TRK INKLUSI: Menjadi Difabel Pascagempa

Relawan TRK Inklusi bukan cuma menjangkau difabel yang terdampak. Beberapa posko yang didatangi, kami juga mencari tahu korban yang mengalami luka fisik parah. Dari beberapa informasi yang diterima, ada dua korban ditemui yang mengalami situasi sulit.

Korban pertama, mengalami luka parah, terlambat ditangani dan akhirnya harus diamputasi. Korban Kedua, di desa yang berbeda, luka pada tubuhnya telah membusuk dan masih tinggal di pengungsian. Belum ada tindakan medik serius. Tempat pengungsian itu kurang nyaman, tempat peternakan ayam (kandang besar) yang belum dipakai.

Cerita-cerita miris yang dibawa relawan dari tempat-tempat pengungsian merupakan perpaduan kisah orang-orang terdampak, sistem layanan publik yang masih payah, dan orang-orang yang berupaya berbuat terbaik untuk membantu. Kami sejauh ini cuma bisa mencatat dan menuliskannya.

Selain kisah korban bencana dan kondisi tempat pengungsian yang tidak nyaman, ada juga cerita-cerita baik dari desa. Di desa Taan kecamatan Tappalang, Mamuju, misalnya. Di sini pemerintah desa, sejumlah relawan, dan orang-orang muda desa terorganisir mengelola respon darurat. Paket bantuan berdatangan silih berganti, pencatatan logistik tertulis rapih dan barang-barang terdistribusi ke keluarga-keluarga yang belum mendapatkan. Itu cerita yang menyenangkan ketimbang berita penjarahan yang selalu tidak utuh setibanya di hadapan kita.

Selain itu, hingga saat ini, pos TRK INKLUSI di Mamuju juga semakin ramai dikunjungi kawan-kawan relawan dari berbagai organisasi disabilitas daerah. Selain dari Sulawesi Tengah dan Selatan, ada juga dari luar Sulawesi. Mereka datang, mengobrol dan juga menitipkan barang-barang keperluan pengungsi untuk disampaikan ke yang berhak. Keramaian seperti ini menghibur para relawan yang seharian lelah dan bahkan bertambah lelah sebelum akhirnya istirahat beberapa jam.

Teman-teman yang peduli, bisa juga turut mendukung teman-teman di wilayah bencana melalui donasi di:

Rekening BRI 380801020912531

Atas nama: Lembaga Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan

Perdik Sulsel

Untuk konfirmasi dan informasi lebih lanjut, Hub: 0895356062713

Zakia Khyadhaniel Zaskia

Untuk update, di www.ekspedisidifabel.wordpress.com

Pembagian Sembako Ke Pengungsi Difabel
Ketua PPDI Bone, Andi Takdir berkunjung ke Pos TRK Inklusi

Inclusive Humanitarian Volunteer Team (TRK Inklusi)

We invite all friends,
to distribute donations for helping earthquake victims,
especially disabled people in West Sulawesi, Indonesia.

We organize this emergency response with local Disabled People Organizations (DPOs) and other Humanitarian Volunteer Networks. Donations can be transferred to:

BRI Account 380801020912531 On behalf of:
Lembaga Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan
(The Indonesian Disability Movement for Equality).

Code SWIFT: BRINIDJAXXX
Name Bank Office: PT. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO), TBK
Address: BRI I BUILDING, FLOOR 18, 44-46 JALAN JENDERAL SUDIRMAN
City: JAKARTA; INDONESIA (Postal code: 10210) Bank code: 002

Bank Telephone Number: (62-21) 2510244, or 2510254, 2510264, 2510269, 2510279.
Account Holder email address: perdiksulsel@gmail.com

For confirmation and further information, Call: +62895356062713 (Zakia)

For updates, visit:
Instagram (@perdikofficial)
Facebook (perdik sulsel)
website (www.ekspedisidifabel.wordpress.com)

Poster



Seminggu Pasca Gempa, Tim Relawan Kemanusiaan Inklusi mendata 150 Difabel Terdampak

Oleh: Tim TRK Inklusi

Nyaris seminggu semenjak peristiwa gempa mengguncang Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat. PerDIK SulSel sebagai organisasi yang dalam kurun dua tahun terakhir mengorganisir sumber daya dalam merespon bencana, lantas merencanakan sejumlah tindakan.

Kami mengawalinya dengan menghubungi sejumlah kawan difabel yang berdomisili di Mamuju. Jumat pagi, 15 Januari 2021, kami masih sulit mengontak kawan-kawan difabel yang kami kenal aktif di Gerakan Mandiri Difabel Mamuju. Sambil melakukan itu, sejumlah kawan di PerDIK mulai membuka donasi. Poster dan narasinya dibuat, lalu kemudian di posting di media sosial PerDIK.

Setelah dua hari tak terkoneksi baik, akhirnya malam senin, (17 Januari 2021) tim PerDIK sudah bisa berdiskusi dengan Shafar Malolo dan teman-teman Gema Difabel Mamuju. Beberapa anggota difabel mamuju sudah kembali dan menyatakan bahwa sekret gema difabel adalah Pos TRK Inklusi. Untuk memudahkan komunikasi dibuat grup WA TRK Inklusi.

Malam itu juga, tim sudah menyelesaikan Form Pendataan korban bencana berperspektif difabel dan hari berikutnya tim sudah akan melakukan asesmen cepat di sejumlah titik pengungsian. Fokus utamanya difabel.

Ada sepuluh anggota tim asessmen yang dikoordinatori oleh Shafar Malolo, ketua gema difabel Mamuju. mereka mendata, mengolah data, mengolah bantuan, menyiapkan mekanisme keluhan, menjaring mitra kerja, dan seterusnya. Seiring dengan itu, saat ini YEU dan ASB akan turut menemani trk inklusi dan semoga gema difabel Mamuju bisa menjadi organisasi difabel dengan kapasitas yang setara nantinya.

Per hari ini (Kamis, 21 Januari 2021), sudah ada 150 difabel terdampak gempa yang mereka data dan telah terinput. Dari hasil input ini, analisis data sedang dilakukan dan akan merencanakan pendistribusian bantuan yang telah terhimpun.

