TRAVELOGUE Seorang Pembelajar [4]: UPACARA POWHIRI

Oleh: Nur Syarif Ramadhan

Syarif berdiri di salah satu sudut ruangan rumah adat Maori

Seorang perempuan Maori memasuki kelas kami yang masih di ruangan wt1440, AUT Tower. Ia menenteng sebuah gitar, duduk di salah satu kursi di bagian belakang ruangan , lantas memetic gitar dan bernyanyi.

Te Aroha

Te Whakapono

Me Te Rangimarie

Tatou tatou e

Perempuan itu terus bernyanyi, mengulangi empat baris lirik diatas sebanyak empat kali. Kemudian ia melanjutkan dengan lagu lain, yang masih berbahasa Maori; He honore dan Puriane. Boleh jadi, tak ada satu pun dari kami yang paham makna tiga lagu tersebut, hingga kemudian seorang perempuan lain yang kali ini berkulit putih membagikan sebuah buku pada kami satu persatu. Buku tersebut berisi puluhan lagu tradisional dalam Bahasa Maori, yang sayangnya tidak ada versi digitalnya.

“Besok kita akan mengikuti upacara penyambutan ala adat Maori.” Laila menjelaskan.

“Kalian baru bisa dianggap sah diterima di sini jika kalian telah disambut  dengan upacara adat.”

Saya menangkap nada keseriusan dari kalimat itu. Dua tamu perempuan ini akan menyiapkan kami sebelum mengikuti upacara penyambutan tersebut, termasuk mengajari kami beberapa lagu Maori, bagaimana memperkenalkan diri dalam Bahasa Maori, serta banyak bercerita mengenai makna dibalik seremoni tersebut.

Auckland University of Technology (AUT) atau Te Wānanga Aronui o Tāmaki Makau Rau (Maori) merupakan salah satu universitas yang masih tergolong muda di Selandia baru. Namun, itu bukanlah penghalang bagi kampus ini bersaing dengan kampus besar lain dalam hal kualitas Pendidikan dan layanan untuk mahasiswa. Selain memiliki tiga kampus utama di Auckland dan menawarkan lebih dari 250 program studi di berbagai bidang, mulai dari seni dan desain hingga Bahasa,  AUT dengan bangga terpilih sebagai universitas milenial nomor satu di selandia baru, dan berada di peringkat 50 besar universitas berusia di bawah 50 tahun (QS World University Rankings, 2019). AUT menawarkan berbagai layanan dukungan untuk mempermudah kehidupan perkuliahan mahasiswa. Hal ini termasuk layanan dukungan disabilitas, dukungan mahasiswa internasional, layanan konseling, serta dukungan spiritual dan keagamaan bagi seluruh kepercayaan mahasiswa.

AUT memiliki relasi penting dan kuat dengan suku Maori. Sebagai bentuk penghormatan terhadap ‘Perjanjian Waitangi’, AUT mendirikan Marae (rumah adat Maori) di tengah kampus (City Campus) sekitar tahun 1990an. Walaupun rumah adat ini terlihat sangat semi modern, namun arsitekturnya masih sarat makna dengan tradisi suku Maori seperti simbol-simbol, patung, dan cerita-cerita lokal. Salah satu tradisi yang sangat menarik ialah Powhiri, tradisi menyambut orang-orang non-Maori dalam Marae untuk menjadi bagian dari keluarga orang Maori. Dalam tradisi lokal orang-orang Maori, tanah tidak dimiliki dalam pengertian sebagai hak milik perorangan atau sekelompok orang (ownership). Tapi, tanah dipahami sebagai ibu, dan jiwa bagi semua orang. Oleh karena itu, dalam proses perkenalan (Pepeha), kami harus lebih dulu menyebutkan daerah asal, tempat tinggal, kemudian baru menyebutkan nama. Untuk menjadi bagian dari keluarga suku Maori, maka tanah menjadi penghubung yang sangat kuat.

Berikut merupakan cara saya memperkenalkan diri dalam Bahasa Maori, saat upacara Powhiri:

Kia ora tatou

No Indonesia ahau 

Kei Makassar ahau e hoho ana 

Ko Nur Syarif Ramadhan toku ingoa 

No reira, tena koutou katoa

*

Foto bersama pasca upacara penyambutan

Di hari yang sudah ditentukan, kami lantas menuju Marae yang masih merupakan bagian dari AUT dengan mengenakan pakaian adat daerah kami masing-masing. Sebenarnya itu tidak wajib, tapi menurut penjelasan yang kami terima, orang Maori senang dengan tamu yang memperkenalkan kebudayaannya pada mereka. Beberapa staf pengajar yang kami temui selama proses orientasi turut menyertai kami. Bahkan Michael Naylor, Executive Officer Union Aid, datang langsung dari wellington untuk hadir.

Pada umumnya, Marae adalah kompleks lahan dan bangunan berukir yang dipagari, yang dimiliki oleh iwi (suku), hapū (marga), atau whānau (keluarga) tertentu. Suku Māori menganggap marae sebagai tūrangawaewae – tempat mereka berpihak dan berasal. Marae digunakan untuk pertemuan, perayaan, pemakaman, lokakarya pendidikan, dan ajang suku penting lainnya.

Sebelum kami mengikuti upacara, terlebih dahulu kami memasuki sebuah ruangan yang tepat berada di samping Marae. Di situ kami lagi-lagi diberitahu beberapa hal yang tidak boleh kami lakukan selama upacara berlangsung. Semua tas kami tinggal sementara beserta makanan dan minuman yang sebelumnya kami bawa dari rumah masing-masing. Kami juga tidak diperkenankan mengambil gambar selama penyambutan itu berlangsung. Kami boleh membawa hp, tapi harus di matikan. Usai briefing, kami pun berkumpul di depan Marae, menunggu aba-aba.

Pōwhiri dimulai di luar marae dengan wero (tantangan). Seorang satria dari tangata whenua (tuan rumah) akan menantang manuhiri (tamu), untuk memastikan apakah mereka kawan atau lawan. Ia membawa taiaha (senjata mirip tombak), dan menaruh benda penanda berupa dahan kecil  untuk dipungut oleh pengunjung sebagai tanda bahwa mereka datang dalam damai. Salah satu dari kami memungut tanda tersebut, menandakan kami datang dengan maksud baik.

Seorang wanita yang lebih tua dari pihak tuan rumah kemudian melakukan karanga (seruan) kepada manuhiri. Ini merupakan isyarat bagi kami untuk mulai beranjak masuk ke marae. Seorang wanita dari kelompok kami yang sebelumnya telah ditentukan menyahut menyambut seruan itu. Kami selanjutnya melangkah menuju marae bersama-sama dalam kelompok, dengan perlahan dan hening, dengan perempuan mendahului berjalan di depan. Kami berhenti di tengah jalan untuk mengenang para leluhur Maori yang sudah mangkat.

Kami lagi-lagi berhenti sejenak di depan marae, membuka sepatu sebelum melangkah masuk, kemudian menempati kursi-kursi yang sudah diatur secara berhadap-hadapan antara tamu dan tuan rumah. Seterusnya, salah seorang tetua tuan rumah mmenyampaikan pidato dalam Bahasa Maori yang mungkin bermakna selamat datang. Benny (peserta inspirasi dari Biak) mewakili kami menyampaikan pidato perkenalan tentang program belajar yang akan kami jalani selama enam bulan di Aotearoa. Saat berpidato, benny memadukan beberapa Bahasa yakni Bahasa biak, Indonesia, Ingris dan ditutup dengan Bahasa Maori.

Tepat saat Benny mengakhiri pidatonya, salah seorang dari tuan rumah memainkan gitar, kemudian nyanyian Maori pun dilantunkan oleh pihak tuan rumah. Tak mau kalah, kami pun membalas nyanyian tersebut dengan lagu-lagu yang telah kami latih sehari sebelumnya dengan juga diiringi gitar.

Untuk mengakhiri tata krama formal pagi itu, kami dari pihak tamu dan tuan rumah saling menyapa dengan hongi – upacara bersentuhan hidung. Setelah pōwhiri, kai (makanan) akan disajikan, sesuai tradisi manaakitanga atau keramahtamahan Māori.

“Sekarang kalian sudah menjadi bagian dari keluarga Maori, jadi kalian bebas mengelilingi kompleks ini. Kapanpun kalian mau. Kalian sudah boleh mengambil gambar jika kalian ingin.” Salah seorang tetua dari pihak tuan rumah yang ternyata sangat vasih berbahasa inggris menyilahkan kami. Merespon itu kami pun mengeluarkan handphone masing-masing, mengabadikan peristiwa spesial pagi itu. []

Kursi-Kursi Roda Dalam Masjid

Oeh Ade Siti Barokah adalah Program Officer The Asia Foundation

Jumat, 10 Oktober 2019. Deru pesawat berbaur lantunan azan dari Masjid Jami ‘Al Akbar di kompleks Bandara Internasional Yogyakarta. Di tengah jamaah Jumat, Bahrul Fuad duduk tenang di kursi rodanya. Hingga saat ini, pemandangan seperti ini nyaris mustahil bisa dibayangkan: kursi roda Bahrul [bisa-bisa] malah akan dilarang masuk areal masjid.

