Blog

MAKASSAR INKLUSI TANPA KORUPSI: Dialog Politik Difabel

Jaringan Organisasi Difabel Kota Makassar dan Dialog Politik dengan Kandidat Walikota/ Wakil Walikota.

Jaringan DPOs kota Makassar memiliki komitmen mewujudkan Makassar kota Inklusif. Memang, pemerintah kota Makassar sebelumnya memiliki slogan Makassar Kota Inklusi, tapi tanpa pelibatan difabel dalam proses menuju tercapainya kondisi itu, akan ditemui sejumlah hambatan. Difabel merupakan warga negara dengan hak politik yang diatur negeri ini.  Untuk itu, partisipasi politik difabel, baik dalam proses perencanaan, implementasi maupun monitoring dan evaluasi pembangunan kota Makassar wajib adanya.

Maka dari itu, menjelang pemilihan kepala daerah atau walikota Makassar pada Desember 2020 mendatang, jaringan DPO kota Makassar bermaksud mengundang seluruh calon walikota dan calon wakil walikota untuk dialog politik: Makassar Inklusi tanpa Korupsi. Kami selama ini aktif dalam proses berkembangnya kota. Bahkan kami juga melakukan sejumlah evaluasi terhadap cara pemerintah kota memenuhi hak-hak warga kota, khususnya difabel kota Makassar.

Dialog politik warga negara dan pemimpin politik kota Makassar masih jarang dilakukan. Pertemuan Ini bukan merupakan ruang bagi kandidat menyampaikan visi dan misinya, melainkan ruang untuk menguji gagasan mereka terkait fenomena disabilitas dan kerentanan difabel di kota Makassar dan mengukur sejauh mana keberpihakan kandidat terhadap warga difabel dan kelompok-kelompok rentan lainnya.

Maksud dan Tujuan Kegiatan

Dialog politik ini punya dua maksud dan satu tujuan, yaitu: Pertama, mempertemukan antara warga kota Makassar yang selama ini menjadi kelompok paling rentan dengan calon-calon walikota/wakil walikota. Kedua, jaringan DPO kota Makassar ingin menyampaikan gagasan politik warga difabel mengenai kondisi kota saat ini dan apa yang perlu dilakukan oleh pemimpin kota Makassar di masa mendatang.

Adapun tujuan pertemuan ini adalah mendialogkan gagasan politik difabel dengan gagasan politik para kandidat.

Outcome

Hasil yang diharapkan dari dialog ini adalah Tersampaikannya gagasan politik dan kebutuhan warga difabel Makassar dan selarasnya antara visi/ misi kandidat dengan isu-isu Disabilitas

Waktu dan Tempat

Kegiatan akan dilaksanakan pada:

Hari/ Tanggal            : Selasa, 29 September 2020

Waktu                         : 09.00 WITA – Selesai

Tempat                       : Zoom App

  • Peserta

Peserta dialog politik ini adalah:

  1. Seluruh pengurus DPO kota Makassar dan sejumlah difabel atau keluarga difabel sebagai pemilih di kota Makassar;
  2. Seluruh kandidat walikota dan kandidat wakil walikota kota Makassar
  3. Pihak legislatif dan parpol
  4. Pihak-pihak lain yang terkait, seperti pihak universitas, Media dan NGOs
  • Pelaksana Kegiatan
  • Fasilitator: Abd. Rahman, S.Pd, Ketua Yayasan Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK)
  • Administrator/ Pengatur lalu lintas zoom: Zakia & Nurhidayat
  • Juru Bahasa Isyarat: Istiana Purnamasari
  • Notulen: Nabila May Sweetha
  • Close Caption:
  • Agenda Kegiatan
WAKTUMATERIPJ
08.00 – 08.30RegistrasiPanitia
08.30 – 08.35PembukaanMC
08.35 – 09.40Sambutan Ketua PerDIKIshak Salim
08.40 – 10.00Dialog PolitikAbd. Rahman
10.00 – 10.30Pemaparan Gagasan PolitikJaringan DPOs
10.30 – 11.30Respon dari Kandidat Calon Walikota dan Wakil WalikotaAbd. Rahman
11.30 – 12.00Penyusunan Rekomendasi dan PenutupanPanitia

Dari Protes Nabila ke Mas Menteri Dan Polemik Segregasi Pendidikan DIfabel

Oleh Ishak Salim (Ketua Yayasan PerDIK)

Berawal dari tulisan NAbila May Sweetha yang diposting di media PerDIK ini, saya kemudian memberikan komentar melalui akun facebook saya dan membaginya ke group fb Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia di sini. Postingan ini mendapatkan respon dari sejumlah pembaca dan menggambarkan bagaimana diskursus sistem pendidikan segregatif vs inklusif cukup semarak. Dari sekian komentar dan diskusi, saya kemudian merasa perlu menyampaikan ke publik mengenai pertukaran pemikiran ini. Tulisan selanjutnya adalah kopipaste saya dan sebelum saya menera pandangan-pandangan tersebut, saya akan muat dulu komentar saya atas tulisan Nabila, berikut:

Pak Menteri, Kami Mau Belajar di Sekolah Umum, BUKAN SLB!

Tulisan ini ingin menyapa Mas Menteri Nadiem Anwar Makarim yang baru-baru ini menyampaikan bahwa Pemerintah akan memberi perhatian kepada SLB alias Sekolah Luar Biasa, untuk difabel.

Lala Nabila May Sweetha, penulis difabel netra yang saat ini belajar di Sekolah Umum merasa gerah dan tak sepakat dengan Mas Menteri. Ia menolak cara berpikir Menteri Pendidikan yang segregatif. Baginya, tak mungkin ada kemerdekaan bagi siswa dan siswi difabel ketika sistem pendidikan yang disediakan negara masih dipisahk-pisahkan.

Apa bedanya dengan Kaum penjajah yang memisahkan pendidikan Pribumi dengan alasan Pribumi berbeda baik ras maupun kelas sosialnya?

Jadi itu bukan sistem pendidikan yang memerdekakan kami, difabel ini, Pak Menteri! begitu kira-kira spirit perlawanan Lala dan kawan-kawannya yang berani menantang sistem ini dan keluar dari tembok SLB yang selama ini mengerangkengnya. Ia menolak hanya dijejali keterampilan yang tak disukainya, ia ingin kebebasan seperti siapapun yang saat ini menikmati sekolah umum.

Ia ingin bebas dan ingin membebaskan teman-temannya yang masih tak kuasa keluar dari SLB. Pun di tulisan ini, Nabila melawan Mas Menteri, yang ingin melanggengkan “penjara pendidikan” ini.

Teriakan Education For All!
(Marakesh Treaty)

Demikan, dan berikut saya posting pendapat-pendapat teman-teman dari group PPDI dan semoga dari setiap kalimat yang tertuang memberikan kita pencerahan atau pandangan baru yang lebih baik.

Faisal Esha Itu benar saya mendukung pendapat adek ini. Ini zaman demokrasi.. orang orang tidak lagi melihat difabel atau tidak.tapi kemampuannya.mental anak zaman sekarang sudah sangat baik.jangan lagi dikotakkan seolah orang cacat harus di kelompokkan dengan orang cacat.itu justru melemahkan mental difabel itu sendiri.bak istilah tidak ada mental bersaing yang positif.dia akan terus berada di “zona nyaman” . menteri Nadiem kan lulusan luar negeri.harusnya tau itu.untuk info saya zaman orba dimana fasilitas dan tingkat pendidikan orang belom sebaik sekarang.dari SD sampai universitas semuanya di umum dan sedikit banyak itu membuat mental saya relatif lebih kuat..dan mereka menerima saya tanpa di bully..zaman milenium gini.malah mau dikotakkan. Aneeh

Teguh Sistemnya dulu yang harus diperbaiki karena di sekolah umum yang sudah inklusi pun kadang belum memiliki guru PLB, kenapa dibutuhkan guru PLB? Seperti pepatah the right men in the right job,,, segalanya harus berjalan sesuai jobdesk nya, sayang kalau sudah masuk sekolah umum tp sekolahnya masih belum ramah difabel, justru menambah beban mental dari difabel itu sendiri #imo

Ishak SalimPenulis kalau mengambil pengalaman lala (penulis di atas) bersekolah di sekolah umum, kehadirannya di sekolah umum itu telah memulai proses inklusif. Perlahan-lahan, sekolah berubah, guru-guru mendapat pengalaman baru dalam mengajar difabel netra, teman-teman lala punya pengalaman baru berteman dan berinteraksi dengan lala sebagai difabel. Di awal masih ada keliru, tetapi kekeliruan seiring waktu dibenahi oleh guru-guru. ada banyak pengalaman baru dan pengetahuan baru selama lala belajar di sekolah umum dan sekolah ini juga untuk pertama kalinya menerima murid difabel.

Kalau menunggu setiap sekolah umum siap, kita akan kehilangan waktu yang panjang untuk mempersiapkan diri. sementara dengan cara Lala, perubahan berjalan dengan natural dan penganggaran sekolah juga pelan-pelan mulai menyiapkan aksesibilitas dan akomodasi layak di sekolah umum.

Johana Sherly OktavistaIshak Salim yang dituliskan Lala belum tentu dapat mewakili semua kondisi difable pak..karena ada juga difabel fisik yang disertai disabilitas mental,, satu anak dg yg lain tidak dapat disamakan namanya juga berkebutuhan khusus,,saya sendiri punya anak yang mengalami Lumpuh otak semua tumbangnya terlambat,,,

TeguhIshak Salim tidak semua seberuntung mba lala ini mas, beberapa waktu lalu bahkan ada yg mengalami bullying gara2 difabel yang bersekolah di sekolah umum, saya guru SLB, pun ingin rasanya agar anak2 difabel ini bisa bersekolah di sekolah umum karena jumlah slb sangat terbatas dlm satu kota sedangkan jumlah peserta didiknya melebihi batas. Harus ada perbaikan sistem, kemudian persiapan dan metode pembelajaran yang tepat, karena di negara ini segalanya berjalan sesuai aturannya, tidak bisa kita seketika merubah kurikulum begitu saja,

Ishak Salim Ya benar, ada banyak keberagaman difabel. Tetapi sekolah tidak harus dipisahkan dan menyatukan semua peserta didik yang difabel. Kebijakan segregasi ini membuat mayoritas masyarakat lambat menyadari keragaman disabilitas, keragaman kemampuan, dan terus menerus berada dalam cara berpikir orang normal dan orang cacat.

Ini juga buka soal beruntung dan tidak beruntung, bagi saya ini karena pemikiran atau pengetahuan kependidikan kita tidak berkembang dengan baik karena segregasi ini. kebanyakan slb sebagai sekolah tertinggal kualitasnya dan kebanyakan sekolah umum tidak peduli dengan siswa difabel, tidak peduli betapa slb itu letaknya jauh dari rumah difabel dan betapa menyakitkannya kita sebagai orang tua ketika anak-anak kita ditolak bersekolah di sekolah umum.

Jika SLB adalah cara mendidik difabel, megapa cara itu tidak diintegrasikan dengan sistem persekolahan inklusif dan kita mulai belajar perlahan-lahan memulainya, perlahan-lahan menyiapkan buku-buku braille, mengubah toilet sekolah lebih akses, mengubah runag guru dan kelas nyaman, menerima GPK, melatih guru bagaimana mendidik anak dengan autisme, adhd, maupun down syndrome dst.

Tonytonie Slb memang dikhususkan buat difabel dan umum juga, dari segi meyodenya sudah berbeda, tp dalam kondisi tertentu tidak menutup kemungkinan buat difabel untuk sekolah di tempat umum, tp kondisional, jangan terpaksa dan dipaksa. Baik seorang difabel juga harus di slb biar bisa mengikuti semua kegiatan… Disekolah umum itu juga banyak sekali problem… Untuk mengejar prestasi siswa dituntut untuk bisa menyerap materi dalam waktu yg sangat terbatas …pengalaman dulu waktu sekolah sekarang dikasih materi, hari berikutnya latihan yg sangat banyak , habis itu ulangan/test ..dalam waktu satu minggu harus selesai dan harus dikuasai materi yg ada… Dan semua pelajaran seperti itu… Coba dipikir pelajaran exact yg sulit” apa ya bisa difabel mengejar itu semua..

Achmad Ainul Yaqin Idem mawon

P Marjani Jika anak mampu kan sudah ada sekolah inklusi/sekolah umum dan bisa melanjutkan pendidikan kuliah dst. Yg bidang akademik kurang mampu disekolah khusus diberi materi keterampilan dng tujuan kelak bisa mandiri.
Tapi perlu dipersiapkan benar SDM di sekolah Inklusi sehingga semua peserta didik dpt terlayani dng baik.
Elhumaedi Saya juga sekoalh di umun dri sd smp smk negeri semua Saya diperlakukan sma tidak dibeda bedakan dan kadang guru juga mengerti apa yg saya bisa dan yg saya gk bisa.

Ramadani Afni Ya saya berpikiran yg sama karena jika dari SD -SMA tetap disatu lingkungan bagaimana nanti para disabilitas bisa bergaul dengan masyarakat ? Harusnya inklusi bukan hanya sebagai semboyan di hari-hari peringatan disabilitas saja tapi harus dipraktekkan di seluruh instansi dan lapisan masyarakat


Dicky Putranto Sekolah umum tuh biasa aja kok, justru enakan slb, karena kurikulumnya bisa menyesuaikan kondisi kita, lalu alat penunjangnya juga lebih baik di SLB..

Ishak SalimPenulis Dicky Putranto sudah benar kurikulum itu tidak diseragamkan. Sudah saatnya sistem pendidikan itu menghargai dan mengakomodasi perbedaan. Manajemen Sekolah harusnya menyesuaikan keberagaman setiap individunya. Model Penyeragaman sistem pendidikan dan memisahkan orang-orang dengan alasan tidak mampu dan berbeda justru menunjukkan bahwa guru-guru dan pengelola sekolah umum sudah terlalu lama berada di zona nyaman.


