Update Sebulan Donasi Difabel Lanjut Usia

Kami mohon maaf terlambat memberi berita perkembangan donasi dan distribusi. Hari ini kami akan menyampaikan bahwa sampai tanggal 25 April 2020, kami telah menerima donasi uang tunai sebesar Rp26.301.000 (Dua Puluh Enam Juta Tiga Ratus Satu Ribu Rupiah) dan Barang berupa Masker, Hand Sanitizer, Rempah/Rimpang/Herbal, dan sejumlah paket Sembako (Lebih lanjut lihat tabel di bawah ini)

Hingga saat ini, sudah terdapat sekitar 135 Rumah tangga difabel lanjut usia, dengan beragam disabilitas (plus 10 mahasiswa difabel yang kuliah di Makassar). Kami, dalam proses distribusi ini bekerja sama dengan Pengurus Pertuni Sulawesi Selatan, Gerkatin Sulawesi Selatan, Gerkatin Kota Makassar, PerMaTA Kota Makassar, dan Difabel Community of Gowa (DC Gowa). Secara rinci, kami memiliki daftar nama penerima dan akan kami publikasikan secara terbuka saat pengajuan laporan pelaksanaan Donasi ini.

Selain itu, kami juga menyasar sejumlah penerima sasaran khusus, seperti Seorang Difabel Netra yang saat itu sedang proses PDP–dengan status negatif Corona. Kemudian seorang difabel di Mamuju (Sulawesi Barat) yang kami anggap emergency karena keluarganya sedang isolasi mandiri, dan sejumlah mahasiswa difabel di Makassar yang berasal dari daerah luar Makassar.

Secara gelombang (persepuluh hari), kami telah memasuki gelombang keempat dengan rincian distribusi:

1. Gelombang pertama, 30 paket

2. Gelombang Kedua, 33 paket

3. Gelombang ketiga, 20 paket

4. Gelombang keempat 50 paket

5. Adapun selebihnya merupakan pendistribusian secara khusus, yakni pasien PDP difabel, keluarga difabel sedang isolasi mandiri, dan sejumlah mahasiswa difabel dari luar kota Makassar.

NONAMAJUMLAH DONASITANGGAL TRANSFER
1Dita IninnawaRp500.00025 Maret 2020
2ZaldyRp200.00025 Maret 2020
3Juliana HamRp100.00025 Maret 2020
4Not ConfirmRp2.000.00025 Maret 2020
5Abdullah SanusiRp500.00026 Maret 2020
6Hamba AllahRp151.00027 Maret 2020
7Amirullah SyarifRp500.00027 Maret 2020
8dr. HabibahRp300.00028 Maret 2020
9AwemRp1.000.00028 Maret 2020
10No NameRp300.00028 Maret 2020
11NuniRp50.00028 Maret 2020
12ElvitaRp1.000.00029 Maret 2020
13Chaerunniza FitrianiRp50.00029 Maret 2020
14Ardi YansyahRp100.00030 Maret 2020
15CNRp300.00030 Maret 2020
16Helmiati Kadir Rp500.00031 Maret 2020
17Nurhayati LatiefRp150.00031 Maret 2020
18Helviani PasangRp200.00031 Maret 2020
19H. Ivan P. DjalaniRp1.000.00001 April 2020
20Hamba Allah (UN)Rp1.000.00001 April 2020
21Mustakim MunirRp300.00001 April 2020
22AAYRp250.00001 April 2020
23Muhammad Fadly Rp100.00001 April 2020
24Ruth EvelinRp200.00001 April 2020
25Hj RamlahRp1.000.00002 April 2020
26H. Andi ArkamRp500.00002 April 2020
27Cucu SaidahRp500.00002 April 2020
28Hamba AllahRp2.500.00002 April 2020
29Komunitas Pegawai BRSPDF WirajayaRp3.200.00003 April 2020
30Irawan DanuRp500.00003 April 2020
31Maya DamayantiRp250.00004 April 2020
33Endah MarheniRp1.000.00005 April 2020
34Andi SatrianaRp100.00006 April 2020
35Mawar LestariRp250.00006 April 2020
36Nur UtaminingsihRp300.00007 April 2020
37Komunitas Pegawai BRSPDF WirajayaRp1.450.00008 April 2020
38Komunitas Pegawai BRSPDF WirajayaRp300.00008 April 2020
39FatmaRp100.00008 April 2020
40Dewi LestariRp50.00010 April 2020
41Herlina HamidRp100.00017 April 2020
42Muhammad AminRp150.00017 April 2020
43Vivi YulaswatiRp1.000.00019 April 2020
44Helvina PasangRp300.00021 April 2020
45Muhammad Iqbal EroRp1.500.00022 April 2020
46Komunitas Pegawai BRSPDF WirajayaRp500.00023 April 2020
 Total Rp26.301.000 
(Tabel Donatur Uang)

Adapun Donasi berupa barang atau paket sembako adalah:

No NamaTanggalJumlahUnitPenjelasan
1Istiana Purnamasari 27/03/20201LiterGliserin
   2BotolHandsanitizer
2Difabel Community Gowa 30/03/202050LembarMasker Kain
3Komunitas Pegawai BRSPDF 30/03/202030LembarMasker Kain
4No Name 01/04/2020200LembarMasker Kain
5Telkom06/04/2020125kgberas
   60DosMie
   30BatangSabun Detol
   180pieceMasker
6HMI10/04/202030botolHandsanitizer
7Sopril Amir 10BotolHandsanitizer
8Hamba Allah Sidrap13/04/2020200kgBeras
 9A. Sudirman Sulaiman  13/04/202020PaketSembako
10Hamba Allah (FM)19/04/202010kgBawang Merah
11Dompet Duafa22/04/2020150kgBeras
   30RakTelur
   36BungkusMinyak Goreng 1 Liter
12Polda Sulsel22-Apr-2020PaketSembako
Tabel Donatur Barang/Paket

Jika Kartini buta sejak awal remaja

Apa jadinya jika Kartini itu buta sejak ia berusia belasan? Apakah ia akan terkenal dengan kalimat ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’?

Di masa Kartini remaja, sekitar tahun 1900, belum ada buku braille dicetak di Indonesia. Belum ada reglet dan stylus untuk menulis bagi orang buta. Temuan Louis Braille, yang membuat banyak orang buta mengakses pengetahuan tertulis secara setara belum tiba di Indonesia kala itu.

Jika seandainya Kartini buta saat itu, maka nafsu membacanya yang tinggi pastilah ia bisa puaskan dari usaha kakak-kakaknya membacakan buku-buku yang dapat diakses oleh keluarga bangsawan Jawa masa itu. Kalau Kartini hanya seorang rakyat kecil, maka sulit menjadi melek huruf dengan kedua mata buta.