Bahrul Faud menghadiri sholat di Masjid Jami ’Al Akbar, Bandara Internasional Yogyakarta, Indonesia. Aktivismenya melalui ‘fiqh disabilitas’ memungkinkan kursi roda di masjid.

Pemikiran Islam telah lama memperlakukan sepatu dan sandal — dan kursi roda — sebagai pembawa kotoran dari jalanan yang tidak boleh mengotori tempat ibadah. Seperti sepatu dan sandal, kursi roda harus ditempatkan atau diparkir di luar. Bagi jamaah pengguna kursi roda, hal lazim ketika mereka merangkak atau dibopong ke dalam masjid. Tapi hari ini, Bahrul—disapa akrab Cak Fu bisa beribadah secara bermartabat dengan kursi rodanya. Larangan kursi roda memasuki masjid telah dicabut, dan Cak Fu—salah satu aktivis difabel [red]—yang memainkan peran sentral.

Kunci membuka pintu untuk perubahan penting ini adalah fiqh, atau yurisprudensi Islam. Sementara hukum ilahi tidak dapat diubah, fiqh adalah ranah penafsiran manusia yang menerapkan hukum tersebut pada moral, ritual, dan legislasi sosial. Fiqh dianggap dapat berubah, dan, kadang-kadang, bahkan bisa keliru. Pandangan ini sering digunakan sebagai contoh bagaimana Islam seringkali mendorong penelitian berkelanjutan atau ber-ijtihad, demi menyesuaikan prinsip-prinsip keadilan dengan konteks dan keadaan terkini. Cak Fu berperan penting dalam mengumpulkan sekelompok cendekiawan Islam Indonesia untuk menimbang kembali yurisprudensi Islam tentang disabilitas. Hasil dari upaya keras ini, pemerintah dan masyarakat mengubah cara padangnya terhadap difabel, terutama persamaan hak difabel untuk beribadah.

Keberhasilan Cak Fu ini memberi rasa senang khususnya bagi pihak yang turut mendukung upaya panjangnya, di antaranya The Asia Foundation.

“Ketika ia pertama kali bertemu kami kami untuk mendapatkan dukungan,” kenang Sandra Hamid, direktur TAF di Indonesia, “kami merasa skeptis terhadap upaya mengembangkan yurisprudensi Islam sebagai gagasan manjur untuk mengatasi marjinalisasi. Saya bertanya pada Bahrul mengapa teks-teks Islam harus dieksplorasi untuk membangun kerangka kerja baru, ketika bersikap baik kepada difabel sudah menjadi bagian dari ajaran agama.”

Cak Fu berpendapat bahwa, meskipun “kebaikan” bagi difabel berlimpah, hal itu dilakukan, misalnya, dengan cara membantu menaikkan difabel pengguna kursi roda naik ke atas dengan tangga-tangga. Sementara, akses untuk kursi roda, dan martabat bagi kami yang menggunakannya, ditolak [tetap terabaikan, red] karena adanya perspektif tentang “kesucian”.

“TAF benar-benar menerima argumennya, dan kami menawarkan dukungan untuk upaya tersebut,” ujar Sandra Hamid,

Fiqh baru mengakhiri aturan lama bahwa kursi roda, seperti sepatu dan sandal, tidak boleh masuk masjid. (Foto milik Bahrul Fuad)

Penelitian awal kemudian dilakukan di tiga kabupaten di Jawa Timur oleh Pusat Studi dan Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lebih 90 persen masjid di sana tidak dapat diakses jamaah difabel. Para pengelola masjid tidak hanya melarang kursi roda, tetapi kebanyakan dengan desain bertangga panjang dan tidak memiliki lift. Hal lain, tempat berwudhu sering kali terletak di area yang sulit diakses.

Ketidakaksesan juga terjadi bagi jemaat Tuli, di mana tak ada masjid yang mengupayakan adanya Juru Bahasa Isyarat (JBI) yang menerjemahkan khotbah oral ke sistem isyarat. Hal lain lagi, terlepas dari adanya keyakinan bahwa shalat Jumat diterima Tuhan hanya bagi jemaat [yang bisa] “mendengar” dan menerima khotbah, ketiadaan JBI untuk jemaat Tuli merupakan bentuk diskriminasi difabel.

Penelitian ini, yang melibatkan difabel, cendekiawan Muslim, pejabat pemerintah, dan perwakilan masyarakat, berlanjut selama sekitar 15 bulan. Para cendekiawan muslim menemukan bahwa, dalam banyak hal, teks-teks Islam yang mereka periksa dapat ditafsirkan untuk memungkinkan adanya pengecualian bagi difabel. Setelah pertimbangan panjang dan perumusan tafsir baru atas fiqh, mereka lalu mengumumkan fiqh baru tentang masalah disabilitas: terdapat 86 bagian (pasal) terpisah, keputusan menyerukan untuk mengakhiri stigma tentang disabilitas dan menyatakan inklusi dan aksesibilitas sebagai target yang wajib dicapai, termasuk akses bagi kursi roda, juru bahasa isyarat, dan melarang tindakan pelecehan bagi difabel.

Para peneliti menyampaikan rekomendasi mereka kepada Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) Indonesia, organisasi Muslim terbesar di dunia, yang secara resmi mendukung fiqh baru ini. Kemudian, fiqh diadopsi oleh Kementerian Agama, mengangkat isu-isu disabilitas ke wacana nasional. Bagi Indonesia, ini adalah kemajuan besar!

Masjid Ramah Difabel

Pengenalan fiqh disabilitas di Masjid Istiqlal di Indonesia. (Foto: Farid Arif Fandi)

Agustus lalu, Saat Idul Adha 2019, hari libur yang dirayakan setiap tahun oleh umat Muslim di seluruh dunia, menandai pelaksanaan fiqh disabilitas ini, dimulai dari Masjid Istiqlal, masjid paling penting di Indonesia dan menjadi rujukan bagi masjid-masjid lain di negara ini. Untuk pertama kalinya, kursi roda diizinkan memasuki masjid, dan tempat khusus disediakan untuk jamaah yang menggunakan kursi roda di barisan depan. Dua layar besar dan monitor televisi di setiap sudut menampilkan bahasa isyarat selama khotbah berlangsung. Selain itu, pengurus masjid juga memobilisasi sukarelawan dari Pemuda Istiqlal dan Komunitas Pemuda Lintas Agama, yang sudah bekerja sejak pukul 3:00 dini hari untuk membantu jamaah difabel melakukan sholat Idul Adha.

“Saya berdoa sambil menangis, mengingat bahwa selama 11 tahun saya hanya bisa mengikuti doa-doa di Istiqlal melalui tontonan televisi,” seru Syaiful, seorang jamaah berkursi roda.

“Luar biasa! Hari ini aku ada di dalam masjid!”

Seorang jamaah lain mengatakan dia biasanya berdoa di masjid di dekat rumahnya, di mana dia meninggalkan kursi rodanya di luar dan kemudian merangkak ke masjid. Seorang pria Tuli mengatakan ini adalah Idul Adha yang paling mengesankan yang pernah dialaminya, karena untuk pertama kalinya ia dapat memahami khotbah melalui juru bahasa isyarat.

Perasaan senang dan emosi meluap dari wajah-wajah itu dengan cepat menyebar ke seluruh negeri saat proses Idul Adha disiarkan di televisi dan menarik perhatian media-media nasional.

Buku Fikh ini, bukan sekadar soal yurisprudensi Islam disabilitas terkait kursi roda, bahasa isyarat atau soal infrastruktur lainnya, tapi buku Fikh ini sekaligus merupakan penghargaan atas martabat semua manusia[].

Ade Siti Barokah dapat dihubungi di ade.siti@asiafoundation.org. Tulisan asli dalam bahasa Inggris dapat ditinjau di sini Pandangan dan pendapat yang diungkapkan di sini adalah dari penulis, bukan dari The Asia Foundation.

DISKUSI DIFABEL DAN KEMISKINAN

dilaksanakan oleh pustak@bilitas

Poster Diskusi (teks tersedia)

Halo Sahabat Pustak@bilitas

Tahukah kamu, 17 Oktober lalu diperingati sebagai hari Pengentasan Kemiskinan Internasional?

Sebagai isu multidimensional, kemiskinan memiliki banyak kesamaan dengan isu Difabel. Menariknya, kedua lingkaran ini, sering bersinggungan hingga menghasilkan irisan yang berujung pada kerentanan berlipat.

