Jangkau, Jangkau, Jangkau Difabel

Aktivitas asessmen dampak bencana gempa bumi bagi difabel di Sulbar oleh TRK Inklusi di bawah koordinasi Shafar Malolo dan Hari Kurniawan  (Cak Wawa), masih berlangsung.

Kemarin, sebenarnya tim melakukan perjalanan ke Majene, namun terkendala karena akses jalanan terhambat.  Info dari Shafar, kondisi jalan bekas longsor masih licin, ditambah hujan deras mengguyur memperparah kemacetan.

Suasana kemacetan panjang kemarin, saat ada longsor di salah satu sudut jalan.

Mereka yang mengendarai roda empat akhirnya batal ke Majene, dan akan mencobanya lagi di hari lain. Sementara yang berkendara roda dua tetap lanjut dan menuju Desa Taan di kecamatan Tappalang, Mamuju.

Di daerah Sese dan Tappalang, mereka bertemu  15 keluarga difabel dan langsung mendatanya.

Shafar Malolo koordinator TRK Inklusi mendata sekaligus menyampaikan informasi akses air bersih.

Hari ini, teman-teman bergerak lagi, menjangkau difabel adalah keharusan. Pendataan akan berlanjut sampai target tercapai. Setelah itu menganalisis dan menyusun rencana untuk masa tanggap darurat, pemulihan dan syukur-syukur fase rehab dan rekon. Selama seminggu melakukan pendataan, tim TRK Inklusi sejauh ini sudah menjangkau ratusan difabel di tenda-tenda pengungsian dan rumah-rumah warga yang memungkinkan ditempati mengungsi. HHingga kini sudah ada 150 difabel yang terinput dalam server online TRK Inklusi, dan tentu saja masih akan bertambah.

Cak Wawa, Hari Kurniawan adalah advokat disabilitas. Sebagai salah satu penggagas TRK Inklusi saat bencana Sulteng akhir 2018 lalu, Ia kali ini berupaya memastikan tim TRK inklusi Gema Difabel Mamuju mandiri dalam merespon bencana.

Habil, salah satu anggota tim pendata TRK Inklusi, sehari-harinya menggunakan kursi roda. Saat ia mendata dan tidak memungkinkan kursi rodanya lewat, ia akan turun dan mulai bergerak menarik kedua kakinya yang lemah.

Ia bersemangat, walau gejala kambuh dekubitusnya mulai terasa. Tim TRK Inklusi sudah koordinasi dengan YEU (Yakkum Emergency Unit) untuk datangkan obat khusus untuknya.

Tetap dukung TRK Inklusi dalam menjangkau  difabel yang terdampak gempa SulBar, melalui donasi Rekening:

BRI 380801020912531
Atas nama: Lembaga Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan.

Untuk konfirmasi dan informasi lebih lanjut, Hub: 0895356062713   Zakia

Untuk update, di http://www.ekspedisidifabel.wordpress.com

Salam
TRK Inklusi.

Siapa Merundung Difabel Sejak Kecil? Aku!

Oleh Muthahara Yulina, Pustakawan Pustakabilitas

Saya tinggal dan bersekolah di dekat Sekolah Luar Biasa. Itu membuat saya terbiasa bertemu difabel. Jika difabel sering bercerita mengenai pengalamannya menerima perlakuan diskriminatif di lingkungannya, maka Lina kecil adalah salah satu pelakunya.

Saya hidup dan tumbuh di lingkungan Pendidikan yang memisahakan Sekolah Umum dan Sekolah Luar Biasa. Keadaan itu membuat saya dan teman-teman berfikir bahwa kami dan merekaberbeda.

Seringkali kami berfikir mereka yang bersekolah di SLB itu orang-orang bodoh. Apalagi pernah beberapa kejadian di mana teman-teman saya yang tinggal kelas beberapa kali akhirnya dipindahkan ke SLB, yang berada di samping SD saya.

Ada satu lapangan yang kami pakai bersama saat belajar di luar ruangan. Saat itu, kami berkesempatan menertawai atau apapun yang sifatnya mengejek (diskriminatif) siswa-siswa SLB. Saya ingat betul, kami selalu tertawa saat ada siswa SLB diminta menyanyi sambil memperagakan gaya bermain gitar Rhoma Irama dengan menggunakan sapu. Bahkan, betapa kejinya cara anak-anak dari SD Umum menghina temannya yang dipindahkan dari SD umum ke SLB. Bahkan sampai anak itu menangis karena malu, ejekan tak jua berhenti.

Itulah beberapa catatan-catatan dosa-dosa masa kecil saya.

*

Jika mengingat momen-momen itu, saya sering mengutuk diri sendiri. Betapa kejamnya saya dulu. Mengapa saat itu saya tidak menghentikan teman-teman menghina siswa SLB. Malah saya ikut menertawai. Malah saya menikmati pemandangan itu.

Padahal, saat saya kanak-kanak, saya sering bermain dengan para difabel yang menjaga saya. Mereka murid orang tua saya yang mengajar di salah satu SLB di Takalar. Setelah masuk SD, otak saya seperti dicuci oleh lingkungan yang memberi stigma bagi difabel.

Saya malah setuju saja dengan perlakuan stigmatik itu. Saya malah khawatir dijauhi teman-teman jika membela difabel. Saya malah takut jika berteman difabel maka teman-teman menjauhi saya. Saya malah, saya malah, …

*

Perilaku diskriminatif atau menjadikan difabel objek tertawaan bagi anak-anak pada umumnya seperti terjadi turun-temurun. Stigma miring menyebar di tengah-tengah masyarakat. Mungkinkah pemisahan antara difabel dan non-difabel dalam pendidikan yang membuat kami berfikir kami berbeda? Saat ini saya merasakan, kami tidak mengenal etika berkomunikasi dengan difabel. Kami ogah-ogahan berbicara dengan mereka. Saat itu, sampai saya tumbuh remaja, tidak ada orang yang mengajar kami soal betapa buruknya cara kami memperlakuan difabel dan betapa perlakuan itu akan mengganggu pertumbuhan psikis difabel yang menjadi korban perlakuan stigmatik kami.

Kami hanya berfikir sedangkal bahwa tindakan bulian itu hanya candaan anak-anak pada umumnya. Mereka sudah terbiasa dan tidak apa-apa jika dijadikan bahan lelucon. Toh, buktinya ia mau-mau saja disuruh menghibur kami.

Ah makin mengingat itu membuat saya makin merasa bersalah!

*

Memasuki SMP, saya sudah jarang bertemu difabel.  Saat belajar di SMA, saya memiliki teman difabel beda kelas. Mungkin bukan juga teman, hanya satu sekolah dan seangkatan saja. Saya tidak pernah berkomunikasi dengannya. Saya tidak terbiasa berkomunikasi dengan difabel. Rasa canggung untuk berkenalan dan memulai percakapan begitu membentengi saya untuk tidak beranjak. Padahal, saya sangat tertarik dengannya. Saya ingin tahu bagaimana ia belajar di kelas. Saya mau tahu, bagaimana teman-teman sekelasnya memperlakukannya.

Tapi pertanyaan demi pertanyaan itu mengambang. Sampai luluspun saya tidak berani menyapanya.

Saya mulai mengenal lebih dekat difabel justru saat berkegiatan di luar sekolah.

Dua tahun lalu (2018), saya mengikuti kegiatan Sosial Justice Youth Camp (SJYC) di desa Kambuno, Bulukumba. ISJN atau Indonesia Social Justice Network bekerjasama dengan Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) yang menjadi pelaksananya.

Saya tidak sengaja mendapatkan informasi kegiatan itu dari sosmed, social media. Saya pun iseng mendaftar. Saat itu saya bahkan belum tahu itu kegiatan macam apa. Salah satu persyaratan mendaftarnya adalah membuat tulisan. Saya membuatnya terburu-buru dan asal-asalan. Kalau kata anak gaul sih sistem ‘the power of kepepet’, plus sotta-sotta’ berhadiah (bersikap sok tau, Makassar).

Saya ingat betul proses pendaftaran itu kurampungkan hanya dalam semalam. Itupun dari pukul satu malam sampai subuh.

Alhamdulillah ternyata saya lulus.  

Lepas itu, saya baru mencari infonya lebih banyak.

Saat itu ada keraguan mengikuti kegiatan tersebut. Rupanya tempatnya jauh dari rumah, waktunya seminggu, dan tak satupun orang saya kenali. Layaknya korban tontonan sinetron, fikiran saya traveling ke mana-mana. Saya takut diculik dan menjadi korban penjualan manusia.

Saat mencari tahu lebih lanjut, keraguan lain muncul. Rupanya ada peserta difabel turut serta.

Oh iya, itu juga adalah kali pertama saya mendengar dan mengetahui kata “difabel”. Sebelumnya yang saya tahu dan ucapkan ya, hanya kata “cacat”.

Beruntung guru-guru seperti Pak Asnul dan Kak Yhaya mendukung saya. Juga setelah mengetahui ketua panitianya, kak Nur Syarif Ramadhan ternyata berasal dari tempat tinggalku, Bontonompo, Kabupaten Gowa.

Sayapun membulatkan niat untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Menghindari rasa canggung, saya berkenalan dengan beberapa peserta lain melalui chat WA. Salah satunya dalah dengan Nabila May Sweetha. Saya merasa makin mantap ikut Perkemahan Pemuda ini.

Proses chat-chatan berlanjut sampai hari keberangkatan. Beberapa peserta dari luar Makassar berkumpul di Makassar sedangkan saya hanya menunggu bus di Bontonompo. Rute bus menuju Bulukumba akan melalui kabupaten Gowa. Saya bersiap dan mulai menunggu di depan pasar Bontonompo.

Merasa jenuh menanti, saya mengirim pesan chat ke Nabila. Saya tanya sudah di mana?

Nabila enteng bilang, tidak tahu.

Saya menyuruhnya melihat-lihat spanduk atau nama-nama toko-toko. Saya pasti akan mengenali wilayah dari tanda-tanda itu.

“Saya buta, tidak melihat,” begitu bunyi pesan Lala, panggilan akrabnya.

Betapa kagetnya saya dengan pengakuan itu. Saya lalu berfikir, bagaimana bisa ia membalas chat-chat selama ini jika ia tak melihat. Nabila pasti membohongi saya. Ia pasti hanya bercanda.

Saat bertemu barulah saya percaya bahwa ia memang buta dan mengerti bagaiman ia membalas pesan-pesan saya dengan hapenya.

Handphone yang dia gunakan menggunakan aplikasi pembaca layar (screen reader). Dia bisa membca pesan teks yang disuarakan oleh aplikasi itu. Dia bisa mengetik dengan tuts yang telah ia hapal letaknya dan mendengarkan isi kata-kata yang ia tulis dan mengeditnya jika keliru ketik.

Dari kegiatan SJYC inilah, saya mulai memiliki teman difabel.

Suasana Youth Camp Di Pantai Bira, Bulukumba

Pengalaman ini sungguh berkesan dan unik. Saya menemukan banyak hal baru yang membuat saya tertarik dan penasaran untuk tau lebih jauh. Bukan hanya Lala, ada juga Sandi yang Tuli dan Selvy, berkursi roda.

Sandi ini Tuli dan dia bilang ia sangat suka menonton konser. Ini aneh bagiku, sekaligus menarik. Sandi juga adalah peserta yang paling ekspresif. Ia seperti tak peduli dengan ketuliannya. Ia berbahasa dengan wajahnya. Dan keramahan itu selalu ia tampakkan diwajahnya. Kami bisa berbicara dengan tulisan di kertas jika diperlukan.

Sepanjang kegiatan, saya menikmati belajar bersama teman-teman baru itu. Saya mulai berfikir, jika saja sistem belajar yang diterapkan di kegiatan ini juga diterapkan di SD saya dulu, mungkin saya dan teman-teman tidak akan menjadi pelaku diskriminasi. Ternyata, betapa indahnya belajar dengan memadukan kelebihan dan keterbatasan dan betapa indahnya bentuk nyata dari toleransi ini.

Saya bersama teman-teman SJYJ, ada Sandi (Tuli) di belakanku, dan Selvi (berkursi roda) saat kami berekreasi usai SJYC di Pantai Bara, Bulukumba

Saya makin tertarik dengan dunia difabel hingga saat kuliah sayapun akhirnya bergabung di PerDIK. Pelan-pelan, saya mengikuti kegiatan-kegiatannya.

Semakin lama, saya belajar dan mengetahui bagaimana teman-teman difabel beraktifitas dan belajar. Bukan hanya teknologi yang mengubah tulisan menjadi suara, ada juga teknologi yang mengubah suara menjadi tulisan yang biasa digunakan oleh teman Tuli.

Pun juga cerita-cerita dari kak Muhammad Luthfi. Ia seorang dengan mata tak melihat sama sekali, buta namun sering menikmati tontonan di bioskop.

Saya heran setangah mati. Tak punya bayangan bagaimana Kak Luthfi menikmati tontonan.

“Ada pembisiknya, Lina,” katanya suatu hari.

Tapi saya tetap penasaran bagaimana itu terjadi. Saya hanya membayangkan tapi belum melihatnya langsung.

Rasa penasaran itu terjawab beberapa hari lalu. Pada 9 Januari 2021, kami nonton bareng di Rumah PerDIK.

Usai kami menuntaskan agenda Rapat Kerja Tahunan sekian hari di Malino dan lanjut di Rumah PerDIK, kami bikin acara nobar dan menginap di Rumah PerDIK.

Malam itu, rasa penasaran sayapun terbayar tuntas!

Disepanjang pemutaran film, kami bergantian mendeskripsikan cerita film kepada teman-teman kami yang tidak melihat, termasuk Kak Luthfi. Ia paling bersemangat. Ia memang seorang penonton serius.

Deskripsi film yang disampaikan oleh pembaca—disebut juga Audio-describer—telah membantu penonton netra mengikuti alur cerita. Saya pun malah terbantu juga. Jika ada adegan yang tak ingin saya lihat karena takut atau jijik, saya cukup menikamtinya dari uraian sang pembisik.

Film yang kami tonton malam itu berjudul Silenced. Ini film Korea Selatan yang menceritakan kisah pelecehan seksual di lingkungan sekolah dan asrama Tuli. Ini kisah nyata.

Poster film Silenced

Dalam film ini, bukan hanya anak perempuan Tuli yang menjadi korban pelecehan, kekerasan bahkan eksploitasi seksual, tetapi juga anak-anak lelaki (usia kanak-kanak). Pelakunya adalah guru dan kepala sekolahnya. Saya tak habis pikir. Orang yang seharusnya melindungi justru mencelakai anak-anak.

Dari awal cerita, kami terbawa suasana dan dibuat geram dengan perlakuan-perlakuan biadab pelaku dalam film. Bertambah jengkel dengan akhir cerita di mana para pelaku mendapat hukuman ringan. Pelaku yang juga orang penting di kota itu, seorang agamawan yang dermawan, serta relasi politik yang luas, membuatnya bisa menyogok dan mempengaruhi para Aparat Penegak Hukum.

Hukuman yang diterima sangat tidak sesuai dengan penderitaan serta trauma para korban. Di akhir cerita, kesal karena proses hukum tidak memuaskan korban, seorang korban anak lelaki ini memilih menuntaskan dendamnya dengan menikam gurunya. Tikaman lemah itu menusuk perut dan guru itu terjatuh di atas rel kereta (asrama sekolah ini dekat dengan jalur kereta). Sialnya, guru itu menarik baju anak lelaki ini dan memeluknya sesaat sebuah kereta melaju dan menabrak tubuh keduanya.

Meskipun mengetahui bahwa cerita ini diangkat dari kisah nyata, sehingga akhirnya sangat mungkin memang hal tragis, saya tetap berharap diakhir film para korban mendapat keadilan.

Walau berakhir tragis, menurutku ada banyak hal yang dapat diketahui melalui adegan-adegan dalam film itu. Khususnya berkaitan dengan kurangnya pemenuhan hak-hak difabel serta pelanggaran-pelanggaran lainnya yang sering terjadi.

Pada plot di ruang persidangan, adegan sidang pertama memperlihatkan para Tuli protes karena hak mereka untuk mendapat juru bahasa isyarat dalam persidangan tidak terpenuhi. Juga ada adegan para polisi berusaha membubarkan para Tuli yang sedang berdemo, namun menggunakan TOA yang tentu tak dapat didengarkan. Ini melanggar etika berkomunikasi bersama tuli.

