Oleh Muthahara Yulina, Pustakawan Pustakabilitas

Saya tinggal dan bersekolah di dekat Sekolah Luar Biasa. Itu membuat saya terbiasa bertemu difabel. Jika difabel sering bercerita mengenai pengalamannya menerima perlakuan diskriminatif di lingkungannya, maka Lina kecil adalah salah satu pelakunya.

Saya hidup dan tumbuh di lingkungan Pendidikan yang memisahakan Sekolah Umum dan Sekolah Luar Biasa. Keadaan itu membuat saya dan teman-teman berfikir bahwa kami dan merekaberbeda.

Seringkali kami berfikir mereka yang bersekolah di SLB itu orang-orang bodoh. Apalagi pernah beberapa kejadian di mana teman-teman saya yang tinggal kelas beberapa kali akhirnya dipindahkan ke SLB, yang berada di samping SD saya.

Ada satu lapangan yang kami pakai bersama saat belajar di luar ruangan. Saat itu, kami berkesempatan menertawai atau apapun yang sifatnya mengejek (diskriminatif) siswa-siswa SLB. Saya ingat betul, kami selalu tertawa saat ada siswa SLB diminta menyanyi sambil memperagakan gaya bermain gitar Rhoma Irama dengan menggunakan sapu. Bahkan, betapa kejinya cara anak-anak dari SD Umum menghina temannya yang dipindahkan dari SD umum ke SLB. Bahkan sampai anak itu menangis karena malu, ejekan tak jua berhenti.

Itulah beberapa catatan-catatan dosa-dosa masa kecil saya.

*

Jika mengingat momen-momen itu, saya sering mengutuk diri sendiri. Betapa kejamnya saya dulu. Mengapa saat itu saya tidak menghentikan teman-teman menghina siswa SLB. Malah saya ikut menertawai. Malah saya menikmati pemandangan itu.

Padahal, saat saya kanak-kanak, saya sering bermain dengan para difabel yang menjaga saya. Mereka murid orang tua saya yang mengajar di salah satu SLB di Takalar. Setelah masuk SD, otak saya seperti dicuci oleh lingkungan yang memberi stigma bagi difabel.

Saya malah setuju saja dengan perlakuan stigmatik itu. Saya malah khawatir dijauhi teman-teman jika membela difabel. Saya malah takut jika berteman difabel maka teman-teman menjauhi saya. Saya malah, saya malah, …

*

Perilaku diskriminatif atau menjadikan difabel objek tertawaan bagi anak-anak pada umumnya seperti terjadi turun-temurun. Stigma miring menyebar di tengah-tengah masyarakat. Mungkinkah pemisahan antara difabel dan non-difabel dalam pendidikan yang membuat kami berfikir kami berbeda? Saat ini saya merasakan, kami tidak mengenal etika berkomunikasi dengan difabel. Kami ogah-ogahan berbicara dengan mereka. Saat itu, sampai saya tumbuh remaja, tidak ada orang yang mengajar kami soal betapa buruknya cara kami memperlakuan difabel dan betapa perlakuan itu akan mengganggu pertumbuhan psikis difabel yang menjadi korban perlakuan stigmatik kami.

Kami hanya berfikir sedangkal bahwa tindakan bulian itu hanya candaan anak-anak pada umumnya. Mereka sudah terbiasa dan tidak apa-apa jika dijadikan bahan lelucon. Toh, buktinya ia mau-mau saja disuruh menghibur kami.

Ah makin mengingat itu membuat saya makin merasa bersalah!

*

Memasuki SMP, saya sudah jarang bertemu difabel.  Saat belajar di SMA, saya memiliki teman difabel beda kelas. Mungkin bukan juga teman, hanya satu sekolah dan seangkatan saja. Saya tidak pernah berkomunikasi dengannya. Saya tidak terbiasa berkomunikasi dengan difabel. Rasa canggung untuk berkenalan dan memulai percakapan begitu membentengi saya untuk tidak beranjak. Padahal, saya sangat tertarik dengannya. Saya ingin tahu bagaimana ia belajar di kelas. Saya mau tahu, bagaimana teman-teman sekelasnya memperlakukannya.

Tapi pertanyaan demi pertanyaan itu mengambang. Sampai luluspun saya tidak berani menyapanya.

Saya mulai mengenal lebih dekat difabel justru saat berkegiatan di luar sekolah.

Dua tahun lalu (2018), saya mengikuti kegiatan Sosial Justice Youth Camp (SJYC) di desa Kambuno, Bulukumba. ISJN atau Indonesia Social Justice Network bekerjasama dengan Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) yang menjadi pelaksananya.