Bersama Ishak Salim, Kaprodi Ilmu Politik Universitas Teknologi Sulawesi dan Ermawati dari PerMaTa (Perhimpunan Mandiri Kusta) DPC Gowa. Selaku pemercik bara diskusi. Kita akan mencoba menelaahnya dari berbagai perspektif.

Seperti biasa, Rumah PerDIK Sulsel (Jln. Syekh Yusuf Komp. Graha Aliyah Blok A3a, Katangka, Kec. Sombaopu, Gowa) menanti kehadiran dan gagasanmu di Sabtu sore, 15.00 WITA hingga usai, 26 Oktober 2019.

Pastikan Kehadiranmu, dengan mengirimkan pesan (Nama Lengkap_asal Instansi_Difabel dan Kemiskinan) ke Luthfi di WA-nya 085342577787. Tersedia E-Sertifikat.

credited for Andi Kasri Unru

logo pustakabilitas (buku, aksara latin, aksrara braille, audio, isyarat bahasa isyarat dan tulisan pustakabilitas/pustak@bilitas

TRAVELOGUE Seorang Pembelajar [3]: Bertemu Dengan Disability Support OF AUT

Oleh Nur Syarif Ramadhan (Penerima beasiswa INSPIRASI 2019, aktivis PerDIK)

“Are you might be student from Indonesia, Aren’t you?”

Perempuan paru baya itu menyapa saya dan Zul yang tergesa-gesa dan Nampak kebingungan keluar dari lift Gedung AUT Tower, lantai 13. pukul 09:05 waktu Auckland, dan dari skejul yang kami terima, seharusnya kami sudah berada di kelas di lantai 14 tepat jam Sembilan. Kami sebelumnya sudah naik ke lantai 14, tapi seorang perempuan yang sepertinya salah seorang staf AUT mengatakan jika  tidak ada kelas untuk internasional students hari itu di lantai 14. Ia malah menyuruh kami ke lantai 13.

Syarif berdiri di depan kampus AUT

“Yes, We are.” Jawabku singkat.

“Perkenalkan, saya Karent Rutherford, kepala sekolah international House, Auckland University of Technology. Apakah kamu Syarif?”

Mendengar kalimatnya barusan, saya sedikit khawatir. Ini merupakan hari pertama belajar di Universitas Tekhnologi Auckland, atau lebih dikenal dengan Auckland University of Technology (AUT), dan belum apa-apa, kami sudah terlambat, malah ketemu dengan salah satu orang penting AUT pula.

Sebenarnya pagi itu kami sudah mencoba berangkat lebih awal. Aplikasi google maps mengatakan jarak menuju Gedung AUT Tower di WakefieldStreed Auckland CBD dari tempat tinggal kami di Avondale sekitar 10 km. Jarak sejauh itu membutuhkan sekitar 35-40 menit menggunakan bus. Kami lalu berangkat dari rumah sekitar pukul delapan pagi karena dari rumah menuju halte bus (bus stop), masih harus berjalan sekitar tujuh sampai sepuluh menit. Saat keluar dari rumah itulah, suhu dua derajat yang disertai angin menampar-nampar tubuhku yang ringkih dan sedikit menghambat perjalanan. Saat bernafas, kusaksikan kabut putih terbentuk dari udara yang kuhembuskan. Kami juga ternyata menghabiskan waktu lebih lama dari yang diperkirakan google maps di atas bus.

“Yes, I am.”

Karent lantas menjabat tanganku.

“Syarif, hari ini, kita akan bertemu dengan AUT Disability Support, berbincang tentang bagaimana kami seharusnya memfasilitasimu dalam belajar, sekaligus kamu akan lebih awal mengikuti placement test untuk mengetahui  di kelas mana nanti kamu bergabung di program English Course.” Mungkin melihat wajah kami yang khawatir, Karent berusaha menenangkan.

“Kalian boleh tunggu di sini. biarkan saya yang ke lantai 14, mencari di ruangan mana kelas kalian, dan menjelaskan ke Laila kalau kalian tersesat. Jangan khawatir. Ini biasa kokk terjadi. Apalagi kalian masih baru di sini.”

Selama 25 minggu mengikuti program INSPIRASI, dua minggu pertama, kami akan mengikuti orientasi yang diorganisir oleh Faculty of Social Science and Public Policy. Dalam masa orientasi, kami akan berkunjung ke area kampus utama AUT yang meliputi ruang kelas, perpustakaan, Student Medical Center, masjid, serta akan bertemu dengan beberapa staf pengajar yang akan berinteraksi dengan kami selama di Auckland. Kami juga akan mengikuti upacara penyambutan ala Maori (powhiri) dan akan mengunjungi tempat-tempat penting dipusat kota Auckland seperti stasiun kereta, pelabuhan, perpustakaan kota dan beberapa museum dan tempat wisata.

Usai masa orientasi, kami selanjutnya akan mengikuti kursus Bahasa inggris selama 12 minggu di pusat Bahasa AUT atau lebih dikenal dengan international House AUT. Kami akan belajar di kelas internasional, bersama dengan pelajar dari negara lain.

Sebelas minggu terakhir, akan kami gunakan untuk belajar mengenai Sustainable Development Course yang tema pembelajarannya meliputi: hak asasi manusia, masalah lingkungan, Social Enterprise, pengembangan masyarakat adat, community development dan sebagainya. Kami juga diminta memilih satu tema khusus yang harus kami pelajari selama berada di New Zealand (Special Interest) yang berhubungan dengan area kerja kami masing-masing di organisasi. Akan ada seorang mentor yang akan membantu kami dan menyediakan bahan bacaan dan beberapa kunjungan ke organisasi yang berhubungan dengan area ketertarikan yang kami fokuskan. Dalam sesi ini pula, nantinya kami akan berkunjung ke Wellington, ibukota New Zealand, berkunjung ke beberapa tempat yang salah duanya adalah Gedung parlement selandia baru dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Kami juga berkesempatan mengalami hidup langsung ditengah-tengah suku asli selandia baru (Maori) selama seminggu.

*

Hari Pertama di kelas Laila Harre

Sebuah pelukan hangat kami terima dari Laila saat tiba di ruangan WT1440 di lantai 14 AUT Tower. Sayangnya wanita yang awalnya kami temui di lantai itu yang menyuruh kami ke lantai 13 tadi sudah tak ada.

Kelas yang kami gunakan ini merupakan ruang pertemuan yang biasanya menjadi tempat rapat para pimpinan Fakultas Social Science  and public policy AUT. Terdapat empat buah meja berbentuk persegi yang diposisikan saling merapat berbentuk memanjang, dikelilingi kursi-kursi kantoran tepat di tengah-tengah ruangan. Di bagian depan sebelah kanan, terdapat seperangkat komputer, dan sebuah layar berukuran 32 inci menempel di dinding tepat di sebelah komputer. Di bagian tengah, terdapat lemari berisi ATK yang posisinya merapat di dinding sebelah kiri, yang dihadapannya, atau di dinding sebelah kanan ruangan juga terdapat sebuah papan tulis yang menempel di dinding. Tiap-tiap dari kami lantas memilih kursi masing-masing, mengitari meja sambal menyaksikan Laila melakukan presentasi dengan slide yang ditampilkan di layar.

Sekitar satu jam kemudian, dua petugas dari Australia New Zealand Bank (ANZ), memasuki kelas kami. Mereka akan membantu kami mengaktifkan rekening bank yang akan kami gunakan selama di Aotearoa. Sepuluh menit pertama, petugas lelaki yang berseragam serba hitam menjelaskan secara pintas mengenai ANZ Bank serta layanan-layanan yang ditawarkan pada para nasabah. Sedangkan petugas satunya membagi-bagikan sebuah brosur dan sebuah form yang sepertinya harus kami isi dengan terlebih dahulu mengecek paspor kami satu persatu. Mereka juga meminta kami menginstal sebuah aplikasi android bernama GoMoney New Zealand, agar lebih mudah bertransaksi secara online. Kami juga diberikan sebuah kartu ATM (debet card) yang juga bisa digunakan bertransaksi di manapun di Aotearoa sehingga tidak perlu membawa uang tunai.

Saat orientasi di salah satu gedung kampus AUT.

Proses ini membuat saya terkesan. Saat saya mengatakan saya lowvision, tidak ada keraguan dari kedua petugas itu untuk mengajari saya menggunakan aplikasi e-mobile banking (GoMoney New Zealand). Mereka mengajari saya menggunakan aplikasi tersebut, memastikan jika screen reader dapat mengakses semua vitur-vitur yang tampil dalam aplikasi dengan sabar. Tak ada masalah juga dengan tandatanganku. Pendeknya, semua hal yang biasanya dipermasalahkan petugas bank di Indonesia saat seorang calon nasabah buta atau lowvision ingin membuka rekening bank tidak terjadi di sini.

