Tegakkan hak-hak penyandang disabilitas, DIFABEL harus MERDEKA sepenuhnya!

Undang-Undang Penyandang Disabilitas (UUPD) yang diterbitkan pemerintah pada April 2016 lalu hingga saat ini belum memiliki peraturan pelaksanaannya. Lalu, bagaimana pemerintah memiliki acuan menerapkan UUPD dan memenuhi hak-hak difabel di Indonesia? Tentu saja pemerintah akan kesulitan menghormati hak-hak tersebut.

Lihat saja peristiwa baru-baru ini, bagaimana Kementerian Hukum  dan HAM hanya menyiapkan 1 formasi CPNS untuk difabel, padahal jumlah yang akan diterima melebihi angka 19 ribu pegawai. UUPD pada pasal 53 ayat (1) mengatur bahwa Pemerintah, Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah wajib mempekerjakan paling sedikit 2% (dua persen) Penyandang Disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja. Itu berarti, seharusnya ada 384 formasi khusus yang harus disediakan bagi difabel. Apa artinya ini? Artinya pada tingkat kementerian sekalipun kepedulian memenuhi aturan Penghormatan Hak Difabel masih dengan mudah diacuhkan. Inilah salah satu akibat dari ketiadaan aturan pelaksanaan setingkat PP (Peraturan Pemerintah).

Pada awal Agustus 2017, Kementerian Sosial menginisiasi pertemuan dengan sejumlah organisasi penyandang disabilitas dan aktivis difabel di Yogyakarta. Direktur Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Kementerian Sosial Bambang Sugeng menyampaikan keinginan kementerian sosial menyatukan saja 15 PP sebagaimana diamanatkan UUPD menjadi cukup 1 PP saja. Kontan saja, seluruh peserta dari perwakilan Organisasi Disabilitas dan Organisasi yang consern pada isu-isu Disabilitas menyampaikan protes yang berujung penolakan mereka atas rencana simplifikasi itu.

Protes tersebut sampai sekarang masih berlangsung. Kemarin, 11 Agustus 2017, atas inisiatif sejumlah aktivis difabel dan dukungan dari Bappenas terjadi pertemuan. Sebelumnya, gerakan menolak PP Sapujagat sudah memutuskan agar gerakan ini menyiapkan 7 draft RPP sebagaimana diinginkan berdiri sendiri (tidak disatukan). Berdasarkan 7 draft RPP itulah, maka gerakan penolakan PP Sapujagat ini kemudian berhasil meyakinkan pihak Bappenas untuk mendorong kementerian/lembaga terkait menyiapkan draft RPP dan menolak hanya satu PP saja.

 

Namun, walaupun Bappenas sudah memberi dukungan, belum tentu kementerian sosial yang selama ini merasa diri sebagai “pemimpin sektor disabilitas” akan menyerahkan atau bahkan mempercayakan kementerian lainnya untuk mengurusi urusan disabilitas. Pun demikian dengan kementerian/lembaga lain selain kemensos belum tentu merasa siap untuk memikul tanggung jawab yang selama ini diemban [secara berlebihan] oleh kemensos. Jadi, dukungan Bappenas—walaupun kita bersyukur akan dukungan tersebut—belumlah cukup kuat untuk membuat gerakan disabilitas ini merasa puas dan Kita Harus Tetap Mendorong agar 7 PP ini disiapkan dan disahkan.

Untuk itu, sebagaimana gerakan disabilitas menolak PP Sapujagat ini telah bergulir, maka kami penggerak gerakan disabilitas di Sulawesi turut serta dalam aksi tersebut dan berjanji akan mengawal proses ini hingga pemerintah memenuhi amanat UU Penyandang Disabilitas demi penghormatan kepada Difabel seadil-adilnya. Mari Jaga dan Lanjutkan Perjuangan Penegakan Hak-Hak Difabel!!!

