Oleh: Nabila May Sweetha

*Tulisan ini juara pertama lomba Remaja Menulis Seks dan Seksualitas yang diadakan oleh LETSS Talk dan PerDIK

Saya remaja buta (17 tahun) yang sampai sekarang masih gagap masalah pendidikan seks. Sejak kecil saya tumbuh di Pangkep, salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan, di mana seks di sini dipandang sebagai hal tabu dan terlarang bagi anak-anak. Karena hal ini, lebih dari dua kali saya pernah mendapat pelecehan seksual tanpa saya sadari.

Yang pertama terjadi di atas mobil bapak, Mei 2011. Pelaku adalah lelaki dewasa yang merupakan pegawai bapak. Kala itu bapak sedang turun untuk memesan tempat tidur baru sebagai hadiah ulang tahun saya, dan beliau meninggalkan saya hanya berdua dengan pegawai yang dia percayai di atas mobilnya.

Saya masih delapan tahun, lelaki itu memegang kemaluan saya dari luar celana. Masih jelas sekali di ingatan, malam itu saya hanya menggigit bibir keras-keras sambil berharap bapak cepat kembali ke mobil. Kaca mobil terbuka, tangan lelaki itu mengelus kelamin saya, dan saya berharap kain celana cukup tebal sebagai pelindung dari tangannya yang jahat.

Kejadian kedua terjadi di rumah tetangga setahun kemudian. Seorang anak laki-laki memeluk saya, lalu mencium mulut saya dengan menekankan wajahnya cukup keras. Saya kesakitan, mencakar anak itu, meronta-ronta dan membebaskan diri. Berlari pulang, saya menangis terisak sambil mencakar wajah.

Setelah kejadian itu, selama satu minggu saya menjauhi teman-teman sepermainan. Saya ingat ada tiga orang teman (perempuan) seusia saya yang menyaksikan kejadian itu, malah ikut menyemangati Sang Pelaku untuk memeluk saya lebih erat lagi. Kalau tak salah, waktu itu saya masih sembilan tahun.

Mirisnya adalah mengapa teman-teman saya malah senang melihat saya dilecehkan. Dipeluk, dicium begitu hina. Saat menuliskan ini, saya baru memikirkan alasan mereka berlaku demikian.

Mungkin karena kami masih kanak-kanak dan belum tahu bahwa itu adalah perlakuan yang jahat. Ada banyak pelecehan yang saya dapatkan semasa kecil. Mungkin karena saya adalah anak yang riang, lucu, dan menarik perhatian. Atau bisa juga hanya karena memang para pelaku adalah orang-orang yang jahat.

Mendapat pelecehan-pelecehan seperti itu, saya tidak berpikir untuk mengadu ke orang tua. Yang pertama adalah karena saya malu, malu sekali. Yang kedua adalah karena saya tidak tahu bahwa tindakan yang saya terima adalah hal yang salah dan bisa diadukan ke pihak yang berwajib.

Dampak dari semua pelecehan itu adalah saya menjadi anak yang negative thinking, tidak percaya diri, susah akrab dengan orang-orang baru, penakut, menggigil jika berdekatan dengan lelaki asing, dan selalu curiga. Bayangkan, sejak kecil sampai sebesar ini saya kerap mendapat pelecehan. Saya menyimpannya sendiri, malu harus mengadu, ketakutan dan sendiri. Saya selalu berpikir bahwa pelecehan itu tabu, memalukan, dan tidak pantas untuk dibuka ke orang banyak. Jadi saya menutup rahasia-rahasia pelecehan itu sendirian dan menahan trauma berkepanjangan.

Sejak menjadi orang buta di usia 14 tahun dan berinteraksi dengan remaja buta lain di Sekolah Luar Biasa, saya kerap memperhatikan teman-teman difabel lain; Respon mereka terhadap seks, cara mereka mengelola nafsu dan sebagainya. Dulu saya berpikir bahwa difabel intelektual memiliki nafsu yang besar, meluap-luap, dan tidak terkendali. Tetapi, setelah bertanya dan belajar, akhirnya saya tahu bahwa nafsu yang dimiliki difabel intelektual dan semua orang itu sama saja. Bedanya hanya karena mereka tidak diajarkan cara mengendalikan perasaan-perasaan itu, dan tidak mengerti etika-etika menahan hasrat.