Menurut Hari Kurniawan, masih ada data lain yang belum mereka input karena masih harus ke lapangan, mengunjungi sejumlah tenda-tenda pengungsian dan rumah-rumah warga yang dijadikan lokasi pengungsian.

Sebagai update donasi yang terhimpun dan penggunaannya, berikut laporannya:

Daftar Donasi DanPemakaian Donasi Sementara
TRK INKLUSI
pertanggal 21 Januari 2021

NOTanggal TransferNAMA PENGIRIMJUMLAH DONASIKREDITSALDO
115-Jan-21IASRp200,000Rp200,000
215-Jan-21ARURp200,000Rp400,000
315-Jan-21HARp100,000Rp500,000
416-Jan-21MJYRp1,000,000Rp1,500,000
516-Jan-21LRp100,000Rp1,600,000
616-Jan-21CSRp500,000Rp2,100,000
16-Jan-21ANRp200,000Rp2,300,000
717-Jan-21TTWRp100,000Rp2,400,000
817-Jan-21HJRRp200,000Rp2,600,000
917-Jan-21DPC-GMRp980,000Rp3,580,000
1017-Jan-21Transfer awal ke TRK Inklusi/Gema Difabel MamujuRp1,500,000Rp2,080,000
1118-Jan-21ISJNRp4,000,000Rp6,080,000
18-Jan-21ISRp883,747Rp6,963,747
1220-Jan-21AARp100,000Rp7,063,747
1320-Jan-21Transportasi RelawanRp883,747Rp6,180,000


Dua Pengkaji Disabilitas Bertemu Di Rumah PerDIK

Oleh Muthahara Yulina, Pustakawan Pustakabilitas PerDIK

Jum’at 15 Januari 2021, sejumlah pengurus HMJ PLB FIP Universitas Negeri Makassar berkunjung ke Rumah Perdik di kompleks Graha Aliya blok B2, Katangka, kabupaten Gowa dengan tujuan studi banding. Kegiatan ini berupa kunjungan silaturrahmi dan diskusi santai yang bertempat di ruang Pust@kabilitas Rumah PerDIK. Sebelum memasuki ruangan pustak@bilitas kami mengarahkan teman-teman HMJ PLB untuk mencuci tangan di wastafel sebagai bagian dari penerapan protokol kesehatan.

Suasana Diskusi di Ruang Pustakabilitas

Setelah semua berkumpul di ruangan, saya sebagai moderator membuka diskusi sore itu dengan terlebih dahulu menyampaikan terima kasih atas kunjungan dari teman-teman HMJ PLB FIP UNM. Selanjutnya saya memandu jalannya kegiatan sesuai dengan rundown yang tersusun. Di kesempatan pertama saya memberi kesempatan kepada perwakilan delegasi mahasiswa PLB yang datang.

Ketua umum HMJ PLB FIP UNM, Oky Agustian menyampaikan alasannya memilih PerDIK sebagai tempat studi banding kali ini yakni dikarenakan PerDIK masih satu haluan dengan arah gerakan HMJ. Selain itu, PerDIK dinilai sebagai organisasi difabel yang relevan sebagai tempat belajar isu-isu disabilitas. Oky juga menambahkan bahwa mereka berharap dengan diskusi ini mereka bisa mendapatkan inspirasi serta pemahaman baru yang berkenaan dengan penanganan disabilitas dalam wadah organisasi.

Sebagai pembuka, Luthfi selaku perwakilan PerDIK menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran beberapa anggota keluarga PerDIK (pengurus PerDIK) dikarenakan ada kesibukan/kegiatan lain. Luthfi juga memaparkan mengenai perspektif difabel menurut pandangan medis, biosikososial, dan sosial.

Mewakili Yayasan PerDIK, Nurhidayat menyampaikan tentang sejarah serta profil PerDIK. Nurhidayat terlihat percaya diri dalam menyampaikan materi mengingat bahwa Nurhidayat juga pernah menjadi ketua HMJ PLB FIP UNM, begitupun dengan teman-teman HMJ yang terlihat lebih santai dalam menyimak pemaparan materi dari Nurhidayat sambil menikmati suguhan teh hangat dan biskuit. Di akhir pemaparannya, Nurhidayat menyampaikan harapannya agar diskusi ini tidak berakhir sampai di sini saja melainkan ada tindak lanjut kedepannya berupa kegiatan kolaborasi dan sejenisnya.

Tidak hanya Nurhidayat, ada juga Zakia yang menjelaskan mengenai proses advokasi dan pendampingan yang telah di lakukan oleh PerDIK. Secara umum Zakia menjelaskan dua jenis advokasi yang dilakukan PerDIK yakni litigasi (dalam ranah hukum) dan non-litigasi (luar ranah hukum).

Menanggapi pemaparan dari anggota keluarga PerDIK, teman-teman dari PLB banyak bertanya mengenai siapa saja yang terlibat dalam proses advokasi yang dilakukan oleh PerDIK, bagaimana SOP kesekretariatan PerDIK, proses perekrutan anggota keluarga PerDIK, serta program-program kerja PerDIK kedepannya. Proses diskusi berjalan dengan santai dimana anggota keluarga PerDIK dan mahasiswa PLB saling menanggapi dan bertukar pikiran.

Sebagai penutup, Nurhidayat kembali menegaskan bahwa di PerDIK kita mengedepankan prinsip kekeluargaan. Jika ada anggota keluarga yang melakukan kesalahan kita tidak memberlakukan surat peringatan yang sampai berakhir pemecatan melainkan hanya diberi teguran dan diberi kesempatan untuk belajar. Contohnya ketika kesalahannya tersebut berkaitan dengan menejemen waktu, maka anggota keluarga tersebut akan dibantu untuk mengikuti pelatihan menejemen waktu. Prinsipnya, sebagai sebuah keluarga, PerDIK mengedepankan proses belajar dan berkembang bersama. Terakhir, kami melakukan foto bersama dengan teman-teman dari HMJ PLB untuk kepentingan dokumentasi[].