Bagi saya, momen mennonton bareng malam itu sungguh berkesan.

Semoga kelak, apa yang menjadi tujuan dari pergerakan-pergerakan kami bisa terwujud.

Saya pribadi memimpikan lingkungan yang selalu menerima siapapun. Semoga perasaan hangat toleransi seperti ini kelak tidak hanya saya rasakan di lingkungan PerDIK, melainkan tercipta di setiap pojok Indonesia dan di manapun saya berada[].

Hari Tuli Nasional dan Obrolan Pertemanan di Antara Sunyi dan Bunyi

Oleh Nabila May Sweetha, Penulis dan Aktivis Difabel PerDIK

Saya mengenal Andi Kasri Undru (Akas) awalnya hanya melalui cerita-cerita santai anggota keluarga PerDIK. Sebagai anak yang terlalu banyak tanya, selalu penasaran, saya sangat antusias mendengar kisah-kisah tentang Akas.

Dulu saya hanya melihat kawan Tuli di sinetron-sinetron (Salah satu sinetron yang pernah saya tonton waktu saya masih melihat itu berjudul, ‘Ayah, Mengapa Aku Berbeda?’ la ingin tahu apakah Tuli yang digambarkan dalam senetron sama dengan realita atau tidak. Tapi sayangnya Kak Akas, begitu saya memanggilnya, masih kuliah di Jakarta. Jarak antara Makassar dan Jakarta cukup jauh untuk mempertemukan kami.

Akas di salah satu kegiatan PerDIK, Berbahasa isyarat pada Guru-guru SMP Dian Harapan

Sebenarnya akhir 2018 kami pernah bertemu, tapi tidak saling menyapa. Saat itu saya baru saja pulang dari festival pemuda di Gorontalo di salah satu kegiatan ISJN (Indonesia Social Justice Network), dan singgah ke Bantimurung (Maros, Sulawesi Selatan) tempat Akas dan pemuda lainnya sedang mengikuti pelatihan yang diadakan oleh PerDIK—Youth for Equality. Tidak ada waktu untuk bertemu. Keletihan saya habis menempuh perjalanan jauh, dan kesibukan Akas sebagai peserta pelatihan membuat kami tidak sempat bersua.

Tapi memang waktu itu Akas sepertinya belum mengenal saya, baru saya saja yang penasaran ingin berkenalan dengannya. Pertengahan 2019 juga kami hampir bertemu, saat itu Akas pulang ke Makassar bertepatan dengan peresmian PustakAbilitas (Perpustakaan dan sayap PerDIK dalam memproduksi juga menyebarkan pengetahuan). Kami sudah janjian, melalui chat WA Akas berjanji akan menunggu saya di PerDIK. Tapi sesampai saya di PerDIK, jangankan berkenalan, bahkan Akas tidak menegur saya. Mungkin waktu itu Akas masih malu, baru pertama bertemu juga, jadi saya memaklumi. Toh, saya juga sama pemalunya.

Tapi kami sering chat di WA, saya aktif bertanya hal-hal mengenai teman Tuli pada Akas. Setelah menulis naskah novel ‘ubur-ubur di matamu’, karya kedua saya dalam bentuk novel, saya berencana ingin menulis naskah ketiga dengan konflik kawan Tuli. Dan satu-satunya kawan Tuli yang saya akrabi waktu itu hanya Akas seorang. Kami kemudian berjanji lagi untuk bertemu, jika Akas ada waktu untuk berlibur ke Makassar.

Akas memang sering berlibur ke Makassar, itu saya perhatikan dari intensitasnya berkunjung ke rumah PerDIK. Akas memang anak Sulawesi tulen, dia lahir di Wajo, yang cukup jauh dari kota Makassar. Sebelum mengambil jurusan hukum di salah satu universitas di Jakarta, Akas pernah berkuliah setara D3 di Makassar. SD, SMP, dan SMAnya dia selesaikan di sekolah reguler.

“Dibully teman itu biasa, saya juga begitu pas masih sekolah. Tapi cuekin saja,” begini pernah ia menasihati saya.

Pemuda yang tumbuh dalam usaha keras untuk bisa berbicara lisan ini tidak tuli total, pendengarannya masih tersisa sedikit. Jika telinganya dipakaikan alat bantu dengar, kalimat mengalir dari mulutnya seperti tidak mau berhenti. Tahun 2020 lalu itu, saat pandemi dan Akas pulang ke Makassar, menjadi tahun dengan mengenalnya lebih dalam. Dia menetap di rumah PerDIK berbulan-bulan, dan saya cukup punya waktu untuk mencuri-curi waktu berkenalan lebih lanjut dengannya.

Pernah sekali waktu Akas meminta bantuan saya untuk menjadi juru ketik (close captioni) dalam bimbingan skripsinya, karena juru bahasa isyarat yang biasa membantunya sedang berhalangan tidak bisa hadir. Saya mengiyakan, melalui Google Doc saya mengubah perkataan dosennya dalam bentuk suara menjadi teks yang bisa diakses olehnya. Di sanalah pertama kalinya Akas ingin memperdengarkan suaranya kepada saya. Itupun setelahnya, dia mengaku merasa malu.

“Kenapa malu? Suaranya biasa saja, kok,” saya berusaha menenangkan.

Saya takut penyakit malu Akas tiba lagi, dan usaha saya dalam mengenal kawan Tuli bisa tersendat lagi. Syukurnya, Akas tidak malu lagi. Mungkin masih agak sungkan, canggung, atau bagaimanalah. Tapi satu dua kali kami pernah mengobrol lepas via panggilan audio. Dia bisa mendengar suara saya dengan cukup jelas, karena menggunakan alat bantu dengar yang katanya punya harga begitu mahal.

“Kak Akas suka pake alat bantu atau tidak?” Tanya saya pada salah satu waktu.

Akas dalam beberapa ekspresi berbahasa isyarat saat pelatihan PerDIK “Youth for Equality, 2018.

Dia diam sebentar, mungkin berpikir, lalu dengan suara agak ragu menjawab dia lebih suka tanpa alat bantu. Baginya, alat bantu membuat dia lelah. Dia lebih suka menggunakan bahasa isyarat. Alat bantu dengar membuatnya berusaha untuk mendengar lebih keras lagi.

“Terus kenapa alat bantunya dipakai?” Tanya saya heran.

“Karena kalau tidak dipakai, alat bantunya bakal rusak,” kata Akas dengan lancar.

Perbincangan dengan dia memang mengalir begitu lancarnya, begitu menyenangkan. Selain karena Akas melafalkan kalimat benar-benar dengan jelas, juga karena dia sering bercanda.

Bagi saya, memiliki teman Tuli itu sangat menyenangkan. Begitu juga saat memiliki teman dengan disabilitas fisik, mental, intelektual dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan itu membuat saya semakin penasaran lagi, semakin ingin tahu lagi. Apa yang berbeda? Apa yang menarik? Apa yang perlu saya pelajari dari teman-teman? Bagaimana etika berkawan dengan teman Tuli, difabel fisik, mental, atau intelektual? Memahami mereka membuat saya merasa lebih menjadi manusia lagi.

“Suara ketawa Lala begini, ya?” Akas mengucapkannya sambil terkekeh.

Itu pertama kali kami mengobrol melalui telepon, mungkin dia baru pertama kali memerhatikan suara saya. Dan saya bahagia sekali bisa memperdengarkan suara saya pada Akas. Walau sebenarnya, jika diminta memilih, saya lebih ingin Akas berbicara dengan bahasa isyarat atau melalui teks di ponsel. Saya paham bagaimana rasanya memaksakan kemampuan orang lain. Memakai alat bantu dengar bagi teman Tuli, sama saja dengan memaksa teman Buta memakai kaca mata tebal hanya demi bisa menulis di lembaran kertas.

Fenomena memaksakan kemampuan pada anak difabel memang kerap kali kita temui. Kalau misalnya dulu sewaktu kecil Akas dilatih setiap hari untuk melafalkan satu kata yang fasih, dan diiming-imingi hadiah tiap kali ia berhasil oleh tantenya, Saya juga pernah dipaksa menulis dengan tangan dan pulpen, dengan keadaan mata yang sudah kabur berat. Hasilnya? Tulisan saya keluar baris, menari sana-sini, mirip barisan tentara yang salah formasi.

Sering kali memang orang awam mengusahakan bagaimana mungkin, anggota keluarga dan atau murid mereka bisa melakukan hal yang dilakukan orang lain. Selagi masih bisa dipaksa, ya lebih baik dipaksa menurut mereka. Tapi ini tidak masalah, itu hanya masalah bentuk pengetahuan yang diterima oleh masing-masing orang.

Saya harap kemudiannya bahasa isyarat bisa menjadi bahasa nasional, film serta berita-berita bisa dilengkapi dengan bahasa isyarat, dan semua yang berbentuk suara di ruang-ruang publik bisa diterjemahkan ke dalam bentuk teks. Agar teman-teman Tuli seperti Akas tidak merasa lelah lagi harus susah-susah mendengar, susah-susah bicara.

Selamat hari Tuli! Semoga kedepannya kita lebih peduli dan sadar lagi, bahwa tidak semua suara harus didengarkan, dan tidak semua kata-kata harus diucapkan[].

Pembacaan puisi M Aan Mansyur berjudul
Sajak buat Istri yang Buta dari Suaminya yang Tuli

Impian Masa Kecil Seorang Tuli Menjadi Superhero

Oleh: Andi Kasri Unru, Mahasiswa, Aktivis Tuli, PerDIK

Saat saya masih SD, saya pernah bermimpi ingin menjadi seorang superhero,yang akan menolong orang-orang yang diperlakukan tidak adil.

Saat ini, di usia yang memasuki fase dewasa awal, saya bertanya-tanya, bagaimana saya bisa berpikir seperti itu saat kecil?

Mengapa saya bermimpi ingin menjadi seorang pahlawan super?

Akas kecil (tengah) bersama saudara-saudaranya

Saya berusaha mengingat-ingat apa alasan saya, sepenggal demi sepenggal saya merajut ingatan. Tidak ada jawaban pasti. Saya kembali melihat diri sendiri, seorang Tuli yang masih memiliki sisa pendengaran. Biasa disebut dalam dunia medis sebagai ‘Tunarungu’.

Saya mengenal istilah ini dari seorang dokter. Saat itu, usia saya masih kanak-kanak. Keluarga membawa saya berobat di Rumah Sakit di Kota Makassar. Jaraknya cukup jauh dari rumah saya di Wajo, Sulawesi Selatan. Dokter memeriksa, kemudian memvonis bahwa saya tunarungu. Dokter ini kemudian menyarankan saya menggunakan Alat Bantu Mendengar (ABM). Tapi saran Dokter tidak saya turuti. Saya merasa malu menggunakannya. Lagipula, saya tidak ingin menjadi bahan celaan dan candaan teman-temanku. Apalagi harga ABM sangat mahal bagi keluarga saya. Saat itu, bahkan sampai sekarang, perlakuan stigmatik bagi orang Tuli mudah terjadi. Dalam Bahasa Bugis, orang Tuli disebut juga To Banta’.

Saya bersekolah di SD hingga SMA umum. Keinginan saya untuk bersekolah di Sekolah Luar Biasa tidak pernah kesampaian. Saya memang mengetahui kalau ada sekolah khusus untuk siswa Tuli. Tapi SLB Tuli atau SLB B saat itu hanya ada di Kota Makassar, dan itu jauh dari kampungku. Sekitar lebih seratus kilometer.

Masa kecil saya, sebagai Orang Tuli tidak begitu ceria. Saya menerima ejekan dan candaan nyaris setiap hari. Bahkan sampai saat saya tamat SMA.

Pada 2013, saya mendapatkan beasiswa bidikmisi. Saya lalu memutuskan kuliah di Makassar. Saya memilih jurusan D3 Teknik Mesin dengan Prodi Teknik Konversi Energi. Selama 3 tahun berkuliah, saya mengalami banyak tantangan dan hambatan dalam memahami setiap perkuliahan yang ada. Berbagai rintangan saya hadapi dan berusaha melewati. Di masa-masa ini, saya masih sering menyembunyikan ketulian saya. Saya berpurta-pura memahami perbincangan. Namun, karena itu, saya malah pernah dibilangi sombong oleh Teman-teman, karena saat dipanggil tidak menengok. Tapi, dalam hal prestasi akademik, saya berhasil. Saya berhasil lulus dan malah mendapatkan IPK yang sangat memuaskan.

Foto Wisuda D3 Prodi Teknik Konversi Energi, Jurusan Teknik Mesin, Politeknik Negeri Ujung Pandang.

 “Kehidupan yang sebenarnya akan datang dan terus menghampiri seminggu setelah wisuda. Kamu harus bersiap-siap. Jangan senang dulu,” begitu pikirku.

Selulus kuliah, sebenarnya, saya membayangkan diri saya pasti mendapatkan pekerjaan. Saya percaya akan diri dan kemampuan saya. Namun, senyatanya saya masih harus menghadapi kenyataan pahit. Awal 2017, saya melamar di salah satu perusahaan BUMN dan mengikuti serangkaian tes. Saya berhasil lolos sampai tes kesehatan.

Saat tes kesehatan berlangsung, saya memasuki salah satu ruangan untuk tes kesehatan bagian dalam. Dokter mulai menanyakan alat bantu mendengar yang menempel di telinga saya. Ya, ABM itu saya gunakan sejak SMA dan telah membantu saya dalam menyelesaikan studi saya.

Saya mulai khawatir. Berbagai pikiran buruk melintas di benak saya. Benar saja, saya tidak diloloskan ke tes selanjutnya di tahap akhir, wawancara.

“Sampai kapan saya harus menghadapi rintangan-rintangan tersebut? Kapan saya mendapat pekerjaan? Mengapa orang-orang melihat saya sebagai Tuli, bukan melihat dari kemampuan saya?” begitulah tanya demi tanya dalam pikiran terlintas.

Sayapun memutuskan pulang kampung meski pikiran perlakuan diskriminatif itu terus berputar di kepalaku selama sebulan lebih.

Tidak lama, saya memutuskan bangkit dan kembali lagi ke kota. Saya tidak bisa berdiam diri di rumah saja. Saya mulai menjelajah di internet dan mencari segala informasi tentang pengalaman yang saya alami, berujung mempertemukan saya dengan Dunia Tuli dan Disabilitas. Saya berinteraksi dengan teman Tuli dengan menggunakan Bahasa Isyarat. Yah, saya sudah mulai memahami Bahasa Isyarat dan mempelajarinya langsung dari Tulinya sendiri. Saya merasakan manfaatnya, itu sangat memudahkan untuk berkomunikasi dan saya bisa mengungkapkan perasaan serta ekspresi secara utuh.

Dunia saya berubah. Semakin saya melihat lingkungan saya, saya seperti bercermin tentang diri saya. Banyak di antara mereka mengalami diskriminasi, tidak dapat diterima bekerja hanya karena keterbatasan akses informasi dan komunikasi. Saya lalu mencari informasi lebih dalam tentang diskriminasi dan mempertemukan saya dengan salah satu organisasi Difabel di Makassar yaitu PerDIK (Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan). Saya memutuskan untuk mulai bergabung dan ikut aktif menyuarakan hak-hak Tuli dan Disabilitas.

Pada bulan Juli 2017, saya mendapat informasi tentang beasiswa kuliah di jurusan Hukum dan beasiswa tersebut disponsori oleh salah satu Organisasi Nirlaba dari Amerika, yang di mana semua anggotanya Tuli. Mereka mencari kandidat Tuli yang berasal dari Indonesia, yang ingin berkuliah di jurusan hukum. Saya merasa tertantang dan merasa harus mengambil kesempatan berharga tersebut. Beasiswa tersebut sangat sesuai dengan keinginan saya kuliah lagi dengan jurusan yang sesuai dengan latar belakang pergerakan advokasi saya saat ini.  Saya kemudian mendaftar di salah satu kampus swasta terbaik di Jakarta, Universitas Esa Unggul. Saya diterima. Orang yang mengenalkan saya dengan beasiswa ini adalah Michael Stein Steven. Dia pendiri Organisasi D-LAW di Amerika Serikat.