Pantai Losari Makassar, 13 Agustus 2017

 

KAMI YANG MENOLAK “RPP SAPU JAGAT PENYANDANG DISABILITAS” 

  1. Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK SulSel) 08124106722
  2. Gerakan Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Sulawesi Selatan (+62 813-4398-3772)
  3. Gerakan Mandiri Difabel Mamuju (Gema Difabel Mamuju) Sulawesi Barat (082 344 717 055)
  4. Ikatan Alumni Ilmu Politik Unhas (+62 811-460-600)
  5. Ikatan Alumni PSBD Wirajaya (+81354886540)
  6. Active Society Institute, AcSI (+62 852-5516-4723)
  7. DPD Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia, PPDI SulSel
  8. DPD HWDI Sulawesi Selatan (+62 853-4188-3630)
  9. DPD Pertuni Sulawesi Selatan (+62 852-5543-2646)
  10. DPC Pertuni Kota Makassar (+62 853-9658-4550)
  11. PerDIK Bulukumba (+62 852-9986-8893)
  12. PerDIK Enrekang (+85398815678)
  13. DPD Pertuni Sulawesi Barat (+62 851-4510-1606)
  14. Aksara Bantaeng (+62 811-4611-799)
  15. Yasmib Sulsel
  16. Aliansi Pemuda Peduli Kemanusiaan Sulawesi Barat, APPK SULBAR (+6285-241-714-198)
  17. Perkumpulan Tuna Daksa Kristiani (PERSANI) Kupang – Nusa Tenggara Timur.

Romansa Seorang Ibu Melawan Diskriminasi Disabilitas

Oleh Nur Syarif Ramadhan

SELAIN PERTAMA KALINYA MENGIKUTI DISKUSI pembahasan peraturan perundang-undangan terkait isu pemenuhan hak-hak difabel di Jogjakarta, saya juga beruntung bisa bertemu dan berdiskusi dengan seorang tokoh difabel yang telah sepuh. Sejak muda ia sudah berjuang untuk mengangkat harkat, martabat dan kesetaraan hidup bagi difabel.

Sebenarnya, saya sudah menemukan namanya dalam daftar peserta yang dikirimkan panitia sehari sebelum acara berlangsung. Saya menduga dia lah orangnya, tetapi saya belum yakin betul, apakah nama itu memang dirinya, atau sosok lain. Ternyata, dugaan itu benar. Dialah Ariani Soekanwo, yang dalam beberapa catatan sejarah lebih sering disebut Ariani Muin. Banyak aktivis difabel—tua maupun muda—mengenalnya sebagai aktivis yang membela hak-hak difabel—ibu Ariani lebih suka menyebut istilah Penyandang Disabilitas.

20170726_214843
Ibu Ariani Soekanwo dan Nur Syarif Ramadhan

Continue reading “Romansa Seorang Ibu Melawan Diskriminasi Disabilitas”

Kisah Seorang Bidan Melawan Stigma

Oleh Agung Prabowo (Peneliti INSIST)

cerebral-palsy-walker

TIDAK BANYAK ORANG TUA SEPERTI ibu Triana. Dia bersemangat menceritakan pengalamannya membesarkan Fafa, buah hatinya yang lahir lima tahun silam. Di tengah kesibukannya sebagai bidan di Desa Proppo, perhatian senantiasa tercurah ke anak laki-lakinya itu. Tidak jarang, ketika suaminya harus dinas di jam yang sama dengan jam kerjanya, anak mereka ikut serta. Saat bertemu dengannya, Aku sedang melakukan sebuah penelitian bertemakan ‘kesehatan’. Ia adalah salah satu informan kunci dalam penelitian ini. Entah karena penasaran atau sekadar basa-basi, aku meminta kepadanya untuk memperkenalkan anaknya.

Tidak ada keraguan sedikitpun yang tampak di wajah ibu satu anak ini. Setelah mengiyakan, dia pun bergegas menuju kamar yang tak jauh dari sofa ini. Beberapa saat kemudian, dia keluar menggendong anaknya yang terkulai. Ada senyum ceria di wajah bocah itu, layaknya anak usia lima tahun ketika bertemu ibu yang dirindukan. Senyum yang sama pun hadir di wajah ibunya.