Setelah kemerdekaan, akses pengetahuan bagi orang-orang buta mulai terbuka. Perpustakaan Abiyoso di Bandung, Sekolah khusus orang buta, dan upaya voluntary membacakan dan merekam buku-buku sastra dll mulai bergiat. Sebuah majalah Braille terbit dan beredar di sekolah-sekolah luar biasa tipe A (untuk tuna netra) di seluruh Indonesia. Informasi mengenai Raden Ajeng Kartini dan perjuangan pembebasan perempuan dan perayaan setiap tahun di tanggal 21 April sebagai Hari Kartini juga semakin diketahu difabel visual

Keterampilan literasi orang-orang buta juga terus berkembang. Setelah merayakan literasi bagi orang-orang buta dengan huruf-huruf braille, baik Latin maupun aksara Arab, kini semakin mudah orang buta menulis, membaca, maupun memanfaatkan literasi dijital. Jika para pembaca yang memakai mata melumat buku-buku berhuruf cetak, maka pembaca buta tinggal duduk atau berbaring menikmati karya tulis yang dijangkau aplikasi pembaca layar di hape. Dalam semalam, dua tiga buku bisa tuntas dibaca atau tepatnya didengarkan. Sementara bagi pembaca dengan mata terang, butuh sekian hari untuk menuntaskan satu novel tebal, semisal seratus tahun kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez misalnya.

Tapi, kemampuan literasi orang-orang buta ini tak banyak dipahami oleh orang-orang melihat. Mungkin karena melihat dengan matanya, orang-orang melihat menjadi tidak awas. Abai bahwa orang buta tak menulis dengan pulpen dan kertas bergaris, tidak membaca dengan mata telanjang, juga tidak mengaji dengan mata jelalatan. Orang buta bisa menulis dengan tuts-tuts hape atau keyboard laptop. Jika di print hasilnya sama saja dengan orang melihat. Perbedaannya paling hanya tampak pada satu dua kata yang typo, misalnya paradigma menjadi paradikma, dimana dig dengan g dan dik dengan k terdengar sama saja jika dibacakan oleh mesin. Kata-kata keliru atau typo jika dibantu pengedit akan cepat diperbaiki difabel.

Beberapa hari lalu, seratus dua puluh tahun setelah Kartini wafat, di sebuah SMA Negeri di Makassar, ada guru memaksakan kehendaknya agar seorang murid perempuannya yang buta, yang telah membaca lebih banyak karya sastra dan menulis lebih banyak cerpen, cerbung dan novel dari pada sang guru, untuk menulis karangan terkait Covid19 dengan pulpen dan kertas. Gadis ini mengeluh sebentar dan kemudian tunduk pada superioritas sang guru.

Alhasil, gadis yang duduk di SMA Negeri 11 Makassar ini, mengumpulkan tugasnya berupa tulisan yang tak mampu ia baca sendiri. Tulisan dengan huruf besar dan kecil tak beraturan, kalimat yang keluar dari baris, dan tentu saja karangan yang tak selesai.

Guru macam ini, guru paling buta hatinya. Tapi bisa diandalkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kecuali dia bisa sedikit belajar dari bacaan atau tontonan yang melimpah tentang bagaimana orang buta belajar dan mengajar.

https://www.solider.id/baca/5902-beratnya-menempuh-pendidikan-sekolah-belum-ramah-difabel

Pengalaman Difabel Visual Selama Belajar Dari Rumah

Oleh: Nabila May Sweetha

Sudah sekitar satu bulan saya menetap di rumah. Learning from home atau Belajar dari rumah, tepatnya di kamar, menyimak penjelasan guru melalui aplikasi Zoom. Ada guru yang baik sekali mengirimkan file berbentuk PDF, agar saya dapat mengakses pelajaran. Ada pula guru yang menerima tugas yang saya ketik, lalu kirim berupa file ke beliau. Tapi, tak sedikit pula guru yang agak neko-neko. Tugas harus ditulis tanganlah, tugas harus difotolah, tugas inilah, tugas itulah. Sampai di kendala ini, saya masih bisa mengatasi. Satu dua tugas saya tulis tangan, tentunya dengan huruf yang dua kali lipat lebih besar dari huruf pada umumnya, dan sedikit keluar baris.

Saya terakhir bisa melihat tulisan itu di tahun 2017, dengan mata yang masih terang benderang. Sekarang, kalau pun saya tetap bisa menulis, nyata saja bahwa tulisan saya tak sebagus dulu, Bisa disebut berantakan.

“Tidak masalah, Bila, yang jelas masih bisa dibaca,” kata salah satu guru.

Saya mengiyakan, mengikuti saja pintanya. Padahal, kalau dipikir-pikir, apa tujuan guru menyuruh saya menulis pakai tangan?

“Biar kau terbiasa, Bila. Bukankah kau memang masih tahu menulis? Walau kadang-kadang keluar baris, tapi setidaknya itu lebih bagus ketimbang tidak menulis sama sekali,” ucap guru ekonomi di satu masa.

Saya menyabarkan diri, menarik napas panjang, mencoba mengerti jalan pikiran guru-guru. Saya tahu jelas, kalau sekolah saya adalah sekolah umum. Guru tak terbiasa mengajar anak didik yang hanya mengadalkan pendengaran. Guru tak terbiasa, menerima tugas hasil ketikan yang sudah diprint. Guru-guru tak terbiasa, memiliki anak murid yang melakukan banyak hal dengan cara yang berbeda. Mereka kemudian memaksakan agar saya, anak didik yang dianggap tidak normal itu, untuk menjadi sama dengan teman-teman lain.

“Nabila harus menulis tangan juga, Nabila harus tahu membaca dengan mata, Nabila harus mulai belajar menggunakan komputer tanpa pembaca layar, Nabila harus bisa melakukan apa yang teman-temannya lakukan. Dengan satu syarat, Nabila harus melakukan semuanya dengan cara yang sama seperti apa yang dilakukan teman-temannya. Nabila tidak bersekolah di SLB, maka dia harus jadi orang yang tidak luar biasa.”

Ok, sampai di sini kelihatannya guru-guru terlalu memaksa. Sebagian besar perintah guru memang bisa saya turuti. Yang jadi masalahnya kemudian, ini tak bisa menjadi solusi untuk junior-junior saya berikutnya.

Bagaimana jika mereka tidak bisa menulis tangan? Bagaimana jika mereka tidak mengenali bentuk matahari? Bagaimana jika mereka tidak tahu bagaimana itu rupa gunung dll.

Seharusnya, sekolah dan guru-guru di dalam sana harus mengerti. Bahwa menjadi murid di sekolah umum, bukan berarti seorang Difabel harus memaksa diri menjadi non difabel. Kenapa bukan sekolah saja yang mengubah cara belajarnya? Mengapa murid, yang notabennya adalah penerima jasa, yang harus dipaksa mengikuti hal yang menjadi normal di kalangan masyarakat?

Normal itu relatif. Dan, normal di asrama tunanetra adalah orang yang jalan dengan tongkat. Normal bagi komunitas tuli, adalah orang yang bicara dengan bahasa isyarat. Lantas, ketika saya memutuskan untuk sekolah di sekolah umum, haruskah saya mengikuti batas normal menurut mereka?