Siangnya, Laila mengajak kami keluar Gedung AUT Tower, menunjukan beberapa food court yang bisa kami datangi saat makan siang. Ada banyak sekali pilihan makanan yang tersedia, umumnya makanan asia seperti Jepang, India, Vietnam, Korea, dan Cina. Sayangnya tak ada dari Indonesia. Mulai saat itu, saya mulai membiasakan lidah dengan beraneka ragam makanan yang rasanya jauh sekali dengan masakan Indonesia.

*

Sekitar jam dua siang, saya kembali ke lantai 13, menemui Karent yang kini bersama dua koleganya dari AUT Disability Support. Keduanya memperkenalkan diri sebagai John dan Hana.

Saya kemudian terlibat pembicaraan serius dengan Jon. Dengan Bahasa Inggris yang masih malu-malu, saya menjelaskan tentang kedifabilitasan saya, bagaimana saya belajar, dan bagaimana saya biasanya mengakses buku pembelajaran dengan scan.

“Di sini, kamu tidak perlu memindai buku. Saya bisa minta ke penerbit versi digital buku yang digunakan dosen saat mengajar di kelas.”

Jon selanjutnya menyerahkan sebuah flashdisk yang berisi dua buah file soal Bahasa Inggris yang harus saya kerjakan sebagai placement test. Dua file itu memiliki format yang berbeda.

“Kamu cukup memilih satu file saja. Disitu ada file yang berformat word, dan ada yang berformat txt. Pilih yang paling aksesibel dengan screen readermu,” ujarnya tenang.

Sebenarnya, dua buah file tersebut aksesibel. Sepertinya Jon sudah amat berpengalaman memfasilitasi seorang difabel visual. Saya saat itu memilih file yang berformat word, kira-kira membutuhkan waktu sekitar 90 menit mengerjakan 50 soal grammar pilihan ganda, dan dua buah writing. Untuk soal grammar, saya memberi tanda huruf X yang diapit dengan tanda kurung pada akhir kalimat pada huruf yang saya anggap benar. sedang untuk writing, saya langsung menuliskan jawaban saya di bawah soalnya. Usai mengerjakan soal, saya menjelaskan cara saya menjawab baik kepada Karent maupun pada Jon.

“Syarif, you still have more time if you want.”

“Thanks. I am confident enough with what i did”

Karent kemudian mengambil flashdisk dari tanganku, memeriksa jawabanku melalui komputer yang terdapat di ruangan itu.

Selanjutnya saya berbincang dengan Jon dan Hana. Saya menyampaikan pada keduanya, bahwa salah satu hal yang ingin saya pelajari selama di Selandia baru yakni bagaimana pemerintah mengakomodasi warga difabel dalam hal Pendidikan. Kami pun berjanji, akan bertemu lagi di kesempatan berikutnya, mereka berjanji akan mempertemukan saya dengan salah seorang difabel yang juga bekerja di AUT disability support. [*]

Yang Terabaikan di Balik Gunung Tondong Karambu

Oleh Rizal (Peserta Pendidikan Penelitian dan Pengorganisasian desa, SRP Payo-Payo)

Penyandang disabilitas atau juga dikenal dengan sebutan difabel, meski memiliki pemaknaan yang berbeda tentang dua penamaan di atas, arahnya tetap sama yakni tertuju pada mereka yang memiliki kamampuan yang berbeda dengan manusia pada umumnya.

Sudah beberapa pekan ini saya dan seorang teman meneiliti soal difabel di desa Bonto Masunggu, Tellu Limpoe, Kabupaten Bone. Mulai dari bagaimana kisah masa kecil setiap difabel, kebiasaan atau keseharian difabel, interaksi sosial dengan anggota masyarakat, perilaku difabel, dan bagaimana difabel di mata orang tua mereka serta anggota masyarakat. Desa ini merupakan desa terpencil di Sulawesi Selatan. Dengan jumlah penduduk sebanyak 1105 jiwa.

Ya’di (kiri) saat mengunjungi basecamp panitia PPPD

Setiap hari kami menyusuri desa mencari tahu keberadaan difabel di dua dusun, Elle dan Tokella. Jika kami menemukan informasi terkait warga dengan disabilitas, maka kami akan mewawancarai orang tua mereka dan orang-orang yang ada di sekeliling difabel dan tentu saja, jika keadaan memungkinkan mewawancarai difabel. Penelitian ini menarik bagi saya pribadi sebab ini menjadi pengalaman awal saya tentang bagimana mengorganisir difaebel atau keluarga yang memiliki anggota difabel. Apalagi saya seorang yang awam akan hal itu.

Belajar Disabilitas di desa

Melalui penelitian ini, kami belajar mengenai isu disabilitas yang dibimbing oleh kak Ishak Salim, salah satu anggota Sekola Rakyat Petani Payo-Payo dan pendiri PerDIK Sulsel (Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan). SRP Payo-Payo adalah anggota dari Komunitas Ininnawa yang mengadakan kegiatan Pendidikan, Penelitian, Pengorganisiran dan Pendampingan Desa (PPPPD). Kegiatan ini berlangsung selama 2 bulan dengan diikuti 23 peserta. Kelompok lain selain meneliti isu disabilitas adalah kelompok Paggolla (Pengrajin Gula Merah), Kelompok Kekerabatan dan Sistem Pengelolaan Lahar Bergilir, kelompok Penggunaan Energi untuk Memasak, kelompok Pengelolaan Air Bersih, kelompok Layanan Kesehatan berbasis desa, dan seorang kawan yang meneliti tentang Kelompok pemuda desa yang memilih tinggal di desa.

Dari temuan kami, kami mengidentifikasi karakteristik difabel di desa Bonto Masunggu. Beberapa diantaranya adalah bisu, Tuli, low vison (rabun), penyandang disabilitas fisik, mental dan intelektual. Dari data desa (Buku Sistem Informasi Desa Bonto Masunggu) , terdapat 23 difabel dan seratusan lebih orang yang diidentifikasi memiliki kondisi penglihatan yang rabun. Berdasarkan data dasar itu, kami pun mencari informasi tentang 23 difabel dengan mendatangi rrumahnya, bertemu keluarganya dan orang-orang di sekitarnya atau tetangga terdekat mereka.

Baco sedang santai di basecamp panitian PPPD setelah meminta rokok dan memilih duduk di luar dan tidak bergabung dalam obrolan

Temuan kami setidaknya menunjukkan bahwa di masa-masa kecil difabel, ada kecenderungan dari setiap penjelasan orang tua mereka bahwa, sebagian dari difabel pernah mengalami demam tinggi sampai mengalami kondisi kejang-kejang atau step. Umumnya, step pada anak merupakan perubahan elektrik pada otak. Jika sinyal-sinyal dari otak mengalami gangguan atau terjadi keabnormalan, otot-otot tubuh akan berkontraksi dan bergerak tanpa terkendali dan itulah yang terjadi saat tubuh kejang-kejang. Dalam penjelasan medik, ketika terjadi step secara berulang-ulang pada anak (kurang lebih 15 menit lamanya).

Menurut informasi medik, kondisi itu akan berpengaruh pada disfungsi syaraf-syaraf otak  bagi anak kecil yang mengalaminya. Penyakit step timbul dikarenakan penurunan daya tahan tubuh pada anak dan juga serangan bakteri yang dapat menimbulkan penyakit. Biasanya hal ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh anak sedang mengadakan perlawanan terhadap penyakit akibat perubahan cuaca yang tidak menentu. Temperatur suhu tubuh yang rentan pada anak kisaran 38-39 derajat Celsius, pada saat itulah rawan terjadi step pada anak, dikarenakan lonjakan suhu badan tidak mampu dikontrol oleh tubuh (Sumber: doktersehat.com).

Sejauh penelitian kami, sudah ada empat difabel yang mengalami hal itu di masa kecilnya. Kami menduga ia mengalami gangguan otak sehingga menyebabkan lamanya mereka mengakses sesuatu hal baru yang mereka pelajari.

Gejala yang terjadi pada difabel lainnya adalah ada yang terjatuh di masa kecilnya. Ada yang jatuh dari kasur, dari tangga, dan ada pula yang tertimpa kepalanya oleh benda dengan begitu keras. Orang-orang di sekelilingnya meyakini dan beranggapan bahwa itu menjadi salah satu indikasi kenapa kemudian ia menjadi difabel.