Merayakan Seksualitas Dengan Gembira dan Tetap Politis!

Diah Irawaty tinggal di Amerika Serikat, bersama suami dan seorang anaknya. Ia dan Farid Muttaqin sedang menempuh studi doktoralnya di Socio-Cultural Anthropology, State University of New York (SUNY) Binghamton, New York. Saat ini keduanya sudah mencapai tingkat studi Ph.D. Candidate. Beberapa bulan ini, selama pandemik Covid melanda negeri sedunia, keduanya sibuk menggelar perbincangan seks dan seksualitas. Bersama tiga orang kawan lainnya, Renvi Liasari, Wawan Suwandi, dan Ahmad Syahroni mendirikan komunitas LETSS-Talk. Melalui komunitas inilah, sejak 2 Agustus 2020 berbagai topik perbincangan ini menjelma menjadi diskursus seks dan seksualitas.

Dalam setiap event yang digelar secara online, peminatnya selalu banyak. Bisa mencapai seratusan orang. Memang tak selalu berjumlah demikian, namun dikarenakan semua dokumen perbincangan itu bisa ditonton ulang, maka pengunjung atau penikmatnya bisa bertambah terus menerus.

Diah dan Farid, bersama anaknya, Allegra.

Diah dan Farid bersungguh-sungguh dengan komunitas ini. Mereka mengusung semangat kolaboratif dan kerelawanan. Diah misalnya, mengingat ia adalah kawan dekat saya, tak jemu-jemu menyampaikan kebutuhan orang-orang atau organisasi yang bisa diajak membuka tabir-tabir seksualitas dan menjadi perbincangan publik. Paling awal sekali, saat ia menyadari bahwa peminat dan penikmat nantinya bukan hanya dari kalangan orang yang mengandalkan bahasa verbal, maka ia mulai bertanya ke saya bagaimana mendapatkan juru bahasa isyarat. Saya punya banyak teman JBI dan kawan di Pergerakan Tuli. Cukup menghubungi satu orang, bersedia, lalu mengajak yang lainnya.

Suatu hari, Diah lebih serius mengajak saya dan organisasi di mana saya bekerja untuk bekerjasama. Kami lalu merancang sebuah lomba menulis seks dan seksualitas untuk remaja. Kami membaginya menjadi dua kategori, SMP dan SMA. Awalnya ia mengusulkan kategorinya difabel dan non-difabel, tapi saya menolaknya. Berdasarkan pertimbangan kawan-kawan di PerDIK, tak perlu memperpanjang praktik segregasi dengan pemilahan-pemilahan begitu. Difabel banyak yang pandai menulis, yang penting jangan memaksakan lomba menulis harus dengan pena dan kertas. Orang-orang buta tidak mengandalkan pena dan kertas untuk menulis, mereka mengandalkan stylus dan reglet, atau yang lebih canggih dengan android akses dengan sejumlah perangkat aplikasi yang memungkinan mereka menikmati balas membalas email, whatsap, dan seterusnya.

Sebagai komunitas yang baru berdiri, LETSS-Talk bertujuan membangun ruang berbagi pengetahuan, informasi dan pengalaman tentang seksualitas dan gender, terkhusus bagi keluarga dan menjadi sumber informasi tentang seksualitas dan gender yang mudah diakses setiap warga. Kedua tujuan ini merupakan hasil analisis situasi sosial dan politik betapa perbincangan seks dan seksualitas di banyak keluarga di Indonesia begitu tabunya, begitu rumitnya, bahkan begitu tak nyamannya. Bagi pendiri LETSS-Talk, kondisi sosial yang tertutup akan seksualitas ini yang berkonsekuensi pada melambatnya perkembangan pengetahuan seksualitas di kalangan orang-orang tua di rumah tak lepas dari bekerjanya struktur negara yang menekan warganya untuk tidak dengan mudah membicarakan seksualitas. Kondisi ini telah berlangsung lama dan berkarat sehingga untuk menguak, mendekonstruksi, dan mengubahnya menjadi terbuka dibutuhkan tindakan-tindakan bukan hanya sebagai tanggung jawab intelektual, tetapi juga tanggung jawab politik mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Poster diskusi saat isu Seksualitas beririsan dengan isu Disabilitas

Untuk mencapai tujuan itu, LETSS-Talk menggelar sejumlah Forum diskusi atau talkshow serial, penulisan dan publikasi pengalaman pendidikan seks dan seksualitas, penelitian dan kajian, konferensi tahunan, dan penerbitan jurnal seks dan seksualitas di Indonesia. Belum dilakukan semuanya, tetapi baik Diah, Farid, Renvi, Wawan dan Syahroni serta sejumlah kawan yang semakin melebar telah memulai langkah-langkah awal yang menggembirakan. barangkali sudah belasan event digelar dan ini menunjukkan bahwa komunitas ini sungguh aktif dan kreatif dalam mengemas perbincangan. Belum lagi kualitas isi perbincangan juga membuat pikiran terbuka dengan penjelasan-penjelasan yang ilmiah, empirik, dan tentu saja politis!

Dalam catatan saya, yang susah payah saya himpun di pagi hari ini saat kepala sedang berat selama dua hari ini, saya mengidentifikasi setidaknya ada 28 item kegiatan (mungkin sebenarnya lebih). selain acara pada Rabu, 30 Desember nanti, di mana kami akan merayakan pergantian tahun dengan Live Concert sambil berkampanye anti kekerasa seksual dan juga sebagai bentuk toleransi terhadap keragaman seksualitas dan gender.

Kali ini, LETSS Talk (Let’s Talk about Sex n Sexualities) kembali bekerjasama dengan Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK). Kami mengundang Anda Semua dalam Special Event untuk Merayakan Tahun Baru dengan cara paling unik ini.

Tema Perayaan Tahun Baru kita adalah“Merayakan Tahun Baru, Merayakan Seksualitas: Let’s Have Fun and Be Political.” Acara ini akan diisi dengan berbagai performances, seperti: menyanyi, instrument, menari, membaca puisi, monolog, membaca cerpen, orasi oleh tokoh feminis, dll. Mari Have Fun dan Tunjukkan Dukungan Anda terhadap Gerakan Anti Kekerasan dan Opresi Seksual.

