Oleh: Ishak Salim

Kami melabrak apapun ujaran penghinaan,
atau kalimat penuh kuasa yang mengatur dengan nada penindasan.
Huruf yang menjelma menjadi label penuh prasangka,
harus kami pikul bermil-mil sepanjang tahun.

Orang-orang cacat,
orang lepra,
orang panti,
orang tuna,
orang kurang se-ons,
dan sebutan menyakitkan lainnya,
sebagian mereka bakukan dalam regulasi.

Setiap kata, frase, kalimat dan lembar-lembar kebijakan serta buku-buku dalam perpustakaan,
berlomba-lomba memasarkan tentang kami yang sakit,
kami yang lain,
penuh dengan gangguan,
dan dengan itu di sekolahkan di tempat berbeda,
ditempatkan di kampung terpisah,
dilatih di bengkel lain,
dan hanya bagian angka 2 persen jika akan bekerja.

Itupun kami masih harus mengurus tetek bengek administrasi,
bayar jasa dokter untuk menerima cap sehat atau sakit,
dan harus bayar ojek, bentor atau bajaj,
sebelum bertemu pegawai kota dengan pandangan picing di balik meja.

Kami lalu berada dalam kuasa para orang-orang paling merasa normal,
dan kami hanya cukup dilabeli luar biasa,
sambil dibiasakan dalam bantuan atau penolakan,
dengan bungkus mesakke, kasiasi, atau ujian Ilahi.

Tapi tak semua kami pasrah atau sekarat,
banyak dari kami tak pernah diam.

Kami mengganti kata atau kalimat yang kalian sematkan dengan kalimat penuh hormat.
Kami juga bisa bermartabat,
Kami juga bisa ke jalan dan menjelaskan posisi politik kami di mata kota.

Kami punya kawan dan kawan-kawan,
mereka mau berteman dan bersama ke jalan-jalan,
menyuarakan gelisah, marah dan pikiran-pikiran jernih.
Kami ingin membantu memandu perubahan arah kota.
Dari ketidakberaturan ke jalan peradaban inklusi.

Minggu kami meramaikan kota yang sepi,
meluapkan kata-kata perlawanan,
berpose dengan poster-poster perjuangan,
jejak sepatu kami menapak aspal,
melesatkan kalimat di jagad semesta media sosial.

Kami akan terus menangkis kata-kata melompong dengan kalimat bertenaga,
sampai kalian atau mereka berhenti,
sampai kalian atau mereka paham,
lalu membantu kami meruntuhkan stigma,
dan kita membenahi keadaan setahap demi setahap.

Makassar, 16 februari 2020

Sumber foto: dokumentasi Street Campaign komunitas difabel kota Makassar pada minggu, 16 februari 2020

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.