Triana tampak kesulitan ketika akan meletakkan Fafa di pangkuannya. Pandangan mata Fafa liar dengan bola mata terus bergerak mengarah ke atas. Aku memerhatikannya dengan seksama. Kaki dan lengan Fafa mengaku seperti kayu. Pemandangan ini membuatku menegang, gamang dan bermaksud membantu Bu Triana. Tapi ibu ini jauh lebih sigap dari niatku yang hendak membantu.

Dengan berupaya menguasai perasaanku sendiri, aku memintanya untuk melanjutkan sejumlah pertanyaan yang tersisa.

Dalam pangkuan Triana, Fafa tidak bicara. Sesekali hanya terdengar dengung suaranya. Juga disertai gerak mata dan tubuh yang tidak beraturan. Sebagai ibu ,ia bisa mengerti semua isyarat itu. Aku sama sekali tak mengetahui apa yang digumamkan Fafa. Aku pun menjadi canggung dengan ketidakmengertian ini.

Sejak berkenalan langsung dengan Fafa, aku mulai berhati-hati saat akan berucap maupun bersikap. Sembari mendengar cerita ibunya, dalam pikiranku, aku berusaha mencari tahu apa yang terjadi dengan anak ini. Apakah ini penyakit atau bukan? Apa istilah yang tepat untuk menggambarkan kondisinya? Sebagai peneliti, bagaimana harusnya bersikap dengan dia dan keluarganya? Pastinya, aku merasa bodoh tidak mencari tahu sebelumnya karena memang tidak menduga sama sekali akan bertemu dia.

*

PP_Disability_Images

SESAMPAI DI KAMAR PENGINAPAN, aku putar kembali rekaman wawancaraku bersama Triana dan Fafa. Sambil mendengarkan, aku membuka laptop dan berselancar dari domain satu ke domain yang lain untuk mencari tahu apa yang Fafa alami. Selang beberapa menit, kursor terhenti di sebuah artikel yang menjelaskan kondisi Fafa.

Benar apa yang Triana katakan, anaknya bukan orang sakit. Fafa sejak lahir mengalami gangguan fungsi otak sehingga mempengaruhi syaraf dan tulang belakangnya. Secara medik, Fafa yang kerap mengalami kejang dan kesulitan mengontrol anggota tubuhnya  disebabkan adanya gangguan fungsi saraf. Umumnya kondisi seperti ini disebut dengan CP, akronim dari Cerebral Palcy. Paling tidak artikel yang aku baca sedikit menjawab pertenyaanku-pertanyaanku saat wawancara tadi. Aku tidak mau terjebak dipenjelasan lebih jauh ke hal medis atau sejarah CP. Selain membutuhkan waktu lama untuk mempelajarinya, penelitian yang aku lakukan bukan untuk menjawab kondisi medik kelompok difabel. Aku pun beralih untuk mendengarkan rekaman wawancara.

Pendekatan Medis Yang Tidak Berbuah Hasil    

Awalnya, Triana menduga anaknya mengalami CP karena adanya indikasi kesalahan penanganan saat persalinan. Saat dia akan melakukan persalinan, usia kandungannya sudah lebih bulan. Oleh dokter yang membantu persalinan itu, dia mendapat tindakan induksi dengan maksud memancing kontraksi sehingga bayi bisa keluar dengan mudah. Sialnya, induksi yang dokter berikan bukannya berhasil membuat Triana kontraksi, tapi justru mengenai janin. Tindakan tersebut berujung pada gawat janin dan memaksa dokter melakukan operasi sesar untuk menyelamatkan ibu dan bayi.

Tapi ada pendapat lain dari rekan kerjanya yang juga seorang bidan. Menurut rekan Triana, penyebab kerusakan syaraf Fafa bukan karena kesalahan tindakan dokter saat memberikan induksi. Baginya, kerusakan syaraf di Fafa terjadi karenakan faktor usia kandungan yang sudah lebih bulan.

Setelah persalinan itu, Fafa sering menangis sebagaimana anak seusianya. Tapi semakin bertambah usia, intensitas tangisannya terus berkurang. Bahkan dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk memulai komunikasi dengan orangtuanya.