Tandai harinya, Rabu, 30 Desember 2020 Pukul: 19:00-22:00 WIB (Jakarta Time) atau pukul 20.00 WITA (Makassar).
Caranya, klik link ZOOM ini dan Anda akan langsung Join di Zoom Meeting: http://bit.ly/TahunBaruLETSSTalk Atau bisa juga dengan Meeting ID: 997 5845 9535 dan Passcode: 916308.

Seperti biasa LETSS Talk menyediakan Juru Bahasa Isyarat (JBI): Mada Ramadhany dan Rezky Chiki. MC pada event ini adalah Ishak Salim dan Apri Iriyani.
Berikut patisipan Merayakan Tahun Baru, Merayakan Seksualitas: Let’s Have Fun and Be Political!”

  1. Orasi Politik: Tokoh Feminis Indonesia, Ibu Ita Fatia Nadia (Sejarawan)
    https://www.youtube.com/watch?v=LPvbyLfJObQ
  2. Ahmad Zundy Tamiko (Pemusik asal Bumiayu, Brebes)
    https://www.youtube.com/channel/UCTvOCO1604EPfAcZLLbf_2Q
  3. Zubaidah Djohar (Penulis, peneliti, dan penyair asal Aceh kelahiran Buktitinggi, Sumatera Barat)
    https://www.youtube.com/watch?v=TQM8yI5RHa8&t=222s
  4. Syahirul Alim dan Robiatul Adawiyah dengan (Penulis dan Guru Matematika)
    https://www.youtube.com/watch?v=YE6_o-PADtU
  5. Alexandria Aida Milasari (Aktivis perempuan dan Direktur Eksekutif Harian Rumpun Gema Perempuan, RGP)
  6. DONA Amelia (Artist dan businesswoman)
    https://www.youtube.com/donamusic1
  7. Dewi Nova (Sastrawan, aktivis)
    https://www.youtube.com/watch?v=G6kigEuWifg
  8. Diah Irawaty dan Renvi Liasari (Pendiri LETSS-Talk)
  9. Eka Dwipayana Sabeh (Ubud, Bali, Alumni UGM 2000)
    https://www.youtube.com/channel/UChtdXqj_XIoujAgbU2Hex1A/videos?fbclid=IwAR2h4j1N8Pcc15qpxLDnP5dRIYQZxITPNlqteKfii-UUN1cJayyl15f6194
  10. Jodhi Yudono (Musikus, penulis, dan wartawan)
    https://www.youtube.com/channel/UCGpWp_ymq09erPOYI_5xlzQ
  11. M Aan Mansyur (Penyair, tinggal di Makassar)
    https://www.youtube.com/watch?v=w5g4rrJwBFU
  12. Jennifer Goodlander (Indiana, USA, Tari, Ahli Wayang)
    https://www.youtube.com/watch?v=GOR9cMACzRI&t=535s
  13. Stella Rosita Anggraini (Aktivis Difabel Jombang, Penulis Puisi)
  14. Enchik Sri Krishna dan Teuku Dalin (seniman dan musisi; Produser music)
    https://www.youtube.com/watch?v=sV6xyR420gE
  15. Rilda A Oe Taneko (Cerpenis, Novelis, tinggal di Lancester, Inggris)
    https://www.goodreads.com/…/show/7704448.Rilda_A_Oe_Taneko
  16. Yokie S S atau Bung Plontos (Musisi dan penulis lagu asal Surabaya)
    https://www.youtube.com/channel/UCfSROBCvTR71KBQy31h87Vg
  17. German Huanca Luna (Seorang ayah yang suka bermain gitar dan harmonica, Bolivia)
    https://www.youtube.com/channel/UCTF_BQoJDBtqvVKiuXO_GcA
  18. Dian Nafi (Author, Blogger, dan Content Crafter) https://www.youtube.com/user/ummihasfa
  19. Ruangbaca (Viny Mamonto dan Saleh Hariwibowo, asal Makassar)
    https://www.youtube.com/channel/UCqhJOlv0UionoTIhJKuPWHg
  20. Maritza Hagan (Asal Binghamton, New York, AS, seorang American Sign Language (ASL) interpreter).
  21. Mai Munzirr (Seniman dan pemusik Aceh)
    https://www.youtube.com/channel/UCrATTQOI9g5WUmzEPHEzErA
  22. Laode Muhammad Hayat Rahmat (Gitaris, aktivis PerDIK)

Mari bergabung kawan 💚

Sebelum saya menutu[p tulisan ini, saya kutipkan 27 kegiatan yang sudah berlangsung selama LETSS-Talk berdiri:

Poster IG Talks Ishak Salim dan Diah Irawaty
  1. Zoom Talkshow Seri #1 “Perlu tapi Tabu: Pendidikan Seks dan Seksualitas dalam Keluarga” (Minggu, 2 Agustus 2020 jam 15.30-17.00 WIB)
  2. Zoom Talkshow LETSS Talk Seri #2 “Pendidikan Seks dan Seksualitas: Pengalaman dan Pelajaran Lintas Budaya” pada Minggu, 23 Agustus 2020. Hadir sebagai pemantik diskusi adalah Nancy J Smith-Hefner (Profesor dan Ketua Program Antropologi, Boston University, AS), Christine Holike (Direktur Watch Indonesia, Berlin, Jerman), Andreas Jefri Deda (Dekan Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua, Manokwari), dan Ratri Istania (Dosen STAI LAN Jakarta dan Postgraduate Research Fellow, Loyola University, Chicago, AS).
  3. Zoom Talkshow Seri #3 Tema: “Difabel dan Pendidikan Seks dan Seksualitas” Hari: Minggu, 13 September 2020
  4. Pengumuman Pemenang Lomba Menulis “Remaja dan Pendidikan Seks dan Seksualitas” yang diselenggarakan LETSS Talk bekerjasama dengan Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) sekaligus memperingati Hari Kesehatan Seksual Dunia yang jatuh pada tanggal 4 September 2020.
  5. Publikasi tulisan kedua pada seri publikasi tulisan para pemenang Lomba Menulis “Remaja dan Pendidikan Seks dan Seksualitas” yang diselenggarakan LETSS Talk dan Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK). Tulisan kedua merupakan karya Nabila May Sweetha, pelajar SMU, seorang Difabel Netra, yang menjadi Juara 1 Tingkat SMU.
  6. Zoom Talkshow Serial Pendidikan Seks dan Seksualitas dalam Keluarga Seri #4 yang kali ini mengambil Tema: “Laki-laki dan Pendidikan Seks dan Seksualitas. Hadir sebagai Narasumber/Pemantik Diskusi: 1. Nur Hasyim (Pengajar FISIP UIN Walisongo; Dewan Pengawas Rifka Annisa; Co-Founder Aliansi Laki-Laki Baru); 2. Ita Fatia Nadia (Peneliti dan Penulis Sejarah Gerakan Perempuan & Co-Founder Komnas Perempuan); 3. Irwan M. Hidayana, , Minggu 4 Oktober 2020.
  7. Share tulisan Dr. Wisnu Adihartono, seorang peneliti gender dan seksualitas, yang dipublish di website LETSS Talk. Tulisan penting yang menjelaskan apa itu gay/lesbian studies, bedanya dan “irisannya” dengan gender dan sesxuality studies, dan mengapa penulis tertarik secara khusus pada kajian ini.
  8. Talkshow seri #5 dengan tema “Keluarga Feminis dan Pendidikan Seks dan Seksualitas” yang akan berlangsung pada Minggu, 25 Oktober 2020, jam 19:00-21:00 WIB (Jakarta Time). Narasumber/Pemantik Diskusi kali ini adalah: Ulfa Kasim (Koordinator Pengembangan Pendidikan Feminis Institut KAPAL Perempuan); Misiyah Misi (Direktur Eksekutif Institut KAPAL Perempuan) & Wahyu Susilo (Direktur Eksekutif Migrant Care); Tuti Alawiyah (Dosen Kessos FISIP
  9. Buku terbitan bulan Agustus 2020 dengan judul: “Perempuan dan Anak: Pemberdayaan dan Perlindungan Masa Depan yang Inklusif” Salah satu tulisan di buku tersebut ditulis oleh salah satu Pendiri LETSS Talk, Ira (Diah Irawaty)
  10. Saturday Night with LETSS Talk Live on IG LETSS Talk @letsstalk_sexualities di IGTV LETSS Talk dengan Tema: “Data Sebagai Alat Advokasi” tanggal 31 Oktober 2020 Pukul 19:00-20:00 WIB dengan Guest: Apri Iriyani (Database & Communication Specialist) dan Host: Farid Muttaqin (Salah satu Pendiri LETSS Talk).
  11. Pertemuan pertama program baru LETSS Talk”English Conversation Practice with A Native English Speaker” sebagai salah satu kegiatan capacity building Keluarga LETSS Talk. Program ini dilaksanakan seminggu sekali. Rencananya LETSS Talk juga akan memulai English for Deaf karena beberapa anggota Keluarga LETSS Talk difabel Tuli.
  12. Talkshow seri #6 dengan tema “Pendidikan Seks dan Seksualitas: Pengalaman Para Muslim” yang akan berlangsung pada Minggu, 8 November 2020, jam 19:00-21:00 WIB (Jakarta Time).
  13. Saturday Night with LETSS Talk Edisi #4 Live on IG LETSS Talk, pada hari Sabtu, 14 November, Pukul 19:00-20:00 WIB dengan Tema “Isu Gender dan Seksualitas dalam Pendidikan Anak Difabel” bersama Guest: Ravindra Abdi Prahaswara (Kontributor di newsdifabel.com) dengan ditemani Host dari LETSS Talk: Ahmad Syahroni
  14. Tulisan terbaru di website LETSS Talk berjudul “Penerapan Rumus 5W + 1H dalam Edukasi Seks bagi Remaja” karya Gressia Carolina, seorang pelajar difabel di Mimi Institute yang menjadi Pemenang Juara Ketiga Lomba Menulis “Remaja dan Pendidikan Seks dan Seksualitas”
  15. Talkshow seri #7 (Special Event) dalam rangka memperingati Hari Internasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang jatuh tepat pada tanggal 25 November dan sekaligus memulai 16 Hari Aktivisme Anti Kekerasan Berbasis Gender (Gender-Based Violence). Kali ini tema talkshow LETSS Talk “Pendidikan Seks dan Seksualitas dan Kekerasan Seksual: Mendesaknya UU Penghapusan Kekerasan Seksual yang akan berlangsung pada Rabu, 25 November 2020,
  16. LETSS Talk will be holding a Zoom talkshow series #8, an international forum to support anti-gender-based violence campaigns. The theme of this talkshow is “Understanding Differences, Building Solidarity: Gender-Based Violence Movements in Different Contexts” and will take place using the Zoom platform on December 2, 2020, from 10:00 AM – 12:30 PM Jakarta Time.
  17. Saturday Nite Live di Instagram LETSS Talk dengan Tema: “Difabel dan Keadilan Gender” tanggal 28 November, Pukul 19:00 WIB dengan Guest: Ishak Salim (Ketua Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan dan Host: Ira (Salah satu Pendiri LETSS Talk).
  18. Tulisan terbaru di Website LETSS Talk. Tulisan ini mengangkat isu/tema penting yang jarang diangkat yaitu tentang Perempuan dan Pengelolaan Sampah.
  19. LETSS Talk (Let’s Talk about Sex n Sexualities) mengundang Anda semua pada Talkshow seri #9 dengan tema “Keragaman Gender dan Seksualitas: Dari Riset ke Toleransi” yang akan berlangsung pada Sabtu, 12 Desember 2020, Pukul 10:00-12:00 WIB (Jakarta Time).
  20. Masih dalam rangkaian acara 16 Hari Aktivisme Anti Kekerassn Berbasis Gender dan memperingati Hari Disabilitas International, LETSS Talk menyelenggarakan acara Saturday Night With LETSS Talk Edisi #6 dengan Guest: Ramadhany Rahmi (Mada) seorang Juru Bahasa Isyarat dan Pendamping Perempuan Tuli korban Kekerasan Seksual dengan Host: Renvi Liasari (Salah satu Pendiri LETSS Talk) dengan Tema: “Pengalaman Perempuan JBI dan Pendamping Perempuan Tuli.”
  21. Talkshow Seri #9 LETSS Talk (Let’s Talk about Sex n Sexualities) dengan tema “Keragaman Gender dan Seksualitas: Dari Riset ke Toleransi” yang diselenggarakan Sabtu, 12 Desember 2020, Pukul 10:00-12:00 WIB (Jakarta Time).
  22. Salah satu program Capacity Building yang diselenggarakan LETSS Talk secara gratis untuk Keluarga LETSS Talk, yaitu Percakapan Bahasa Inggris dengan Native English Speaker/Penutur Aslinya asal atau warga negara Amerika. Program ini dilaksanakan seminggu sekali disamping program Bahasa Inggris untuk Tuli yang juga dilaksakan seminggu sekali.
  23. Tulisan terbaru di website LETSS Talk. Kali ini kiriman dari mas Suryandaru yang berbagi pengalaman dan refleksinya mengikuti program ELTA, program peningkatan kemampuan Bahasa Inggris, sebagai persiapan untuk bisa mendaftar beasiswa dan sekolah ke luar negeri. Yang penting dari pengalaman ini adalah karena program ELTA yang diikuti penulis merupakan program inklusif bagi difabel dan juga sensitif gender.
  24. Selamat Hari Pekerja Migran sedunia (Happy International Migrants Day) December 18, 2020. Dalam rangka memperingati hari tersebut, Diah membagi artikel tentang buruh migran Indonesia yang pernah dimuat di Jurnal Perempuan Vol. 22 No. 3, August 2017 halaman 149-159 yang berjudul “Domestic Workers in the Paradox of Politics of Gender and the Politics of Developmentalism: A Case Study of Indonesia in the New Order Era.”
  25. Saturday Night with LETSS Talk Edisi #7 Live on Instagram/IG LETSS Talk @letsstalk_sexualities pada hari Sabtu, 19 Desember, Pukul 19:00-20:00 WIB dengan Tema “Advokasi HAM Perempuan di Bali” dengan Guest: Ni Putu Candra Dewi (Lawyer di LBH Bali dan Aktivis Bumi Setara) Host: Farid Muttaqin (Salah satu Pendiri LETSS Talk).
  26. Redaksi LETSS Talk menerima kiriman tulisan dari seorang pelajar SMU berbakat, Penulis, dan Aktivis Difabel di Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan/PerDIK, yakni Nabila May Sweetha. Nabila juga menjadi Juara 1 Lomba Menulis Remaja (SMP dan SMU) tingkat SMU dengan tema “Remaja dan Pendidikan Seks dan Seksualitas” yang diselenggarakan LETSS Talk bekerjasama dengan PerDIK bertepatan dengan Hari Kesehatan Seksual Dunia.
  27. Acara Live di IG LETSS Talk Edisi #8 dengan Tema “Perempuan Tidak Biasa di Sumba” bersama Guest: Martha Hebi (Pegiat Sosial; Penulis Buku “Perempuan (Tidak Biasa) di Sumba Era 1965-1998”) dengan ditemani Host: Diah Irawaty (Feminis; Pendiri LETSS Talk) yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Gerakan Perempuan Indonesia, 22 Desember.
  28. LETSS Talk (Let’s Talk about Sex n Sexualities) bekerjasama dengan Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) Mengundang Anda Semua dalam Special Event untuk Merayakan Tahun Baru dengan cara paling unik, Live Concert sambil berkampanye anti kekerasan seksual dan juga sebagai bentuk toleransi terhadap keragaman seksualitas dan gender.

