Merayakan Seksualitas Dengan Gembira dan Tetap Politis!

Diah Irawaty tinggal di Amerika Serikat, bersama suami dan seorang anaknya. Ia dan Farid Muttaqin sedang menempuh studi doktoralnya di Socio-Cultural Anthropology, State University of New York (SUNY) Binghamton, New York. Saat ini keduanya sudah mencapai tingkat studi Ph.D. Candidate. Beberapa bulan ini, selama pandemik Covid melanda negeri sedunia, keduanya sibuk menggelar perbincangan seks dan seksualitas. Bersama tiga orang kawan lainnya, Renvi Liasari, Wawan Suwandi, dan Ahmad Syahroni mendirikan komunitas LETSS-Talk. Melalui komunitas inilah, sejak 2 Agustus 2020 berbagai topik perbincangan ini menjelma menjadi diskursus seks dan seksualitas.

Dalam setiap event yang digelar secara online, peminatnya selalu banyak. Bisa mencapai seratusan orang. Memang tak selalu berjumlah demikian, namun dikarenakan semua dokumen perbincangan itu bisa ditonton ulang, maka pengunjung atau penikmatnya bisa bertambah terus menerus.

Diah dan Farid, bersama anaknya, Allegra.

Diah dan Farid bersungguh-sungguh dengan komunitas ini. Mereka mengusung semangat kolaboratif dan kerelawanan. Diah misalnya, mengingat ia adalah kawan dekat saya, tak jemu-jemu menyampaikan kebutuhan orang-orang atau organisasi yang bisa diajak membuka tabir-tabir seksualitas dan menjadi perbincangan publik. Paling awal sekali, saat ia menyadari bahwa peminat dan penikmat nantinya bukan hanya dari kalangan orang yang mengandalkan bahasa verbal, maka ia mulai bertanya ke saya bagaimana mendapatkan juru bahasa isyarat. Saya punya banyak teman JBI dan kawan di Pergerakan Tuli. Cukup menghubungi satu orang, bersedia, lalu mengajak yang lainnya.

Suatu hari, Diah lebih serius mengajak saya dan organisasi di mana saya bekerja untuk bekerjasama. Kami lalu merancang sebuah lomba menulis seks dan seksualitas untuk remaja. Kami membaginya menjadi dua kategori, SMP dan SMA. Awalnya ia mengusulkan kategorinya difabel dan non-difabel, tapi saya menolaknya. Berdasarkan pertimbangan kawan-kawan di PerDIK, tak perlu memperpanjang praktik segregasi dengan pemilahan-pemilahan begitu. Difabel banyak yang pandai menulis, yang penting jangan memaksakan lomba menulis harus dengan pena dan kertas. Orang-orang buta tidak mengandalkan pena dan kertas untuk menulis, mereka mengandalkan stylus dan reglet, atau yang lebih canggih dengan android akses dengan sejumlah perangkat aplikasi yang memungkinan mereka menikmati balas membalas email, whatsap, dan seterusnya.

Sebagai komunitas yang baru berdiri, LETSS-Talk bertujuan membangun ruang berbagi pengetahuan, informasi dan pengalaman tentang seksualitas dan gender, terkhusus bagi keluarga dan menjadi sumber informasi tentang seksualitas dan gender yang mudah diakses setiap warga. Kedua tujuan ini merupakan hasil analisis situasi sosial dan politik betapa perbincangan seks dan seksualitas di banyak keluarga di Indonesia begitu tabunya, begitu rumitnya, bahkan begitu tak nyamannya. Bagi pendiri LETSS-Talk, kondisi sosial yang tertutup akan seksualitas ini yang berkonsekuensi pada melambatnya perkembangan pengetahuan seksualitas di kalangan orang-orang tua di rumah tak lepas dari bekerjanya struktur negara yang menekan warganya untuk tidak dengan mudah membicarakan seksualitas. Kondisi ini telah berlangsung lama dan berkarat sehingga untuk menguak, mendekonstruksi, dan mengubahnya menjadi terbuka dibutuhkan tindakan-tindakan bukan hanya sebagai tanggung jawab intelektual, tetapi juga tanggung jawab politik mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Poster diskusi saat isu Seksualitas beririsan dengan isu Disabilitas

Untuk mencapai tujuan itu, LETSS-Talk menggelar sejumlah Forum diskusi atau talkshow serial, penulisan dan publikasi pengalaman pendidikan seks dan seksualitas, penelitian dan kajian, konferensi tahunan, dan penerbitan jurnal seks dan seksualitas di Indonesia. Belum dilakukan semuanya, tetapi baik Diah, Farid, Renvi, Wawan dan Syahroni serta sejumlah kawan yang semakin melebar telah memulai langkah-langkah awal yang menggembirakan. barangkali sudah belasan event digelar dan ini menunjukkan bahwa komunitas ini sungguh aktif dan kreatif dalam mengemas perbincangan. Belum lagi kualitas isi perbincangan juga membuat pikiran terbuka dengan penjelasan-penjelasan yang ilmiah, empirik, dan tentu saja politis!

Dalam catatan saya, yang susah payah saya himpun di pagi hari ini saat kepala sedang berat selama dua hari ini, saya mengidentifikasi setidaknya ada 28 item kegiatan (mungkin sebenarnya lebih). selain acara pada Rabu, 30 Desember nanti, di mana kami akan merayakan pergantian tahun dengan Live Concert sambil berkampanye anti kekerasa seksual dan juga sebagai bentuk toleransi terhadap keragaman seksualitas dan gender.

Kali ini, LETSS Talk (Let’s Talk about Sex n Sexualities) kembali bekerjasama dengan Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK). Kami mengundang Anda Semua dalam Special Event untuk Merayakan Tahun Baru dengan cara paling unik ini.

Tema Perayaan Tahun Baru kita adalah“Merayakan Tahun Baru, Merayakan Seksualitas: Let’s Have Fun and Be Political.” Acara ini akan diisi dengan berbagai performances, seperti: menyanyi, instrument, menari, membaca puisi, monolog, membaca cerpen, orasi oleh tokoh feminis, dll. Mari Have Fun dan Tunjukkan Dukungan Anda terhadap Gerakan Anti Kekerasan dan Opresi Seksual.

Tandai harinya, Rabu, 30 Desember 2020 Pukul: 19:00-22:00 WIB (Jakarta Time) atau pukul 20.00 WITA (Makassar).
Caranya, klik link ZOOM ini dan Anda akan langsung Join di Zoom Meeting: http://bit.ly/TahunBaruLETSSTalk Atau bisa juga dengan Meeting ID: 997 5845 9535 dan Passcode: 916308.

Seperti biasa LETSS Talk menyediakan Juru Bahasa Isyarat (JBI): Mada Ramadhany dan Rezky Chiki. MC pada event ini adalah Ishak Salim dan Apri Iriyani.
Berikut patisipan Merayakan Tahun Baru, Merayakan Seksualitas: Let’s Have Fun and Be Political!”

