Update Donasi Difabel Lanjut Usia Hari ke-6

Terima kasih atas kepercayaan para donatur dan relawan yang mengurus donasi publik untuk Keluarga-keluarga Difabel Lanjut Usia.

Sampai hari ke-6 ini, kami akan sampaikan bahwa:

Sampai hari ke-6 ini, kami akan sampaikan bahwa:

  1. Jumlah uang yang telah kami terima adalah sebesar Rp. 4.700.000,- (Empat Juta Tujuh Ratus Ribu Rupiah).
  2. Satu Liter Hand Sanitizer dari Isti.

Sebagai informasi, pada hari kedelapan, kami akan membelanjakan donasi ini dan akan memprioritaskan 20 – 30 Keluarga Difabel Lanjut Usia di Kota Makassar. Selanjutnya, pada hari kesepuluh akan dikirimkan paket bantuan melalui pengantaran langsung atau go-send (Dengan tetap mempertimbangkan aspek higienitasnya).

Berikut Update Donasi

30 Maret 2020
12. Ardi Yansyah, Rp. 100.000
13. C N, Rp. 300.000

29 Maret 2020
10. Elvita , Rp. 1.000.000
11. Chaerunniza Fitriani, Rp. 50.000

28 Maret 2020
7. No Name, Rp. 300.000
8. Nuni, Rp. 50.000
9. Awem, Rp. 1. 000.000

27 Maret 2020
6. Amirullah Syarif, Rp. 500.000

26 Maret 2020
5. Hamba Allah, Rp. 150.000

25 Maret 2020
1. Dita Ininnawa, Rp. 500.000,
2. Zaldy, Rp. 200.000
3. Juliana Ham, Rp.100.000
4. Abdullah Sanusi, Rp. 500.000

Terus kirimkan donasi teman-teman dan lakukan konfirmasi melalui Zakia 0895356062713.

Info jenis bantuan:
1. Alat Perlindungan Diri (APD) seperti masker, sarung tangan, dll.
2. Alat dan cairan Desinfektan
3. Subsidi cek/tes virus corona
4. Hand sanitizer
5. Sabun Antiseptik/cuci tangan
6. Paket Sembako
7. Bahan informasi akses
8. Uang tunai

Kirim donasi Anda ke Rek BRI : 380801020912531
(a.n. lembaga pergerakan difabel untuk kesetaraan)

Atau, jika berupa barang, silakan kirim atau antar ke alamat:

Rumah PerDIK
Perumahan Graha Aliah
Jl. Syekh Yusuf Blok E3a Kelurahan Katangka, Kec. sombaopu, kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Untuk informasi donasi
cp. Zakia di 0895356062713

Travelogue Seorang Pembelajar [6]: Buku Digital

Oleh: Nur Syarif Ramadhan

Ruang belajar kami di international house saat kelas Bahasa inggris berada di lantai paling bawa WT building. Kami terbagi ke dalam tiga kelas. Saya dan Ori (Sumbawa) kebetulan berada di kelas yang sama; intermediate. Tiap senin sampai jum’at, kelas ini dimulai pukul delapan pagi hingga pukul sebelas. Kemudian dilanjutkan dengan elective class (kelas pilihan) di mana kami pada bulan pertama akan belajar segala hal mengenai Selandia Baru (New Zealand Study). Kelas ini dimulai pada pukul setengah duabelas hingga jam satu siang.

Saya menjadi orang pertama yang tiba di kelas pagi itu. saya melakukan orientasi singkat. Mencoba lebih familiar dengan ruangan ini. Kuperkirakan kelas ini bisa menampung sekitar 25 student, sesuai dengan jumlah meja dan kursi yang ada di situ. Sebuah proyektor tergantung di bagian tengah ruangan menghadap ke whiteboard yang tepat dibagian depan kelas. Ada juga loudspeaker yang menempel pada atap kelas. Kuperkirakan, proyektor danbbbbbbb loudspeaker itu terkoneksi dengan seperangkat computer yang berada dibagian depan kelas sebelah kiri, tepat di meja pengajar.

Saya lantas memilih tempat duduk. Kuletakkan tas pada sebuah meja tepat di depan meja pengajar. Ada colokan listrik di dekat situ. Karena pada saat belajar saya akan banyak menggunakan laptop, tentu saja saya butuh itu. semoga saja belum ada orang yang menempati bangku ini. pada papan pengumuman yang kami lihat kemarin, hanya ada enam students yang menempati kelas ini, jadi setidaknya ada banyak kursi lain yang bisa ditempati mereka yang datang belakangan.

Ori tiba sekitar lima menit kemudian. Ia menuju bangku tepat di sebelah kiriku.

“Rif, saya di sini, ya?” katanya kemudian.

Kemarin, usai placement test dan tour singkat keliling kampus AUT, Laila mengumpulkan kami di ruangan WT1440. Ia memberi arahan singkat mengenai apa yang akan kami pelajari selama 12 pekan kedepan. Hal yang paling kuingat adalah ketika ia berulangkali menekankan pada Ori untuk membantuku selama proses belajar di international house, khususnya pada kelas utama (core class).

‘Ori, kau harus pastikan kalau Syarif dapat mengakses pembelajaran di kelasmu’ begitu katanya.

Dalam hati saya berjanji akan berusaha mandiri agar tidak merepotkan orang lain. Hal lain yang membuatku risau adalah hingga pagi ini saya belum dapat bahan materi yang akan dipelajari di kelas intermediate. Sementara teman-temanku sejak kemarin sudah diberikan buku cetaknya masing-masing. Saya juga belum dapat info lebih lanjut dari AUT Disability Support.

***

“Saya Sean Shadbolt, teacher kalian di kelas ini.”

Lelaki jangkung itu memperkenalkan diri. Ia membawa sekardus dokumen yang langsung diletakkan di meja kerjanya.

“iya, hari ini kita punya dua new students dari Indonesia, Syarif dan Ori. Apakah saya benar melafalkan nama kalian?”

“right, Sean.” Jawabku singkat.

“Oh iya, Syarif ini punya hambatan dalam melihat, tetapi semoga saja itu tidak jadi masalah saat proses belajar di kelas ini.” Jelasnya lagi.

Tanpa banyak basa-basi, Sean lantas memulai kelas pagi itu. bahkan tidak ada sesi perkenalan dari kami. Empat students lain sudah tiba juga di kelas. Mereka dari negara yang berbeda. ada Izumi dari jepang, Silvia dari Brazil, Liza dari Thailand dan Chris dari Cina. Tanpa kesulitan, saya bisa langsung akrap dengan mereka. Sean memerintahkan kami untuk mengeluarkan buku belajar masing-masing. Karena masih belum punya bukunya, saya lantas menyalakan laptop.

Sean sedang mengajar

Saat itulah, Karent masuk ke kelas kami. Ia membawa sebuah flashdisk yang berisi buku elektronik buatku.

“Syarif, ini materi ajar yang akan kamu pelajari selama di kelas ini. Maaf, ini belum semuanya. John hanya mengirimkan satu chapter. Ada dua file di flashdisk ini, file-nya sebenarnya sama, Cuma formatnya yang berbeda. satu berformat document word, dan satu lagi berformat pdf. Mungkin kamu bisa cek dulu. Nanti sampaikan ke john file mana yang paling akses buatmu.”

