Dorong Partisipasi Difabel Dalam Pembangunan Kota, PerDIK dan ICW Gelar Diskusi Publik

Rilis PerDIK, 13-07 2020

Dalam kegiatan Public Hearing di kantor DPRD dan Kantor Bappeda Kota Makassar pada 13 Maret 2020, ‘Koalisi Organisasi Peduli Disabilitas Kota Makassar’ (Koalisi OPD Makassar) menyampaikan pentingnya pelibatan organisasi disabilitas dalam proses perencanaan maupun implementasi rencana pembangunan Kota Makassar. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang No.8 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas serta Peraturan Pemerintah No.70 tahun 2019 tentang Perencanaan, Penyelenggaraan, dan Evaluasi terhadap Penghormatan, perlindungan , dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas.

Dalam pertemuan tersebut, Ketua Bappeda Kota Makassar menyampaikan kesiapan pemerintah kota untuk menyusun Rencana Induk Penyandang Disabilitas (RIPD) dan akan melibatkan organisasi disabilitas maupun organisasi lainnya yang peduli pada isu disabilitas. Pihak Bappeda juga menyampaikan bahwa RIPD Kota Makassar nantinya diturunkan menjadi Rencana Aksi Daerah yang dalam hal ini difokuskan untuk pencapaian tujuan Makassar sebagai Kota Inklusi.

Untuk itu, usulan-usulan dari pihak Organisasi

Disabilitas menjadi sangat urgen dalam proses perencanaan pembangunan yang saat ini sedang berjalan. Terkait dengan penyusunan RIPD, pada 10 Maret 2020, Koalisi OPD Kota Makassar telah menyerahkan daftar masukan atau usulan kepada Kepala Bappeda Kota Makassar terkait alokasi anggaran pembangunan kota Makassar untuk tahun anggaran 2021 dan tahun- tahun berikutnya.

Usulan ini merupakan hasil diskusi bersama dan menjadi bagian dari bentuk partisipasi organisasi difabel maupun organisasi peduli difabel dalam perencanaan pembangunan Kota Makassar.

Adapun koalisi OPD tersebut adalah Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK), Gerakan Kesejahteraan Tuli/Tuna-rungu Indonesia (GERKATIN Makassar), Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia, (ITMI) Sulawesi Selatan, Persatuan Tunanetra Indonesia, (Pertuni) Sulawesi Selatan, Gerakan Mahasiswa dan Pelajar untuk Kesetaraan (Gemparkan), Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Sulawesi Selatan, Perhimpunan Mandiri Kusta (PerMaTa) Makassar dan Pustakabilitas Indonesia.

Bidang-bidang yang menjadi usulan program pembangunan tersebut mencakup: Bidang Mobilitas dan Fasilitas Umum, Pendidikan (Bidang Infrastruktur dan Bidang Non- Infrastruktur), Kesehatan, Ketenagakerjaan, Ekonomi, Politik dan kewarganegaraan, Bantuan dan Jaminan Sosial, Informasi dan Komunikasi, Olahraga, Rekreasi dan Kesenian, Hukum dan HAM, Teknologi Tepat Guna, dan Pengurangan Risiko Bencana.

Sebagai tindak lanjut dari Pertemuan atau Public Hearing tersebut, maka Koalisi OPD Kota Makassar, akan menyelenggarakan Diskusi Publik yang lebih lanjut membahas proses  perencanaan pembangunan (RIPD dan RAD Kota Makassar sebagai Kota Inklusi) yang sedang atau  telah berjalan di jajaran pemerintah Kota Makassar. Kegiatan ini, merupakan kerjasama antara PerDIK sebagai anggota Koalisi Organisasi Peduli Disabilitas Kota Makassar dengan Indonesia Corruption Watch (ICW) dan menjadi bagian dari program “Monitoring Layanan Publik Bagi Penyandang Disabilitas” 2019/2020.

