Mari Berkenalan Dengan Berbagai Macam Dukun Yang Ada Di Kampung Saya

Oleh: Nabila May Sweetha, Difabel Netra, Siswi SMA Negeri 11 Makassar

Sejak empat tahun lalu menjadi orang buta, (saya lebih suka disebut buta dibanding aneka tuna-tunaan),  saya menjadi kenal dengan banyak macam-macam dukun. Dan entah hanya saya yang merasa atau bagaimana, rasanya dukun rada-rada lucu juga. Karena nenek saya mempercayai hal-hal yang gaib, segala rupa yang berbentuk keajaiban, jadilah saya beberapa tahun belakangan ini sering bertemu dukun. Mulai dari dukun yang angker, sampai dukun yang buat saya mau ngakak aja bawaannya. Tidak usah bertele-tele, langsung saja menuju macam-macam dukun yang pernah saya temui.

Dukun Apa Saja Bisa

Saya beri nama begitu, karena kedengarannya dukun jenis ini sangat optimis dalam menyembuhkan pasiennya. Saya bertemu dukun jenis ini di kampung yang tak jauh dari desa tempat bapak saya lahir (Pangkep, Sulawesi Selatan). Waktu itu, belum juga saya diperiksa, dukunnya langsung bilang.

“Anakmu bisa sembuh, kok. Asal mau rajin datang ke sini saja, ya setidaknya tiga kali setiap minggu.”

Saya kaget, dong. Dalam hati saya bilang dukun ini pasti sakti, deh. Belum meriksa aja dia sudah tahu kalau saya bisa disembuhkan. Tapi, ternyata dia bohong, guys. Saya salah mengartikannya, ternyata dia hanya omong kosong doang. Tiga bulan berobat di sana, datang tiga kali seminggu sudah kayak orang minum obat, setiap datang cuma ditiup-tiup aja mata saya. Eh, tidak sembuh-sembuh juga.

Waktu itu nenek masih mau lanjut pengobatan tiup-tiupnya, tapi saya menyerah. Napas dukunya bau terasi, sih.

Dukun Amanah

Nah, dukun tipe ini adalah dukun yang paling membuat uang terjaga. Iya, terjaga tetap dalam dompet. Karena pertama kami datang, Dukunnya akan bilang.

“Tidak usah dibayar dulu, Nak, nanti kalau matanya melihat saja.”

Kadang saya tidak terlalu keberatan dibawa ke dukun jenis ini. Karena selain biasanya mereka ramah, nenek juga tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk hal yang sudah pasti tidak ada faedahnya. Saya berobat di dukun tipe ini selama kurang lebih sembilan bulan, bolak balik tiap hari ke rumahnya, dimandikan pakai air harum sama bunga-bungaan. Maaf, ya, ini maksudnya apa sih? Apa dukunnya berpikiran kalau saya buta karena jarang mandi? Dan selama enam bulan itu, saya tidak mandi sebelum dimandikan sama dukunnya. Untung dukunnya perempuan, sudah tua juga. Kalau laki-laki, bah, sudah melahirkan saya itu. Sembilan bulan tidak ada perubahan, saya capek dan mengamuk tiap kali diajak ke rumah dukun itu lagi.

Dukun Malu-malu Tapi Mau

Dukun satu ini sangat unik, aneh, dan menggelikan. Hampir mirip dengan jenis dukun sebelumnya, saat kami pertama kali datang ke rumahnya, beliau bilang begini.

“Tidak usah dibayar dulu, Nak, nanti baru dibayar kalau sudah melihat kembali.”

Tapi selama dua minggu berobat di dukun itu, selalu saja kami merasa dirugikan. Iya, dirugikan. Saya diminta untuk datang setiap hari, sore-sore, dan harus membawa beberapa barang. Daftar hal yang harus dibawa adalah ayam kampung dua ekor, telur ayam kampung yang sudah direbus sepuluh butir, kelapa dua butir, beras sepuluh kilo, dan buah-buahan lima macam.

Duh, ini maksudnya bagaimana? Tidak bayar, memang. Tapi daftar barang yang tadi harus kami bawa setiap harinya kamu kira itu gratisan? lalu biasa setelah mata saya ditetesi air daun sirih berkali-kali, kami akan tinggal untuk menonton Sang Dukun memakan telur-telur dan buah-buahan yang kami bawa. Ini namanya malu-malu tapi mau, kan? Menolak uang, tapi minta ini itu dengan alasan keperluan ritual. Kalau mau bilang aja dong, Mbah.

Dukun Pemaksa

Sebagai manapun menyebalkannya dukun yang malu-malu tapi mau tadi, dukun yang ini lebih menyebalkan lagi. Sumpah, menyebalkan tingkat dewa. Saya hanya bertahan tiga hari diobati sama dukun jenis ini. Dan rasanya … WTF banget!

Berbeda dengan dukun-dukun sebelumnya, dukun satu ini akan datang ke rumah, jadi saya tidak perlu menempuh jarak jauh untuk mendatangi dia. Dukun ini tidak minta bayaran banyak, kelihatan tulus, dan juga tidak minta bahan makanan. Intinya sekilas terlihat baik-baik aja gitu, macam uztad penyayang nan baik hati. Setidaknya begitu pertama saya berpikiran saat melihatnya melangkah masuk rumah. Tapi oh tapi! Cara pengobatannya sangat menyiksa, Gaes.

Pertama-tama dia akan membaca Al-Quran, menyuruh saya duduk bersila dengan tangan di atas kaki kiri dan kanan. Mirip orang bersemedi gitulah. Setelahnya dia akan menyuruh saya berdiri, lalu bertanya.

“Apakah adek sudah mau muntah?”

Saya menggeleng, ya memang gak mau muntah saat itu. Dia biasa percaya diri sekali berkata sebentar lagi saya akan mual dan muntah. Lima menit, ya betul saja dia bertanya kembali setelah lama membaca Al-Quran. Dan saya menggeleng lagi. Barulah dia beraksi untuk memaksa secara halus. Dukun itu akan memegang bahu saya, memaju mundurkan tubuh saya dengan kencang. Lima menit akan berhenti dan bertanya.

“Sudah mualkah, Dek?”