“Ngak bisa ngomong kan pak, cuman isyarat saja. Yah begitu, biasanya sampai keringatan sendiri di tempat  tidur.” ungkap Triana dengan dialek Maduranya.

Triana mengaku cukup kesulitan untuk memahami kebutuhan sehari-hari Fafa. Tidak ada tanda seperti  tangisan, teriakan apalagi perkataan untuk meminta sesuatu. Seiring waktu, dia mulai  mempelajari isyarat yang anaknya berikan. Mempelajari tiap tanda yang hadir lewat gerak tubuh dan mulai menerjemahkannya.

Fafa juga kerap mengalami kesulitan bernafas dan harus menggunakan alat bantu pernafasan. Triana sengaja memasang alat bantu karena khawatir dengan kondisi anaknya. Dari pelajaran semasa kuliahnya, dia mendapat informasi bahwa ketika otak anak kurang mendapat oksigen, maka akan semakin buruk kondisi syaraf anak. Tapi tidak begitu lama alat bantu pernafasan dia gunakan karena setelah kondisi anaknya mulai membaik, dia melepaskannya.

Ada beragam upaya Triana lakukan untuk menyembuhkan anaknya. Mengetahui anak laki-lakinya tidak dapat mengontrol gerakan tubuh, dia segera menemui dokter spesialis syaraf di Kota Surabaya. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, dokter menyatakan anaknya CP. Sebagaimana petunjuk dokter, dia kemudian secara rutin memberikan suntikan hormon ACTH. Suntikan yang dia gunakan untuk mengatasi kejang-kejang yang kerap datang menghampiri anaknya.

Dari pengamatan Triana, memang benar suntikan hormon memiliki efek mengurangi kejang, hanya saja tidak benar-benar menyembuhkan. Kunjungan berikutnya, dokter menambah dosis hormon ACHT. Dosis yang diberikan pun sudah di ambang batas, sementara kejang tidak kunjung redam. Dia pun menghentikan treatment hormon anaknya.

Triana melanjutkannya usahanya dengan obat-obatan. Sekali lagi, hasilnya pun nihil. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan kesembuhan. Dokter syaraf kemudian menyarankan pemeriksaan lanjutan menggunakan MRI untuk memastikan syaraf bagian mana yang mengalami gangguan. Dokter juga menyarankan pilihan perawatan medis, salah satunya operasi. Dengan tegas suami Triana menolak pilihan tersebut.

WhatsApp Image 2017-07-30 at 14.39.46
Ibu Triana

CP dalam Stigma dan Konstruksi Sosial

Menjadi orangtua bagi anak difabel bukanlah perkara mudah, apalagi di lingkungan yang belum pernah mengenal CP. Tetangga-tetangganya memiliki anggapan kuat, anak Triana mengalami kondisi yang mereka sebut sebagai sawan. Ibu-ibu di sekitar rumahnya menyakini sawan itu terjadi karena kesalahan orangtua. Jika ibu semasa hamil sakit dan tidak mendapat penanganan tukang pijat, maka ketika anaknya lahir akan mengalami sawan. Fafa inilah salah satu anak yang mereka percaya ‘kena sawan’.

“Ada pandangan umum masyarakat di Madura soal difabel pak, mereka istilahkan dengan ‘Sawan’. Masyarakat percaya ketika anak sakit dan tidak dipijat, maka anak yang dikandung nantinya akan ‘sawan’,” Triana menceritakan.

Tidak ada penjelasan lebih jauh soal ‘sawan’. Bagi Triana, masyarakat Desa Proppo menggunakan istilah sawan untuk merujuk kondisi anaknya yang mengalami CP—dan juga untuk anak difabel jenis lainnya. Istilah itu sebenarnya berkonotasi negatif, sama halnya dengan kondisi terkutuk karena mengabaikan ritual dan kepercayaan masyarakat setempat. Istilah ‘sawan’  juga diasosiasikan sebagai karma bagi orangtua yang melakukan kesalahan di masa lalu. Sebagai contoh, orang yang mengabaikan kepercayaan masyarakat setempat, berhubungan suami istri ketika sedang datang bulan, bisa berakibat fatal di anak yang mereka lahirkan nantinya.