Dicky Putranto Ishak Salim ya sudah …


Yon SAgita betul bgt.kami para difa merasa terdiskriminisasi


Aw Trisno Legowo Masalah skolah umum atau slb ya diliat dr difanya… Mgkin klo cm difa kaki, tangan bs di umum tpi difa yg lain? Yg mmg btuh tenaga pengajar kusus?


Nor Fadili Ibnu Muza Saya Sangat Setuju dengan pendapat Adek ini.klw misal nya adek” yang mempunyai Kebutuhan Husus harus bersekolah Di SLB lantas kapan adek” bisa bergaul dengan teman” di luar sana.klw misal nya harus sprti apakah tidak ada kemungkinan Orang” di luar sana semakin membedakan ke beradaan kita.
Pemerintah seharus nya menciptakan Lingkukan yang Inklusif bisa saja teman” di beri pendampingan husus kalau memang itu di butuhkan.


Aji Purwono Pck slb itu enak gan nggak ada yng ngebully.


Nor Fadili Ibnu Muza Aji Purwono Pck saya sekolah di sekolah umum sejak TK sampai Kuliah.Alhamdulillah gak pernah Di bulyy


Kepiting Sennyum dari dlu saya sekolah di skolah umum sdh mnjlni proses inklusi awalnya d bully ttapi lma2 justru jd tmn yg baik smua.


Ishak SalimPenulis Kepiting Sennyum betul, proses bully jika terjadi biasanya akan ada proses penyelesaiannya. Baik oleh guru atau oleh murid-murid sendiri yang secara alamiah berproses membela atau dibela, mendukung atau menolak, dan akhirnya diselesaikan secara formal oleh pihak sekolah, atau komite sekolah atau cara-cara lain yang akan terjadi sesuai kultur atau budaya setempat.


Mas Riang Difable netra itu kadang cm memikirkan dirinya sendiri…,
Mereka tidak memikirkan difable yg lain seperti autis, tunagrahita, tunadaksa dll…,
Apa tidak mengalami perihnya saat di bully di sekolah umum?
Atau jika tidak dibully pun di sekolah umum itu jg tidak diperhatikan secara maksimal…,
Karena sistem belajarnya klasikal….yaa mana mungkin belajar klasikal kog minta diperhatikan secara intensif….

Di SLB malah enak, diperhatikan secara khusus…tinggal usul aja kalau memang materi bosan ketrampilan yaa materi yang lain….

Jika problem ada di konten materi, jangan salahkan lembaganya…,tapi ubah saja konten materinya, ubah metodenya…

Okin Mas Riang
saya juga netra tapi mikirin semua.

Okin Mas Riang
boleh tau disabilitasnya apa?

Mas Riang Okin siapa?
Kan sudah tak bilang netra jg

Tonytonie Lebih baik di slb, sudah di sesuaikan dg kondisi jenis disabilitas nya, karena klo di sekolah umum pasti tertinggal jauh, dan gk busa mengikuti…. Aku saja dulu waktu masih normal dan masih belajar merasa susah untuk mengejar prestasi teman sendiri itupun dia masih belum Bagus nilainya apa lagi untuk yg pinter”, WUIH SUSAH


Ishak SalimPenulis Tonytonie sistem pendidikan yang mengandalkan kompetisi membuat suasana pembelajaran jadi kurang sehat. Karena mengejar prestasi sekolah, guru-guru memacu anak didik melewati batas kenyamanan dalam belajar dan mengkotak-kotakkan anak didik sebagai beprestasi dan tidak. Sebaiknya prinsip kerjasama dalam belajar diutamakan, tak penting siapa yang paling baik hasilnya. Penilaian adalah pada seberapa baik kerjasama antar pendidik, antar peserta didik dan antara peserta didik dan pendidik. Membiasakan anak-anak dan remaja dalam keberagaman akan memperkuat mental dan cara berpikir mereka. Anak-anak akan menghargai jika ada yang merasa minoritas (misalnya difabel, etnis tertentu, jenis kelamin, agama, dan lain-lain).

Cara berpikir guru juga perlu diubah. Pembedaan perlakuan bisa juga dilakukan di sekolah umum. Itu pentingnya ada unit layanan disabilitas di sekolah umum sehingga setiap ada murid baru difabel, bisa diasesmen kebutuhan belajarnya dan kemudian berdasarkan hasil asesment pihak sekolah mendesain satu cara mendidik agar tetap setara. Misalnya jika ada anak autis ikut masuk di sekolah umum, maka pihak sekolah mengupayakan gpk dan training peningkatan kapasitas.

Begitu pula jika ada guru yang difabel, misalnya guru buta atau guru tuli, atau bahkan guru dengan gangguan kejiwaan namun telah pulih maka bisa juga pihak sekolah memikirkan akomodasi yang layak bagi pendidik difabel.

Edit atau hapus ini


TonytonieIshak Salim terlalu mengorbankan yang lain… Jika sudah ada wadah yang disediakan kenapa harus mengorbankan yg lain… Logisnya anak difabel yang sekolah di sekolah umum yang harus adaptasi, karena itu sekolah umum bukan sekolah khusus…jadi jika memang bisa beradaptasi dengan lingkungan umum ya silahkan saja sekolah di sana… Tanpa harus mengorbankan yg lain karena yang lain juga akan beradaptasi dengan keterbatasan anak difabel tanpa mereka dikorbankan


Ishak SalimPenulis Tonytonie sudah banyak praktik sekolah inklusif. Artinya bisa dipraktikkan tanpa harus ada penggolongan sekolah. Difabel sudah terlalu lama dilabelisasi sebagai orang sakit, tidak mampu, penderita, pencacat, dll. Setelah itu distereotifkan lagi lalu disegeregasikan dan didiskriminasikan. Jika kita bisa bersama-sama memikirkan satu sistem yang setara, Egaliter, saling menghargai sebagai sesama manusia betapa bermaknanya hidup ini.

Sekarang ini, kalau orang buta mau naik pesawat harus tanda tangan surat sedang sakit dan memaksakan diri bepergian. Padahal orang buta bukan berarti sakit, tapi mendapatkan perlakuan tidak adil. Jadi karena tandatangan itu maka jika terjadi kecelakaan pesawat orang buta ini tidak akan dapat santunan. ada berapa macam kejadian serupa itu yang menyamakan difabel sebagai orang sakit, tidak mampu, dll?


Tonytonie Penggolongan sekolah itu bukan bentuk diskriminasi, menurutku lebih mengakomodasi kebutuhan para difabel sendiri…
Dari tadi anda menyebut tentang difabel yang di diskriminasi…padahal bukan diskriminasi yang ada tapi secara umum soal adaptasi yang belum bisa di lakukan oleh para difabel sendiri … Orang yang berpikir secara terbuka akan menganggap sebuah keteraturan yg harus dijalankan secara Arif dan kesadaran masing” individu ..bukan sok ngeyel menuruti pendapat sendiri tanpa mengindahkan yang lain yang akhirnya menyalahkan keteraturan yang berkedok diskriminasi…


Ishak SalimPenulis Tonytonie saya akan tetap pada gagasan inklusif bahwa praktik memisahkan difabel bersekolah di SLB adalah keliru dan mari kita mulai berpikir inklusif. Kecuali kalau SLB menjadi sekolah inklusif. Jika memang SLB punya kapasitas mendidik difabel, maka tak akan bermasalah jika praktiknya dibuat inklusif. Kalau menurut Anda gagasan saya terkait sistem pendidikan inklusif keliru, setidaknya sudah saya sampaikan. Pendapatmu juga sudah kudengar dan jika tak sepaham tak apa.

Saya memang menganggap sistem SLB itu segregatif dan bisa membuat difabel akhirnya mendapatkan perlakuan diskriminatif.

Kalau anda tak bersetuju tak apa, saya juga tidak berharap dengan pemikiran berbeda ini lantas bisa SIM sala bim mengubah kondisi 100 persen. Tapi paling tidak setiap pemikiran butuh praktiknya, butuh diimplementasikan dan saya dan teman-teman yang bukan negara tentu cuma bisa melakukan hal-hal kecil karena sumberdaya terbatas. Walaupun demikian saya tetap berharap kelak semua sekolah inklusif dan sistem segregatif dalam kebijakan nasional bisa digantikan dengan sistem inklusif.
Terima kasih sudah berbagi pendapat.


Suharty Handayani Bagi saya itu pilihan…yg mana yg nyaman mnrt disabilitas itu sndri untuk bersekolah…krn maaf kemampuan masing2 disabilitas berbeda dan ketahanan mental tiap disabilitas jg gak sama aplg menghadapi ejekan dr teman2x….bila memang mmerasa mampu sekolah d sekolah umum ya silahkan,bila nggak masuk SLB pun gak masalah,….


Ishak SalimPenulis Suharty Handayani perilaku membully merupakan hal yang salah, untuk itu di setiap sekolah harus ada materi belajar tentang bahaya membully dan perlu ada suasana positif dalam kelas agar peristiwa bully tidak terjadi. Jika pun Terjadi, tidak berkelanjutan.


Suharty Handayani Ishak Salim slain itu pengajaran pertama tentu dr rumah dl mas…maaf bs jd anak yg suka membully mencontoh ayah atau ibux yg suka menghina tetanggax sndri…jd dia bljar dr rumahx


Ishak SalimPenulis Suharty Handayani iya betul, dalam banyak kisah kawan-kawan difabel yang sukses atau yang mau tetap hadir di ruang-ruang bersama tanpa mau dikotak-kotakkan karena kondisi tubuh, mental maupun intelektualnya kebanyakan diawali dengan suasana positif dalam rumah.

Kalau anak-anak membully pasti karena efek meniru, entah dari lingkungan rumahnya atau juga tontonannya. Banyak tontonan yang memperlihatkan bagaimana disabilitas jadi bahan tertawaan atau bulian. Contohnya tentang bolot. Aktor Betawi ini tidak tuli tapi berpura-pura tuli dan selalu memperagakan seolah-olah tuli bodoh, sok tau, dan tidak bisa bahasa isyarat dan jika diejek atau dibuli sama Sule atau penonton seolah tidak sadar atau seolah menerima dan merasa dibuli itu sudah nasib yang harus diterima.


Suharty Handayani Ishak Salim sy setuju ttg suasana positif d awali dr rumah…itulah yg skrng d galakkan sm kmunitas sy dan teman2 mas d pondok dilan bhwa edukasi parenting penting bg ortu2 yg memiliki anak2 disabilitas agar anak2 ini bs maju dan berpikiran positif


Tio Wagee Sastrowijoyo Kasandikromo Suharty Handayani tidak ada kata nyaman jika kita tidak menciptakannya, lalu siapa yg dimaksud dg kita, ya semua elemen bangsa ini dimana Negara (pemerintah) sebagai Leadernya.
jangan dikira klo di SLB itu dijamin pasti nyaman semua, ada juga lho difabel membully sesama difabel 🤣, dan jangan kira di sekolah umum itu hanya difabel saja yg berpotensi dibully, ada juga siswa yg tdk difabel jd korban bullying. jadi mari kita tarik sudut pandang berfikirnya ke arah yg universal, yaitu bukan soal difabel dan tidak difabel saja, tapi bagaimana sistem pendidikan ini menjadi inklusif, inklusif yg dimaksud bukan cuma antara difabel dan non difabel saja, tapi semua perbedaan dan keberagaman yg ada (warna kulit, kaya – miskin, difabel – non difabel, dll), sehingga klo sistem belajar – mengajarnya bisa menginklusifkan perbedaan – perbedaan yg ada, maka tujuan dari belajar disekolah akan semakin lebih luas, bukan cuma belajar mata pelajaran sekolah saja, tapi para siswa bisa saling belajar mengenal perbedaan yg ada sejak dini, bisa belajar saling memahami bagaimana menerima dan menyikapi perbedaan yg ada, sehingga ketika kelak mereka hidup di masyarakat luas entah itu ada yg jadi pejabat negara, tokoh masyarakat, pengusaha, dll mereka akan membawa sikap humanis terhadap perbedaan yg ada tsbt ke dalam standar kehidupan mereka, dan itu akan sangat berdampak terhadap pembentukan perilaku masyarakat luas yg ramah difabel di masa – masa yg akan datang.


Rinang Hasimudin Semua pilihan ada kok…. mau kesekolah umum atau SLB, yg penting kuat mental aja…


Ishak SalimPenulis Rinang Hasimudin setiap anak didik dan juga guru-guru harus kuat mentalnya. Tugas mendidik dan kewajiban belajar adalah hal berat. Dibutuhkan mental baja untuk bisa terus melakukannya dengan baik. Jika tidak kuat, maka guru akan malas tambah ilmu, tidak mau terima beban mengajar, malas membaca pengetahuan baru, malas ikut pelatihan atau belajar mandiri, malas memikirkan solusi jika ada kendala anak didik, dan begitu pula anak-anak yang tidak kuat mentalnya akan malas belajar, mudah menyontek, gampang membully, lebih suka main tanpa belajar, dan sulit berpikir positif serta tidak biasa bekerjasama atau bahkan tidak tau caranya saling membantu.


