Oleh: Surya Sahetapy

Berdasarkan kuesioner terdapat 193 Tuli dan 29 Hard of Hearing/Kesulitan Mendengar yang telah mengisi. Ini merupakan bentuk aspirasi teman Tuli dan Hard of Hearing menyatakan bahwa mereka terkena dampak Covid-19. Secara umum, akses informasi dan komunikasi merupakan hal yang paling dasar bagi Tuli dan Hard of Hearing seperti akses bahasa isyarat dan Closed Captioning. Beberapa TV sudah menyediakan juru bahasa isyarat tetapi tidak menyediakan Closed Captioning. Bagaimanapun, closed captioning sangat penting untuk Teman Tuli dan Hard of Hearing karena tidak semua bisa mengakses bahasa isyarat. Selain itu, di media sosial terdapat beberapa video yang telah captioned

Selain aksesibilitas, akses pendidikan bagi pelajar Tuli dan Hard of Hearing (42 partisipan) merupakan tantangan dimana mereka belajar secara jarak jauh. Bagaimanapun, terdapat panduan layanan kelas daring untuk pengajaran dan mahasiswa Tuli dan Hard of Hearing serta Disabilitas Rungu di perguruan tinggi sudah dimuat di website Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai dukungan agar para dosen bisa mendukung proses pembelajaran Mahasiswa Tuli. Informasi ini bisa diakses di http://dikti.kemdikbud.go.id/pengumuman/panduan-layanan-kelas-daring-online-untuk-pengajaran-dan-mahasiswa-tuli-hoh-disabilitas-rungu-di-perguruan-tinggi/

Dan, ada hal yang perlu dikhawatirkan adalah akses kesehatan. Mengingat kasus Covid-19 sedang naik, dan bukan tidak mungkin Teman Tuli dan Hard of Hearing bisa menjadi pasien COVID-19. Tidak semua rumah sakit dapat diakses oleh teman Tuli dan Hard of Hearing karena minim pemahaman mereka bagaimana menghadapi pasien Tuli dan Hard of Hearing. Tidak hanya itu, informasi-informasi yang berkaitan kesehatan perlu aksesibel.

Berdasarkan kuesioner ini, perlu adanya dorongan kerjasama di antara pemerintah dan organisasi Tuli dan Hard of Hearing serta pemangku kepentingan dalam perencanaan seperti pengembangan dan penegakan aturan mengenai akses informasi dan komunikasi seperti akses bahasa isyarat, dan Closed Captioning baik dalam pendidikan, kesehatan, pekerjaan dan lainnya. Bagaimanapun, tidak hanya aksesibilitas dalam pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan, kemungkinan ada dampak lain yang akan muncul dari COVID-19 ini seperti kesehatan mental akibat. Oleh karena itu, kolaborasi dari pemerintah, organisasi disabilitas dan pemangku kepentingan sangat penting untuk dilakukan demi kepentingan bersama[].

Catatan: Tulisan ini diterbitkan pertama kali dalam buku Yang Bergerak dan Yang Terpapar Selama Pandemik: Suara Disabilitas Dari Indonesia, Juli 2020.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.