Diskusi Publik tersebut akan dihelat secara daring melalui aplikasi zoom pada hari Selasa, 14 Juni 2020 dengan bertindak sebagai pemantik diskusi adalah; Kepala Bappeda Kota Makassar, Ibu dr. Andi Hadijah Iriani R, Sp.,THT., M.Si, yang akan berbicara mengenai “Perspektif Disabilitas dalam Rencana Pembangunan Kota Makassar: Dinamika  Penyusunan Rencana Induk Penyandang Disabilitas (RIPD) Kota Makassar. Selain itu, Koalisi juga berharap kesedian ketua DPRD kota Makassar, Bapak Rudianto Lallo, SH, yang akan bercerita mengenai Makassar Kota Inklusi: Strategi dan Dinamika Penganggaran Pembangunan Makassar Menuju Kota Inklusi. Dari kalangan difabel, Nur Syarif Ramadhan, yang merupakan aktivis muda difabel dari PerDIK akan bercerita mengenai Partisipasi dan Sumbangsih Difabel dalam Pembangunan Makassar Menuju Kota Inklusi

Diskusi ini akan dimoderatori oleh Abd. Rahman, Direktur PerDIK yang merupakan difabel Visual. Panitia juga akan menyediakan juru bahasa isyarat, agar jalannya diskusi dapat diakses oleh Tuli.

Koalisi organisasi difabel Makassar berharap agar kegiatan ini dapat berlangsung dengan baik dan proses partisipasi difabel (OPD) dalam pembangunan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai pada monitoring dan evaluasi kinerja pemerintah kota Makassar dapat terus berlangsung sampai tujuan pembangunan inklusif tercapai dan warga dengan disabilitas mendapatkan hak, harkat dan martabatnya secara manusiawi dan berkelanjutan.[*]

Urgensi Kolaborasi Koalisi Organisasi Disabilitas dan Jurnalis Independen Kota Makassar

Bagi tindakan aktivisme disabilitas yang memiliki target pergerakan berupa transformasi sosial, relasi antara organisasi pergerakan disabilitas dan media massa perlu dijaga. Organisasi disabilitas memiliki agenda mengubah perspektif stigmatik masyarakat terkait disabilitas. Yakni mengubah perspektif berbasis tragedi, derita serta objek amal atau bantuan, menjadi berperspektif kemampuan, subyek bermartabat dan berdaulat. 

Di sisi lain, media massa merupakan institusi yang mampu mengubah perspektif pembaca akan suatu peristiwa dan keberpihakannya untuk menyiapkan informasi yang benar dan adil kepada khalayak luas juga tak dapat diabaikan.

Dalam setahun terakhir, PerDIK bersama sejumlah organisasi disabilitas melakukan analisis dan advokasi anggaran publik pro disabilitas. Kegiatan ini  adalah melakukan peningkatan kapasitas aktivis difabel dalam membaca anggaran publik, melakukan riset persepsi difabel terhadap layanan kesehatan kota makassar, training advokasi serta melakukan kampanye jalanan dan mengajukan sengketa informasi publik ke KIP Sulawesi Selatan.

Selama proses ini berjalan, beberapa persoalan kemudian dihadapi oleh koalisi. Pertama, persoalan data jumlah difabel yang masih berantakan, fasilitas layanan kesehatan yang belum akses atau dapat mengakomodasi difabel dan minimnya alokasi anggaran yang disediakan pemerintah dalam memenuhi hak difabel di kota Makassar.

Selain itu, pemerintah cenderung merahasiakan informasi anggaran kota Makassar terhadap warganya yang difabel. Ini terjadi saat koalisi organisasi disabilitas ingin melakukan analisis anggaran dan meminta data informasi anggaran ke beberapa SKPD, informasi tersebut enggan diberikan.

Sayangnya, anggota dewan  juga cenderung menganggap isu ini tidak terlalu penting. Ini terlihat saat koalisi organisasi disabilitas melakukan public hearing ke anggota  DPR,  Koalisi hanya ditemui oleh satu anggota dewan dari fraksi PKS.