Berfoto dengan Michael Stein Steven (Pendiri Organisasi D-LAW, Pemberi Beasiswa Tuli berkuliah jurusan hukum) dan Muh. Andika Panji (Penerima Beasiswa D-LAW dan sesama Pendiri IDHOLA)

Sejak kuliah, saya juga aktif di beberapa organisasi seperti Young Voices Indonesia, Pandulisane, dan Gerkatin. Pengalaman saya berada di organisasi dan komunitas tersebut mengajarkan saya mengenal Disabilitas lebih luas dengan kebutuhan aksesnya.

Awal 2020, saya memanfaatkan waktu libur untuk magang di salah satu organisasi Difabel di Jogjakarta, yakni SIGAB Indonesia. Saya ditempatkan di bagian advokasi dan pendampingan hukum. Saat saya magang, saya diberi kesempatan ikut bersama dengan Tim Advokasi dalam proses pendampingan difabel berhadapan dengan hukum. Saat itu saya mendatangi rumah korban di salah satu desa di Gunung Kidul. Saya mengikuti setiap proses, saya melihat bagaimana proses itu berjalan dan memberikan saya banyak hal serta perspektif yang lebih luas.

Berfoto di depan papan nama Kantor LBH Makassar

Korban dari kasus yang saya tangani merupakan seorang perempuan Tuli yang mengalami kekerasan seksual. Selain itu, korban berkomunikasi dengan bahasa isyarat alami dan tidak memahami bahasa isyarat yang umum digunakan oleh teman-teman Tuli dan juga mampu berbicara bahasa Jawa. Saya melihat data diskriminasi terhadap difabel lebih banyak lagi. Hasilnya, saya melihat fakta bahwa kasus seperti ini tidak hanya terjadi di satu daerah saja. Banyak kasus serupa di daerah lain.

Di Kota Makassar, menurut data PerDIK, kasus kekerasan seksual yang melibatkan Difabel sepanjang 2017 tercatat oleh Tim Advokasi PerDIK terdapat  delapan kasus. Sebagian kecil dari kasus tersebut berhasil masuk ke ranah kepolisian. Saya turut tergabung menjadi bagian di dalamnya sebagai anggota yang mengadvokasi difabel, yang berhadapan dengan hukum dan juga alasan saya mengapa perlu bersekolah dengan latar belakang hukum.

Jadi, pilihan kuliah dan bidang advokasi yang saya pilih ada kaitannya untuk memperkuat divisi atau organisasi PerDIK untuk mengadvokasi hak difabel. Contoh, salah satu kasus yang pernah kami tangani di PerDIK, yaitu seorang gadis Tuli yang menjadi korban pemerkosaan dan itu terjadi di beberapa daerah seperti Makassar, Soppeng, dan Bulukumba. Dalam kasus ini, korban (Tuli) berhak mendapatkan perlakuan khusus seperti didampingi juru bahasa isyarat (JBI) untuk memudahkannya menyampaikan keterangan dan pendampingan hukum secara setara dengan perspektif gender dan Disabilitas yang tepat. Bukan mengabaikan hak-haknya sehingga membuat korban tidak mendapatkan keadilan yang fair. Catatan kasus tersebut dapat ditemukan di Link https://ekspedisiDifabel.wordpress.com/2017/03/25/kekerasan-seksual-anak-gadis-Difabel dan-sejumlah-kekhawatiran-yang-harus-terjawab/.

Berdasarkan kasus tersebut, tentu saja memberikan saya banyak pertanyaan yang terlintas, “Mengapa hal itu bisa terjadi?”. Salah satunya, selama proses pendampingan banyak tantangan yang dihadapkan. Sebagai contoh, pihak kepolisian yang masih awam mengenai isu Disabilitas juga kerap keliru memperlakukan difabel berhadapan dengan hukum. Mereka bingung bersikap tidak tahu-menahu tentang bagaimana berinteraksi dengan difabel serta tidak mengetahui tentang cara penanganan yang tepat. Penegak hukum kerap merendahkan martabat Difabeldifabel. Kami menyebut perilaku seperti ini sebagai Audisme, atau perspektif orang dengar yang merasa superior dari orang Tuli dan merendahkan kemampuan mereka. Akibat pandangan Audisme ini (disadari atau tidak) kemampuan dan kecakapan hukum difabel sering kali diremehkan. Menurut saya, harus ada pengetahuan baru dan edukasi yang tepat bagi para aparat penegak hukum, agar sikap dan perlakuan audis—sebagaimana perlakuan ableist (dalam konteks lebih luas terkait perlakuan stigmatik bagi difabel) tidak terjadi lagi .

Berfoto dengan Panji dan Yusuf (Bekerja sebagai Juru Ketik di setiap kelas perkuliahan dan Pendiri sekaligus CEO Silang.id)

Selain kasus tersebut, bagaimana dengan penegakan hukumnya? Difabel juga berhak atas proses peradilan yang fair sebagaimana yang diamanahkan oleh pasal 14 International Covenant on Civil and Political Rights. Pasal ini berisi jaminan prosedural agar peradilan berjalan dengan baik dan fair. Beberapa kekhususan yang harus diperhatikan pada proses peradilan bagi difabel adalah kebutuhan ketersediaan layanan peradilan yang berbeda dengan orang kebanyakan.

Ketersediaan layanan ini berkaitan dengan dua hal, yaitu aksesibilitas fisik dan aksesibilitas prosedural. Berkaitan dengan kewajiban peradilan untuk memastikan bahwa sarana fisik seperti gedung pengadilan, ruang sidang, berkas acara pemeriksaan, surat dakwaan maupun tuntutan aksesibel bagi difabel. Gedung bertingkat dengan lantai berundak yang tajam pastilah menyulitkan pengguna kursi roda untuk mengakses peradilan. Berkas dakwaan dan tuntutan dalam bentuk hardcopy pasti akan menyulitkan bagi difabel netra untuk membacanya. Debat persidangan yang berbahasa rumit akan menyulitkan difabel intelektual untuk memahami dakwaan atau tuntutan bagi mereka.

Aksesibilitas prosedural berkaitan dengan hukum acara yang pada beberapa contoh lain yang masih mengganggu akses Difabel. Kita mengambil contoh mengenai ketentuan saksi. Saksi yang dimaknai secara khusus hanya orang yang melihat dan mendengar sendiri pasti akan sangat sulit dipenuhi bagi difabel netra dan seorang Tuli.

Selama perkuliahan, saya juga sering kali mengikuti proses beracara di pengadilan. Selain untuk menyelesaikan tugas perkuliahan, saya tetap mengamati dan melihat bagaimana akses yang ada di pengadilan. Yang saya lihat secara langsung, sangat jauh dari apa yang selama ini disuarakan oleh teman-teman difabel dalam menyuarakan pentingnya aksesibilitas fisik, arsitektur, infrastruktur maupun literatur.

Berdiskusi dengan ketua Hakim PN Wonosari beserta jajarannya mengenai peradilan yang akses untuk Disabilitas

Dari permasalahan tersebut, hal ini menguatkan tekad saya untuk tetap berjuang di garis perjuangan bersama teman-teman difabel serta berupaya mendorong perubahan dalam Dunia Hukum. Sudah seharusnya dunia hukum berbenah dan meningkatkan kesadarannya akan kehadiran difabel. Apalagi Pemerintah Indonesia telah meratifikasi Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak difabel (UN CRPD) pada 2011 dan telah menerbitkan Undang-undang Nomer 8 tahun 2016 tentang Penyadang Disabilitas. Hal ini akan menjadi pedoman  bagi saya untuk tetap bergerak dan mengadvokasi hak-hak Disabilitas dalam peradilan.

Saya tahu itu adalah sebuah mimpi yang sangat besar. Tapi tekad saya sangat bulat, saya tetap meyakini mimpi itu akan terwujud.

Pada awal Maret 2020, saya kembali ke Jakarta setelah selesai magang di Jogja dan paginya tiba di Stasiun Pasar Senen. Saya mengaktifkan gawai saya dan membaca notifikasi berita, Indonesia mendapati kasus pertamanya Covid19 dan menjadi trending topik. Karena wabah Covid19, hampir setiap hari Pemerintah Indonesia mengadakan press conference di depan layar TV nasional untuk memberikan informasi arahan dan tindakan kepada masyarakat Indonesia namun informasi tersebut tidak sampai kepada orang-orang Tuli karena tidak disediakannya juru bahasa isyarat dan teks pada layar tv.

Hal tersebut memicu kemarahan dan protes orang-orang Tuli karena pemerintah tidak menghormati hak-hak fundamental Tuli dalam memperoleh informasi dan saya mewakili Hard of Hearing beserta teman-teman Tuli lainnya berinisiatif membuat surat terbuka kepada Presiden Republik Indonesia untuk tidak meninggalkan dan menghilangkan hak-hak orang-orang Tuli serta segera membentuk tim interpreter yang bertugas saat press conference. Dua hari kemudian, pemerintah sudah memberikan akses interpreter saat menyampaikan press conference dan teks lewat video dan itu merupakan kerja advokasi yang berhasil dan dapat dinikmati oleh seluruh Tuli di Indonesia. Jika teman-teman ingin membaca isi suratnya sila berkunjung ke web PerDIK atau meng-klik tautan ini https://ekspedisidifabel.wordpress.com/2020/03/16/tuli-dan-sepucuk-surat-untuk-presiden-indonesia/

Bersama Tim PerDIK saat Penyusunan Renstra PerDIK di Malino, Desember 2020

Pada bulan Oktober 2020, saya kembali mengikuti praktik magang di Kota Makassar, tepatnya di LBH Makassar. Saya ditawari oleh Direktur PerDIK, Kak Rahman Gusdur untuk magang di sana. Magang kali ini sebagai tugas praktik kuliah yang seharusnya magang dilakukan di Jakarta tapi karena adanya Pandemi Covid19 perkuliahan dialihkan ke sistem daring yang awalnya dilakukan dengan tatap muka.

Perkuliahan dengan sistem daring membuat sebagian besar mahasiswa memilih pulang kampung termasuk saya. Perkuliahan sistem daring ini banyak menuai permasalahan, khususnya sebagai mahasiswa Tuli. Pendapat saya mengenai sistem daring ini dimuat dalam tulisan Tirto, teman-teman dapat membacanya di tautan ini https://tirto.id/kuliah-online-di-indonesia-yang-tak-ramah-bagi-mahasiswa-tuli-fQbZ.

Pandemi Covid19 memaksa saya harus magang di Kota Makassar dan sangat bersyukur karena dapat lebih dekat dengan kawan-kawan di PerDIK dalam waktu yang lama. Selama magang, saya mendapati pengetahuan baru yang tidak saya temui di bangku perkuliahan dan juga mendapati hambatan. Seperti, saat saya ditugaskan untuk mendampingi pewawancara dalam melakukan wawancara dengan Pemohon bantuan hukum, saya kesulitan melakukan proses wawancara. Hal ini dikarenakan pandemi covid19 harus mengikuti aturan Protokol Kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

Sebagai Tuli, saya dapat membaca gerak bibir lawan bicara dan saat Pemohon menggunakan masker saya kesulitan untuk berkomunikasi karena bagian mulutnya yang tertutup masker sehingga tidak dapat memahami apa yang dikatakan oleh Pemohon. Selain itu, LBH Makassar merupakan salah satu lembaga bantuan hukum di Kota Makassar yang sudah mulai menerapkan sistem inklusif seperti menerima laporan korban dengan Difabel atau melakukan pendampingan hingga putusan ketika Difabel berhadapan dengan Hukum. Namun selama magang masih ada kesulitan ketika berkomunikasi dengan Difabel Tuli karena kurangnya pengetahuan tentang Budaya Tuli.

Awalnya mereka melihat saya seperti orang Dengar (Istilah untuk orang yang dapat mendengar) dan ketika berkomunikasi barulah sadar bahwa saya seorang Tuli. LBH Makassar telah melakukan langkah tepat untuk membukakan pintu yang seluas-luasnya kepada difabel untuk melakukan permohonan bantuan hukum jika berhadapan dengan hukum dan hal tersebut juga sebagai bentuk dukungan kepada Difabel sebagai pemegang hak asasi manusia.

Dukungan terhadap Tuli jangan terbatas pada proses Difabel Berhadapan Dengan Hukum saja, namun harus pula memasukkan unsur Budaya Difabel terutama Budaya Tuli. Pengalaman saya sebagai mahasiswa Tuli yang sedang magang di LBH Makassar menurut saya, juga penting menimbang Budaya Tuli yang saya miliki. Di dalam setiap proses kerja magang saya, khususnya dalam lingkaran terdekat LBH Makassar harus juga terbangun pemahaman itu. Advokat, Paralegal dan Staf LBH Makassar perlu turut mempelajari tentang perspektif difabel dan bagaimana berinteraksi dengan difabel dan itu akan sangat diperlukan ketika melakukan proses wawancara hingga pendampingan di peradilan.

Dari proses Panjang yang saya hadapi itu, sepertinya saya memang sedang mengarah pada pencapaian impian masa kecil saya, menjadi “super hero” bagi Tuli. Saya ingin mengabdikan diri dan kemampuan saya untuk memperjuangkan hak-hak Tuli khususnya dan difabel pada umumnya[]

Bisa hubungi Andi Kasri Unru atau Akas di andikasriunru@gmail.com, 085298912824

Menjadi Difabel dan Beberapa Kegagalan Membunuh Diri Sendiri

Oleh: Ryand Saputra Liman, Relawan PerDIK, mahasiswa Teknik Elektro Unismuh

21 September 2016, sekitar jam dua siang, aku mendapat kabar dari kakakku, Ricky.

“Ricka pingsan di rumah kos,” katanya kepadaku. Kos mereka berada di jalan Manunggal 45 Macini Sombala. Saat itu Makassar sedang mendung. Aku sedang di Panti Asuhan saat itu. Kedua kakakku dulu juga tinggal di panti yang sama. Tapi setelah dianggap bisa mandiri, mereka pun diminta keluar dari panti.

Aku kaget mendengar berita itu dan segera meminjam motor panti untuk ke rumah kos mereka. Aku pergi bersama temanku.

Sesampainya di rumah kos, aku langsung naik ke lantai dua tergesa-gesa. Begitu tiba di kamar, aku masuk dan melihat keadaan Ricka. Dia begitu pucat pasi seperti kekurangan darah akibat capek bekerja. Ricky menyuruhku membantunya membawa Ricka ke rumah sakit.

Aku mengikuti perkataan kakakku. Ricky lalu menggendong Ricka ke motornya. Setelah kami sampai di bawah, dia menaikkan Ricka yang setengah sadar ke motor. Aku memegangi Ricka yang lemah. Kami berangkat ke rumah sakit kira-kira pukul setengah tiga.

Kami tiba di rumah sakit Bhayangkara, jalan Mappaodang. Kami lalu mengurus agar Ricka dirawat inap.

Saat diberitahukan biaya tindakan pertama, kami kekurangan uang sejumlah seratus ribu rupiah.

Ricka mengatakan ada uang di lemarinya. Aku menawarkan diri mengambilnya. Tapi Ricky bilang biar dirinya saja. Mendengarnya, Ricka bilang kalua aku saja yang pergi. Ricky mengalah. Aku keluar dan meraih motor. Di sana masih ada kawanku menunggu.

Saat melangkah keluar dari UGD tadi, perasaanku tidak enak. Seperti ada gelisah dan ragu. Aku memandang langit. Awan menutupi tanpa celah. Mendung sore ini.

“Mendung ji itu, tidak hujan,” kawanku memantapkan keputusan untuk segera beranjak.

Akupun memperbaiki perasaanku dan menaiki motor bersama temanku untuk pergi mengambil uang itu.

Langit semakin menghitam dan gerimis mulai datang. Tak lama, hujan sudah menderas. Karena sudah dekat, saya memilih menambah laju kendaraan. Aku kesulitan membuka mata lebar-lebar. Butiran air hujan ini cukup besar seperti membentuk bola-bola kecil yang menghambur di wajahku. Saat akan memasuki jalan Bajiminasa, sekitar pukul 3 jalanan mulai terasa licin. Tiba-tiba, aku tak bisa menguasai laju motor. Motor terpeleset dan oleng. Motor terputar searah jarum jam dan kami terjatuh. Temanku terlempar ke kiri dan keluar dari jalur jalan raya sedangkan aku ke kanan masuk jalur kendaraan. Jalanan cukup ramai saat itu.