Saya tidak sengaja mendapatkan informasi kegiatan itu dari sosmed, social media. Saya pun iseng mendaftar. Saat itu saya bahkan belum tahu itu kegiatan macam apa. Salah satu persyaratan mendaftarnya adalah membuat tulisan. Saya membuatnya terburu-buru dan asal-asalan. Kalau kata anak gaul sih sistem ‘the power of kepepet’, plus sotta-sotta’ berhadiah (bersikap sok tau, Makassar).

Saya ingat betul proses pendaftaran itu kurampungkan hanya dalam semalam. Itupun dari pukul satu malam sampai subuh.

Alhamdulillah ternyata saya lulus.  

Lepas itu, saya baru mencari infonya lebih banyak.

Saat itu ada keraguan mengikuti kegiatan tersebut. Rupanya tempatnya jauh dari rumah, waktunya seminggu, dan tak satupun orang saya kenali. Layaknya korban tontonan sinetron, fikiran saya traveling ke mana-mana. Saya takut diculik dan menjadi korban penjualan manusia.

Saat mencari tahu lebih lanjut, keraguan lain muncul. Rupanya ada peserta difabel turut serta.

Oh iya, itu juga adalah kali pertama saya mendengar dan mengetahui kata “difabel”. Sebelumnya yang saya tahu dan ucapkan ya, hanya kata “cacat”.

Beruntung guru-guru seperti Pak Asnul dan Kak Yhaya mendukung saya. Juga setelah mengetahui ketua panitianya, kak Nur Syarif Ramadhan ternyata berasal dari tempat tinggalku, Bontonompo, Kabupaten Gowa.

Sayapun membulatkan niat untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Menghindari rasa canggung, saya berkenalan dengan beberapa peserta lain melalui chat WA. Salah satunya dalah dengan Nabila May Sweetha. Saya merasa makin mantap ikut Perkemahan Pemuda ini.

Proses chat-chatan berlanjut sampai hari keberangkatan. Beberapa peserta dari luar Makassar berkumpul di Makassar sedangkan saya hanya menunggu bus di Bontonompo. Rute bus menuju Bulukumba akan melalui kabupaten Gowa. Saya bersiap dan mulai menunggu di depan pasar Bontonompo.

Merasa jenuh menanti, saya mengirim pesan chat ke Nabila. Saya tanya sudah di mana?

Nabila enteng bilang, tidak tahu.

Saya menyuruhnya melihat-lihat spanduk atau nama-nama toko-toko. Saya pasti akan mengenali wilayah dari tanda-tanda itu.

“Saya buta, tidak melihat,” begitu bunyi pesan Lala, panggilan akrabnya.

Betapa kagetnya saya dengan pengakuan itu. Saya lalu berfikir, bagaimana bisa ia membalas chat-chat selama ini jika ia tak melihat. Nabila pasti membohongi saya. Ia pasti hanya bercanda.

Saat bertemu barulah saya percaya bahwa ia memang buta dan mengerti bagaiman ia membalas pesan-pesan saya dengan hapenya.

Handphone yang dia gunakan menggunakan aplikasi pembaca layar (screen reader). Dia bisa membca pesan teks yang disuarakan oleh aplikasi itu. Dia bisa mengetik dengan tuts yang telah ia hapal letaknya dan mendengarkan isi kata-kata yang ia tulis dan mengeditnya jika keliru ketik.

Dari kegiatan SJYC inilah, saya mulai memiliki teman difabel.

Suasana Youth Camp Di Pantai Bira, Bulukumba

Pengalaman ini sungguh berkesan dan unik. Saya menemukan banyak hal baru yang membuat saya tertarik dan penasaran untuk tau lebih jauh. Bukan hanya Lala, ada juga Sandi yang Tuli dan Selvy, berkursi roda.

Sandi ini Tuli dan dia bilang ia sangat suka menonton konser. Ini aneh bagiku, sekaligus menarik. Sandi juga adalah peserta yang paling ekspresif. Ia seperti tak peduli dengan ketuliannya. Ia berbahasa dengan wajahnya. Dan keramahan itu selalu ia tampakkan diwajahnya. Kami bisa berbicara dengan tulisan di kertas jika diperlukan.

Sepanjang kegiatan, saya menikmati belajar bersama teman-teman baru itu. Saya mulai berfikir, jika saja sistem belajar yang diterapkan di kegiatan ini juga diterapkan di SD saya dulu, mungkin saya dan teman-teman tidak akan menjadi pelaku diskriminasi. Ternyata, betapa indahnya belajar dengan memadukan kelebihan dan keterbatasan dan betapa indahnya bentuk nyata dari toleransi ini.

Saya bersama teman-teman SJYJ, ada Sandi (Tuli) di belakanku, dan Selvi (berkursi roda) saat kami berekreasi usai SJYC di Pantai Bara, Bulukumba

Saya makin tertarik dengan dunia difabel hingga saat kuliah sayapun akhirnya bergabung di PerDIK. Pelan-pelan, saya mengikuti kegiatan-kegiatannya.