Dalam hati saya ingin sekali mengomeli John. Kenapa tidak kemarin saja dia mengirimkan dua file ini melalui email? Itu akan jauh lebih muda, dan saya langsung bisa menguji keaksesibilitasannya. Kalau begini, saya akan membutuhkan waktu yang lumayan banyak, dan tidak bisa langsung mengikuti proses belajar.

“Baik, Karent,terimakasih. Nanti saya langsung saja menghubungi John.” Saya mengembalikan flashdisk tadi pada pemiliknya.

15 menit selanjutnya saya gunakan mengecek file dari Karent. Saya pertama membuka file pdf. Laptopku membutuhkan sekitar 45 detik untuk membuka file itu. karena menggunakan screen reader, jadi membutuhkan waktu yang sedikit lebih banyak dari laptop biasanya. saya menelusuri isi dokumen itu, dan sepertinya agak berat jika harus menggunakan file ini. Karena dokumen ini berisi banyak gambar, sehingga saya lagi-lagi butuh banyak waktu untuk membacanya. Screen reader di laptopku pun agak tersendat-sendat saat membacanya. File ini merupakan versi original [e-book] dari buku yang telah dimiliki teman kelasku.

Selanjutnya, saya membuka dokumen kedua, yang berformat word. File ini ternyata lebih ringan dari file pertama, karena hanya berisi teks dan sama sekali tidak memiliki gambar. Sepertinya file kedua ini merupakan hasil scan dari dokumen pertama. Dengan file itu, saya pun bisa mengikuti proses belajar hari pertama di kelas intermediate.

Syarif sedang belajar dengan menggunakan laptopnya

Saya menghubungi John kira-kira setelah kelas New Zealand Study, sebelum makan siang. Saya menanyakan berapa banyak waktu yang ia butuhkan untuk men-scan dokumen pdf itu menjadi dokumen word yang lebih akses?

“Tidak begitu lama, Syarif. Yang lama sebenarnya adalah waktu mengeditnya.” Begitu balasan email John.

Meskipun saya lebih muda mengakses file kedua yang berformat dokumen word, tetapi saya juga sebenarnya menginginkan file asli dari buku itu. saya merasa tak enak saja untuk meminta John untuk menyiapkan buku tersebut dalam dua format. Saya kemudian mencoba mengakses buku pdf itu pada Handphone android. ternyata hasilnya lebih muda diakses dan screen reader di handphone tak kesulitan membaca isinya.

Di laptop juga saya punya software scan seperti; Kurzweil 1000 dan OpenBook 8.0 yang selama ini telah membantu saya mengakseskan atau men-scan buku-buku yang selama ini kurang begitu ramah bagi pembaca layer. jadi sebenarnya saya bisa mengakseskan buku-buku tersebut secara mandiri tanpa harus merepotkan Jhon.

“Jhon, sepertinya kamu cukup mengirimkan e-book asli dari buku itu. tak perlu di-scan. Screen readerku bisa mengaksesnya.” Begitu email yang kukirimkan pada John.

Besoknya, sebelum kelas dimulai, Karent lagi-lagi mendatangiku di kelas. Masih dengan flashdisk yang sama, dia menyerahkan semua file asli dari buku yang akan saya pelajari selama di kelas intermediate. Karent juga membawa  sebuah dokumen yang harus kutandatangani. Ternyata itu adalah surat pernyataan yang dikeluarkan oleh penerbit. Isinya kurang lebih; pernyataan jika saya tidak akan menyebarkan file asli buku tersebut pada mahasiswa lain. Selain saya, di situ juga ada tandatangan John.

Begitulah cara Auckland University Of Technology memfasilitasi mahasiswanya yang difabel. Pada kelas-kelas berikutnya, para dosen yang akan mengajar di kelasku akan diberitahu jika ada salah satu mahasiswa yang difabel [lowvision], serta bagaimana cara memfasilitasinya  di kelas. Maka hal pertama yang akan disediakan oleh dosen tersebut adalah menyediakan bahan ajarnya dalam bentuk digital, jika menggunakan powerpoint, maka powerpoint tersebut akan ia serahkan ke saya.[*]

baca tulisan sebelumnya:

https://ekspedisidifabel.wordpress.com/2019/11/06/travelogue-seorang-pembelajar-5-placement-test/

Update Donasi ‘Difabel Lanjut Usia’ Hari ke-5

Terima kasih atas kepercayaan para donatur dan relawan yang mengurus donasi publik untuk Keluarga-keluarga Difabel Lanjut Usia.

Sampai hari ke-5 ini, kami akan sampaikan bahwa jumlah uang yang telah kami terima adalah sebesar Rp. 3.350.000,- (Tiga Juta Tiga Ratus Lima Puluh Ribuh Rupiah).

Sebagai informasi, pada hari kedelapan, kami akan membelanjakan donasi ini dan akan memprioritaskan 20 Keluarga Difabel Lanjut Usia di Kota Makassar. Selanjutnya, pada hari kesepuluh akan dikirimkan paket bantuan melalui pengantaran langsung atau go-send (Dengan tetap mempertimbangkan aspek higienitasnya).

Berikut Update Donasi

29 Maret 2020

9. Elvita , Rp. 1.000.000

10. Chaerunniza Fitriani, Rp. 50.000

28 Maret 2020

  1. No Name, Rp. 300.000
  2. Nuni, Rp. 50.000

27 Maret 2020

  1. Amirullah Syarif, Rp. 500.000

26 Maret 2020

  1. Hamba Allah, Rp. 150.000

25 Maret 2020

  1. Dita Ininnawa, Rp. 500.000,
  2. Zaldy, Rp. 200.000
  3. Juliana Ham, Rp.100.000
  4. Abdullah Sanusi, Rp. 500.000

PerDIKmemanggil

Bersama Melawan COVID19

Mari Berdonasi untuk
DIFABEL LANJUT USIA

Wabah covid19 atau penyakit akibat virus corona sedang melanda dunia, termasuk Indonesia. Semua orang dapat terkena dampaknya, terkhusus Difabel Lanjut Usia. Mari bersama-sama meringankan beban orang-orang tua kita.

Kami akan mengorganisir Donasi dari Publik, orang-orang baik seperti Anda.

Jenis bantuan:

  1. Alat Perlindungan Diri (APD) seperti masker, sarung tangan, dll.
  2. Alat dan cairan Desinfektan
  3. Subsidi cek/tes virus corona
  4. Hand sanitizer
  5. Sabun Antiseptik/cuci tangan
  6. Paket Sembako
  7. Bahan informasi akses
  8. Uang tunai

Kirim donasi Anda ke Rek BRI : 380801020912531
(a.n. lembaga pergerakan difabel untuk kesetaraan)

Atau, jika berupa barang, silakan kirim atau antar ke alamat:

Rumah PerDIK
Perumahan Graha Aliah
Jl. Syekh Yusuf Blok E3a Kelurahan Katangka, Kec. sombaopu, kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Untuk informasi donasi
cp. Zakia di 0895356062713

Dari Beranda Whatsapp Sulsel Covid19 #2

Selamat pagi teman-teman, semoga sehat selalu.

Kemarin, update daerah-daerah tidak banyak. Dari bantaeng, Makassar, bulukumba dan Gowa saja. Biodata dari anggota group juga belum terhimpun semua. Baru sekitar lebih setengah.