Saya menggeleng lagi, dong, belum mual memang. Dan saya tidak mengerti mengapa, dia meminta air ke nenek saya, lalu … seperti yang di film-film, dukun itu menyemburkan air ke wajah saya. Rasanya seperti disirami air hangat,   lengket, dan menjijikkan. Hanya tiga hari saya bertahan dengan sistem pengobatannya yang up-normal, hari keempat saya lari dari rumah untuk menghindari dia dan nenek yang masih juga memaksa saya untuk muntah.

Dukun Sok Tahu

Dukun ini juga cukup menyebalkan, sok tahu gitu dianya. Saat saya masuk ke ruang prakteknya. Eh, saya gak tahu harus menyebut ruangan itu dengan istilah apa, dukunnya langsung mempersilahkan saya duduk dan bilang.

“Kamu bisa lihat sampai mana? Ini matamu sakit karena pernah main di bawah pohon kamboja, ada jin yang masuk ke syaraf matamu.”

Nah, ini mengherankan juga. Kok dia bisa tahu kalau mata saya kabur karena jin, tapi gak tahu mata saya sekabur apa? Kurang sakti, ya, dukunnya? Tapi yang lebih mengherankannya lagi, adalah karena saya tidak pernah main di bawah pohon kamboja. Boro-boro main di bawah pohon kamboja, la saya mulai sakitnya di Makassar, kok. Dan saya tinggal di jantung kota, gak ada pohon sama sekali. Biasa saya mainnya di mall, toko buku, atau di warnet. Tempat-tempat itu tidak ada pohon kambojanya, dong. Maka saya tanyakan tuh, karena kesal juga lihat tebakannya yang salah.

“Kamu memang tidak tahu kalau di sana ada pohon kamboja, hanya orang-orang spesial yang bisa melihatnya.”

Duh, nih dukun sudah salah mau ngelak lagi. Pohon pohon apa yang tidak bisa dilihat dengan mata biasa? Fix, karena kehaluan dukun jenis ini terlalu membuat saya ennek, akhirnya saya hanya satu kali berobat di sana. Dikasih garam, sih, katanya buat dicampur di air lalu diteteskan mata. Tapi saya buang garam itu. Cuma garam biasa, kok, di rumah juga banyak.

Itulah beberapa dukun abstrak yang pernah saya temui. Sebenarnya masih banyak jenis dukun lainnya, yang tentu sama anehnya dengan dukun-dukun tadi. Saya sedikit percaya, sih, kalau memang ada dukun sakti di dunia. Tapi masalahnya selama ini dukun-dukun yang saya temui itu pada gak sakti. Eh, atau mungkin mata saya yang terlalu parah tingkat dewa sampai tidak bisa ditembus kesaktian dukun, ya. Entahlah ….

Sama seperti dukun-dukun itu, saya juga masih merasa bingung dan bertanya-tanya dengan kegaiban proses pengobatan salah satu uztad di saluran televisi nasional. Apa itu benar, ya? Berarti selama ini orang sakit karena dosa semua, dong? Btw, kenapa pemerintah Indonesia tidak menyuruh uztad itu untuk menyembuhkan semua pasien corona? Kan lebih simpel ketimbang dokter yang harus menggunakan banyak alat, banyak obat untuk menangani pasien corona. Kalau uztad itu yang mengobati pasien kan cuma dibacakan doa, ditanya-tanya apa dosa masa lalunya, lalu pasien akan kejang-kejang. Dan akhirnya uztad akan bilang.

“Insya Allah perlahan-lahan penyakit ibu akan sembuh, asal tetap yakin dengan pertolongan Yang Maha Kuasa.”

Tapi, kira-kira dosa apa yang menimbulkan wabah corona ini? Dosa apapun itu, tentu dosanya yang dilakukan banyak orang. Kan banyak orang tuh yang kena corona. Yang jelas bagaimanapun proses penyembuhan dukun, kesaktian uztad, dan corona yang tidak kunjung pergi dari Indonesia kita harus tetap optimis kalau ini semua akan berakhir[*]

TRK INKLUSI: Menjadi Difabel Pascagempa

Relawan TRK Inklusi bukan cuma menjangkau difabel yang terdampak. Beberapa posko yang didatangi, kami juga mencari tahu korban yang mengalami luka fisik parah. Dari beberapa informasi yang diterima, ada dua korban ditemui yang mengalami situasi sulit.

Korban pertama, mengalami luka parah, terlambat ditangani dan akhirnya harus diamputasi. Korban Kedua, di desa yang berbeda, luka pada tubuhnya telah membusuk dan masih tinggal di pengungsian. Belum ada tindakan medik serius. Tempat pengungsian itu kurang nyaman, tempat peternakan ayam (kandang besar) yang belum dipakai.

Cerita-cerita miris yang dibawa relawan dari tempat-tempat pengungsian merupakan perpaduan kisah orang-orang terdampak, sistem layanan publik yang masih payah, dan orang-orang yang berupaya berbuat terbaik untuk membantu. Kami sejauh ini cuma bisa mencatat dan menuliskannya.

Selain kisah korban bencana dan kondisi tempat pengungsian yang tidak nyaman, ada juga cerita-cerita baik dari desa. Di desa Taan kecamatan Tappalang, Mamuju, misalnya. Di sini pemerintah desa, sejumlah relawan, dan orang-orang muda desa terorganisir mengelola respon darurat. Paket bantuan berdatangan silih berganti, pencatatan logistik tertulis rapih dan barang-barang terdistribusi ke keluarga-keluarga yang belum mendapatkan. Itu cerita yang menyenangkan ketimbang berita penjarahan yang selalu tidak utuh setibanya di hadapan kita.

Selain itu, hingga saat ini, pos TRK INKLUSI di Mamuju juga semakin ramai dikunjungi kawan-kawan relawan dari berbagai organisasi disabilitas daerah. Selain dari Sulawesi Tengah dan Selatan, ada juga dari luar Sulawesi. Mereka datang, mengobrol dan juga menitipkan barang-barang keperluan pengungsi untuk disampaikan ke yang berhak. Keramaian seperti ini menghibur para relawan yang seharian lelah dan bahkan bertambah lelah sebelum akhirnya istirahat beberapa jam.

