Oleh Nabila May Sweetha (Penulis, Aktivis Difabel PerDIK)

“Yang perlu kamu ketahui, politik mutasi itu tidak baik. Itu membuat program yang terencana maupun yang sedang berjalan bisa atau harus berhenti dan membuat pekerjaan seseorang tidak maksimal,” begini kata Kak Ishak, saat saya menanyakan apa yang harus saya ketahui mengenai Pak Syaiful Samad.

Saya tidak terlalu akrab dengan Pak Syaiful, tapi kami sempat bertemu beberapa kali dalam kegiatan bertemakan disabilitas. Dari cara beliau berbicara, dari gagasan-gagasan dan bagaimana ia menghampiri saya dan menyalami, Saya menyimpulkan bahwa Pak Syaiful bukan orang yang tinggi hati. Dan karena tidak mengenal Pak Syaiful secara detail, jadilah saya harus menjadikan beberapa orang sebagai informan sebelum menuliskan ini, termasuk juga Pak Syaifulnya sendiri.

Pak Syaiful atau kadang juga dipanggil Daeng Bani, baru saja dipindahkan ke Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Intelektual ‘Nipotowe’ Kota palu, Sulawesi Tengah (BRSPDI Nipotowe). Sebelumnya, ia Kepala BRSPDF Wirajaya Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Baru-baru ini Pak Syaiful dipindah tugaskan atau dimutasi ke Palu.

Ini sangat tiba-tiba menurut saya, apalagi bagi teman-teman aktivis difabel yang akhir-akhir ini menjalin hubungan baik dengannya. Pak Syaiful Samad, memang cukup dekat dengan teman-teman organisasi difabel. Dengan PerDIK sendiri, Pak Syaiful sering saling berbagi dan mendiskusikan gagasan kemudian mewujudkannya.

Birokrat yang dekat dengan Aktivis Pergerakan

Dengan PerDIK, Pak Syaiful memiliki hubungan yang sangat baik. Hubungan itu dimulai saat Ia, dengan rendah hatinya, datang ke PerDIK dan memperkenalkan diri. Beliau juga mengajak bekerja sama dalam kegiatan-kegiatan PerDIK. Saat itu, di ruang meeting PerDIK, mereka mendiskusikan pentingnya mendorong pembangunan di desa-desa menjadi lebih inklusif. Pak Syaiful tertarik dengan gagasan itu lalu mengajak PerDIK untuk membuat MOU dengan Pemerintah Kabupaten Bulukumba.

Nah, dari sinilah hubungan akrab antar PerDIK dan Balai Wirajaya terjalin. Selain membuat beberapa kegiatan di Bulukumba, seperti memberikan bantuan alat bantu dan pemberdayaan ekonomi disabilitas di Bulukumba, PerDIK dan Balai Wirajaya beberapa kali membuat kegiatan, salah satunya yang cukup ramai saat itu adalah Memperingati Hari Difabel Internasional. Menurut saya, semua aktivitas itu tidak akan bisa terwujud jika tanpa sifat rendah hati dari Pak Syaiful.

“Pak Syaiful itu inovatif, punya gagasan-gagasan bagus, dan selalu gercep. Semua gagasan kami dikerjakan dengan gerak cepat. Kami baru membicarakan gagasan itu, dia tidak perlu waktu lama untuk mewujudkannya,” kata Kak Lutfi, salah satu aktivis difabel PerDIK yang saat ini sedang masa persiapan melanjutkan studi masternya di Australia.

Dari sudut pandang binaannya pun Pak Syaiful tetap mendapat nilai positif. Saya bisa merasakan betapa akrabnya Pak Syaiful dengan para binaan, betapa beliau selalu memikirkan hal-hal yang terbaik untuk binaannya, hanya dengan mendengar cerita dari Kak Ryan (salah satu alumni BRSPDF Wirajaya Makassar). Ide, gagasan, inovasi, dan gerakan seakan tidak bisa dipisahkan oleh beliau. Kata Kak Ryan, Pak Syaiful tidak jarang memantau binaan secara langsung. Melihat perkembangan balai, memerhatikan binaan, dan turut serta secara langsung ke dalam kegiatan-kegiatan balai menjadi kegiatan rutin beliau.