Aziz Hermawan Itu hanya pilihan, utk difabel daksa ataupun tunanetra kemungkinan besar masih bisa disekolahan umum, tapi utk yang autis dll, sulit utk mengikuti sistem belajar di sekolah umum. Kebetulan pengalaman pribadi, dan kalau pun ada yg bilang difabel lebih baik di SLB saya rasa kurang tepat, sebab ada beberapa jenis disabilitas yg memang mampu mengikuti sistem belajar disekolah umum. Saya sendiri tunadaksa dari SD sampai SMA kebetulan sekolah disekolah umum, Alhamdulillah bisa mengikuti sistem belajarnya. Dan Alhamdulillah sekarang saya menjadi mahasiswa teknik arsitektur yg memang sangat sulit untuk bisa masuk fakultas teknik dgn mobilitas yg tinggi dan materi yg banyak serta tugas² yg bertumpuk sampai tdr pun bisa 2 hari sekali. Teman² normal lainnya sgt antusias, meskipun awal masuk saya ragu dan sempat berpikir tentang bullying, ternyata anggapan itu salah, dan saling ejek sdh biasa mereka lakukan utk candaan mereka. Disini sy banyak belajar bahwa dalam mencerna setiap ucapan harus dengan pikiran yang lapang bukan dgn hati dan sedikit² baperan. Mohon maaf bukan bermaksud sombong, hanya utk memotivasi 🙏🙏


Ishak SalimPenulis Aziz Hermawan pengalaman begini harus disebarluaskan. Banyak orang tidak tahu betapa difabel bisa dan senang sekolah di sekolah umum dan bergaul sesama teman dengan beragam kondisi, beragam kemampuan. Coba bayangkan, anak dengan disabilitas intelektual atau grahita lalu disekolahkan dengan sesama grahita apalagi kondisinya beda beda, ada yang grahita biasa (mampu didik dan mampu latih). Kebanyakan orang tidak terbiasa berteman dengan anak dengan diaabilitas intelektual, jadi mereka bingung atau kasihan atau bahkan maunya membully. Padahal, semua proses interaksi jika diatur lingkungannya secara positif akan membuat orang saling menghargai, saling mencintai, saling membantu. Itulah inklusi.

Oia, semoga Azis menjadi arsitek yang selalu membuat desain rumah atau bangunan yang akses, bukan hanya untuk kursi roda, tapi juga untuk difabel lainnya. Semoga semua mata kuliahnya berperspektif universal design… Amiiin


Aziz Hermawan Ishak Salim aminnn,, dan Alhamdulillaah arsitektur Sekarang desainnya memang dituntut untuk menyediakan jalur khusus dgn berbagai jenis disabilitas, dari dosen jg selalu di tuntut utk tdk melalaikan hak² disabilitas.


Ritha Fayola Muharani Anak didikku difabel tunanetra di SLB negeri 2 Indramayu ❤️👍


Sya’roni Selo memang hrus it


Okin Kami mau belajar disekolah umum bukan slb.
Menurut saya: kalau mau di sekolah umum silahkan. Nggak usah bawa-bawa slb. Setahu saya nggak ada tu anak-anak slb berkomentar sebaliknya.
Pengalaman saya tuna netra selama 6 tahun bersekolah di slb nggak ada ketrampilan-keterampilan seperti yang dijelaskan di atas. Justru saya lebih mudah memahami pelajaran ketika di slb.
Pengalaman 7 tahun di pendidikan umum ada materi-materi tertentu yang tidak saya mengerti. Saya lebih banyak menjadi penonton.


Ishak SalimPenulis baca di link tulisannya Okin, penulisnya disabilitas netra, sebelumnya adalah siswi smp luar biasa yapti makassar, dan saat masuk sma dia memilih masuk smu. sekarang sudah kelas tiga. tulisan ini memberikan perspektif lain soal slb, terutama kritik atas Mas Menteri yang perlu direspon.


Tio Wagee Sastrowijoyo Kasandikromo Okin dipahami dulu alur tulisannya, itu kan si penulis cuma merespon apa yg sudah dikatakan pak menteri, jadi klo ada membawa nama SLB ya karena dalam kata2 pak menteri yg di respon itu ada membawa nama SLB, kalau mau melarang bawa nama SLB ya harusnya protesnya ke Pak Menteri, lha kalau pak menteri bahasnya SLB terus penulis responya bahas SMK nanti malah g’ nyambung 🤣.

kemudian soal anda tdk nyambung sekolah di umum, justru itu yg jadi masalah bukan kamu yg tdk nyambung, tapi sistem belajar – mengajarnya yg tdk respek pada difabel, nah… yg jadi tugas negara sekarang adalah bagaimana bisa menciptakan sistem belajar – mengajar di sekolah umum yg respek terhadap difabel khususnya difabel yg masuk klaster Mampu didik agar bisa mengikuti kuri kulum yg dibuat, sehingga nanti utk difabel tdk mampu didik alias klaster mampu latih bisa dimaksimalkan di SLB. apalagi mengingat jumlah SLB tdk sebanding dg jumlah difabel yg usia sekolah, sehingga dg mendorong difabel usia sekolah yg klaster mampu didik utk bersekolah disekolah umum ini akan menciptakan pemerataan, dan mengedukasi para siswa non difabel untuk juga mengenal difabel sejak dini, sehingga kelak jika mereka siswa non difabel tersebut sudah masuk pada kehidupan di masyarakat luas entah sebagai pejabat negara atau tokoh masyarakat atau pengusaha dan lain – lain mereka juga akan bisa berkontribusi dg baik dalam pemajuan difabel, karena mereka sudah melek tentang difabel sejak dini.


Cahyo Widodo Bersyukurlah kalian yg sekolah di SLB, bisa bertemu dengan guru2 pilihan yg bisa di sesuaikan dengan kemampuan kalian, saya dulu bersekolah di sekolahan umum, memang secara pergaulan seolah tidak ada diskriminasi, tapi secara kemampuan juga kita akan di samaratakan, kalau kita tidak bisa mengikuti yah kita gak dapat nilai, semisal kegiatan olahraga, kegiatan Pramuka dsb. Seandainya dapet nilaipun kita hanya akan di kasih nilai enam, itupun nilai belas kasihan menurut saya, enakan di SLB kita bisa lebih mengeksplor kemampuan kita masing2. Sudahlah kita jangan meminta yg belum tentu bermanfaat buat kita, cukup minta lebih di perhatikan saja dan di fasilitasi 🙏🙏 saya polio kaki kiri pekerjaan saya menjahit dan saya dapatkan ketrampilan menjahit bukan dari sekolah umum tapi dari panti rehabilitasi RC solo


Suharty Handayani Cahyo Widodo angkatan thn brp mas…sy thn 2013


Cahyo Widodo Suharty Handayani saya tahun 2006


Cahyo Widodo Kadang miris saya ,sama temen2 yg menuntut persamaan, kita itu memang berbeda apa yg mau di samakan??? Harusnya kita menuntut lebih dari yg orang normal dapet karena kita memang berbeda. saya terlahir dari keluarga miskin yg ibu saya hanya mampu menyekolahkan di sekolah umum, alhasih saya tidak mendapatkan kemampuan yg saya butuhkan


Suharty Handayani Cahyo Widodo sy jg penjahitan mas dulu…


Suharty Handayani Cahyo Widodo alhmdllah mas msh bs sekolah,setidakx walau miskin harta tp tdk miskin ilmu dan krn itulah kita jd semangat untuk trus belajar dan belajar biar gak ketinggalan dr org2 d luar sana


Ishak SalimPenulis Mas Cahyo Widodo pilihan mau belajar apa atau mau kerja apa sepanjang itu dilandasi oleh pemenuhan hak difabel ya tidak apa-apa. Tapi kalau mengalami kondisi polio semestinya tidak harus menghambat untuk aktif di kegiatan kepramukaan dan lain-lain. Masalahnya jika guru melarang berdasarkan prasangka bahwa orang polio tidak akan bisa berpramuka maka itu yang salah. Anggota komisioner PBB untuk pemenuhan Hak difabel (UN CRPD) mewakili Indonesia adalah mbak Risnawati Utami, beliau polio, lulusan s2 amerika serikat, mendirikan organsiasi difabel OHANA di jogja, dan mendatangkan ribuan kursi roda dari AS ke indonesia untuk dibagi-bagi. Mas Sunarman Sukamto juga, menggunakan kursi roda, adalah staf kantor kepresidenan, dan menjembatani banyak kebutuhan atau hak difabel melalui KSP dan jaringannya. Ada banyak contoh difabel berhasil. Termasuk Anda juga bisa dikatakan berhasil.

Tapi kembali ke topik artikel di atas, jika anak difabel memilih bersekolah di sekolah umum tapi pihak sekolah tidak mau membuat penyesuaian kemampuan belajar agar anak didik difabel mendapatkan hak yang setara dengan yang lain maka pihak sekolah (guru dan kepsek dan TU) itu keliru, itu artinya membuat difabel belajar dan berusaha lebih banyak setiap hari ketimbang siswa lain, disitu tidak setaranya. Misalnya ada guru penjaskes memberi tugas ujian ke siswa dengan meminta siswa menggambar lapangan dengan presisi yang tepat maka ujian semacam itu tidak akan setara jika diberikan ke siswa buta. apalagi memaksanya menggambar di kertas putih dengan pensil. kecuali jika gurunya memintanya mendeskripsikan panjang lapangan, lebar lapangan, dan lain-lain tanpa harus gambar dengan tangan. itu baru setara. sama juga kalau siswa berkursi roda, bukan berarti tidak bisa olah raga di lapangan, dia bisa lari dengan kursi roda, dia bisa main tenis dengan kursi roda, bisa melakukan kegiatan-kegiatan fisik. yang penting akseskan lapangannyam kurangi batu batu. juga orang buta bisa lari, sepanjang dicarikan cara agar bisa lari bersama dengan yang melihat. jangan guru berprasangka karena anak buta tidak melihat lantas kalau olah raga disuruh duduk-duduk saja.


Cahyo Widodo Ishak Salim itulah yg saya alami di sekolah umum, makanya saya bilang seolah2 tidak ada diskriminasi!!! Pada kenyataannya memang begitu. makanya saya bilang bersyukurlah kalian yg sekolah di SLB. Kalau memang sudah ada sekolah luar biasa yg sudah bisa memenuhi/ memfasilitasi kemampuan kita kenapa harus ada tuntutan lain, yg didalam tuntutan itu akan mengandung tuntutan2 lain yg sudah anda jelaskan panjang lebar sampai sayapun pusing bacanya.


Ishak SalimPenulis Cahyo Widodo hehehe… ya memang memusingkan sih mas, namanya juga mau urusi kepentingan publik. kalau mau urusi diri sendiri sih mungkin tidak sepusing urusi kepentingan banyak difabel. matur tengkiu mas.


Cahyo Widodo Ishak Salim kalau saya baca komen temen2 banyak juga kok yg lebih nyaman di SLB, lantas hak siapa yg mau anda perjuangkan?, Coba renungkan lah, lebih baik memperjuangkan hak2 lain yg sangat2 di butuhkan oleh temen2 kita semua ketimbang hal2 yg menurut saya sepele seperti ini semisal pikirkanlah teman2 kita yg belum terjangkau aksesnya oleh pemerintah baik pendidikan bansos dll. Itu akan lebih berguna ketimbang memikirkan hati kita


Sunarman Sukamto Cahyo Widodo Mas, pendapat dan pengalaman jenengan tidak ada yang salah. Itu 100% clear. Saya dari MI / SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi di umum terus. Bedanya saya tidak mau diberi dispensasi dan diberi nilai ala kadarnya. Saya ikut senam, ikut olahraga, ikut kemah Pramuka, jadi petugas upacara, bahkan ikut carnaval 17 an. Sekarang ini SLB dan sekolah umum punya kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Yang jelas SLB hanya ada di Kecamatan atau Kabupaten, itu pun tidak selalu lengkap (A, B, C, D, dst) padahal hampir di setiap desa ada Difabel. Maka pemerintah ingin semua sekolah mau menerima Difabel, lepas dari kelebihan dan kelemahan yang ada saat ini. Jadi ketika ada seorang Difabel memilih sekolah di sekolah umum, itu harus diterima dan diberikan kesetaraan. Salah satu kelebihan sekolah di sekolah umum adalah menjadikan Difabel dan non Difabel bisa saling memahami, saling menerima dan membantu, sehingga lama-kelamaan tidak akan ada diskriminasi lagi kepada Difabel karena sudah dimulai di sekolah. Semoga sukses usaha menjahitnya Mas. Salam sehat dan bahagia.. 👍👍🇮🇩


Cahyo WidodoSunarman Sukamto dari sekian banyak tulisan baru tulisan anda yg bisa saya cerna, lanjutkan perjuanganmu untuk kaum difabel, jadi difabel itu harus kuat jujur sampai detik ini saya masih minder, tapi saya coba lawan itu dengan kemampuan yg saya miliki, dan saya mencoba lebih bermanfaat di lingkungan sekitar saya.


Sunarman Sukamto Cahyo Widodo Siaap Mas. Sama-sama berjuang..🙏🇮🇩


Cahyo Widodo Sunarman Sukamto yg ini baru saya setuju


Ishak SalimPenulis Sunarman Sukamto terima kasih mas maman, pengetahuannya. Mas Cahyo Widodo Saya tidak menapikan ada difabel merasa nyaman, tapi di sisi lain saya juga menadpati banyak difabel menolak bersekolah di slb, dan di sisi lain saya juga menemani difabel memperjuangkan bisa di terima di sekolah umum setelah berkalikali ditolak dengan alasan ada slb dan orang cacat sekolah di slb (saya sengaja tidak menghaluskan kalimat itu) karena begitulah ucapan dari guru yang suka menolak anak difabel bersekolah.

Dalam kisah lain, saya juga sama teman-teman paralegal mendampingi difabel yang diperkosa di slb, dan mendengar ada anak difabel intelektual yang dipakaikan alat kontrasepsi hanya agar tidak hamil karena rentannya pelecehan seksual terjadi. Ada juga pengelola slb yang datang ke kampung-kampung cari murid agar bisa dapat tambahan murid sementara anak difabel di desa bisa punya peluang sekolah di sekolah umum dan terdekat di rumahnya. Saya mau bilang, difabel memiliki situasi dan kondisi rentan, sehingga kita perlu membuat agar kerentanan itu bisa sama-sama kita kikis.

saya juga punya beberapa teman guru slb dan kerap berdiskusi soal bagaimana agar kurikulum pengajaran slb bisa lebih baik dan bisa lebih variatif metodenya.