  1. Orasi Politik: Tokoh Feminis Indonesia, Ibu Ita Fatia Nadia (Sejarawan)
    https://www.youtube.com/watch?v=LPvbyLfJObQ
  2. Ahmad Zundy Tamiko (Pemusik asal Bumiayu, Brebes)
    https://www.youtube.com/channel/UCTvOCO1604EPfAcZLLbf_2Q
  3. Zubaidah Djohar (Penulis, peneliti, dan penyair asal Aceh kelahiran Buktitinggi, Sumatera Barat)
    https://www.youtube.com/watch?v=TQM8yI5RHa8&t=222s
  4. Syahirul Alim dan Robiatul Adawiyah dengan (Penulis dan Guru Matematika)
    https://www.youtube.com/watch?v=YE6_o-PADtU
  5. Alexandria Aida Milasari (Aktivis perempuan dan Direktur Eksekutif Harian Rumpun Gema Perempuan, RGP)
  6. DONA Amelia (Artist dan businesswoman)
    https://www.youtube.com/donamusic1
  7. Dewi Nova (Sastrawan, aktivis)
    https://www.youtube.com/watch?v=G6kigEuWifg
  8. Diah Irawaty dan Renvi Liasari (Pendiri LETSS-Talk)
  9. Eka Dwipayana Sabeh (Ubud, Bali, Alumni UGM 2000)
    https://www.youtube.com/channel/UChtdXqj_XIoujAgbU2Hex1A/videos?fbclid=IwAR2h4j1N8Pcc15qpxLDnP5dRIYQZxITPNlqteKfii-UUN1cJayyl15f6194
  10. Jodhi Yudono (Musikus, penulis, dan wartawan)
    https://www.youtube.com/channel/UCGpWp_ymq09erPOYI_5xlzQ
  11. M Aan Mansyur (Penyair, tinggal di Makassar)
    https://www.youtube.com/watch?v=w5g4rrJwBFU
  12. Jennifer Goodlander (Indiana, USA, Tari, Ahli Wayang)
    https://www.youtube.com/watch?v=GOR9cMACzRI&t=535s
  13. Stella Rosita Anggraini (Aktivis Difabel Jombang, Penulis Puisi)
  14. Enchik Sri Krishna dan Teuku Dalin (seniman dan musisi; Produser music)
    https://www.youtube.com/watch?v=sV6xyR420gE
  15. Rilda A Oe Taneko (Cerpenis, Novelis, tinggal di Lancester, Inggris)
    https://www.goodreads.com/…/show/7704448.Rilda_A_Oe_Taneko
  16. Yokie S S atau Bung Plontos (Musisi dan penulis lagu asal Surabaya)
    https://www.youtube.com/channel/UCfSROBCvTR71KBQy31h87Vg
  17. German Huanca Luna (Seorang ayah yang suka bermain gitar dan harmonica, Bolivia)
    https://www.youtube.com/channel/UCTF_BQoJDBtqvVKiuXO_GcA
  18. Dian Nafi (Author, Blogger, dan Content Crafter) https://www.youtube.com/user/ummihasfa
  19. Ruangbaca (Viny Mamonto dan Saleh Hariwibowo, asal Makassar)
    https://www.youtube.com/channel/UCqhJOlv0UionoTIhJKuPWHg
  20. Maritza Hagan (Asal Binghamton, New York, AS, seorang American Sign Language (ASL) interpreter).
  21. Mai Munzirr (Seniman dan pemusik Aceh)
    https://www.youtube.com/channel/UCrATTQOI9g5WUmzEPHEzErA
  22. Laode Muhammad Hayat Rahmat (Gitaris, aktivis PerDIK)

Mari bergabung kawan 💚

Sebelum saya menutu[p tulisan ini, saya kutipkan 27 kegiatan yang sudah berlangsung selama LETSS-Talk berdiri:

Poster IG Talks Ishak Salim dan Diah Irawaty
  1. Zoom Talkshow Seri #1 “Perlu tapi Tabu: Pendidikan Seks dan Seksualitas dalam Keluarga” (Minggu, 2 Agustus 2020 jam 15.30-17.00 WIB)
  2. Zoom Talkshow LETSS Talk Seri #2 “Pendidikan Seks dan Seksualitas: Pengalaman dan Pelajaran Lintas Budaya” pada Minggu, 23 Agustus 2020. Hadir sebagai pemantik diskusi adalah Nancy J Smith-Hefner (Profesor dan Ketua Program Antropologi, Boston University, AS), Christine Holike (Direktur Watch Indonesia, Berlin, Jerman), Andreas Jefri Deda (Dekan Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua, Manokwari), dan Ratri Istania (Dosen STAI LAN Jakarta dan Postgraduate Research Fellow, Loyola University, Chicago, AS).
  3. Zoom Talkshow Seri #3 Tema: “Difabel dan Pendidikan Seks dan Seksualitas” Hari: Minggu, 13 September 2020
  4. Pengumuman Pemenang Lomba Menulis “Remaja dan Pendidikan Seks dan Seksualitas” yang diselenggarakan LETSS Talk bekerjasama dengan Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) sekaligus memperingati Hari Kesehatan Seksual Dunia yang jatuh pada tanggal 4 September 2020.
  5. Publikasi tulisan kedua pada seri publikasi tulisan para pemenang Lomba Menulis “Remaja dan Pendidikan Seks dan Seksualitas” yang diselenggarakan LETSS Talk dan Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK). Tulisan kedua merupakan karya Nabila May Sweetha, pelajar SMU, seorang Difabel Netra, yang menjadi Juara 1 Tingkat SMU.
  6. Zoom Talkshow Serial Pendidikan Seks dan Seksualitas dalam Keluarga Seri #4 yang kali ini mengambil Tema: “Laki-laki dan Pendidikan Seks dan Seksualitas. Hadir sebagai Narasumber/Pemantik Diskusi: 1. Nur Hasyim (Pengajar FISIP UIN Walisongo; Dewan Pengawas Rifka Annisa; Co-Founder Aliansi Laki-Laki Baru); 2. Ita Fatia Nadia (Peneliti dan Penulis Sejarah Gerakan Perempuan & Co-Founder Komnas Perempuan); 3. Irwan M. Hidayana, , Minggu 4 Oktober 2020.
  7. Share tulisan Dr. Wisnu Adihartono, seorang peneliti gender dan seksualitas, yang dipublish di website LETSS Talk. Tulisan penting yang menjelaskan apa itu gay/lesbian studies, bedanya dan “irisannya” dengan gender dan sesxuality studies, dan mengapa penulis tertarik secara khusus pada kajian ini.
  8. Talkshow seri #5 dengan tema “Keluarga Feminis dan Pendidikan Seks dan Seksualitas” yang akan berlangsung pada Minggu, 25 Oktober 2020, jam 19:00-21:00 WIB (Jakarta Time). Narasumber/Pemantik Diskusi kali ini adalah: Ulfa Kasim (Koordinator Pengembangan Pendidikan Feminis Institut KAPAL Perempuan); Misiyah Misi (Direktur Eksekutif Institut KAPAL Perempuan) & Wahyu Susilo (Direktur Eksekutif Migrant Care); Tuti Alawiyah (Dosen Kessos FISIP
  9. Buku terbitan bulan Agustus 2020 dengan judul: “Perempuan dan Anak: Pemberdayaan dan Perlindungan Masa Depan yang Inklusif” Salah satu tulisan di buku tersebut ditulis oleh salah satu Pendiri LETSS Talk, Ira (Diah Irawaty)
  10. Saturday Night with LETSS Talk Live on IG LETSS Talk @letsstalk_sexualities di IGTV LETSS Talk dengan Tema: “Data Sebagai Alat Advokasi” tanggal 31 Oktober 2020 Pukul 19:00-20:00 WIB dengan Guest: Apri Iriyani (Database & Communication Specialist) dan Host: Farid Muttaqin (Salah satu Pendiri LETSS Talk).
  11. Pertemuan pertama program baru LETSS Talk”English Conversation Practice with A Native English Speaker” sebagai salah satu kegiatan capacity building Keluarga LETSS Talk. Program ini dilaksanakan seminggu sekali. Rencananya LETSS Talk juga akan memulai English for Deaf karena beberapa anggota Keluarga LETSS Talk difabel Tuli.
  12. Talkshow seri #6 dengan tema “Pendidikan Seks dan Seksualitas: Pengalaman Para Muslim” yang akan berlangsung pada Minggu, 8 November 2020, jam 19:00-21:00 WIB (Jakarta Time).
  13. Saturday Night with LETSS Talk Edisi #4 Live on IG LETSS Talk, pada hari Sabtu, 14 November, Pukul 19:00-20:00 WIB dengan Tema “Isu Gender dan Seksualitas dalam Pendidikan Anak Difabel” bersama Guest: Ravindra Abdi Prahaswara (Kontributor di newsdifabel.com) dengan ditemani Host dari LETSS Talk: Ahmad Syahroni
  14. Tulisan terbaru di website LETSS Talk berjudul “Penerapan Rumus 5W + 1H dalam Edukasi Seks bagi Remaja” karya Gressia Carolina, seorang pelajar difabel di Mimi Institute yang menjadi Pemenang Juara Ketiga Lomba Menulis “Remaja dan Pendidikan Seks dan Seksualitas”
  15. Talkshow seri #7 (Special Event) dalam rangka memperingati Hari Internasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang jatuh tepat pada tanggal 25 November dan sekaligus memulai 16 Hari Aktivisme Anti Kekerasan Berbasis Gender (Gender-Based Violence). Kali ini tema talkshow LETSS Talk “Pendidikan Seks dan Seksualitas dan Kekerasan Seksual: Mendesaknya UU Penghapusan Kekerasan Seksual yang akan berlangsung pada Rabu, 25 November 2020,
  16. LETSS Talk will be holding a Zoom talkshow series #8, an international forum to support anti-gender-based violence campaigns. The theme of this talkshow is “Understanding Differences, Building Solidarity: Gender-Based Violence Movements in Different Contexts” and will take place using the Zoom platform on December 2, 2020, from 10:00 AM – 12:30 PM Jakarta Time.
  17. Saturday Nite Live di Instagram LETSS Talk dengan Tema: “Difabel dan Keadilan Gender” tanggal 28 November, Pukul 19:00 WIB dengan Guest: Ishak Salim (Ketua Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan dan Host: Ira (Salah satu Pendiri LETSS Talk).
  18. Tulisan terbaru di Website LETSS Talk. Tulisan ini mengangkat isu/tema penting yang jarang diangkat yaitu tentang Perempuan dan Pengelolaan Sampah.
  19. LETSS Talk (Let’s Talk about Sex n Sexualities) mengundang Anda semua pada Talkshow seri #9 dengan tema “Keragaman Gender dan Seksualitas: Dari Riset ke Toleransi” yang akan berlangsung pada Sabtu, 12 Desember 2020, Pukul 10:00-12:00 WIB (Jakarta Time).
  20. Masih dalam rangkaian acara 16 Hari Aktivisme Anti Kekerassn Berbasis Gender dan memperingati Hari Disabilitas International, LETSS Talk menyelenggarakan acara Saturday Night With LETSS Talk Edisi #6 dengan Guest: Ramadhany Rahmi (Mada) seorang Juru Bahasa Isyarat dan Pendamping Perempuan Tuli korban Kekerasan Seksual dengan Host: Renvi Liasari (Salah satu Pendiri LETSS Talk) dengan Tema: “Pengalaman Perempuan JBI dan Pendamping Perempuan Tuli.”
  21. Talkshow Seri #9 LETSS Talk (Let’s Talk about Sex n Sexualities) dengan tema “Keragaman Gender dan Seksualitas: Dari Riset ke Toleransi” yang diselenggarakan Sabtu, 12 Desember 2020, Pukul 10:00-12:00 WIB (Jakarta Time).
  22. Salah satu program Capacity Building yang diselenggarakan LETSS Talk secara gratis untuk Keluarga LETSS Talk, yaitu Percakapan Bahasa Inggris dengan Native English Speaker/Penutur Aslinya asal atau warga negara Amerika. Program ini dilaksanakan seminggu sekali disamping program Bahasa Inggris untuk Tuli yang juga dilaksakan seminggu sekali.
  23. Tulisan terbaru di website LETSS Talk. Kali ini kiriman dari mas Suryandaru yang berbagi pengalaman dan refleksinya mengikuti program ELTA, program peningkatan kemampuan Bahasa Inggris, sebagai persiapan untuk bisa mendaftar beasiswa dan sekolah ke luar negeri. Yang penting dari pengalaman ini adalah karena program ELTA yang diikuti penulis merupakan program inklusif bagi difabel dan juga sensitif gender.
  24. Selamat Hari Pekerja Migran sedunia (Happy International Migrants Day) December 18, 2020. Dalam rangka memperingati hari tersebut, Diah membagi artikel tentang buruh migran Indonesia yang pernah dimuat di Jurnal Perempuan Vol. 22 No. 3, August 2017 halaman 149-159 yang berjudul “Domestic Workers in the Paradox of Politics of Gender and the Politics of Developmentalism: A Case Study of Indonesia in the New Order Era.”
  25. Saturday Night with LETSS Talk Edisi #7 Live on Instagram/IG LETSS Talk @letsstalk_sexualities pada hari Sabtu, 19 Desember, Pukul 19:00-20:00 WIB dengan Tema “Advokasi HAM Perempuan di Bali” dengan Guest: Ni Putu Candra Dewi (Lawyer di LBH Bali dan Aktivis Bumi Setara) Host: Farid Muttaqin (Salah satu Pendiri LETSS Talk).
  26. Redaksi LETSS Talk menerima kiriman tulisan dari seorang pelajar SMU berbakat, Penulis, dan Aktivis Difabel di Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan/PerDIK, yakni Nabila May Sweetha. Nabila juga menjadi Juara 1 Lomba Menulis Remaja (SMP dan SMU) tingkat SMU dengan tema “Remaja dan Pendidikan Seks dan Seksualitas” yang diselenggarakan LETSS Talk bekerjasama dengan PerDIK bertepatan dengan Hari Kesehatan Seksual Dunia.
  27. Acara Live di IG LETSS Talk Edisi #8 dengan Tema “Perempuan Tidak Biasa di Sumba” bersama Guest: Martha Hebi (Pegiat Sosial; Penulis Buku “Perempuan (Tidak Biasa) di Sumba Era 1965-1998”) dengan ditemani Host: Diah Irawaty (Feminis; Pendiri LETSS Talk) yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Gerakan Perempuan Indonesia, 22 Desember.
  28. LETSS Talk (Let’s Talk about Sex n Sexualities) bekerjasama dengan Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) Mengundang Anda Semua dalam Special Event untuk Merayakan Tahun Baru dengan cara paling unik, Live Concert sambil berkampanye anti kekerasan seksual dan juga sebagai bentuk toleransi terhadap keragaman seksualitas dan gender.