Hanya itu, tapi baru sedikit yang mengerti. Guru-guru SLB, penulis-penulis buku, dan kebanyakan orang di muka bumi ini menggambarkan difabel intelektual sebagai manusia yang memiliki nafsu yang tinggi dan sebagainya. Penggambaran yang keliru dan jahat sekali, kan? Dan sebelum belajar, saya juga berpendapat begitu.

Saat SMA, saya mendapati bahwa banyak sekali teman-teman perempuan saya yang haus ingin tahu lebih banyak tentang seks. Di banyak kesempatan teman-teman akan berkerumun, duduk rapi, lalu ssaling tanya jawab seputar film biru yang pernah mereka simak. Mengerikan sekali mendengar mereka bercerita tentang keinginan mereka melakukan ini itu, menonton film anu, apalagi membahas pengalaman bersama kekasih masing-masing. Saya tahu bahwa itu salah, tapi saya tidak sampai pikir mengapa mereka sampai menjadi begitu gemar menonton film biru. apakah karena pergaulan? Atau karena latar belakang masa lalu masing-masing? entahlah…

Saya juga tidak mengerti. Dan karena saya tumbuh di masyarakat yang menganggap seks sebagai hal tabu, saya menjadi malu untuk bertanya ataupun berdiskusi masalah ini pada orang lain. Biasa saya mencuri dengar saja, atau paling sering saya akan mencari bahan bacaan yang membahas perihal seks di internet dan mengapa kebanyakan remaja begitu menggemari film biru.

Bukan hanya teman-teman di SMA saja yang suka membahas seks dari sisi yang negatif. Saya pernah sekolah selama satu tahun di SMP Luar Biasa, dan menjadi tahu bagaimana remaja buta secara luas memandang dunia seks. Saya kemudian menyaksikan bahwa ada kelompok remaja buta lelaki di asrama khusus difabel visual tempat saya menimba ilmu selama setahun itu, yang berimajinasi jorok hanya karena suara lembut perempuan. apakah itu berlaku umumm? saya kira perlu penelitian khusus untuk tahu jawabannya.

Ini penting sekali juga untuk diketahui khalayak umum. Difabel biasanya dipandang sebagai manusia baik, tak berdaya, suci, dan agamis. Kenyataannya tidak seperti itu. Dalam faktanya, difabel adalah manusia biasa. Manusia seperti orang-orang kebanyakan. Ada yang baik, ada yang jahat, ada yang licik, ada pula yang picik. Intinya bermacam-macam tabiatnya seperti orang pada umumnya.

Saya pernah mendengar pengalaman salah satu kawan difabel netra (perempuan) yang saat ia mandi, ternyata ada laki-laki (difabel low vision) yang ikut masuk ke kamar mandi dan melihat dia mandi. Kejadian ini terjadi di salah satu asrama khusus difabel kisaran beberapa tahun yang lampau. Ada juga difabel netra yang berpacaran dengan sesamanya hanya untuk meluapkan nafsu, menggerayangi teman perempuannya, lalu pergi begitu saja. Ya, fakta di lapangan memang sekotor itu.

Saya tidak hendak menjelek-jelekan image difabel. Tetapi, begitulah kenyataan yang harus kita ketahui agar lebih peduli lagi terhadap nasib perempuan-perempuan difabel.

Seharusnya sekolah luar biasa menjadi tempat yang sangat tepat untuk memberi pendidikan seks bagi difabel. Karena difabel itu rentan, apalagi difabel perempuan. Mereka bisa saja pernah mendapat perlakuan buruk dari lelaki-lelaki di sekitarnya (baik itu yang difabel maupun bukan difabel), tetapi tidak tahu bahwa itu adalah hal yang salah. Saya contohnya, saya bahkan baru dua tahun belakangan mendapat banyak pengetahuan mengenai ini. Dulu-dulu saya santai saja melihat teman-teman perempuan saya berpacaran, pelukan, ciuman dan lain-lain. Sekarang baru saya pahami bahwa melakukan seks bersama pacar, jika tidak dihendaki oleh salah satu pihak adalah hal yang bisa dipidanakan. Dulu mana saya tahu? Saya masih remaja, memandang dunia begitu polos.

Di dalam tulisan ini, saya sudah menuangkan sedikit kisah pelecehan yang pernah saya dapatkan. Ini langkah yang cukup besar, karena biasanya saya selalu menutupi kisah-kisah ini secara rapat. Bahkan kepada bapak dan mamak sekalipun, saya tidak pernah menceritakannya. Semua dampak dari pelecehan itu saya tanggung sendirian.

Di masa sekarang, banyak sekali orang-orang yang mempermasalahkan mengapa saya tidak berani keluar rumah sendiri.