Sejak gangguan syaraf Fafa mulai tampak secara kasat mata, aneka label negatif maupun ungkapan stereotip orang-orang mulai bermunculan. Walaupun Triana dikenal masyarakat sebagai seorang bidan, ia tidak lantas luput dari hujatan stigmatik sebagai ibu dari anak ‘sawan’. Status bidan desa yang Triana sandang pun mulai dipertanyakan. Tidak jarang warga yang hamil berusaha menghindari persalinan di kliniknya. Walaupun sudah mendapat maklumat dari Kepala Desa, masih ada saja warga yang menolak datang ke klinik Triana untuk bersalin.

Karena sawan menjadi wacana dominan di warga—akibat minimnya informasi tentang CP, masyarakat pun terjebak dalam dugaan-dugaan (prasangka—stereotip) dan kebingungan. Dugaan dan kebingungan yang mengakar kemudian berujung pada pemisahan (segregating) dan tindakan diskriminatif (dicriminating) terhadap hak-hak anak difabel. Salah satu bentuk pemisahan dan tindakan diskriminatif yang Triana sebutkan adalah hak anak difabel mendapat pendidikan yang bermutu . Anak difabel, dikarenakan label dan stereotif yang telah dilekatkan kepadanya kemudian mengalami pemisahan saat hendak bersekolah, yakni masuk di Sekolah Luar Biasa. Jika pun ada orang tua berupaya menyekolahkan anaknya di sekolah umum, maka pihak sekolah—yang tidak paham dengan kondisi disabilitas seseorang—dengan ringan mengatakan bahwa anak itu sebaiknya bersekolah di SLB saja. Ituah bentuk diskriminasi yang akan dihadapi difabel. Keseluruhan proses labelisasi (sebagai anak sawan), lalu upaya stereotip (menyangka anak sawan anak tidak mampu, ibu yang membawa karma), lalu pemisahan dan kemudian diskriminasi itulah yang disebut sebagai stigma. Tidak sedikit orangtua maupun anak tertekan dengan stigma seperti itu. Ujungnya, mereka bisa merasa malu dan dalam keadaan terdesak, orang tua bisa menyembunyikan anaknya di balik tembok kamar yang sunyi.

Di tengah keputusasaan Triana memperbaiki kondisi fisik anaknya, dia pun harus berhadapan pula dengan stigma negatif yang lingkungan sosial lekatkan pada anaknya. Hingga akhirnya dia mulai menggunakan media sosial facebook untuk bertukar pengalaman dengan sesama orangtua difabel CP dan mengusahakan desain sosial baru untuk anaknya.

Keluar Kotak, Mengusahakan Lingkungan Inklusif

PERKENALAN TRIANA DENGAN ORANGTUA anak CP melalui facebook tidak hanya di lingkup Kabupaten Pamekasan saja, tapi juga kota-kota besar lain seperti Surabaya, Yogyakarta, Semarang dan Bandung. Mulanya, dia mencari group dengan kata kunci ‘orangtua CP’. Dari situlah dia mulai berinteraksi dengan user lain di dalam group. Demikian seterusnya hingga ada sejumlah akun yang dia ajak berkenalan dan saling berbagi pengalaman.

Menurut Triana, ketika dia bertemu orangtua CP yang lain di media sosial, sikap paling dominan yang dia rasakan adalah saling mendukung satu sama lain. Orang-orang saling berbagi pengalaman dan bertukar informasi mengenai ruang-ruang publik asik yang mereka nilai aksesibel dan inklusif.

Setelah mendengar cerita-cerita dari kota lain, Triana sadar bahwa di Kabupatennya belum ada perhimpunan orangtua anak difabel yang bisa dia manfaatkan sebagai wadah belajar. Berbeda dengan Yogyakarta dan Bandung yang baginya kedua kota ini sudah lebih maju dengan memanfaatkan organisasi sebagai tempat berkumpul dan belajar satu sama lain. Bahkan menurutnya, Pemerintah Daerah di kedua tempat tersebut susdah lebih serius dibandingkan Pamekasan dalam memperhatikan kelompok difabel.