Setelah kami bertanya lebih dalam lagi, tentang apa yang dilakukan ketika anak-anak mereka mengalami sakit step, terjatuh dari tangga, terjatuh dari kasur, atau dijatuhi benda, sakit kepala yang begitu kerasnya dan lain-lain, mereka memiliki dua alternatif dalam berobat. Ada yang berobat ke dukun atau paranormal yang biasa mereka sebut dengan massandro ugi dan adapula berobat secara medis, ke dokter. Namun dalam pengobatan secara medis, kebanyakan dari mereka tidak terlalu rutin dalam berobat. Memang untuk berobat secara medis, mereka harus menempuh perjalanan cukup jauh sekitar kurang lebih 1-2 jam perjalanan naik kendaraan motor atau mobil.

Karena infrastruktur sarana dan prasarana dalam desa belum mampu menangani penyakit yang dialami oleh mereka yang sudah terlanjur difabel, kecenderungan yang kami dapati juga dalam hal penanganan sakit step, orang tua mereka hanya memberi pengobatan seadanya, tidak terlalu intens dalam konsultasi ke dokter mengenai penyakit yang dialami oleh anak mereka yang terkena step, maupun penyakit lainya. Sebagian dari mereka juga tidak paham apa yang dialami oleh anak-anak mereka, ketika ditanya mereka juga bingung kenapa bisa begitu.

Nampaknya pengetahuan tentang step masih sangat minim di masayarakat desa. Kini mereka, para difabel yang kami teliti sudah ada yang memasuki memasuki usia remaja, dewasa awal dan ada pula yang sudah tua. Mereka dalam sehari-harinya ada yang menghabiskan waktu di rumah, menghabisakn waktu di luar rumah dengan jalan-jalan atau keliling desa.

Suasana Diskusi Desa

Stigma Difabel dan Sekolah yang tak akses

Nyaris semua difabel ini tidak pernah menginjak yang namanya teras sekolah, apalagi duduk dan belajar di bangku sekolah. Hal ini juga menjadi pusat perhatian kami. Sebagian besar orang tua mereka menginginkan anaknya bisa belajar juga sama seperti anak-anak lainya. Walau dengan keterbatasan pada fisik maupun mental harapan orang tua untuk mereka  menjadi manusia yang terdidik tetap melekat pada mereka yang difabel. Bahkan kami juga menemukan diantara mereka ada yang pernah disekolahkan di sekolah formal seperti SD sekolah dasar, namun difabel ini memilih untuk tidak lanjut menerusakan sekolah.  Paling lama mereka hanya sampai kelas 3 Sekolah Dasar, lalu kemudian undur diri. Penyebabnya karena difabel bersangkutan tidak mampu mengikuti pelajaran yang disediakan pihak sekolah, atau sebaliknya pihak sekolah tidak peka menyesuaikan kemampuan belajar siswa difabel.

Selepas keluar dari sekolah, mereka hanya bisa belajar di rumah atau tinggal di rumah saja tanpa proses pembelajaran. Anak-anak difabel ini lalu mengurung angan mereka untuk bisa bersekolah, atau sekadar mampu membaca, menulis, atau bahkan sekadar bisa bermain dengan kawan-kawan sebayanya di sekolah.

Pandangan Keluarga dan anggota Masyarakat Terhadap Difabel di Desa

Sebagian difabel ini di mata masyarakat dilabeli dengan sebutan orang gila, gangguan jiwa, sakit jiwa, pepe (bisu), idiot, dan bodo,-bodo (bodoh). Mereka beranggapan bahwa orang yang memiliki kondisi demikian tidak perlu terlalu diperhatikan atau bahkan dibiarkan begitu saja. Ada juga yang berpendapat bukan saja sebagian anggota masyarakat tapi kadang di lingkup keluarga atau kerabat, bahwa orang-orang yang terlahir seperti mereka sudah pasti tidak disekolahkan.

Pandangan seperti itu membuat kami—yang sedang meneliti kehidupan difabel dan keluarganya—menduga bahwasanya penyakit step yang tidak ditangani secara tepat bisa menyebabkan seorang anak rentan menjadi difabel di sepanjang usianya. Minimnya pemahaman pemberian pertolongan pertama dan perawatan selanjutnya, ditambah dengan sulitnya mengakses layanan kesehatan dasar maupun Rumah sakit membuat kondisi dan dampak lanjutannya menjadi tak terkendali.

Jika terjadi step pada anak-anak, dipastikan pihak keluarga kebingungan dan menjadi pasrah atas kejadian yang tak begitu dipahaminya. Di sisi lain, akses layanan rumah sakit yang jauh dan sulit membuat proses pengobatan menjadi sulit dan perawatan mediknya tidak rutin. Jika pun bisa mengakses layanan kesehatan terbaik, dengan dokter ahli misanya, maka orang tua di desa dipastikan tidak memiliki uang cukup untuk berobat dan rawat jalan.

Berikutnya, bahwasanya paradigma atau cara pandang masyarakat tentang mereka yang difabel adalah mereka dilabeli dengan kata idiot, gila dan sebagainya, sehingga menyebabkan kurangnya perhatian terhadap mereka, sedangkan mereka yang difabel adalah orang-orang yang membutuhkan perhatian secara khusus, perlakuan khusus dan pendidikan khusus—namun hingga saat ini proses itu masih belum dipikirkan.

Penelitian ini tentu masih sekadar menggambarkan apa yang terjadi di tataran permukaan. Namun informasi itu telah cukup untuk membawa isu ini ke tengah-tengah publik desa secara bersamaan dalam satu forum. Baik pemerintah desa maupun masyarakat desa perlu menyikapi persoalan ini dan berupaya mencari jalan keluar terbaik secara besama-sama agar terbangun perlakuan secara setara baik di rumah, di lingkungan sekitar, di sekolah, di masjid, di sawah-sawah dan seterusnya. Jalan perjuangan tentu masih panjang, tapi langkah awal telah terayun[]

Warna-Warni Pergerakan Difabel di balik Gagasan Berdirinya Sekolah Gradiasi

Oleh Ishak Salim (Ketua Dewan Pengurus PerDIK)

Untuk tiba sampai pada pelaksanaan Sekolah Gradiasi ini tidak hadir begitu saja. Ada proses relatif panjang sampai gagasan ini hadir.

Jika menelusurinya jauh ke belakang tentu tidak sekadar berangkat dari saat sejumlah aktivis berkumpul dan mencetuskan gagasan Gradiasi atau Gerakan Pendidikan dan Advokasi Indonesia Inklusi beberapa bulan lalu.

Semoga saya tidak keliru. Pertemuan perdana saat itu adalah saat sejumlah teman hendak mencetuskan model pendidikan gerakan difabel apa yang kami sebut sebagai Akademi Disabilitas. Tepatnya di Hotel Grand Mercure Yogyakarta tanggal 2 Mei 2018. Mungkin kebetulan saja kalau hari itu bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Namun saat itu, selain kawan-kawan aktivis difabel muda yang berkumpul, ada tokoh senior yang kami kagumi hadir, yakni Pak Setia Adi Purwanta dan Mas Sapto (almarhum). Apa kabar, Mas Sapto? Apa njenengan bikin sekolah ideologi kenormalan di alam sana? Sampaikan salamku untuk Pak Mansoer Fakih.

Bersama Pak Setia dan Mas Sapto saat merumuskan Akademi Disabilitas

Saat itu ada perwakilan dari beberapa DPO dari berbagai daerah. Sebagian besar adalah mitra TAF yang menjalankan program pemberdayaan difabel dari Pilar Disabilitas. Sebutlah Yakkum, Sigab, Sapda, Karinakas, Yasmib, Bahtera, Pattiro, PPDiS, PSLD Brawijaya, dan Perkumpulan Sehati. Saya sendiri hadir mewakili PerDIK saat itu, sementara Pak Setia sebagai pendiri Dria Manunggal dan Mas Sapto Nugroho mewakili Talenta Solo. Pihak TAF juga mengundang kawan dari Swara dan Insist yang memiliki pengalaman menjalankan sekolah aktivis. Keduanya berbagi pengetahuan dan pengalaman bagaimana kedua institusi ini menjalankan sekolah gerakannya masing-masing.

Menurutku, pengalaman Pak Setia dengan Dria Manunggal dan Mas Sapto dengan Sekolah Ideologi Kenormalan adalah menjadi dasar dari gagasan besar yang kini kami sebut Sekolah Gradiasi. Keduanya sudah melakukan hal yang sama pada zamannya masing-masing. Sebagian aktivis yang saat ini mengisi ruang-ruang strategis pergerakan adalah murid dari dua senior ini. Tentu saja, di masa 90-an ada juga aktivis senior lain melakukan pembelajaran yang serupa. Pengetahuan saya yang terbatas tak memungkinkan saya menguraikannya satu persatu.

Jadi, menurut saya, muatan gagasan yang tertuang dalam kurikulum dan pola manajemen akademi disabilitas yang kawan-kawan aktivis tuangkan saat itu tentu tak lepas dari apa yang telah ditancapkan oleh para senior gerakan difabel ini. Belum lagi, gagasan-gagasan awal yang dibahas bersama ini juga tak lepas dari pengalaman-pengalaman terkini orang-orang muda gerakan dari beragam organisasi seperti yang saya sebutkan di atas.

