Nabila May Sweetha (Penulis dan aktivis difabel PerDIK)

Saya awalnya tidak tahu dari mana asal ide menjadi tukang kripik atau krupuk dan tukang pijat itu berasal, sebelum mendapati kutipan berikut di sebuah skripsi, yang membuat saya tahu kenapa banyak panti pijat tunanetra di seluruh Indonesia.

“Memang andalan disini itu ya pijet mbak, selain karena tenaganya dibutuhkan, juga ya saya kira ini memang pelatihan yang sesuai untuk penerima manfaat,” ungkap pelatih dalam Balai Rehabilitasi Sosial Distrarastra Pemalang. II

“Tingginya kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan layanan pijat, yang identik dengan tunanetra ini memberikan peluang pada penyandang tunet (tunanetra). Melalui pelatihan memberikan keuntungan bagi tunet. Itu lumayan besar hasilnya mbak, sekali pijat biasanya Rp. 25.000/jam, misalnya satu hari bisa mendapat 4 pasien, dia bisa memperoleh seratus ribu. Bandingkan dengan tukang batu, dia dapet delapan puluh ribu dengan waktu 8 jam kerja”. (Wawancara dengan Bapak Adji HP, 48 tahun, Kasi rehabilitasi Penyandang Cacat, tanggal 2 Agustus 2011)

Pada kutipan di atas, Bapak Adji HP membandingkan tunanetra dengan tukang batu. Kenapa harus dibandingkan dengan tukang batu? Coba kita bandingkan dengan profesi lainnya, Finance Manager., contohnya, mendapatkan Rp 13.200.000 perbulannya. Atau Guru PNS Golongan IV, yang mendapatkan gaji Rp 2.899.500 perbulannya, belum termasuk tunjangan dan lama masa kerja. Atau notaker, yang digaji sekurang-kurangnya 500 persatu kali kegiatan berdurasi tiga sampai empat jam. Kenapa harus tukang batu?

Jadi fixnya, difabel netra banyak yang menjadi tukang pijat karena begitulah memang mereka dilatih oleh guru-guru di SLB. Kenapa coba para guru-guru di SLB ini, mengajarkan dari tahun ke tahun hanya keterampilan itu itu saja? Kenapa mereka tidak kreatif dalam memberikan keterampilan untuk murid-muridnya? Mungkin, ini kemungkinan saja, karena mereka kiranya ya orang buta bisa kerja mijat saja.

Ini kemudian membuat stigma terbentuk di masyarakat, bahwa tunanetra keahliannya hanya mijat. Ketika kemudian ada anak yang baru lahir dengan kondisi mata yang tidak melihat, orang-orang di sekelilingnya pasti langsung berpendapat bahwa kelak anak itu akan jadi tukang pijat.

skrinsut pencarian informasi tukang kerupuk netra di google

Bagaimana dengan tukang kripik? Siapa penggagas awal profesi jualan keliling untuk tunanetra itu? Yang ini saya belum tahu. Yang jelas, hampir di seluruh Indonesia orang buta kebanyakan kerjanya jualan kripik keliling. Pertanyaannya, kenapa semua harus menjual kripik?

Menurut pengamatan saya, kebanyakan orang yang beli kripik dari tunanetra yang keliling menjajahkan jualannya bukan membeli karena mau, tapi karena kasihan. Banyak juga teman-teman yang menjadikan jualan sebagai kedok dari niatnya untuk dikasihani. Biasa orang akan membeli lalu tidak mengambil kembalian, atau bahkan banyak juga yang tidak membeli tapi memberikan uang secara cuma-cuma. Bedanya sama mengemis apa?

Tukang kripik dan tukang pijat pilihan atau tuntutan?

Menjadi tukang pijat memang menguntungkan, tidak menyulitkan, dan bagus. Saya bilang bagus, karena kita memijat orang lalu dibayar, tidak makan uang hasil belas kasih. Tapi, selama masih ada pekerjaan lain, kenapa harus jadi tukang pijat? Sedangkan menjadi tukang kripik, kalau tidak terpaksa-paksa amat, kenapa memilih profesi itu? Masih banyak pekerjaan di luar sana yang bisa difabel netra tekuni, selain dari mengundang rasa kasihan dari masyarakat. Apa kita tidak malu, selamanya dicap sebagai tukang kripik, yang kelihatannya di masyarakat seperti pengemis?

Saya tahu sekali, tulisan kali ini akan mengundang amarah teman-teman. Tapi, ayolah. Saya menulis untuk menyadarkan kalian. Tidak selamanya, loh, kita harus menjalani kedua profesi itu. Masih banyak pekerjaan lain yang lebih mengangkat martabat kita sebagai difabel penglihatan. Kita Difabel netra tidak seharusnya menjalani profesi-profesi yang membuat masyarakat

luas semakin menaruh rasa kasihan pada kaum tunanetra.

Ada lagi beberapa profesi yang nyaris menjadi pekerjaan paling diminati tunanetra. Penyanyi, pemusik, dan olahragawan. Ini mungkin karena lagi-lagi, di SLB anak-anak tunanetra kebanyakan dilatih keterampilan ini. Lalu ketika ada anak buta yang bisa menyanyi, orang di sekitarnya akan kagum dengan dia, la berkata, “Kasihannya, buta tapi bisa menyanyi.”

Duh, emang orang buta tidak bisa menyanyi? Mereka menyanyi juga dengan mulut, bukan dengan mata. Pikiran bahwa difabel tidak bisa melakukan apa-apalah yang menuntun orang banyak merasa kagum jika ada tunanetra yang bisa menyanyi, mengetik, atau jalan sendiri sekalipun. Padahal, ketika masyarakat memandang difabel sebagai manusia yang sama dengan manusia lainnya, tidak akan istimewa lagi orang buta yang bisa main piano.

Sebenarnya difabel netra bisa berdaya di banyak bidang juga, bisa bekerja apapun sesuai keinginannya. Tinggal kuliah di jurusan yang diminati, lalu setelah lulus bisa kerja sesuai kemampuan. Masalahnya, masih sedikit difabel netra yang mau kuliah! Alasan mereka pun bermacam-macam. Ada karena masalah ekonomi, masalah tidak lulus pendaftaran di universitas pilihan, masalah larangan dari keluarga, sampai masalah malas. Jadi maklumlah kalau akhirnya memutuskan untuk menjadi pemijat atau tukang kripik. Tapi, sampai kapan mau begini?

Saya sesekali menulis, menjadi note taker, transkriptor dan mendapat uang. Saya bekerja dengan senang hati, bahagia, dan perasaan berguna. Bagaimana dengan kalian? Apa dengan profesi pemijat kalian merasa berharga? Apa dengan profesi pedagang kripik keliling, kalian tidak malu?`

Makassar, 16 September 2020

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.