Makassar, Sabtu, 26 Desember 2020

Beli Kalender PerDIK 2021, Dukung Pergerakan difabel

Hai Teman Baik,
PerDIK akan melanjutkan Pemberdayaan dan Advokasi Difabel di tahun mendatang. Tetap Dukung kami ya.

Saat ini kami mencetak Kalender 2021, Ada info dan foto cuplikan kegiatan PerDIK (2016 – 2020). Kami akan menjualnya sebagai upaya menghimpun dukungan teman baik semua.
Harga perkalender Rp. 100K

Untuk pemesanan dan konfirmasi pembayaran
Hubungi Ryan Ardian @Ryan Saputra Liman (082235815239)
Transfer via Bank BRI: 380801020912531 a/n Lembaga Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan

Free Ongkir Makassar dan Gowa

Selamat Jalan Bang Hermen Hutabarat

2017 lalu bertemu dan berdiskusi mengenai sejarah pergerakan eliminasi kusta. Sejak pertemuan itu, saya mulai mendapatkan gambaran pergerakan Kusta dari cerita-cerita Bang Hermen.

Lalu bertemu juga belakangan dengan Pak Nuah P Tarigan , Om  Zainudin, keduanya berkontribusi atas berdirinya PerMaTa (Perhimpunan Mandiri Kusta), GPDLI, dan kemudian FARHAN dan kawan-kawan pergerakan eliminasi kusta di Makassar (PerMaTa maupun PKPSS–Persatuan Kusta Perjuangan Sulawesi Selatan), penggerak NLR (No Leprosy Remain–Nederland Leprosy Relief), Kerstin dan juga menikmati diskusi, advokasi dan bacaan literasi mengenai upaya-upaya masyarakat sipil mencegah persebaran bakteri leprosy dan mengurangi angka pengidap kusta, yang informasi tentangnya bertebaran di literasi maya.

Di NTT ada mama putih atau Gisela Borowka dan mama hitam atau Isabela yang memulai penanganan kusta secara mandiri di tahun 1960an dengan bekal ilmu perawatan dan modal sosial orang NTT. Setelah itu, berdiri rumah sakit pengobatan orang yang mengalami kusta dan meringankan beban kedua mama berhati baik ini. Kedua mama juga telah Pergi.

