenever you want,” ujar Mike sambil mencontohkan cara menyalakan kompor gas. Ia menunjukan lemari penyimmpan bahan makanan yang sejajar dengan lemari pendingin.

 “Unfortunately, my skill at cooking nearly zero.”

So do I,” aku tersenyum merespon kalimat Mike.

Mike-lah yang bertanggung jawab soal masak-memasak di rumah ini. Perihal kebersihan rumah, merawat tanaman biasanya dikerjakan Kath. Karena kami sama sekali tidak punya pengetahuan dalam bidang masak-memasak, kami menawarkan untuk membersihkan segala peralatan dapur usai makan malam tiap harinya sambal sesekali mungkin belajar ilmu memasak dari Mike.

Bersama mike godber dan Zul

Saya cukup terkesan dari cara mereka berdua mengajari kami. Mereka cukup peka dengan kekurangan penglihatan saya. Tiap-tiap menjelaskan satu benda, mereka dengan sopan akan terlebih dahulu menyentuhkan benda tersebut ke tangan saya. Saat saya melakukan kesalahan, mereka dengan sopan mengoreksinya. Tantangan terbesar mungkin hanyalah persoalan Bahasa. Inilah saat pertama kalinya saya tinggal serumah dengan english native, yang hanya bisa diajak bicara dengan Bahasa inggris. Sering kali mereka harus mengulang penjelasannya atau mencari kosa kata baru yang lebih memungkinkan kami untuk paham. Begitu pun kami, terkadang harus mengulang kalimat, mungkin karena cara pelafalan (pronounce) kami kurang tepat. Tapi itulah tujuannya tinggal di sini. Untuk lebih memantapkan skil Bahasa inggris.

You should learn as much as you can while you here, Syarif. No doubt to ask. If you need something, feels free to let us know.”

Usai memperlihatkan seisi rumah, kami selanjutnya bercakap di ruang menonton. Sambal menikmati secangkir teh khas Aotearoa, kami menonton pertandingan Rugbi. Dua tim terkemuka di New Zealand sedang bertanding. Rugbi merupakan olahraga paling popular di sini. sayang  saya tak banyak tahu mengenai cabang olahraga ini. Selama menonton, cukup terhibur melihat antusias keluarga baru saya ini menikmati pertandingan.

Hingga kemudian kami dipersilahkan beristirahat di kamar masing-masing, setelah terlebih dahulu meminta password wifi yang mereka gunakan di rumah tersebut. Kami butuh mengabari keluarga di Indonesia jika kami sudah tiba dengan selamat di Auckland.

Saat berada di kamar itulah saya menyadari bahwa salah satu ransel saya, yang label pita kuningnya dan coverbag-nya sudah tidak ada sejak mendarat di Auckland telah dirusak seseorang. Pencuri itu merusak gembok yang saya gunakan, merobek retsleting ransel hingga sudah tidak bisa lagi digunakan. Saya lantas mengecek isinya, bertambah panik saat tidak menemukan beberapa barang. Tiga bungkus mi instan buatan asli Makassar, sepasang sandal jepit dan kartu ATM sudah diambil pencuri. Saya sendiri merasa lalai karena dengan sembrono lupa memindahkan kartu ATM tersebut ke dompet yang selalu Bersama saya.

 Saya kemudian mengecek rekening yang ATM-nya dicuri tersebut melalui e-mobile banking. Sangat bersyukur saat melihat saldonya masih utuh. Tanpa berpikir panjang langsung memblokir ATM dan memindahkan isinya ke rekening lain. Setidaknya ini bisa menjadi bahan pelajaran bagi saya untuk lebih berhati-hati.

*

Besoknya, saya bangun terlambat sekitar dua jam dari kesepakatan dengan Kath. Sebelum tidur semalam, kami berencana sarapan Bersama sekitar jam Sembilan pagi. cuaca dingin membuat tidur lebih nyaman dan lelap dari biasanya. Apalagi ini tidur pertama di New Zealand dengan suasana yang sangat jauh berbeda dengan di kampungku di Bonto Langkasa, Sulawesi Selatan.

Pada musim dingin, malam hari lebih panjang dari siang. Saat terbangun sekitar jam sebelas siang, langit masih seperti jam tujuh pagi di Bontonompo. Waktu shalat subuh hari itu jatuh pada pukul 05:41 dan fajar terbit sekitar jam 07:35. Jadi matahari baru betul-betul terlihat kira-kira sekitar jam delapan pagi. jam 16:45 sore, matahari sudah tenggelam dan mulai gelap lagi.