Ya ada banyak realitas bagaimana difabel saat ini menghadapi kehidupannya, baik dan buruk, nyaman dan runyam, dan kita mesti berupaya yang baik semakin baik dan yang buruk semakin berkurang, yang nyaman semakin bertambah dan yang runyam semakin berkurang.


Cahyo Widodo Ishak Salim semoga niat baik anda di mudahkan jalannya oleh Allah SWT.


Ishak SalimPenulis Amiiin, semoga juga mas Cahyo Widodo dan kawan-kawan di group ini berkah dan penuh Rahmat 🙏🙏🙏🙏

Dede Yusuf Disinh negara harus hadir di tengah2 masarakat agar bisa melihat dan memahami apa yang menjadi persoaalan di masarakat trmasuk kaum difabel saat ini sudah tidak jamanya lagi di kotak kotakan. Ayooo indonesia inklusi 🇮🇩💪♿♿♿♿👍🙏


Teguh Di SLB saya setiap tahun lulusan kami Di tingkat Sd dan SMP selalu merekomendasikan beberapa siswa untuk pindah jika memang sudah mampu didik mampu rawat mampu latih dan dapat melampaui kkm serta pengayaan yang diberikan dengan sempurna, atau jika ada orang tua yg memaksa anaknya untuk pindah ke sekolah umum juga kami tidak melarang, tetapi berdasarkan pengalaman kami anak tersebut yang dipaksa orang tuanya ke sekolah umum hanya bertahan paling lama satu tahun karena di sekolah umum beberapa anak tidak bisa survive dan menyesuaikan diri akhirnya kembali lagi ke SLB dan kita membangun kepercayaan diri mereka kembali dari awal dengan kondisi yang kadang malah lebih parah karena mereka mengalami pengucilan di sekolah umum. Sekali lagi harus dipikirkan matang2 dan persiapkan segalanya jngan mencobakan sesuatu kepada anak yg kita tidak tahu dasarnya.


Ishak SalimPenulis Terima kasih bagi pengalamannya Mas Teguh
Sasaran utama dari kritik sistem pendidikan segregasi adalah pada kebijakan dan pemisahan sekolah difabel dan non-difabel, khususnya memindahkan manajemen sekolah luar biasa sebagai sekolah yang dianggap dapat mendidik difabel itu bisa juga dipakai di sekolah umum; dan sasaran dari upaya terbangunnya sistem pendidikan inklusi adalah para pengelola sekolah umum agar bisa meningkatkan kemampuan sekolah dalam mengakomodasi keberagaman siswa. Terima kasih sekali lagi telah berbagi pemikiran.


TeguhIshak Salim setuju,,, mudah2an ke depan sekolah inklusi benar2 bisa menjadi pilihan untuk anak2 dengan disabilitas bersekolah,,, karena semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak, tidak boleh ada diskriminasi terhadap pelayanannya. mari kita sama sama suarakan merdeka belajar bagi anak disabilitas.

Demikian himpunan pendapat dan diskusinya, postingan ini berlangsung sejak 18 – 22 September 2020.

Jika ada yang tidak berkenan, saya mohon maaf. Niat ini hanya ingin membagi pikiran-pikiran progresif dari diskusi tersebut.

Salam Inklusi!

Pak Nadiem, Kami Mau Belajar di Sekolah Umum, bukan SLB!

Oleh Nabila May Sweetha (Penulis dan Aktivis difabel, siswi difabel netra dan masih bersekolah di SMU Makassar).

Pak Menteri, Nadiem Anwar Makarim, mengatakan, bahwa salah satu target utama Kemendikbud adalah memberikan perhatian lebih serius kepada Sekolah Luar Biasa (SLB). Hal tersebut dikatakannya saat meninjau pelaksanaan pembelajaran jarak jauh yang diselenggarakan oleh Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bantul, Yogyakarta pada Kamis 17 September 2020 (Dilansir dari Okezone).

Masih saya lansir dari Okezone, Pak Nadiem sempat berkata begini, “Walaupun SLB itu menangani anak-anak berkebutuhan khusus, tetapi pedagogi dan metodologi pembelajaran yang dilakukan di SLB bisa menjadi panutan atau sumber inspirasi pembelajaran,” Jumat (18/9/2020).

Pak Nadiem menyatakan bila pembelajaran di SLB pendekatannya lebih personal, tersegmentasi, dan tidak seragam. Sehingga pelaksanaanya disesuaikan dengan kebutuhan minat, bakat, dan kompetensi dari murid.

Sampai di sini, saya mau bertanya pada Pak Nadiem.

Apakah memang pendidikan Sekolah Luar Biasa lebih fokus pada minat dan bakat para pesertanya?

Lalu, mengapa di sekolah-sekolah itu anak-anak hanya diajar memijat, menyanyi, bermusik, dan olahraga? Di SLB difabel intelektual, misalnya. Anak-anak Down Sindrom dan Autisme biasanya diajar keterampilan kecantikan, seperti bagaimana memotong rambut dan mencuci rambut, dengan harapan kelak anak-anak bisa kerja di salon-salon selepasnya lulus sekolah luar biasa. Tapi, apa bapak pernah datang ke salon, lalu mendapati pekerja dengan difabel intelektual? Kalaupun pernah, berapa banyak jumlah mereka yang diperkerjakan di salon-salon? Sementara jumlah SLB yang mengajarkan keterampilan itu seperti menjamur di mana-mana.

Dengan segala hormat, Pak, saya mau bilang bahwa pendidikan luar biasa—yang segregatif—tidak terlalu baik untuk masa depan anak-anak difabel bangsa kita. Mereka diajarkan keterampilan-keterampilan, sementara di luar sana sekolah umum memberikan banyak sekali pengetahuan untuk murid-murid yang dianggap normal. Di Sekolah Luar Biasa, dengan pendidikan keterampilannya, anak-anak tidak bisa bercita-cita tinggi. Hanya ada beberapa pilihan profesi untuk mereka nanti, setelah mereka lulus dari SLB. Profesi yang ditawarkan pun hanya sebatas keterampilan-keterampilan yang pernah diajar saat sekolah di SLB. Sementara, di sekolah umum, anak-anak bisa bebas memilih profesinya. Ada lebih dari lima puluh profesi, atau mungkin lebih yang bisa kita pilih selepas lulus SMA umum.

Pak Menteri, guru-guru di SLB, saya tahu memang mulia hatinya. Mereka menjelma seperti ibu, ayah, dan bahkan saudara bagi anak-anak di SLB. Diperlakukannya anak-anak murid secara penuh kasih sayang, sabar, dan perhatian.

Tapi, Pak, coba tinjau kembali. Apa memang kurikulum SLB benar-benar merdeka?

Saya membayangkan teman-teman saya yang difabel dan sekolah di SLB, belajar keterampilan setiap harinya, memilih keterampilan yang telah disediakan negara.

Tapi, Pak, apa pilihan keterampilan itu cukup?

Saya pernah sekolah di SLB, Pak. Saya dilatih menjadi atlet, pemijat, penyanyi, pemusik, atau ahli komputer. Tapi, satu pun dari keterampilan itu tidak saya minati.

Apa itu membuat saya merdeka, Pak? Jawabannya tidak sama sekali.

Lalu, ada berapa banyak Nabila yang tidak merdeka dalam SLB?

Nabila-Nabila malang, yang tidak ingin menjadi pemijat, olahragawan, pemusik, penyanyi, dan atau bahkan tukang kripik, tapi hanya diajarkan keterampilan-keterampilan itu?

Bapak mau mengembangkan SLB, entah dengan cara membangun lebih banyak lagi SLB atau mengikutkan para guru-guru SLB pelatihan yang akan menambah keterampilan mereka, sementara banyak aktivis di luar sini yang mengharapkan adik-adik kami keluar dari tembok-tembok SLB.

Di SLB kami diajarkan sedikit keterampilan dan pengetahuan umum yang rendah mutunya. Coba tinjau kembali kurikulum SLB, Pak, lalu bapak akan menemukan pelajaran-pelajaran di SMPLB sama mudahnya dengan pelajaran di SD umum, atau pelajaran di SMALB sama mudah dengan pelajaran kelas satu atau dua SMP. Di sekolah umum, anak-anak diajar pengetahuan umum dengan porsi yang cukup, dan dibebaskan pula mengikuti ekstrakulikuler yang mengasah bakat dan atau minatnya.

Lalu, yang manakah yang lebih merdeka?

Pak Nadiem, Anda bilang, pendidikan khusus sangat erat dengan filosofi Merdeka Belajar. Tidak mungkin kita mencapai merdeka belajar tanpa sekolah yang inklusif.

Pendidikan inklusif, Pak, adalah ketika anak-anak bangsa yang difabel itu disatukan dengan anak-anak lainnya. Dari sana baru kita akan membentuk pendidikan yang benar-benar inklusif. Di mana semua anak, tidak peduli dia difabel atau tidak, mendapat pendidikan yang sama. Tidak peduli dia difabel atau tidak, dia akan mendapat pengetahuan yang sama cukupnya. Tidak peduli dia difabel atau tidak, dia tetap mendapat keterampilan yang sama. Sistem akan menyesuaikan dengan kebutuhan Anak dan tidak memisah-misahkan dengan alasan kondisi organ tubuh, mental dan intelektualnya.

Kenapa minat dan bakat difabel selalu tidak jauh-jauh dari musik, menyanyi, memijat, bersalon, dan olahraga?

Kenapa minat dan bakat difabel yang berskolah di SLB, di seluruh Indonesia ini seragam?

Sementara di sekolah umum, anak-anak memiliki banyak pilihan minat bakat. Karate, IT, pencak silat, musik, drama, teater, dance, panjat tebing, PMI, pramuka, basket, voli, tari, sains, English, Jepang, Taek won do, paskib, dan banyak lainnya. Selain itu, anak-anak di sekolah umum juga mendapat pengetahuan yang cukup.

Sementara di SLB?

Dulu saya berpikir bahwa SLB adalah tempat yang tepat bagi difabel, Pak. Di sana kami aman di tengah-tengah guru yang tidak memaksa kami belajar, dan senang karena kami hidup di antara orang-orang yang senasib sepenanggungan.

Selain itu, saya juga memikirkan nasib teman-teman saya yang kekurangan ekonomi, yang tidak bisa pindah sekolah ke sekolah umum yang kadang memerlukan uang agak banyak. Saya juga memikirkan nasib teman-teman saya yang tidak terlalu cepat berpikir, difabel intelektual, bagaimana mereka bisa mengikuti pelajaran di sekolah-sekolah umum?

Tapi sekarang, setelah saya merasakan kenikmatan pendidikan umum yang lebih berisi, tidak ada lain keinginan saya kecuali mengajak sebanyak mungkin teman-teman saya untuk turut melahap pengetahuan-pengetahuan di sekolah umum. Saya rasa, begitu juga yang dirasakan teman-teman yang sudah bersekolah di sekolah umum.

Banyak sekali aktivis dan lembaga-lembaga yang peduli hak difabel yang terus bersuara dan bergerak, Pak. Kami terus menyuarakan sekolah inklusi, desa inklusi, semuanya yang inklusi. Kami terus berjuang agar bagaimanapun caranya, adik-adik difabel tidak lagi diajari keterampilan yang itu itu saja.

Jadi tolong, Pak, jangan halangi usaha kami dengan cara menguatkan sistem pendidikan luar biasa. Buatlah setiap sekolah membuka pintu bagi difabel dan guru-guru menerima dengan pikiran terbuka, semangat menambah kemampuan, dan mendidik kami dengan merdeka. Inklusif dalam pendidikan adalah proses yang berjalan terus menerus. Berhentilah kalian memisah-misahkan kami bersekolah di SLB dengan prasangka-prasangka yang kalian tidak ingin membuktikan kekeliruannya[].

Foto Nabila (Paling kiri) bersama teman-temannya di di SMU N 11 Makassar
Keterangan Foto utama (Atas): Saat Nabila bersama Ketua Pertuni Pusat, Ibu Aria Idrawati.

Makassar, 19 September 2020

Kritik Atas Kripik, Krupuk dan Panti Pijat Tunanetra Yang Mengindonesia

Nabila May Sweetha (Penulis dan aktivis difabel PerDIK)

Saya awalnya tidak tahu dari mana asal ide menjadi tukang kripik atau krupuk dan tukang pijat itu berasal, sebelum mendapati kutipan berikut di sebuah skripsi, yang membuat saya tahu kenapa banyak panti pijat tunanetra di seluruh Indonesia.

“Memang andalan disini itu ya pijet mbak, selain karena tenaganya dibutuhkan, juga ya saya kira ini memang pelatihan yang sesuai untuk penerima manfaat,” ungkap pelatih dalam Balai Rehabilitasi Sosial Distrarastra Pemalang. II

“Tingginya kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan layanan pijat, yang identik dengan tunanetra ini memberikan peluang pada penyandang tunet (tunanetra). Melalui pelatihan memberikan keuntungan bagi tunet. Itu lumayan besar hasilnya mbak, sekali pijat biasanya Rp. 25.000/jam, misalnya satu hari bisa mendapat 4 pasien, dia bisa memperoleh seratus ribu. Bandingkan dengan tukang batu, dia dapet delapan puluh ribu dengan waktu 8 jam kerja”. (Wawancara dengan Bapak Adji HP, 48 tahun, Kasi rehabilitasi Penyandang Cacat, tanggal 2 Agustus 2011)

Pada kutipan di atas, Bapak Adji HP membandingkan tunanetra dengan tukang batu. Kenapa harus dibandingkan dengan tukang batu? Coba kita bandingkan dengan profesi lainnya, Finance Manager., contohnya, mendapatkan Rp 13.200.000 perbulannya. Atau Guru PNS Golongan IV, yang mendapatkan gaji Rp 2.899.500 perbulannya, belum termasuk tunjangan dan lama masa kerja. Atau notaker, yang digaji sekurang-kurangnya 500 persatu kali kegiatan berdurasi tiga sampai empat jam. Kenapa harus tukang batu?