Kami kemudian memikirkan agar Kerja kolobarotif ini diperluas, khususnya dengan Pihak Media, agar  Informasi terkait proses kerja kolaborasi, informasi dari hasil kerja maupun pengetahuan yang diproduksi selama kerja kolaborasi berlangsung dapat direproduksi dan disebarluaskan melalui beragam media: Media Massa Daring maupun Luring.

Untuk itu, kami mengadakan sebuah Media Briefing  pada Kamis, 25 Juni 2020, Pukul 10.00 – 12.30 Wita, bersama Koalisi DPO Kota Makassar dengan disupport pula oleh Indonesian Corruption Watch (ICW) dengan kawan-kawan Jurnalis kota Makassar. Tentu saja hal ini terbuka untuk umum, utamanya bagi para penggiat isu disabilitas.

Diskusi ini sekaligus meminta pihak media massa memberikan masukan kepada aktivis difabel mengenai strategi perjuangan kemanusiaan berbasis media.(*)

Penantian Setelah Persetubuhan Terlarang

Oleh Zakiya, Paralegal PerDIK

DESEMBER 2018 LALU, squad PerDIK sedang melaksanakan Pelatihan Pengorganisasian dan Advokasi Difabel untuk orang muda di Taman Belajar Inninawa, Bantimurung. Pelatihan berlangsung selama lima hari. Pada hari terakhir kegiatan, 21 Desember 2018, Didi, seorang Juru Bahasa Isyarat dalam kegiatan ini, kembali ke Makassar lebih awal. Ia bilang, PerDIK menerima surat permohonan pendampingan kasus pemerkosaan dengan korban adalah anak Tuli. Didi akan menjadi penerjemah bagi paralegal maupun pengacara PerDIK saat mereka berkomunikasi dengan korban. Saat itu saya ingin ikut dalam penangananya. Posisi saya juga adalah seorang paralegal di organisasi ini. Tapi hari itu saya bertanggung jawab untuk pengurusan administrasi peserta. Saya harus tetap tinggal sampai pelatihan usai.

Kami berbagi tugas. Didi Bersama dengan Kak  Uci (Fauziah Erwin) akan bertemu korban. Kak Uci, sebagai pengacara publik sekaligus koordinator Tim Advokasi PerDIK akan bertemu dengan korban dan keluarganya. Kasus ini merupakan kasus kedua yang kami dapatkan di 2018 dengan waktu yang cukup berdekatan. Meski keduanya adalah kasus pemerkosaan difabel Tuli, tapi korbannya kali ini adalah berkategori anak, sehingga proses pendampingannya berbeda dengan korban dewasa. 

Proses pendampingan yang berbeda bukan hanya karena korban adalah Tuli dan masih usia anak, tapi juga karena saat keluarga korban mengadu, korban tengah hamil 5 bulan. Kak Uci dan Didi mendampingi proses awal pelaporan dan penilaian psikologis bersama P2TP2A Kota Makassar dan kami memulai pendampingan di awal 2019. 

Paralegal saat menemani korban

Kepada keluarga korban, kami menjelaskan proses penanganan kasus dan tantangan yang kemungkinan dihadapi, termasuk jangka waktu hingga adanya putusan hakim yang berkekuatan  hukum tetap yang bisa memakan waktu bertahun-tahun. Dalam kemungkinan waktu panjang ini, Sebagai pendamping, kami dan keluarga korban sangat perlu untuk saling menguatkan. Setelah penjelasan, kami meminta keluarga korban untuk selalu berkomunikasi dengan kami terkait dengan korban. Refleksi kami dari pengalaman pendampingan kasus pemerkosaan yang terjadi di Makassar—dengan korban difabel maupun non-difabel, kasus berhenti di saat proses masih berjalan di mana keluarga korban memilih menikahkan korban dengan pelaku dengan alasan kultural, menutupi Siri’ atau malu.