Bersama kath godber

Kath membawa kami berbelanja pakaian musim dingin di Kelston Mall, di 16W Coast road, Glen Eden, Auckland. Setelah itu giliran Mike yang kami temani berbelanja bahan makanan untuk seminggu ke depan di Pak’n Save (supermarket) Mount Albert.

Selama jalan-jalan hari pertama itulah saya berusaha menemukan sebuah landmark (penanda) yang bisa saya gunakan untuk bermobilitas secara mandiri di Auckland. Berbeda pada benda, landmark yang biasa digunakan oleh seorang difabel penglihatan untuk bermobilitas secara mandiri baik indoor maupun outdor biasanya berupa sesuatu yang sifatnya sudah ada dan permanen. Dalam hal ini, saat di Indonesia kadang saya menggunakan tiang listrik, lampu lalu lintas, zebracross, atau boleh jadi warna cat sebuah bangunan untuk mengetahui sebuah tempat yang ingin saya tuju.

Contohnya begini, saat dulu berkuliah di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar, kadang saya menjadikan Menara Phinisi sebagai patokan, karena bangunannya unik dan masih bisa diidentifikasi oleh indera penglihatan saya. contoh lain, saat saya ingin ke Gedung Graha Pena di jalan Urip Sumiharjo, saya akan menggunakan flyover sebagai penanda. Saat mulai akrap dengan google Maps, sebenarnya metode ini sudah teramat jarang saya gunakan. Namun, saat tiba di Auckland, saya cukup kesulitan menghafal nama-nama jalan, jadi saya coba dengan menggunakan metode lama. Namun ternyata itu juga cukup sulit. Sepertinya saya akan membutuhkan waktu yang cukup lama agar bisa mandiri berkeliling Auckland.

Mungkin saya harus bertemu seorang warga difabel visual asli Auckland yang kira-kira bisa bercerita bagaimana dia bepergian secara mandiri. Ataukah mungkin saya harus memberanikan diri berkeliling secara individu seperti yang dulu saya lakukan di Makassar. Saya yakin, kelak saya bisa melakukannya[].

Note:

* Orientasi dan Mobilitas atau sering disingkat OM merupakan salah satu cabang ilmu yang mempelajari cara seorang difabel penglihatan untuk mengenali benda maupun sebuah lokasi dengan menggunakan indera lain yang masih berfungsi.

Memenangkan Inklusi di Sekolah

Oleh Nabila May Sweetha

SATU TAHUN BERLALU. Waktu yang terasa singkat, dengan kerikilyang banyak di dalamnya. Teringat lagi, kala di mana saya harus mendaftar ke sekolah baru. Kecewa karena ternyata nama saya tak terdaftar di kartu keluarga, lantas sendirian pergi ke Dukcapil.

Pada saat itu, jujur saya amat takut. Bagaimanapun, saya baru kali itu bepergian sendiri tanpa orang tua. Satu dua pegawai Dukcapil bertanya, di mana orang tua saya? Hanya menggeleng, entah harus menjawab apa. Gentar sebenarnya. Tapi satu yang saya tekankan pada kala itu, langkah harus tetap terayun, bagaimanapun beratnya. Itulah proses yang harus terlalui.

Saat merasa sangat malas, sangat tertekan. Saya selalu ingat kembali, bahwa masa-masa sulit ini akan berlalu. Teringat sulitnya proses pendaftaran di SMA Negeri 11 Makassar. Menerima beberapa penolakan, hingga kata-kata semacam “anak ini bukan tempatnya di sini!”. Guru-guru di SMA Negeri 11 Makassar, kala itu menawarkan diri membantu saya mendaftar ke Sekolah Luar Biasa.

Saya jelaskan, bahwa semasa SMP dulu saya bersekolah di SMPLB, dan kini keluar karena hendak mencari pengalaman baru. Orang-orang yang dipanggil guru itu, tiada ingin mengerti. Terus mencecar dengan pertanyaan, tetapi tak ingin mendengarkan penjelasan saya. Bagi mereka, ijasah yang mereka miliki sangat pantang menerima penjelasan dari difabel yang baru lulus SMP. Mereka berkeras, ingin mendaftarkan saya ke SLB terdekat.

Saya saat itu, di hari ke dua pendaftaran, hanya ditemani adik sepupu yang masih duduk di sekolah dasar. Mungkin melihat saya datang tanpa orang tua, hanya ditemani bocah, membuat pihak sekolah memandang saya sebelah mata.

