Oleh: Nur Syarif Ramadhan, Koordinator Pengelola Pustakabilitas

Kami disatukan dalam sebuah rumah yang diberi nama ‘Jaringan Organisasi Difabel/Penyandang Disabilitas Respon COVID-19’. Sadar bahwa pandemic ini akan berdampak signifikan khususnya pada difabel, kami memutuskan mulai membangun rumah ini menjelang akhir maret lalu. Kami mengajak semua difabel dari berbagai latar belakang: Aktivis, Pengusaha, ASN, pelajar, dengan ragam kemampuan, tanpa memandang perbedaan apapun untuk bergabung. Ada juga nondifabel yang selama ini aktif dalam Gerakan difabel, serta pemerhati isu difabel dan keluarga difabel yang turut gabung.

Sore kemarin (14-06), melalui zoom, kami memutuskan duduk Bersama, melihat kembali apa yang telah kami lakukan selama rumah ini terbentuk. Merayakan keberhasilan-keberhasilan kecil yang sudah dicapai, mengevaluasi kekeliruan-kekeliruan yang tanpa sengaja dilakukan, serta merancang aksi lanjutan yang mesti kami lakukan kedepan.

Jony Yulianto (SIGAB Indonesia), mengawali refleksi dengan menyampaikan mengapa refleksi ini penting dilakukan. Ia berterimakasih kepada teman-teman yang telah meluangkan waktu mengikuti refleksi siang menjelang sore itu yang sebenarnya dirancang secara mendadak. Juga apresiasi kepada Rival Ahmad (Sekolah Hukum Jentera) yang bersedia memfasilitasi.

Ishak Salim (PerDIK Sul-Sel) menyampaikan bahwa undangan refleksi ini tidak hanya disebar pada difabel yang bernaung pada grup webkusi jaringan difabel respon Covid, tapi juga pada sekitar 700-an difabel yang menjadi responden dalam kajian cepat dampak COVID-19. Namun ada kisaran 300-an email yang mental, tidak terkirim. Ada juga form refleksi yang dibuat secara online, yang sudah mendapat puluhan respon.

Pada kolom peserta, zoom mendeteksi ada sekitar 35 orang yang hadir pada awal refleksi. Selanjutnya angka itu terus naik, dan terhenti di angka 72.

Usai menjelaskan secara singkat alur refleksi, Rival menyarankan peserta untuk mengawali refleksi dengan bernyanyi, merayakan ulang tahun Jonna Damanik (institut Inklusif Indonesia). Berharap semangat beliau menular pada peserta selama berlangsungnya refleksi, serta dalam keberlanjutan Gerakan ini kedepan.

*

Ishak kemudian membacakan respon peserta yang telah diinput melalui google form. Hal pertama yang ia sampaikan mengenai hal-hal baik apa yang telah dilakukan selama jaringan ini ada?

Ternyata responnya sangat kaya. Jika dibuat dalam poin per poin, kira-kira keberhasilan-keberhasilan yang sudah dicapai menurut anggota jaringgan diantaranya:

  1. Jaringan ini telah menghasilkan kolaborasi yang baik antara organisasi difabel, juga dengan pihak-pihak lain diluar jaringan seperti pemerintah, NGO lain dan kelompok donor yang menjadi mitra pembangunan.
  2. Adanya diskusi mingguan (webkusi) secara online melalui zoom yang membahas tema-tema actual terkait difabel. Bahkan webkusi ini telah menginspirasi beberapa daerah untuk melakukan hal yang sama di daerahnya seperti yang dilakukan oleh jaringan organisasi difabel di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Webkusi ini telah menghasilkan proses transfer pengetahuan antar organisasi difabel yang secara tidak langsung telah berhasil meningkatkan kapasitas tiap-tiap orang.
  3. Kajian cepat (rapid asessmen) terhadap dampak COVID-19 terhadap kehidupan difabel di Indonesia. Kajian ini telah diikuti oleh difabel dari 32 propinsi, dengan jumlah responden 1683 orang. Laporan hasil kajian ini telah diselesaikan, sudah dipresentasikan ke pemerintah melalui kementerian Perencanaan Pembangunan (bappenas). Hasil kajian ini dapat diakses oleh siapa saja, dapat didownload melalui website jaringan difabel respon COVID (). Selanjutnya tim sedang mengupayakan agar hasil kajian ini dapat dicetak dan ber ISBN sehingga dapat diarsibkan melalui perpustakaan nasional.
  4. Lahirnya inisiatif dari beberapa daerah untuk meringankan beban difabel yang terdampak melalui penerimaan dan pendistribusian bantuan, difabel yang berpropesi sebagai penjahit mendesain masker yang aksesibel bagi tuli, hingga kemudian mendorong beberapa daerah untuk melakukan pendataan difabel.