Jujur, menulis ini saya tidak tahu harus mengutip ungkapan siapa atau harus mengambil kata-kata siapa. Dari semua orang yang memberi saya informasi terkait Pak Syaiful Samad, saya mendapati kesan yang tak jauh berbeda. Antara Kak Lutfi, Kak Rahman Gusdur (Direktur PerDIK), Kak Ishak, sampai Kak Ryan memiliki ungkapan yang sama. Bagi mereka, Pak Syaiful adalah sosok birokrasi yang tahu memosisikan diri. Sosok birokrasi yang ringan tangan, tidak sombong, selalu ingin bekerja sama dengan Organisasi difabel, inovatif, tidak segan berbagi gagasan, dan selalu kreatif dalam memberikan dukungan bagi pihak lain. Pak Syaiful, berbeda dengan tokoh birokrasi lain, selalu mudah bergaul dan mudah ditemui oleh kawan-kawan pergerakan. Beliau selalu ingin terlibat dalam kegiatan-kegiatan difabel.

Mutasi Bagi Seorang Birokrat

Pak Syaiful ini orang atas, orang pemerintahan. Saya dulunya berpikir bahwa orang pemerintahan, orang yang di atas sana, tidak bisa disatukan secara gagasan dan pergerakan dengan teman-teman aktivis. Antara pemerintah dan aktivis memiliki dunia yang berbeda, pikiran yang berbeda, tujuan yang berbeda, dan jalan yang berbeda sekali. Tapi dengan mengenal sosok Pak Syaiful ini, saya merasa tidak ada hal yang benar-benar putih, dan tidak ada yang benar-benar hitam. Pak Syaiful, berbeda dengan sifat birokrat pada umumnya, tidak menggilai penghargaan, menghormati orang lain dan lebih menunjukkan sikap dan laku melayani. Pak Syaiful sangat berjiwa muda, supel, dan mudah menguraikan gagasan-gagasannya.

Syaiful Samad sedang menyablon baju dengan logo Balai Wirajaya

Benar sekali kata Kak Ishak, politik mutasi tidak membuat semuanya lantas membaik. Bagaimana dengan program-program yang telah disusun oleh Pak Syaiful dan tim Balai Wirajaya yang selama ini tampak begitu kompak dalam bergerak? Apakah akan terhenti? Bagaimana dengan ide-ide, gagasan-gagasan yang sudah Ia pupuk dan sedang bertumbuh?

Memang benar, selama menjadi kepala BRSPD Wirajaya Makassar, Pak Syaiful sudah melakukan banyak hal. Tapi, tentu banyak juga rencana-rencana beliau yang masih terbaring menjadi impian. Salah dua dari gagasan Pak Syaiful yang belum sempat beliau laksanakan adalah bengkel difabel, cafe difabel, sarana dan prasarana olah raga yang lengkap dan akses. Tentu masih banyak lagi selain tiga itu.

Apa mau dikata? Pak Syaiful sudah harus pindah ke Balai lain di Kota Palu sana.

Berharap kepada Kepala Balai Selanjutnya

Saya sempat bertanya pada Pak Syaiful, apa harapan beliau untuk kepala BRSPDF Wirajaya yang menggantikannya.

“Yang menggantikan saya itu senior saya sendiri, namanya Pak Aladin. Nah, karena beliau adalah senior saya, saya yakin beliau bisa berbuat lebih baik dari saya,” ujar Pak Syaiful melalui telpon. Saya tak mengenal Pak Aladin dan membiarkan Pak Syaiful menjelaskan.

““Saya harap Pak Aladin melanjutkan perjuangan saya di Balai Wirajaya,”” Ia menekankan kalimat itu.