“Sekolah saya tinggal satu tahun lagi,”

Kalimat ini saya selalu saya bisikkan dalam hati. Sabar akan semua penolakan, akan semua ketidak mengertian guru. Bukan masalah muda memang untuk mengertikan semua guru, semua laposan dalam sekolah, bahwa saya bisa. Hanya memiliki cara yang berbeda. Bukankah banyak jalan menuju Roma? Pun, begitu dengan kasus ini. Bukankah banyak jalan untuk menjadi pintar? Tentunya, saya tidak harus membaca dengan mata untuk jadi orang yang berwawaasan.

Saya tidak harus menulis dengan pulpen dan tangan, untuk menjadi orang yang berilmu. Namun, mungkin, pemikiran sebagian guru belum sampai ke tahap yang ini. Mereka terlalu dikuasai oleh patokan normal yang mereka tetapkan sendiri, lalu menolak kenormalan lain yang dimiliki orang-orang selain mereka.

Kenapa sekolah saya tidak bisa menjadi seperti Institut Sastra Makassar (ISM) tempat saya belajar sastra?

Toh, selama ini semua orang di ISM, mulai dari mahasiswa hingga dosen bisa menerima cara saya yang berbeda dalam menulis, membaca dan sebagainya.

Kenapa, sekolah tidak bisa?

Di masa pandemi seperti ini, semakin sulitlah saya menciptakan ruang ingklusi untuk belajar. Guru hanya mengirim chat bernada tak bisa dibantah, jika saya memohon untuk tidak disuruh menulis tangan. Saat bertatap muka, saya lebih gesit lagi memohon pada guru. Membujuk, merayu, melakukan segala cara agar mereka mengerti bahwa saya harus menulis dengan keyboard external dan handphone.

Semoga masa sulit ini berlalu, semoga semua kembali menjadi baik. Agar saya bisa sekolah lagi, agar saya bisa membujuk atau apalah namanya agar guru ingin menerima tugas-tugas yang diprint.

Penulis: Nabila May Sweetha, Blind student, Aktivis PerDIK

Baca tulisan sebelumnya:

https://ekspedisidifabel.wordpress.com/2020/03/19/belajar-dari-rumah/

Panduan Bagi Volunteer Yang Ingin Membantu Pengisian Form Rapid Asessmen Bagi Difabel Netra

Penulis: Nur Syarif Ramadhan

Jadi setelah saya menyebarkan form online rapid asessmen tentang dampak pandemi covid 19 bagi difabel/penyandang disabilitas dan keluarganya yang diinisiasi oleh jaringan organisasi difabel/penyandang disabilitas Indonesia, saya mendapatkan beberapa keluhan dari kawan difabel netra (lowvision dan totaly blind) tentang sulitnya link form itu dibuka, screen reader kesulitan membaca sebahagian isi form, bahkan ada juga yang bilang kalau hp-nya langsung eror ketika membuka questioner online tersebut.

Saya juga seorang difabel (lowvision), dan merasa heran dengan keluhan kawan-kawan tersebut, karena berdasarkan pengalaman saya,  sama sekali tak kesulitan ketika membuka dan mengisi form asessmen itu. Saya kemudian mencoba mempelajari masalah yang mereka sampaikan. Setelah saya buka dengan beberapa hp yang menggunakan screen reader (pembaca layar), saya temukan beberapa hp khususnya yang berkapasitas ram dua giga memang kesulitan membukanya. Belum lagi adanya video interpreter dalam form tersebut kadang menyulitkan khususnya bagi totaly blind karena ketika kursor berada tepat pada video panduan bagi Tuli tersebut, kadang screen reader tiba-tiba tidak berbicara, atau bersuara tidak jelas. Bagi lowvision, mungkin lebih mudah memindahkan kursornya dari video tersebut ke teks yang ada dibawahnya. Tapi banyak kawan totaly blind yang tidak tahu jika screen readernya tiba-tiba diamm karena tidak sedang berada tepat pada teks  teks pertanyaan, melainkan pada video interpreter yang diperuntukan bagi teman Tuli. Kalau sudah begini, banyak kawan totaly blind yang menduga kalau hp-nya eror dan butuh direstart. Padahal, jika mereka bisa memindahkan kursornya dari video ke teks, screen reader tersebut dapat bekerja kembali.

Awalnya saya menjelaskan hal tersebut pada kawan difabel netra yang mengalami masalah itu, dan memintanya untuk membuka kembali form asessmen itu dan mengisinya. namun kebanyakan memilih menyerah dan tidak melanjutkan mengisinya. Saya lantas berinisiatif membantu mengisikan mereka dengan menghubungi mereka satu persatu, menginterview dengan membacakan isi questioner dan menginputkan jawaban mereka. saat melakukan ini, saya menggunakan handphone dan headset saat mengisinya. saya menggunakan fitur panggilan suara dari WhatsApp. Ternyata cara ini tidak begitu evisien. Karena form-nya tidak bisa langsung dibuka bersamaan  saat kita dalam mode panggilan suara via WhatsApp. Jika menggunakan cara ini, kita perlu membuka form-nya melalui laptop, ataukah menggunakan hp lain yang tidak kita gunakan menelpon.

Saya memikirkan cara lain. Tiba-tiba saya  menemukan paket menelpon murah dari telkomsel (ini bukan promo hahaha) yang saya akses di *100#. Dengan biaya pulsa 20000 saja, kita sudah mendapatkan paket bicara/menelpon selama 2800 (dua ribu delapan ratus) menit yang dibagi menjadi 2500 menit untuk sesama telkomsel dan 300 menit ke operator lain yang berlaku selama 30 hari. Tanpa pikir panjang saya lantas membelinya. Dibenak saya, saya sudah terngian bagaimana saya bisa membantu kawan difabel netra mengisi form rapid asessmen tersebut.

Setelah paket menelpon itu aktif, saya mulai menghubungi difabel netra yang bersedia mengisi form tersebut dan membantunya. Saat melakukan ini, saya lagi-lagi hanya menggunakan sebuah hp, headset plus keyboard bluetooth yang saya gunakan untuk mengetikan jawaban responden pada kolom yang memang perlu di ketikan jawabannya. Jadi saat menelpon mereka, saya sekalian membuka form asesmen itu secara online pada hp yang saya gunakan menelpon responden. Suara screen reader tetap bisa berfungsi, dan sesekali bertabrakan dengan suara responden yang sedang saya telpon. Bagi saya itu tidak masalah dan tidak terlalu mengganggu. Saat proses ini berlangsung, hanya saya yang dapat mendengarkan suara screen reader di hp saya, sedang responden hanya mendengar suara saya. Sependek yang saya tahu, semua hp Android cara kerjanya seperti itu.

Jadi saat menelpon responden, saya akan terlebih dahulu menanyakan apakah mereka bersedia terlibat dalam survei ini? jika bersedia, saya akan melanjutkannya dengan membacakan semua pertanyaan dalam form. Tentu sebelum itu saya harus membacanya terlebih dahulu dengan menggunakan pembaca layar. Sehingga ini membutuhkan banyak waktu. Sejauh ini, saya sudah menginterview lebih dari lima difabel netra, yang saya estimmasi tiap-tiap interview membutuhkan waktu sekitar 45-50 menit. Mungkin jika volunteer-nya orang awas (bukan difabel), akan membutuhkan waktu yang jauh lebih singkat, karena tidak membutuhkan screen reader untuk membacakan pertanyaannya.