Semoga, Bang Hermen (waktu itu, kalau tidak salah mengenalkan dirinya bernama Bang Coki), damai dalam istirahatnya. Perjuangan Abang akan kami lanjutkan dan tenanglah di SurgaNya.

Semoga segera bertemu dengan sesama pejuang eliminasi kusta, Bunda Theresa, Mahatma Gandhi, dan kawan-kawan dari Indonesia yang telah juga pergi.

Saat bertemu Pak Hermen di Yogyakarta, 2017

Sekolah Dian Harapan Percayakan PerDIK Salurkan Sembako Ke komunitas Difabel Rentan

Makassar- Sejumlah tenaga pendidik dari sekolah Dian Harapan Makassar berkunjung ke Kantor Yayasan PerDIK pada Senin, 07 Desember 2020 di kompleks Graha Aliya blok e3a, Katangka, kabupaten Gowa.

Salah seorang perwakilan Sekolah Dian Harapan, Ibu Hermin menyampaikan ucapan terimakasihnya kepada PerDIK Sul-sel yang telah membantu sekolah Dian Harapan dalam pelaksanaan bakti sosial yang saat ini sudah mau rampung.

Hermin juga menyampaikan bahwa di sekolah mereka telah diadakan kursus singkat bahasa isyarat yang beberapa waktu yang lalu diajarkan oleh Bambang Ramadhan, Salah seorang Aktivis Tuli dari GERKATIN (organisasi Tuli). dalam perkenalan dengan anggota PerDIK, para guru sekolah Dian Harapan pun terlihat percaya diri saat mempraktekkan bahasa isyarat yang telah mereka kuasai yang disaksikan langsung oleh Andi Kasri Unru, yang merupakan tim advokasi PerDIK yang menggunakan bahasa isyarat.

Selain itu karena anak anak sudah belajar bahasa isyarat maka sebagai hasilnya anak-anak siswa Sekolah Dian Harapan telah membuat video dalam bahasa isyarat sebagai pesan dan kesan mereka telah belajar bahasa isyarat..

“Oleh karena itu kami berharap jika bapak /ibu PerDIK Sul-Sel berkenan, kami ingin mengirimkan video nya nanti dan setelah itu kami berharap bapak/ ibu bisa menanggapi video anak-anak tersebut juga melalui video seperti itu,” Jelas Hermin.

Mewakili Yayasan PerDIK, Nurhidayat menyampaikan tentang profil PerDIK serta sejumlah kegiatan yang PerDIK kerjakan khususnya dalam bidang pendidikan. Nurhidayat berharap kelak PerDIK mungkin bisa berkolaborasi dengan Sekolah Dian Harapan dalam penyelenggarakaan pendidikan inklusi di sekolah tersebut.

Dalam kunjungan itu, Sekolah Dian Harapan juga membawa 50 paket sembako yang diperuntukkan kepada 50 warga difabel yang selama ini terdampak pandemi covvid-19 dan selama ini menjadi bagian dari PerDIK. Dalam penyaluran 50 paket sembako tersebut, Sekolah Dian Harapan sepenuhnya menyerahkan kepada PerDIK.

Nurhidayat juga berterimakasih kepada Sekolah Dian Harapan telah mempercayakan PerDIK dalam penyaluran paket tersebut.

“Salah satu hal yang memang kami kerjakan adalah menjangkau difabel yang terdampak covid-19 dan tidak menjadi sasaran penerima program bantuan yang disalurkan pemerintah,” tutupnya.[*]

Barbeque dan Tulisan Kreatif non-Fiksi

Nurhady Sirimorok, dua minggu lalu, saat ia usai menandatangani buku novel ‘Yang Tersisa dari Yang Tersisa’ dan memberi pesan singkat bagi pembaca Pustakabilitas PerDIK, berujar dengan gaya khasnya.

“Seharusnya aktivis seperti kalian di PerDIK itu mampu menulis kreatif,” ia menyerahkan novel karyanya ke tanganku. Tak jauh dari ia duduk di ruang kerjanya ada Aan Mansyur, penjual Barongko yang menulis buku puisi ‘Melihat Api Bekerja’.

“Kalian punya banyak pengalaman yang perlu disebarluaskan melalui tulisan,” ia mendekatkan kursinya dan setelah itu perbincangan soal tulisan dan bacaan pun mengalir. Aan yang pembaca bercerita tentang isu queer dan persinggungannya dengan isu disabilitas.

Ady merasa kemampuan menulis kreatif ini sungguh penting dimiliki. Ia pun langsung menawarkan diri untuk melatih tim PerDIK. Terpengaruh pada pemikirannya bahwa keterampilan dan kerja menulis ini penting, saya langsung menyamber tawarannya. Deal!

Beberapa hari kemudian, di Rumah PerDIK kami mengatur agenda. Kebetulan, akhir tahun ini kami harus berefleksi dan merencanakan agenda tahun-tahun berikutnya. Selain itu, karena organisasi pergerakan ini terus menanjak, maka dibutuhkan pembenahan-pembenahan.

Pada 10 – 13 Desember tahun ini, kami akan ke Malino, agenda dan segala macam rencana persiapan sudah dibereskan. Tinggal menyiapkan sejumlah laporan, gagasan, draft-draft dan semangat.

Agenda 4 hari di Malino nanti, meliputi:

1. Pembukaan, Luthfi, (koordinator Raker)
2. Laporan perkembangan PerDIK, Abd Rahman
3. Refleksi, Nurhady, (bantu ya )
4. Perumusan Rencana Strategis, Sistem Monitoring, Evaluasi dan Pembelajaran: Ishak Salim
5. Review SOP keuangan dan ketenagaan: Zakia
6. Perumusuan Rencana Kerja Tahunan: Nur Syarif Ramadhan
7. Penutup

Plus Bonus:
Pelatihan Menulis Kreatif Non-Fiksi: Nurhady Sirimorok

Rekreasi Nur Hidayat
Loh, Barbequenya mana?

Malamnya toh, kami punya beberapa malam di sana nanti.

Man-teman, mohon dukungan dan doanya ya. Semoga kami tetap fit dan membara dalam pergerakan ini!

