Oleh Nabila May Sweetha, Penulis dan Aktivis Difabel PerDIK

Saya mengenal Andi Kasri Undru (Akas) awalnya hanya melalui cerita-cerita santai anggota keluarga PerDIK. Sebagai anak yang terlalu banyak tanya, selalu penasaran, saya sangat antusias mendengar kisah-kisah tentang Akas.

Dulu saya hanya melihat kawan Tuli di sinetron-sinetron (Salah satu sinetron yang pernah saya tonton waktu saya masih melihat itu berjudul, ‘Ayah, Mengapa Aku Berbeda?’ la ingin tahu apakah Tuli yang digambarkan dalam senetron sama dengan realita atau tidak. Tapi sayangnya Kak Akas, begitu saya memanggilnya, masih kuliah di Jakarta. Jarak antara Makassar dan Jakarta cukup jauh untuk mempertemukan kami.

Akas di salah satu kegiatan PerDIK, Berbahasa isyarat pada Guru-guru SMP Dian Harapan

Sebenarnya akhir 2018 kami pernah bertemu, tapi tidak saling menyapa. Saat itu saya baru saja pulang dari festival pemuda di Gorontalo di salah satu kegiatan ISJN (Indonesia Social Justice Network), dan singgah ke Bantimurung (Maros, Sulawesi Selatan) tempat Akas dan pemuda lainnya sedang mengikuti pelatihan yang diadakan oleh PerDIK—Youth for Equality. Tidak ada waktu untuk bertemu. Keletihan saya habis menempuh perjalanan jauh, dan kesibukan Akas sebagai peserta pelatihan membuat kami tidak sempat bersua.

Tapi memang waktu itu Akas sepertinya belum mengenal saya, baru saya saja yang penasaran ingin berkenalan dengannya. Pertengahan 2019 juga kami hampir bertemu, saat itu Akas pulang ke Makassar bertepatan dengan peresmian PustakAbilitas (Perpustakaan dan sayap PerDIK dalam memproduksi juga menyebarkan pengetahuan). Kami sudah janjian, melalui chat WA Akas berjanji akan menunggu saya di PerDIK. Tapi sesampai saya di PerDIK, jangankan berkenalan, bahkan Akas tidak menegur saya. Mungkin waktu itu Akas masih malu, baru pertama bertemu juga, jadi saya memaklumi. Toh, saya juga sama pemalunya.

Tapi kami sering chat di WA, saya aktif bertanya hal-hal mengenai teman Tuli pada Akas. Setelah menulis naskah novel ‘ubur-ubur di matamu’, karya kedua saya dalam bentuk novel, saya berencana ingin menulis naskah ketiga dengan konflik kawan Tuli. Dan satu-satunya kawan Tuli yang saya akrabi waktu itu hanya Akas seorang. Kami kemudian berjanji lagi untuk bertemu, jika Akas ada waktu untuk berlibur ke Makassar.

Akas memang sering berlibur ke Makassar, itu saya perhatikan dari intensitasnya berkunjung ke rumah PerDIK. Akas memang anak Sulawesi tulen, dia lahir di Wajo, yang cukup jauh dari kota Makassar. Sebelum mengambil jurusan hukum di salah satu universitas di Jakarta, Akas pernah berkuliah setara D3 di Makassar. SD, SMP, dan SMAnya dia selesaikan di sekolah reguler.

“Dibully teman itu biasa, saya juga begitu pas masih sekolah. Tapi cuekin saja,” begini pernah ia menasihati saya.

Pemuda yang tumbuh dalam usaha keras untuk bisa berbicara lisan ini tidak tuli total, pendengarannya masih tersisa sedikit. Jika telinganya dipakaikan alat bantu dengar, kalimat mengalir dari mulutnya seperti tidak mau berhenti. Tahun 2020 lalu itu, saat pandemi dan Akas pulang ke Makassar, menjadi tahun dengan mengenalnya lebih dalam. Dia menetap di rumah PerDIK berbulan-bulan, dan saya cukup punya waktu untuk mencuri-curi waktu berkenalan lebih lanjut dengannya.

Pernah sekali waktu Akas meminta bantuan saya untuk menjadi juru ketik (close captioni) dalam bimbingan skripsinya, karena juru bahasa isyarat yang biasa membantunya sedang berhalangan tidak bisa hadir. Saya mengiyakan, melalui Google Doc saya mengubah perkataan dosennya dalam bentuk suara menjadi teks yang bisa diakses olehnya. Di sanalah pertama kalinya Akas ingin memperdengarkan suaranya kepada saya. Itupun setelahnya, dia mengaku merasa malu.