Teman-teman yang peduli, bisa juga turut mendukung teman-teman di wilayah bencana melalui donasi di:

Rekening BRI 380801020912531

Atas nama: Lembaga Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan

Perdik Sulsel

Untuk konfirmasi dan informasi lebih lanjut, Hub: 0895356062713

Zakia Khyadhaniel Zaskia

Untuk update, di www.ekspedisidifabel.wordpress.com

Pembagian Sembako Ke Pengungsi Difabel
Ketua PPDI Bone, Andi Takdir berkunjung ke Pos TRK Inklusi

Jangkau, Jangkau, Jangkau Difabel

Aktivitas asessmen dampak bencana gempa bumi bagi difabel di Sulbar oleh TRK Inklusi di bawah koordinasi Shafar Malolo dan Hari Kurniawan  (Cak Wawa), masih berlangsung.

Kemarin, sebenarnya tim melakukan perjalanan ke Majene, namun terkendala karena akses jalanan terhambat.  Info dari Shafar, kondisi jalan bekas longsor masih licin, ditambah hujan deras mengguyur memperparah kemacetan.

Suasana kemacetan panjang kemarin, saat ada longsor di salah satu sudut jalan.

Mereka yang mengendarai roda empat akhirnya batal ke Majene, dan akan mencobanya lagi di hari lain. Sementara yang berkendara roda dua tetap lanjut dan menuju Desa Taan di kecamatan Tappalang, Mamuju.

Di daerah Sese dan Tappalang, mereka bertemu  15 keluarga difabel dan langsung mendatanya.

Shafar Malolo koordinator TRK Inklusi mendata sekaligus menyampaikan informasi akses air bersih.

Hari ini, teman-teman bergerak lagi, menjangkau difabel adalah keharusan. Pendataan akan berlanjut sampai target tercapai. Setelah itu menganalisis dan menyusun rencana untuk masa tanggap darurat, pemulihan dan syukur-syukur fase rehab dan rekon. Selama seminggu melakukan pendataan, tim TRK Inklusi sejauh ini sudah menjangkau ratusan difabel di tenda-tenda pengungsian dan rumah-rumah warga yang memungkinkan ditempati mengungsi. HHingga kini sudah ada 150 difabel yang terinput dalam server online TRK Inklusi, dan tentu saja masih akan bertambah.

Cak Wawa, Hari Kurniawan adalah advokat disabilitas. Sebagai salah satu penggagas TRK Inklusi saat bencana Sulteng akhir 2018 lalu, Ia kali ini berupaya memastikan tim TRK inklusi Gema Difabel Mamuju mandiri dalam merespon bencana.

Habil, salah satu anggota tim pendata TRK Inklusi, sehari-harinya menggunakan kursi roda. Saat ia mendata dan tidak memungkinkan kursi rodanya lewat, ia akan turun dan mulai bergerak menarik kedua kakinya yang lemah.

Ia bersemangat, walau gejala kambuh dekubitusnya mulai terasa. Tim TRK Inklusi sudah koordinasi dengan YEU (Yakkum Emergency Unit) untuk datangkan obat khusus untuknya.

Tetap dukung TRK Inklusi dalam menjangkau  difabel yang terdampak gempa SulBar, melalui donasi Rekening:

BRI 380801020912531
Atas nama: Lembaga Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan.

Untuk konfirmasi dan informasi lebih lanjut, Hub: 0895356062713   Zakia

Untuk update, di http://www.ekspedisidifabel.wordpress.com

Salam
TRK Inklusi.

Inclusive Humanitarian Volunteer Team (TRK Inklusi)

We invite all friends,
to distribute donations for helping earthquake victims,
especially disabled people in West Sulawesi, Indonesia.

We organize this emergency response with local Disabled People Organizations (DPOs) and other Humanitarian Volunteer Networks. Donations can be transferred to:

BRI Account 380801020912531 On behalf of:
Lembaga Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan
(The Indonesian Disability Movement for Equality).

Code SWIFT: BRINIDJAXXX
Name Bank Office: PT. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO), TBK
Address: BRI I BUILDING, FLOOR 18, 44-46 JALAN JENDERAL SUDIRMAN
City: JAKARTA; INDONESIA (Postal code: 10210) Bank code: 002

Bank Telephone Number: (62-21) 2510244, or 2510254, 2510264, 2510269, 2510279.
Account Holder email address: perdiksulsel@gmail.com

For confirmation and further information, Call: +62895356062713 (Zakia)

For updates, visit:
Instagram (@perdikofficial)
Facebook (perdik sulsel)
website (www.ekspedisidifabel.wordpress.com)

Poster



Seminggu Pasca Gempa, Tim Relawan Kemanusiaan Inklusi mendata 150 Difabel Terdampak

Oleh: Tim TRK Inklusi

Nyaris seminggu semenjak peristiwa gempa mengguncang Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat. PerDIK SulSel sebagai organisasi yang dalam kurun dua tahun terakhir mengorganisir sumber daya dalam merespon bencana, lantas merencanakan sejumlah tindakan.

Kami mengawalinya dengan menghubungi sejumlah kawan difabel yang berdomisili di Mamuju. Jumat pagi, 15 Januari 2021, kami masih sulit mengontak kawan-kawan difabel yang kami kenal aktif di Gerakan Mandiri Difabel Mamuju. Sambil melakukan itu, sejumlah kawan di PerDIK mulai membuka donasi. Poster dan narasinya dibuat, lalu kemudian di posting di media sosial PerDIK.

Setelah dua hari tak terkoneksi baik, akhirnya malam senin, (17 Januari 2021) tim PerDIK sudah bisa berdiskusi dengan Shafar Malolo dan teman-teman Gema Difabel Mamuju. Beberapa anggota difabel mamuju sudah kembali dan menyatakan bahwa sekret gema difabel adalah Pos TRK Inklusi. Untuk memudahkan komunikasi dibuat grup WA TRK Inklusi.

Malam itu juga, tim sudah menyelesaikan Form Pendataan korban bencana berperspektif difabel dan hari berikutnya tim sudah akan melakukan asesmen cepat di sejumlah titik pengungsian. Fokus utamanya difabel.

Ada sepuluh anggota tim asessmen yang dikoordinatori oleh Shafar Malolo, ketua gema difabel Mamuju. mereka mendata, mengolah data, mengolah bantuan, menyiapkan mekanisme keluhan, menjaring mitra kerja, dan seterusnya. Seiring dengan itu, saat ini YEU dan ASB akan turut menemani trk inklusi dan semoga gema difabel Mamuju bisa menjadi organisasi difabel dengan kapasitas yang setara nantinya.