Makassar, Sabtu, 26 Desember 2020

Beli Kalender PerDIK 2021, Dukung Pergerakan difabel

Hai Teman Baik,
PerDIK akan melanjutkan Pemberdayaan dan Advokasi Difabel di tahun mendatang. Tetap Dukung kami ya.

Saat ini kami mencetak Kalender 2021, Ada info dan foto cuplikan kegiatan PerDIK (2016 – 2020). Kami akan menjualnya sebagai upaya menghimpun dukungan teman baik semua.
Harga perkalender Rp. 100K

Untuk pemesanan dan konfirmasi pembayaran
Hubungi Ryan Ardian @Ryan Saputra Liman (082235815239)
Transfer via Bank BRI: 380801020912531 a/n Lembaga Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan

Free Ongkir Makassar dan Gowa

Selamat Jalan Bang Hermen Hutabarat

2017 lalu bertemu dan berdiskusi mengenai sejarah pergerakan eliminasi kusta. Sejak pertemuan itu, saya mulai mendapatkan gambaran pergerakan Kusta dari cerita-cerita Bang Hermen.

Lalu bertemu juga belakangan dengan Pak Nuah P Tarigan , Om  Zainudin, keduanya berkontribusi atas berdirinya PerMaTa (Perhimpunan Mandiri Kusta), GPDLI, dan kemudian FARHAN dan kawan-kawan pergerakan eliminasi kusta di Makassar (PerMaTa maupun PKPSS–Persatuan Kusta Perjuangan Sulawesi Selatan), penggerak NLR (No Leprosy Remain–Nederland Leprosy Relief), Kerstin dan juga menikmati diskusi, advokasi dan bacaan literasi mengenai upaya-upaya masyarakat sipil mencegah persebaran bakteri leprosy dan mengurangi angka pengidap kusta, yang informasi tentangnya bertebaran di literasi maya.

Di NTT ada mama putih atau Gisela Borowka dan mama hitam atau Isabela yang memulai penanganan kusta secara mandiri di tahun 1960an dengan bekal ilmu perawatan dan modal sosial orang NTT. Setelah itu, berdiri rumah sakit pengobatan orang yang mengalami kusta dan meringankan beban kedua mama berhati baik ini. Kedua mama juga telah Pergi.

Semoga, Bang Hermen (waktu itu, kalau tidak salah mengenalkan dirinya bernama Bang Coki), damai dalam istirahatnya. Perjuangan Abang akan kami lanjutkan dan tenanglah di SurgaNya.

Semoga segera bertemu dengan sesama pejuang eliminasi kusta, Bunda Theresa, Mahatma Gandhi, dan kawan-kawan dari Indonesia yang telah juga pergi.

Saat bertemu Pak Hermen di Yogyakarta, 2017

Refleksi Pergerakan Difabel dari Malino dan Rencana Perubahan Selanjutnya

Oleh Ishak Salim

Pertama kali ke Rumah PerDIK, Ia datang ingin meminjam buku. Saat itu, sekretariat masih di rumahku. Hanya ada satu ruangan yang merupakan kamar tamu yang didesain menjadi kantor. Ruang lapang yang ada hanyalah garasi dan sedikit teras. Zakia, kukenal sebagai mahasiswi Ilmu Hukum Universitas Muslim Indonesia, Angkatan 2012. Ia sedang menyusun skripsinya yang berjudul “Situasi Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas di Indonesia berdasarkan UNCRPD”. Ia meminjam beberapa buku disabilitas yang ada di rak yang menempel di dinding ruang sempit PerDIK. Saat itu pertengahan Agustus 2018.

Suasana refleksi malam

Tak berselang lama, PerDIK menyiapkan kegiatan Social Justice Youth Camp, bekerjasama ISJN. Kami memilih desa Kambuno, Kabupaten Bulukumba. Di sinilah pertama kalinya Zakia berkegiatan bersama PerDIK. Setelahnya, ia semakin aktif dan mengikuti sejumlah pelatihan yang diadakan PerDIK, beberapa di antaranya berkaitan dengan advokasi difabel berhadapan dengan hukum. Fauziah Erwin, pengacara PerDIK dan Zipora Purwanti (paralegal kawakan SIGAB Indonesia) menjadi mentornya. Keduanya bukan mentor kacangan. Ketegasan dan kepedulian yang kuat membela hak difabel menjadi karakter mereka.

Cuaca dingin dan kehangatan tubuh di balik pakaian tebal yang kami kenakan. Luthfi memandu proses refleksi. Zakia mengenang masa-masa awal ia datang dan akhirnya bergabung dengan PerDIK. Malam itu, ia bilang ingin sekali belajar kehidupan keluarga-keluarga difabel. Ia menunggu waktu belajar yang dijanjikan. Tak ada kabar jelas, sampai akhirnya ia mulai mendampingi kasus hukum difabel. Ia sudah mengikuti pelatihan paralegal saat itu, dan rupanya saat mendampingin difabel berhadapan dengan hukum, di sinilah ia belajar soal keluarga dan disabilitas.

Suasana Penyusunan SOP Keuangan

“Saya perempuan yang tak percaya diri, dan saat ini saya merasa ada kekuatan lain yang membuat saya lebih percaya diri,” ujarnya malam itu. Saya duduk berhadapan dengannya. Di belakangnya adalah hamparan pepohonan cengkeh yang kelam. Ada haru mendengarkan pengakuan jujur itu. Hingga saat ini, ia sudah mendampingi tiga kasus hukum. Ia bilang, perspektifnya terkait difabel berubah dan perubahan itu membawa kesadaran baru orang-orang di rumahnya. Pilihan kata yang bermartabat dan cara pandang yang positif terhadap difabel menular kemana-mana.

Lain lagi dengan Nur Syarif Ramadhan. Pertama kali ia datang ke PerDIK saat kami hendak mendaki Gunung Latimojong di akhir 2016. Saat itu, saya mengenalnya sebagai lelaki kurus dengan lingkaran putih di matanya. Ia hanya sehari berlatih rasanya dan belakangan ia batal mendaki. Ada urusan lain yang ia ikuti di Jakarta, Jambore TIK. Bulan Februari 2017, dua bulan setelah pendakian itu ia datang lagi ke PerDIk. Seperti Zakia, Syarif juga merasakan perubahan demi perubahan dalam pikiran, sikap dan tindakan-tindakannya. Sampai akhirnya ia mendapatkan beasiswa belajar singkat di Selandia Baru, kini Syarif merasakan peningkatan kemampaun kognitif yang signifikan.