Kebanyakan, perbincangan kemarin adalah soal data disabilitas. Surat keputusan kementerian sosial soal kemungkinan adanya bantuan sosial bagi difabel membuat Pertuni sigap melakukan pendataan. Menurut informasi dari @ismail yapti sudah sekitar 40-60-an difabel visual/netra terdata. Jika menurut data KPU Sulsel yang telah diolah PerDIK, maka ada 4.177 difabel berusia 17 tahun ke atas untuk sulsel. Sebenarnya, pemerintah memeiliki data dari SLRT namun berdasarkan pengalaman Bantaeng, data itu sulit diperoleh. Alangkah baiknya jika data ini bisa diakses juga oleh DPOs lalu kita bisa mengolahnya untuk kepentingan database kita bersama.

Data lain yang juga sempat mencuat dan dibutuhkan adalah data dampak Covid19 terhadap usaha ekonomi sektor informal difabel. Ini sangat perlu kita himpun teman-teman. Jika setiap daerah dalam group ini memiliki koordinator, maka kita bisa buat instrumen pertanyaan untuk dampak ekonomi bagi difabel selama Covid19 ini. Lalu data itu kita olah dan koordinasikan dengan pihak pemerintah dan non-pemerintah untuk dicarikan solusinya. Dalam proses ini sungguh penting kita dari seluruh daerah memiliki data base dinas sosial seluruh daerah sehingga dengan mudah kita bisa lakukan koordinasi dan kerjasama. Saya sudah meminta bantuan ke pak @Daeng Bani untuk meminta sejumlah kontak person atau kontak dinas dari seluruh daerah agar kita bisa membangun kerjasama. Saya juga sedang berusaha meminta data ke HKI Sulsel yang selama ini bekerjasama dengan dinas kesehatan dan dinas pendidikan.

Data sungguh penting. Saat ini kami sedang mengolah data disabilitas untuk setia kabupaten dan kami akan share ke teman-teman dan semoga bisa digunakan dasar menata database disabilitas di setiap daerah.

Isu lain yang juga dibicarakan adalah zona Sulsel yang sudah merah, khususnya Makassar. Kami berharap teman-teman meningkatkan kewaspadaan. Tetap akses informasi yang positif, jangan baca berita hoax atau berita kiriman orang lain yang tidak menyertakan sumber informasinya. Baca saja di situs-situs resmi pemerintah dan otoritas ilmu dan pengetahuan. Hindari berkerumun (jangan dulu lakukan shalat berjemaah mengingat kondisi yang sudah memungkinkan untuk rukshah atau mendapat keringanan dan dieprkuat oleh keputusan alim ulama dan Ulil Amri untuk melakukan ibadah di rumah).

Saya rasa, demikian beberapa hal singkat yang bisa saya sampaikan terkait group Sulsel Covid19, ini. Harapan saya, kita tetap memberi update atau perkembangan dari daerah masing-masing. Bukan hanya soal dampak covid 19 terhadap kita tapi juga hal-hal apa yang sedang kita upayakan sebagai bagian partisipasi difabel dalam perencanaan, penanggulangan dan rehabilitasi Covid19.

Salam tangguh
Ishak Salim
Ketua PerDIK

Update Donasi Difabel Lanjut USIA hari ke-4

Ayo Gaesss, saudara seperjuangan, meski bekerja dari rumah, amal jariah jangan tertinggal ya.

Caranya bisa macam-macam, salah satunya berdonasi untuk Difabel Lanjut Usia.

Bagi yang tetap bekerja walau harus di luar rumah, jaga diri, jaga kontak, dan rajin cuci tangan, dan upsh, berdonasi ya 🙂

Yuk!

Dihari keempat ini, kami akan sampaikan, total donasi yang telah kami terima adalah Rp. 2.300.000 (Dua juta tiga ratus ribu rupiah)

Berikut daftar yang kami sampaikan:

28 Maret 2020

  1. No Name, Rp. 300.000
  2. Nuni, Rp. 50.000

27 Maret 2020

  1. Amirullah Syarif, Rp. 500.000

26 Maret 2020

  1. Hamba Allah, Rp. 150.000

25 Maret 2020

  1. Dita Ininnawa, Rp. 500.000,
  2. Zaldy, Rp. 200.000
  3. Juliana Ham, Rp.100.000
  4. Abdullah Sanusi, Rp. 500.000

PerDIKmemanggil

Bersama Melawan COVID19

Mari Berdonasi untuk
DIFABEL LANJUT USIA

Wabah covid19 atau penyakit akibat virus corona sedang melanda dunia, termasuk Indonesia. Semua orang dapat terkena dampaknya, terkhusus Difabel Lanjut Usia. Mari bersama-sama meringankan beban orang-orang tua kita.

Kami akan mengorganisir Donasi dari Publik, orang-orang baik seperti Anda.

Jenis bantuan:

  1. Alat Perlindungan Diri (APD) seperti masker, sarung tangan, dll.
  2. Alat dan cairan Desinfektan
  3. Subsidi cek/tes virus corona
  4. Hand sanitizer
  5. Sabun Antiseptik/cuci tangan
  6. Paket Sembako
  7. Bahan informasi akses
  8. Uang tunai

Kirim donasi Anda ke Rek BRI : 380801020912531
(a.n. lembaga pergerakan difabel untuk kesetaraan)

Atau, jika berupa barang, silakan kirim atau antar ke alamat:

Rumah PerDIK
Perumahan Graha Aliah
Jl. Syekh Yusuf Blok E3a Kelurahan Katangka, Kec. sombaopu, kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Untuk informasi donasi
cp. Zakia di 0895356062713

Dari Beranda Whatsapp SulSel Covid19 #1

Selamat pagi, saudara seperjuangan melawan Covid19.

Covid19 ini jenis baru dari virus Korona. Sudah lama dikenal, tapi yang ini punya bentuk dan perilaku berbeda dengan korona-korona sebelumnya. Selain bentuknya yang bertanduk atau berjarum yang membuatnya bisa menempel atau menyangkut di tenggorokan dan bahkan paru-paru masih banyak hal yang belum diketahui ilmuwan: baik untuk kepentingan buat obatnya atau vaksinnya.

Tapi dunia yang bekerja dengan ilmu dan keyakinan bahwa melalui penelitian pada akhirnya perilaku dan cara melawan virus ini akan ditemukan. Kita harus percaya pada ilmu dan orang yang bekerja dengan itu. Jika kita ikuti informasi ilmiah tentang ini, beberapa waktu lalu empat negara mengklaim telah punya obatnya, seperti Kuba yang punya interferon dan dianggap sebagai obat apling efektif menyembuhkan virus ini. Tapi obat kawan-kawan, bagaimanapun belum dianggap cara mengatasi pandemik ini. Hal paling membuat ilmuwan begitu serius mencari tau adalah menemukan vaksinnya.

Makanya, jika para dokter dan perawat dan institusi medik sekuat tenaga mendeteksi, merawat dan menyembuhkan tubuh yang terinfeksi virus mematikan ini, dan ilmuwan laboratorium maupun ilmuwan lapangan tetap mencari vaksinnya, maka kita yang awam ini tinggal disuruh berdiam diri di rumah. Kenapa, saat ini hanya itu cara yang dianggap bisa menghambat pelipatgandaan persebarannya.

Itulah mengapa saat ini disebut ilmuwan fase eksponensial atau pengandaan jumlah (dengan deret ukur, bukan lagi deret hitung) dan untuk itu inilah waktu tepat untuk kita tenang, hati-hati, dan berpikir jernih. Musuh kita belum betul-betul dikenali. Ilmuwan sedang menyiapkan sejumlah formula vaksin dan sejumlah relawan ada yang mau tubuhnya ditetesi vaksin lalu diinfeksi virus. Sungguh, di saat kebanyakan kita cukup diminta diam di rumah, perawat dan relawan berhadap-hadapan di Medan laga.