Per hari ini (Kamis, 21 Januari 2021), sudah ada 150 difabel terdampak gempa yang mereka data dan telah terinput. Dari hasil input ini, analisis data sedang dilakukan dan akan merencanakan pendistribusian bantuan yang telah terhimpun.

Menurut Hari Kurniawan, masih ada data lain yang belum mereka input karena masih harus ke lapangan, mengunjungi sejumlah tenda-tenda pengungsian dan rumah-rumah warga yang dijadikan lokasi pengungsian.

Sebagai update donasi yang terhimpun dan penggunaannya, berikut laporannya:

Daftar Donasi DanPemakaian Donasi Sementara
TRK INKLUSI
pertanggal 21 Januari 2021

NOTanggal TransferNAMA PENGIRIMJUMLAH DONASIKREDITSALDO
115-Jan-21IASRp200,000Rp200,000
215-Jan-21ARURp200,000Rp400,000
315-Jan-21HARp100,000Rp500,000
416-Jan-21MJYRp1,000,000Rp1,500,000
516-Jan-21LRp100,000Rp1,600,000
616-Jan-21CSRp500,000Rp2,100,000
16-Jan-21ANRp200,000Rp2,300,000
717-Jan-21TTWRp100,000Rp2,400,000
817-Jan-21HJRRp200,000Rp2,600,000
917-Jan-21DPC-GMRp980,000Rp3,580,000
1017-Jan-21Transfer awal ke TRK Inklusi/Gema Difabel MamujuRp1,500,000Rp2,080,000
1118-Jan-21ISJNRp4,000,000Rp6,080,000
18-Jan-21ISRp883,747Rp6,963,747
1220-Jan-21AARp100,000Rp7,063,747
1320-Jan-21Transportasi RelawanRp883,747Rp6,180,000


Merencanakan Respon Cepat untuk Difabel Korban Bencana

Oleh: Ishak Salim

Setelah dua hari tak terkoneksi baik, akhirnya malam ini sudah bisa berdiskusi dengan Shafar Malolo (Difabel Kinetik, Ketua Gema Difabel Mamuju) dan teman-teman gerakan Mandiri Difabel Mamuju. Beberapa kawan sudah kembali dan menyatakan bahwa sekret gema Difabel  adalah Pos TRK Inklusi. Kami sudah menyelesaikan Form Pendataan korban bencana berperspektif difabel dan besok tim yang belum utuh akan melakukan asesmen cepat di sejumlah titik pengungsian. Fokus utamanya difabel.

Terima kasih teman-teman yang sudah mensupport upaya-upaya kecil ini bisa terjadi. Kami upayakan setiap hari selalu ada upaya yang digerakkan, untuk menjangkau yang selama ini tak terjangkau, mengedepankan yang selama ini ditinggalkan.

Untuk membantu tim ini, silakan berdonasi di:

Rekening BRI 380801020912531 

Atas nama: Lembaga Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan. 

Untuk konfirmasi dan informasi lebih lanjut, Hub: 0895356062713 (Zakia)

Untuk update, di http://www.ekspedisidifabel.wordpress.com

Salam 

TRK Inklusi.

Dua Pengkaji Disabilitas Bertemu Di Rumah PerDIK

Oleh Muthahara Yulina, Pustakawan Pustakabilitas PerDIK

Jum’at 15 Januari 2021, sejumlah pengurus HMJ PLB FIP Universitas Negeri Makassar berkunjung ke Rumah Perdik di kompleks Graha Aliya blok B2, Katangka, kabupaten Gowa dengan tujuan studi banding. Kegiatan ini berupa kunjungan silaturrahmi dan diskusi santai yang bertempat di ruang Pust@kabilitas Rumah PerDIK. Sebelum memasuki ruangan pustak@bilitas kami mengarahkan teman-teman HMJ PLB untuk mencuci tangan di wastafel sebagai bagian dari penerapan protokol kesehatan.

Suasana Diskusi di Ruang Pustakabilitas

Setelah semua berkumpul di ruangan, saya sebagai moderator membuka diskusi sore itu dengan terlebih dahulu menyampaikan terima kasih atas kunjungan dari teman-teman HMJ PLB FIP UNM. Selanjutnya saya memandu jalannya kegiatan sesuai dengan rundown yang tersusun. Di kesempatan pertama saya memberi kesempatan kepada perwakilan delegasi mahasiswa PLB yang datang.

Ketua umum HMJ PLB FIP UNM, Oky Agustian menyampaikan alasannya memilih PerDIK sebagai tempat studi banding kali ini yakni dikarenakan PerDIK masih satu haluan dengan arah gerakan HMJ. Selain itu, PerDIK dinilai sebagai organisasi difabel yang relevan sebagai tempat belajar isu-isu disabilitas. Oky juga menambahkan bahwa mereka berharap dengan diskusi ini mereka bisa mendapatkan inspirasi serta pemahaman baru yang berkenaan dengan penanganan disabilitas dalam wadah organisasi.

Sebagai pembuka, Luthfi selaku perwakilan PerDIK menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran beberapa anggota keluarga PerDIK (pengurus PerDIK) dikarenakan ada kesibukan/kegiatan lain. Luthfi juga memaparkan mengenai perspektif difabel menurut pandangan medis, biosikososial, dan sosial.

Mewakili Yayasan PerDIK, Nurhidayat menyampaikan tentang sejarah serta profil PerDIK. Nurhidayat terlihat percaya diri dalam menyampaikan materi mengingat bahwa Nurhidayat juga pernah menjadi ketua HMJ PLB FIP UNM, begitupun dengan teman-teman HMJ yang terlihat lebih santai dalam menyimak pemaparan materi dari Nurhidayat sambil menikmati suguhan teh hangat dan biskuit. Di akhir pemaparannya, Nurhidayat menyampaikan harapannya agar diskusi ini tidak berakhir sampai di sini saja melainkan ada tindak lanjut kedepannya berupa kegiatan kolaborasi dan sejenisnya.

Tidak hanya Nurhidayat, ada juga Zakia yang menjelaskan mengenai proses advokasi dan pendampingan yang telah di lakukan oleh PerDIK. Secara umum Zakia menjelaskan dua jenis advokasi yang dilakukan PerDIK yakni litigasi (dalam ranah hukum) dan non-litigasi (luar ranah hukum).