Kebanyakan pilihan ini diambil tanpa persetujuan penuh dari korban dan tidak memikirkan konsekuensi selanjutnya yang tentu saja bisa fatal. Pernikahan antara pelaku dengan korban sebagai bentuk pertanggungjawaban dan penyelesaian secara kekeluargaan, sangat besar kemungkinan menjadikan korban sebagai korban lagi. Potensi kekerasan berlanjut terhadap korban dengan mudah terbangun.  Banyak kekerasan bisa terjadi setelah pernikahan tersebut seperti kekerasan fisik, mental, ekonomi hingga penelantaran. Untuk risiko semacam ini, kami merasa perlu menyampaikan kepada pihak keluarga bahkan khususnya kepada korban dan sedapat mungkin menghindari pola penyelesaian kasus “dibelakang” pendamping. Bagi kami, apapun model penyelesaian perkara yang diputuskan korban atau keluarganya, sebaiknya berdiskusi dengan pendamping. 

Setelah bersepakat, kami lanjut mendampingi korban dalam setiap proses yang berhubungan dengan kasusnya seperti BAP, pemeriksaan kesehatan dan tingkat pendengaran serta pendampingan psikolog. Awal 2019 merupakan awal tersibuk kami bekerja. Ada dua kasus yang sedang kami dampingi. Keduanya merupakan kasus difabel berhadapan dengan hukum. Kami berkoordinasi dan bersosialisasi serta berjejaring dengan mitra-mitra strategis. Bagaimanapun, lembaga kami tak mungkin bisa menjalankan mandat secara maksimal tanpa support dari kawan-kawan pergerakan lainnya maupun pihak-pihak lain yang dapat memberikan dukungan dalam penyelesaian kasus 

Dalam proses pendampingan difabel berhadapan dengan hukum, kami akan mengunjungi rumah korban. Kami membutuhkan sebanyak mungkin informasi dari korban, saksi dan keluarga korban untuk memahami kausalitas dan relasional permasalahan ini. Selain itu, kami juga akan membangun ikatan emosional dan memberi dukungan moril dengan menemani dan mendengarkan pendapat korban.

Mendampingi Korban

Suatu hari, kami mendapat kabar yang menyesakkan. Menurut keluarga korban, ada tindakan perundungan atas korban dan ancaman pengusiran oleh sejumlah anggota masyarakat. 

Saya lupa kapan pertama kali berkunjung ke rumah korban, tapi saat itu saya dan kak Uci datang menemui ketua RT dan RW setempat untuk meminta penjelasan. Kami diberitahukan bahwa korban yang mengandung tanpa suami itu adalah aib. Sejujurnya, saat pertama kalinya berkunjung ke permukiman korban ini, saya berfikir bahwa lingkungan ini tidak tepat untuk korban, khususnya setelah melahirkan dan merawat anak. Letaknya di pinggiran kota Makassar dengan kanal air menuju laut yang terletak di depan rumah. Lokasi tersebut didominasi oleh keluarga nelayan dan pedagang ikan. Menurut saya, lingkungan seperti ini, akan berisiko membiarkan anak-anak bermain tanpa pengawasan orang dewasa. Saya pun mengkhawatirkan anak dalam kandungan korban, bagaimana nanti anak itu harus tumbuh dalam lingkungan seperti ini? Memprihatinkan,  tapi saya tidak punya daya mengubah keadaan lingkungan tempat tinggal korban atau memintanya pindah dari lokasi tersebut. 

Bagi saya, mengunjungi korban dan melihat lingkungan kediamannya memberikan gambaran sosial atas peristiwa perkosaan ini. Di awal kasus ini muncul, kami diberitahu bahwa pelaku adalah kerabat korban yang rumahnya tidak jauh dari rumah korban. Karena kedekatan dengan keluarga, pelaku sudah sering keluar masuk rumah korban dan berinteraksi dengan angota keluarganya. Tidak ada prasangka dari pihak keluarga korban jika pelaku sanggup memerkosa korban. Dari kunjungan itu pula saya melihat bagaimana korban menjadi double korban. Ia yang diperkosa dan kemudian mendapatkan perundungan sampai diancam diusir. Tekanan psikologis lalu hadir, bukan hanya kepada anak ini namun juga anggota keluarganya. 