Jadi fixnya, difabel netra banyak yang menjadi tukang pijat karena begitulah memang mereka dilatih oleh guru-guru di SLB. Kenapa coba para guru-guru di SLB ini, mengajarkan dari tahun ke tahun hanya keterampilan itu itu saja? Kenapa mereka tidak kreatif dalam memberikan keterampilan untuk murid-muridnya? Mungkin, ini kemungkinan saja, karena mereka kiranya ya orang buta bisa kerja mijat saja.

Ini kemudian membuat stigma terbentuk di masyarakat, bahwa tunanetra keahliannya hanya mijat. Ketika kemudian ada anak yang baru lahir dengan kondisi mata yang tidak melihat, orang-orang di sekelilingnya pasti langsung berpendapat bahwa kelak anak itu akan jadi tukang pijat.

skrinsut pencarian informasi tukang kerupuk netra di google

Bagaimana dengan tukang kripik? Siapa penggagas awal profesi jualan keliling untuk tunanetra itu? Yang ini saya belum tahu. Yang jelas, hampir di seluruh Indonesia orang buta kebanyakan kerjanya jualan kripik keliling. Pertanyaannya, kenapa semua harus menjual kripik?

Menurut pengamatan saya, kebanyakan orang yang beli kripik dari tunanetra yang keliling menjajahkan jualannya bukan membeli karena mau, tapi karena kasihan. Banyak juga teman-teman yang menjadikan jualan sebagai kedok dari niatnya untuk dikasihani. Biasa orang akan membeli lalu tidak mengambil kembalian, atau bahkan banyak juga yang tidak membeli tapi memberikan uang secara cuma-cuma. Bedanya sama mengemis apa?

Tukang kripik dan tukang pijat pilihan atau tuntutan?

Menjadi tukang pijat memang menguntungkan, tidak menyulitkan, dan bagus. Saya bilang bagus, karena kita memijat orang lalu dibayar, tidak makan uang hasil belas kasih. Tapi, selama masih ada pekerjaan lain, kenapa harus jadi tukang pijat? Sedangkan menjadi tukang kripik, kalau tidak terpaksa-paksa amat, kenapa memilih profesi itu? Masih banyak pekerjaan di luar sana yang bisa difabel netra tekuni, selain dari mengundang rasa kasihan dari masyarakat. Apa kita tidak malu, selamanya dicap sebagai tukang kripik, yang kelihatannya di masyarakat seperti pengemis?

Saya tahu sekali, tulisan kali ini akan mengundang amarah teman-teman. Tapi, ayolah. Saya menulis untuk menyadarkan kalian. Tidak selamanya, loh, kita harus menjalani kedua profesi itu. Masih banyak pekerjaan lain yang lebih mengangkat martabat kita sebagai difabel penglihatan. Kita Difabel netra tidak seharusnya menjalani profesi-profesi yang membuat masyarakat

luas semakin menaruh rasa kasihan pada kaum tunanetra.

Ada lagi beberapa profesi yang nyaris menjadi pekerjaan paling diminati tunanetra. Penyanyi, pemusik, dan olahragawan. Ini mungkin karena lagi-lagi, di SLB anak-anak tunanetra kebanyakan dilatih keterampilan ini. Lalu ketika ada anak buta yang bisa menyanyi, orang di sekitarnya akan kagum dengan dia, la berkata, “Kasihannya, buta tapi bisa menyanyi.”

Duh, emang orang buta tidak bisa menyanyi? Mereka menyanyi juga dengan mulut, bukan dengan mata. Pikiran bahwa difabel tidak bisa melakukan apa-apalah yang menuntun orang banyak merasa kagum jika ada tunanetra yang bisa menyanyi, mengetik, atau jalan sendiri sekalipun. Padahal, ketika masyarakat memandang difabel sebagai manusia yang sama dengan manusia lainnya, tidak akan istimewa lagi orang buta yang bisa main piano.

Sebenarnya difabel netra bisa berdaya di banyak bidang juga, bisa bekerja apapun sesuai keinginannya. Tinggal kuliah di jurusan yang diminati, lalu setelah lulus bisa kerja sesuai kemampuan. Masalahnya, masih sedikit difabel netra yang mau kuliah! Alasan mereka pun bermacam-macam. Ada karena masalah ekonomi, masalah tidak lulus pendaftaran di universitas pilihan, masalah larangan dari keluarga, sampai masalah malas. Jadi maklumlah kalau akhirnya memutuskan untuk menjadi pemijat atau tukang kripik. Tapi, sampai kapan mau begini?

Saya sesekali menulis, menjadi note taker, transkriptor dan mendapat uang. Saya bekerja dengan senang hati, bahagia, dan perasaan berguna. Bagaimana dengan kalian? Apa dengan profesi pemijat kalian merasa berharga? Apa dengan profesi pedagang kripik keliling, kalian tidak malu?`

Makassar, 16 September 2020

KOLABORASI DPO DAN KPU KOTA MAKASSAR: Difabel Memilih dengan Independen dan KPU Siapkan Akomodasi Layak dan Akses

Oleh Nur Syarif Ramadhan (Peneliti PerDIK)

Dalam kontes pemilu, setuju atau tidak, adalah kontes warga negara untuk berpolitik. Kenapa difabel penting untuk ikut serta dalam proses berpolitik? Karena politik itu mempengaruhi pikiran banyak orang. Seperti dalam pemilihan kepala daerah, dalam hal ini wali kota dan Bupati itu akan menjadi penentu bagaimana pemerintah menjalankan fungsihnya dalam satu periode mendatang.

Dosen prodi ilmu politik Universitas Teknologi Sulawesi (UTS), Ishak Salim, dalam diskusi inklusif pilkada Makassar yang diselenggarakan oleh Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) dan Komisi Pemilihan Umum kota Makassar (02-09-2020), menyampaikan bahwa, selama ini, banyak praktik pencacatan dilakukan lembaga layanan publik terhadap difabel. Ini terjadi karena banyaknya desain-desain sosial yang dibuat negara yang dibuat tidak ramah difabel.

Dalam konteks pemilihan umum misalnya, Ishak mencontohkan bahwa tidak tersedianya template bagi difabel visual/penglihatan merupakan bentuk pencacatan yang dilakukan penyelenggara pemilu karena menidakmampukan pemilih buta untuk menyalurkan haknya sebagaimana asas kepemiluan. begitupula dengan tidak tersedianya ram atau bidang miring bagi pengguna kursi roda, ataukah juru bahasa isyarat bagi Tuli.

Aspek lain dimana difabel masih belum banyak dilirik yakni hak untuk dipilih dalam pemilu. Dalam penyelenggaran pesta demokrasi yang lalu-lalu, masih sangat jarang ditemui sosok difabel yang menjadi kontestan.

“Dalam beberapa contoh kasus itu sudah lumayan tampak, di mana ada beberapa kawan difabel yang mencalonkan diri untuk menjadi anggota legislatif. Bahkan salah satu yang mendapat suara ttertinggi lalu adalah Andi Takdir, di Bone, itu mendapatkan suara yang cukup signifikan walaupun masih kalah.” Papar Ishak.

Komisioner KPU Makassar, Endang menyampaikan bahwa untuk menciptakan pemilukada yang inklusif, KPU tentu tidak bisa bekerja sendiri. dia menyatakan perlu kolaborasi antara penyelenggara pemilu beserta sejumlah organisasi difabel, mengingat beragamnya kebutuhan tiap-tiap ragam difabel yang perlu diakomodasi.

“maka dari itu, kami dalam hal ini KPU sangat terbuka dengan saran-saran ataupun masukan dari teman-teman demi terwujudnya pemilukada kota Makassar Inklusif 2020.” jelas Endang.

Sementara itu, Direktur Lembaga Bantuan Hukum yang baru, Haidir, yang juga turut serta dalam diskusi tersebet, yang lembaganya mempunyai pengalaman dalam melakukan pengawasan pemilukada, berharap agar baik pelaksana pemilu maupun organisasi difabel, dapat aktif saling mengingatkan apabila ada temuan-temuan yang didapatkan selama proses pemilukada ini berlangsung.

“Sangat baik sebenarnya jika ada difabel yang bisa ikut partisipasi baik itu dalam rekrutmen panitia pelaksana pemilu, dan KPU harus mengakomodasi itu.” jelas Haidir.

Dari organisasi Gerakan Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin Sulawesi Selatan), Ramla mengungkapkan kalau dia siap membantu KPU khususnya dalam mengakomodasi hak Tuli dalam pemilu. Kelompok Tuli merupakan salah satu komunitas yang termasuk sulit memperoleh kepemiluan yang aksesibel. Maka dari itu, mereka siap dihubungi apabila misalnya KPU butuh bantuan dalam hal juru bahasa isyarat.

Rahman Gusdur dari PerDIK menyampaikan kalau PerDIK akan selalu memantau proses pilkada kota Makassar 2020, dan akan selalu menyuarakan jika dalam prosesnya nanti, terdapat banyak pelanggaran yang menghambat partisipasi pemilih difabel saat akan menyalurkan hak pilihnya. Rahman menyampaikan bahwa diskusi hari itu telah memberikan masukan yang kaya bagi penyelenggara pemilu, tinggal sekarang apakah KPU mau menjalankannya atau tidak[*]

Tak Peduli Difabel atau tidak, Semua Remaja Perempuan, Rentan Mendapat Pelecehan Seksual

Oleh: Nabila May Sweetha

*Tulisan ini juara pertama lomba Remaja Menulis Seks dan Seksualitas yang diadakan oleh LETSS Talk dan PerDIK

Saya remaja buta (17 tahun) yang sampai sekarang masih gagap masalah pendidikan seks. Sejak kecil saya tumbuh di Pangkep, salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan, di mana seks di sini dipandang sebagai hal tabu dan terlarang bagi anak-anak. Karena hal ini, lebih dari dua kali saya pernah mendapat pelecehan seksual tanpa saya sadari.

Yang pertama terjadi di atas mobil bapak, Mei 2011. Pelaku adalah lelaki dewasa yang merupakan pegawai bapak. Kala itu bapak sedang turun untuk memesan tempat tidur baru sebagai hadiah ulang tahun saya, dan beliau meninggalkan saya hanya berdua dengan pegawai yang dia percayai di atas mobilnya.

Saya masih delapan tahun, lelaki itu memegang kemaluan saya dari luar celana. Masih jelas sekali di ingatan, malam itu saya hanya menggigit bibir keras-keras sambil berharap bapak cepat kembali ke mobil. Kaca mobil terbuka, tangan lelaki itu mengelus kelamin saya, dan saya berharap kain celana cukup tebal sebagai pelindung dari tangannya yang jahat.

Kejadian kedua terjadi di rumah tetangga setahun kemudian. Seorang anak laki-laki memeluk saya, lalu mencium mulut saya dengan menekankan wajahnya cukup keras. Saya kesakitan, mencakar anak itu, meronta-ronta dan membebaskan diri. Berlari pulang, saya menangis terisak sambil mencakar wajah.

Setelah kejadian itu, selama satu minggu saya menjauhi teman-teman sepermainan. Saya ingat ada tiga orang teman (perempuan) seusia saya yang menyaksikan kejadian itu, malah ikut menyemangati Sang Pelaku untuk memeluk saya lebih erat lagi. Kalau tak salah, waktu itu saya masih sembilan tahun.

Mirisnya adalah mengapa teman-teman saya malah senang melihat saya dilecehkan. Dipeluk, dicium begitu hina. Saat menuliskan ini, saya baru memikirkan alasan mereka berlaku demikian.

Mungkin karena kami masih kanak-kanak dan belum tahu bahwa itu adalah perlakuan yang jahat. Ada banyak pelecehan yang saya dapatkan semasa kecil. Mungkin karena saya adalah anak yang riang, lucu, dan menarik perhatian. Atau bisa juga hanya karena memang para pelaku adalah orang-orang yang jahat.

Mendapat pelecehan-pelecehan seperti itu, saya tidak berpikir untuk mengadu ke orang tua. Yang pertama adalah karena saya malu, malu sekali. Yang kedua adalah karena saya tidak tahu bahwa tindakan yang saya terima adalah hal yang salah dan bisa diadukan ke pihak yang berwajib.

Dampak dari semua pelecehan itu adalah saya menjadi anak yang negative thinking, tidak percaya diri, susah akrab dengan orang-orang baru, penakut, menggigil jika berdekatan dengan lelaki asing, dan selalu curiga. Bayangkan, sejak kecil sampai sebesar ini saya kerap mendapat pelecehan. Saya menyimpannya sendiri, malu harus mengadu, ketakutan dan sendiri. Saya selalu berpikir bahwa pelecehan itu tabu, memalukan, dan tidak pantas untuk dibuka ke orang banyak. Jadi saya menutup rahasia-rahasia pelecehan itu sendirian dan menahan trauma berkepanjangan.

Sejak menjadi orang buta di usia 14 tahun dan berinteraksi dengan remaja buta lain di Sekolah Luar Biasa, saya kerap memperhatikan teman-teman difabel lain; Respon mereka terhadap seks, cara mereka mengelola nafsu dan sebagainya. Dulu saya berpikir bahwa difabel intelektual memiliki nafsu yang besar, meluap-luap, dan tidak terkendali. Tetapi, setelah bertanya dan belajar, akhirnya saya tahu bahwa nafsu yang dimiliki difabel intelektual dan semua orang itu sama saja. Bedanya hanya karena mereka tidak diajarkan cara mengendalikan perasaan-perasaan itu, dan tidak mengerti etika-etika menahan hasrat.