Menanggapi pemaparan dari anggota keluarga PerDIK, teman-teman dari PLB banyak bertanya mengenai siapa saja yang terlibat dalam proses advokasi yang dilakukan oleh PerDIK, bagaimana SOP kesekretariatan PerDIK, proses perekrutan anggota keluarga PerDIK, serta program-program kerja PerDIK kedepannya. Proses diskusi berjalan dengan santai dimana anggota keluarga PerDIK dan mahasiswa PLB saling menanggapi dan bertukar pikiran.

Sebagai penutup, Nurhidayat kembali menegaskan bahwa di PerDIK kita mengedepankan prinsip kekeluargaan. Jika ada anggota keluarga yang melakukan kesalahan kita tidak memberlakukan surat peringatan yang sampai berakhir pemecatan melainkan hanya diberi teguran dan diberi kesempatan untuk belajar. Contohnya ketika kesalahannya tersebut berkaitan dengan menejemen waktu, maka anggota keluarga tersebut akan dibantu untuk mengikuti pelatihan menejemen waktu. Prinsipnya, sebagai sebuah keluarga, PerDIK mengedepankan proses belajar dan berkembang bersama. Terakhir, kami melakukan foto bersama dengan teman-teman dari HMJ PLB untuk kepentingan dokumentasi[].

BERGERAK BERSAMA UNTUK SULAWESI BARAT

TIM RELAWAN KEMANUSIAAN INKLUSI, mengajak sahabat sekalian, menyalurkan donasi demi membantu korban bencana khususnya difabel di Sulawesi Barat. Donasi ini kami organisir bersama dengan Organisasi Disabilitas Setempat dan Jaringan TRK lainnya.

Donasi difokuskan berupa uang yang dapat di transfer ke:

Rekening BRI 380801020912531
Atas nama: Lembaga Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan.

Untuk konfirmasi dan informasi lebih lanjut, Hub: 0895356062713 (Zakia) Zakia Khyadhaniel Zaskia

Siapa Merundung Difabel Sejak Kecil? Aku!

Oleh Muthahara Yulina, Pustakawan Pustakabilitas

Saya tinggal dan bersekolah di dekat Sekolah Luar Biasa. Itu membuat saya terbiasa bertemu difabel. Jika difabel sering bercerita mengenai pengalamannya menerima perlakuan diskriminatif di lingkungannya, maka Lina kecil adalah salah satu pelakunya.

Saya hidup dan tumbuh di lingkungan Pendidikan yang memisahakan Sekolah Umum dan Sekolah Luar Biasa. Keadaan itu membuat saya dan teman-teman berfikir bahwa kami dan merekaberbeda.

Seringkali kami berfikir mereka yang bersekolah di SLB itu orang-orang bodoh. Apalagi pernah beberapa kejadian di mana teman-teman saya yang tinggal kelas beberapa kali akhirnya dipindahkan ke SLB, yang berada di samping SD saya.

Ada satu lapangan yang kami pakai bersama saat belajar di luar ruangan. Saat itu, kami berkesempatan menertawai atau apapun yang sifatnya mengejek (diskriminatif) siswa-siswa SLB. Saya ingat betul, kami selalu tertawa saat ada siswa SLB diminta menyanyi sambil memperagakan gaya bermain gitar Rhoma Irama dengan menggunakan sapu. Bahkan, betapa kejinya cara anak-anak dari SD Umum menghina temannya yang dipindahkan dari SD umum ke SLB. Bahkan sampai anak itu menangis karena malu, ejekan tak jua berhenti.

Itulah beberapa catatan-catatan dosa-dosa masa kecil saya.

*

Jika mengingat momen-momen itu, saya sering mengutuk diri sendiri. Betapa kejamnya saya dulu. Mengapa saat itu saya tidak menghentikan teman-teman menghina siswa SLB. Malah saya ikut menertawai. Malah saya menikmati pemandangan itu.

Padahal, saat saya kanak-kanak, saya sering bermain dengan para difabel yang menjaga saya. Mereka murid orang tua saya yang mengajar di salah satu SLB di Takalar. Setelah masuk SD, otak saya seperti dicuci oleh lingkungan yang memberi stigma bagi difabel.

Saya malah setuju saja dengan perlakuan stigmatik itu. Saya malah khawatir dijauhi teman-teman jika membela difabel. Saya malah takut jika berteman difabel maka teman-teman menjauhi saya. Saya malah, saya malah, …

*

Perilaku diskriminatif atau menjadikan difabel objek tertawaan bagi anak-anak pada umumnya seperti terjadi turun-temurun. Stigma miring menyebar di tengah-tengah masyarakat. Mungkinkah pemisahan antara difabel dan non-difabel dalam pendidikan yang membuat kami berfikir kami berbeda? Saat ini saya merasakan, kami tidak mengenal etika berkomunikasi dengan difabel. Kami ogah-ogahan berbicara dengan mereka. Saat itu, sampai saya tumbuh remaja, tidak ada orang yang mengajar kami soal betapa buruknya cara kami memperlakuan difabel dan betapa perlakuan itu akan mengganggu pertumbuhan psikis difabel yang menjadi korban perlakuan stigmatik kami.

Kami hanya berfikir sedangkal bahwa tindakan bulian itu hanya candaan anak-anak pada umumnya. Mereka sudah terbiasa dan tidak apa-apa jika dijadikan bahan lelucon. Toh, buktinya ia mau-mau saja disuruh menghibur kami.

Ah makin mengingat itu membuat saya makin merasa bersalah!

*

Memasuki SMP, saya sudah jarang bertemu difabel.  Saat belajar di SMA, saya memiliki teman difabel beda kelas. Mungkin bukan juga teman, hanya satu sekolah dan seangkatan saja. Saya tidak pernah berkomunikasi dengannya. Saya tidak terbiasa berkomunikasi dengan difabel. Rasa canggung untuk berkenalan dan memulai percakapan begitu membentengi saya untuk tidak beranjak. Padahal, saya sangat tertarik dengannya. Saya ingin tahu bagaimana ia belajar di kelas. Saya mau tahu, bagaimana teman-teman sekelasnya memperlakukannya.

Tapi pertanyaan demi pertanyaan itu mengambang. Sampai luluspun saya tidak berani menyapanya.