Semakin lama, saya belajar dan mengetahui bagaimana teman-teman difabel beraktifitas dan belajar. Bukan hanya teknologi yang mengubah tulisan menjadi suara, ada juga teknologi yang mengubah suara menjadi tulisan yang biasa digunakan oleh teman Tuli.

Pun juga cerita-cerita dari kak Muhammad Luthfi. Ia seorang dengan mata tak melihat sama sekali, buta namun sering menikmati tontonan di bioskop.

Saya heran setangah mati. Tak punya bayangan bagaimana Kak Luthfi menikmati tontonan.

“Ada pembisiknya, Lina,” katanya suatu hari.

Tapi saya tetap penasaran bagaimana itu terjadi. Saya hanya membayangkan tapi belum melihatnya langsung.

Rasa penasaran itu terjawab beberapa hari lalu. Pada 9 Januari 2021, kami nonton bareng di Rumah PerDIK.

Usai kami menuntaskan agenda Rapat Kerja Tahunan sekian hari di Malino dan lanjut di Rumah PerDIK, kami bikin acara nobar dan menginap di Rumah PerDIK.

Malam itu, rasa penasaran sayapun terbayar tuntas!

Disepanjang pemutaran film, kami bergantian mendeskripsikan cerita film kepada teman-teman kami yang tidak melihat, termasuk Kak Luthfi. Ia paling bersemangat. Ia memang seorang penonton serius.

Deskripsi film yang disampaikan oleh pembaca—disebut juga Audio-describer—telah membantu penonton netra mengikuti alur cerita. Saya pun malah terbantu juga. Jika ada adegan yang tak ingin saya lihat karena takut atau jijik, saya cukup menikamtinya dari uraian sang pembisik.

Film yang kami tonton malam itu berjudul Silenced. Ini film Korea Selatan yang menceritakan kisah pelecehan seksual di lingkungan sekolah dan asrama Tuli. Ini kisah nyata.

Poster film Silenced

Dalam film ini, bukan hanya anak perempuan Tuli yang menjadi korban pelecehan, kekerasan bahkan eksploitasi seksual, tetapi juga anak-anak lelaki (usia kanak-kanak). Pelakunya adalah guru dan kepala sekolahnya. Saya tak habis pikir. Orang yang seharusnya melindungi justru mencelakai anak-anak.

Dari awal cerita, kami terbawa suasana dan dibuat geram dengan perlakuan-perlakuan biadab pelaku dalam film. Bertambah jengkel dengan akhir cerita di mana para pelaku mendapat hukuman ringan. Pelaku yang juga orang penting di kota itu, seorang agamawan yang dermawan, serta relasi politik yang luas, membuatnya bisa menyogok dan mempengaruhi para Aparat Penegak Hukum.

Hukuman yang diterima sangat tidak sesuai dengan penderitaan serta trauma para korban. Di akhir cerita, kesal karena proses hukum tidak memuaskan korban, seorang korban anak lelaki ini memilih menuntaskan dendamnya dengan menikam gurunya. Tikaman lemah itu menusuk perut dan guru itu terjatuh di atas rel kereta (asrama sekolah ini dekat dengan jalur kereta). Sialnya, guru itu menarik baju anak lelaki ini dan memeluknya sesaat sebuah kereta melaju dan menabrak tubuh keduanya.

Meskipun mengetahui bahwa cerita ini diangkat dari kisah nyata, sehingga akhirnya sangat mungkin memang hal tragis, saya tetap berharap diakhir film para korban mendapat keadilan.

Walau berakhir tragis, menurutku ada banyak hal yang dapat diketahui melalui adegan-adegan dalam film itu. Khususnya berkaitan dengan kurangnya pemenuhan hak-hak difabel serta pelanggaran-pelanggaran lainnya yang sering terjadi.

Pada plot di ruang persidangan, adegan sidang pertama memperlihatkan para Tuli protes karena hak mereka untuk mendapat juru bahasa isyarat dalam persidangan tidak terpenuhi. Juga ada adegan para polisi berusaha membubarkan para Tuli yang sedang berdemo, namun menggunakan TOA yang tentu tak dapat didengarkan. Ini melanggar etika berkomunikasi bersama tuli.

Bagi saya, momen mennonton bareng malam itu sungguh berkesan.

Semoga kelak, apa yang menjadi tujuan dari pergerakan-pergerakan kami bisa terwujud.

Saya pribadi memimpikan lingkungan yang selalu menerima siapapun. Semoga perasaan hangat toleransi seperti ini kelak tidak hanya saya rasakan di lingkungan PerDIK, melainkan tercipta di setiap pojok Indonesia dan di manapun saya berada[].

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.