Baca lebih lengkap di
https://ekspedisidifabel.wordpress.com/2018/11/08/jika-kebutaan-bukanlah-bencana/
https://ekspedisidifabel.wordpress.com/2018/09/16/mengubah-stigma-tak-bisa-hanya-dengan-teriak-saja/

Alhamdulillah, walau sulit akhirnya saya diterima masuk ke sekolah yang terkenal dengan prestasinya di bidang olahraga itu. Melalui proses PLS (Perkenalan Lingkungan Sekolah), hingga masuk ke dalam masa ajar mengajar. Perkenalan dengan guru-guru, ada yang manis, pun pahit. Ada guru yang menerima dengan tangan terbuka, bahkan memiliki pikiran luas seperti aktivis difabel kebanyakan. Tetapi lebih banyak yang mengasihani, atau malah memarahi. Lagi-lagi, karena mata saya buta.

Nabila foto selfie dengan teman sekelas

Di semester awal itu, adaptasi dengan pihak sekolah berjalan alot. Saya yang ragu-ragu ingin berkat, menjelaskan cara saya belajar. Dan guru kebanyakan yang merasa tidak perlu mendengarkan pejelasan saya. Bagi difabel netra yang bersekolah di sekolah reguler. Pelajaran semacam ekonomi, matematika, fisika, dan kimia menjadi soal terberat. Begitu pula dengan saya, guru-guru mata pelajaran itu tak ingin melakukan negosiasi.

Di kelas sepuluh, kebetulan sekali wali kelas saya adalah guru ekonomi. Tetapi jauh dari harapan, dia lebih galak dari guru-guru lainnya. Wali kelas saya itu juga, yang akhirnya ingin mengeluarkan saya dari sekolah. Alasannya fatal, semua guru mengadu dan mengaku tak bisa menghadapi saya. Berkeras, saat itu saya terus bertahan. Dengan berkilah, selama ini bisa mengikuti proses ajar mengajar dengan baik dan benar. Tetapi guru ekonomi itu, yang juga wali kelas saya, menolak dengan kata-kata kasar.

“Panggil orang tuamu ke sekolah.” Tukasnya.

Itu adalah kala di mana, ujian harian pertama dilaksanakan di kelas. Dan saya hanya bisa duduk diam, karena guru itu menyuruh anak-anak mengerjakan tugas di kertas. Tiada tolerasi. Saya juga sempat menawarkan opsi, yaitu ulangan lisan atau menulis di laptop dan nantinya akan saya print. Tetapi guru itu tidak ingin, tetap dengan pendiriannya, minta orang tua saya untuk datang.

Sedikit informasi, orang tua saya tidak ada yang bisa datang ke sekolah. Alasannya, bapak saya orang sibuk. Setiap hari berpindah kota dan daerah, membuat dia pastinya tidak punya waktu untuk ke sekolah. Mama saya, sedari awal sudah tidak setuju jika saya sekolah di sekolah negeri. Bisa dikata, mama saya juga penganut pemikiran yang sama dengan guru ekonomi saya itu. Dari awal mendaftar, mama saya juga sudah mengingatkan. Bahwa saya yang memilih sekolah umum, dan dia tidak ingin campur tangan dalam apapun itu masalah sekolah. Fix, saya tak punya orang yang bisa dipanggil ke sekolah. Jadilah kala itu, saya minta tolong pada satu organisasi yang peduli dengan hak-hak difabel. PerDIK, nama organisasinya.

Singkat cerita sekertaris dan bendahara PerDIK datang ke sekolah, dan setelah itu membuat tulisan tentang sekolah yang ingin mengeluarkan saya. Tulisan itu viral dalam waktu yang cukup singkat, dan sangat cepat menyebar di seluruh form-form pendidikan. Saya ingat sekali, PerDIK berkunjung ke sekolah di hari Jumat. Full day school, berarti sabtu dan minggu murid libur.

Di senin pagi, saat baru saja upacara ingin dimulai, guru-guru berdatangan meminta maaf pada saya. Baik yang pernah menyinggung perasaan, pun yang belum pernah bicara sama saya sekalipun. Inti apa yang disampaikan mereka sama, meminta maaf dan meminta tulisan itu dihapus secepatnya. Mereka ingin, PERdiK membuat tulisan konfirmasi yang membersihkan nama sekolah.