Setelah pertemuan itu, kami sudah memiliki dasar pijakan untuk bisa menjalankan gagasan mengenai kaderisasi aktivis difabel yang dapat diadopsi di banyak tempat. Lagi pula, salah satu kegelisahan kami sehingga mau memikirkan bekerjanya sistem kaderisasi melalui Akademi Disabilitas adalah karena adanya disparitas kader atau pimpinan aktivis Indonesia Barat dan Timur. Kami berharap banyak dari hadirnya sistem pendidikan kader ini. Stok baru pengorganisir difabel sungguh kami butuhkan.

Beberapa bulan sejak pertemuan itu saya tak mendapatkan kabar. Belakangan saya dengar, sebuah uji coba pelaksanaan Akademi Disabilitas ini dilaksanakan oleh Yakkum yang disebut Poros Belajar Inklusi Disabilitas pada 25 Februari – 11 Maret 2019 di Yogyakarta yang diikuti 24 orang kader dampingan 7 lembaga mitra Program PEDULI Pillar Disabilitas dari 10 kabupaten/kota wilayah Program PEDULI Pilar Disabilitas.

Peserta dan fasilitator Poros Belajar Inklusi Disabilitas

Poros belajar ini berjalan selama dua minggu, yang terbagi ke dalam tiga bagian: Pembelajaran teori selama 6 hari, live in di komunitas selama 6 hari dan presentasi hasil analisis sosial dan RTL selama 2 (dua) hari dan hari terakhir diadakan pelepasan wisudawan peserta poros Belajar Inklusi Disabilitas. Evaluasi atas pelaksanaan Poros Belajar ini dilakukan oleh Yakkum dan merekomendasikan sejumlah masukan dan menjadi dasar pendiskusian selanjutnya.

Gagasan ini, walaupun sudah mulai berjalan, tetap menjadi bahan diskusi sejumlah teman aktivis di saat pada waktu tertentu bertemu dan mengharapkan agar pematangan gagasan tetap dilakukan. Sampai akhirnya, atas inisiatif Sigab kembali mempertemukan para aktivis untuk membahasnya. Saat itu, 3 Mei 2019, Sigab mengumpulkan sejumlah mitranya untuk membahas satu event yang disebut ‘Semiloka Pembentukan Jaringan untuk Pengawalan Indonesia Inklusif 2030’ di Prime Plaza Hotel Jogjakarta. Pesertanya gak tanggung-tanggung, mencapai 50-an aktivis gerakan dari seantero republik.

Partisipan Semiloka Pembentukan jaringan untuk Pengawalan Indonesia Inklusi 2030

Melalui fasilitator yang menyenangkan, Rival Ahmad, teman-teman merumuskan tiga gagasan besar untuk mengakomodasi mimpi-mimpi pergerakan difabel ini, yakni Divokasi, Gradiasi, dan Blue Economy. Divokasi merupakan arena melakukan kerja-kerja pengorganisasian dan avokasi; Gradiasi menjadi arena melakukan pendidikan dengan tujuan kaderisasi dan pematangan pengetahuan dan pengalaman para aktivis dan mitranya; serta blue economy menjadi arena menghimpun seluruh kerja terkait penguatan ekonomi difabel. Kira-kira begitu.

Beruntung, teman-teman Yakkum menyambut gagasan GRADIASI untuk segera direalisasikan dan bisa segera dilaksanakan. Sebagian teman-teman lalu bertemu lagi, khususnya mereka yang menjadi bagian yang turut membahas lahirnya gagasan yang disebut Gradiasi ini. Pertemuan digelar di Yakkum di jalan Kaliurang km 13,5 pada 17 – 18 Juli 2019. Saat itu, pikiran dan memori lagi-lagi diperas dan kami akhirnya bisa menyusun aspek-aspek yang mendasari sebuah Sekolah bisa berjalan.

Ada tiga lapis pendidikan yang kami impikan, yakni pada level dasar, menengah, dan tinggi. Kami mengatur sedemikian rupa agar materi pembelajaran tidak tumpang tindih antar level. Jika pun sama materinya, tentu yang berbeda adalah tingkat kerumitannya saja. Artinya, jika di tingkat dasar seluruhnya hanya berisi pengenalan paradigma, pengetahuan dan isu-isu disabiltas, maka level berikutnya akan menyesuaikan dengan tingkat pengalaman setiap peserta.

Nah, dua minggu terakhir ini, setelah pertemuan di Sleman itu, kawan-kawan sibuk saling berkomunikasi. Saya, dan beberapa kawan lain, tak bisa hadir karena sedang di desa mengampu pendidikan pengorganisasian sejumlah orang muda sehingga hanya sesekali bisa memberi masukan secara jarak jauh saja. Sampai akhirnya semuanya terasa telah siap dan teman-teman memutuskan mencobanya.

Kini pendaftaran Pendidikan Aktivisme Difabel berpengetahuan mulai dibuka. Mari kita coba niat baik ini. Semoga sukses ya. Ayo mendaftar!

Poster Pendaftara Sekolah GRADIASI

Penjelasan Teks dalam Poster (untuk pengguna smartphone dengan aplikasi pembaca layar)

Gradiasi, atau Gerakan Pendidikan dan Advokasi Indonesia Inklusif berkomitmen untuk bersama-sama dengan semua pihak memperkuat gerakan difabel dengan menyelenggarakan Sekolah Kader dan Aktivis Gerakan Difabel. Melalui sarana ini, diharapkan akan melahirkan kader dan aktivis gerakan difabel yang mempunyai komitmen dan tangguh, sekaligus akan membentuk jaringan aktor gerakan difabel yang kuat.
Pada kesempatan ini kami membuka Kelas Dasar bagi para aktivis difabel yang ingin meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan advokasi inklusi disabilitas di daerahnya.

Materi Kelas Dasar:
• Kesadaran dan Penerimaan Diri
• Mengenal Difabel dan Disabilitas
• Analisa Sosial
• Advokasi Kebijakan
• Pengorganisasian Komunitas
• Materi Isu Tematik
• Manajemen Organisasi dan Kepemimpinan
• Dasar-dasar Perencanaan dan Pengelolaan Kegiatan

Pendaftaran : 14 – 31 Oktober 2019 (link pendaftaran lihat di bio diatas)
Pengumuman : 1 Nopember 2019
Pelaksanaan : 10-19 Nopember 2019

Syarat & Ketentuan:
• Usia minimal 21 tahun
• Memiliki ketertarikan terhadap isu disabilits
• Dapat diikuti oleh disabilitas atau bukan disabilitas

Fasilitas yang tersedia:
• Biaya pendaftaran gratis • Akomodasi di warga setempat selama 10 hari gratis • Materi dan proses pelatihan gratis • Transportasi jogja ke lokasi belajar gratis

Penyelenggara tidak menanggung :
• Transportasi dari daerah asal ke Yogyakarta (udara, laut, darat)
• Uang saku selama pelaksanaan sekolah
• Kebutuhan pribadi peserta

Dewan Akademik & Fasilitator :

  • Bahrul Fuad (Konsultan Disabilitas & Inklusi Sosial)
  • Joni Yulianto (SIGAB Indonesia)
  • Sunarman (Kantor Staf Presiden)
  • Suharto (SIGAB Indonesia)
  • Dr. Ishak Salim (PerDIK)
  • Jonna Damanik (Institut Indonesia Inklusi)
  • Angga Yanuar (NLR Indonesia)
  • Ranie A. Hapsari (PR YAKKUM)
  • Luluk Ariyantiny (PPDiS)
  • Edy Supriyanto (SEHATI Sukoharjo)
  • Christian Pramudya (PPRBM Solo)
  • M. Ismail (SIGAB Indonesia)
  • Dan kawan-kawan

Informasi lebih lanjut:
Christian 081927430500
Eko Jolang 085200181118

GELAR LAPAK BACA DISABILITAS DI TAMAN RASA: Catatan Komunitas Pustakabilitas Pada MIWF 2019

Lapak Baca Pustakabilitas

“Iya, Pustakabilitas dapat free booth dengan ukuran 4 X 5 Meter, tapi berbagi dengan Sahabat Lemina.”

Suara lembut Kak Ibnu dari Rumata Art di ujung telepon sana, sedikit  menenangkanku. Kepastian Pustakabilitas ikut serta pada event Makassar International Writers  Festival  (MIWF) terjawab dengan sahih. Setelah sedikit  berbasa-basi, dan memastikan  peralatan  dasar yang perlu kami bawa, saya mengakhiri komunikasi yang menyenangkan ini.