Di sekolah dasar atau menengah, kita pernah belajar biologi dan ada kisah bagaimana virus cacar atau campak ditemukan oleh ilmuwan kolonial yang bekerja di laboratorium Bogor, Eijkman namanya (maaf jika salah ingat, nanti saya akan baca lagi) yang melihat perilaku burung dara (lagi-lagi maaf, ini hanya mengandalkan ingatan yang juga mulai payah) dan kemudian singkatnya, vaksin ditemukan dan orang orang diselamatkan.

Ada juga cerita lain, seperti bagaimana vaksin polio ditemukan. Di Indonesia ada banyak anak-anak diserang polio antara 70-80an. Beberapa kawan aktivis difabel yang saya kenal dulu diinfeksi polio, Risnawati Utami misalnya (kini dia anggota komisi UN-CRPD mewakili Indonesia). Vaksin ini ditemukan ilmuwan Amerika yang terus menerus memikirkan vaksinnya. Ada banyak yang pikir vaksin itu dan tidak jarang ini jadi momen pertarungan “politik pengetahuan” antar negara.

Ilmuwan yang baik adalah yang kemudian berani mengatakan bahwa vaksin ini gratis dan bisa menyelamatkan lebih banyak orang, rentan maupun kuat. Kita semua berharap vaksin itu ditemukan dan obat-obatan dengan beragam dasar pengetahuannya: herbal maupun kimiawi bisa pula ditemukan sesegeranya. Dalam hal upaya ini, ikhtiar kita ke Yang Maha Kuasa, Yang Maha Mengetahui sungguh besarnya. Selain berdiam diri, menurut saya, kita pun bisa berdoa untuk ilmuwan dan tenaga medik yang bekerja saat ini.

Pada akhirnya, kita semua ada dalam gerak perlawanan manusia versus virus dan saat ini kita harus tetap tenang, hindari kepanikan. Mari kita sebarkan pikiran positif, kita kabarkan pengetahuan yang benar. Carilah, carilah informasi yang benar dan akurat dari sumbernya, bukan mengandalkan olahan pikiran orang lain yang berniat menyebarkan kepanikan dan bahkan tak sedikit berisi kebohongan dan fitnah.

Teman-teman, saudaraku. Mari memikirkan hal baik, dan mari berbuat terbaik dalam ‘perang’ ini sambil tetap menyilakan alam merestorasi dirinya yang telah rusak oleh ulah manusia serakah. Hutan dengan tenang tumbuh, udara perlahan menyapu kotoran polusi, dan kita yang ternyata sungguh materialistis, mengejar kekayaan, mementingkan isi perut, dan lupa untuk terus giat dan tetap giat belajar agar berilmu, beribadah agar beriman, dan berbagi agar kaya kebaikan.

Makassar, 29 Maret 2020
Ishak Salim
Ketua PerDIK

Update Hari Ke-3, Donasi Difabel Lanjut USIA

Ayo Gaesss, saudara seperjuangan, meski bekerja dari rumah, amal jariah jangan tertinggal ya. Caranya bisa macam-macam, salah satunya berdonasi untuk Difabel Lanjut Usia. Bagi yang tetap bekerja walau harus di luar rumah, jaga diri, jaga kontak, dan rajin cuci tangan, dan upsh, berdonasi ya 🙂

Yuk!

Dihari ketiga ini, kami akan sampaikan, total donasi yang telah kami terima adalah Rp. 1.950.000 (Satu juta sembilan ratus lima puluh ribu rupiah). Berikut daftar yang kami sampaikan:

25 Maret 2020

1. Dita Ininnawa, Rp. 500.000,

2. Zaldy, Rp. 200.000

3. Juliana Ham, Rp.100.000

4. Abdullah Sanusi, Rp. 500.000

26 Maret 2020

5. Hamba Allah, Rp. 150.000

27 Maret 2020

6. Amirullah Syarif, Rp. 500.000

#PerDIKmemanggil

Bersama Melawan COVID19

Mari Berdonasi untukDIFABEL LANJUT USIA

Wabah covid19 atau penyakit akibat virus corona sedang melanda dunia, termasuk Indonesia. Semua orang dapat terkena dampaknya, terkhusus Difabel Lanjut Usia. Mari bersama-sama meringankan beban orang-orang tua kita.

Kami akan mengorganisir Donasi dari Publik, orang-orang baik seperti Anda.
Jenis bantuan:

1. Alat Perlindungan Diri (APD) seperti masker, sarung tangan, dll.

2. Alat dan cairan Desinfektan

3. Subsidi cek/tes virus corona

4. Hand sanitizer

5. Sabun Antiseptik/cuci tangan

6. Paket Sembako

7. Bahan informasi akses

8. Uang tunai

Kirim donasi Anda ke Rek BRI : 380801020912531 (a.n. lembaga pergerakan difabel untuk kesetaraan)

Atau, jika berupa barang, silakan kirim atau antar ke alamat:
Rumah PerDIK

Perumahan Graha Aliah

Jl. Syekh Yusuf Blok E3a

Kelurahan Katangka, Kec. sombaopu, Kabupaten Gowa,

Sulawesi Selatan.

Untuk informasi donasi

cp. Zakia di 0895356062713

Menerapkan Inklusi Disabilitas Selama Penanganan Wabah COVID19

Pada Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mendeklarasikan sebuah wabah penyakit yaitu coronavirus, atau COVID-19, sebagai pandemi, dikarenakan kecepatan dan skala transmisi dari virus ini ke seluruh dunia

WHO dan otoritas kesehatan masyarakat di seluruh dunia mengambil tindakan untuk mengatasi wabah ini. Kelompok populasi tertentu, seperti difabel atau disebut Penyandang Disabilitas dalam regulasi, dapat terkena dampak lebih signifikan oleh COVID-19.[1] Dampak ini dapat dikurangi jika tindakan sederhana dan perlindungan diambil oleh semua pemangku kepentingan.

TINDAKAN UNTUK DIFABEL DAN ANGGOTA KELUARGANYA

Kurangi Potensi Terpapar COVID-19

Setiap difabel dan anggota keluarganya harus mengikuti Panduan WHO tentang tindakan perlindungan dasar selama wabah COVID-19 berlangsung. Jika Anda mengalami kesulitan dalam mengikuti panduan ini (misalnya, Anda tidak dapat menggunakan baskom atau wastafel untuk mencuci tangan secara sering dan teratur), berupayalah bersama keluarga, teman, dan atau pendamping Anda untuk beradaptasi.

  • Hindari lingkungan yang penuh sesak semaksimal mungkin dan minimalkan kontak fisik dengan orang lain. Pertimbangkan untuk mengunjungi orang lain di luar periode waktu sibuk. Ambil kesempatan dari jam buka khusus bagi difabel jika ada.
  • Membeli barang secara online atau meminta bantuan kepada keluarga, teman, atau pendamping agar tidak perlu mengakses kerumunan atau keramaian.
  • Siapkan keperluan yang mendesak seperti makanan, alat dan bahan pembersih, obat-obatan atau persediaan medis untuk mengurangi frekuensi mengakses tempat-tempat umum.
  • Bekerja dari rumah jika memungkinkan, terutama jika Anda biasanya bekerja di lingkungan yang sibuk atau ramai.
  • Pastikan bahwa alat bantu, jika digunakan, didesinfeksi (disemprot dengan desinfektan) secara berkala; ini termasuk kursi roda, kruk, walkers, papan transfer (transfer boards), tongkat orang buta (white canes), atau produk lain apa pun yang sering digunakan di ruang publik.