“Di Surabaya ada teman saya anaknya juga CP. Di Yogyakarta juga ada CP. Di Bandung bahkan lebih bagus lagi. Ridwan Kamil (walikota Bandung) kayaknya bagus, jadi dia itu kan ada Taman Inklusi khusus difabel. Aduh, saya ngiri pak!”, kata Triana.

Triana sadar dirinya bukan Ridwan Kamil. Tapi dirinya tetap memperjuangkan linkungan yang inklusif untuk anaknya. Berbekal semangat belajar dan informasi yang dia dapat dari diskusi-diskusi dalam group, dia mulai membentuk pemahaman orang-orang di sekitarnya.

Triana memulainya dari lingkungan rumah dan lingkungan kerja. Di lingkungan rumah, dia membiasakan diri membuat tetangga-tetangganya berinteraksi langsung dengan anaknya. Menyertakan anaknya ke dalam lingkar obrolan ibu-ibu atau hanya sekadar berkunjung ke rumah sebelah. Dalam interaksi itu, dia juga terus menyisipkan informasi tentang CP dan dengan tegas menyatakan bahwa: Fafa tidak sakit! Fafa sama dengan anak lainnya! Fafa baik-baik saja dan tidak perlu khawatir melihat fisiknya!

Ketika harus menjalani jam dinasnya di Puskesmas, Triana dan suaminya pun kerap membawa Fafa. Dengan sengaja dia menitipkan anaknya itu di teman-temannya. Miminta rekan bidan lain untuk mengajak anaknya bermain, berbincang atau jalan-jalan di sekitar puskesmas. Dia sebisa mungkin membuat lingkungan kerjanya terbiasa dengan keberadaan anaknya. Dengan demikian, anaknya tidak harus terasing di dalam kamar. Triana pun bisa bekerja tanpa harus khawatir anaknya berada di luar pengawasan.

Kedua cara Triana tersebut terbukti ampuh dan berdampak positif di anaknya maupun di lingkungan sosial mereka. Anaknya kini sudah mulai menunjukkan perkembangan dalam berkomunikasi—walaupun masih dominan bahasa tubuh yang digunakan. Demikian pula dengan lingkungan sosialnya, lingkungan rumah dan tempat kerja, yang mulai bersikap biasa dengan keberadaan anaknya.

*

MEMANG TIDAK MUDAH KELUAR dari dominasi pendekatan medis ketika berinteraksi dengan kelompok difabel. Selama ini pendekatan medis kerap menegasikan difabel sebagai satu kondisi individu yang abnormal atau sakit. Ketika ada salah satu bagian tubuh yang tidak berfungsi dengan baik, dokter dan masyarakat umumnya menimpali individu tersebut dalam kondisi sakit. Dominasi ini pun berimplikasi pada hilangnya paradigma sosial ketika coba menggali lebih dalam akar masalah diskriminasi di anak-anak difabel.

Bukan hanya di masyarakat saja, tapi pendekatan medis pun begitu kuat memengaruhi hingga ke kalangan akademisi, lini kebijakan dan birokrasi pemerintahan, khususnya lembaga pemerintahan yang mendapatkan mandat menangani isu tersebut. Hal ini bisa kita lihat misalnya pada kebijakan penanganan anak berkebutuhan khusus yang bersifat eksklusif seperti membangun pusat-pusat rehabilitasi difabel berdasarkan jenis gangguan medisnya, lahirnya sekolah-sekolah khusus difabel (Sekolah Luar Biasa—SLB), membuat kelas khusus bagi difabel di sekolah inklusi dan sebagainya. Bahkan yang lebih memprihatinkan, lahirnya program bantuan yang berkedok pemberdayaan—yang sebenarnya menciptakan ketergantungan pada kelompok difabel karena hanya mengandalkan rasa kasihan (charity). Sementara masih sedikit program yang coba menyelesaikan permasalahan kelompok difabel dengan menggunakan pendekatan kritis dan emansipatoris.

