Oleh: Ishak Salim

Petikan satu paragraf dalam salah satu status Bahrul Fuad di facebook bagus, ia bilang begini:

“Kebijakan Sistem ZONASI yang diterapkan pemerintah dalam penerimaan murid baru, menurut pengamatan saya sudah tepat. Sistem zonasi ini akan menghidupkan beberapa sekolah di daerah atau di desa – desa yang selama ini kehilangan murid dan beberapa hampir tutup karena banyak anak di desa tersebut yang bersekolah di desa lain. Selain itu sistem Zonasi akan menumbuhkan nilai-nilai inklusifitas di kalangan anak-anak. Yang pintar tidak harus berkumpul dengan yang pintar, yang kaya tidak harus berkumpul dengan yang kaya, setiap anak akan berinteraksi dengan anak-anak dengan berbagai macam latar belakang, bahkan dengan anak yang berkebutuhan khusus. Bukankah ini juga cita – cita pemerintah untuk mengembangkan pendidikan inklusif”.

Petikan paragraf di atas nyambung dengan tulisan seorang siswi berusia 13 tahun. Namanya Balqiz Baika Utami. Ia menceritakan pengalamannya bersekolah di sekolah inklusi di Jakarta. Sebelumnya ia belajar di Sekolah Luar Biasa kategori A. A berarti khusus buta atau low vision. Di negara ini, sebagian anak-anak belajar bukan di sekolah biasa, tetapi sekolah luar biasa.

Jika Tuli, ia belajar di SLB B, jika memiliki kondisi intelektual berbeda maka ia akan bersekolah di SLB C dan jika berkursi roda atau menggunakan kruk–entah karena pernah mengalami polio, cerebral palsy, atau amputasi maka nikmatilah belajar di SLB D.

Praktik pemisahan jenis sekolah ini sudah lama. Sejak jaman Belanda sudah dikenal sekolah jenis ini. Sekitar tahun 1900-an. Pemerintah RI, setelah merdeka, mulai mengaturnya pada 1950 dan mulai menerapkannya 4 tahun kemudian. Pengaturan pendidikan bagi “anak didik bercacat” sebagaimana tertuang dalam UU No. 4 tahun 1950 tentang dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah dikategorikan sebagai orang atau anak yang “tjatjat” atau “berkekurangan djasmani dan rokhaninja, yakni orang-orang yang buta, tuli, bisu, imbeciel, atau yang mempunyai ‘tjatjat-tjatjat djasmani atau rochani lainnja’ (begitu bunyi diktumnya).

Beberapa kali pengaturan sistem pendidikan berubah. Dari segregasi ke integrasi, dari integrasi ke inklusi. Walaupun terjadi perubahan, praktik segregasi tidak serta merta berganti. SLB tetap tumbuh di seluruh Indonesia dan sekolah-sekolah umum sepi murid-murid difabel. Hanya beberapa saja yang beruntung bisa merasakan prosesnya yang cadas menantang.

Cerita Balqis ini menarik. Ia bertutur sebagai anak berusia belasan yang menceritakan pengalaman dirinya dan ibunya serta teman-teman dan guru-gurunya.

Memang singkat, karena ia baru satu semester mencoba belajar di sekolah yang teman-teman dan gurunya seluruhnya dapat melihat dirinya, sementara dirinya dapat merasakan kehadiran semuanya dengan beragam inderanya, kecuali penglihatannya. Menyenangkan katanya bersekolah di sekolah inklusi.

Hm, lagi-lagi saya berpikir, sudah waktunya SLB menjadi sekolah inklusi, mengikuti sebagian karibnya, ‘sekolah biasa’ yang telah berupaya inklusif.
congrats Balqiz dan ibuk mima Primaningrum.

https://ekspedisidifabel.wordpress.com/2019/06/25/sekolahku/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.