Susun Rencana untuk Memastikan Kelanjutan Perawatan dan Dukungan yang Anda Butuhkan

  • Jika Anda mengandalkan pendamping (asisten pribadi), pikirkan beberapa orang yang dapat Anda hubungi sewaktu-waktu jika diperlukan dan apabila diharuskan untuk mengisolasi diri.
  • Jika Anda memperoleh pendamping melalui agen, cari tahu apa langkah-langkah darurat yang mereka miliki untuk mengompensasi potensi kendala dalam hal pendampingan. Anda mungkin ingin berbicara dengan keluarga dan teman tentang dukungan tambahan apa yang dapat mereka berikan, dan skenario di mana Anda mungkin perlu menelepon mereka.
  • Cari organisasi yang relevan di komunitas Anda yang dapat anda hubungi jika memerlukan bantuan.

Jika Anda Terpapar COVID-19, Persiapkan Keluarga Anda

  • Pastikan orang-orang di rumah Anda, termasuk teman-teman dan keluarga yang Anda percayai, mengetahui informasi penting apa pun yang dibutuhkan jika Anda terlihat kurang atau tidak sehat. Informasi ini bisa tentang asuransi kesehatan Anda, obat-obatan Anda, dan kebutuhan akan tanggungan Anda (anak-anak, orang tua lanjut usia atau hewan peliharaan).
  • Pastikan semua orang di rumah Anda tahu apa yang harus mereka lakukan jika Anda terpapar COVID-19 atau memerlukan bantuan.
  • Jika mereka belum dapat terhubung, cari orang melalui jaringan pendukung sehingga mereka dapat berkomunikasi secara efektif jika Anda merasa tidak sehat.
  • Ketahui nomor telepon layanan kesehatan yang relevan dan jaringan siaga (hotline), jika Anda memiliki pertanyaan atau ingin meminta bantuan medis yang tidak mendesak.

Kesehatan Mental dan Fisik Anggota Rumah Tangga dan Asisten Pribadi

  • Ikuti panduan WHO tentang pertimbangan kesehatan mental dan panduan untuk mengelola penyakit tidak menular yang ada sekarang (akan datang) selama wabah COVID-19 .
  • Jika ada orang di rumah Anda yang memiliki gejala virus, maka ia perlu diisolasi dan wajib dipakaikan masker, dan melakukan uji kesehatan sesegera mungkin. Semua permukaan harus didesinfeksi, dan semua orang di rumah perlu dipantau dari gejala-gejala penularan virus ini. Jika memungkinkan, siapa pun dengan kondisi kesehatan tertentu atau yang menurunkan kekebalan tubuh (imunitas) perlu dipindahkan di lokasi tersendiri sampai masa isolasi berakhir.

TINDAKAN UNTUK PEMERINTAH

Memastikan Informasi dan Komunikasi Kesehatan Masyarakat dapat Diakses

  • Sertakan teks dan, jika memungkinkan, bahasa isyarat untuk semua acara dan model komunikasi yang disiarkan langsung maupun direkam. Ini termasuk pidato nasional, siaran pers (pers briefings), dan siaran langsung media sosial.
  • Mengonversi materi publik ke dalam format yang “Mudah Dibaca” sehingga materi tersebut dapat diakses oleh difabel intelektual atau kognitif.
  • Mengembangkan produk informasi tertulis yang dapat diakses dengan menggunakan format dokumen yang sesuai, (seperti “Word”), dengan judul yang terstruktur, cetak besar, versi braille dan format untuk multi-difabel, seperti difabel visual sekaligus difabel komunikasi atau penyandang disabilitas netra-rungu.
  • Sertakan keterangan untuk gambar yang digunakan dalam dokumen atau sosial media. Gunakan gambar yang inklusif dan tidak menstigmatisasi difabel.
  • Bekerja dengan organisasi disabilitas (DPOs), termasuk badan advokasi dan penyedia layanan disabilitas untuk menyebarluaskan informasi kesehatan masyarakat.

Targetkan Langkah-Langkah yang Perlu Diambil untuk Difabel dan Jaringan Pendukung Mereka

  • Bekerja dengan difabel dan Lembaga perwakilan mereka untuk mengidentifikasi langkah-langkah fiskal dan administratif dengan cepat, seperti:
  • Kompensasi finansial untuk keluarga dan asisten pribadi yang perlu meluangkan waktu cuti untuk merawat orang yang dicintai. Ini bisa termasuk membayar anggota keluarga atas bantuan yang diberikan selama jam kerja normal untuk jangka waktu yang dibatasi.
  • Kompensasi finansial bagi keluarga dan asisten pribadi atau pendamping yang menjadi bagian dari pekerja difabel dan wiraswasta, yang mungkin perlu mengisolasi diri, dan berangkat bekerja dapat memperbesar risiko terinfeksi virus bagi difabel.
  • Menerapkan kebijakan Kerja-Dari-Rumah (WFH, Work From Home) yang fleksibel, dengan kompensasi finansial untuk alat bantu atau teknologi yang diperlukan untuk bekerja di rumah.
  • Dukungan keuangan (umumnya dalam paket stimulus ekonomi yang lebih luas) yang mencakup difabel, seperti pembayaran lumpsum (penuh) bagi yang memenuhi syarat, keringanan pajak, subsidi barang dan/atau kelonggaran atas penunggakan biaya-biaya umum.
  • Kebijakan yang tepat dari pihak sekolah dan fasilitas pendidikan lainnya demi memastikan keberlanjutan pendidikan bagi pelajar difabel yang mungkin perlu belajar di rumah untuk waktu yang lebih panjang.
  • Penyediaan jaringan siaga (hotline) dalam berbagai format (misalnya telepon dan email) bagi difabel untuk berkomunikasi dengan pemerintah, mengajukan pertanyaan, dan keprihatinan.

Targetkan Langkah-Langkah yang Perlu Diambil untuk Penyedia Layanan Difabel

Bekerja dengan penyedia layanan disabilitas untuk mengidentifikasi kelanjutan pelayanan dan akses prioritas ke peralatan perlindungan:

  • Pastikan lembaga yang menyediakan asisten atau pendamping disabilitas memiliki rencana berkelanjutan untuk situasi di mana ketersediaan jumlah pendamping dapat berkurang.
  • Bekerja dengan penyedia layanan disabilitas untuk mengurangi hambatan birokrasi dalam perekrutan sambil tetap memperhatikan langkah-langkah perlindungan, seperti pemeriksaan polisi untuk pendamping.
  • Pertimbangkan bantuan keuangan jangka pendek bagi pelayanan disabilitas untuk memastikan mereka masih bisa bertahan secara finansial jika mereka mengalami penurunan dalam usaha mereka.
  • Menyediakan jaringan siaga (hotline) sebagai layanan disabilitas untuk berkomunikasi dengan pemerintah dan menyampaikan keprihatinan.
  • Prioritaskan agen pendamping difabel untuk mendapatkan akses gratis untuk alat pelindung diri, termasuk masker, celemek, sarung tangan dan pembersih tangan (hand sanitizer).
  • Pastikan bahwa pendamping difabel memiliki akses ke Test COVID-19 sama halnya kelompok prioritas lain yang teridentifikasi.