“Capaian itu melampaui yang saya bayangkan sebelumnya,” ujarnya datar. Ia merasa bukan hanya memahami isu disabilitas tapi juga menyeberang ke isu-isu sosial lainnya. Persentuhan dengan orang-orang dan pikiran mereka membuat pikirannya sendiri lebih bergizi. Apalagi, dasarnya memang ia mencintai literasi. Ia seorang pembaca sastra dengan usaha yang terpaksa lebih keras karena banyak karya tak akses bagi matanya. Ia terbiasa mendengarkan karya sastra atau membacanya melalui mata-mata jemarinya. Jika ada novel dalam huruf braille itu akan membuatnya melanglang buana, layaknya buku sebagai jendela menuju penjelajahan dunia.

“Bukan cuma pikiran bertambah dewasa, saya juga sudah mampu mengorganisir penelitian lapangan,” katanya kalem tanpa nada kesombongan. Ia yang di saat awal bergabung dengan PerDIK masih memimpikan menjadi PNS, kini dengan berani ia tepis sebagai pilihan yang tak perlu diperjuangkan. Ia merasa, kemampuan diri bisa terus ditingkatkan dengan belajar terus menerus, bekerja dan berbagi pengetahuan dengan orang-orang.

Malam itu, saat hangat tubuh mulai memudar dan kami akan memilih masuk ke rumah penginapan setelah refleksi, satu persatu menceritakan pengalamannya bergerak bersama PerDIK. Abd Rahman, direktur PerDIK  yang menceritakan bagaimana memimpin pergerakan, yang meledak-ledak, dan kesulitan-kesulitan membiasakan diri mengikuti gerak literasi PerDIK ikut bercerita. Ia banyak belajar, termasuk saat kawan-kawannya memprotes sikap emosionalnya beberapa hari lalu. Ia meminta maaf, menerima kritik, dan lalu kembali menjadi dirinya. Ia berdiri menjauh dari tempat kami duduk mengitari meja kotak. Ia perokok kuat dan tak mudah berdiskusi tanpa mengisap tembakau virginia.

Menikmati sate kuda dan Barbeque

Saya tak sempat menceritakan refleksi para aktivis lainnya. Masih ada Luthfi, Nur Hidayat, Akas, Ichi, Hayat, Mamat, Lina, Ryan (yang baru 3 bulan bergabung), Bunda dan saya. Saya menuliskan sebagian saja karena merasa bahwa itu perlu dicatatkan. Mungkin saya akan meminta mereka masing-masing menuliskan pengalaman mereka sendiri. Pagi sudah hadir dan suasana di rumah keluarga ini sejak tadi riuh dengan lelucon satu sama lain. Kami bangun sejak subuh tadi, petunjuk suhu udara di HP berangka 15 derajat celcius.

Tadi malam, sampai jam 23.30 kami membahas SOP Keuangan. Sebelumnya kami menyusun renstra dan merampungkan hingga meramu misi-misi baru dan penetapan isu-isus strategis yang akan kami urus sampai lima tahun ke depan.

Kami merumuskan tujuh misi dengan menetapkan 4 isu-isu strategis yang menjadi fokus kami ke depan. Misi pertama, melakukan penelitian atau kajian kritis serta menyebarluaskan pengetahuan alternatif sebagai dasar pergerakan. Kedua, melakukan penguatan organisasi difabel agar mandiri dan berkontribusi melakukan transformasi Inklusi sosial. Ketiga, membangun Kesadaran Inklusi Disabilitas bagi Organisasi Pemerintah dan Organisasi Non-Pemerintah. Keempat, mengembangkan sistem peradilan inklusif melalui pemberdayaan hukum difabel dan peningkatan kapasitas lembaga/aparat penegak hukum. Kelima, mendorong sistem pembelajaran adaptif di semua Lembaga pendidikan, formal maupun non-formal. Keenam, mengembangkan konsep inklusi – disabilitas melalui pendataan dan pengorganisasian difabel di desa-desa. Ketujuh, membangun Jaringan Ekonomi Disabilitas menuju kemandirian ekonomi difabel.

Mungkin misi itu terlalu banyak, tetapi begitulah kami menilai organisasi dan diri kami. Kerja berat tentu saja, tapi biar kami coba dulu, jika berhasil, kami tentu bangga dan jika gagal, kami akan membenahi diri, sesederhana itu.

Zakia dan Akas serius

Dari misi-misi itu, kami lalu menetapkan isu-isu strategis, yang mencakup ‘membangun sistem peradilan inklusif’, ‘mengembangkan sistem pembelajaran adaptif’, ‘menguatkan organisasi difabel dan jaringan ekonomi difabel’, dan ‘menginisiasi sejumlah desa dengan prinsip inklusi-disabilitas’.

Raker kali ini sungguh menyenangkan dan melelahkan. Kemarin, kami mengundang para anggota dewan Pembina dan pengawas PerDIK dan menyampaikan hasil refleksi itu. Organisasi ini, didesain dengan tiga kaki yang saling terangkai dan mengikat satu sama lain: Dewan Pembina ada Hari Kurniawan (Cak Wawa) dan dua dari dewan pengawas hadir, yakni Muhammad Joni Yulianto dan Zipora Purwanti. Kami berhadap-hadapan melalui zoom dan berbincang lebih satu jam. Pandangan-pandangan para suhu yang lebih berpengalaman dalam pergerakan difabel ini benar-benar memberi semangat bagi orang-orang muda PerDIK. Mereka reflektif dan sangat rasional menilai PerDIk dan bagaimana sebaiknya sebuah pergerakan dikelola. Untuk bagian ini, nanti dituliskan Syarif. Ia sudah berjanji kemarin.

Kami menuntaskan raker ini dengan hati senang. Memang belum sepenuhnya rampung. Tapi, kami sudah membahas 80% dari yang direncanakan. Sisa SOP Ketenagaan dan MEL. Tapi draft sudah ada dan kami tinggal merapihkan saja sepulangnya nanti.

Capaian ini mesti dirayakan. Kami akan ke Hutan Pinus yang akses bagi kursi roda. Setelah sarapan, kami akan piknik, belanja di pasar lokal, lalu Kembali ke Makassar[].

Sekolah Dian Harapan Percayakan PerDIK Salurkan Sembako Ke komunitas Difabel Rentan

Makassar- Sejumlah tenaga pendidik dari sekolah Dian Harapan Makassar berkunjung ke Kantor Yayasan PerDIK pada Senin, 07 Desember 2020 di kompleks Graha Aliya blok e3a, Katangka, kabupaten Gowa.

Salah seorang perwakilan Sekolah Dian Harapan, Ibu Hermin menyampaikan ucapan terimakasihnya kepada PerDIK Sul-sel yang telah membantu sekolah Dian Harapan dalam pelaksanaan bakti sosial yang saat ini sudah mau rampung.

Hermin juga menyampaikan bahwa di sekolah mereka telah diadakan kursus singkat bahasa isyarat yang beberapa waktu yang lalu diajarkan oleh Bambang Ramadhan, Salah seorang Aktivis Tuli dari GERKATIN (organisasi Tuli). dalam perkenalan dengan anggota PerDIK, para guru sekolah Dian Harapan pun terlihat percaya diri saat mempraktekkan bahasa isyarat yang telah mereka kuasai yang disaksikan langsung oleh Andi Kasri Unru, yang merupakan tim advokasi PerDIK yang menggunakan bahasa isyarat.