Saya mulai mengenal lebih dekat difabel justru saat berkegiatan di luar sekolah.

Dua tahun lalu (2018), saya mengikuti kegiatan Sosial Justice Youth Camp (SJYC) di desa Kambuno, Bulukumba. ISJN atau Indonesia Social Justice Network bekerjasama dengan Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) yang menjadi pelaksananya.

Saya tidak sengaja mendapatkan informasi kegiatan itu dari sosmed, social media. Saya pun iseng mendaftar. Saat itu saya bahkan belum tahu itu kegiatan macam apa. Salah satu persyaratan mendaftarnya adalah membuat tulisan. Saya membuatnya terburu-buru dan asal-asalan. Kalau kata anak gaul sih sistem ‘the power of kepepet’, plus sotta-sotta’ berhadiah (bersikap sok tau, Makassar).

Saya ingat betul proses pendaftaran itu kurampungkan hanya dalam semalam. Itupun dari pukul satu malam sampai subuh.

Alhamdulillah ternyata saya lulus.  

Lepas itu, saya baru mencari infonya lebih banyak.

Saat itu ada keraguan mengikuti kegiatan tersebut. Rupanya tempatnya jauh dari rumah, waktunya seminggu, dan tak satupun orang saya kenali. Layaknya korban tontonan sinetron, fikiran saya traveling ke mana-mana. Saya takut diculik dan menjadi korban penjualan manusia.

Saat mencari tahu lebih lanjut, keraguan lain muncul. Rupanya ada peserta difabel turut serta.

Oh iya, itu juga adalah kali pertama saya mendengar dan mengetahui kata “difabel”. Sebelumnya yang saya tahu dan ucapkan ya, hanya kata “cacat”.

Beruntung guru-guru seperti Pak Asnul dan Kak Yhaya mendukung saya. Juga setelah mengetahui ketua panitianya, kak Nur Syarif Ramadhan ternyata berasal dari tempat tinggalku, Bontonompo, Kabupaten Gowa.

Sayapun membulatkan niat untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Menghindari rasa canggung, saya berkenalan dengan beberapa peserta lain melalui chat WA. Salah satunya dalah dengan Nabila May Sweetha. Saya merasa makin mantap ikut Perkemahan Pemuda ini.

Proses chat-chatan berlanjut sampai hari keberangkatan. Beberapa peserta dari luar Makassar berkumpul di Makassar sedangkan saya hanya menunggu bus di Bontonompo. Rute bus menuju Bulukumba akan melalui kabupaten Gowa. Saya bersiap dan mulai menunggu di depan pasar Bontonompo.

Merasa jenuh menanti, saya mengirim pesan chat ke Nabila. Saya tanya sudah di mana?

Nabila enteng bilang, tidak tahu.

Saya menyuruhnya melihat-lihat spanduk atau nama-nama toko-toko. Saya pasti akan mengenali wilayah dari tanda-tanda itu.

“Saya buta, tidak melihat,” begitu bunyi pesan Lala, panggilan akrabnya.

Betapa kagetnya saya dengan pengakuan itu. Saya lalu berfikir, bagaimana bisa ia membalas chat-chat selama ini jika ia tak melihat. Nabila pasti membohongi saya. Ia pasti hanya bercanda.

Saat bertemu barulah saya percaya bahwa ia memang buta dan mengerti bagaiman ia membalas pesan-pesan saya dengan hapenya.

Handphone yang dia gunakan menggunakan aplikasi pembaca layar (screen reader). Dia bisa membca pesan teks yang disuarakan oleh aplikasi itu. Dia bisa mengetik dengan tuts yang telah ia hapal letaknya dan mendengarkan isi kata-kata yang ia tulis dan mengeditnya jika keliru ketik.

Dari kegiatan SJYC inilah, saya mulai memiliki teman difabel.

Suasana Youth Camp Di Pantai Bira, Bulukumba

Pengalaman ini sungguh berkesan dan unik. Saya menemukan banyak hal baru yang membuat saya tertarik dan penasaran untuk tau lebih jauh. Bukan hanya Lala, ada juga Sandi yang Tuli dan Selvy, berkursi roda.

Sandi ini Tuli dan dia bilang ia sangat suka menonton konser. Ini aneh bagiku, sekaligus menarik. Sandi juga adalah peserta yang paling ekspresif. Ia seperti tak peduli dengan ketuliannya. Ia berbahasa dengan wajahnya. Dan keramahan itu selalu ia tampakkan diwajahnya. Kami bisa berbicara dengan tulisan di kertas jika diperlukan.

Sepanjang kegiatan, saya menikmati belajar bersama teman-teman baru itu. Saya mulai berfikir, jika saja sistem belajar yang diterapkan di kegiatan ini juga diterapkan di SD saya dulu, mungkin saya dan teman-teman tidak akan menjadi pelaku diskriminasi. Ternyata, betapa indahnya belajar dengan memadukan kelebihan dan keterbatasan dan betapa indahnya bentuk nyata dari toleransi ini.

Saya bersama teman-teman SJYJ, ada Sandi (Tuli) di belakanku, dan Selvi (berkursi roda) saat kami berekreasi usai SJYC di Pantai Bara, Bulukumba

Saya makin tertarik dengan dunia difabel hingga saat kuliah sayapun akhirnya bergabung di PerDIK. Pelan-pelan, saya mengikuti kegiatan-kegiatannya.

Semakin lama, saya belajar dan mengetahui bagaimana teman-teman difabel beraktifitas dan belajar. Bukan hanya teknologi yang mengubah tulisan menjadi suara, ada juga teknologi yang mengubah suara menjadi tulisan yang biasa digunakan oleh teman Tuli.

Pun juga cerita-cerita dari kak Muhammad Luthfi. Ia seorang dengan mata tak melihat sama sekali, buta namun sering menikmati tontonan di bioskop.

Saya heran setangah mati. Tak punya bayangan bagaimana Kak Luthfi menikmati tontonan.

“Ada pembisiknya, Lina,” katanya suatu hari.

Tapi saya tetap penasaran bagaimana itu terjadi. Saya hanya membayangkan tapi belum melihatnya langsung.

Rasa penasaran itu terjawab beberapa hari lalu. Pada 9 Januari 2021, kami nonton bareng di Rumah PerDIK.