TINDAKAN UNTUK PETUGAS LAYANAN KESEHATAN

Pastikan Layanan Kesehatan COVID-19 Dapat Diakses, Terjangkau, dan Inklusif

  • Ikuti Panduan WHO untuk petugas kesehatan selama wabah COVID-19
  • Berusahalah memastikan semua klinik yang menyediakan uji dan layanan terkait COVID-19 sepenuhnya dapat diakses difabel. Atasi hambatan fisik (seperti jalur yang tidak rata, tangga, ruang yang sulit dijangkau atau peralatan yang sulit digunakan); hambatan sikap (seperti stigma sosial terhadap difabel  dan penolakan untuk layanan khusus); dan hambatan finansial (seperti biaya tinggi terkait perawatan atau akses fasilitas—akomodasi yang layak). Pastikan informasi tentang aksesibilitas layanan kesehatan COVID-19 disebarluaskan ke para difabel dan asisten atau pendamping mereka (termasuk menyediakan format bahasa isyarat).
  • Sampaikan informasi dalam format yang dapat dimengerti dan sesuaikan format untuk kebutuhan yang beragam. Jangan hanya mengandalkan pada informasi verbal atau tertulis, dan gunakan cara berkomunikasi yang dapat dimengerti oleh difabel termasuk yang memiliki kemampuan  berbeda terkait intelektual, kognitif dan psikososial.
  • Berikan konsultasi rumahan untuk difabel, termasuk untuk kebutuhan kesehatan pokok mereka dan, jika sesuai, untuk kebutuhan terkait COVID-19.
  • Mengembangkan dan menyebarluaskan informasi kepada petugas kesehatan sehingga mereka sadar akan konsekuensi kesehatan dan sosial yang potensial dari COVID-19 terhadap difabel.
  • Memberikan dukungan yang memadai terhadap difabel dengan kebutuhan yang lebih kompleks, terutama jika dikarantina atau diisolasi. Jika dibutuhkan, koordinasikan perawatan antara layanan kesehatan dan layanan sosial, keluarga, dan pendamping.

Berikan Telehealth (Dukungan Komunikasi terkait Kesahatan) bagi Difabel

  • Menerima jasa konsultasi via telepon, pesan teks, dan video konferensi dalam distribusi layanan kesehatan bagi difabel. Ini bisa untuk memantau kondisi kesehatan mereka secara umum, dan termasuk kebutuhan rehabilitasi dan, jika perlu, kebutuhan terkait COVID-19.

TINDAKAN UNTUK PENYEDIA LAYANAN DISABILITAS

Meningkatkan dan Menerapkan Rencana Pelayanan Berkelanjutan

  • Rencanakan skenario dimana tenaga kerja terbatas, dan tentukan tindakan meningkatkan staf administrasi dan teknis, serta para pendamping, jika perlu.
  • Tentukan tindakan dan berkerja dengan pemerintah untuk mengurangi hambatan birokrasi dalam perekrutan, sambil terus menjaga langkah-langkah perlindungan, seperti pemeriksaan polisi untuk pendamping.
  • Adakan pelatihan tambahan dan jika memungkinkan, buat modul online untuk mempersiapkan tenaga kerja baru dan mereka yang akan mengambil peran lebih luas.
  • Bekerja dengan lembaga disabilitas dan pendamping setempat lainnya untuk menentukan prioritas siapa yang paling membutuhkan layanan disabilitas dan siapa yang masih dapat bertahan untuk menunggu.
  • Identifikasi klien yang paling rentan terhadap menurunnya pelayanan.

Komunikasi secara Berkala dengan Difabel dan Jaringan Pendukung Mereka

  • Menyediakan informasi target tambahan pada COVID-19, menyoroti informasi yang relevan bagi para difabel dan jaringan pendukung mereka. Informasi ini boleh termasuk informasi tentang rencana kesinambungan; nomor telehealth dan hotline; lokasi layanan kesehatan yang dapat diakses; dan lokasi di mana pembersih tangan (hand sanitizer) atau peralatan sterilisasi dapat diakses saat persediaannya sedikit, atau dalam situasi di mana mungkin diperlukan untuk mengisolasi diri.
  • Gunakan berbagai platform komunikasi seperti panggilan telepon, teks dan media sosial untuk berbagi informasi, dan ganti informasi ke dalam format yang dapat diakses.

Mengurangi Potensi Paparan COVID-19 Selama Pemberian Layanan Disabilitas

  • Menyediakan pelatihan, dan dengan cepat meningkatkan tenaga kerja perawatan disabilitas mengenai pengendalian infeksi.
  • Pastikan pendamping dan penyedia layanan disabilitas memiliki akses ke alat pelindung diri termasuk masker, sarung tangan dan pembersih tangan; pertimbangkan untuk meningkatkan jumlah pesanan untuk produk-produk ini.
  • Memberikan layanan disabilitas yang tepat melalui konsultasi berbasis rumahan atau melalui platform serupa seperti yang digunakan dalam telehealth.

Dalam pengaturan tempat tinggal, pertimbangkan:

  • Jam kunjungan untuk mengurangi risiko infeksi, seperti waktu kunjungan yang tiba-tiba, sehingga staf dapat memantau dan membersihkan secara lebih efektif, sementara mempertimbangkan dampak potensial pada kesehatan mental penghuni rumah;
  • Penerapan langkah-langkah pengendalian isolasi dan infeksi tambahan untuk penghuni yang tidak sehat dan tidak dirawat di rumah sakit, seperti menyarankan para penghuni agar memakai masker dan tetap terisolasi, serta membatasi kunjungan.

Menyediakan Dukungan yang Memadai untuk Difabel yang Memiliki Kebutuhan yang Kompleks

  • Identifikasi difabel dengan kebutuhan yang lebih kompleks, dan bekerja bersama mereka, keluarga mereka, dan lembaga pendukung masyarakat, untuk mengidentifikasi kemungkinan ketika jumlah pendamping terbatas atau tidak ada.
  • Identifikasi potensi peningkatan kekerasan, pelecehan dan penelantaran terhadap difabel karena isolasi sosial dan gangguan pada rutinitas sehari-hari; mendukung upaya mitigasi dari risiko ini, misalnya menyediakan hotline yang dapat diakses untuk melapor.

TINDAKAN UNTUK KOMUNITAS

Langkah-langkah perlindungan dasar yang akan diterapkan oleh khalayak ramai

  • Ikuti panduan yang disiapkan oleh WHO tentang langkah-langkah perlindungan dasar terhadap COVID-19. Pikirkan risiko COVID-19 dengan serius; bahkan jika Anda, diri Anda sendiri, mungkin tidak memiliki gejala serius yang berisiko tinggi, Anda tetap bisa menularkan virus ke seseorang yang lebih berisiko.

Pengaturan Kerja yang Fleksibel dan Langkah-langkah Pengendalian infeksi yang harus Didukung oleh Pemberi Kerja

  • Ikuti panduan WHO untuk menyiapkan tempat kerja Anda aman selama Wabah COVID-19.
  • Jika memungkinkan, terapkan pengaturan kerja yang fleksibel yang memungkinkan karyawan difabel bekerja secara online. Pastikan mereka memiliki teknologi yang mereka butuhkan, termasuk produk bantuan apa pun yang biasanya tersedia di tempat kerja.
  • Jika teleworking tidak memungkinkan, pertimbangkan untuk mengizinkan karyawan difabel dengan gejala berat yang berisiko tinggi untuk pulang (termasuk cuti dibayar) hingga risiko infeksi berkurang. Cari tahu kebijakan dan dukungan pemerintah yang mungkin tersedia untuk pengusaha agar memudahkan penerapan langkah-langkah ini.
  • Pastikan aksesibilitas terhadap langkah pengendalian infeksi di tempat kerja, seperti tempat cuci tangan.