Tapi, berbincang dengan ibu korban, saya mendapatkan perspektif lain tentang kerentanan. Menurutku, ibunya luar biasa. Ia bergeming dari perundungan itu dan akan tetap membela anaknya. Tekanan itu hanya akan membuatnya berpikir pendek dan mengambil jalan pintas mengawinkan anak. Setidaknya, pemikiran akan mengawinkan korban dengan pelaku itu tampak dari pengurus RT yang kami temui. Belakangan kami tahu kalau pengurus RT ini masih kerabat dengan pelaku. Bahkan pengurus RT tersebut cenderung menyalahkan ibu korban karena menolak rencana pernikahan itu dan tetap memilih jalur hukum. Menurutku, saat itu nada bicara orang ini menyebalkan dan meremehkan pendamping korban. 

Sebagai pendamping, kami menyatakan dengan jelas dan tegas bahwa jika pengusiran itu terjadi, kami akan memperkarakan setiap orang yang terlibat. Kemudian pulanglah oknum RT itu dengan mimik yang jelas terlihat kesal. Kunjungan itu memberikan rasa lega dan juga keprihatinan di saat yang sama. Bagaimana mungkin seseorang yang seharusnya mengayomi dan melindungi justru terlihat menyudutkan korban dan keluarganya? 

Selain menjelaskan posisi dan pemikiran kami atas solusi yang ditawarkan itu, sebagai pendamping, kami juga selalu berupaya menguatkan mental korban dan menenangkan jika ada tekanan sosial menerpa. Kami juga berharap agar korban atau keluarga korban agar menahan emosi dan tidak gegabah. Dengan cara begitu, kami membuat ibu korban menjadi lebih percaya diri dan mau mengabaikan berbagai gosip yang menyebar meski sesekali menyahut kepada tetangga yang omongannya dirasa berlebihan. 

Selama pendampingan kasus ini, saya melihat masing-masing pergulatan batin pada korban dan ibunya. Mungkin karena kondisi pendengaran korban dan tidak pernah mengenyam pendidikan formal, korban jadi tidak mengetahui cara mengekspresikan perasaan frustasinya. Meski dalam setiap pertemuan korban terlihat baik-baik saja, tapi ada saat-saat tertentu ia terlihat oleh ibunya tiba-tiba diam, menangis sendirian, termenung sambil mengelus perutnya yang kian membesar dan muntah. Di lain pihak, ibu korban harus menguatkan korban dan dirinya sendiri di tengah-tengah gossip isu-isu negatif mengenai anaknya, omongan tetangga dan keluarga pelaku, permasalahan keluarga, kejelasan kasus yang belum diketahui, kenyataan bahwa pelaku belum juga ditahan dan masih sering muncul di lingkungan tempat tinggal mereka. 

Setahun lebih kasus ini bergulir dengan segala hambatan dan pelajaran yang bisa kupetik. Mulai dari model berkomunikasi, proses BAP yang lebih 10 jam, berkas yang dikembalikan jaksa, pencarian saksi yang memakan waktu, korban yang melahirkan, anak tumbuh namun kasusnya belum menemui titik terang, stress yang akhirnya juga dialami oleh para pendamping dan masih banyak lagi. Sama dengan kasus difabel Tuli yang menjadi korban kekerasan sebelumnya, kebanyakan kendala yang kami hadapai pada kasus kali ini adalah dari segi komunikasi.