Tiba-tiba, sungguh cepat, sebuah mobil avanza berwarna merah melindas sebagian tubuhku. Aku sama sekali tak bisa mengelak. Gelap, aku pingsan.

Saat aku sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Saat itu pukul 9 malam. Aku melihat, Ricky dan Ricka menangis. Akupun mengulurkan tanganku yang kukepal untuk memberikan uang. Ricky memegang tanganku.

“Apa?” ujar Ricky heran.

“Uang kak Ricka, seratus ribu,” ujarku.

“Di tangan mu tidak ada apa-apa,” ia heran.

Aku kaget dan segera melihat kepalanku yang melompong kosong.

Aku diam sejenak.

“kenapa terbaring ka di sini, kak?” aku bertanya masih heran dan takt ahu kejadian apa yang telah terjadi.

“Tadi saat kau kecelakaan,” ujar Ricky tampak sedih.

Aku terheran-heran dan tak mempercayai hal itu. Aku merasa kecelakaan tadi hanyalah mimpi. Tetapi rupanya itu kenyataan.

Sejak perawatan, teman-teman pantiku datang dan melihatku terbaring di atas tempat tidur pasien.

Awalnya aku tidak merasa sakit sedikitpun. Namun setelah sadar, aku melihat sosok putih di jendela rumah sakit. Sosok putih itu seperti bersinar.

Aku bersaha tenang dan berkata dalam hati, sosok apa itu tadi? Apakah barusan aku hamper saja mati?

Aku terdiam, mencoba merenung. Aku memilih tak memberitahukan siapapun mengenai sosok putih bersinar itu.

Keesokan paginya, aku merasakan hal aneh. Biasanya aku akan kencing di pagi hari, tapi sampai saat ini tak ada rasa ingin kencing. Aku masih diam dan menganggap tak terjadi hal yang mengkhawatirkan.

Tapi, saat hendak membalikkan badan, aku merasa kesulitan. Kakiku tidak mau bergerak sedikit pun?

“Kak, kakiku tidak bisa bergerak, kenapa?” tanyaku kepada Ricky. Ricky terdiam, tak menjawab apapun. Mungkin ini efek obat, pikirku. Akupun melanjutkan tidur.

Siang hari, aku terbangun. Sosok putih bersinar itu datang lagi. Kini ia lebih dekat dari tubuhku. Ia tepat di bawah kakiku. Aku terkejut tapi tak merasa takut. Aku malah tersenyum padanya.

Sosok itu menghilang lagi.

Aku berupaya membalikkan badan lagi. Tapi tak bergerak sedikitpun. Mengapa efek obat begitu lama hilangnya, pikirku.

Tak lama, Ricky datang dan mencoba membantuku bergerak. Setelah itu dia berkata, “Coba bangun duduk.”

Aku mencobanya. Badanku tetap diam. Aku sangat kesulitan bergerak. Aku mulai menangis. Aku juga bertanya kepada Ricky, kenapa aku tidak bisa bergerak.  Ricky membantuku duduk. Aku seperti batang pohon yang patah.

Perlahan, Ricky membantuku. Ia mengangkat tubuhku, coba berdiri. Namun ketika Ricky melepas tubuhku, badanku terjatuh ke lantai tak berdaya. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku kalut dan tak menyentuh makanan apapun. Aku hanya minum segelas air setiap hari. Setelah seminggu, aku tetap tidak bisa menggerakkan kedua kakiku.

Bahkan setelah dua bulan kemudian, setelah menjalani operasi di Rumah Sakit Wahidin, aku mengira akan bisa berjalan kembali. Tapi dari 14 dokter yang menanganiku, Sebagian besar menyatakan tidak bisa Kembali berjalan.

Seteleh mendengar hal itu, aku menangis sejadi-jadinya. Sepertinya dunia menjadi gelap gulita. Masa depan terenggut seketika. Aku panik dan terus menangis.

Hari-hari selanjutnya, aku masih dalam perawatan. Ada kekasihku turut menjaga di rumah sakit. Tapi saya masih merasa remuk redam. Semuanya hancur.

Kekasihku memelukku. Ia berusaha memberiku kekuatan. Aku tahu itu.

“Sudah mi, jangan menangis terus,” katanya menenangkanku. Tapi aku masih tetap gelisah dan kepanikan berkecamuk dalam diriku.

Seminggu kemudian, aku masih dirawat di Rumah Sakit. Pikiranku belum tenang.

Suatu pagi, kekasihku mengajakku untuk jalan-jalan dengan kursi roda. Aku perlu udara segar dan menyamankan suasana hatiku. Ia mendorongku dan kami sudah di luar kamar. Belum jauh beranjak, aku memintanya agar ia mengambilkan air mineral di kamar. Aku sengaja memintanya agar ia masuk dan meninggalkanku sejenak. Ya, aku hanya butuh beberapa detik untuk melakukannya tanpa sepengetahuannya.

Ia masuk dan aku mulai beranjak. Aku memutar ban kursi rodaku mendekati tangga. Aku ingin membunuh diriku sendiri.

Aku sudah di bibir tangga. Sedikit lagi aku bergerak dan akan mati.

Tanpa keraguan aku mendorong kursi rodaku lebih cepat dan terjadilah petaka itu.

Aku meluncur bersama kursi roda dan terpelanting, terguling-guling sampai ke lantai satu. Aku merasakan benturan berkali-kali. Tiba di lantai dasar, kepala kuberdarah, tubuhku seperti remuk, dan sial, Aku tak mati!

Di atas, kekasihku panik dan mendengar kegaduhan barusan. Ia bergegas turun dan menemukanku di lantai bawah dengan kursi roda terbalik. Tubuhku tertindih kursi roda. Sakit sekali rasanya. Darah masih bercucuran di kepalaku. Sialan betul, akum au mati, bukan cuma berdarah.

Setelah sebulan, aku keluar dari rumah sakit. Aku kembali ke panti asuhan di mana aku selama ini tinggal.

Dalam panti, suasana perlahan berubah. Aku merasa kehilangan Teman-teman di sini. Aku merasa mereka jarang mengajakku bicara. Aku bahkan mencoba menyapa mereka. Tak ada yang menanggapi, hambar sekali. Ini membuatku semakin tak karuan.

Suatu kali, pernah kudengar mereka bilang sesuatu yang tidak mengenakkan. Aku nyaris membenci mereka setelahnya.

Malam itu aku pura-pura tidur dan aku mendengar perbincangan mereka.

“Dia sisa tunggu mati, saja,” ujar salah seorang dari mereka. Kalimat itu sangat tidak mengenakkan. Aku melanjutkan kepura-puraan, tak ingin menghardik mereka. Aku malah menangisi keadaanku ini.

Malam itu aku tak tidur sampai pagi. Sesekali menangis, selebihnya memaki keadaan, di dalam hati.

Keesokan paginya, niat bunuh diri datang lagi. Aku naik ke kursi rodaku. Aku sedang berada di lantai tiga. Sunyi di sini. Ada tamu-tamu panti asuhan di bawah. Aku mendengar percakapan mereka samar-samar.

Aku menggerakkan roda kursi rodaku, menuju tangga. Kali ini aku harus mati.

Di tepi tangga, aku sudah siap. Aku bahkan menutup mataku. Ada kepasrahan yang kubiarkan menguatkan niatku meluncur.

Suara kursi roda menghentak anak-anak tangga, aku terpelanting, bergulir-guling dan bertabrakan dengan kursi rodaku sendiri, dan tak lama kami tiba di lantai satu. Tamu-tamu tampak kaget dan panik mendengar suara-suara benturan itu.

Aku tak mati. Asu!

“Kenapa aku tidak matiii!” aku berteriak.

Orang-orang terkejut dan berhamburan untuk menolongku. Mereka mengangkatku dan berusaha mengobati lukaku.

Aku sudah dua kali gagal, aku mungkin akan mencobanya sekali lagi.

Di panti, sejak upaya bunuh diri yang gagal itu, aku menjalani kehidupan apa adanya. Aku kebanyakan terbaring saja. Akses yang tidak memadai di panti membuat ruang gerakku sempit sekali. Tidak enak rasanya mengganggu teman-teman jika aku harus selalu meminta bantuan. Aku juga mulai memakai pampers karena tidak bisa mengontrol buang air kecil dan besar. Betapa tidak nyamannya.

Ryan Kecil saat di Panti Asuhan bersama anak-anak panti (memegang gendang)

Setiap hendak mandi, aku harus meminta bantuan teman-teman atau kakakku. Aku tak bisa menguasai tubuhku sehingga aku setiap hari butuh bantuan untuk diangkat. Keadaan ini sama tidak nyamannya. Menjadi orang yang tergantung untuk melakukan urusan sehari-hari. Aku merasa malu. Kebanyakan aku menggunakan pampers baik untuk buang air kecil dan buang air besar. Sungguh menyakitkan jika mendapatkan Teman yang tidak mau membantu mengambilkan, semisal nasi atau lauk yang sulit kujangkau.

Karena suasana yang tidak menggairahkan, aku memilih lebih banyak berbaring. Sampai suatu hari ternyata aku terkena decubitus atau luka tekan yang sangat serius. Luka itu ada di tulang ekorku. Awalnya luka itu hanya serupa goresan tapi lama kelamaan membesar dan sampai tulang. Sakit sekali.

Beruntung, di Panti Asuhan ini ada organisasi sosial di Belanda yang mau membantu mengurusi kebutuhan panti ini. Ibu Annete namanya, kemudian meminta perawat dari Grestelina datan untuk mengobati dekubitusku. Berkat Ibu Annete juga saya mendapatkan terapi rutin selama dua bulan lamanya. Seminggu tiga kali saya diterapi. Tapi tidak ada perubahan. Aku masih tetap hanya bisa berbaring di rumah dan semakin membuatku frustasi.

Sebulan kemudian, aku dikeluarkan dari panti asuhan. Tepatnya 4 Februari 2017. Awalnya aku tidak mau keluar. Tapi, pihak panti telah menyiapkan surat pernyataan untuk keluar. Aku tak berdaya dan akhirnya memenuhi permintaan mereka. Katanya, aku tidak akan bisa lagi berlama-lama tinggal di panti. Aku keluar, merasakan perihnya patah hati. Menangis lagi.

Karena tak punya pilihan, aku pindah ke kos kakakku, Ricka di jalan Cendrawasih, jembatan merah. Ukuran kamarnya hanya muat untuk seorang, saya harus menyesuaikan diri.

Beruntung terapi masih berlanjut. Saat itu, seorang Terapis asal Belanda rutin mendatangiku. Ia bernama Lukas. Ia juga bagian dari Somoi.

Saat itu, Lukas adalah mahasiswa di Amsterdaam University dan seorang Fisioterapis Somoi. Somoi merupakan organisasi fisioterapis untuk kerja-kerja pembangunan di Indonesia. Organisasi ini sudah bekerja kurang lebih 18 tahun di Sulawesi Selatan. Setelah beberapa tahun berhenti, kini program SOMOI berjalan lagi. Lukas adalah salah satu Terapis yang dikirim dari Belanda untuk bekerja di Tana Toraja, khususnya di sejumlah SLB dan menangani terapi fisik bagi anak-anak difabel kinetek (fisik), seperti anak dengan Cerebral Palsy, polio, atau orang dewasa yang terkena stroke.

Lukas, saat berkunjung ke PerDIK 22 Maret 2017 lalu.

Lukas mengurut dan memberikan pengetahuan cara mengontrol gerak dengan otak. Kini aku harus pandai mengendalikan dan memerintah otakku. Dulu, kaki digerakkan dengan spontan, kini aku harus belajar membangun kendali gerak itu melalui otakku. Sulit, masih sulit sampai sekarang. Tapi banyak perkembangan.

Sejak terapi itu, aku mulai bersemangat. Lukas dan Bibi Fem dari Somoi membelikanku Hape Vivo dan dengan itu aku berkomunikasi dengan Teman-temanku. Teman-temanku sudah ada yang kuliah dan bekerja. Aku malah merasa rendah diri karena hanya bisa terbaring, dan tak berdaya.

Setelah enam bulan, Lukas harus kembali ke Belanda. Nyaris bersamaan, kakakku Ricky juga merantau ke Bali. Aku sendiri di rumah kos. Kakakku, Ricka memilih tinggal di kos lain. Dalam kesenderian, godaan bunuh diri muncul lagi.

Aku menenggak banyak pil obat, berharap over-dosis.

Apa saya mati kali ini?

Aku cuma tak sadarkan diri. Begitu sadar, aku sudah di rumah sakit. Dua hari kemudian kekasihku datang dan katanya, ia mau membantu mengurusku sambil kuliah. Aku tak mengelak atas bantuannya. Tampaknya ia memang tulus ingin membantuku.

Ia lalu mengontrak kamar kos di depan kos ku. Ia menepati janjinya dan aku merasa bersemangat.

Menjelang Akhir Desember, ia pulang kampung. Ia mau meminjam hapeku, dan aku meminjamkannya dengan satu pesan. Aku ingin dia bicara ke orang tuanya tentang kondisiku dan memintanya untuk merekam. Dia mengiyakan.

Kekasihku ini bernama Selvi. Saya menaruh Harapan kepadanya. Sepertinya, semangatku yang ada saat ini, tersangkut padanya. Saya merasa perlu bertahan hidup.

Aku pacarana dengan Selvi sejak SMP dan kami berpacaran selama 4 tahun 2 bulan.

Ia pulang kampung untuk merayakan natal 2017 dan merayakan peralihan tahun baru di kampungnya.

Suatu sore, ia balik dan kami bertemu melepas rindu. Ada perubahan kurasakan. Ia beberapa kali menangis.

“Kenapa, dek?’’ dia memilih diam atau paling-paling menjawab tidak apa-apa.

Aku meminta rekaman ucapan orang tuanya. Ia memutarnya.

Kata-kata orang tuanya seperti dugaanku.

“Tak ada harapan yang bisa disediakan oleh seorang Ryan jika ingin terus bersama dirinya,” kira-kira begitu intinya.

Hening.

Aku membaringkan badanku, menenangkan diri. Selvi tak tahan dan memilih pamit ke kamarnya.

Setelah beberapa hari, ada perubahan dari Selvi. Aku melihat ada lelaki yang menjemput dan mengantarnya setiap ke kampus dan kembali ke kos. Aku mengenal lelaki itu, Teman panti ku dulu. Setelah tiga minggu, aku mendapatkan kejelasan. Mereka memang berpacaran.

Kekalutan Kembali menyerangku. Biasanya, kalau kalut begini saya lantas berpikir pendek lagi.

Bunuh diri? Ya.

Suatu pagi, aku bangun sebagai orang yang kalah.  Melihat cermin dan lantas aku membenturkan kepalaku sekeras-kerasnya. Pecahan kaca berhamburan seiring suara retakan. Darah mengucur deras dari kulit kepala yang robek. Aku memungut pecahan paling besar dan mengunyahnya penuh keputusasaan. Aku tak menhiraukan bibir dan lidahku tersayat-sayat. Darah mengucur dalam mulutku. Aku berharap menelannya, tapi aku pingsan lagi.

Ketika aku tersadar aku sudah berada di UGD rumah sakit. Aku melihat di sampingku ada kakakku, Ricka. Wajahnya menunjukkan kemarahan.

“Bodoh kau itu!” Ia menamparku.

“Mau cari mati?”.

Aku mengutuki kegagalanku mati hari ini. Tak peduli dengan tamparannya.

“Kenapa aku masih hidup? harusnya aku mati!” aku berucap dalam hati.

Setelah keluar dari rumah sakit, aku kembali ke kosku dan kembali hidup sendiri.

Selang beberapa hari, ibuku datang. Ia membawaku ke Enrekang. Di sana ia tinggal bersama suami dan anaknya.  Suaminya bukan bapakku. Ia telah bercerai dan menikah kembali.’

Di Enrekang, aku tinggal di kecamatan Maiwa, tepatnya Maiwa atas. Awalnya berjalan baik. Di sana aku memasak, mengepel, menyapu rumah, mencuci piring. Aku sering di tinggal selama seminggu sendirian, entah mereka pergi kemana.