Pesan Kemanusiaan Dari Seorang Sineas Otodidak: Sejauh kumelangkah

Oleh: Tim media ekspedisidifabel

Andrea (Dea) dan Salsabila (Salsa) bersahabat sejak kecil. Mereka bertemu di Taman Kanak-kanak untuk difabel netra. Keduanya buta sejak lahir. Di usia lima tahun, Dea dibawa keluarganya pindah dari Jakarta ke Virginia, Amerika. Ibunya mendapat pekerjaan di Amerika dan seiring pencarian masa depan yang lebih baik untuk keluarga, orangtua Dea mencari kesempatan pendidikan yang lebih baik pula untuk putrinya. Sementara Salsa tetap di Indonesia. Jarak membentang, tapi persahabatan keduanya berlanjut.

Film ini mengikuti kisah kedua remaja yang tengah mempersiapkan diri menuju masa dewasa di dua dunia yang sangat berbeda. Di Virginia, Dea bersekolah bersama teman-temannya yang bisa melihat. Sadar perhatian keluarganya yang besar sangat membantunya untuk mendapat banyak akses tapi juga bisa membuatnya tidak mandiri, Dea menantang dirinya. Ketika libur musim panas, ia turut program residensi untuk para remaja difabel visual yang ingin berlatih mengembangkan kemampuan yang diperlukan untuk bisa hidup tanpa banyak mengandalkan bantuan banyak orang.

Di Jakarta, Salsa yang sudah berusia tujuh belas tahun kini tinggal di panti disabilitas sensorik (netra/tuli), terpisah dari orangtuanya yang tinggal di Bekasi. Salsa ingin lebih dekat dengan sekolah dan mendapat akses ke pendidikan inklusi yang sudi menerima murid difabel netra sepertinya untuk bersama belajar dengan murid-murid lain yang non-difabel. Salsa bermimpi menjadi guru matematika, atau apapun itu nanti. Dan dia tahu itu sulit tapi bukan berarti tak mungkin—meski dia harus menyusuri kehidupan keseharian yang tak menunjangnya, serta sistem pendidikan yang terbatas mendukung kebutuhannya sebagai seorang difabel.

Seiring masa dewasa yang menanti keduanya di jalan kehidupan, Dea dan Salsa mencoba mempersiapkan diri untuk mandiri menyongsong masa depan sambil saling menguatkan satu sama lain melalui persahabatan mereka.

Kisah dalam film berjudul ‘Sejauh kumelangkah’ ini disutradarai Ucu Agustin. Film ini merupakan karya terbaru Ucu yang memenangkan kompetisi IF/Then Shorts Pitch South East Asia yang diselenggarakan oleh Tribeca Film Institute dan In-Docs. Film ini pada Desember 2019, memenangkan Piala Citra Kategori Dokumenter Pendek Pada FFI 2019.

Ucu Agustin yang lahir di Sukabumi, merupakan sineas otodidak. Sebelumnya ia pernah menjadi wartawan, penulis, dan kini membagi waktunya antara Washington D.C dan Jakarta, Indonesia.

Selama lebih dari sepuluh tahun Ucu konsisten membuat film-film dokumenter tentang perempuan dan demokrasi di Indonesia. Film-film yang dibuatnya, kerap mengungkap sistem ketidakadilan yang memarjinalkan kelompok paling rentan di masyarakat serta upaya mereka memperjuangkan hak dan penghidupannya, seperti: kisah para korban malpraktik dalam filmnya Konspirasi Hening/Conspiracy of Silence (2010), perempuan yang karena desakan kemiskinan terseret dalam prostitusi dalam Ragat’e Anak/Kompilasi AT STAKE (2008), dan jurnalis yang memperjuangkan hak berserikat dan membuat berita yang sesuai dengan hati nurani alih-alih membikin berita tentang kepentingan politik pemilik media dalam dokumenter Di Balik Frekuensi/Behind The Frequency (2013).

Ucu telah membuat belasan film pendek dan dua film panjang. Film-filmnya telah diputar di Berlinale Film Festival, International Documentary Festival Amsterdam (IDFA), Terres des Femmes, Vesoul Film Festival, Cinema Novo dan banyak festival-festival film internasional lainnya di seluruh dunia.

Film dalam temu inklusi

Mari menonton dan mendiskusikan film ini nanti malam, sekaligus mendiskusikannya. Ini kesempatan baik untuk dapat menontonnya lebih dulu, sebelum di Januari dan Februari tahun depan baru akan ramai diputar.

Event ini sekaligus upaya kita memperingati Hari Disabilitas Internasional, panitia Temu Inklusi menggelar even spesial dengan tajuk kegiatan Renungan Malam HDI berupa Pemutaran dan Diskusi Film “Sejauh Kumelangkah.

Adapun pelaksanaannya akan digelar pada

Rabu, 2 Desember 2020
19.00 – 22.00 WIB

Via zoom
Diskusi ini menghadirkan narasumber dari pembuat film dan pakar pendidikan. Mereka diantaranya adalah:
1. Ucu Agustin (Sutradara & Produser)
2. Mila K. Kamil (Impact Producer)
3. Dr. Subagyo, M.Si (PSD LPPM UNS Solo)
4. Tolhas Damanik (Wahana Inklusif Indonesia)
Akan dipandu oleh moderator Joni Yulianto tak lain adalah pendiri SIGAB Indonesia dan Rapporteur Dr. Ishak Salim.

Berminat nonton dan diskusi, silahkan daftar dulu di link

*Bit.ly/DiskusiNobarSKM*

Informasi lengkap tentang Diskusi Nobar bisa buka di link *https://temuinklusi.sigab.or.id/2020/?p=3182*

Oh ya, sedikit informasi, film Sejauh Melangkah bisa diakses oleh semua kalangan termasuk difabel netra dan Tuli. Karena menggunakan Audio Description (AD) dan Close Caption (CC). Sehingga diharapkan film ini menjadi referensi untuk produksi film-film lain.

Trailer film: https://www.youtube.com/watch?v=stfU3FZCPz0