Selain itu karena anak anak sudah belajar bahasa isyarat maka sebagai hasilnya anak-anak siswa Sekolah Dian Harapan telah membuat video dalam bahasa isyarat sebagai pesan dan kesan mereka telah belajar bahasa isyarat..

“Oleh karena itu kami berharap jika bapak /ibu PerDIK Sul-Sel berkenan, kami ingin mengirimkan video nya nanti dan setelah itu kami berharap bapak/ ibu bisa menanggapi video anak-anak tersebut juga melalui video seperti itu,” Jelas Hermin.

Mewakili Yayasan PerDIK, Nurhidayat menyampaikan tentang profil PerDIK serta sejumlah kegiatan yang PerDIK kerjakan khususnya dalam bidang pendidikan. Nurhidayat berharap kelak PerDIK mungkin bisa berkolaborasi dengan Sekolah Dian Harapan dalam penyelenggarakaan pendidikan inklusi di sekolah tersebut.

Dalam kunjungan itu, Sekolah Dian Harapan juga membawa 50 paket sembako yang diperuntukkan kepada 50 warga difabel yang selama ini terdampak pandemi covvid-19 dan selama ini menjadi bagian dari PerDIK. Dalam penyaluran 50 paket sembako tersebut, Sekolah Dian Harapan sepenuhnya menyerahkan kepada PerDIK.

Nurhidayat juga berterimakasih kepada Sekolah Dian Harapan telah mempercayakan PerDIK dalam penyaluran paket tersebut.

“Salah satu hal yang memang kami kerjakan adalah menjangkau difabel yang terdampak covid-19 dan tidak menjadi sasaran penerima program bantuan yang disalurkan pemerintah,” tutupnya.[*]

Merayakan Hari Anti-Ableism

Oleh Ishak Salim (Ketua Yayasan PerDIK)

Ableism is not “bad words.” It’s violence (Lydia X.Z. Brown)

Kalau kau orang Bugis atau Makassar, tentu tidak aneh bilang, “sumpah, kandala’ kandala’ka!

Itu terjadi ketika alam berpikir kosmik di lingkungan budayamu memang memungkinkanmu tanpa rasa risih dan berdosa, bisa mengucapkannya. Bagaimana bagi orang-orang yang sedang atau pernah mengalami kusta dalam hidupnya? Kalimat sumpah itu pasti tidak nyaman didengar.

Larilah dari orang yang sakit kusta, sebagaimana kamu lari dari singa!” anda kenal kalimat itu? Ya katanya, itu hadits. Apakah karena itu, para pengatur negeri lalu membangun kampung-kampung kusta di masa lalu?   

Di kali lain, Anda mungkin pernah baca, dengar atau bilang, “anggota dewan itu buta dan tuli!” maksud mereka atau anda jelas berkonotasi, tapi itu belum tentu nyaman bagi kawan-kawanmu yang mengalami kebutaan sejak lahir atau menjadi Tuli sejak kecil. Bukan cuma orang biasa punya laku begitu, seniman pun ada yang demikian, misalnya pencipta lagu ‘autis’ di mana salah satu bagian liriknya berbunyi “dasar kau autis!’.

Banyak orang menyimpan ‘kuasa melabeli’ di kepalanya. Jika ia menjadi pejabat atau “orang pintar”, dia akan mengecapkannya di lembar kebijakan dan karya ilmiah. Karena mereka, kita mengenal kata ‘penderita cacat’ lalu ‘penyandang cacat’ yang kemudian menjadi percakapan sehari-hari kita.

Tak puas melabeli, kita lalu mengenal rupa-rupa cara memperlakukan ‘penderita cacat’. Di masa tak berselang lama setelah negara ini menyematkan kata itu dalam regulasi, pemerintah mengesahkan pengaturan sistem pendidikan yang mensegregasikan anak-anak ini ke sekolah luar biasa.

Karena label itu, perlahan-lahan, warga terbagi menjadi yang normal dan yang cacat. Mayoritas menjadi pengatur minoritas dan label-label stigmatik bertambah-tambah banyaknya.

Lawan!

Pelabelan demikian sama jahatnya dengan pelabelan ‘negro’ di Amerika sana. Orang-orang hitam melawan dan melabeli sendiri dirinya dengan cara terhormat, Afro-America.

Kekuatan label memang hebat, ia merembet liar menjadi ungkapan stereotif menjadi rupa-rupa nada miring, berpenyakitan, berdosa, tidak waras, bodoh, dan seterusnya. Karena itulah anda menjadi merasa nyaman berada di sekolah-sekolah umum dan universitas-universitas bertahun-tahun lamanya. Anda menikmati penerimaan para pendidik ketika tubuh anda masuk kategori normal, dan harus ditolak ketika anda berkategori tidak-normal. Anda menikmati ruang kelas dengan lantai berundak-undak, pintu kecil berpalang, toilet jongkok dengan pintu sempit, guru-guru yang yang juga mengamini ideologi kenormalan tunggal yang menapikan betapa beragamnya tubuh dan kemampuan manusia di bumi ini.

Bukan cuma sekolah, tapi juga di rumahmu, rumah ibadah, kantormu, taman kota, kolam renang, bioskop bahkan di komunitas-komunitas sosialmu. Berapa kali perjumpaanmu dengan teman-teman yang menjadi korban akibat label demi label itu? Cukup jari kalian membilangnya? Atau bahkan mungkin kalian merasa lupa padahal sebenarnya memang tak pernah menyadarinya.

Sebagian orang yang dijajah oleh kuasa label ini melawan. Mereka memilih labelnya sendiri seperti orang-orang hitam di Amerika. Difabel adalah salah satu istilah yang benar-benar hadir dan tumbuh di kalangan komunitas atau pergerakan difabel di Indonesia.

Mereka anti-pencacatan!

Aku harus menyatakan, bahwa aku berada dalam barisan perlawanan itu. Kami lalu memilih definisi sendiri dan menggunakannya untuk memperjuangkan martabat warga negara yang selama ini merentan atau direntankan oleh kuasa pengetahuan normalisme bio[medik]. Inilah perlawanan epistemologis dan terus menerus tumbuh dalam epistemology perlawanan. Kami menerima definisi bahwa menjadi disabilitas adalah merupakan konfrontasi terus menerus antara kondisi kemampuan seseorang dan situasi yang dihadapinya dalam hidupnya baik pada tataran makro maupun mikro. Situasi ini, yang selalu berupaya menikmampukan difabel tidak hanya berlangsung secara struktural, material namun juga berbasis budaya.

Difabel, adalah identitas itu dan difabel adalah orang yang memiliki kemampuan tertentu yang dalam cara pemungsian kemampuan tersebut terdapat perbedaan berdasar kondisi diri (self) dan alat bantu yang digunakan (assistive devices) dan lingkungannya. Inilah Epistemologi disabilitas, yakni kemampuan mengetahui fenomena disabilitas dan mengambil tindakan untuk mengatasi masalah dan menjadikan proses penyelesaian masalah itu sebagai pengetahuan baru untuk melakukan perlawanan. Jika kita tidak memiliki kemampuan itu, mustahil kita akan memikirkan untuk melawan.