Ada banyak difabel netra yang mau terlibat dalam asessmen ini, tetapi seperti yang saya sampaikan diatas, dibutuhkan volunteer untuk memfasilitasi mereka. Mungkin diantara anda ada yang bersedia? setidaknya bantu difabel netra yang berdomisili di wilayah tempat domisili anda. Jika anda seorang difabel netra dan bersedia terlibat dalam asesment ini tapi kesulitan mengisi form-nya, silahkan hubungi saya. Saya mengutamakan difabel netra yang tinggal di Sulawesi. Kita masih ada waktu sekitar sembilan hari sebelum asesment ini ditutup pada 24 april 2020.

Jika Kamu Difabel/Penyandang Disabilitas
Yuk, isi form ini
https://forms.gle/E8km4KWDTt16ihGcA
*Lalu bantu juga temanmu yang tidak bisa online untuk ikut mengisinya ya*

Donasi Kita dan Lambannya Birokrasi Mengurangi Kesulitan Keluarga Rentan

18 Maret 2020, virus Corona mulai teridentifikasi masuk Sulawesi Selatan. Itu berdasarkan temuan medik, boleh jadi sudah ada sebelum akhirnya ada temuan. Jadi, menurut kajian ilmiah dari Unhas, jika pandemi covid19 tidak ditangani di Sulawesi Selatan, maka ratusan ribu orang akan terinfeksi virus Corona dan puluhan ribu bisa jadi berakhir dengan kematian.

“tanpa ada intervensi yang tegas dan cepat, jumlah kasus positif di Sulsel dapat mencapai 143.390 orang, dimana puncak pandemi akan terjadi pada bulan Mei. Hal ini perlu menjadi perhatian serius”. Demikian petikan kesimpulan riset ini.

Tak berselang lama setelah Covid19 masuk, pemerintah dan sejumlah pihak menghimbau agar warga mulai menjaga jarak dan menghindari kerumunan dan pertemuan dalam jumlah banyak orang. Sekolah lalu diliburkan, kantor pemerintah dan swasta dibatasi jam kerja, shalat berjamaah khususnya Jumat tidak diserukan, waktu perdagangan dibatasi, dan pola hidup bersih dan sehat gencar dilanjutkan.

Berbagai kebijakan ini kemudian diikuti banyak orang. Perilaku individu dan kelompok mulai berubah dan gesekan pemikiran bahkan sosial pun mulai tampak. Orang yang bekerja di sektor informal lebih dulu merasakan dampaknya. Berjualan kurang pembeli, jaga parkir kurang kegiatna berkumpul, mau memijat orang takut bersentuhan, berjualan di sekolah dan kantor-kantor tak ada siswa, guru maupun pegawai hadir. Pendapatan berkurang dan simpanan (jika ada) diambil sedikit demi sedikit membeli kebutuhan pokok.

Di sejumlah tempat, khususnya di desa, arus balik perantau terjadi. Orang-orang rantau yang kehilangan pekerjaan di negeri seberang pulang kampung dan menambah beban ekonomi yang tiba-tiba. Pendeknya, dampak covid19 mulai semakin terasa.

Di PerDIK, sejak awal kami memutuskan merespon dengan cepat terjadinya pandemi ini. Kami tahu, orang tua adalah orang yang paling rentan mendapatkan dampak, dan orang tua dengan disabilitas jauh lebih rentan lagi. Kami mengundang anda berdonasi dan kami pastikan akan menyampaikan donasi itu berupa sembako.

Kami juga tahu bahwa pada akhirnya pemerintah akan membantu yang paling terdampak, tetapi seperti kebiasaan pemerintah kita, akan ada proses birokrasi yang berliku dan menyulitkan respon cepat dilakukan. Sampai saat ini, setelah hampir sebulan, apakah bantuan atau jaring pengaman sosial sudah berjalan. Tunggulah, sedikit lagi. Data akurat, juklak juknis, dasar kebijakan, tenaga pembagi dan segala urusan lain masih diupayakan segera beres.

Tapi orang miskin dan kelompok rentan lainnya tak bisa menunggu lebih lama. Tak ada dana cadangan di rumah dan pekerjaan sehari-hari untuk uang 50 sampai seratus ribu tak lagi mudah diperoleh. Bahkan untuk bilangan 20 ribu sehari sudah demikian terasa beratnya. Sementara tanggungan di rumah, anak-anak dan orang tua lanjut usia menanti pasrah penuh harap dari ayah atau ibu yang keluar rumah mencari penghasilan.

Donasi Anda bisa menutupi celah rumit ini, sambil menunggu pemerintah beres dengan urusan administrasinya dan memudahkan hidup orang-orang yang menghadapi kesulitan setiap hari.

Wakil Gubernur Sul-Sel Membawa Donasi ke Rumah PerDIK

Tadi siang, tim Wakil Gubernur Sulawesi Selatan bertandang ke rumah PerDIK. Informasi bahwa PerDIK menghimpun donasi dan menyalurkan bantuan untuk keluarga difabel lanjut usia. Kebetulan saat itu ada juga @⁨Andi Arfan2⁩ sekretaris Gerkatin Sulsel sehingga bisa berbincang dengan wakil gubernur yang diterjemahkan oleh Cici dari divisi usaha ekonomi organisasi PerDIK.

Paket yang dibawa wakil gubernur adalah 20 paket sembako (beras 3kg), minyak 1kg, gula 1kg, ikan kaleng dan mie instan serta masker dan beras 200 kg.

Terima masih kepada Bapak Andi Sudirman Sulaiman, Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, kepada Masyarakat Ekonomi Syariah (MES Sulsel) atas donasi kepada warga Difabel melalui Perdik, dan kepada pemberi Zakat bapak dari Sidrap sebanyak 200 kg beras, melalui Pak Wagub telah kami terima Zakat nya untuk warga Difabel melalui PerDIK.

Alhamdulillah, target PerDIK menghimpun dan mendistribusikan donasi ini masih akan berjalan sampai 29 Mei 2020. Hingga kini sudah mendekati 90 keluarga disabilitas lanjut usia yang menerima haknya.

Semoga kita semua sehat, baik pikiran maupun jiwa dan raga kita.

Amin Ya Allah.
http://ragam.id/2020/04/difabel-sampaikan-terima-kasih-ke-wagub-andi-sudirman-sulaiman-melalui-bahasa-isyarat/

RAGAM.ID, MAKASSAR – Setelah melepas Relawan Gerakan Sejuta Posko Sulsel Berzakat. Wagub bersama relawan mengunjungi Kantor Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PERDIK) Sulawesi Selatan.

Ia menyerahkan bantuan Jaring pengaman sosial yang digerakkan oleh Relawan Gerakan Sejuta Posko Sulsel Berzakat untuk penanganan Virus Corona (Covid-19) di Sulsel.

Bantuan tersebut bersumber dari donasi berupa sedekah dari Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) dan Zakat dari partisipan yang telah memberikan donasi.