“Kenapa malu? Suaranya biasa saja, kok,” saya berusaha menenangkan.

Saya takut penyakit malu Akas tiba lagi, dan usaha saya dalam mengenal kawan Tuli bisa tersendat lagi. Syukurnya, Akas tidak malu lagi. Mungkin masih agak sungkan, canggung, atau bagaimanalah. Tapi satu dua kali kami pernah mengobrol lepas via panggilan audio. Dia bisa mendengar suara saya dengan cukup jelas, karena menggunakan alat bantu dengar yang katanya punya harga begitu mahal.

“Kak Akas suka pake alat bantu atau tidak?” Tanya saya pada salah satu waktu.

Akas dalam beberapa ekspresi berbahasa isyarat saat pelatihan PerDIK “Youth for Equality, 2018.

Dia diam sebentar, mungkin berpikir, lalu dengan suara agak ragu menjawab dia lebih suka tanpa alat bantu. Baginya, alat bantu membuat dia lelah. Dia lebih suka menggunakan bahasa isyarat. Alat bantu dengar membuatnya berusaha untuk mendengar lebih keras lagi.

“Terus kenapa alat bantunya dipakai?” Tanya saya heran.

“Karena kalau tidak dipakai, alat bantunya bakal rusak,” kata Akas dengan lancar.

Perbincangan dengan dia memang mengalir begitu lancarnya, begitu menyenangkan. Selain karena Akas melafalkan kalimat benar-benar dengan jelas, juga karena dia sering bercanda.

Bagi saya, memiliki teman Tuli itu sangat menyenangkan. Begitu juga saat memiliki teman dengan disabilitas fisik, mental, intelektual dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan itu membuat saya semakin penasaran lagi, semakin ingin tahu lagi. Apa yang berbeda? Apa yang menarik? Apa yang perlu saya pelajari dari teman-teman? Bagaimana etika berkawan dengan teman Tuli, difabel fisik, mental, atau intelektual? Memahami mereka membuat saya merasa lebih menjadi manusia lagi.

“Suara ketawa Lala begini, ya?” Akas mengucapkannya sambil terkekeh.

Itu pertama kali kami mengobrol melalui telepon, mungkin dia baru pertama kali memerhatikan suara saya. Dan saya bahagia sekali bisa memperdengarkan suara saya pada Akas. Walau sebenarnya, jika diminta memilih, saya lebih ingin Akas berbicara dengan bahasa isyarat atau melalui teks di ponsel. Saya paham bagaimana rasanya memaksakan kemampuan orang lain. Memakai alat bantu dengar bagi teman Tuli, sama saja dengan memaksa teman Buta memakai kaca mata tebal hanya demi bisa menulis di lembaran kertas.

Fenomena memaksakan kemampuan pada anak difabel memang kerap kali kita temui. Kalau misalnya dulu sewaktu kecil Akas dilatih setiap hari untuk melafalkan satu kata yang fasih, dan diiming-imingi hadiah tiap kali ia berhasil oleh tantenya, Saya juga pernah dipaksa menulis dengan tangan dan pulpen, dengan keadaan mata yang sudah kabur berat. Hasilnya? Tulisan saya keluar baris, menari sana-sini, mirip barisan tentara yang salah formasi.

Sering kali memang orang awam mengusahakan bagaimana mungkin, anggota keluarga dan atau murid mereka bisa melakukan hal yang dilakukan orang lain. Selagi masih bisa dipaksa, ya lebih baik dipaksa menurut mereka. Tapi ini tidak masalah, itu hanya masalah bentuk pengetahuan yang diterima oleh masing-masing orang.

Saya harap kemudiannya bahasa isyarat bisa menjadi bahasa nasional, film serta berita-berita bisa dilengkapi dengan bahasa isyarat, dan semua yang berbentuk suara di ruang-ruang publik bisa diterjemahkan ke dalam bentuk teks. Agar teman-teman Tuli seperti Akas tidak merasa lelah lagi harus susah-susah mendengar, susah-susah bicara.

Selamat hari Tuli! Semoga kedepannya kita lebih peduli dan sadar lagi, bahwa tidak semua suara harus didengarkan, dan tidak semua kata-kata harus diucapkan[].

Pembacaan puisi M Aan Mansyur berjudul
Sajak buat Istri yang Buta dari Suaminya yang Tuli

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.