Ketika ibuku pulang pasti ada saja cara untuk bisa memarahiku. Ibuku memang temperamen. Bahkan adikku pun diperlakukan keras. Suatu kali ia marah pada adikku dan aku merasa tidak nyaman jika tak membelanya. Ibuku bertambah marah dan dia memukulku dengan gagang sapu. Dalam kekalutan, ia mengambil pakaianku dan menghamburnya.

“Kau tidak ada gunamu!” matanya mendelik.

“Anak setan, kenapa dulu pas kecelakaan tidak mati saja!” Dia seperti kesetanan dan aku cuma bisa menangis. Memunguti pakaian dan tidak beranjak. Aku tetap memilih tinggal dan melakukan apa yang bisa kulakukan. Kali ini aku tak mau berpikir pendek. Aku tak mau berusaha bunuh diri lagi. Sia-sia saja. Tobat ma!

Saya menerima keadaanku tinggal di Enrekang. Walaupun ibuku masih suka marah-marah, aku menerimanya dan berupaya memakluminya. Ia juga menghadapi masa-masa yang sulit.

Pada awal 2019, Januari, saya mulai searching informasi tentang orang-orang cacat. Bagaimana mereka hidup, di mana bisa bekerja, dan lain-lain. Saya lalu mendapat informasi tentang Balai Rehabilitasi untuk orang dengan disabilitas di Kota Makassar. Aku senang dengan informasi ini. Aku terus mencari-cari informasinya. Websitenya cukup aktif sehingga banyak informasi yang bisa kubaca.

Aku juga mencari tahu info dari Dinas Sosial Kabupaten Enrekang. Kami terhubung. Aku meminta tolong agar bisa belajar di Balai. Mereka dengan senang hati mengurus segala keperluanku.

Pencarianku berbuah beberapa bulan kemudian. Pada Agustus, pihak dinas sosial menjemputku dan membawaku ke Makassar untuk belajar selama 6 bulan di Balai.

Saat inilah aku merasakan rasa nyaman yang lama tak kurasakan. Aku bertemu Teman-teman yang juga difabel dengan beragam kondisi. Aku tidak sendiri dan aku bukanlah yang paling mengalami kesulitan. Aku tidak akan kesepian lagi.

Ryand saat di Balai BRSPDF Wirajaya, Makassar

Bersama pegawai Balai Rehabilitasi Penyadang Disabilitas Fisik Wirajaya dan teman-teman difabel yang belajar di Balai, kami berbagi rasa dan semangat. Kami belajar sesuai minat masing-masing dan kepala Balai, Pak haji Syaiful sangat perhatian kepada kami dan memberikan kami banyak kekuatan untuk bangkit.

Di Balai, kami diajarkan menerima keadaan yang sekarang kami alami. Aku menerima dan aku sudah terbiasa untuk bercanda walaupun candaan itu terkait kondisi fisikku. Tidak apa-apa. Aku bersyukur, aku masih hidup. Aku masih bisa berjuang untuk masa depanku. Kini aku memantapkan diri dengan cita-cita yang harus kuraih.

Ryand (kiri) bersama 3 rekannya sesama peserta belajar Elektro HP di Balai Rehabilitasi.

Kelak, aku akan membuktikan kepada semua orang bahwa kami difabel tidaklah lemah seperti kata orang difabel itu orang cacat. Aku sering menonton motivasi dari Jack Ma, Nick Vujicic, dan masih banyak lagi. Oia, di Balai ini, aku juga menjalin kasih dengan Nurul. Dia perempuan difabel dan baik hati.

Sekarang saya juga bergabung dan aktif di PerDIK. Awalnya perkenalanku dengan Teman-teman PerDIK punya cerita tersendiri. Aku akan menceritakan singkat saja. Kelak aku akan bercerita lebih panjang.

Saat itu, selepas berlatih di Balai. Aku tinggal di Gowa bersama Ricka. Aku mau mendaftar kuliah.  Aku bingung sekali. Pihak Somoi, yang banyak mendukungku selama tinggal di panti bersedia memberiku beasiswa. Aku pun berupaya mencari informasi. Aku tak peduli saat kakakku menentang rencanaku. Tapi aku kepalang sudah jadi batu yang keras hati. Aku ingin kuliah.

Pada saat itu aku masih mencari kampus, ibu Annette menelponku dari Belanda. Ia memberiku saran untuk menghubungi Lembaga PerDIK. Akupun mencarinya di google. Mudah saja mendapatkannya. Ada nomer tertera di sana dan aku mengontak nomer itu.

Orang yang menerima telponku adalah Kak Ishak Salim. Ia ketua PerDIK. Aku ingat, dia banyak tanya kepadaku, dan banyak melucu dengan pertanyaan-pertanyaan atau merespon cerita-ceritaku.

Aku bilang, akum au kuliah di jurusan Teknik Elektro. Ia pun mengusahakannya. Aku mendapatkan sejumlah informasi termasuk brosur Universitas Islam Muhammadiyah, Unismuh. Aku menyampaikan ke Ibu Annette kalau aku telah terhubung dengan PerDIK dan aat ini kami sedang proses pendaftaran. Teman-teman PerDIK seperti kak Mamat dan kak Nur Syarif Ramadhan membantuku ke kampus.

Aku senang. Tapi kakakku tidak. Ia masih menentang keinginannku. Aku tetap tak peduli. Ia memintaku pergi. Aku mengadu ke PerDIK dan meminta kepada Kak Ishak agar aku bisa tinggal di PerDIK.

“Biar saya bersih-bersih di kantor, kak” pintaku dengan sedikit membujuk. Tiada penolakan. Aku diterima tinggal di PerDIK. Hari itu juga aku pinjam uang tetanggaku dan memesan GoCar lalu ke PerDIK. Saat ini, aku tak mau mati lagi. Ini babak baru hidupku. Aku mulai bergiat bersama Teman-teman. Terakhir, di Akhir tahun lalu (2020), kami rapat kerja di Malino. Kami di sana selama 4 hari. Seru sekali. Menghidupkan semangatku untuk menapaki hari-hari mendatang. Aku harus bisa terus hidup dan mencapai yang kuimpikan[]

Ryand saat turut raker bersama PerDIK di Malino

Merayakan Seksualitas Dengan Gembira dan Tetap Politis!

Diah Irawaty tinggal di Amerika Serikat, bersama suami dan seorang anaknya. Ia dan Farid Muttaqin sedang menempuh studi doktoralnya di Socio-Cultural Anthropology, State University of New York (SUNY) Binghamton, New York. Saat ini keduanya sudah mencapai tingkat studi Ph.D. Candidate. Beberapa bulan ini, selama pandemik Covid melanda negeri sedunia, keduanya sibuk menggelar perbincangan seks dan seksualitas. Bersama tiga orang kawan lainnya, Renvi Liasari, Wawan Suwandi, dan Ahmad Syahroni mendirikan komunitas LETSS-Talk. Melalui komunitas inilah, sejak 2 Agustus 2020 berbagai topik perbincangan ini menjelma menjadi diskursus seks dan seksualitas.

Dalam setiap event yang digelar secara online, peminatnya selalu banyak. Bisa mencapai seratusan orang. Memang tak selalu berjumlah demikian, namun dikarenakan semua dokumen perbincangan itu bisa ditonton ulang, maka pengunjung atau penikmatnya bisa bertambah terus menerus.

Diah dan Farid, bersama anaknya, Allegra.

Diah dan Farid bersungguh-sungguh dengan komunitas ini. Mereka mengusung semangat kolaboratif dan kerelawanan. Diah misalnya, mengingat ia adalah kawan dekat saya, tak jemu-jemu menyampaikan kebutuhan orang-orang atau organisasi yang bisa diajak membuka tabir-tabir seksualitas dan menjadi perbincangan publik. Paling awal sekali, saat ia menyadari bahwa peminat dan penikmat nantinya bukan hanya dari kalangan orang yang mengandalkan bahasa verbal, maka ia mulai bertanya ke saya bagaimana mendapatkan juru bahasa isyarat. Saya punya banyak teman JBI dan kawan di Pergerakan Tuli. Cukup menghubungi satu orang, bersedia, lalu mengajak yang lainnya.

Suatu hari, Diah lebih serius mengajak saya dan organisasi di mana saya bekerja untuk bekerjasama. Kami lalu merancang sebuah lomba menulis seks dan seksualitas untuk remaja. Kami membaginya menjadi dua kategori, SMP dan SMA. Awalnya ia mengusulkan kategorinya difabel dan non-difabel, tapi saya menolaknya. Berdasarkan pertimbangan kawan-kawan di PerDIK, tak perlu memperpanjang praktik segregasi dengan pemilahan-pemilahan begitu. Difabel banyak yang pandai menulis, yang penting jangan memaksakan lomba menulis harus dengan pena dan kertas. Orang-orang buta tidak mengandalkan pena dan kertas untuk menulis, mereka mengandalkan stylus dan reglet, atau yang lebih canggih dengan android akses dengan sejumlah perangkat aplikasi yang memungkinan mereka menikmati balas membalas email, whatsap, dan seterusnya.

Sebagai komunitas yang baru berdiri, LETSS-Talk bertujuan membangun ruang berbagi pengetahuan, informasi dan pengalaman tentang seksualitas dan gender, terkhusus bagi keluarga dan menjadi sumber informasi tentang seksualitas dan gender yang mudah diakses setiap warga. Kedua tujuan ini merupakan hasil analisis situasi sosial dan politik betapa perbincangan seks dan seksualitas di banyak keluarga di Indonesia begitu tabunya, begitu rumitnya, bahkan begitu tak nyamannya. Bagi pendiri LETSS-Talk, kondisi sosial yang tertutup akan seksualitas ini yang berkonsekuensi pada melambatnya perkembangan pengetahuan seksualitas di kalangan orang-orang tua di rumah tak lepas dari bekerjanya struktur negara yang menekan warganya untuk tidak dengan mudah membicarakan seksualitas. Kondisi ini telah berlangsung lama dan berkarat sehingga untuk menguak, mendekonstruksi, dan mengubahnya menjadi terbuka dibutuhkan tindakan-tindakan bukan hanya sebagai tanggung jawab intelektual, tetapi juga tanggung jawab politik mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Poster diskusi saat isu Seksualitas beririsan dengan isu Disabilitas

Untuk mencapai tujuan itu, LETSS-Talk menggelar sejumlah Forum diskusi atau talkshow serial, penulisan dan publikasi pengalaman pendidikan seks dan seksualitas, penelitian dan kajian, konferensi tahunan, dan penerbitan jurnal seks dan seksualitas di Indonesia. Belum dilakukan semuanya, tetapi baik Diah, Farid, Renvi, Wawan dan Syahroni serta sejumlah kawan yang semakin melebar telah memulai langkah-langkah awal yang menggembirakan. barangkali sudah belasan event digelar dan ini menunjukkan bahwa komunitas ini sungguh aktif dan kreatif dalam mengemas perbincangan. Belum lagi kualitas isi perbincangan juga membuat pikiran terbuka dengan penjelasan-penjelasan yang ilmiah, empirik, dan tentu saja politis!

Dalam catatan saya, yang susah payah saya himpun di pagi hari ini saat kepala sedang berat selama dua hari ini, saya mengidentifikasi setidaknya ada 28 item kegiatan (mungkin sebenarnya lebih). selain acara pada Rabu, 30 Desember nanti, di mana kami akan merayakan pergantian tahun dengan Live Concert sambil berkampanye anti kekerasa seksual dan juga sebagai bentuk toleransi terhadap keragaman seksualitas dan gender.

Kali ini, LETSS Talk (Let’s Talk about Sex n Sexualities) kembali bekerjasama dengan Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK). Kami mengundang Anda Semua dalam Special Event untuk Merayakan Tahun Baru dengan cara paling unik ini.

Tema Perayaan Tahun Baru kita adalah“Merayakan Tahun Baru, Merayakan Seksualitas: Let’s Have Fun and Be Political.” Acara ini akan diisi dengan berbagai performances, seperti: menyanyi, instrument, menari, membaca puisi, monolog, membaca cerpen, orasi oleh tokoh feminis, dll. Mari Have Fun dan Tunjukkan Dukungan Anda terhadap Gerakan Anti Kekerasan dan Opresi Seksual.

Tandai harinya, Rabu, 30 Desember 2020 Pukul: 19:00-22:00 WIB (Jakarta Time) atau pukul 20.00 WITA (Makassar).
Caranya, klik link ZOOM ini dan Anda akan langsung Join di Zoom Meeting: http://bit.ly/TahunBaruLETSSTalk Atau bisa juga dengan Meeting ID: 997 5845 9535 dan Passcode: 916308.

Seperti biasa LETSS Talk menyediakan Juru Bahasa Isyarat (JBI): Mada Ramadhany dan Rezky Chiki. MC pada event ini adalah Ishak Salim dan Apri Iriyani.
Berikut patisipan Merayakan Tahun Baru, Merayakan Seksualitas: Let’s Have Fun and Be Political!”

  1. Orasi Politik: Tokoh Feminis Indonesia, Ibu Ita Fatia Nadia (Sejarawan)
    https://www.youtube.com/watch?v=LPvbyLfJObQ
  2. Ahmad Zundy Tamiko (Pemusik asal Bumiayu, Brebes)
    https://www.youtube.com/channel/UCTvOCO1604EPfAcZLLbf_2Q
  3. Zubaidah Djohar (Penulis, peneliti, dan penyair asal Aceh kelahiran Buktitinggi, Sumatera Barat)
    https://www.youtube.com/watch?v=TQM8yI5RHa8&t=222s
  4. Syahirul Alim dan Robiatul Adawiyah dengan (Penulis dan Guru Matematika)
    https://www.youtube.com/watch?v=YE6_o-PADtU
  5. Alexandria Aida Milasari (Aktivis perempuan dan Direktur Eksekutif Harian Rumpun Gema Perempuan, RGP)
  6. DONA Amelia (Artist dan businesswoman)
    https://www.youtube.com/donamusic1
  7. Dewi Nova (Sastrawan, aktivis)
    https://www.youtube.com/watch?v=G6kigEuWifg
  8. Diah Irawaty dan Renvi Liasari (Pendiri LETSS-Talk)
  9. Eka Dwipayana Sabeh (Ubud, Bali, Alumni UGM 2000)
    https://www.youtube.com/channel/UChtdXqj_XIoujAgbU2Hex1A/videos?fbclid=IwAR2h4j1N8Pcc15qpxLDnP5dRIYQZxITPNlqteKfii-UUN1cJayyl15f6194
  10. Jodhi Yudono (Musikus, penulis, dan wartawan)
    https://www.youtube.com/channel/UCGpWp_ymq09erPOYI_5xlzQ
  11. M Aan Mansyur (Penyair, tinggal di Makassar)
    https://www.youtube.com/watch?v=w5g4rrJwBFU
  12. Jennifer Goodlander (Indiana, USA, Tari, Ahli Wayang)
    https://www.youtube.com/watch?v=GOR9cMACzRI&t=535s
  13. Stella Rosita Anggraini (Aktivis Difabel Jombang, Penulis Puisi)
  14. Enchik Sri Krishna dan Teuku Dalin (seniman dan musisi; Produser music)
    https://www.youtube.com/watch?v=sV6xyR420gE
  15. Rilda A Oe Taneko (Cerpenis, Novelis, tinggal di Lancester, Inggris)
    https://www.goodreads.com/…/show/7704448.Rilda_A_Oe_Taneko
  16. Yokie S S atau Bung Plontos (Musisi dan penulis lagu asal Surabaya)
    https://www.youtube.com/channel/UCfSROBCvTR71KBQy31h87Vg
  17. German Huanca Luna (Seorang ayah yang suka bermain gitar dan harmonica, Bolivia)
    https://www.youtube.com/channel/UCTF_BQoJDBtqvVKiuXO_GcA
  18. Dian Nafi (Author, Blogger, dan Content Crafter) https://www.youtube.com/user/ummihasfa
  19. Ruangbaca (Viny Mamonto dan Saleh Hariwibowo, asal Makassar)
    https://www.youtube.com/channel/UCqhJOlv0UionoTIhJKuPWHg
  20. Maritza Hagan (Asal Binghamton, New York, AS, seorang American Sign Language (ASL) interpreter).
  21. Mai Munzirr (Seniman dan pemusik Aceh)
    https://www.youtube.com/channel/UCrATTQOI9g5WUmzEPHEzErA
  22. Laode Muhammad Hayat Rahmat (Gitaris, aktivis PerDIK)