Pilihan ini merupakan konsekuensi berpikir kritis dari difabel. Dengan cara kritis, kami berupaya memahami fakta disabilitas berdasarkan perspektif relasi kuasa/pengetahuan, dan menyiapkan beragam jenis intervensi yang tepat bagi difabel yang mengalami pemerentanan akibat relasi kuasa/pengetahuan yang tidak imbang. Relasi kuasa dalam konteks disabilitas adalah relasi antara the abled people dan the disabled people. Apa yang menjadi “musuh” dari the disabled people adalah pemikiran yang didasarkan pada normalisme the abled people yang dikenal sebagai Ableism, yakni perilaku yang menunjukkan pemikiran dan sikap meremehkan atau membedakan difabel dengan orang lain berdasarkan kemampuan hidup dalam standar normalisme—kenormalan [tubuh].

Bagaimana Melawan?

Perlawanan epistemologis dekat hubungannya dengan kerja-kerja mempertanyakan realitas sehari-hari yang dihadapi. Pertanyaan-pertanyaan itu jika dibahas terus menerus membawa pada pemahaman dan kecermatan dalam memaknai kejadian demi kejadian yang ditimbulkan para ableist.

Beberapa cara melawan yang telah dirumuskan, dilakukan, dievaluasi, bahkan bisa ditinggalkan mengikuti kebutuhan zaman adalah mengembangkan kemampuan menelaah, melakukan kerja advokasi, mengorganisir difabel, mempraktikkan pendidikan popular, dan lain lain. Kami juga menyebarluaskan pengetahuan yang kami bangun dalam berbagai cara belajar.

Kami mencari difabel, berorganisasi dan berdiskusi, saling mendidik diri, menelaah dan menulis, menguji temuan bersama dan mengembangkan rencana lalu beraksi dan berefleksi.

Apa yang dilawan?

Kami melawan pengetahuan-pengetahuan yang melanggengkan stigmatisasi difabel. Seorang remaja putri yang mengalami kebutaan saat SMP dan mulai bergerak dalam perlawanan difabel di masa SMA, melakukan pembongkaran pengetahuan yang mendasari kebijakan sekolah yang keliru. Difabel-difabel lain yang juga kritis hadir mendobrak pengetahuan yang mendasari sikap dan perilaku para ableist. Kami bukan cuma bisa menegangkan urat lehermu atau melelahkan pikiranmu karena lontaran-lontaran logis, tapi kami juga bisa mendekonstruksi pikiran ableistmu dengan candaan dalam stand-up komedi—walau sambal berbaring atau duduk di kursi roda. Kami menyadarkan subjek dan membenahi objek yang yang menyulitkan dan merentankan difabel.

Dari perlawanan itu, kami menjadi terorganisir dan seiap mengorganisir. Kelompok-kelompok difabel berdiri, jaringan organisasi difabel berkembang dan menguatkan perlawanan, dan sekumpulan orang-orang dengan perspektif baru hadir dan memartabatkan difabel di satu sisi dan menyadarkan publik di sisi lain. Satu persatu kebijakan yang responsive terhadap isu difabel bermunculan. Tak selalu berangkat dari niat baik negara, tapi karena sikap rewel kami pada pengabaian yang panjang atas difabel. Kami tak ingin selalu ditinggalkan dan kami mengusung slogan ‘no one leave behind!

Produk-produk pengetahuan seperti buku, kertas kebijakan, video, komik,website dan lainnya juga kami buat dan sebarkan. Kemarin, sebuah film berjudul ‘sejauh kumelangkah’ karya mbak Ucu Agustin kutonton sambal menyetir mobil. Saya tak bisa melihat gambar seperti penonton yang buta, tetapi desain film yang penuh ‘penjelasan dari visual dalam layar’ disampaikan. Sedikit ramai memang, tetapi bisa dinikmati bersama. Berapa juta film telah dibuat tapi hanya yang melihat yang bisa memahami sepenuhnya tampilan visual itu.

Apa tantangan dalam perlawanan?

Kami tahu ini kerja melelahkan. Tapi toh setiap hari ada waktu untuk tidur atau bercengkerama dengan keluarga dan teman menghilangkan penat. Kita bisa istirahat agar prima di hari perlawanan berikutnya.

Jika tak demikian, kita bisa kelelahan dan berhenti. Apalagi pilihan perlawanan epistemologis tidak mudah, harus terus menganalisis fenomena. Jika tak jeli, segala yang telah dikalahkan bisa berbalik dan menguasai keadaan dan kehidupan di bawah abelisme kembali bertahta. Perlawanan, dari manapun itu, harus membudayakan kerja-kerja menelaah dan menganalisis keadaan. Apalagi saat ini keadaan tak selalu dalam keadaan baik-baik saja. Produk-produk pengetahuan mainstream dari rezim kebenaran biomedis—yang mendasari cara pandang pencacatan tadi masih hegemonic.

Perlawanan adalah sekaligus penguatan diri dengan karakter dan integritas yang harus menguat. Melawan bukan tanpa rencana. Tanpa rencana, kita hanya akan menjadi santapan para ableist dan kita kembali duduk di bangku-bangku yang mensegregasikan diri kita. Rencana harus dijalankan dan jangan lupa refleksikan. Setiap langkah harus terukur karena serius sekalipun dalam perlawanan beberapa belas atau puluh tahun di sisa hidupmu, keruntuhan total ideologi ableist belum memungkinkan, kecuali ia serupa virus yang kemudian dibasmi dengan vaksin.

Untuk semua kelelahan dan kesenangan yang diterima karena perlawanan sehari-hari itu, mari rayakan hari ini sebagai ‘anti-ableism day!’

3 desember 2020

Barbeque dan Tulisan Kreatif non-Fiksi

Nurhady Sirimorok, dua minggu lalu, saat ia usai menandatangani buku novel ‘Yang Tersisa dari Yang Tersisa’ dan memberi pesan singkat bagi pembaca Pustakabilitas PerDIK, berujar dengan gaya khasnya.

“Seharusnya aktivis seperti kalian di PerDIK itu mampu menulis kreatif,” ia menyerahkan novel karyanya ke tanganku. Tak jauh dari ia duduk di ruang kerjanya ada Aan Mansyur, penjual Barongko yang menulis buku puisi ‘Melihat Api Bekerja’.

“Kalian punya banyak pengalaman yang perlu disebarluaskan melalui tulisan,” ia mendekatkan kursinya dan setelah itu perbincangan soal tulisan dan bacaan pun mengalir. Aan yang pembaca bercerita tentang isu queer dan persinggungannya dengan isu disabilitas.

Ady merasa kemampuan menulis kreatif ini sungguh penting dimiliki. Ia pun langsung menawarkan diri untuk melatih tim PerDIK. Terpengaruh pada pemikirannya bahwa keterampilan dan kerja menulis ini penting, saya langsung menyamber tawarannya. Deal!

Beberapa hari kemudian, di Rumah PerDIK kami mengatur agenda. Kebetulan, akhir tahun ini kami harus berefleksi dan merencanakan agenda tahun-tahun berikutnya. Selain itu, karena organisasi pergerakan ini terus menanjak, maka dibutuhkan pembenahan-pembenahan.