Kebijakan yang tidak emansipatoris sudah seharusnya dihentikan. Pengalaman Triana di atas sudah sepatutnya menjadi pembelajaran bagi pemerintah di dalam mengambil kebijakan, khususnya terkait hak-hak anak difabel.

Di akhir pertemuanku dengan Triana, dia sempat menceritakan sejumlah rencana untuk anaknya. Mereka sudah mempersiapkan rencana pendidikan untuk anaknya. Bukannya SLB yang mereka tuju, sekolah Islam Terpadu tanpa embel-embel eksklusif dan cukup populer di Ibu Kota Kabupaten Pamekasan. Bagi mereka, Fafa pantas mendapatkan pendidikan terbaik seperti anak-anak lainnya.[]

Difabel Menolak PP “Sapu Jagat”

20170725_095639.jpg

PEMERINTAH MEMUTUSKAN UNTUK MENGGABUNGKAN 15 ketentuan pembentukan PP yang diamanatkan untuk Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas (UU Penyandang Disabilitas) menjadi 1 PP saja (PP “sapu jagat”). Keputusan itu untuk pertama kalinya disampaikan kepada publik dalam kegiatan Konsultasi Nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Sosial bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Pembangunan Masyarakat dan Kebudayaan, di Yogyakarta, 25-28 Juli 2017. Namun begitu, masyarakat penyandang disabilitas (atau difabel, red) yang berasal dari berbagai organisasi penyandang disabilitas dan organisasi lain yang aktif melakukan advokasi dalam isu difabilitas menyatakan penolakannya.

Continue reading “Difabel Menolak PP “Sapu Jagat””

Hikayat Seorang Pembaca Al Quran-Braille Pertama di Indonesia

Nur Syarif Ramadhan

Darma Pakilaran, sepertinya, tak banyak generasi  ‘milenial’ difabel Netra di Makassar yang familiar dengan nama itu. Apalagi bagi mereka yang baru menjadi warga binaan YAPTI (Yayasan Pembinaan Tunanetra Indonesia) medio 2007 – sekarang. Ah, kita memang tak pernah diajar merawat kenangan, terlebih buat orang-orang yang amat penting untuk dikenang. Mungkin begitulah memang bangsa kita, tak terlalu pandai ‘menghargai’, orang-orang sepuh yang di masa mudanya gigih dan gagah berjuang, menginisiasi sesuatu yang teramat berharga bagi kemaslahatan orang banyak.

darma pakilaran

Continue reading “Hikayat Seorang Pembaca Al Quran-Braille Pertama di Indonesia”

Difabel, Kaum Ableist dan Perundungan Dalam Kampus

Ishak Salim

KALAU MENDENGAR KATA RUNDUNG ATAU PERUNDUNGAN, barangkali belum banyak orang memahami artinya. Tapi kalau disebutkan kata bullying, maka sudah dipastikan banyak orang bisa memahami maknanya. Ya, bullying atau perundungan itu artinya perlakuan yang mengganggu, mengusik terus-menerus dan juga menyusahkan.

bullyingPagi ini (16 Juli 2017) beredar video soal perundungan terhadap seorang mahasiswa autisme oleh sejumlah mahasiswa lainnya di Universitas Gunadarma, Depok. Dalam video yang diberi judul ‘L[e]mparan Tong Sampah Maut’ dan beredar luas di dunia maya itu tampak korban perundungan merasa kesal kepada dua mahasiswa yang mengganggu langkahnya dengan cara menarik tas punggungnya. Sejumlah mahasiswa/i turut menyoraki kedua mahasiswa yang merisak difabel itu. Video ini kemudian mendapat respon dari berbagai pihak yang nyaris seluruhnya berisi kemarahan atau caci maki kepada mahasiswa yang melakukan perundungan.