Bahasa Isyarat mutlak dibutuhkan Tuli untuk berbahasa

Kami mencoba berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). Namun, meski Didi, Juru Bahasa Isyarat membantu kami, korban rupanya tidak memiliki kosakata isyarat yang memadai untuk memudahkan perbincangan. Ia memang tidak pernah menempuh pendidikan formal. Korban hanya berkomunikasi secara sederhana dengan Ibunya yang bisa disebut menggunakan Bahasa isyarat ibu, Terkadang, ibu korban pun tidak mengerti maksud yang dibahasakan korban ataupun bingung cara menyampaikan sesuatu kepada anaknya. Hal ini membuat waktu untuk BAP memakan durasi hingga dua kali lipat dari biasanya. Bahkan, kami beruapaya mengombinasikan antara bahasa isarat Indonesia, Bahasa isyarat ibu dan membaca gerak bibir.

Sebagai pendamping, saya bertugas membantu JBI untuk menjabarkan dan menyederhanakan pertanyaan yang diajukan kepada korban, kami menyiasati kendala komunikasi tersebut dengan menggunakan semua media bantuan, mulai dari gambar, alat peraga hingga memperagakan setiap adegan yang ditanyakan oleh penyidik dengan sesekali melibatkan ibu korban agar korban lebih memahami. Cara ini cukup membantu karena memang pada saat BAP tidak melibatkan teman JBI Tuli sehingga saya dan Didi bekerjasama untuk beradegan sebagai pelaku dan korban.

Pada satu titik, muncul pertanyaan mengenai cara pelaku membawanya. Saya dan Didi mencoba memperagakan. Saat itu korban menunjukkannya hanya dengan pelaku menggenggam tangannya sehingga muncul pernyataan dugaan bahwa korban ikut dengan sukarela sehingga tidak ada unsur paksaan.

Sekali lagi kami menyederhanakan gerakan hingga akhirnya kami memahami bahwa pelaku bukan hanya menggenggam tangan korban, tapi juga menariknya dengan paksa. Di saat seperti ini, kemampuan kami untuk menyederhanakan, berfikir cepat, akurasi gerakan tubuh di uji agar korban benar-benar memahami maksud dari pertanyaan dan penjelasan selama BAP berlangsung.

Selama berinteraksi dengan korban, saya juga menambah kosakata Bahasa isyarat dengan bantuan Didi sebagai JBI, namun jika berinteraksi dengan korban tanpa Didi, saya berbicara dengan suara yang lebih keras dan gerakan bibir lebih lambat agar korban lebih mudah membaca gerak bibir.  

Setelah penantian itu

2020 adalah tahun kedua PerDIK melakukan pendampingan terhadap kasus ini yang sudah memberikan peningkatan signifikan dengan kolaborasi bersama dengan LBH Makassar dan LPSK. 

Kerja kami juga tak sia-sia. Tersangka akhirnya ditahan dan kami menghadapi sidang pertama pada 18 Mei 2020. Kami mempersiapkan dan melakukan koordinasi yang diperlukan dalam menghadapi sidang pertama ini. Kami juga tetap saling menguatkan dan memberi dukungan. Terlebih sidang ini dilaksanakan di tengah-tengah pandemik Covid-19 dengan beragam protokol kesehatan. 

Menurutku, Ini baru langkah kecil dalam memperjuangkan hak dan keadilan bagi difabel. Saya masih membutuhkan banyak langkah dalam pendampingan kasus difabel berhadapan dengan hukum. 

Belum lagi, proses sidang akan berbeda dengan proses sosial yang kami lalui.  Setiap orang harus bersiap, ini adalah salah satu momen yang kami nantikan. Saat kasus ini pertama kali disampaikan oleh koordinator tim, saya bertekad menyaksikan setia proses hingga pelaku mendapatkan hukuman. Namun sayang, sidang pertama ini saya justru tidak bisa hadir karena tidak berada di Makassar. Meski begitu, saya tetap berharap pelaku memperoleh hukuman berat dan korban mendapatkan keadilan yang selama ini ia perjuangkan. 

Sidang berjalan lancar dan singkat. Terdakwa mengakui tindakannya dan tidak membantah keterangan saksi korban dan saksi serta tidak menghadirkan saksi ad charge. Sehingga hakim memutuskan sidang selanjutnya pada 3 Juni 2020 adalah sidang pembacaan tuntutan. Satu langkah maju menuju keadilan bagi korban. 