Mari bergabung kawan 💚

Sebelum saya menutu[p tulisan ini, saya kutipkan 27 kegiatan yang sudah berlangsung selama LETSS-Talk berdiri:

Poster IG Talks Ishak Salim dan Diah Irawaty
  1. Zoom Talkshow Seri #1 “Perlu tapi Tabu: Pendidikan Seks dan Seksualitas dalam Keluarga” (Minggu, 2 Agustus 2020 jam 15.30-17.00 WIB)
  2. Zoom Talkshow LETSS Talk Seri #2 “Pendidikan Seks dan Seksualitas: Pengalaman dan Pelajaran Lintas Budaya” pada Minggu, 23 Agustus 2020. Hadir sebagai pemantik diskusi adalah Nancy J Smith-Hefner (Profesor dan Ketua Program Antropologi, Boston University, AS), Christine Holike (Direktur Watch Indonesia, Berlin, Jerman), Andreas Jefri Deda (Dekan Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua, Manokwari), dan Ratri Istania (Dosen STAI LAN Jakarta dan Postgraduate Research Fellow, Loyola University, Chicago, AS).
  3. Zoom Talkshow Seri #3 Tema: “Difabel dan Pendidikan Seks dan Seksualitas” Hari: Minggu, 13 September 2020
  4. Pengumuman Pemenang Lomba Menulis “Remaja dan Pendidikan Seks dan Seksualitas” yang diselenggarakan LETSS Talk bekerjasama dengan Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) sekaligus memperingati Hari Kesehatan Seksual Dunia yang jatuh pada tanggal 4 September 2020.
  5. Publikasi tulisan kedua pada seri publikasi tulisan para pemenang Lomba Menulis “Remaja dan Pendidikan Seks dan Seksualitas” yang diselenggarakan LETSS Talk dan Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK). Tulisan kedua merupakan karya Nabila May Sweetha, pelajar SMU, seorang Difabel Netra, yang menjadi Juara 1 Tingkat SMU.
  6. Zoom Talkshow Serial Pendidikan Seks dan Seksualitas dalam Keluarga Seri #4 yang kali ini mengambil Tema: “Laki-laki dan Pendidikan Seks dan Seksualitas. Hadir sebagai Narasumber/Pemantik Diskusi: 1. Nur Hasyim (Pengajar FISIP UIN Walisongo; Dewan Pengawas Rifka Annisa; Co-Founder Aliansi Laki-Laki Baru); 2. Ita Fatia Nadia (Peneliti dan Penulis Sejarah Gerakan Perempuan & Co-Founder Komnas Perempuan); 3. Irwan M. Hidayana, , Minggu 4 Oktober 2020.
  7. Share tulisan Dr. Wisnu Adihartono, seorang peneliti gender dan seksualitas, yang dipublish di website LETSS Talk. Tulisan penting yang menjelaskan apa itu gay/lesbian studies, bedanya dan “irisannya” dengan gender dan sesxuality studies, dan mengapa penulis tertarik secara khusus pada kajian ini.
  8. Talkshow seri #5 dengan tema “Keluarga Feminis dan Pendidikan Seks dan Seksualitas” yang akan berlangsung pada Minggu, 25 Oktober 2020, jam 19:00-21:00 WIB (Jakarta Time). Narasumber/Pemantik Diskusi kali ini adalah: Ulfa Kasim (Koordinator Pengembangan Pendidikan Feminis Institut KAPAL Perempuan); Misiyah Misi (Direktur Eksekutif Institut KAPAL Perempuan) & Wahyu Susilo (Direktur Eksekutif Migrant Care); Tuti Alawiyah (Dosen Kessos FISIP
  9. Buku terbitan bulan Agustus 2020 dengan judul: “Perempuan dan Anak: Pemberdayaan dan Perlindungan Masa Depan yang Inklusif” Salah satu tulisan di buku tersebut ditulis oleh salah satu Pendiri LETSS Talk, Ira (Diah Irawaty)
  10. Saturday Night with LETSS Talk Live on IG LETSS Talk @letsstalk_sexualities di IGTV LETSS Talk dengan Tema: “Data Sebagai Alat Advokasi” tanggal 31 Oktober 2020 Pukul 19:00-20:00 WIB dengan Guest: Apri Iriyani (Database & Communication Specialist) dan Host: Farid Muttaqin (Salah satu Pendiri LETSS Talk).
  11. Pertemuan pertama program baru LETSS Talk”English Conversation Practice with A Native English Speaker” sebagai salah satu kegiatan capacity building Keluarga LETSS Talk. Program ini dilaksanakan seminggu sekali. Rencananya LETSS Talk juga akan memulai English for Deaf karena beberapa anggota Keluarga LETSS Talk difabel Tuli.
  12. Talkshow seri #6 dengan tema “Pendidikan Seks dan Seksualitas: Pengalaman Para Muslim” yang akan berlangsung pada Minggu, 8 November 2020, jam 19:00-21:00 WIB (Jakarta Time).
  13. Saturday Night with LETSS Talk Edisi #4 Live on IG LETSS Talk, pada hari Sabtu, 14 November, Pukul 19:00-20:00 WIB dengan Tema “Isu Gender dan Seksualitas dalam Pendidikan Anak Difabel” bersama Guest: Ravindra Abdi Prahaswara (Kontributor di newsdifabel.com) dengan ditemani Host dari LETSS Talk: Ahmad Syahroni
  14. Tulisan terbaru di website LETSS Talk berjudul “Penerapan Rumus 5W + 1H dalam Edukasi Seks bagi Remaja” karya Gressia Carolina, seorang pelajar difabel di Mimi Institute yang menjadi Pemenang Juara Ketiga Lomba Menulis “Remaja dan Pendidikan Seks dan Seksualitas”
  15. Talkshow seri #7 (Special Event) dalam rangka memperingati Hari Internasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang jatuh tepat pada tanggal 25 November dan sekaligus memulai 16 Hari Aktivisme Anti Kekerasan Berbasis Gender (Gender-Based Violence). Kali ini tema talkshow LETSS Talk “Pendidikan Seks dan Seksualitas dan Kekerasan Seksual: Mendesaknya UU Penghapusan Kekerasan Seksual yang akan berlangsung pada Rabu, 25 November 2020,
  16. LETSS Talk will be holding a Zoom talkshow series #8, an international forum to support anti-gender-based violence campaigns. The theme of this talkshow is “Understanding Differences, Building Solidarity: Gender-Based Violence Movements in Different Contexts” and will take place using the Zoom platform on December 2, 2020, from 10:00 AM – 12:30 PM Jakarta Time.
  17. Saturday Nite Live di Instagram LETSS Talk dengan Tema: “Difabel dan Keadilan Gender” tanggal 28 November, Pukul 19:00 WIB dengan Guest: Ishak Salim (Ketua Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan dan Host: Ira (Salah satu Pendiri LETSS Talk).
  18. Tulisan terbaru di Website LETSS Talk. Tulisan ini mengangkat isu/tema penting yang jarang diangkat yaitu tentang Perempuan dan Pengelolaan Sampah.
  19. LETSS Talk (Let’s Talk about Sex n Sexualities) mengundang Anda semua pada Talkshow seri #9 dengan tema “Keragaman Gender dan Seksualitas: Dari Riset ke Toleransi” yang akan berlangsung pada Sabtu, 12 Desember 2020, Pukul 10:00-12:00 WIB (Jakarta Time).
  20. Masih dalam rangkaian acara 16 Hari Aktivisme Anti Kekerassn Berbasis Gender dan memperingati Hari Disabilitas International, LETSS Talk menyelenggarakan acara Saturday Night With LETSS Talk Edisi #6 dengan Guest: Ramadhany Rahmi (Mada) seorang Juru Bahasa Isyarat dan Pendamping Perempuan Tuli korban Kekerasan Seksual dengan Host: Renvi Liasari (Salah satu Pendiri LETSS Talk) dengan Tema: “Pengalaman Perempuan JBI dan Pendamping Perempuan Tuli.”
  21. Talkshow Seri #9 LETSS Talk (Let’s Talk about Sex n Sexualities) dengan tema “Keragaman Gender dan Seksualitas: Dari Riset ke Toleransi” yang diselenggarakan Sabtu, 12 Desember 2020, Pukul 10:00-12:00 WIB (Jakarta Time).
  22. Salah satu program Capacity Building yang diselenggarakan LETSS Talk secara gratis untuk Keluarga LETSS Talk, yaitu Percakapan Bahasa Inggris dengan Native English Speaker/Penutur Aslinya asal atau warga negara Amerika. Program ini dilaksanakan seminggu sekali disamping program Bahasa Inggris untuk Tuli yang juga dilaksakan seminggu sekali.
  23. Tulisan terbaru di website LETSS Talk. Kali ini kiriman dari mas Suryandaru yang berbagi pengalaman dan refleksinya mengikuti program ELTA, program peningkatan kemampuan Bahasa Inggris, sebagai persiapan untuk bisa mendaftar beasiswa dan sekolah ke luar negeri. Yang penting dari pengalaman ini adalah karena program ELTA yang diikuti penulis merupakan program inklusif bagi difabel dan juga sensitif gender.
  24. Selamat Hari Pekerja Migran sedunia (Happy International Migrants Day) December 18, 2020. Dalam rangka memperingati hari tersebut, Diah membagi artikel tentang buruh migran Indonesia yang pernah dimuat di Jurnal Perempuan Vol. 22 No. 3, August 2017 halaman 149-159 yang berjudul “Domestic Workers in the Paradox of Politics of Gender and the Politics of Developmentalism: A Case Study of Indonesia in the New Order Era.”
  25. Saturday Night with LETSS Talk Edisi #7 Live on Instagram/IG LETSS Talk @letsstalk_sexualities pada hari Sabtu, 19 Desember, Pukul 19:00-20:00 WIB dengan Tema “Advokasi HAM Perempuan di Bali” dengan Guest: Ni Putu Candra Dewi (Lawyer di LBH Bali dan Aktivis Bumi Setara) Host: Farid Muttaqin (Salah satu Pendiri LETSS Talk).
  26. Redaksi LETSS Talk menerima kiriman tulisan dari seorang pelajar SMU berbakat, Penulis, dan Aktivis Difabel di Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan/PerDIK, yakni Nabila May Sweetha. Nabila juga menjadi Juara 1 Lomba Menulis Remaja (SMP dan SMU) tingkat SMU dengan tema “Remaja dan Pendidikan Seks dan Seksualitas” yang diselenggarakan LETSS Talk bekerjasama dengan PerDIK bertepatan dengan Hari Kesehatan Seksual Dunia.
  27. Acara Live di IG LETSS Talk Edisi #8 dengan Tema “Perempuan Tidak Biasa di Sumba” bersama Guest: Martha Hebi (Pegiat Sosial; Penulis Buku “Perempuan (Tidak Biasa) di Sumba Era 1965-1998”) dengan ditemani Host: Diah Irawaty (Feminis; Pendiri LETSS Talk) yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Gerakan Perempuan Indonesia, 22 Desember.
  28. LETSS Talk (Let’s Talk about Sex n Sexualities) bekerjasama dengan Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) Mengundang Anda Semua dalam Special Event untuk Merayakan Tahun Baru dengan cara paling unik, Live Concert sambil berkampanye anti kekerasan seksual dan juga sebagai bentuk toleransi terhadap keragaman seksualitas dan gender.

Makassar, Sabtu, 26 Desember 2020

Refleksi Pergerakan Difabel dari Malino dan Rencana Perubahan Selanjutnya

Oleh Ishak Salim

Pertama kali ke Rumah PerDIK, Ia datang ingin meminjam buku. Saat itu, sekretariat masih di rumahku. Hanya ada satu ruangan yang merupakan kamar tamu yang didesain menjadi kantor. Ruang lapang yang ada hanyalah garasi dan sedikit teras. Zakia, kukenal sebagai mahasiswi Ilmu Hukum Universitas Muslim Indonesia, Angkatan 2012. Ia sedang menyusun skripsinya yang berjudul “Situasi Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas di Indonesia berdasarkan UNCRPD”. Ia meminjam beberapa buku disabilitas yang ada di rak yang menempel di dinding ruang sempit PerDIK. Saat itu pertengahan Agustus 2018.

Suasana refleksi malam

Tak berselang lama, PerDIK menyiapkan kegiatan Social Justice Youth Camp, bekerjasama ISJN. Kami memilih desa Kambuno, Kabupaten Bulukumba. Di sinilah pertama kalinya Zakia berkegiatan bersama PerDIK. Setelahnya, ia semakin aktif dan mengikuti sejumlah pelatihan yang diadakan PerDIK, beberapa di antaranya berkaitan dengan advokasi difabel berhadapan dengan hukum. Fauziah Erwin, pengacara PerDIK dan Zipora Purwanti (paralegal kawakan SIGAB Indonesia) menjadi mentornya. Keduanya bukan mentor kacangan. Ketegasan dan kepedulian yang kuat membela hak difabel menjadi karakter mereka.

Cuaca dingin dan kehangatan tubuh di balik pakaian tebal yang kami kenakan. Luthfi memandu proses refleksi. Zakia mengenang masa-masa awal ia datang dan akhirnya bergabung dengan PerDIK. Malam itu, ia bilang ingin sekali belajar kehidupan keluarga-keluarga difabel. Ia menunggu waktu belajar yang dijanjikan. Tak ada kabar jelas, sampai akhirnya ia mulai mendampingi kasus hukum difabel. Ia sudah mengikuti pelatihan paralegal saat itu, dan rupanya saat mendampingin difabel berhadapan dengan hukum, di sinilah ia belajar soal keluarga dan disabilitas.

Suasana Penyusunan SOP Keuangan

“Saya perempuan yang tak percaya diri, dan saat ini saya merasa ada kekuatan lain yang membuat saya lebih percaya diri,” ujarnya malam itu. Saya duduk berhadapan dengannya. Di belakangnya adalah hamparan pepohonan cengkeh yang kelam. Ada haru mendengarkan pengakuan jujur itu. Hingga saat ini, ia sudah mendampingi tiga kasus hukum. Ia bilang, perspektifnya terkait difabel berubah dan perubahan itu membawa kesadaran baru orang-orang di rumahnya. Pilihan kata yang bermartabat dan cara pandang yang positif terhadap difabel menular kemana-mana.

Lain lagi dengan Nur Syarif Ramadhan. Pertama kali ia datang ke PerDIK saat kami hendak mendaki Gunung Latimojong di akhir 2016. Saat itu, saya mengenalnya sebagai lelaki kurus dengan lingkaran putih di matanya. Ia hanya sehari berlatih rasanya dan belakangan ia batal mendaki. Ada urusan lain yang ia ikuti di Jakarta, Jambore TIK. Bulan Februari 2017, dua bulan setelah pendakian itu ia datang lagi ke PerDIk. Seperti Zakia, Syarif juga merasakan perubahan demi perubahan dalam pikiran, sikap dan tindakan-tindakannya. Sampai akhirnya ia mendapatkan beasiswa belajar singkat di Selandia Baru, kini Syarif merasakan peningkatan kemampaun kognitif yang signifikan.

“Capaian itu melampaui yang saya bayangkan sebelumnya,” ujarnya datar. Ia merasa bukan hanya memahami isu disabilitas tapi juga menyeberang ke isu-isu sosial lainnya. Persentuhan dengan orang-orang dan pikiran mereka membuat pikirannya sendiri lebih bergizi. Apalagi, dasarnya memang ia mencintai literasi. Ia seorang pembaca sastra dengan usaha yang terpaksa lebih keras karena banyak karya tak akses bagi matanya. Ia terbiasa mendengarkan karya sastra atau membacanya melalui mata-mata jemarinya. Jika ada novel dalam huruf braille itu akan membuatnya melanglang buana, layaknya buku sebagai jendela menuju penjelajahan dunia.

“Bukan cuma pikiran bertambah dewasa, saya juga sudah mampu mengorganisir penelitian lapangan,” katanya kalem tanpa nada kesombongan. Ia yang di saat awal bergabung dengan PerDIK masih memimpikan menjadi PNS, kini dengan berani ia tepis sebagai pilihan yang tak perlu diperjuangkan. Ia merasa, kemampuan diri bisa terus ditingkatkan dengan belajar terus menerus, bekerja dan berbagi pengetahuan dengan orang-orang.