Yuktiasih Proborini (Sejiwa Foundation) dari Semarang berpendapat, agar pencapaian-pencapaian baik ini tidak berhenti di sini, jaringan harus terus mengawal hasil dan rekomendasi kajian yang sudah disusun agar pemerintah dapat menjadikannya sebagai kebijakan baik nasional maupun lokal.

Jaka Ahmad (CBM Indonesia) menyarankan, agar survei yang telah dilakukan dapat dijadikan acuan oleh pemerintah untuk membenahi data disabilitas secara nasional yang hingga sekarang masih amburadul.

Dari ujung timur Indonesia, Robby Nyong (PPDI Papua) merefleksikan bahwa jaringan ini betul-betul sukses meningkatkan pengetahuan para difabel. Webkusi mingguan yang dilakukan secara online telah membuat difabel dari gagap teknologi menjadi mahir, pendataan secara online juga menurutnya sangat mudah dan lebih cepat dan jangkauannya lebih luas.

Senada dengan itu, Berti Soli Malingara (GARAMIN NTT) menyampaikan bahwa jaringan ini telah banyak menginspirasi jaringan difabel di NTT dalam bergerak menyuarakan hak-hak difabel. Ia berharap kedepan jaringan difabel didaerah dapat dibimbing dan dibantu untuk ditingkatkan lagi kapasitasnya, karena masih banyak aktivis muda difabel yang perlu dibimbing.

Akhirnya sesi ini ditutup dengan kesimpulan yang dikemukakan M. Ismail (SIGAB Indonesia). Menurutnya, Momen pandemi menjadi daya tarik dalam menggalang solidaritas komunitas yang terdampak. webkusi menjadi sarana mempersatukan kerja-kerja yang lebih massif. Jika pandemic ini sudah  berakhir, Gerakan ini jangan sampai jadi antiklimaks. Selain itu Ismail juga Mengapresiasi anak-anak muda difabel yang sudah bergerak, tapi tidak/belum masuk dalam jaringan webkusi.

*

Setelah rehat sejenak, Rival melanjutkan dengan Sesi merefleksikan hal-hal yang dianggap kurang dan perlu ditingkatkan dalam kerja-kerja berikutnya. Beberapa respon yang dikemukakan diantaranya:

  1. Perlu merangkul aktivis yang berada diluar jaringan untuk Bersama-sama melakukan advokasi walaupun berbeda pandangan,
  2. Perlu mengadakan pelatihan mengenai bagaimana mengetahui kebenaran sebuah informasi, karena terlalu banyak informasi hoaks yang tersebar,
  3. Perlu melibatkan organisasi yang bergerak pada isu-isu lain dan juga melatih organisasi-organisasi lain yang masih kurang pengalaman, serta meningkatkan kepercayaan antar organisasi dalam hal saling berbagi data, serta perlu mengobtimalkan peran organisasi diluar jaringan.
  4. Jaringan Masih kurang menjangkau wilayah sumatera, kalimantan dan Papua serta sulawesi bagian utara dan tenggara, serta, respon tulisan terhadap hasil kajian dan webkusi belum dilakukan.
  5. Regenerasi masih perlu dilakukan, karena terlihat orang yang berperan cenderung orang itu-itu saja, pembagian tugas tidak merata dan tupoksi yang kurang jelas.
  6. Masih banyak anggota jaringan yang berorientasi ke bantuan sosial, bukan pada kemandirian,
  7. Assessment terlalu umum dan kurang fokus ke kebutuhan real disabilitas, diperlukan tindakan real terutama bagaimana jaringan DPO mempunyai data tersendiri yang lengkap sebagai pembanding dengan data yang sudah ada.

Refleksi sore itu berlangsung selama tiga setengah jam. Ada banyak ide yang dipaparkan, ada banyak pr  yang mesti dikerjakan Bersama. Tentu diperlukan kerjasama dari berbagai pihak untuk mewujudkannya[].

skrinsut presentasi refleksi

One thought on “Dari Refleksi Jaringan DPO Respon COVID-19

  1. Dalam pergerakan difabel,sebenarnya banyak responden yang berkontribusi tetapi ada beberapa hal yang menjadi kendala,misalkan daerah sumba timur, provinsi Nusa Tenggara Timur yang saya tahu betul keadaannya:
    1. Tidak semua difabel memiliki alat komunikasi yang canggih.
    2. Tidak semua difabel berada di tempat yang bersinyal.
    3. Tidak semua difabel tahu apa yang menjadi hak-haknya karena regulasi dan aturan tentang hak difabel tidak pernah tahu.
    4. Tinggal pendidikan rendah.
    5. Stikma dan budaya masih menjadi hambatan utama.
    6. Ekonomi difabel juga menjadi rentan di segala kondisi termasuk di situasi PANDEMIC

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.