Oleh Farid Muttaqin, Tim Letss Talk

Itulah tema talkshow seri #3 yang diadakan LETSS Talk, sebuah tema sangat penting untuk menguatkan interseksionalitas antara isu difabel dan isu-isu dalam feminisme, yang masih sangat jarang disentuh. Kami melihat, selama ini, feminisme kita di Indonesia masih sangat jarang melakukan “kontak” baik secara akademik maupun aktivisme dengan isu-isu difabel dan para aktivis hak difabel.

Apakah, dengan demikian, feminisme kita masih menjadi feminisme yang eksklusif saat berhadapan dengan isu-isu difabel, dengan hak para difabel? Tentu tidak 100% eksklusif. Waktu saya pribadi aktif di PUAN Amal Hayati, kami sempat punya pengalaman melakukan kerja aktivisme yang menyentuh “kebutuhan khusus” para difabel, kami pernah bekerja sama dengan, misalnya, kalau tidak salah, Himpunan Wanita Penyandang Cacat Indonesia —demikian waktu itu sebutannya. Dan, periode terakhir komisioner Komnas Perempuan, kita telah memiliki seorang komisioner aktivis hak-hak difabel –Cak Fu, yang akan menjadi salah satu pemantik diskusi dalam talkshow ini. Jadi, memang feminisme kita tidak sepenuhnya eksklusif saat berhadapan dengan isu-isu difabel atau difabilitas.

Namun, pertanyaan di atas tetaplah sangat perlu dan penting menjadi pertanyaan kritis sekaligus pertanyaan reflektif dengan tujuan mulai membuka kran interseksi yang lebih kuat antara gerakan feminisme dengan gerakan hak-hak difabel, baik, sekali lagi, dari segi scholarship maupun akativisme. Kita ingin, interseksionalitas itu tidak hanya kasuistik, namun dibangun di atas fondasi scholarship yang kuat dan dalam tentang kompleksitas persoalan khusus ketidakadilan gender dan seksualitas yang dihadapi para difabel. Sejauhmana kondisi sebagai difabel berdampak pada ketidakadilan gender dan seksualitas berlipat? Bagaimana feminisme berkontribusi pada gerakan anti-ketidakadilan gender dan opresi seksualitas yang dialami secara khusus para difabel? Perlukah semacam framework “difabel feminism” –semacam Black feminism atau Chicana feminism, Indegenous feminism, Third-wrold feminism, atau Islamic feminism– dengan epistemologi dan gerakan politiknya sendiri? Tentu, itu sekedar beberapa contoh pertanyaan “rumit” untuk menguatkan fondasi scholarship yang kokoh.

Sebelum itu, kita bisa memulai upaya ini dengan mendiskusikan beberapa “persoalan” yang selama ini kita alami, pengalaman yang memediasi “persentuhan” atau “persinggungan” (intersectionality) antara difabel dan feminisme. Nah, kita ingin memulainya dengan talkshow yang khusus mengangkat tema ini “Difabel dan Pendidikan Seks dan Seksualitas.”