Hanya itu, tapi baru sedikit yang mengerti. Guru-guru SLB, penulis-penulis buku, dan kebanyakan orang di muka bumi ini menggambarkan difabel intelektual sebagai manusia yang memiliki nafsu yang tinggi dan sebagainya. Penggambaran yang keliru dan jahat sekali, kan? Dan sebelum belajar, saya juga berpendapat begitu.

Saat SMA, saya mendapati bahwa banyak sekali teman-teman perempuan saya yang haus ingin tahu lebih banyak tentang seks. Di banyak kesempatan teman-teman akan berkerumun, duduk rapi, lalu ssaling tanya jawab seputar film biru yang pernah mereka simak. Mengerikan sekali mendengar mereka bercerita tentang keinginan mereka melakukan ini itu, menonton film anu, apalagi membahas pengalaman bersama kekasih masing-masing. Saya tahu bahwa itu salah, tapi saya tidak sampai pikir mengapa mereka sampai menjadi begitu gemar menonton film biru. apakah karena pergaulan? Atau karena latar belakang masa lalu masing-masing? entahlah…

Saya juga tidak mengerti. Dan karena saya tumbuh di masyarakat yang menganggap seks sebagai hal tabu, saya menjadi malu untuk bertanya ataupun berdiskusi masalah ini pada orang lain. Biasa saya mencuri dengar saja, atau paling sering saya akan mencari bahan bacaan yang membahas perihal seks di internet dan mengapa kebanyakan remaja begitu menggemari film biru.

Bukan hanya teman-teman di SMA saja yang suka membahas seks dari sisi yang negatif. Saya pernah sekolah selama satu tahun di SMP Luar Biasa, dan menjadi tahu bagaimana remaja buta secara luas memandang dunia seks. Saya kemudian menyaksikan bahwa ada kelompok remaja buta lelaki di asrama khusus difabel visual tempat saya menimba ilmu selama setahun itu, yang berimajinasi jorok hanya karena suara lembut perempuan. apakah itu berlaku umumm? saya kira perlu penelitian khusus untuk tahu jawabannya.

Ini penting sekali juga untuk diketahui khalayak umum. Difabel biasanya dipandang sebagai manusia baik, tak berdaya, suci, dan agamis. Kenyataannya tidak seperti itu. Dalam faktanya, difabel adalah manusia biasa. Manusia seperti orang-orang kebanyakan. Ada yang baik, ada yang jahat, ada yang licik, ada pula yang picik. Intinya bermacam-macam tabiatnya seperti orang pada umumnya.

Saya pernah mendengar pengalaman salah satu kawan difabel netra (perempuan) yang saat ia mandi, ternyata ada laki-laki (difabel low vision) yang ikut masuk ke kamar mandi dan melihat dia mandi. Kejadian ini terjadi di salah satu asrama khusus difabel kisaran beberapa tahun yang lampau. Ada juga difabel netra yang berpacaran dengan sesamanya hanya untuk meluapkan nafsu, menggerayangi teman perempuannya, lalu pergi begitu saja. Ya, fakta di lapangan memang sekotor itu.

Saya tidak hendak menjelek-jelekan image difabel. Tetapi, begitulah kenyataan yang harus kita ketahui agar lebih peduli lagi terhadap nasib perempuan-perempuan difabel.

Seharusnya sekolah luar biasa menjadi tempat yang sangat tepat untuk memberi pendidikan seks bagi difabel. Karena difabel itu rentan, apalagi difabel perempuan. Mereka bisa saja pernah mendapat perlakuan buruk dari lelaki-lelaki di sekitarnya (baik itu yang difabel maupun bukan difabel), tetapi tidak tahu bahwa itu adalah hal yang salah. Saya contohnya, saya bahkan baru dua tahun belakangan mendapat banyak pengetahuan mengenai ini. Dulu-dulu saya santai saja melihat teman-teman perempuan saya berpacaran, pelukan, ciuman dan lain-lain. Sekarang baru saya pahami bahwa melakukan seks bersama pacar, jika tidak dihendaki oleh salah satu pihak adalah hal yang bisa dipidanakan. Dulu mana saya tahu? Saya masih remaja, memandang dunia begitu polos.

Di dalam tulisan ini, saya sudah menuangkan sedikit kisah pelecehan yang pernah saya dapatkan. Ini langkah yang cukup besar, karena biasanya saya selalu menutupi kisah-kisah ini secara rapat. Bahkan kepada bapak dan mamak sekalipun, saya tidak pernah menceritakannya. Semua dampak dari pelecehan itu saya tanggung sendirian.

Di masa sekarang, banyak sekali orang-orang yang mempermasalahkan mengapa saya tidak berani keluar rumah sendiri.

“Kan, banyak juga difabel netra perempuan yang bisa ke mana-mana sendirian. Kenapa kamu, Lala yang katanya mau memperjuangkan hak difabel perempuan malah tidak berani keluar rumah sendiri?” begitu biasa orang menuding saya.

Tak ada yang saya lakukan kecuali menunduk, lalu menyumpah-nyumpah dalam hati. Ya menyumpahi diri sendiri yang terlalu takut, menyumpahi pelaku-pelaku yang membuat saya terbentuk menjadi pribadi serapuh ini.

Banyak memang orang yang meremehkan, mengucilkan, memarahi, bahkan menghina karena saya tidak bisa mandiri. Mereka tidak merasa perlu bertanya mengapa saya takut, mengapa saya tidak mandiri, mengapa saya tidak berani ke mana-mana sendirian. Mereka tidak pernah berpikir, bagaimana jika mereka yang ada di posisi saya? Takut, merasa sendiri, tidak percaya pada laki-laki, dan ditekan trauma.

Saya takut mengenal laki-laki, takut berada hanya berdua bersama laki-laki, takut bepergian bersama laki-laki. Saya selalu berusaha sekeras mungkin untuk mengabaikan trauma-trauma, dan biasanya berhasil. Saya bisa terlihat baik-baik saja di depan banyak orang. Tapi aslinya, di dalam hati saya tersiksa.

di usia tujuh belas tahun ini, saya sudah mulai mencoba dekat dengan laki-laki. untung saja saya dekat dengan orang yang sudah dewasa dan bisa mengerti semua trauma itu. Memang masalah sekali karena saya biasa risih berdekatan dengan dia, biasa curiga berlebihan. Tapi, toh semakin lama saya kian percaya dengannya, dan mulai tenang karena yakin dia tidak akan berbuat macam-macam.

Saya mulai belajar banyak perihal dunia seks dimulai saat saya mengikuti update berita perkembangan hukum yang berjalan ,untuk kasus pelecehan seksual yang dialami seorang   Tuli yang didampingi oleh paralegal PerDIK pada awal 2019. Saya lalu bertanya-tanya sendiri, apakah yang saya alami selama ini adalah salah satu bentuk pelecehan? Diam-diam saya mencari buku-buku, membaca, lalu tahu sedikit demi sedikit. Tidak ingin ketahuan siapapun, tidak mau diperhatikan siapapun, kemudian saya giat belajar perkara topik yang sensitif ini. Saya mulai tahu mengapa selama ini saya selalu curiga berlebihan, selalu takut pada laki-laki, selalu benci mendengar teman-teman cowok saya membahas buku seks yang mereka gemari. Dan saya juga mulai peduli pada korban-korban pelecehan, mulai membagikan bahan bacaan ke teman-teman sekitar agar mereka mendapat pengetahuan tentang seks yang cukup.

Di sekolah, baik itu sekolah umum atau sekolah luar biasa, saya belum pernah mendapat pendidikan seks yang cukup. Di rumah juga begitu, pendidikan seks  adalah hal yang sangat tidak terjangkau. Saya menjadi kesulitan mencari jalan keluar dari permasalahan yang saya miliki. Saya mau tahu bagaimana membuat semua trauma hilang, bagaimana membuat saya berani ke mana-mana sendiri, bagaimana membuat saya bisa tidak takut pada laki-laki. Di sisi lain, orang-orang yang menjunjung kemandirian terus mendesak saya untuk keluar dan berani. Saya mau, mereka mau, tapi ada bagian dari alam bawah sadar saya yang terus menjerit tidak mau.

Satu-satunya manfaat yang saya dapatkan dari semua trauma dan desakan orang yang menyuruh saya untuk mandiri adalah pengertian. Ya, saya menjadi tidak mudah menghakimi orang lain yang tidak bisa mandiri. Saya menjadi mengerti bahwa mungkin saja mereka memiliki trauma, mungkin saja mereka pernah mendapat perlakuan buruk dari lingkungannya. Karena semua orang ingin mandiri, semua orang ingin bisa melakukan apa-apa tanpa merepotkan orang lain. Tapi, tidak semua orang memperoleh masa kecil yang baik, tanpa pernah mengalami pelecehan seksual.[*]

Makassar, 11 Agustus 2020

Foto pemenang lomba menulis, Nabila berkacamata.

Yess, Aku Remaja dan Menjalani Masa Pubertas Dengan Gembira!

Oleh: Alyaa Khofifah Putri Hardana[1]

Halo semua, namaku Alyaa Khofifah Putri Hardana, siswa kelas 9 di salah satu SMPN di Bandar Lampung.

Awalnya aku merasa  malu menuliskan  pengalamanku ketika memasuki  masa Pubertas.  Tapi aku pikir tidak ada salahnya berbagi pengalamanku kepada kalian, agar teman-teman tidak khawatir dan siap  menghadapi masa pubertas dengan gembira.

Sama seperti aku, pasti kamu sering dengar ketika orang tua kita atau sekeliling kita berkata,

“maklumin ajalah namanya juga lagi puber!” atau

“kalau lagi puber memang gitu, pada genit-genitan sama kawannya,” atau

“Kalau lagi puber memang suka pada ngelawan nih anak-anak!”

Aduhh, kesel gak sih dengernya. Pasti gak cuma aku, kamu juga pernah ngalamin diomongin atau dengar perkataan seperti ini. Meski sering kita dengar,tapi gak banyak loh remaja seperti kita tahu artinya puber.

Puber itu berasal dari kata latin Pubescere berarti mendapat pubes atau rambut kemaluan yaitu suatu tanda kelamin sekunder yang menunjukkan perkembangan seksual[1]. Nah sedangkan Pubertas adalah periode kehidupan di mana terjadi kematangan organ seks untuk siap melakukan fungsi-fungsi reproduksi[2]. Pubertas adalah masa peralihan yang akan dialami oleh anak-anak baik anak perempuan maupun anak laki-laki untuk menjadi dewasa secara seksual.

Setiap anak akan mengalami masa pubertasnya di usia berbeda-beda. Beberapa dari kita memasuki masa pubertas lebih awal dan beberapa belum memasuki masa pubertasnya. Ada yang puber saat kelas 1 SMA, ada yang kelas 2 SMP, dan bahkan ada juga loh yang mulai  puber saat kelas 3 SD. Meski kamu tidak mengalami pubertas berbarengan dengan temanmu, tenang saja, gak usah panik ,kamu gak salah dan gak ada yang aneh dengan dirimu kok.

Ketika memasuki masa pubertas, banyak sekali perubahan yang terjadi pada diri kita, baik perubahan fisik, emosi dan sosial. Perubahan fisik yang terjadi pada anak laki-laki dan perempuan berbeda. Karena aku perempuan, aku akan cerita perubahan-perubahan yang terjadi pada anak perempuan ya.

Awalnya, pada saat aku kelas 4 SD atau  sekitar umur 9 tahun, aku sempat merasa gatal dan nyeri di bagian payudaraku, aku juga mulai merasa kalau payudaraku mulai membesar. Nah karena aku merasa aneh, aku merasa harus bilang ke ina (ibuku) tentang perubahan yang terjadi. Ina bilang aku sudah mulai masuk ke tahap masa sebelum pubertas atau awal pubertas, salah satu tandanya adalah membesarnya payudara pada anak perempuan. Bahkan kalau besarnya payudara di kiri dan kanan tidak sama, itu juga bukan sesuatu yang aneh, tapi kita harus waspada kalau ada benjolan di payudara kita. Kita harus segera memeriksakan diri ke dokter.

Selain itu, Ina juga bilang kalau aku sudah harus mulai pakai miniset (bra remaja) agar pertumbuhan payudaraku bisa tambah baik. Ih, aku mulai membayangkan kalau pakai miniset pasti gak nyaman dan panas. Tapi, karena baik untuk pertumbuhan payudaraku, maka mau gak mau aku mulai terbiasa memakainya. Dan ternyata, menggunakan miniset malah membuatku makin nyaman untuk mengikuti kegiatan di sekolah seperti aktif main basket dan berolahraga lainnya, jadi aku gak malu lagi untuk bergerak karena takut bakal “ngecap” payudaranya di baju dan membuatku gak nyaman.

Tanda pubertas lainnya yang aku alami adalah mulai tumbuh rambut di daerah kemaluan dan ketiak. Itu terjadi sekitar kelas 5 SD, aku merasa risih, seperti ada yang menusuk-nusuk di ketiak dan di celana, aku juga ngerasa keringatku jadi berlebihan dan kalau gak segera mandi, badan akan jadi bau.

Aku tanya ke Ina, lagi-lagi katanya itu normal. Aku lalu diajarin cara mencukur rambut kemaluan dan ketiak, dan ina berpesan agar aku mulai lebih peduli terhadap kebersihan tubuhku, Harus lebih sering mandi, paling tidak dua kali sehari setelah berkegiatan dan sering mengganti baju yang sudah kotor serta menggunakan deodorant jika memang keringat kita sangat berlebih dan bau. Tapi jangan salah pilih deodorant ya kawan-kawan. Ada deodorant yang jka bercampur dengan keringat kita, malah membuat badan jadi tambah bau.