Usai kami menuntaskan agenda Rapat Kerja Tahunan sekian hari di Malino dan lanjut di Rumah PerDIK, kami bikin acara nobar dan menginap di Rumah PerDIK.

Malam itu, rasa penasaran sayapun terbayar tuntas!

Disepanjang pemutaran film, kami bergantian mendeskripsikan cerita film kepada teman-teman kami yang tidak melihat, termasuk Kak Luthfi. Ia paling bersemangat. Ia memang seorang penonton serius.

Deskripsi film yang disampaikan oleh pembaca—disebut juga Audio-describer—telah membantu penonton netra mengikuti alur cerita. Saya pun malah terbantu juga. Jika ada adegan yang tak ingin saya lihat karena takut atau jijik, saya cukup menikamtinya dari uraian sang pembisik.

Film yang kami tonton malam itu berjudul Silenced. Ini film Korea Selatan yang menceritakan kisah pelecehan seksual di lingkungan sekolah dan asrama Tuli. Ini kisah nyata.

Poster film Silenced

Dalam film ini, bukan hanya anak perempuan Tuli yang menjadi korban pelecehan, kekerasan bahkan eksploitasi seksual, tetapi juga anak-anak lelaki (usia kanak-kanak). Pelakunya adalah guru dan kepala sekolahnya. Saya tak habis pikir. Orang yang seharusnya melindungi justru mencelakai anak-anak.

Dari awal cerita, kami terbawa suasana dan dibuat geram dengan perlakuan-perlakuan biadab pelaku dalam film. Bertambah jengkel dengan akhir cerita di mana para pelaku mendapat hukuman ringan. Pelaku yang juga orang penting di kota itu, seorang agamawan yang dermawan, serta relasi politik yang luas, membuatnya bisa menyogok dan mempengaruhi para Aparat Penegak Hukum.

Hukuman yang diterima sangat tidak sesuai dengan penderitaan serta trauma para korban. Di akhir cerita, kesal karena proses hukum tidak memuaskan korban, seorang korban anak lelaki ini memilih menuntaskan dendamnya dengan menikam gurunya. Tikaman lemah itu menusuk perut dan guru itu terjatuh di atas rel kereta (asrama sekolah ini dekat dengan jalur kereta). Sialnya, guru itu menarik baju anak lelaki ini dan memeluknya sesaat sebuah kereta melaju dan menabrak tubuh keduanya.

Meskipun mengetahui bahwa cerita ini diangkat dari kisah nyata, sehingga akhirnya sangat mungkin memang hal tragis, saya tetap berharap diakhir film para korban mendapat keadilan.

Walau berakhir tragis, menurutku ada banyak hal yang dapat diketahui melalui adegan-adegan dalam film itu. Khususnya berkaitan dengan kurangnya pemenuhan hak-hak difabel serta pelanggaran-pelanggaran lainnya yang sering terjadi.

Pada plot di ruang persidangan, adegan sidang pertama memperlihatkan para Tuli protes karena hak mereka untuk mendapat juru bahasa isyarat dalam persidangan tidak terpenuhi. Juga ada adegan para polisi berusaha membubarkan para Tuli yang sedang berdemo, namun menggunakan TOA yang tentu tak dapat didengarkan. Ini melanggar etika berkomunikasi bersama tuli.

Bagi saya, momen mennonton bareng malam itu sungguh berkesan.

Semoga kelak, apa yang menjadi tujuan dari pergerakan-pergerakan kami bisa terwujud.

Saya pribadi memimpikan lingkungan yang selalu menerima siapapun. Semoga perasaan hangat toleransi seperti ini kelak tidak hanya saya rasakan di lingkungan PerDIK, melainkan tercipta di setiap pojok Indonesia dan di manapun saya berada[].

Hari Tuli Nasional dan Obrolan Pertemanan di Antara Sunyi dan Bunyi

Oleh Nabila May Sweetha, Penulis dan Aktivis Difabel PerDIK

Saya mengenal Andi Kasri Undru (Akas) awalnya hanya melalui cerita-cerita santai anggota keluarga PerDIK. Sebagai anak yang terlalu banyak tanya, selalu penasaran, saya sangat antusias mendengar kisah-kisah tentang Akas.

Dulu saya hanya melihat kawan Tuli di sinetron-sinetron (Salah satu sinetron yang pernah saya tonton waktu saya masih melihat itu berjudul, ‘Ayah, Mengapa Aku Berbeda?’ la ingin tahu apakah Tuli yang digambarkan dalam senetron sama dengan realita atau tidak. Tapi sayangnya Kak Akas, begitu saya memanggilnya, masih kuliah di Jakarta. Jarak antara Makassar dan Jakarta cukup jauh untuk mempertemukan kami.

Akas di salah satu kegiatan PerDIK, Berbahasa isyarat pada Guru-guru SMP Dian Harapan

Sebenarnya akhir 2018 kami pernah bertemu, tapi tidak saling menyapa. Saat itu saya baru saja pulang dari festival pemuda di Gorontalo di salah satu kegiatan ISJN (Indonesia Social Justice Network), dan singgah ke Bantimurung (Maros, Sulawesi Selatan) tempat Akas dan pemuda lainnya sedang mengikuti pelatihan yang diadakan oleh PerDIK—Youth for Equality. Tidak ada waktu untuk bertemu. Keletihan saya habis menempuh perjalanan jauh, dan kesibukan Akas sebagai peserta pelatihan membuat kami tidak sempat bersua.

Tapi memang waktu itu Akas sepertinya belum mengenal saya, baru saya saja yang penasaran ingin berkenalan dengannya. Pertengahan 2019 juga kami hampir bertemu, saat itu Akas pulang ke Makassar bertepatan dengan peresmian PustakAbilitas (Perpustakaan dan sayap PerDIK dalam memproduksi juga menyebarkan pengetahuan). Kami sudah janjian, melalui chat WA Akas berjanji akan menunggu saya di PerDIK. Tapi sesampai saya di PerDIK, jangankan berkenalan, bahkan Akas tidak menegur saya. Mungkin waktu itu Akas masih malu, baru pertama bertemu juga, jadi saya memaklumi. Toh, saya juga sama pemalunya.