Pada 10 – 13 Desember tahun ini, kami akan ke Malino, agenda dan segala macam rencana persiapan sudah dibereskan. Tinggal menyiapkan sejumlah laporan, gagasan, draft-draft dan semangat.

Agenda 4 hari di Malino nanti, meliputi:

1. Pembukaan, Luthfi, (koordinator Raker)
2. Laporan perkembangan PerDIK, Abd Rahman
3. Refleksi, Nurhady, (bantu ya )
4. Perumusan Rencana Strategis, Sistem Monitoring, Evaluasi dan Pembelajaran: Ishak Salim
5. Review SOP keuangan dan ketenagaan: Zakia
6. Perumusuan Rencana Kerja Tahunan: Nur Syarif Ramadhan
7. Penutup

Plus Bonus:
Pelatihan Menulis Kreatif Non-Fiksi: Nurhady Sirimorok

Rekreasi Nur Hidayat
Loh, Barbequenya mana?

Malamnya toh, kami punya beberapa malam di sana nanti.

Man-teman, mohon dukungan dan doanya ya. Semoga kami tetap fit dan membara dalam pergerakan ini!

Pesan Kemanusiaan Dari Seorang Sineas Otodidak: Sejauh kumelangkah

Oleh: Tim media ekspedisidifabel

Andrea (Dea) dan Salsabila (Salsa) bersahabat sejak kecil. Mereka bertemu di Taman Kanak-kanak untuk difabel netra. Keduanya buta sejak lahir. Di usia lima tahun, Dea dibawa keluarganya pindah dari Jakarta ke Virginia, Amerika. Ibunya mendapat pekerjaan di Amerika dan seiring pencarian masa depan yang lebih baik untuk keluarga, orangtua Dea mencari kesempatan pendidikan yang lebih baik pula untuk putrinya. Sementara Salsa tetap di Indonesia. Jarak membentang, tapi persahabatan keduanya berlanjut.

Film ini mengikuti kisah kedua remaja yang tengah mempersiapkan diri menuju masa dewasa di dua dunia yang sangat berbeda. Di Virginia, Dea bersekolah bersama teman-temannya yang bisa melihat. Sadar perhatian keluarganya yang besar sangat membantunya untuk mendapat banyak akses tapi juga bisa membuatnya tidak mandiri, Dea menantang dirinya. Ketika libur musim panas, ia turut program residensi untuk para remaja difabel visual yang ingin berlatih mengembangkan kemampuan yang diperlukan untuk bisa hidup tanpa banyak mengandalkan bantuan banyak orang.

Di Jakarta, Salsa yang sudah berusia tujuh belas tahun kini tinggal di panti disabilitas sensorik (netra/tuli), terpisah dari orangtuanya yang tinggal di Bekasi. Salsa ingin lebih dekat dengan sekolah dan mendapat akses ke pendidikan inklusi yang sudi menerima murid difabel netra sepertinya untuk bersama belajar dengan murid-murid lain yang non-difabel. Salsa bermimpi menjadi guru matematika, atau apapun itu nanti. Dan dia tahu itu sulit tapi bukan berarti tak mungkin—meski dia harus menyusuri kehidupan keseharian yang tak menunjangnya, serta sistem pendidikan yang terbatas mendukung kebutuhannya sebagai seorang difabel.

Seiring masa dewasa yang menanti keduanya di jalan kehidupan, Dea dan Salsa mencoba mempersiapkan diri untuk mandiri menyongsong masa depan sambil saling menguatkan satu sama lain melalui persahabatan mereka.

Kisah dalam film berjudul ‘Sejauh kumelangkah’ ini disutradarai Ucu Agustin. Film ini merupakan karya terbaru Ucu yang memenangkan kompetisi IF/Then Shorts Pitch South East Asia yang diselenggarakan oleh Tribeca Film Institute dan In-Docs. Film ini pada Desember 2019, memenangkan Piala Citra Kategori Dokumenter Pendek Pada FFI 2019.

Ucu Agustin yang lahir di Sukabumi, merupakan sineas otodidak. Sebelumnya ia pernah menjadi wartawan, penulis, dan kini membagi waktunya antara Washington D.C dan Jakarta, Indonesia.

Selama lebih dari sepuluh tahun Ucu konsisten membuat film-film dokumenter tentang perempuan dan demokrasi di Indonesia. Film-film yang dibuatnya, kerap mengungkap sistem ketidakadilan yang memarjinalkan kelompok paling rentan di masyarakat serta upaya mereka memperjuangkan hak dan penghidupannya, seperti: kisah para korban malpraktik dalam filmnya Konspirasi Hening/Conspiracy of Silence (2010), perempuan yang karena desakan kemiskinan terseret dalam prostitusi dalam Ragat’e Anak/Kompilasi AT STAKE (2008), dan jurnalis yang memperjuangkan hak berserikat dan membuat berita yang sesuai dengan hati nurani alih-alih membikin berita tentang kepentingan politik pemilik media dalam dokumenter Di Balik Frekuensi/Behind The Frequency (2013).

Ucu telah membuat belasan film pendek dan dua film panjang. Film-filmnya telah diputar di Berlinale Film Festival, International Documentary Festival Amsterdam (IDFA), Terres des Femmes, Vesoul Film Festival, Cinema Novo dan banyak festival-festival film internasional lainnya di seluruh dunia.

Film dalam temu inklusi

Mari menonton dan mendiskusikan film ini nanti malam, sekaligus mendiskusikannya. Ini kesempatan baik untuk dapat menontonnya lebih dulu, sebelum di Januari dan Februari tahun depan baru akan ramai diputar.

Event ini sekaligus upaya kita memperingati Hari Disabilitas Internasional, panitia Temu Inklusi menggelar even spesial dengan tajuk kegiatan Renungan Malam HDI berupa Pemutaran dan Diskusi Film “Sejauh Kumelangkah.

Adapun pelaksanaannya akan digelar pada

Rabu, 2 Desember 2020
19.00 – 22.00 WIB

Via zoom
Diskusi ini menghadirkan narasumber dari pembuat film dan pakar pendidikan. Mereka diantaranya adalah:
1. Ucu Agustin (Sutradara & Produser)
2. Mila K. Kamil (Impact Producer)
3. Dr. Subagyo, M.Si (PSD LPPM UNS Solo)
4. Tolhas Damanik (Wahana Inklusif Indonesia)
Akan dipandu oleh moderator Joni Yulianto tak lain adalah pendiri SIGAB Indonesia dan Rapporteur Dr. Ishak Salim.

Berminat nonton dan diskusi, silahkan daftar dulu di link

*Bit.ly/DiskusiNobarSKM*

Informasi lengkap tentang Diskusi Nobar bisa buka di link *https://temuinklusi.sigab.or.id/2020/?p=3182*

Oh ya, sedikit informasi, film Sejauh Melangkah bisa diakses oleh semua kalangan termasuk difabel netra dan Tuli. Karena menggunakan Audio Description (AD) dan Close Caption (CC). Sehingga diharapkan film ini menjadi referensi untuk produksi film-film lain.

Trailer film: https://www.youtube.com/watch?v=stfU3FZCPz0