Lanjut yaa, ketika naik kelas 6 SD, sekitar usia 11 tahun, Pagi harinya sebelum dapat menstruasi pertama, aku merasa sakit perut dan pinggang. Aku pikir itu sakit biasa saja, tapi  pulang sekolah, pas  mau mandi, aku ngeliat ada darah di celana dalam. Aku ngerasa panik dan bingung karena takut  vaginaku sakit atau luka. Meski  Ina sudah sering kasih informasi soal menstruasi, tetapi pas beneran terjadi  aku tetap panik dan khawatir loh.

Aku jadi membayangkan apa yang akan terjadi dengan kawan-kawan lain di luar sana yang sama sekali tidak mendapatkan informasi soal ini, pasti mereka juga sangat takut sekali bahkan ada yang panik hingga menangis dan takut  jadi hamil.

Temanku pernah cerita pas dia dapat menstruasi pertama, dia nangis ,bingung kenapa ada darah di celananya. Bahkan karena takut dimarahi dan gak mau cerita sama orang tuanya, esoknya dia gak pergi sekolah. Aduhh sedih yaa.

Balik lagi ke cerita menstruasiku, waktu itu Inaku sedang ada kegiatan di Srilanka, jadi aku cerita ke nenek. Kemudian nenek membelikanku pembalut dan ngasih tau cara pakainya. Padahal aku sudah tau sih cara pakai pembalut itu gimana, tapi tetap saja ketika diulang cara pakainya oleh nenek dan didampingi menggunakannya untuk pertama kali, aku jadi lebih paham dan gak deg-degan lagi.

Malamnya ketika Ina telpon, aku cerita ke Ina kalau aku sudah menstruasi. Ina kasih selamat dong ke aku, Ina bilang bahwa aku sudah resmi jadi remaja dan ada di masa pubertas yang ditandai dengan kematangan organ seksualku yaitu menstruasi.

Disemangati begitu ,aku jadi senang tapi juga mulai khawatir ketika Ina juga bilang bahwa ada tanggung jawab lebih yang harus aku lakukan ketika sudah menstruasi. Menstruasi merupakan peristiwa sangat penting dalam kehidupan seorang remaja perempuan. Ketika seorang remaja perempuan sudah menstruasi, mereka harus lebih memperhatikan kesehatan menstruasinya.

Tapi kebanyakan, karena ketidaktauan remaja perempuan tentang menstruasi dan apa yang harus dilakukan dan dipersiapkan untuk menghadapinya, kesehatan dan kebersihan terkait menstruasi sering diabaikan. Belum lagi banyak mitos-mitos terkait menstruasi yang tidak benar tapi diyakini oleh perempuan secara turun menurun, membuat menstruasi menjadi sesuatu yang menakutkan, kotor, jorok dan menurunkan tingkat kehadiran anak perempuan di sekolah[3]. Padahal kesehatan dan kebersihan ketika menstruasi merupakan bagian penting dari kesehatan reproduksi seorang perempuan[4] karena jika tidak ditangani dengan benar, remaja perempuan akan mengalami risiko kesehatan terkait organ reproduksinya. Gatal-gatal, iritasi bahkan infeksi di vagina karena tidak menjaga kebersihan pada saat menstruasi akan mempengaruhi fungsi reproduksi kita nantinya.

Satu lagi ketika anak perempuan sudah menstruasi ,ia juga sudah dimungkinkan untuk hamil, makanya selain menjaga kebersihan, kita harus mulai juga memperhatikan keamanan diri kita agar terhindar dari risiko kehamilan tidak diinginkan akibat perilaku seks bebas ataupun kekerasan seksual.

Selain tiga hal di atas, aku juga sudah mulai berjerawat loh. Di masa pubertas produksi kelenjar minyak meningkat, kadang suka diketawain dan dibercandain sama teman-teman. Kalian tau gak sih kalau itu termasuk perilaku bullying verbal (ungkapan perundungan, red)?

Bullying verbal adalah ucapan-ucapan yang dilontarkan oleh pelaku bullying yang bisa merendahkan harkat dan martabat korbannya. Meskipun mungkin maksudnya becandaan, tapi kan kita gak tau apa yang korban bullying rasakan.  Jadi terkadang bawaannya minder kalau pas lagi jerawatan, tapi kita harus membentuk citra diri yang positif ya teman-teman, jangan jadikan kekurangan yang kita miliki itu membuat kita rendah diri dan merasa tidak berharga. Pede aja. Kalau ada yang ngata-ngatain jangan didengerin, biarin aja. Kita harus mencintai diri kita apapun bentuknya, kita harus mampu berdiri untuk diri kita sendiri.

Speak Up, jangan mau jadi korban bullying!

Anak laki-laki maupun anak perempuan sama-sama mengalami perubahan emosi ketika kita ada di masa pubertas. Pernah gak sih ketika kamu lagi merasa senang, lalu sesaat kemudian kamu merasa sedih?  Atau kamu jadi suka banget marah-marah tanpa alasan yang jelas? itu namanya moodswing. Moodswing itu maksudnya perubahan emosi secara cepat. Remaja seperti kita mengalami perubahan emosi yang tidak stabil dan penuh gejolak. Menurut ahli, mood swings ini terjadi karena remaja sedang mengalami kematangan hormon dalam tubuhnya. Selebihnya menurutku, stress yang dialami remaja juga sebagai akibat dari perubahan-perubahan fisik yang terjadi begitu cepat dan luas pada tubuh kita tanpa dibarengi pengetahuan yang lengkap dan benar tentang perubahan yang terjadi.

Nah ini juga yang  membuat perubahan mood kita terjadi lebih sering. Pada masa remaja, kita sudah mulai dituntut untuk matang secara emosional oleh orang tua dan orang dewasa lainnya yang bisa membuat kita jadi  remaja pemberontak di rumah. Emosi yang bergejolak itu kalau tidak dikelola dengan baik, bisa membuat kita terlibat perkelahian, ataupun perbuatan-perbuatan yang berdampak buruk tidak saja bagi kita tapi juga bagi keluarga dan masyarakat.

Terakhir adalah  perubahan yang terkait dengan hubungan sosial. Ketika kita mulai berada di masa pubertas kamu akan mulai tertarik dengan lawan jenis. Pasti kalian pernah denger temen kalian atau malah kalian sendiri yang bilang,

”Eh liat deh kakak itu ganteng banget ya.” Atau,

“kok si A baik banget sih sama aku, duh jadi baper nih.”  

Pokoknya kalo kamu mulai tertarik dengan lawan jenis, selamat! Itu artinya kamu sedang puber. Sebagai remaja kita harus bersiap membangun hubungan dengan lawan jenis.

Selain itu kita juga bakal  mulai memilih berteman secara berkelompok. Kita bakal mulai pilih-pilih mana yang sekiranya satu sifat atau hobi sama kita, dan mulai bergaul dengan kelompok tersebut. Kita akan sangat membutuhkan teman sebaya untuk bersama-sama mengenal dunia di luar selain keluarga. Tapi kalau kita tidak hati-hati, dalam bergaul, remaja  sering  mengalami  tekanan untuk  mengikuti teman sebayanya  atau yang sering disebut para ahli sebagai konformitas (conformity) yang sangat kuat.

Konformitas  muncul  ketika individu meniru sikap, atau tingkah laku orang lain dikarenakan ada tekanan dari kelompoknya. Konformitas ini sendiri ada yang positif dan negatif . Kebanyakan remaja merasa “tidak enak” atau “tidak gaul”, kalau tidak berperilaku sama dengan teman-teman di kelompoknya sehingga mereka ikut-ikutan berperilaku menyimpang seperti berbuat onar, nonton film porno bersama, dan  lain-lain.  Jika kalian diajak melakukan hal yang akan berakibat buruk, kalian harus berani berkata “TIDAK” dengan tegas dan lantang.

Nah, biar kita tetap gembira menghadapi masa pubertas, simak yukk tips dariku bagaimana menghadapi masa pubertas dengan gembira. Tips ini aku buat berdasarkan pengalamanku loh hehehe.

Pertama, cobalah untuk terbuka dengan orang tuamu. Meski banyak orang tua merasa tabu, malu dan tidak penting membicarakan seks dan seksualitas dengan anak-anaknya, kamu tetap perlu bersikap terbuka pada orang tuamu. Cobalah membicarakan tentang perubahan yang terjadi pada dirimu selama masa pubertas ini. Yakinkan mereka bahwa kamu butuh informasi tentang apa yang terjadi dengan dirimu terkait masa pubertas. Bilang pada mereka, kalau kamu butuh didampingi untuk melalui masa pubertas ini dengan gembira.

Aku bersyukur memiliki orangtua yang terbuka dan tidak malu untuk membicarakan hal-hal seputar pubertas kepadaku dan adik-adikku. Kedua orangtuaku memberikan informasi yang cukup dan jelas sehingga aku tidak perlu mencari informasinya sendiri lewat internet atau bertanya kepada teman. Belum tentu informasi yang aku dapat dari internet atau teman itu benar dan bisa dipertanggungjawabkan.

Kedua, kenali perubahan-perubahan yang terjadi pada dirimu. Aku sudah menuliskan perubahan-perubahan yang terjadi padaku saat pubertas. Nah aku harap kalian juga dapat mengenali perubahan-perubahan tersebut sehingga kalian tidak bingung dan kaget. Ingat ya, semua perubahan yang akan terjadi, dari segi fisik, emosi, dan sosial itu normal. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Untuk remaja perempuan sepertiku, menjaga kebersihan ketika menstruasi sangat penting ya teman-teman, dan mulailah untuk menjaga keamanan diri kita dari kekerasan seksual dengan tau bagian-bagian dari tubuh kita yang tidak boleh diperlihatkan dan disentuh oleh orang lain seperti mulut, payudara, vagina dan anus dan berlatih waspada jika berada dalam situasi yang membuat kita tidak nyaman dan tidak aman.

Ketiga, pilih lingkup pertemanan yang baik dan positif. Orang tuaku pesan untuk berteman dengan siapapun, mau itu teman yang terkenal “nakal” di sekolah, teman yang keluarganya kurang beruntung serta teman yang memiliki kebutuhan khusus, kita harus menghargai mereka, tapi untuk menjadi teman dekat, aku ingin menegaskan kembali bahwa penting buat remaja seperti kita  untuk memilih teman-teman baik yang mau bersama kita melakukan banyak kegiatan positif dan menyenangkan.

Keempat, mulailah untuk BISA bilang TIDAK untuk sesuatu yang kamu tidak sukai ataupun tidak mau kamu lakukan. Jangan takut untuk dianggap gak keren, gak gaul, gak kompak karena berani bilang TIDAK ketika kawanmu ngajak membolos. Jangan takut untuk bilang TIDAK ketika diajak untuk nonton film porno. Jangan malu untuk bilang TIDAK  ketika kawanmu ngajak merokok, dan lain-lain.

Nah aku sudah berbagi pengetahuan, pengalaman dan tips untuk menghadapi masa pubertas dengan gembira. Aku yakin kamu juga pasti punya cara sendiri untuk menjalani masa remajamu tapi dengan sedikit tips dariku, aku berharap kita semua gembira menjalani masa pubertas ini[].

Daftar Pustaka

  1. Panuji & Umami, 1999.  Psikologi Remaja. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
  2. C.P Chaplin (Penerjemah Dr.Kartini Kartono). 1993. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Rajawali Pers
  3. Ernawati Sinaga ,dkk. Management Kesehatan Reproduksi,Universitas Nasional
  4. UNICEF,2015 , Penelitian management kesehatan reproduksi remaja,

[1] Penulis adalah pemenang pertama lomba menulis tingkat remaja SMP yang diadakan oleh Lets Talk dan Yayasan PerDIK, pada Agustus 2020. Penulis berasal dari daerah Lampung.

Difabel dan Pendidikan Seks dan Seksualitas: Menolak Feminisme yang Ekslusif

Oleh Farid Muttaqin, Tim Letss Talk

Itulah tema talkshow seri #3 yang diadakan LETSS Talk, sebuah tema sangat penting untuk menguatkan interseksionalitas antara isu difabel dan isu-isu dalam feminisme, yang masih sangat jarang disentuh. Kami melihat, selama ini, feminisme kita di Indonesia masih sangat jarang melakukan “kontak” baik secara akademik maupun aktivisme dengan isu-isu difabel dan para aktivis hak difabel.

Apakah, dengan demikian, feminisme kita masih menjadi feminisme yang eksklusif saat berhadapan dengan isu-isu difabel, dengan hak para difabel? Tentu tidak 100% eksklusif. Waktu saya pribadi aktif di PUAN Amal Hayati, kami sempat punya pengalaman melakukan kerja aktivisme yang menyentuh “kebutuhan khusus” para difabel, kami pernah bekerja sama dengan, misalnya, kalau tidak salah, Himpunan Wanita Penyandang Cacat Indonesia —demikian waktu itu sebutannya. Dan, periode terakhir komisioner Komnas Perempuan, kita telah memiliki seorang komisioner aktivis hak-hak difabel –Cak Fu, yang akan menjadi salah satu pemantik diskusi dalam talkshow ini. Jadi, memang feminisme kita tidak sepenuhnya eksklusif saat berhadapan dengan isu-isu difabel atau difabilitas.

Namun, pertanyaan di atas tetaplah sangat perlu dan penting menjadi pertanyaan kritis sekaligus pertanyaan reflektif dengan tujuan mulai membuka kran interseksi yang lebih kuat antara gerakan feminisme dengan gerakan hak-hak difabel, baik, sekali lagi, dari segi scholarship maupun akativisme. Kita ingin, interseksionalitas itu tidak hanya kasuistik, namun dibangun di atas fondasi scholarship yang kuat dan dalam tentang kompleksitas persoalan khusus ketidakadilan gender dan seksualitas yang dihadapi para difabel. Sejauhmana kondisi sebagai difabel berdampak pada ketidakadilan gender dan seksualitas berlipat? Bagaimana feminisme berkontribusi pada gerakan anti-ketidakadilan gender dan opresi seksualitas yang dialami secara khusus para difabel? Perlukah semacam framework “difabel feminism” –semacam Black feminism atau Chicana feminism, Indegenous feminism, Third-wrold feminism, atau Islamic feminism– dengan epistemologi dan gerakan politiknya sendiri? Tentu, itu sekedar beberapa contoh pertanyaan “rumit” untuk menguatkan fondasi scholarship yang kokoh.