Dalam moment kebersamaan tersebut, anggota Perdik menyampaikan ucapan terima kasih kepada Wagub dalam bahasa isyarat.

“Terima kasih Pak Wagub atas bantuannya,” jelas Andi Kasri Unru yang merupakan warga difabel Tuli dengan menggunakan bahasa isyarat.

Ketua Perdik, Abdul Rahman atau Akrab disapa Gusdur, turut menyampaikan ucapan tersebut, bantuan yang diberikan sangat membantu untuk anggota Perdik.

“Terima kasih kepada Andi Sudirman Sulaiman Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, kepada Masyarakat Ekonomi Syariah (MES Sulsel) atas donasi kepada warga Difabel melalui Perdik, dan juga kepada partisipan yang telah memberikan Zakatnya berupa bantuan beras untuk di sumbangkan ke warga difabel,” Katanya.

Selain menyerahkan bantuan, Wagub Andi Sudirman Sulaiman memberi semangat kepada Warga Difabel, pengurus dan anggota PERDIK.

“Kepada anggota Perdik, tetap semangat. Terlebih untuk Difabel yang terkena dampak ekonomi akibat Covib-19, kita akan bersama sama bahu membahu lalui kondisi ini,” ungkapnya di Kantor Perdik, Jalan Syech Yusuf, Gowa, Senin 13 April 2020.(*)

Andi Arfan dan Andi Kasri Unru, keduanya Tuli sedang berbincang dengan Wakil Gubernur dengan menggunakan bahasa isyarat
Foto bersama Wakil Gubernur di Rumah PerDIK

RENUNGAN PASKAH: Sebuah Tulisan untuk Perempuan Flobamora Tercinta di tengah Covid19

Oleh: Berti Soli Dima Malingara, (pegiat GARAMIN NTT)

Covid19, Terima kasih sudah datang di bumi Flobamora kami. Terima kasih dengan kehadiranmu. Kami menjadi semakin bersatu melawanmu yang tak terlihat. Terima kasih untuk rasa takut yang terlintas, dan membuat kami takut kehilangan orang-orang yang kami cintai.

Berita di media semakin mencekam melihat kematian seolah-olah sangat dekat dengan siapapun.Kami harus memilih mencintai dan mendoakan dari jauh orang-orang yang kami kasihi. Jaga jarak demi melindungi diri dan orang lain sekaligus memutus rantai penyebaran covid 19.

Ternyata itu tidak cukup.

Justru ditengah ketakutan yang melanda, ada keberanian tumbuh di dalam hati untuk mulai menggalang kekuatan dan bersatu melawan Covid19. Banyak orang lalu berpikir bagaimana berkontribusi untuk Flobamora.

Menurut data NTT tahun 2019,  terdapat sejumlah 38.650 Penyandang Disabilitas atau difabel (http://www.nttonlinenow.com/…/pemprov-ntt-curhat-soal-peny…/). Jika mengacu pada data BPS ini, maka jumlah Tuli (tidak bisa bicara dan mendengar, menggunakan bahasa isyarat) adalah urutan tertinggi kedua setelah disabilitas fisik, 2.197 orang. Namun jika seluruh kategori disabilitas pendengaran dan bicara disatukan maka jumlahnya mencapai 5.166 orang. Seluruh kategori ini disebut juga sebagai Tuli (Deaf), Kesulitan mendengar (Hard of Hearing, HoH) dan Kesulitan berbicara (Hard of Speech, HoS). https://ntt.bps.go.id/dynamictable/2019/02/19/978/banyaknya-desa-kelurahan-menurut-keberadaan-penyandang-cacat-di-provinsi-nusa-tenggara-timur-2018.html?fbclid=IwAR0aVsUjj-K3b2BQFCO_TZ9jUGUx4O2poXO5BubCEyQlceMBvsL7y6DrRbA. Semoga data tersebut akurat dan semua difabel terdata dengan baik.

Data ini mengejutkan saya di tengah perenungan selama berdiam diri di rumah kurang lebih 3 minggu. Covid 19 identik dengan masker, hand-sanitizer dan desinfektan. Diam di rumah juga jadi himbauan masif walaupun masih ada yang kurang taat.

Difabel Tuli prioritas Covid 19, the power of connection, awal kesadaran pentingnya semangat solidaritas.

Seorang peneliti senior bernama kak Dominggus Elcid Li mengajak saya bergabung dalam sebuah grup WA. Nama groupnya FAN Covid19, Forum Akademia NTT. Saya senang sekali ada dalam grup multisektor ini. Di sini kami berpikir bersama dan berupaya saling membantu menghambat penyebaran Covid19. Saya adalah anggota organisasi inklusi difabel yang baru terbentuk 14 Februari 2020 bernama GARAMIN NTT (Gerakan Advokasi Transformasi Disabilitas untuk Inklusi).

Saat ini saya tinggal bersama adik angkat bernama Elmi Sumarni Ismau. Ia seorang difabel kinetik—disabilitas fisik. Tinggal bersamanya, membuat saya berpikir bagaimana agar difabel bisa berperan aktif sebagai warga negara di NTT ini.

Baru-baru ini, saya dan  Elmi membuat sebuah video sederhana bagaimana cara membuat masker transfaran. Masker ini khusus untuk Tuli, HoH atau HoS. Sebuah masker yang transfaran di bagian mulut sehingga gerak bibir jelas terlihat saat bicara. Bukankah masker tertutup akan menghambat Tuli melihat gerak bibir lawan bicaranya.

Awalnya, dari sebuah postingan dari kawan-kawan di facebook tentang gambar masker transparan yang dibuat salah seorang mahasiswi Amerika yang sedang belajar tentang pendidikan untuk siswa Tuli dan kesulitan mendengar di Eastern Kentucky University bernama Ashley Lawrence. Ini link-nya https://www.goodnewsnetwork.org/college-student-sews-free-face-masks-for-hearing-impaired/?fbclid=IwAR1TtpDZyBFV8XeSlAWbEly5ANaRa3dLx7unE05tCSrJyNblJhIsRp2FNKg.

Saat itu saya hanya membaca tanpa berpikir bagaimana membuatnya. Saya sepertinya mengabaikan informasi di atas karena belum banyak berinteraksi denga teman Tuli. Saya asik dengan melihat interaksi yang setara dalam grup FAN Covid 19 ini.

Solidaritas tanggap Covid19 NTT inklusi tanpa mengabaikan prinsip No one left behind.

Karena tidak banyak orang yang berbicara tentang difabel, saya akhirnya berpikir bagaimana cara menghubungkan semua, baik fisik, sensorik, mental dan intelektual agar bisa berdiskusi di tengah situasi buruk saat ini.

Saya berdiskusi dengan Kak Elcid. Ia juga penasehat dari organisasi kami, Garamin. Ia menyarankan agar membuat group WA juga sebagai media komunikasi antar difabel. Saya pun melakukan sarannya. Saya berpikir dengan membuat wadah inklusi, teman-teman dari berbagai pulau di NTT bisa saling belajar. Saya lalu teringat teman-teman difabel di berbagai tempat: Sumba Timur, Sumba Barat, Ende dan Sikka. Saya juga ingat Soe, Kefa dan Belu.