Sayapun melangkah ke ruang depan Rumah PerDIK, sembari menyampaikan, bahwa kita telah mendapatkan free booth di area festival para penulis ini nanti. Saat itu, kami sedang kedatangan Bang Jonna Aman Damanik. Ia aktivis difabel dari Jakarta, dulu mengampu Penerbitan Majalah DIFFA, kini sebagai Direktur Institut Inklusi Indonesia (iii) dan selama ini banyak membantu tim PerDIK bertumbuh. Kedatangannya ke Rumah PerDIK sebenarnya adalah untuk mendiskusikan bagaimana kami sebaiknya mengelola Pustakabilitas PerDIK, sebuah perpustakaan yang kami cita-citakan menjadi Arsip Disabilitas Indonesia. Selain Bang Jonna, ada juga Ketua Dewan Pengurus PerDIK, Kak Ishak Salim.

Mendengar ucapan saya, dengan  nada santai Bang Jona lantas  berujar, “kalau gitu, sekarang aja kalian  rapat persiapannya, mumpung lu semua pada di sini.”

Kami bersepakat dan memulai rapat  persiapan keikutsertaan  PerDIK dalam MIWF. Bang Jonna tentu saja menemani kami dalam diskusi ini.

Saya memulainya dengan membahas tujuan  kehadiran PerDIK di MIWF 2019 ini. Secara umum, kami bersepakat bahwa, tahun ini, MIWF adalah ajang bagi Pustak@bilitas untuk show off ke masyarakat, khususnya bagi pembelajar, dan pegiat literasi yang hadir di sana.

Setelah jelas, kami lalu berbagi tugas.  Cukup lama kami membahas agenda ini. Sejujurnya,  Saya dan Rafi (seorang kawan yang turut aktif di PerDIK), hari ini ingin membahas persiapan Pelatihan Pola Asuh Bagi Orangtua yang memiliki anak difabel di SLB Cendrawasih. Kawan-kawan lain, seperti Nur Hidayat (Yayat) dan Zakia juga memiliki agenda pembahasan yang lain. Namun, dengan pertimbangan, mumpung Bang Jona dan Kak Ishak masih bersama  kami di Rumah PerDIK, rapat inipun secara dadakan kami lakukan.

Setelah proses saling berpendapat, akhirnya kami pun bermufakat, bahwa  pada ajang ini, Pustak@bilitas akan menurunkan 2  skuad yang masing-masing memiliki tugas sebagai berikut:

Skuad A yang terdiri dari saya, Zakia, Yayat, dan Rafi akan bertugas menyiapkan dan membawa logistik ke area MIWF. Skuad ini juga bertanggungjawab menyiapkan dan menata booth selama festival berlangsung.

Lalu skuad B, yang terdiri dari  dari Lala, Yoga dan Ismail. Skuad ini bertugas  menyambut dan mempromosikan  Pustak@bilitas kepada pengunjung booth kami. Selain itu, mereka juga bertugas mengisi beberapa mata  acara yang akan digelar di booth Pustakabilitas. 

Berikutnya pembahasan rundown  agenda booth Pustak@bilitas selama kegiatan MIWF berlangsung.  Beberapa kegiatan yang akan  dilaksanakan tersebut ialah: pembacaan puisi (dengan braille dan  sign language), braille workshop, permainan aksesibel, diskusi, dan empatik games.

*

Ramai di lapak Pustakabilitas

Pelaksanaan MIWF itu tanggal 26 – 29 Juni 2019. Pada hari kami menyiapkan logistik dan memeriksa booth itu sudah tanggal 23 Juni. Menurut Rafi, saat mengecek lokasi, space yang  kami dapatkan hanya seluas 3 kali 3 meter. Dengan luas itu pun kami mesti berbagi dengan komunitas yang lainnya.  Saya cukup kaget mendapatkan kabar ini. Saya juga tak bisa membayangkan bagaimana seabrek logistik yang kami siapkan saat ini dapat tertampung dalam ruang seimut itu.

Saya lalu meraih smartphone dan menghubungi  pihak panitia. Saya ingin mengonfirmasi hal itu.

Diawali dengan permintaan maaf, seorang panitia membenarkan informasi Rafi. Luas free booth yang PerDIK dapatkan memang hanya seluas itu dan harus berbagi dengan komunitas lain. Merespon hal ini, saya menyampaikan bahwa, kami membawa beberapa peralatan yang berukuran cukup besar, sehingga membutuhkan space lebih luas. Negosiasipun terjadi, dan kita bersepakat, Pustak@bilitas, boleh menggunakan lahan kosong di sebelah booth itu.

Menyadari kondisi itu, pengangkutan  logistic baru bisa kami laksanakan  pada Rabu 24 Juni 2019.

Awalnya tak ada yang aneh ketika kami melakukan bongkar muat barang, dan menatanya seapik mungkin. Skuad A yang bertugas saat itu heran dengan aktivitas komunitas lain di gubuknya masing-masing. Kita melihat komunitas se-booth kami telah mengeluarkan dan menata aneka barang handicraft. Saat itu kami berpikir, bahwa memang mereka menggelar produk ekonomi kreatif disamping buku-buku yang mungkin nantinya akan mereka gelar. Masing-masing kami tetap pada kesibukan menyiapkan dan menata logistik.

Hari pertama, pengunjung sepi. Hanya terdapat beberapa orang tertarik dengan beberapa alat bantu aksesibilitas bagi difabek dan permainan yang kami gelar. Kami menunjukkan beberapa contoh seperti kursi roda, kruk, dan catur aksesibel bagi difabel visual—kami menyebutnya dengan permainan blindfold chess atau permainan catur dengan mata tertutup.

Rupanya kondisi ketidaklaziman booth kita semakin terasa. Kabar datang dari Rafi dan yayat. Keduanya baru saja kembali berkeliling di area Benteng Rotterdaam dan mengamati seluruh booth di area kami. Keduanya mengatakan bahwa, sepertinya kami salah tempat, karena semua booth di sekitar kami adalah komunitas-komunitas yang menjual aneka barang atau jajajan. Pun demikian dengan buku-buku yang digelar merupakan jualan mereka. Area ini tidak menyerupai taman membaca sama sekali. Menurut Yayat, semua komunitas literasi ada di area lain, taman baca dan tempat kami saat ini adalah taman rasa.

Pernyataan merekapun terkonfirmasi, setelah sore harinya, salah seorang kawan dari Komunitas KataKerja menghampiri booth kami. Ia mengatakan bahwa, area ini adalah area berjualan bukan  untuk area baca. 

Mendengar hal ini, senyum dan tawa kelelahan kami pun menghiasi sore yang unik itu. Ditambah lagi dengan Yoga yang menimpali bahwa, pantas saja, ada beberapa pengunjung booth, yang mengira kami berjualan alat bantu dan buku-buku disabilitas, hehe.

Hari itu, kami tak memutuskan berpindah tempat. Kami biarkan keberadaan kami di sini hingga acara seremoni pembukaan MIWF rampung.

*

Keesokan harinya, kami memutuskan untuk membuka lapak baca agak lebih siang, hal ini berdasarkan pengamatan hari pertama, di mana penggunjung lebih ramai saat sore menjelang. Tepatnya pukul 13.45 WITA. Siang itu, saya, Yayat dan Zakia mulai mengangkut buku-buku  beserta beberapa logistik pendukung untuk mendirikan lapak di Taman Baca, sesuai kesepakatan di hari sebelumnya.

Sembari menunggu pengunjung ke lapak PerDIK, Skuad Pustak@bilitas menikmati sajian kopi buatan Barista andalan Perdik dialah Yayat, dengan bermodalkan teko listrik, beberapa gelas plastik air  kemasan, kopi, dan gula. Yah, setidaknya kopi racikan Yayat cukup nikmat mengusir kantuk  saya yang terbuai semilir angin di area taman ini. Hari itu, pengunjung pertama kami adalah beberapa  Mahasiswa  Poltekesos (Politeknik Kesejahteraan Sosial) Bandung yang  sedang liburan ke Makassar.

Beberapa pengunjung bermaksud meminjam buku dan membawanya pulang, dengan janji mengembalikan esok harinya. Tapi kami tidak memenuhinya karena aturan kami buku-buku Pustakabilitas hanya dapat dibaca di lapak saja. Selain itu, ada juga diantara mereka  tertarik mempelajari alphabet Bahasa isyarat, dan braille yang terpampang di X-Benner. Kami dengan senang hati memberikan pelajaran-pelajaran singkat.

Selain mahasiswa yang berkerumun, ada 2 perempuan paruh baya yang tertarik mempelajari huruf braille. Mereka memperhatikan dengan seksama saat ismail memperaggakan cara menulis huruf braille  dengan riglet dan stilus. Mereka bahkan menanyakan di mana dapat membeli alat-alat tersebut. Saya memberitahukan  tempat untuk membelinya yang berada di seputaran Ujungpandang Baru.