Peningkatan akses ke toko-toko akan disediakan oleh pemilik toko untuk populasi yang rentan

  • Pertimbangkan untuk menyediakan alokasi waktu untuk difabel atau orang rentan lainnya untuk mengakses toko; atau pertimbangkan cara-cara alternatif untuk memungkinkan difabel berbelanja (mis. jasa pesan antar, online shop).

Dukungan ekstra yang perlu diberikan oleh keluarga, teman dan tetangga untuk Difabel

  • Cek atau perhatikan difabel secara teratur  melalui tatap muka untuk membangun dukungan emosional dan praktis, menghormati pembatasan isolasi sosial yang mungkin ada.
  • Waspadai bagaimana Anda berbicara tentang COVID-19, dan jangan memperburuk ketegangan atau stress yang ada[].

[1] Dokumen ini diterbitkan oleh WHO dalam edisi berbahasa Inggris, untuk memastikan warga difabel mendapatkan perhatian selama masa di mana semua pihak sedang memerangi Pandemi Penyakit akibat Virus Corona atau Covid19. Dokumen ini kemudian diterjemahkan oleh Juliana Ham, dari HEC (Hasanuddin English Club) yang merupakan mitra Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) dan kemudian diperiksa bersama oleh sejumlah aktivis disabilitas, diantaranya Tulix, Nuning, Ishak dan Joni.

Dalam dokumen ini, istilah yang digunakan adalah difabel, yang secara literal bermakna orang yang memiliki kemampuan berbeda berdasarkan sejumlah keunikan personal  dan secara ideologis juga dimaknai sebagai identitas politik pergerakan disabilitas khas keindonesiaan. Dalam regulasi terkait disabilitas di Indonesia, istilah yudisial yang digunakan adalah penyandang disabilitas, yang merupakan pengganti dari istilah legal sebelumnya yang disebut penyandang cacat, sebagaimana tercantum dalam UU No. 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Janji Palsu Sensus Disabilitas?

Oleh Ishak Salim, Ketua PerDIK

Seorang kawan di group aktivis difabel di Jakarta, pagi-pagi dengan bersemangat memposting berita. Ia bilang, Ia baru aaja melanjutkan mengisi sensus penduduk online BPS.

“Saya cek hari ini Alhamdulillah sudah dapat diakses oleh screen reader,” katanya. Ia memiliki aplikasi pembaca layar di hapenya. Ia seorang difabel netra.
“Namun saya tidak menemukan kolom isian mengenai status disabilitas dari penduduk,” Ia seperti kecewa.
“Tadinya saya kira di sensus penduduk itu ada pertanyaan mengenai status disabilitas sehingga lebih dapat memetakan kondisi penduduk disabilitas di Indonesia, tapi tidak ada!”

Ia menutup kalimatnya dengan kecewa.

Ya, itu bukan hal baru kubaca atau kudengar. Sejak BPS mengumumkan jadwal sensus penduduk 2020, dan tidak ada instrumen pertanyaan disabilitas, sejak itu saya sudah kecewa. Marah, Mengutuk!

Tak lama, seseorang mengabarkan bahwa ia dengar BPS akan melakukan sensus disabilitas 2021. Ia tak yakin. Saya lebih tak yakin lagi.

Kenapa?

Kita, aktivis difabel, sudah memperjuangkan dengan beragam cara untuk menyadarkan, membujuk, memaksa, pihak BPS, Bappenas, dan macam-macam Kementerian agar mengintegrasikan data kependudukan dengan data disabilitas. Ini semakin kencang dilakukan pada 2015, bahkan sigab melakukan riset dan mas Joni menulis di jurnal Difabel terkait gagasan integrasi itu.

Dulu alasannya anggaran dan soal sektoralisme dalam kelembagaan negara yang begitu kuat. Sayangnya, justru disaat teknologi bisa memangkas biaya sensus (seperti paperless) eh malah sensus penduduk yang sepuluh tahun sekali ini sama sekali memangkas hal itu, padahal bisa hanya beberapa pertanyaan dasar saja. Nah dari data dasar itu tahun depan bisa dilakukan sensus disabilitas dengan menggunakan format pendataan ‘Washington group of disability statistic’. Kalau di sensus penduduk ini tidak ada, maka pemerintah alias BPS tidak punya data dasar untuk menyasar di mana rumah-rumah difabel.

Sederhananya begini. Kalau di suatu desa berpenduduk 15 ribu jiwa atau 8000 rumah tangga diadakan sensus penduduk tanpa pertanyaan siapa anggota yang mengalami disabilitas, maka pak kepala desa yang berjanji akan melakukan pendataan disabilitas di tahun berikutnya harus door to door lagi di 8000 rumah tangga tadi untuk menanyakan apakah ada disabilitas di rumah ini? Jika ada apakah anak-anak atau orang dewasa? Jika anak-anak maka diwawancarai dengan form kuesioner anak-anak dan jika dewasa diwawancarai dengan form orang dewasa. Itu kerja berat, bayangkan kalau saat ini ada peluang untuk tahu dari lebih 250 juta penduduk Indonesia berapa yang difabel tapi itu tidak dilakukan, maka betapa besar kerugian yang seharusnya bisa dihindari harus terjadi di negeri ini. Makanya, bagi saya, janji, ikhtiar atau apapun namanya dari pemerintah yang akan melakukan pendataan disabilitas maka itu adalah janji manis belaka.

Bagi yang tahu benar ada janji itu, tunjukkan ke kami, apakah ada rencana itu? Apakah tertuang dalam dokumen negara? Apakah sudah ada rencana anggarannya? Apakah itu sensus? Ataukah itu hanya survei saja atau survei antar sensus? Tapi kalau dia survei dari mana unit populasi difabel yang mau dijadikan acuan untuk mensampling?

Bagi saya, dan sudah tertuang juga dalam UU no 8 tahun 2106 tentang penyandang Disabilitas, data disabilitas adalah hak asasi manusia, hak asasi difabel, pemerintah dan pemerintah desa yang wajib melakukan ya akan berdosa dihadapan difabel seluruh Indonesia yang membentang mulai dari ujung Timur Merauke sampai di ujung Barat Pulau We.

Uh!

MENGUATKAN YANG RENTA DAN RENTAN

PerDIKMemanggilmu

#Upaya Bersama Melawan Covid19

Pandemi Covid19 yang terjadi saat ini sudah terasa dampaknya di Sulawesi Selatan, khususnya Kota Makassar. Banyak pihak sibuk mengatasinya, terutama para tenaga kesehatan di suma fasilitas kesehatan dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) sampai Rumah Sakit. Tetapi, fasilitas dan tenaga kesehatan serta alat kerja dalam menangani wabah virus Korona ini tidak memadai. Karena itu, salah satu anjuran atau bahkan instruksi dari Presiden Republik Indonesia dan diteruskan oleh seluruh jajaran pemerintahan di daerah adalah menerapkan kebijakan Social Distancing, atau menjaga jarak antar orang, menghindari kerumunan atau keramaian, tidak ke kantor, ke sekolah bahkan ke tempat peribadatan. Working From Home, atau bekerja, beribadah, dan belajar di rumah dengan kata lain adalah upaya pemerintah menghalau persebaran virus Corona yang mematikan ini dan mengendalikan membludaknya orang maupun pasien datang memeriksakan diri atau dirawat di fasilitas kesehatan.