Semenjak itu, sekolah menjadi lebih ramah. Bertahap, satu dua langkah menjadi tempat yang lebih menerima kehadiran murid difabel. Satu dua guru, memang masih tak menyukai saya. Tetapi lebih memilih mendiamkan, ketimbang memberi kata-kata tajam seperti dahulu. Pun, saya sudah mendapat banyak teman. Padahal sebelum PERdiK berkunjung ke sekolah, satu biji teman pun saya tak punya. Maklum, anak milenial. Mungkin tiada yang ingin berteman dengan saya, karena mereka malu. Terlebih lagi, karena anak-anak di sekolah saya itu terhitung sangat kekinian.

Awal ingin bersekolah di sekolah umum, saya banyak disuntikkan masukan-masukan yang membuat saya takut. Berlebihan, hingga berpikir sekolah reguler itu amat menakutkan. Para senior-senior, berkisah perihal masa SMA mereka dengan sangat menyeramkan. Membuat saya, sempat hampir mengurungkan niat untuk bersekolah di luar SLB. Ternyata, ketakutan itu hanya ilusi yang jika kita semakin takut, maka akan lebih menakutkan lagi apa yang terjadi.

Menurut saya pribadi, untuk adik-adik yang ingin bersekolah umum, tak perlu menanamkan prasangka-prasangka yang terlalu menakutkan. Saya tak ingin, di Indonesia terkhususnya Makassar, jumlah difabel yang ingin bersekolah di sekolah umum semakin menurun. Dan persoalannya, hanya karena takut duluan. Sekolah reguler tidak seburuk apa yang kalian pikirkan, sungguh. Cukup menjadi anak yang rajin, giat belajar, dan pandai-pandai bersosialisasi. Rasanya tidak akan seburuk apa yang diceritakan orang banyak.

Tahun lalu, saya tak berani masuk satu ekskul pun. Tahun lalu, saya menahan lapar dan haus saat di sekolah. Tahun lalu, saya hanya menggigit bibir bawah kala mendapat kata-kata bullying dari guru ataupun teman. Tahun lalu yang asyik, yang mengajarkan saya arti bersabar. Sekarang, saya lebih banyak belajar lagi. Jadilah menyimpulkan, mereka yang ingin bersekolah reguler, tak sepantasnya menerima cerita-cerita tentang sekolah yang menakutkan dll. Yang ada, mereka takut sebelum mencoba. Biarkan mereka berproses sendiri, dan akan meminta bantuan saat merasa butuh.

Impian saya tak muluk-muluk, hanya ingin menjadi awal dari satu yang dianggap mungkin. Selama ini, difabel netra yang berhasil sekolah di sekolah negeri hanyalah lelaki. Jarang, bahkan belum ada anak netra di Makassar, perempuan, yang bersekolah di sekolah reguler.

Tahun lalu, saya dan satu rekan memilih merintis hal itu. Perempuan difabel, bersekolah di sekolah reguler. Kawan saya, juga difabel penglihatan, gugur dalam pertandingan ini. Dia tinggal kelas, dan entah bagaimana sekarang kabarnya. Dan saya berharap, bisa bertahan hingga mendapat ijasa SMA Negeri 11 Makassar ini. Agar adik-adik saya kedepannya, tahu bahwa perempuan netra juga bisa bersekolah. Tiada sekat di antara kita yang dianggap minoritas. Saya hanya ingin menjadi langkah awal, agar adik-adik perempuan kedepannya tidak ragu-ragu untuk sekolah di luar SLB.

Bagaimanapun baiknya Sekolah Luar Biasa, tetap lebih baik sekolah reguler. Karena kita bisa bersosialisasi, dan mendapat pelajaran yang setara dengan anak Indonesia yang lain.

Nabila bersama teman-teman yang berprestasi

Bersama dua teman, saya pekan lalu mengikuti cerdas cermat. Alhamdulillah, kami dapat juara dua. Tak buruk, untuk kami yang tidak terhitung pintar. Mendapat piala, uang, dan golden ticket untuk masuk bimbel.

Dari dua teman, hanya saya yang mendapat golden ticket itu. Alasannya karena selama perlombaan berlangsung, saya yang paling sering menjawab pertanyaan. Tetapi bukan hadiah-hadiah itu yang membuat saya bahagia, sebenarnya. Dengan mengikuti perlombaan itu, setidaknya saya sudah menunjukkan kemampuan ke guru-guru. Membuat mereka, sedikitnya sadar punya siswi buta yang sedikit punya harga. Walau mungkin saya tak bisa disuruh ini dan itu, tetapi sekurang-kurangnya saya bisa membantu sekolah dalam mewakili mengikuti olimpiade semacam itu. Guru-guru semakin baik, dan saya juga mendapat lebih banyak teman[].