Tak terasa senjapun menjelang dan kami mulai mengemasi dan merapikan kembali lapak baca Pustak@bilitas. Kami merasa senang dengan keramaian sore ini. Apalagi di sebelah lapak kami ada komunitas Juru Bahasa Isyarat yang sudah akrab dengan kami. Kami satu gagasan dalam memperjuangkan hak-hak difabel.

*

Hari Berikutnya adalah Jumat. Seusai melaksanakan Shalat wajib ini, saya, Yayat, Rafi, dan wiwi (seorang relawan, Pekerja Sosial/peksos) kembali menata lapak seapik mungkin. Tak lupa kami menaruh 1 kursi roda di tempat yang mudah terlihat sebagai tanda keberadaan lapak Pustak@bilitas.

Selepas adzan Ashar berkumandang,  kami memutuskan untuk mengantarkan Lala membacakan puisinya di spot yang memang tersedia bagi mereka yang ingin mengolah rasa dengan rangkaian kata. Lala yang bernama lengkap Nabila May Sweetha adalah anggota PerDIK. Ia masih duduk di bangku SMA, kelas II dan sangat produktif menulis. Ia juga mulai menyukai puisi dan tertarik membawakan puisinya yang merupakan balasan dari sebuah puisi M. Aan Mansyur berjudul Sajak Buat Istri yang Buta dan Suaminya yang tuli.

Sajak Buat Suami Yang Tuli Dari Istrinya Yang Buta

Maksud sajak ini juga sederhana.

Hanya ingin memberitahumu bahwa musik yang mengalun di pelaminan terdengar lembut jika menyentuh pendengaran, tetapi bolu yang para tamu makan lembutnya melebur dalam lidah. Memang keduanya lembut, tetapi lembut yang berbeda, sayang.

Di bawah sana banyak bibir yang bergerak, kau mungkin melihatnya tapi tak tahu mereka sedang membicarakan kita. Sementara silih berganti tamu menyalami, juga membicarakan kita.

Aku selalu membayangkan, hari itu, kita seperti sepasang pohon di musim semi. Kau pohon yang menimbulkan riuh suara burung, aku pohon yang menguarkan bau wangi. Aku dengar, orang-orang datang bercakap perihal kehidupan keluarga mereka, tapi tak tahu bagaimana raut wajah mereka.

Bisakah kau menggambarkannya padaku, Sayang?

Nabila May Sweetha, 15 juni 2019.

Foto bersama Kak Lusia Pelow
(Kiri: Ismail, Lala, Rahman Gusdur, Luthfi, Lusia, dan Zakia)

Selain pembacaan puisi Lala tadi, di lapak kami juga menggelar permainan catur aksesibel. Rafi yang awas dan Ismail yang buta bermain  catur akses. Di sekeliling lapak baca ini ada juga beberapa permainan digelar di masing-masing lapak mereka. Kami cukup senang dengan aktivitas bermain yang sekaligus mengkampanyekan keberagaman kemampuan manusia dari perspektif disabilitas.

Hari ini, kami juga kedatangan kawan dari Maluku. Ia adalah Kak Lusia Pelow. Ia aktivis kemanusiaan di Ambon. Tahun lalu ia merupakan fasilitator kami saat menggelar kegiatan Social Justice Youth Camp atau SJYC Sulawesi Selatan di desa Kambuno, Bulukumba. Ia datang bersama Direktur PerDIK, Abd Rahman dan katanya, ia sedang menemani seorang dari Maluku untuk berobat dari Tumor yang menyerangnya.

Kami mengobrol singkat mengenai PerDIK dan Pustakabilitas dan rencananya mendirikan satu organisasi serupa di Ambon. Semoga impian itu bisa diwujudkan Kak Lusia bersama kawan-kawannya. Kabar terakhir beberapa hari lalu, Ia lolos dalam seleksi berikutnya sebagai calon anggota komisioner Perempuan.

Ismail yang totally blind bermain catur dengan Rafi yang awas

*

Hari ini hari terakhir. Menurut salah seorang pengunjung lapak kami, penutupan sore ini tak seramai tahun sebelumnya. Kabar itu datang dari aktivis Tenoon dan sekaligus seorang juru bahasa isyarat. Ia mengikuti MIWF 2018.

Sore itu, Pustakabilitas PerDIK mendapat kesempatan memberi penjelasan mengenai PerDIK dan Pustakabilitas sekaligus menjadi pengantar diskusi yang difasilitasi oleh Tenoon. Tenoon merupakan organisasi yang didirikan untuk mengakomodasi kepentingan difabel dalam memproduksi karya olahan tangan dan dipasarkan di Indonesia dan di Inggris. Diskusi ini bertemakan ‘Disability Proud! A Journey of Self Acceptance. Saya mewakili Pustakabilitas untuk mengisinya. Kegiatan ini diadakan di I La Galigo. Selain saya, seorang psikolog dan seorang ibu yang memiliki anak Tuli turut menjadi narasumber. Jika kakak psikolog menyampaikan definisi, ciri-ciri, dan proses menuju penerimaan diri secara ilmiah,  lain halnya dengan ibu di sampingku ini, dia bercerita bagaimana proses dirinya menerima kondisi anaknya, berusaha membangun kepercayaan diri anaknya, dan memberikan dorongan bersekolah, hingga kini anaknya terlibat aktif di Tenoon.

Dengan latar belakangnya  sebagai seorang bidan, perspektif ibu ini memang sangat  kental nuansa medisnya, dan kata-kata ‘normal’ dan ‘tak normal’ meluncur deras dari mulutnya. Sebenarnya saat menyebutnya itu saya merasakan ada penurunan toon  atau intonasi yang menjelaskan bahwa ia sebetulnya kurang nyaman harus mengucapkan kata-kata tersebut. Tapi selain itu, ia jelas sukses membuat suasana peserta mengharubiru.

Saat tiba giliran saya, saya akan memberikan pandangan tentang tajuk kegiatan sore ini.  Diawali oleh pembacaan bionote saya oleh moderator, saya pun memulainya dengan pertanyaan.

“Apa yang kita ketahui dengan kata-kata cacat? disabilitas?  dan difabel?“

Untuk menjawabnya, saya mengisahkan bagaimana perjalanan hidup membuat saya  bermetamorfosa menjadi difabel? Tunggu dulu. Metamorfosa? Ia sesederhana itu saya memaknai perubahan dari non-difabel menjadi difabel. Hm, dalam tulisan ini, saya tidak akan menceritakan. Saya memilihnya untuk menyiapkan satu artikel khusus tentang itu (sabar ya pembaca, nantikan tulisan saya berikutnya).

Kembali ke Gedung I La Galigo,  berikutnya diskusi pun mengalir hingga Adzan Magrib,  pada intinya dalam diskusi, kali ini, saya berusaha, memberikan pemaknaan baru ketika seseorang mendengar kata-kata cacat, disabilitas, dan difabel dan termasuk ketika bertemu dengan mereka. Saya menyampaikan pemaparan dengan sesantai mungkin dengan selingan banyolan menyegarkan suasana.

Setelah diskusi ini, saya lalu menuju lapak Pustak@bilitas. Rupanya ada cukup ramai kunjungan ke lapak kami. Kami mengobrol beberapa hal. Di antara pengunjung, ada yang meminta saran tentang penanganan anggota keluarganya yang mengalami kondisi disabilitas mental intelektual. Ada juga seorang teman, yang berusaha membangun kembali kepercayaan diri sahabatnya yang mengalami kondisi disabilitas fisik dan pertanyaan soal dimana dan bagaimana cara difabel dapat mengakses bantuan rehabilitasi dan alat-alat bantu di Makassar atau kota-kota lain di Indonesia.

Malam menyapa Taman Rasa Fort Roterdam. Kami pun berkemas dan mempersiapkan kepulangan ke Rumah Perdik. Saya dan Kak Gusdur Rahman kecapaian. Kawan-kawan lain sedang mengurus hal lain. Ada yang mengupayakan kendaraan untuk mengangkut barang, ada yang mencari makanan, dan yang lain entah di mana. Kami hanya berdua. Niat mengikuti acara seremoni penutupan akhirnya tak kesampaian. Tak mungkin saya dan Rahman memaksakan diri ikut. Selain karena tak ada yang jaga lapak, tak ada seorang asisten atau pendamping yang bisa membawa kami. Akhirnya kami merasa cukup dengan menikmati malam yang kelam.

Tak lama kemudian, sejumlah relawan pustakabilitas datang dan membawa makanan. Hidup lalu terasa sebagai Piknik yang menyenangkan.

Cukup sekian tulisan ini. Harapan kami, semoga pelaksanaan MIWF tahun depan bisa lebih  semarak dan Tim Pustak@bilitas bisa lebih optimal dalam mempersiapkan diri[].