Beberapa waktu lalu, LETSS Talk bekerjasama dengan PerDIK (Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan) mengadakan lomba menulis “Remaja dan Pendidikan Seks dan Seksualitas,” sebuah kegiatan inklusif yang terbuka baik bagi non-difabel maupun bagi difabel. Di antara pesertanya, dan lalu menjadi salah satu pemenang, adalah seorang Difabel Netra. Tulisan remaja difabel yang duduk di SMU ini bagi saya pribadi, membuka, salah satu persoalan serius terkait ketidakadilan gender dan kekerasan seksual. Dalam tulisannya itu, “Bel,” mengungkap pengalamannya menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual; menurutnya, ini pengalaman tersebut merupakan tragedi hidupnya, pertama, dia menyadari kerentanan yang sangat besar sebagai difabel perempuan dari berbagai tindakan kekerasan seksual, dan, kedua, yang lebih tragis, betapa sulitnya bagi seorang difabel korban kekerasan seperti dirinya untuk mendapatkan perlindungan dan apalagi akses yang berkeadilan terhadap berbagai layanan pendampingan korban kekerasan, baik psikologi, sosial, atau hukum. “Bel” sendiri mengakui, caranya merespon pengalaman kekerasan itu sangat dipengaruhi oleh terbatasnya pengetahuannya tentang seks dan seksualitas, tentang kekerasan seksual, karena memang akses terhadap pendidikan seks dan seksuliats baginya sangatlah minim. Siapakah yang seharusnya bertanggungjawab memenuhi hak dan kebutuhan para difabel seperti “Bel” agar terbebas dari segala bentuk kekerasan seksual dan keadilan gender? Seberapa besarkah porsi yang menjadi tanggungjawab gerakan feminis? Haruskah semua dibebankan pada negara?

Poin lain yang diangkat “Bel”, yang, bagi saya pribadi sangat penting adalah bagaimana para difabel laki-laki, bahkan yang menjadi kawan-kawan juga tidak jarang menunjukkan perilaku kekerasan seksual, terutama terhadap teman perempuannya. Selama ini, saya berpikir, salah satu sumber bagaimana feminisme kita masih eksklusif saat berhadapan dengan isu-isu difabel, khususnya terkait seksualitas dan kekerasan seksual adalah pandangan yang men-deseksualisasi difabel. Kita mengira, kondisi difabel membuat mereka tidak “banyak” terlibat dalam “urusan” seks dan seksualitas. Tapi, itu perkiraan saya pribadi; saya sendiri lahir dari gerakan feminisme yang masih sangat terbatas persentuhannya dengan isu-isu difabel; bisa jadi “perkiraan saya” lebih dipengaruhi pengalaman saya pribadi. Poin yang diangkat “Bel” dalam tulisannya membuka pikiran saya tentang kompleksitas dan dinamika seksualitas difabel yang tidak “beda” dengan seksualitas para non-difabel.

Begitulah, dari “secuil” cerita anak ABG itu, kita sudah banyak mendapatkan informasi penting yang membuat feminisme perlu lebih inklusif pada situasi yang dihadapi para difabel. Sekali lagi, untuk semakin menguatkan “persentuhan” dan “persinggungan” ini, dan demi menguatkan kontribusi feminisme pada keadilan gender dan seksualitas tanpa mengenal situasi “disabilitas” dan “difabilitas”, LETSS Talk menghadirkan talkshow dengan tema khusus “Difabel dan Pendidikan Seks dan Seksualitas.” Dalam talkshow ini, akan hadir para aktivis hak-hak difabel yang mulai menyentuh isu-isu gender dan seksualitas dalam gerakannya: Mba Risnawati Utami, Mas Bahrul Fuad atau Cak Fu yang sekarang menjadi salah satu komisioner Komnas Perempuan, Mas Joni Yulianto, dan mas Surya Sahetapi, dengan moderator Mba Renvi Liasari dengan Juru Bahasa Isyarat: Mada dan Sari.

Talkshow lewat Zoom ini akan berlangsung pada Minggu, 13 September 2020 jam 19.00-21.00 WIB. Informasi lengkap bisa dilihat di flyer berikut.

Silahkan daftar melalui link: http://bit.ly/DaftarLETSSTalk3
Kami juga sangat berterima kasih jika anda berkenan:
Like dan follow Facebook: https://www.facebook.com/LETSSTalk.2020/
Follow Twitter: https://twitter.com/LetsstalkS
Follow Instagram: https://www.instagram.com/letsstalk_sexualities/
Like dan Subscribe Youtube: https://www.youtube.com/channel/UCokOg7dGwIBWOwqoD9iM7eA
Email: letsstalksexuality@gmail.com

Semoga, kami akan melihat Anda di forum ini…

Terima kasih, dan salam LETSS Talk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.