Saya kemudian membicarakan gagasan ini Yafas Agusson Lay, Vinse Bureni, dan Victor Halengky Haning dan anggota GARAMIN lainnya. Yafas adalah pimpinan organisasi kami. Akhirnya pada 6 April 2020, group terbentuk dan satu persatu anggota difabel dimasukkan. Orang-orang yang bergabung adalah yang bersedia dan mendukung semangat inklusi untuk NTT.

Tiba-tiba saja banyak juga orang bergabung dalam group. Kami kaget. Dalam waktu singkat kami memiliki banyak teman baru.

Kami mulai mendata dan memetakan anggota difabel dan non difabel dengan tujuan melihat kebutuhan utama dari difabel. Saat ini anggota grup kami sebanyak 111 orang dan 28 organisasi (Organisasi difabel LSM lokal maupun Internasional yang fokus untuk isu inklusi disabilitas) dari Kota Kupang, Kab TTS, Kab. TTU, Belu, Sumba Timur, Sumba Barat, Maumere, Ende dan Ruteng.
Kami bersyukur punya tim kuat yang mendukung kami yang baru dan mau belajar untuk bisa menjadi berkat buat NTT.

Prinsip nothing about us without us
Saya tidak berhenti di group ini Saja. Saya menghubungi Kak Elcid kembali dan memintanya agar memasukkan beberapa kawan kami yang difabel di grup FAN CoVId 19. Tujuannya agar difabel dapat menyuarakan kebutuhan mereka di grup besar yang multistakeholder.

Kak Elcid setuju dan menjadikan saya admin dan saya menambahkan nama teman-teman. Saya senang sekali.

Pada 9 April 2020, Ketua Komunitas Tuli Kupang, Darco Lado berani bersuara dalam forum tersebut meminta hak akses informasi.

“Apakah ada JBI (juru bahasa isyarat) saat konferensi pers berikutnya agar teman-teman Tuli tahu apa yang  terjadi?

Salah seorang aktivis pejuang hak difabel Sischa Rosa Linda Solokana langsung merespon untuk dibahas secara internal. Siska membantu memfasilitasi hingga akhirnya pada 10 April 2020 sudah ada JBI dalam konferensi pers gugus tugas Covid 19.
Saya melihat ada yang aneh karena JBI tidak menggunakan masker. Saya bertanya kenapa tidak pakai masker?  Siska menjelaskan kalo Tuli perlu membaca gerakan bibir. Saya langsung teringat dengan masker transparan tadi. Saya tidak bisa menjahit jadi tidak bisa membantu. Saya teringat dengan Komunitas Film Kota Kupang yang sedang membuat gerakan 1000 masker. Saya coba bicara tapi tidak ada peluang karena mereka tidak bisa membuat desain berbeda. Mereka hanya bisa membuat masker umum karena juga mengandalkan relawan.

Saya tidak habis akal. Saya kembali ke grup Tanggap covid NTT inklusi dan menyampaikan bahwa teman Tuli dan JBI harus pakai masker karena bahaya di kumpulan banyak orang tanpa seseorang memakai masker. Di tengah kegalauan saya, saya melihat teman saya Andi Kasri Unru yang dipanggil Akas yang memperagakan memakai sebuah masker transparan karya teman Tuli di Makasar.

Akas adalah teman saat mengikuti pelatihan yang difasilitasi AIDRAN (Australia Indonesia Disabilities Research Network) yang diketuai oleh Ibu Dina Afrianty. Bukan hanya bergaya saja tapi ada juga pola dan cara membuat masker transparan. Kak Ishak Salim dan teman-teman PerDIK juga merupakan penyemangat kami melalui postingan-postingan facebook mereka bersama Akas.

Saya juga coba bertanya ke salah satu wartawati dari SIGAB Jogja ( Mbak Harta Nining Wijaya) dan mendapat infomasi tentang masker transparan. Salah seorang wartawati membagikan infomasi tentang penjual masker transparan di Jogjakarta.

Sekarang ada 2 pilihan, menjahit sendiri atau membeli. Kalau membeli butuh biaya besar ongkos kirim dan lama.
Saya lalu membagikan video dan cara membuat masker yang dibagikan Akas. Lalu saya tanya di grup, apakah ada yg bisa menjahit di grup ini?

Ternyata ada 2 orang. Salah satunya difabel Tuli bernama Yetri. Yetri dibantu Wulandari Kadja dan Anne berdiskusi dan membeli bahan untuk mencoba membuat.

Pagi hari bertepatan dengan Paskah, Anne memberi kejutan di grup dengan membagikan video Yetri yang sudah berhasil menjahit masker transparan. Saya senang sekali seperti mendapat hadiah telur paskah semasa kecil. Yetri dan teman-teman Tuli berhasil mengatasi persoalan mereka dengan cara berinovasi, yakin, suka rela dan cepat. Dia bukan hanya membuat untuk diri sendiri tetapi akan membuat juga buat Tuli dan JBI lainnya. Ada sekitar 58 orang dan kemungkinan akan dibantu oleh salah satu desainer hebat kami Sandra N Lola.

Ini kolaborasi yang luar biasa.

Di Ruteng juga ada sepasang suami istri Tuli yang sudah menjahit 250 masker. Mereka juga akan mencoba membuat masker transparan yang aman dan nyaman ketika berkomunikasi ditengah badai covid 19 ini.

Terima kasih untuk semua tim yang ada dalam grup Tanggap covid NTT inklusi dan semua pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu

Pelajaran untuk direnungkan: Prinsip no one left behind, Nothing about us without us, equality and women empowerment.

Kerja bersama ini merupakan himpunan kontribusi kecil dari banyak orang sehingga membentuk hasil besar. Saya hanya bagian kecil dalam upaya ini, begitu pula yang lain. Tapi pelibatan difabel, atau Tuli merupakan hal berharga karena mereka dapat mengenali masalah yang dihadapi dan mencari solusinya. Selebihnya adalah kemauan, inisiatif, dan semangat untuk mencoba hal baru.

Corona virus tidak mampu melumpuhkan semangat dan kesatuan hati untuk perempuan-perempuan pilihan Allah.
Diam di rumah bukan berarti tidak bisa berkarya. Diam di rumah bukan berarti tidak bisa menghasilkan diskusi yang berkualitas. Diam di rumah membuat kita banyak memanfaatkan waktu untuk membaca dan berinovasi.
Ketika satu pintu tertutup, selalu ada pintu lain terbuka. Pengharapan dalam Yesus tidak pernah sia-sia. Perempuan yang dipandang lemah justru menjadi radikal dalam hal positif.

Paskah menjadi momen kebangkitan perempuan tanpa memandang perbedaan. Yesus bangkit untuk membebaskan perempuan dari ketakutan, perasaan tidak mampu dan sikap mementingkan diri sendiri.
Kebangkitan Yesus membuat perempuan bangkit untuk berani melangkah mencari solusi, berani berdiskusi, berani menyampaikan ide, berani mengeksekusi ide, berinovasi, dan berani mempublikasikan karya yang menyelamatkan diri dan sesama.
KebangkitanNya memberi pengharapan bagi semua orang. KebangkitanNya memerdekakan jiwa yang terkungkung dosa dan ketakutan karena banyak hal.
Terima kasih Yesus yang sudah bangkit untuk memgubah hidup perempuan seperti saya dan adik2 saya dari komunitas Tuli.