“Kan, banyak juga difabel netra perempuan yang bisa ke mana-mana sendirian. Kenapa kamu, Lala yang katanya mau memperjuangkan hak difabel perempuan malah tidak berani keluar rumah sendiri?” begitu biasa orang menuding saya.

Tak ada yang saya lakukan kecuali menunduk, lalu menyumpah-nyumpah dalam hati. Ya menyumpahi diri sendiri yang terlalu takut, menyumpahi pelaku-pelaku yang membuat saya terbentuk menjadi pribadi serapuh ini.

Banyak memang orang yang meremehkan, mengucilkan, memarahi, bahkan menghina karena saya tidak bisa mandiri. Mereka tidak merasa perlu bertanya mengapa saya takut, mengapa saya tidak mandiri, mengapa saya tidak berani ke mana-mana sendirian. Mereka tidak pernah berpikir, bagaimana jika mereka yang ada di posisi saya? Takut, merasa sendiri, tidak percaya pada laki-laki, dan ditekan trauma.

Saya takut mengenal laki-laki, takut berada hanya berdua bersama laki-laki, takut bepergian bersama laki-laki. Saya selalu berusaha sekeras mungkin untuk mengabaikan trauma-trauma, dan biasanya berhasil. Saya bisa terlihat baik-baik saja di depan banyak orang. Tapi aslinya, di dalam hati saya tersiksa.

di usia tujuh belas tahun ini, saya sudah mulai mencoba dekat dengan laki-laki. untung saja saya dekat dengan orang yang sudah dewasa dan bisa mengerti semua trauma itu. Memang masalah sekali karena saya biasa risih berdekatan dengan dia, biasa curiga berlebihan. Tapi, toh semakin lama saya kian percaya dengannya, dan mulai tenang karena yakin dia tidak akan berbuat macam-macam.

Saya mulai belajar banyak perihal dunia seks dimulai saat saya mengikuti update berita perkembangan hukum yang berjalan ,untuk kasus pelecehan seksual yang dialami seorang   Tuli yang didampingi oleh paralegal PerDIK pada awal 2019. Saya lalu bertanya-tanya sendiri, apakah yang saya alami selama ini adalah salah satu bentuk pelecehan? Diam-diam saya mencari buku-buku, membaca, lalu tahu sedikit demi sedikit. Tidak ingin ketahuan siapapun, tidak mau diperhatikan siapapun, kemudian saya giat belajar perkara topik yang sensitif ini. Saya mulai tahu mengapa selama ini saya selalu curiga berlebihan, selalu takut pada laki-laki, selalu benci mendengar teman-teman cowok saya membahas buku seks yang mereka gemari. Dan saya juga mulai peduli pada korban-korban pelecehan, mulai membagikan bahan bacaan ke teman-teman sekitar agar mereka mendapat pengetahuan tentang seks yang cukup.

Di sekolah, baik itu sekolah umum atau sekolah luar biasa, saya belum pernah mendapat pendidikan seks yang cukup. Di rumah juga begitu, pendidikan seks  adalah hal yang sangat tidak terjangkau. Saya menjadi kesulitan mencari jalan keluar dari permasalahan yang saya miliki. Saya mau tahu bagaimana membuat semua trauma hilang, bagaimana membuat saya berani ke mana-mana sendiri, bagaimana membuat saya bisa tidak takut pada laki-laki. Di sisi lain, orang-orang yang menjunjung kemandirian terus mendesak saya untuk keluar dan berani. Saya mau, mereka mau, tapi ada bagian dari alam bawah sadar saya yang terus menjerit tidak mau.

Satu-satunya manfaat yang saya dapatkan dari semua trauma dan desakan orang yang menyuruh saya untuk mandiri adalah pengertian. Ya, saya menjadi tidak mudah menghakimi orang lain yang tidak bisa mandiri. Saya menjadi mengerti bahwa mungkin saja mereka memiliki trauma, mungkin saja mereka pernah mendapat perlakuan buruk dari lingkungannya. Karena semua orang ingin mandiri, semua orang ingin bisa melakukan apa-apa tanpa merepotkan orang lain. Tapi, tidak semua orang memperoleh masa kecil yang baik, tanpa pernah mengalami pelecehan seksual.[*]

Makassar, 11 Agustus 2020

Foto pemenang lomba menulis, Nabila berkacamata.

One thought on “Tak Peduli Difabel atau tidak, Semua Remaja Perempuan, Rentan Mendapat Pelecehan Seksual

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.