Oleh Berti Soli Dima Malingara

Nusa Tenggara Timur, NTT berhasil menjangkau 205 responden difabel dalam Asesmen Cepat oleh Jaringan Organisasi Difabel Indonesia Respon Covid-19. Jumlah ini merupakan tiga tertinggi dari seluruh provinsi di Indonesia, setelah DI Yogyakarta dan Jawa Tengah. Secara faktual, jumlah responden itu terdiri dari Penyandang Disabilitas Fisik (54%), Disabilitas sensorik (16%), Disabilitas intelektual (15%), Disabilitas ganda (9%) dan disabilitas mental (6%).

Pandemi Covid-19 berdampak negatif bagi keluarga-keluarga difabel di NTT. Data menunjukkan ada 79% respoden mengatakan berdampak negatif Dan hanya 2% mengatakan sebaliknya, merasa ada dampak positif. Dampak negatif ini terutama dirasakan oleh difabel yang tidak atau belum memiliki penghasilan (50%) dan yang pendapatannya tidak tetap (37%). Data Asesmen ini juga menggambarkan bahwa hanya 22% difabel memiliki pendapatan tetap atau biasanya bekerja di sektor formal, seperti guru, pegawai negeri sipil atau karyawan swasta.

Responden yang memiliki pendapatan tetap kebanyakan adalah disabilitas fisik (14 orang) sedangkan disabilitas intelektual sama sekali tidak ada yang memiliki penghasilan tetap. Difabel yang memiliki penghasilan tidak tetap berjumlah 76 orang. Jika dilihat dari presentase, disabilitas fisik juga mendominasi sektor ini yaitu sebesar 71%. Disabilitas sensorik ada 17 %, disabilitas intelektual sebanyak 8%, disabilitas mental 3% dan Disabilitas ganda sebanyak 2%. Disabilitas yang tidak berpenghasilan tentunya akan menjadi perhatian yaitu sebanyak 102 atau hampir sebagian dari jumlah keseluruhan responden (49,7%). Penyandang disabilitas fisik memiliki jumlah yang paling tinggi yaitu sebanyak 42 orang atau 41% dari total responden. Disabilitas ganda dan intelektual menyumbang masing-masing 18%, disusul oleh disabilitas sensorik sebanyak 15% dan disabilitas mental sebanyak 8%. Sebelum COVID-19, sebagian besar responden bekerja di luar rumah.

Dari sisi ekonomi, responden mengalami tantangan yang cukup besar akibat kebijakan bekerja dari rumah dan menjaga jarak. Mereka tidak bisa lagi bekerja dan tidak bisa menghasilkan uang setiap hari. Berdasarkan data yang kami himpun, mayoritas responden mengatakan bahwa pendapatan mereka satu bulan sejak COVID-19 berkurang, kecuali 4% responden yang bekerja di sektor formal. Responden sebagian besar (43%) setuju bahwa pendapatan mereka berkurang sebanyak (50% -80%). Responden lainnya (33%) mengatakan pendapatan mereka berkurang sebanyak (30%-50%) dan sisanya (20%) sepakat kalau terjadi penurunan pendapatan sebanyak (10%-30%).

Difabel yang bekerja disektor informal yang memiliki penghasilan rata-rata sebulan (Rp200.000-Rp500.000) sebanyak 38%. Difabel yang berpendapatan (Rp500.000 – Rp1.000.000) sebanyak 24 %, sementara yang berpenghasilan (Rp1.500.000 – Rp 2.000.000) sebanyak 9%. Selanjutnya difabel dengan penghasilan (Rp 1.500.000 – Rp 2.000.000) dan diatas Rp 2.000.000 masing-masing sebanyak 4%. Jika dihitung perhari, responden mengalami pengurangan penghasilan dengan rincian di bawah Rp 25.000 sebanyak 28%, diantara Rp. 25.000 – Rp.50.000 sebanyak 25%, di atas Rp100.000 sebanyak 14%, diantara Rp. 50.000 – Rp 75.000 sebanyak 12 % dan diantara Rp 75.000 – Rp 100.000 sebanyak 10%.

Mayoritas difabel (95%) juga mengalami beberapa kesulitan kompleks ketika jumlah pendapatan berkurang antara lain untuk membeli sembako, membeli susu anak, membayar uang sekolah anak, membayar uang sewa kontrakan, membayar utang, membayar biaya listrik, air, pulsa dan alat tulis anak sekolah. Ada 34 % responden yang memiliki hutang yang harus dibayar setiap bulan baik itu berupa pinjaman bank, koperasi, rentenir, teman maupun keluarga. Bahkan ada 11% responden yang memiliki lebih dari 1 cicilan setiap bulan.

Kendala lain yang dialami difabel di NTT adalah informasi terkait bantuan dari pemerintah pusat, provinsi maupun desa belum dipahami dengan baik oleh responden. Selain itu, bantuan yang didapat dari pemerintah masih sangat minim dan belum bisa dinikmati oleh semua responden. Berdasarkan data, jumlah responden yang telah menerima bantuan yang diberikan pemerintah berupa subsidi listrik (34%), subsidi air PAM (3%), Bantuan Padat Karya (3%), Program Keluarga Harapan (9%), Bantuan Pangan Non Tunai (4%), Bantuan Langsung Tunai (6%). Ini perlu perhatian serius agar bantuan yang diberikan pemerintah tepat sasaran dan tepat manfaat.

Di tengah persoalan ekonomi diatas, ada hal baik yang menarik untuk menjadi catatan penting yaitu tingginya kesadaran dan kemauan untuk berkontribusi dalam mengatasi Covid-19. Hal ini dibuktikan dengan 54% responden yang siap memberikan kontribusi untuk penanganan COVID-19. Kontribusi yang diberikan antara lain: menggalang dana dari masyarakat, menggalang dana dari donor, menyalurkan bantuan ke keluarga difabel yang membutuhkan, mengembangkan media edukasi, komunikasi dan informasi terkait COVID-19 dan mengadvokasi kebijakan pemerintah dalam menangani dampak COVID-19[].

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.