Pertanyaan yang bisa dijawab lewat perenungan sebagai perempuan dan aksi solidaritas bersama:

  1. Maukah kita menjadi perempuan pilihan Allah yang mau saling melayani, saling menguatkan untuk menjadi berkat buat banyak orang?
  2. Maukah pemerintah memperhatikan kebutuhan difabel di berbagai lintas sektor kehidupan untuk membebaskan mereka dari hambatan struktural, infrastruktur, ekonomi, sosial dan kebijakan lain memberikan ruang kemerdekaan buat perempuan difabel dan semua ragam difabel di NTT?
  3. Maukah difabel dan pegiat isu disabilitas inklusi terlibat dalam pemuktahiran data agar NTT bisa punya data yang valid seperti janji pemerintah tahun 2020 ini? https://radarntt.co/news/2019/bps-pastikan-data-riil-disabilitas-ntt/?fbclid=IwAR1QGn8ubrM7Sr9BPfM3V610bsXAWadlb8rf936hrneH6Syq11f55K3mNu0

Mari bergandengan tangan untuk membuat NTT semakin inklusi di tengah COVID19.
Terima kasih para penasehat dan semua pihak yang mendukung solidaritas bersama untuk NTT inklusi dalam masa sulit ini.

Selamat Paskah untuk semua yang merayakan.

Kupang, 13 April 2020

(Note: Video ini saya bagikan atas ijin Nona Yetri penjahit masker transparan dari Kupang)

video peragakan masker transparan

Stigma Disabilitas di masa Pandemik Covid19

Oleh Ishak Salim

Menjadi difabel, lalu akhirnya menua dan sendiri bukan laku hidup yang mudah. Jamsir, Jaswir atau entah siapa nama sesungguhnya ia sudah dinyatakan negatif dari virus Corona.

Beberapa hari yang lalu, mungkin seminggu lebih. Saya mendengar voice note seorang kawan yang menjelaskan nasib yang menimpa Jaswir. Singkatnya, ia memeriksakan diri ke rumah sakit dan dokter menyarankan ia mesti dirawat beberapa hari. Tapi karena Jaswir sebatang kara di Makassar pihak rumah sakit memintanya pulang saja.

Jaswir seorang penjual kripik keliling. Ia berasal dari Sulawesi Tenggara. Matanya buta dan orang-orang yang tinggal di Makassar mungkin saja pernah membeli keripiknya. Memberi uang lebih, mengambil kripik sekadarnya saja dan setiba di rumah kripik itu mungkin tak dimakan. Mungkin, orang-orang membeli karena kasihan sama Jaswir yang buta, berkeliling sendiri, meraba atau menerka jalanan.

Saya tidak berandai atau berburuk sangka pada pembeli-pembeli itu. Melainkan saya telah mendengar pengalaman beberapa pembeli dan beberapa orang buta atau teman Jaswir. Bahwa berdagang kripik dengan berjalan berkeliling kompleks adalah usaha menguntungkan. Tak peduli orang suka kripik pisang atau kripik marning, kebanyakan mereka membeli dengan uang lebih yang tak perlu dikembalikan. Hanya sesekali orang beli sesuai harga saja tanpa uang lebih apalagi rasa kasihan, saya salah satunya.

Saya membeli beberapa kali, dan setiap membeli saya selalu menyempatkan mengobrol atau menanyakan nama dan di mana tinggalnya. Nama Jaswir memang baru kudengar.

Sekembalinya ke kamar kos saat pihak rumah sakit menolaknya tinggal tanpa penjaga, itulah kami mendengar kabarnya dari sebuah voice note tadi, kami berembuk di PerDIK. Tindakan advokasi pun kami lakukan sampai akhirnya Gugus Tugas provinsi mengambil peran lebih dekat ke Jaswir.

Selanjutnya kami hanya berkoordinasi saja dengan berbagai pihak. Rahman Gusdur menghubungi siapa saja yang bisa meringankan beban Jaswir. Intinya saat itu adalah Jaswir kembali dirawat di rumah sakit. Lobi berhasil, Jaswir yang katanya hanya makan nasi, garam dan kecap saja akhirnya dijemput dan dibawa ke rumah sakit.

Beberapa hari di rumah sakit, dokter sudah mengetahui status kesehatan Jaswir, yakni negatif. Ia boleh pulang.

Pulang ke mana?

Pemilik kamar kos menolaknya. Ia tidak bisa tinggal lagi di sana. Siapa yang bisa membelamu Jaswir?

Ada, gugus tugas bergerak. Lurah dan RT dihubungi, berharap bisa bicara dengan pemilik kos. Nihil. Pemilik kos bergeming.

Ada jalan lain?

Ada, gugus tugas dan PerDIK mencari kos lain untuknya. Mungkin dalam setiap pencarian jujur disampaikan kondisi Jaswir dan asal usulnya tak mudah menemukan dan ada yang mau tapi begitu mau dibayar pemilik membatalkan. Informasi proses pencarian ini saya ketahui dari status fesbuk ibu Alita Karen. Tak habis akal dan niat baik yang mendasari tindakan akhirnya ada jalan keluar.

Sore tadi, Jaswir sudah ke kamarnya. Teman-teman baik mengantarnya, sebagian jelas tak dikenalnya.

Dari rumah PerDIK Sulsel kami menimbang apa saja yang bisa disiapkan untuk Pak Jaswir. Kami punya beberapa stok barang yang belum terpaketkan. Hingga saat ini kami sudah mendistribusikan lebih 60 paket bagi difabel lanjut usia. Walaupun Jaswir mungkin belum berusia lansia, kami bersepakat untuk membelikannya beberapa kebutuhan harian dan tentu saja sembako.

Semoga lekas sembuh teman, dan umur panjang kerja advokasi dan pengorganisasian difabel.

Distribusi Donasi, PerDIK Menjangkau Difabel Lanjut Usia Gowa

Rilis PerDIK, 10-04-2020

Difabel Community Gowa (DC-Gowa) dan PerDIK Salurkan Paket Sembako Untuk Difabel Lansia Di Gowa

PerDIK Gandeng Difabel Community of Gowa Salurkan Paket Sembako

Makassar – Setelah sukses menyalurkan paket sembako pada puluhan warga difabel lanjut usia di kota Makassar, pada jum’at, Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) bersama Difabel Community Gowa (DC Gowa) kembali membagikan puluhan paket sembako pada warga difabel lanjut usia yang bermukim di kabupaten Gowa.

“Pilihan kami mengapa tertuju kepada Orang lanjut usia, khususnya difabel, tentu sudah kawan-kawan ketahui. Mereka adalah yang paling rentan saat ini.” Jelas Rahman Gusdur, direktur PerDIK saat menyerahkan 20 paket sembako di sekretariat Difabel Community of Gowa, di Desa Barembeng, kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa.