Dalam wabah ini, persebaran virus Corona bergerak melalui pergerakan manusia. Setiap orang berpotensi menjadi pembawa atau carrier dan menularkan virus yang menempel di tubuh atau pakaiannya itu ke orang lain. Semakin rentan seseorang, semakin mudah ia tertular. Semakin lemah daya tahan tubuh, semakin mudah terjangkit. Virus ini memiliki masa kerja selama 14 hari dan setelah itu, jika seseorang telah terjangkit virus ini dan daya tahan tubuhnya tak mampu membendung daya rusak virus ini, maka sistem pernapasan termasuk paru-paru akan rusak dan sulit bernafas sehingga bisa menyebabkan kematian.

Kerentanan karena usia seseorang telah lanjut adalah yang paling mudah terjangkit virus ini. Bahkan, kerentanan akan bertambah jika seorang yang telah tua ini juga adalah difabel. Jadi difabel lanjut usia adalah orang paling rentan yang akan mudah mendapat dampak dari semua kondisi pandemi covid19 ini. Kerentanan itu setidaknya tergambar pada aksesibilitas informasi. Banyak orang dan penyedia informasi sudah digital minded atau berbasis dijital dan online. Sementara, orang lanjut usia kebanyakan adalah orang yang kurang bisa beradaptasi dengan perubahan teknologi dijital ini. Ada orang tua memiliki HP Androiid, tetapi secara fungsional hanya digunakan untuk menerima panggilan atau menelepon. Di sisi lain, daya jangkau orang tua juga terbatas ketika harus membeli sesuatu atau mengakses layanan kesehatan dasar. Jika ia difabel, maka boleh jadi aksesibilitas ruang-ruang publik itu semakin sulit terjangkau.

Atas multi-kerentanan itu, sudah seharusnya kita memberi perhatian lebih kepada Difabel Lanjut Usia. PerDIK, sebagai Organisasi Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan kemudian mengorganisir potensi dukungan publik untuk membantu Difabel Lanjut Usia. Berdasarkan data yang kami himpun, setidaknya saat ini terdapat 291 difabel lanjut usia yang lengkap memiliki alamat di kota Makassar. Usia mereka adalah 60 tahun ke atas. Dari 291 difabel lansia ini, terdiri dari 104 difabel laki-laki dan 187 difabel perempuan.

Jika memilah data difabel lansia berdasarkan kategori usia, maka jumlah difabel laki-laki usia antara 60-70 tahun sebanyak 59 orang dan difabel perempuan sebanyak 59 orang, Difabel laki-laki usia antara 71-79 tahun sebanyak 29 orang dan difabel perempuan sebanyak 77 orang. Difabel berusia 80 tahun sebanyak 9 orang, berjenis kelamin perempuan. Difabel berusia 81-90 tahun berjenis kelamin laki-laki sebanyak 15 orang dan perempuan sebanyak 34 orang. Difabel laki-laki berusia diatas 90 tahun adalah 1 orang dan perempuan sebanyak 8 orang.

Pemilahan data difabel lanjut usia berdasarkan persebaran geografis (berdasarkan Kecamatan), adalah sebagai berikut:

  1. Biringkanaya :19 orang (11 orang perempuan dan 8 orang laki-laki) atau 7%;
  2. Bontoala : 5 orang (4 laki-laki dan 1 perempuan) atau 2%;
  3. Kep. Sengkarrang : 10 orang (3 laki-laki dan 7 perempuan) atau 3%;
  4. Makassar : 35 orang (12 Laki-laki 23 Perempuan) atau 12%;
  5. Mamajang : 26 orang (12 Laki-laki dan 14 perempuan) atau 9%;
  6. Manggala : 22 orang (7 laki-laki dan 15 perempuan) atau 8%;
  7. Mariso : 21 orang (5 laki-laki dan 16 perempuan) atau 7%;
  8. Panakukang : 38 orang (17 laki-laki dan 21 perempuan) atau 13%;
  9. Rappocini : 34 orang (12 laki-laki dan 22 perempuan) atau 12%;
  10. Tallo : 23 orang (6 laki-laki dan 17 perempuan) atau 8%;
  11. Tamalate : 28 orang (9 laki-laki dan 19 perempuan) atau 10%;
  12. Ujung Pandang : 3 orang perempuan atau 1%;
  13. Ujung Tanah : 15 orang (5 laki-laki dan 10 perempuan) atau 5% dan
  14. Wajo : 12 orang (4 laki-laki dan 8 perempuan) atau 4%.

Dari data tersebut diketahui bahwa persentase terbesar berada di Kecamatan Panakukang dan terendah berada di kecamatan Ujung Pandang.

Data ini masih berasal dari satu sumber saja, yakni berasal dari Data Daftar Pemilih Tetap dari pemilih difabel yang dihimpun pada 2018, saat KPU Provinsi menggelar pemilihan gubernur. Selain berasal dari KPU, data disabilitas juga bisa diperoleh dari BPS maupun Organisasi Perangkat Daerah (OPD) atau dinas-dinas terkait, khususnya Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Ketenagakerjaan dan Dinas Sosial. Sumber data lain yang bersumber dari non-pemerintah adalah data dari Organisasi Pergerakan Disabilitas, seperti Data Pertuni, Gerkatin, PPDI, HWDI, KPSI, ITMI, PerMaTa, NPC dan sebagainya. Jika seluruh data itu terhimpun, maka jumlah difabel Lanjut Usia dapat bertambah.

Dengan jumlah 291 difabel lanjut usia, kami nantinya akan melakukan verifikasi dan memastikan keberadaan difabel tersebut, kemudian berdasarkan data itu, kami akan menghimpun donasi berupa uang, barang dan bahan informasi. Kami akan menyiapkan satu paket bantuan bagi setiap difabel lanjut usia dan kemudian memastikan paket tersebut tiba di rumah difabel dan dapat dirasakan manfaatnya.

Upaya kita ini akan bermanfaat bagi difabel lanjut usia. Perhatian kita tentu menguatkan mereka yang renta dan rentan ini.

INFO LEBIH LANJUT

#PerDIKmemanggil

Kami akan mengorganisir Donasi dari Publik, orang-orang baik seperti Anda.

Jenis bantuan:

  1. Alat Perlindungan Diri (APD) seperti masker, sarung tangan, dll.
  2. Alat dan cairan Desinfektan
  3. Subsidi cek/tes virus corona
  4. Hand sanitizer
  5. Sabun Antiseptik/cuci tangan
  6. Paket Sembako
  7. Bahan informasi akses
  8. Uang tunai

Kirim donasi Anda ke Rek BRI : 380801020912531

(a.n. lembaga pergerakan difabel indonesia untuk kesetaraan)

Atau, jika berupa barang, silakan kirim atau antar ke alamat:

Rumah PerDIK

Perumahan Graha Aliah

Jl. Syekh Yusuf Blok E3a Kelurahan Katangka, Kec. sombaopu, kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Untuk informasi donasi

cp. Zakia di 0895356062713