Malam itu, saat hangat tubuh mulai memudar dan kami akan memilih masuk ke rumah penginapan setelah refleksi, satu persatu menceritakan pengalamannya bergerak bersama PerDIK. Abd Rahman, direktur PerDIK  yang menceritakan bagaimana memimpin pergerakan, yang meledak-ledak, dan kesulitan-kesulitan membiasakan diri mengikuti gerak literasi PerDIK ikut bercerita. Ia banyak belajar, termasuk saat kawan-kawannya memprotes sikap emosionalnya beberapa hari lalu. Ia meminta maaf, menerima kritik, dan lalu kembali menjadi dirinya. Ia berdiri menjauh dari tempat kami duduk mengitari meja kotak. Ia perokok kuat dan tak mudah berdiskusi tanpa mengisap tembakau virginia.

Menikmati sate kuda dan Barbeque

Saya tak sempat menceritakan refleksi para aktivis lainnya. Masih ada Luthfi, Nur Hidayat, Akas, Ichi, Hayat, Mamat, Lina, Ryan (yang baru 3 bulan bergabung), Bunda dan saya. Saya menuliskan sebagian saja karena merasa bahwa itu perlu dicatatkan. Mungkin saya akan meminta mereka masing-masing menuliskan pengalaman mereka sendiri. Pagi sudah hadir dan suasana di rumah keluarga ini sejak tadi riuh dengan lelucon satu sama lain. Kami bangun sejak subuh tadi, petunjuk suhu udara di HP berangka 15 derajat celcius.

Tadi malam, sampai jam 23.30 kami membahas SOP Keuangan. Sebelumnya kami menyusun renstra dan merampungkan hingga meramu misi-misi baru dan penetapan isu-isus strategis yang akan kami urus sampai lima tahun ke depan.

Kami merumuskan tujuh misi dengan menetapkan 4 isu-isu strategis yang menjadi fokus kami ke depan. Misi pertama, melakukan penelitian atau kajian kritis serta menyebarluaskan pengetahuan alternatif sebagai dasar pergerakan. Kedua, melakukan penguatan organisasi difabel agar mandiri dan berkontribusi melakukan transformasi Inklusi sosial. Ketiga, membangun Kesadaran Inklusi Disabilitas bagi Organisasi Pemerintah dan Organisasi Non-Pemerintah. Keempat, mengembangkan sistem peradilan inklusif melalui pemberdayaan hukum difabel dan peningkatan kapasitas lembaga/aparat penegak hukum. Kelima, mendorong sistem pembelajaran adaptif di semua Lembaga pendidikan, formal maupun non-formal. Keenam, mengembangkan konsep inklusi – disabilitas melalui pendataan dan pengorganisasian difabel di desa-desa. Ketujuh, membangun Jaringan Ekonomi Disabilitas menuju kemandirian ekonomi difabel.

Mungkin misi itu terlalu banyak, tetapi begitulah kami menilai organisasi dan diri kami. Kerja berat tentu saja, tapi biar kami coba dulu, jika berhasil, kami tentu bangga dan jika gagal, kami akan membenahi diri, sesederhana itu.

Zakia dan Akas serius

Dari misi-misi itu, kami lalu menetapkan isu-isu strategis, yang mencakup ‘membangun sistem peradilan inklusif’, ‘mengembangkan sistem pembelajaran adaptif’, ‘menguatkan organisasi difabel dan jaringan ekonomi difabel’, dan ‘menginisiasi sejumlah desa dengan prinsip inklusi-disabilitas’.

Raker kali ini sungguh menyenangkan dan melelahkan. Kemarin, kami mengundang para anggota dewan Pembina dan pengawas PerDIK dan menyampaikan hasil refleksi itu. Organisasi ini, didesain dengan tiga kaki yang saling terangkai dan mengikat satu sama lain: Dewan Pembina ada Hari Kurniawan (Cak Wawa) dan dua dari dewan pengawas hadir, yakni Muhammad Joni Yulianto dan Zipora Purwanti. Kami berhadap-hadapan melalui zoom dan berbincang lebih satu jam. Pandangan-pandangan para suhu yang lebih berpengalaman dalam pergerakan difabel ini benar-benar memberi semangat bagi orang-orang muda PerDIK. Mereka reflektif dan sangat rasional menilai PerDIk dan bagaimana sebaiknya sebuah pergerakan dikelola. Untuk bagian ini, nanti dituliskan Syarif. Ia sudah berjanji kemarin.

Kami menuntaskan raker ini dengan hati senang. Memang belum sepenuhnya rampung. Tapi, kami sudah membahas 80% dari yang direncanakan. Sisa SOP Ketenagaan dan MEL. Tapi draft sudah ada dan kami tinggal merapihkan saja sepulangnya nanti.

Capaian ini mesti dirayakan. Kami akan ke Hutan Pinus yang akses bagi kursi roda. Setelah sarapan, kami akan piknik, belanja di pasar lokal, lalu Kembali ke Makassar[].

Menilik Inklusi Disabilitas Sebuah Kota: Refleksi Sumpah Pemuda dari Pemudi Difabel

Oleh Nabila May Sweetha, Penulis dan Aktivis Difabel PerDIK

Institute of Community Justice (ICJ) Makassar mengadakan diskusi K-HUB BERBINAR (Berbincang Menarik). Untuk kesempatan itu, mereka mengangkat tema “Anak Mudayya A’bicara di Hari Sumpah Pemuda”.

Di masa-masa sekarang, saat dunia melaju dengan pesat, memang orang muda merupakan kunci dari peradaban. Di YouTube, Instagram, Tik Tok dan semua media sosial di mana dunia berputar bisa kita dapati orang muda. Ada yang dengan karya-karyanya, ada yang hanya dengan kerusuhan tidak jelas. Sekarang memang orang muda sudah lebih eksis ketimbang orang tua. Tapi, di antara banyaknya orang muda di media sosial, kita masih jarang mendapati orang muda yang kritis. Nah, tema anak mudayya bicara di hari sumpah pemuda ini sangat menarik. Karena di usia tujuh belas tahun begini, bergaul dengan kawan-kawan di sekolah, belum pernah saya dapati teman yang pemikirannya sama, atau setidaknya mendekati cara berpikir saya.

presentasi yang diterjemahkan oleh JBI

Orang muda bicara

Pembicara yang dihadirkan ICJ ada empat orang muda. Orang muda dengan pengalaman berbeda, cara pikir berbeda, dan pergerakan yang berbeda. Ada Andi Nurul Annisa Yudha, yang membawakan tema generasi milenial pencegah perkawinan anak. Ada Thery alghifary (aliansi perdamaian) dengan tema “perdamaian dan kebebasan berekspresi peluang dan tantangan bagi pemuda. Adapula Muhammad Sahlan (Relasi obat manjur) dengan tema gerakan anti korupsi di SULSEL. Ada juga saya, dari PerDIK yang membawakan tema “Kota Inklusi, sudahkah terwujud?”

Key note speech hari itu adalah Achmad Hendra Hakamuddin dari Dinas Pemuda Dan Olahraga  kota Makassar.

Malam hari sebelum acara, Akas (teman tuli) bertanya apakah ada akses juru bahasa isyarat untuk kegiatan ICJ. Saya langsung menanyakannya ke Kak Rani, orang ICJ yang sebelum acara sering kali chat dengan saya untuk mengurus beberapa hal. Kata Kak Rani, untuk saat itu memang belum ada JBI yang disediakan, tapi dia berjanji akan membicarakannya dulu dengan teman-teman ICJ.

Keesokannya, barulah Kak Rani memastikan bahwa mereka akan menyediakan akses JBI. Saya senang sekali dengan kabar itu. Ada JBI, berarti Akas dan kawan-kawan tuli lainnya bisa ikut berbinar dan melihat saya berbicara tentang difabel. Ini menurut saya adalah salah satu proses baik dalam berbinar ICJ. Dengan mereka memberikan saya kesempatan untuk menjadi pembicara, itu juga otomatis membuat keseluruhan proses berbinar menjadi akses untuk difabel. Seperti kata Kak Ishak pernah, “akses ada karena difabelnya ada.”

Hampir semua tema yang diangkat oleh tiga pembicara selain saya itu cukup kedengaran familiar, karena di ISM kami sudah memasuki mata kuliah struktur sosial bersama Kak Nurhady Sirimorok, dosen struktur sosial kami, Kak Dandi biasanya beliau disapa, selalu membawakan pelajaran dengan ringan dan menyenangkan. Bagi saya pribadi, Kak Dandi adalah teman bicara yang menakjubkan. Mulai dari persoalan pernikahan muda, sampai dengan kenapa orang Belanda sekarang sangat baik pada orang Indonesia Kak Dandi akan bahas bersama kami. Semua hal yang ada dalam struktur sosial akan Kak Dandi kupas secara detail, dan itu membuat saya dan teman-teman ISM menjadi tahu banyak isu-isu di masyarakat. Memang menarik isu perkawinan anak, perdamaian, dan gerakan anti korupsi di Sulawesi Selatan itu. Tapi pada tulisan kali ini, saya hanya akan membahas bagaimana kelompok-kelompok di masyarakat bisa menerima difabel dengan tangan terbuka.

4 poin menilai Inklusivitas Kota

Kemarin saya memiliki empat poin penting yang sederhana. Sengaja saya buat sesederhana mungkin, agar orang-orang muda yang menjadi peserta berbinar ICJ tidak merasa pusing dengan materi-materi berat terkait difabel. Yang jelas mengenal Apa itu difabel dulu, kan?

Empat poin penting itu adalah bagaimana orang muda difabel menghadapi masa remaja, pergerakan orang muda difabel, kerentanan pemuda pemudi difabel, dan betapa pentingnya lingkungan mendukung pemudi pemuda difabel. Empat poin ini erat sekali kaitannya dengan tema yang saya bawakan, kota inklusi sudahkah terwujud?

1. Bagaimana Orang Muda Difabel Menghadapi Masa Remaja.

Difabel menghadapi masa remaja dengan cara yang sama saja dengan orang muda non-difabel, nyaris tidak ada yang berbeda. Nah, hanya memang masyarakat sebagian tidak mengetahui hal ini. Itu karena sejak kecil, mulai dari menjadi murid sekolah dasar, teman-teman nondifabel sudah terpisah dengan mereka yang difabel. Ada sekolah khusus yang dibangun pemerintah untuk anak difabel, sekolah yang kemudian disebut dengan istilah sekolah luar biasa (SLB). Secara tidak langsung, difabel dipaksa bersekolah di sekolah luar biasa, mereka tidak diberi pilihan lain. Sekolah di SLB, atau menerima penolakan saat mendaftarkan diri di sekolah regular.

Menurut saya, SLB adalah salah satu faktor yang membuat stigma negatif di masyarakat tentang difabel bertumbuh. Seolah-olah difabel membutuhkan perlakuan khusus, pelajaran yang khusus, dan kurikulum yang khusus.

Masyarakat awa rata-rata memandang difabel sebagai individu yang baik hati dan agamis. Padahal tidak begitu juga. Difabel, sebagai salah satu kelompok dalam masyarakat juga memiliki anggota yang punya sifat berbeda-beda. Yang baik, buruk, suka membantu, lemah lembut, iri pada teman sendiri dan sebagainya. Difabel juga bisa jatuh cinta tentunya, bisa bergosip, bisa hang out dan aktifitas lain yang biasanya remaja lain lakukan.

2. Pergerakan Orang Muda Difabel.

Stigma negatif adalah hal yang tidak bisa dipisahkan dari difabel. Stigma itu sudah ada sejak dulu, untuk meretasnya kita memerlukan pergerakan dan perjuangan yang tidak berhenti. Dari Sabang sampai Merauke kita bisa mendapati plang yang bertuliskan panti pijat tunanetra. Apakah ini karena sebagian besar orang buta di Indonesia bercinta-cita menjadi tukang pijat? Tidak, kan? Tapi karena di balai-balai difabelnetra, di panti-panti difabelnetra, anak-anak didik kebanyakan dilatih untuk menguasai keterampilan pijat. Ini adalah bentuk dari kejamnya pikiran orang yang berkuasa. Mereka merasa berkuasa untuk menetapkan bahwa tunanetra, di panti manapun dia bermukim, dia paling cocoknya menguasai keterampilan pijat. Jadi pijat bukan keterampilan yang diinginkan difabelnetra, tapi keterampilan yang ditetapkan pemerintah untuk difabelnetra.

Nah, karena mulai memiliki kesadaran untuk meretas stigma di masyarakat, akhirnya orang muda difabel mulai bergerak. Membuat organisasi, komunitas, bergaul, kuliah, dan contoh sederhananya adalah sekolah. Dengan sekolah di luar dari SLB, teman-teman difabel bisa berteman dengan nondifabel, dan tentunya pelan-pelan mengadvokasi masyarakat bahwa difabel tidak senegatif apa yang selama ini orang-orang pikirkan.

3. Kerentanan Pemuda Pemudi Difabel.

Difabel adalah orang yang rentan, mereka memiliki kerentanan itu karena beberapa faktor. Apalagi ketiga dia adalah anak, perempuan, dan difabel. Dia mengalami multi kerentanan. Sebagian besar difabel mengalami kesulitan untuk mengakses infomrasi, dan salah satu informasi yang sulit didapatkan oleh difabel adalah informasi terkait Pendidikan Seks dan Seksualitas.

Kesulitan mendapat informasi ini bisa menjadi jawaban dari pertanyaan mengapa difabel kerap kali mendapat pelecehan seksual. Karena mereka tidak tahu apa itu pelecehan seksual, mereka tidak tahu apa itu hamil, mereka tidak tahu bahwa ada bagian-bagian pada tubuh mreka yang hanya milik mereka pribadi dan tidak bisa disentuh orang lain.

Ketika kamu difabel, kamu juga rentan untuk menjadi orang yang disalahkan di lingkungan sosial. Akan ada orang yang menyalahkan kamu karena keadaanmu. Jika kamu buta, kamu harus sekolah di SLB, bukan di sekolah umum. Kalau tetap memaksa sekolah di sekolah umum, kamu akan disalahkan, karena itu berarti kamu melenceng dari hal yang sudah ditetapkan pemerintah. Ketika kamu memiliki anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa (ODGJ) dan meresahkan masyarakat, kamu perlu untuk memasung anggota keluargamu itu. Kamu harus menghentikan dia, atau lebih parahnya membiarkan dia bergelandang di jalanan. Jadi orang-orang kerab kali menyalahkan difabel, bukan menyalahkan lingkungan yang membuat difabel itu menjadi tidak bisa berdaya.

4. Pentingnya Lingkungan Mendukung Pemuda Pemudi Difabel.

Dalam pergerakannya, orang muda difabel sangat memerlukan dukungan dari lingkungan. Ini adalah dorongan terbesar untuk mereka agar bisa maju, berdaya, dan tidak menjadi frustasi dengan keadaannya. Di Makassar sendiri, dari sisi regulasi, kita sudah memiliki fondasi yang lumayan kuat. Tapi, pada implementasi masih kurang maksimal. Contoh sederhana saja seperti adanya akses guiding block di Pantai Losari.

Nah, guiding block nya sudah ada. Tetapi di tengah-tengah trotoar berdiri tiang listrik, yang kemungkinan besar bisa ditabrak oleh teman-teman netra. Contoh berikutnya, yang paling sering terjadi adalah penolakan sekolah umum pada calon muridnya yang difabel.

“Kota inklusi, sudahkah terwujud?”

Inklusi memang pekerjaan yang panjang, lama, dan tidak ada ujungnya. Makassar inklusi atau tidak itu bisa kita simpulkan sendiri[].

Syaiful Samad, Aktivis Difabel Dalam Pemerintahan

Oleh Nabila May Sweetha (Penulis, Aktivis Difabel PerDIK)

“Yang perlu kamu ketahui, politik mutasi itu tidak baik. Itu membuat program yang terencana maupun yang sedang berjalan bisa atau harus berhenti dan membuat pekerjaan seseorang tidak maksimal,” begini kata Kak Ishak, saat saya menanyakan apa yang harus saya ketahui mengenai Pak Syaiful Samad.