Continue reading “Difabel, Kaum Ableist dan Perundungan Dalam Kampus”

Catatan Ringan Seorang Relawan Penerjemah Bahasa Isyarat

Andi muhammad mardhatilla

DI SUATU SIANG, TEMAN-TEMAN TULI dari GERKATIN Makassar (Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia) beserta sejumlah volunteer UNDEAFEATED sedang saling berbagi pengetahuan seputar Bahasa Isyarat Indonesia dan kata-kata [isyarat] dalam Bahasa Indonesia. Berikut saya hendak berbagi obrolan tersebut melalui catatan ringan berikut ini.

Mungkin beberapa teman sudah mengetahui bahwa di Indonesia terdapat dua bahasa Isyarat yang digunakan teman Tuli: SIBI dan BISINDO. SIBI adalah Sistem Isyarat Bahasa Indonesia, sementara BISINDO merupakan singkatan dari Bahasa Isyarat Indonesia. Mari kita tengok sepintas sejarah perjalanan kedua jenis bahasa isyarat ini.

Continue reading “Catatan Ringan Seorang Relawan Penerjemah Bahasa Isyarat”

Ketika Rabaan Pertama Membuatku Jatuh Cinta

Catatan Nur Syarif Ramadhan Dari MIWF 2017 (bagian 2 dari 2 tulisan, bagian 1)

miwf 2017

KIRA-KIRA SAAT SAYA MASIH DUDUK di bangku SMA (⁠⁠⁠2009-2012), saya akrab dengan novel-novel karangan Esti Kinasih. Saya masih ingat, setiap pulang sekolah, saya akan menjadi penghuni setia perpustakaan asrama hanya untuk mendengar digital talking book novel triologi Matahari Senja. Saat itu, untuk membaca novel bagi difabel netra di Makassar, khususnya yang menjadi binaan YAPTI—di mana saya tinggal di asramanya, dimanjakan dengan kiriman ‘buku bicara’ dari Yayasan Mitra-Netra Jakarta.

Continue reading “Ketika Rabaan Pertama Membuatku Jatuh Cinta”

Menyisipkan Isu Difabel dalam Festival Penulis Internasional Makassar: CATATAN DARI MIWF 2017

lily“Semalam, seseorang yang berpengaruh di kota, ini menghubungi saya. ‘Lili, kapan MIWF akan dimulai?’ katanya.”

“’Besok malam ceremony pembukaannya, pak. Akankah bapak akan datang?’”

“’Saya lihat jadwal dulu, ya.’”

“Sore tadi, sebelum acara ini kita mulai, saya kembali mengonfirmasi ke yang bersangkutan perihal kedatangannya. Tapi, ajudannya yang memberi jawaban: ‘Maaf, bapak lagi ada rapat politik. Tidak bisa diganggu’”

“Ini adalah festival sastra internasional terbesar dan satu-satunya di Indonesia Timur! Kita menyelenggarakan ini secara mandiri, tanpa turut campur pemerintah kota. Jadi, jika acara opening MIWF tak dihadiri pejabat, itu tidaklah menjadi perintang terlaksananya acara ini!”

Continue reading “Menyisipkan Isu Difabel dalam Festival Penulis Internasional Makassar: CATATAN DARI MIWF 2017”

Upaya PerDIK dan GEMPITA: Pelibatan Difabel dalam Pertanian Tanaman Jagung

Press Release PerDIK – Makassar, Sabtu 3 Juni 2017

SEGENAP PENGURUS GERAKAN Pemuda Tani Indonesia atau Gempita Indonesia bertemu dengan Pengurus Pergerakan Difabel Indonesia(PerDIK), kemarin 2 Juni 2017 di kantor PerDIK di Makassar.

IMG-20170603-WA0000

Pertemuan ini adalah untuk mendiskusikan peluang difabel di Sulawesi Selatan turut ambil bagian dalam program agraris, khususnya budidaya tanaman jagung di lahan-lahan tidur yang tersedia. Program ini merupakan inisiatif dari Gempita sebagai upaya mengurangi besaran impor pakan maupun pangan ke Indonesia dan meningkatkan kesejahteraan keluarga-keluarga petani melalui distribusi hasil panen yang lancar dan harga jual yang lebih terjamin.

Continue reading “Upaya PerDIK dan GEMPITA: Pelibatan Difabel dalam Pertanian Tanaman Jagung”