Sebelum itu, kita bisa memulai upaya ini dengan mendiskusikan beberapa “persoalan” yang selama ini kita alami, pengalaman yang memediasi “persentuhan” atau “persinggungan” (intersectionality) antara difabel dan feminisme. Nah, kita ingin memulainya dengan talkshow yang khusus mengangkat tema ini “Difabel dan Pendidikan Seks dan Seksualitas.”

Beberapa waktu lalu, LETSS Talk bekerjasama dengan PerDIK (Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan) mengadakan lomba menulis “Remaja dan Pendidikan Seks dan Seksualitas,” sebuah kegiatan inklusif yang terbuka baik bagi non-difabel maupun bagi difabel. Di antara pesertanya, dan lalu menjadi salah satu pemenang, adalah seorang Difabel Netra. Tulisan remaja difabel yang duduk di SMU ini bagi saya pribadi, membuka, salah satu persoalan serius terkait ketidakadilan gender dan kekerasan seksual. Dalam tulisannya itu, “Bel,” mengungkap pengalamannya menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual; menurutnya, ini pengalaman tersebut merupakan tragedi hidupnya, pertama, dia menyadari kerentanan yang sangat besar sebagai difabel perempuan dari berbagai tindakan kekerasan seksual, dan, kedua, yang lebih tragis, betapa sulitnya bagi seorang difabel korban kekerasan seperti dirinya untuk mendapatkan perlindungan dan apalagi akses yang berkeadilan terhadap berbagai layanan pendampingan korban kekerasan, baik psikologi, sosial, atau hukum. “Bel” sendiri mengakui, caranya merespon pengalaman kekerasan itu sangat dipengaruhi oleh terbatasnya pengetahuannya tentang seks dan seksualitas, tentang kekerasan seksual, karena memang akses terhadap pendidikan seks dan seksuliats baginya sangatlah minim. Siapakah yang seharusnya bertanggungjawab memenuhi hak dan kebutuhan para difabel seperti “Bel” agar terbebas dari segala bentuk kekerasan seksual dan keadilan gender? Seberapa besarkah porsi yang menjadi tanggungjawab gerakan feminis? Haruskah semua dibebankan pada negara?

Poin lain yang diangkat “Bel”, yang, bagi saya pribadi sangat penting adalah bagaimana para difabel laki-laki, bahkan yang menjadi kawan-kawan juga tidak jarang menunjukkan perilaku kekerasan seksual, terutama terhadap teman perempuannya. Selama ini, saya berpikir, salah satu sumber bagaimana feminisme kita masih eksklusif saat berhadapan dengan isu-isu difabel, khususnya terkait seksualitas dan kekerasan seksual adalah pandangan yang men-deseksualisasi difabel. Kita mengira, kondisi difabel membuat mereka tidak “banyak” terlibat dalam “urusan” seks dan seksualitas. Tapi, itu perkiraan saya pribadi; saya sendiri lahir dari gerakan feminisme yang masih sangat terbatas persentuhannya dengan isu-isu difabel; bisa jadi “perkiraan saya” lebih dipengaruhi pengalaman saya pribadi. Poin yang diangkat “Bel” dalam tulisannya membuka pikiran saya tentang kompleksitas dan dinamika seksualitas difabel yang tidak “beda” dengan seksualitas para non-difabel.

Begitulah, dari “secuil” cerita anak ABG itu, kita sudah banyak mendapatkan informasi penting yang membuat feminisme perlu lebih inklusif pada situasi yang dihadapi para difabel. Sekali lagi, untuk semakin menguatkan “persentuhan” dan “persinggungan” ini, dan demi menguatkan kontribusi feminisme pada keadilan gender dan seksualitas tanpa mengenal situasi “disabilitas” dan “difabilitas”, LETSS Talk menghadirkan talkshow dengan tema khusus “Difabel dan Pendidikan Seks dan Seksualitas.” Dalam talkshow ini, akan hadir para aktivis hak-hak difabel yang mulai menyentuh isu-isu gender dan seksualitas dalam gerakannya: Mba Risnawati Utami, Mas Bahrul Fuad atau Cak Fu yang sekarang menjadi salah satu komisioner Komnas Perempuan, Mas Joni Yulianto, dan mas Surya Sahetapi, dengan moderator Mba Renvi Liasari dengan Juru Bahasa Isyarat: Mada dan Sari.

Talkshow lewat Zoom ini akan berlangsung pada Minggu, 13 September 2020 jam 19.00-21.00 WIB. Informasi lengkap bisa dilihat di flyer berikut.

Silahkan daftar melalui link: http://bit.ly/DaftarLETSSTalk3
Kami juga sangat berterima kasih jika anda berkenan:
Like dan follow Facebook: https://www.facebook.com/LETSSTalk.2020/
Follow Twitter: https://twitter.com/LetsstalkS
Follow Instagram: https://www.instagram.com/letsstalk_sexualities/
Like dan Subscribe Youtube: https://www.youtube.com/channel/UCokOg7dGwIBWOwqoD9iM7eA
Email: letsstalksexuality@gmail.com

Semoga, kami akan melihat Anda di forum ini…

Terima kasih, dan salam LETSS Talk.

Tomy Satria dan Pembelaannya Pada Kelompok Rentan

Oleh: Ishak Salim

Saya harusnya ada di tengah-tengah massa yang mengantarnya mendaftar untuk pencalonannya sebagai bupati Bulukumba siang tadi. Tapi tak memungkinkan, padahal saya sedang berada di kampungnya, di Tanete. Saya pikir ia akan maklum dengan ketidakhadiran ini. Sehari sebelumnya saya bahkan tak jua bertemu saat ia datang ke aula kantor kecamatan membuka acara pendidikan singkat membangun desa inklusi untuk 14 desa di kecamatan Bulukumpa. Ya, pagi saat ia hadir saya harus mencari tempat dengan sinyal internet yang bagus untuk sebuah diskusi dengan beberapa aktivis pergerakan difabel.

Sejak ia memutuskan memasuki gelanggang politik elektoral, dan ia berhasil terpilih menjadi anggota dewan bahkan menjadi wakil ketua DPRD Bulukumba, saya dkk di PerDIK segera menemuinya. Apa lagi kalau bukan mendiskusikan kepentingan warga difabel di Bulukumba. Tidak sulit bagi kami menyampaikan gagasan dan mudah pula bagi Tomy untuk mengerti betapa urgen mendudukkan kepentingan difabel yang selama ini di belakang dikedepankan dan menampakkan apa yang selama ini tak nampak dalam perbincangan pembangunan. Saat itu gagasan menyiapkan peraturan daerah perlindungan difabel menjadi salah satu prioritasnya. Berkat dorongan kawan-kawan pergerakan difabel baik di Bulukumba seperti PPDI Bulukumba, PerMaTa Bulukumba,  komunitas Tuli maupun organisasi masyarakat sipil pro isu difabel akhirnya perda ini disahkan.

Kami tak cuma membincangkan soal regulasi disabilitas, tapi juga sejumlah rencana program untuk memberdayakan dan memandirikan difabel. Tomy mengingatkan agar kerja pemberdayaan dilakukan dengan model pengorganisasian rakyat, langsung ke jantung hatinya. Saat itu kami memutuskan memulai di satu desa, Kambuno.

Di desa ini, seorang kawan dekat tinggal dan mengorganisir petani dan banyak membantu pemerintah desa merancang sistem informasi desa dan berdasarkan data hasil sensus penduduk desa merencanakan banyak hal. Kami dari PerDIK Sulsel menjadikan markasnya yang berupa laboratorium sekaligus home stay. Setiap kami ke desa ini, nyaris selalu kami bertemu juga dengan Tomy, dan seperti menjadi ciri khasnya yang santai tapi bisa diajak mengobrol serius dan memberi dukungan atas rencana-rencana baru.

Salah satu rencana itu adalah saat kami kemudian bersama-sama mengupayakan agar even dua tahunan nasional yakni temu difabel se-Indonesia bisa diadakan di desa Kambuno. Ia ke Yogyakarta saat itu dan menghadiri temu inklusi ke 3 di Gunung Kidul kala itu, 2018. Saat itulah, dalam satu kesempatan penting, ia mendeklarasikan kesiapannya mengadakan temu inklusi di Bulukumba, yang seharusnya dilaksanakan pada 13-16 Juli 2020. Sayang, pandemik covid kemudian terjadi dan membuat kegiatan nasional ini tertunda.

Ada banyak rencana, tapi tak semua bisa diwujudkan. Posisi sebagai wakil bupati membuatnya tak mudah leluasa menentukan dan menjalankan keputusan. Ia pernah menyampaikan kondisi itu dan kami lalu memilih tetap fokus dengan kerja-kerja kecil memperjuangkan hak difabel.

Siang tadi, saat sesi istirahat, dalam kelas saya membuka Facebook dan menemukan link-link kutipan video, poster, meme, dll mengenai proses pendaftarannya. Orang yang hadir dalam acara itu memberitahukan kepada saya bahwa jumlah massa lebih dua puluh ribu orang. Saya menonton video itu dan memang benar ribuan orang memenuhi jalan-jalan utama.

Kami masih punya banyak kerjaan untuk mengedepankan pemenuhan hak-hak difabel, memajukan kajian-kajian difabilitas, mendorong desa-desa menerapkan konsep desa inklusi yang saat ini telah berjalan rintisannya, memberdayakan difabel, mengurangi hambatan-hambatan fisik dan pikiran-pikiran keliru mengenai difabel, mengedepankan pendidikan anak-anak difabel di sekolah-sekolah yang menjelma menjadi lebih inklusif dan menyiapkan peluang-peluang kerja yang adil bagi difabel dan kemudian harapan yang masih terus kukuh membela kelompok-kelompok rentan lainnya di kabupaten tercinta ini.

Selamat berjuang sappo! Tetaplah teguh untuk mempraktikkan berpolitik secara benar, seperti sejak mahasiswa kita lakukan dan akan tetap seperti itu di hari-hari selanjutnya.

Menang!

Belajar Desa inklusi sampai di negeri Panrita Lopi.

Oleh: Ishak Salim

Teman-teman PerDIK Sulsel sedang di kecamatan Bulukumpa, kabupaten Bulukumba. Julukan kabupaten ini Panrita Lopi atau ahli pembuat perahu. Ya, lambangnya kabupatennya saja adalah perahu Phinisi yang legendaris itu. Tapi kami bukan berada di pesisir, melainkan di wilayah perbukitan dan petani di sini sedang panen cengkih.

Ya, Tanete, nama kampung utama di bulukumpa melimpah bunga cengkih. Jumlah desanya adalah empat belas. Kami mendesain sebuah belajar bersama tentang desa inklusi di mana setiap desa kami undang perangkat desa, kader desa dan difabel untuk turut belajar bersama-sama.

Kami membagi dua angkatan atau tujuh desa perangkatannya. Setiap angkatan ada 25 orang atau 3-4 orang perdesa. Beberapa peserta adalah Tuli dan kami menyediakan juru bahasa isyarat Bulukumba yang masih belajar. Sehari sebelum sekolah singkat ini kami buka, kami memutuskan melakukan asesmen bagi peserta Tuli.

Ya, kami perlu tau, apakah peserta Tuli ini bisa bahasa isyarat, bisindo atau sibi atau hanya bahasa ibu. Apakah mereka bisa membaca atau menulis. Hasilnya tak satupun bisa bahasa isyarat, tak satupun tau sistem isyarat dan bahkan tak tau baca tulis. Tapi mereka dipilih desanya untuk ikut. Kami putuskan tetap mencobanya. Tugas kami menyediakan juru bahasa isyarat sebagai akomodasi yang layak yang harus tersedia. Lagi pula, kami ingin tunjukkan bahwa ada cara lain mendidik Tuli berkomukasi dan belajar. Kami yakin bahwa harus dimulai untuk menunjukkan cara berbeda.

Hasilnya, semua peserta, dari dua angkatan (pagi dan siang) sangat bersyukur bisa mengikuti sesi belajar ini dan melihat langsung bagaimana bahasa isyarat menjadi bahasa komunikasi yang memungkinkan dipakai dan lebih dari itu, mereka bisa mencoba belajar abjad bahasa isyarat. Bukan hanya itu, kami juga menunjukkan bagaimana difabel visual menggunakan hape dan laptop dan bagaimana notulen kami yang sama sekali tak melihat lancar mengetik. Sampai-sampai seorang difabel dari Bulukumba terkagum-kagum melihatnya mengetik tiada henti saat narasumber mengisi sesi belajar.

Desa inklusi bukan impian, ia adalah proses meruntuhkan pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan pengabaian terhadap difabel yang telah berlangsung bertahun-tahun. Pikiran berkarat dan terus-menerus membebalkan diri tanpa interupsi betapa praktik itu meminggirkan dan merentankan banyak difabel. Beginilah cara kami mengolesi pikiran berkarat itu dengan pengetahuan yang bak minyak peluntur korosi. Kami memperkenalkan gagasan baru, praktik baik, dan siapapun bisa meniru atau mencobanya dengan cara sama tapi rasa yang berbeda.

Kepada teman-teman di 14 desa di Bulukumba, selamat belajar dan semoga kalian bisa menjadi pelopor, pendobrak, dan pencetus gagasan dan praktik inklusif yang menghargai hak-hak asasi kemanusiaan yang kita yakini bersama.

Masih ada 3 hari kawan-kawan!

eh ada videonya loh dari DailyMochii, yuk nonton!

Terima kasih DailyMochii