Saya tidak terlalu akrab dengan Pak Syaiful, tapi kami sempat bertemu beberapa kali dalam kegiatan bertemakan disabilitas. Dari cara beliau berbicara, dari gagasan-gagasan dan bagaimana ia menghampiri saya dan menyalami, Saya menyimpulkan bahwa Pak Syaiful bukan orang yang tinggi hati. Dan karena tidak mengenal Pak Syaiful secara detail, jadilah saya harus menjadikan beberapa orang sebagai informan sebelum menuliskan ini, termasuk juga Pak Syaifulnya sendiri.

Pak Syaiful atau kadang juga dipanggil Daeng Bani, baru saja dipindahkan ke Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Intelektual ‘Nipotowe’ Kota palu, Sulawesi Tengah (BRSPDI Nipotowe). Sebelumnya, ia Kepala BRSPDF Wirajaya Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Baru-baru ini Pak Syaiful dipindah tugaskan atau dimutasi ke Palu.

Ini sangat tiba-tiba menurut saya, apalagi bagi teman-teman aktivis difabel yang akhir-akhir ini menjalin hubungan baik dengannya. Pak Syaiful Samad, memang cukup dekat dengan teman-teman organisasi difabel. Dengan PerDIK sendiri, Pak Syaiful sering saling berbagi dan mendiskusikan gagasan kemudian mewujudkannya.

Birokrat yang dekat dengan Aktivis Pergerakan

Dengan PerDIK, Pak Syaiful memiliki hubungan yang sangat baik. Hubungan itu dimulai saat Ia, dengan rendah hatinya, datang ke PerDIK dan memperkenalkan diri. Beliau juga mengajak bekerja sama dalam kegiatan-kegiatan PerDIK. Saat itu, di ruang meeting PerDIK, mereka mendiskusikan pentingnya mendorong pembangunan di desa-desa menjadi lebih inklusif. Pak Syaiful tertarik dengan gagasan itu lalu mengajak PerDIK untuk membuat MOU dengan Pemerintah Kabupaten Bulukumba.

Nah, dari sinilah hubungan akrab antar PerDIK dan Balai Wirajaya terjalin. Selain membuat beberapa kegiatan di Bulukumba, seperti memberikan bantuan alat bantu dan pemberdayaan ekonomi disabilitas di Bulukumba, PerDIK dan Balai Wirajaya beberapa kali membuat kegiatan, salah satunya yang cukup ramai saat itu adalah Memperingati Hari Difabel Internasional. Menurut saya, semua aktivitas itu tidak akan bisa terwujud jika tanpa sifat rendah hati dari Pak Syaiful.

“Pak Syaiful itu inovatif, punya gagasan-gagasan bagus, dan selalu gercep. Semua gagasan kami dikerjakan dengan gerak cepat. Kami baru membicarakan gagasan itu, dia tidak perlu waktu lama untuk mewujudkannya,” kata Kak Lutfi, salah satu aktivis difabel PerDIK yang saat ini sedang masa persiapan melanjutkan studi masternya di Australia.

Dari sudut pandang binaannya pun Pak Syaiful tetap mendapat nilai positif. Saya bisa merasakan betapa akrabnya Pak Syaiful dengan para binaan, betapa beliau selalu memikirkan hal-hal yang terbaik untuk binaannya, hanya dengan mendengar cerita dari Kak Ryan (salah satu alumni BRSPDF Wirajaya Makassar). Ide, gagasan, inovasi, dan gerakan seakan tidak bisa dipisahkan oleh beliau. Kata Kak Ryan, Pak Syaiful tidak jarang memantau binaan secara langsung. Melihat perkembangan balai, memerhatikan binaan, dan turut serta secara langsung ke dalam kegiatan-kegiatan balai menjadi kegiatan rutin beliau.

Jujur, menulis ini saya tidak tahu harus mengutip ungkapan siapa atau harus mengambil kata-kata siapa. Dari semua orang yang memberi saya informasi terkait Pak Syaiful Samad, saya mendapati kesan yang tak jauh berbeda. Antara Kak Lutfi, Kak Rahman Gusdur (Direktur PerDIK), Kak Ishak, sampai Kak Ryan memiliki ungkapan yang sama. Bagi mereka, Pak Syaiful adalah sosok birokrasi yang tahu memosisikan diri. Sosok birokrasi yang ringan tangan, tidak sombong, selalu ingin bekerja sama dengan Organisasi difabel, inovatif, tidak segan berbagi gagasan, dan selalu kreatif dalam memberikan dukungan bagi pihak lain. Pak Syaiful, berbeda dengan tokoh birokrasi lain, selalu mudah bergaul dan mudah ditemui oleh kawan-kawan pergerakan. Beliau selalu ingin terlibat dalam kegiatan-kegiatan difabel.

Mutasi Bagi Seorang Birokrat

Pak Syaiful ini orang atas, orang pemerintahan. Saya dulunya berpikir bahwa orang pemerintahan, orang yang di atas sana, tidak bisa disatukan secara gagasan dan pergerakan dengan teman-teman aktivis. Antara pemerintah dan aktivis memiliki dunia yang berbeda, pikiran yang berbeda, tujuan yang berbeda, dan jalan yang berbeda sekali. Tapi dengan mengenal sosok Pak Syaiful ini, saya merasa tidak ada hal yang benar-benar putih, dan tidak ada yang benar-benar hitam. Pak Syaiful, berbeda dengan sifat birokrat pada umumnya, tidak menggilai penghargaan, menghormati orang lain dan lebih menunjukkan sikap dan laku melayani. Pak Syaiful sangat berjiwa muda, supel, dan mudah menguraikan gagasan-gagasannya.

Syaiful Samad sedang menyablon baju dengan logo Balai Wirajaya

Benar sekali kata Kak Ishak, politik mutasi tidak membuat semuanya lantas membaik. Bagaimana dengan program-program yang telah disusun oleh Pak Syaiful dan tim Balai Wirajaya yang selama ini tampak begitu kompak dalam bergerak? Apakah akan terhenti? Bagaimana dengan ide-ide, gagasan-gagasan yang sudah Ia pupuk dan sedang bertumbuh?

Memang benar, selama menjadi kepala BRSPD Wirajaya Makassar, Pak Syaiful sudah melakukan banyak hal. Tapi, tentu banyak juga rencana-rencana beliau yang masih terbaring menjadi impian. Salah dua dari gagasan Pak Syaiful yang belum sempat beliau laksanakan adalah bengkel difabel, cafe difabel, sarana dan prasarana olah raga yang lengkap dan akses. Tentu masih banyak lagi selain tiga itu.

Apa mau dikata? Pak Syaiful sudah harus pindah ke Balai lain di Kota Palu sana.

Berharap kepada Kepala Balai Selanjutnya

Saya sempat bertanya pada Pak Syaiful, apa harapan beliau untuk kepala BRSPDF Wirajaya yang menggantikannya.

“Yang menggantikan saya itu senior saya sendiri, namanya Pak Aladin. Nah, karena beliau adalah senior saya, saya yakin beliau bisa berbuat lebih baik dari saya,” ujar Pak Syaiful melalui telpon. Saya tak mengenal Pak Aladin dan membiarkan Pak Syaiful menjelaskan.

““Saya harap Pak Aladin melanjutkan perjuangan saya di Balai Wirajaya,”” Ia menekankan kalimat itu.

“Salah satu dari banyak harapan saya yang belum terujud untuk balai adalah membuat BRSPDF Wirajaya ini dikenal. Jadi ketika orang membicarakan difabel, otomatis mereka akan mengingat Balai Wirajaya!” nada bicaranya penuh semangat dan seperti ada kekuatan dalam kalimat-kalimat itu.  “Saya sangat berharap, Pak Aladin bisa mewujudkan harapan saya yang belum sempat saya capai itu,” ujar Pak Syaiful.

Terkait Pak Aladin yang meneruskan kerja Pak Syaiful, Kak Lutfi dan Kak Gusdur juga mengatakan hal yang tak jauh berbeda.

Mereka berharap Pak Aladin bisa menjadi seperti, bahkan lebih dari Pak Syaiful. Mengakrabkan diri dengan organisasi-organisasi difabel, rutin berbagi gagasan, tidak sungkan saling membantu, dan sama-sama membangun Sulawesi Selatan yang lebih inklusif. Tentu harapan kami semua sama, bahwa mudah-mudahan Pak Aladin juga bisa bekerja sama dengan para pengorganisir difabel untuk memajukan difabel. Ibarat kata pepatah, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”

Pepatah itu memiliki makna, bersama-sama, kita, bisa mewujudkan lebih banyak gagasan lagi. Bersama-sama, kita, bisa saling membantu dalam pengembangan difabel.

Tapi, berbeda dengan Kak Lutfi dan Kak Gusdur, harapan yang datang dari Kak Ishak kurang lebihnya seperti ini, “saya tidak bisa berharap banyak dari Pak Aladin, karena sekilas kenal saya merasa beliau seorang birokratis dan kaku. Tapi harapannya, sih beliau bisa seperti Pak Syaiful, bekerja sama dengan para organisasi difabel, dan sama-sama bergerak.”

Tak kenal maka tak sayang, begitu pepatah pernah bilang. Dan kita harap saja, Pak Aladin pengganti Pak Syaiful ini, nantinya bisa duduk bersama teman-teman pergerakan, membahas gagasan-gagasan cemerlang untuk melahirkan lebih banyak lagi difabel yang berdaya.

Untuk Pak Syaiful, Kak Ishak, sebagai Ketua PerDIK berharap beliau bisa membangun dunia difabel di Palu sana. Di Palu, gema suara difabel memang masih kurang terdengar, samar-samar. Ini adalah hal baru bagi Pak Syaiful, yang dia pimpin di sana adalah Balai Difabel Intelektual. Semoga di sana Pak Syaiful bisa mengenal difabel intelektual lebih dalam lagi, bisa memberdayakan mereka, dan tetap menjaga hubungan baik dengan para lembaga pergerakan disabilitas. Saya pribadi sangat berharap Pak Syaiful, sebelum pensiun, bisa kembali ke BRSPDF Wirajaya.

Pak Syaiful memang orang baik. Beberapa hari lalu, ia menemui Ryan, anak didik Balai yang saat ini tinggal di Rumah PerDIK. Ryan atau Adrian Saputra adalah difabel kinetik, ia menggunakan kursi roda dan saat ini terdaftar sebagai mahasiswa tekhnik Elektro di Universitas Muhammadiya Makassar. Ia datang di suatu sore dan di Rumah saat itu ada Kak Ishak dan Ryan. Mereka mengobrol selama dua jam. Menjelang pulang, Pak Syaiful memanggil Ryan dan menyampaikan bahwa besok akan ada kasur diantar oleh orang toko. Biar tidurmu nyaman dan tetap bersemangat.

“Kuliah ko yang rajin, jangan bikin malu saya dan Pak Ishak!” ujarnya pada Ryan yang tersenyum dan berujar “Siap, Pak!”[].

Pak Syaiful Samad saat menemui Ryan di rumah PerDIK

Info lain terkait Syaiful Samad, bisa dibaca di sini

https://makassar.tribunnews.com/2020/03/03/profil-syaiful-samad-kepala-brspdf-wirajaya-makassar

Kisruh Dalam Organisasi Olahraga Difabel

# 15 Daerah Tolak SK Kepengurusan NPCI Sulsel 2020-2025

MAKASSAR – Sebanyak 15 dari total 19 pengurus National Paralympic Commitee Indonesia (NPCI) kabupaten/kota di Sulawesi Selatan (Sulsel) menyatakan menolak Surat Keputusan (SK) kepengurusan NPCI Provinsi Sulsel periode 2020-2025 yang dikeluarkan oleh Pengurus Pusat NPCI. Baca Surat Penolakan di sini

15 pengurus NPCI kabupaten/kota di Sulsel tersebut yakni Maros, Takalar, Jeneponto, Bulukumba, Sinjai, Soppeng, Wajo, Sidrap, Parepare, Pinrang, Enrekang, Tana Toraja, Luwu, Palopo, dan Luwu Utara.

Ketua NPCI Kabupaten Enrekang, Dulman mengatakan, penolakan ini dilakukan karena SK Kepengurusan NPCI Provinsi Sulsel yang diterbitkan oleh Pengurus Pusat NPCI tidak sesuai dengan hasil Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) ke-IV yang telah dilakukan NPCI Sulsel pada 27-28 Desember 2019 lalu di Makassar.

“Ketua NPCI Provinsi Sulsel yang di-SK-kan pengurus pusat bukan orang yang terpilih pada Musorprov ke-IV NPCI Sulsel. Yang terpilih berdasarkan Musorprov itu Pak Sony Sandra. Tapi yang di-SK-kan itu Kandacong yang merupakan wakil ketua NPCI Sulsel periode sebelumnya, sekaligus sampai saat ini masih menjabat sebagai Ketua NPCI Kota Makassar,” kata Dulman dalam sebuah konferensi pers pernyataan sikap 15 pengurus kabupaten/kota NPCI di Sulsel, yang digelar di Makassar, Kamis (8/10/2020).

Dulman mengatakan, sejumlah pengurus NPCI kabupaen/kota di Sulsel mengaku heran dan tidak bisa menerima keputusan pengurus Pusat NPCI tersebut. Pasalnya, Musorprov ke-IV NPCI Sulsel yang digelar pada 27-28 Desember 2019 telah dilaksanakan sesuai dengan AD/ART NPCI, dengan hasil keputusan kembali memberikan amanah kepada Sony Sandra untuk memimpin NPC Sulsel periode 2020-2025.

Terlebih, Musorprov ke-IV tersebut dibuka langsung oleh Gubernur Sulsel yang diwakili Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Provinsi Sulsel, dan juga dihadiri oleh Ketua Dewan Pertimbangan Provinsi Ad’dien, dan Mukhlis sebagai penasehat organisasi yang sekaligus Kepala Bidang Pembinaan Prestasi Dispora Provinsi Sulsel serta seluruh pengurus NPCI kabupaten/kota yang ada di Sulsel.

“Kami menilai bahwa sikap PP NPCI merupakan bentuk penghinaan terhadap Pemerintah Provinsi Sulsel yang telah membuka secara resmi Musorprov ke-IV NPCI Sulsel tersebut. Apalagi, pada saat itu juga hadir dua orang perwakilan PP NPCI yang ikut menyaksikan langsung jalannya Musorprov,” ujarnya.

“Bagi orang Sulsel, hal ini sangat menyinggung perasaan kami. Baik secara pribadi maupun kelompok yang bisa menimbukan konflik maupun perpecahan,” sambungnya.
Terbitnya SK Ketua Umum PP NPCI yang tidak sesuai dengan hasil Musorprov ke-IV NPCI Sulsel ini, lanjut Dulman, membuat pengurus NPCI yang ada di Sulsel terbelah, saling curiga.
“Ini memunculkan adanya istilah dukung mendukung, musuh, lawan, kawan. Apakah ketua Umum PP NPCI sampai hati jika kami harus melalui masalah seperti itu?. Bijaksanalah dalam bertindak. Kami mendesak Ketua Umum PP NPCI untuk membatalkan SK yang telah diterbikan dan memicu terjadinya polemik tersebut,” ucapnya.

Di tempat yang sama, Ketua terpilih NPCI Provinsi Sulsel hasil Musorprov ke-IV, Sony Sandra mengatakan, apabila PP NPCI tidak mengindahkan atau tidak merespon dengan baik pernyataan sikap yang berisi penolakan SK kepengurusan NPCI Provinsi Sulsel periode 2020-2025 ini, maka pihaknya juga telah menyiapkan langkah lanjutan.

“Apabila ini tidak direspon oleh PP NPCI sesuai harapan kami sebagaimana hasil Musorprov ke-IV NPCI Sulsel, kami akan lakukan advokasi baik secara hukum maupun nonhukum,” kata Sony.

Menurut Sony, NPCI Sulsel harusnya tetap eksis dan bisa terus melakukan pembinaan serta persiapan Peparnas XVI Papua. Namun, adanya permasalahan ini menimbulkan ketidakpastian di internal NPCI Sulsel.

“Dampaknya, pembinaan dan persiapan Sulsel untuk Peparnas di Papua terganggu.

Beberapa kegiatan dan event tahunan NPCI Sulsel juga ikut terganggu.

Kami juga sudah audiensi dengan Kadispora Sulsel, dan beliau siap mendukung hasil Musprov ke-IV NPCI Sulsel,” pungkasnya. (*)