“Salah satu dari banyak harapan saya yang belum terujud untuk balai adalah membuat BRSPDF Wirajaya ini dikenal. Jadi ketika orang membicarakan difabel, otomatis mereka akan mengingat Balai Wirajaya!” nada bicaranya penuh semangat dan seperti ada kekuatan dalam kalimat-kalimat itu.  “Saya sangat berharap, Pak Aladin bisa mewujudkan harapan saya yang belum sempat saya capai itu,” ujar Pak Syaiful.

Terkait Pak Aladin yang meneruskan kerja Pak Syaiful, Kak Lutfi dan Kak Gusdur juga mengatakan hal yang tak jauh berbeda.

Mereka berharap Pak Aladin bisa menjadi seperti, bahkan lebih dari Pak Syaiful. Mengakrabkan diri dengan organisasi-organisasi difabel, rutin berbagi gagasan, tidak sungkan saling membantu, dan sama-sama membangun Sulawesi Selatan yang lebih inklusif. Tentu harapan kami semua sama, bahwa mudah-mudahan Pak Aladin juga bisa bekerja sama dengan para pengorganisir difabel untuk memajukan difabel. Ibarat kata pepatah, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”

Pepatah itu memiliki makna, bersama-sama, kita, bisa mewujudkan lebih banyak gagasan lagi. Bersama-sama, kita, bisa saling membantu dalam pengembangan difabel.

Tapi, berbeda dengan Kak Lutfi dan Kak Gusdur, harapan yang datang dari Kak Ishak kurang lebihnya seperti ini, “saya tidak bisa berharap banyak dari Pak Aladin, karena sekilas kenal saya merasa beliau seorang birokratis dan kaku. Tapi harapannya, sih beliau bisa seperti Pak Syaiful, bekerja sama dengan para organisasi difabel, dan sama-sama bergerak.”

Tak kenal maka tak sayang, begitu pepatah pernah bilang. Dan kita harap saja, Pak Aladin pengganti Pak Syaiful ini, nantinya bisa duduk bersama teman-teman pergerakan, membahas gagasan-gagasan cemerlang untuk melahirkan lebih banyak lagi difabel yang berdaya.

Untuk Pak Syaiful, Kak Ishak, sebagai Ketua PerDIK berharap beliau bisa membangun dunia difabel di Palu sana. Di Palu, gema suara difabel memang masih kurang terdengar, samar-samar. Ini adalah hal baru bagi Pak Syaiful, yang dia pimpin di sana adalah Balai Difabel Intelektual. Semoga di sana Pak Syaiful bisa mengenal difabel intelektual lebih dalam lagi, bisa memberdayakan mereka, dan tetap menjaga hubungan baik dengan para lembaga pergerakan disabilitas. Saya pribadi sangat berharap Pak Syaiful, sebelum pensiun, bisa kembali ke BRSPDF Wirajaya.

Pak Syaiful memang orang baik. Beberapa hari lalu, ia menemui Ryan, anak didik Balai yang saat ini tinggal di Rumah PerDIK. Ryan atau Adrian Saputra adalah difabel kinetik, ia menggunakan kursi roda dan saat ini terdaftar sebagai mahasiswa tekhnik Elektro di Universitas Muhammadiya Makassar. Ia datang di suatu sore dan di Rumah saat itu ada Kak Ishak dan Ryan. Mereka mengobrol selama dua jam. Menjelang pulang, Pak Syaiful memanggil Ryan dan menyampaikan bahwa besok akan ada kasur diantar oleh orang toko. Biar tidurmu nyaman dan tetap bersemangat.

“Kuliah ko yang rajin, jangan bikin malu saya dan Pak Ishak!” ujarnya pada Ryan yang tersenyum dan berujar “Siap, Pak!”[].

Pak Syaiful Samad saat menemui Ryan di rumah PerDIK

Info lain terkait Syaiful Samad, bisa dibaca di sini

https://makassar.tribunnews.com/2020/03/03/profil-syaiful-samad-kepala-brspdf-wirajaya-makassar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.