“Dalam kerja kemanusiaan ini, PerDIK memang bekerjasama dengan beberapa lembaga baik pada saat menghimpun donasi sampai pendistribusiannya. Khusus di kabupaten Gowa, DC Gowa yang selalu kami ajak komunikasi. Selain mereka punya data difabel lanjut usia di Gowa, kabupaten Gowa juga merupakan kabupaten yang paling besar terdampak pandemi covid-19 setelah Makassar.” lanjut Gusdur.

Ketua DC Gowa, Kamaruddin menyampaikan bahwa komunitasnya juga cukup aktif merespon pandemi Covid 19 dengan beberapa aktivitas kemanusiaan selama pandemi ini berlangsung.

“Setiap hari saya menjahit masker kain dan membagi-bagikannya pada masyarakat yang membutuhkan. Sejauh ini saya sudah membagikan kurang lebih 390 masker ke masyarakat di Gowa.” paparnya.

Kamaruddin menghimbau pada masyarakat gowa yang butuh masker agar dapat menghubunginya. “Kalau ada yang butuh masker, bisa datang ke rumah. Insya Allah kalau kalau persediaan kami masih ada, kami akan terus salurkan.” tutupnya.

Penggalangan donasi dan penyaluran akan PerDIK lakukan hingga 29 Mei nanti, sampai siaga korona berakhir. “Setiap persepuluh hari, kami belanjakan dan distribusikan donasi kepada 30 keluarga difabel lanjut usia.” tutup Gusdur.

Jika anda ingin berdonasi ke PerDIK, Kirim donasi Anda ke Rek BRI : 380801020912531 (a.n. lembaga pergerakan difabel Indonesia untuk kesetaraan) atau jika berupa barang, dapat diantarkan ke rumah PerDIK, Perumahan Graha Aliah Jl. Syekh Yusuf Blok E3a, kelurahan Katangka, kecamatan Somba opu, kabupaten Gowa[].

Update Hari ke-14: Donasi Kita untuk Keluarga Difabel Lanjut Usia

Kini sudah hari ke-14 sejak kami menghimpun donasi. Saat ini sudah masuk donasi sebesar Rp 22.601.000 atau Dua Puluh Dua Juta Enam Ratus Satu Ribu Rupiah.

Kami perlu sampaikan bahwa kami telah mendistribusikan 29 Paket donasi tersebut dan saat ini kami telah melakukan pembelanjaan donasi tahap kedua (Sepuluh hari kedua) dan akan memaketkan lagi 30 paket untuk Keluarga Difabel Lanjut Usia.

Pilihan kami mengapa tertuju kepada Orang lanjut usia, khususnya difabel, tentu sudah kawan-kawan ketahui. Mereka adalah yang paling rentan saat ini.

Berikut kami update nama-nama pemberi donasi:

NONAMAJUMLAH DONASITANGGAL TRANSFER
1Dita IninnawaRp500.00025 Maret 2020
2ZaldyRp200.00025 Maret 2020
3Juliana HamRp100.00025 Maret 2020
4Not ConfirmRp2.000.00025 Maret 2020
5Abdullah SanusiRp500.00026 Maret 2020
6Hamba AllahRp151.00027 Maret 2020
7Amirullah SyarifRp500.00027 Maret 2020
8dr. HabibahRp300.00028 Maret 2020
9AwemRp1.000.00028 Maret 2020
10No NameRp300.00028 Maret 2020
11NuniRp50.00028 Maret 2020
12ElvitaRp1.000.00029 Maret 2020
13Chaerunniza FitrianiRp50.00029 Maret 2020
14Ardi YansyahRp100.00030 Maret 2020
15Cheta NilawatiRp300.00030 Maret 2020
16Helmiati KadirRp500.00031 Maret 2020
17Nurhayati LatiefRp150.00031 Maret 2020
18Helviani PasangRp200.00031 Maret 2020
19H. Ivan P. DjalaniRp1.000.00001 April 2020
20Hamba Allah (UN)Rp1.000.00001 April 2020
21Mustakim MunirRp300.00001 April 2020
22AAYRp250.00001 April 2020
23Muhammad FadlyRp100.00001 April 2020
24Ruth EvelinRp200.00001 April 2020
25Hj RamlahRp1.000.00002 April 2020
26H. Andi ArkamRp500.00002 April 2020
27Cucu SaidahRp500.00002 April 2020
28Hamba AllahRp2.500.00002 April 2020
29Komunitas Pegawai BRSPDF WirajayaRp3.200.00003 April 2020
30Irawan DanuRp500.00003 April 2020
31Maya DamayantiRp250.00004 April 2020
33Endah MarheniRp1.000.00005 April 2020
34Andi SatrianaRp100.00006 April 2020
35Mawar LestariRp250.00006 April 2020
36Nur UtaminingsihRp300.00007 April 2020
37Komunitas Pegawai BRSPDF WirajayaRp1.450.00008 April 2020
38Komunitas Pegawai BRSPDF WirajayaRp300.00008 April 2020

Selanjutnya, terdapat juga donasi berupa barang, yakni:

Bantuan Barang
1. Istiana Purnamasari, 1 liter Gliserin dan 2 botol Hand sanitizer
2. Komunitas Pegawai Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Fisik (BRSPDF), 30 lembar Masker kain
3. Kamaruddin, Difabel Community of Gowa sebanyak 50 lembar masker
4. No Name (Rappokalling) , 200 lembar masker kain

5. PT Telkom Indonesia (5 karung beras @ 25kg, 6 dos mie instan, 30 batang sabun anti septik, 180 masker biasa/sekali pakai)

Kami mengucapkan terima kasih.

Jika sampai kalimat ini Anda masih membaca dan ingin juga berdonasi, maka berikut petunjuknya.

#PerDIKmemanggil
Bersama Melawan COVID19

Mari Berdonasi untuk
DIFABEL LANJUT USIA

Wabah covid19 atau penyakit akibat virus corona sedang melanda dunia, termasuk Indonesia. Semua orang dapat terkena dampaknya, terkhusus Difabel Lanjut Usia. Mari bersama-sama meringankan beban orang-orang tua kita.

Kami akan mengorganisir Donasi dari Publik, orang-orang baik seperti Anda.

Jenis bantuan:
1. Alat Perlindungan Diri (APD) seperti masker, sarung tangan, dll.
2. Alat dan cairan Desinfektan
3. Subsidi cek/tes virus corona
4. Hand sanitizer
5. Sabun Antiseptik/cuci tangan
6. Paket Sembako
7. Bahan informasi akses
8. Uang tunai

Kirim donasi Anda ke Rek BRI : 380801020912531
(a.n. lembaga pergerakan difabel Indonesia untuk kesetaraan)

Atau, jika berupa barang, silakan kirim atau antar ke alamat:

Rumah PerDIK
Perumahan Graha Aliah
Jl. Syekh Yusuf Blok E3a Kelurahan Katangka, Kec. sombaopu, kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Untuk informasi donasi
cp. Zakia di 0895356062713