Tapi kami sering chat di WA, saya aktif bertanya hal-hal mengenai teman Tuli pada Akas. Setelah menulis naskah novel ‘ubur-ubur di matamu’, karya kedua saya dalam bentuk novel, saya berencana ingin menulis naskah ketiga dengan konflik kawan Tuli. Dan satu-satunya kawan Tuli yang saya akrabi waktu itu hanya Akas seorang. Kami kemudian berjanji lagi untuk bertemu, jika Akas ada waktu untuk berlibur ke Makassar.

Akas memang sering berlibur ke Makassar, itu saya perhatikan dari intensitasnya berkunjung ke rumah PerDIK. Akas memang anak Sulawesi tulen, dia lahir di Wajo, yang cukup jauh dari kota Makassar. Sebelum mengambil jurusan hukum di salah satu universitas di Jakarta, Akas pernah berkuliah setara D3 di Makassar. SD, SMP, dan SMAnya dia selesaikan di sekolah reguler.

“Dibully teman itu biasa, saya juga begitu pas masih sekolah. Tapi cuekin saja,” begini pernah ia menasihati saya.

Pemuda yang tumbuh dalam usaha keras untuk bisa berbicara lisan ini tidak tuli total, pendengarannya masih tersisa sedikit. Jika telinganya dipakaikan alat bantu dengar, kalimat mengalir dari mulutnya seperti tidak mau berhenti. Tahun 2020 lalu itu, saat pandemi dan Akas pulang ke Makassar, menjadi tahun dengan mengenalnya lebih dalam. Dia menetap di rumah PerDIK berbulan-bulan, dan saya cukup punya waktu untuk mencuri-curi waktu berkenalan lebih lanjut dengannya.

Pernah sekali waktu Akas meminta bantuan saya untuk menjadi juru ketik (close captioni) dalam bimbingan skripsinya, karena juru bahasa isyarat yang biasa membantunya sedang berhalangan tidak bisa hadir. Saya mengiyakan, melalui Google Doc saya mengubah perkataan dosennya dalam bentuk suara menjadi teks yang bisa diakses olehnya. Di sanalah pertama kalinya Akas ingin memperdengarkan suaranya kepada saya. Itupun setelahnya, dia mengaku merasa malu.

“Kenapa malu? Suaranya biasa saja, kok,” saya berusaha menenangkan.

Saya takut penyakit malu Akas tiba lagi, dan usaha saya dalam mengenal kawan Tuli bisa tersendat lagi. Syukurnya, Akas tidak malu lagi. Mungkin masih agak sungkan, canggung, atau bagaimanalah. Tapi satu dua kali kami pernah mengobrol lepas via panggilan audio. Dia bisa mendengar suara saya dengan cukup jelas, karena menggunakan alat bantu dengar yang katanya punya harga begitu mahal.

“Kak Akas suka pake alat bantu atau tidak?” Tanya saya pada salah satu waktu.

Akas dalam beberapa ekspresi berbahasa isyarat saat pelatihan PerDIK “Youth for Equality, 2018.

Dia diam sebentar, mungkin berpikir, lalu dengan suara agak ragu menjawab dia lebih suka tanpa alat bantu. Baginya, alat bantu membuat dia lelah. Dia lebih suka menggunakan bahasa isyarat. Alat bantu dengar membuatnya berusaha untuk mendengar lebih keras lagi.

“Terus kenapa alat bantunya dipakai?” Tanya saya heran.

“Karena kalau tidak dipakai, alat bantunya bakal rusak,” kata Akas dengan lancar.

Perbincangan dengan dia memang mengalir begitu lancarnya, begitu menyenangkan. Selain karena Akas melafalkan kalimat benar-benar dengan jelas, juga karena dia sering bercanda.

Bagi saya, memiliki teman Tuli itu sangat menyenangkan. Begitu juga saat memiliki teman dengan disabilitas fisik, mental, intelektual dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan itu membuat saya semakin penasaran lagi, semakin ingin tahu lagi. Apa yang berbeda? Apa yang menarik? Apa yang perlu saya pelajari dari teman-teman? Bagaimana etika berkawan dengan teman Tuli, difabel fisik, mental, atau intelektual? Memahami mereka membuat saya merasa lebih menjadi manusia lagi.

“Suara ketawa Lala begini, ya?” Akas mengucapkannya sambil terkekeh.

Itu pertama kali kami mengobrol melalui telepon, mungkin dia baru pertama kali memerhatikan suara saya. Dan saya bahagia sekali bisa memperdengarkan suara saya pada Akas. Walau sebenarnya, jika diminta memilih, saya lebih ingin Akas berbicara dengan bahasa isyarat atau melalui teks di ponsel. Saya paham bagaimana rasanya memaksakan kemampuan orang lain. Memakai alat bantu dengar bagi teman Tuli, sama saja dengan memaksa teman Buta memakai kaca mata tebal hanya demi bisa menulis di lembaran kertas.

Fenomena memaksakan kemampuan pada anak difabel memang kerap kali kita temui. Kalau misalnya dulu sewaktu kecil Akas dilatih setiap hari untuk melafalkan satu kata yang fasih, dan diiming-imingi hadiah tiap kali ia berhasil oleh tantenya, Saya juga pernah dipaksa menulis dengan tangan dan pulpen, dengan keadaan mata yang sudah kabur berat. Hasilnya? Tulisan saya keluar baris, menari sana-sini, mirip barisan tentara yang salah formasi.

Sering kali memang orang awam mengusahakan bagaimana mungkin, anggota keluarga dan atau murid mereka bisa melakukan hal yang dilakukan orang lain. Selagi masih bisa dipaksa, ya lebih baik dipaksa menurut mereka. Tapi ini tidak masalah, itu hanya masalah bentuk pengetahuan yang diterima oleh masing-masing orang.

Saya harap kemudiannya bahasa isyarat bisa menjadi bahasa nasional, film serta berita-berita bisa dilengkapi dengan bahasa isyarat, dan semua yang berbentuk suara di ruang-ruang publik bisa diterjemahkan ke dalam bentuk teks. Agar teman-teman Tuli seperti Akas tidak merasa lelah lagi harus susah-susah mendengar, susah-susah bicara.

Selamat hari Tuli! Semoga kedepannya kita lebih peduli dan sadar lagi, bahwa tidak semua suara harus didengarkan, dan tidak semua kata-kata harus diucapkan[].

Pembacaan puisi M Aan Mansyur berjudul
Sajak buat Istri yang Buta dari Suaminya yang Tuli