Sayangnya, sampai tulisan ini selesai, sidang belum berjalan. Kabar dari koordinator advokasi melalui group whatsapp kami, ia menyatakan bahwa sidangnya ditunda karena surat permohonan ganti kerugian dari LPSK belum diterima jaksa atau belum dikirim LPSK. Insha Allah besok suratnya sampai di Makassar. Kalau sudah saya terima, langsung saya bawa ke Kejari[].

Palopo, 3 Juni 2020

Hari Buku Nasional dan Minimnya Buku Aksesibel Bagi Difabel Netra

Oleh: Nur Syarif Ramadhan

Peringatan Hari Buku Nasional (Harbuknas) telah dimulai sejak 2002. Menteri Pendidikan kala itu, Abdul Malik Fadjar, adalah orang yang pertama kali mencetuskan hari peringatan tersebut.

Tanggal 17 Mei dipilih dengan dasar yang jelas. Penetapan Harbuknas kala itu didasarkan dengan momentum hari berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 17 Mei 1980.

Dalam pengesahan Hari Buku Nasional itu banyak dari elemen masyarakat, khususnya kelompok pecinta buku yang mendorong terbentuknya hari peringatan tersebut.

Bukan tanpa alasan, penetapan itu memiliki tujuan utama yakni diharapkan dapat menumbuhkan budaya atau meningkatkan minat membaca dan menulis (budaya literasi ) dikalangan masyarakat.

Tapi apakah sudah ada yang memperhatikan pemenuhan hak untuk membaca buku bagi difabel Netra?

Karena perbedaan kemampuan dalam melihat, kami tentu kesulitan membaca buku-buku fisik seperti yang dilakukan kebanyakan orang.

Dulu, akses informasi bagi difabel netra  masih sangat terbatas, yaitu diperoleh dengan cara membaca bahan bacaan yang dicetak dalam tulisan Braille (huruf timbul yang dapat diraba), atau mendengarkan rekaman artikel yang direkam dalam bentuk kaset.

Coba bayangkan. Berapa banyak gedung perpustakaan yang diperlukan untuk menampung cetakan Braille seluruh informasi yang terdapat pada buku-buku yang dicetak? Atau, berapa banyak kaset yang dibutuhkan untuk merekam informasi yang terdapat di dunia maya yang jumlahnya tak terhitung itu?

Namun, “lain dulu lain sekarang.” Keterbatasan akses informasi bagi difabel netra  berangsur-angsur mulai teratasi. Berkat kecanggihan teknologi dan semakin terjangkaunya harga komputer dan gawai, akses informasi bagi difabel netra  pun semakin luas dan terbuka lebar.

Dengan sebuah komputer ataupun telepon pintar yang dilengkapi pembaca layar (aplikasi yang dapat mengubah teks menjadi keluaran suara), difabel netra  sudah dapat mengoperasikan komputer. Keterbatasan akan akses informasi pun dapat diatasi, karena difabel netra  juga dapat mengakses jutaan halaman web, mulai dari situs berita, e-mail, bahkan game online.

Begitupula dengan adanya buku digital yang disediakan oleh beberapa pihak seperti yayasan mitranetra di Jakarta dan adanya aplikasi google Books, telah memudahkan pembaca difabel netra dalam mengakses pengetahuan.

Meski demikian, jumlah bahan bacaan maupun penyedia bacaan yang aksesibel khususnya buku akses bagi pembaca difabel netra ternyata masih terbatas. Di Indonesia nyaris hanya yayasan mitra-netra [https://pustaka.mitranetra.or.id/] yang rutin memproduksi bacaan yang akses. Tentu ada juga penyedia lain, tapi jumlah buku dan rutinitasnya tidak sesering mitranetra.

Sebenarnya ada satu lagi platform yang rutin memproduksi buku digital milik negara yang jangkauannya maupun jumlah koleksi bukunya jauh melampaui mitranetra, yakni Perpustakaan Nasional Republik Indonesia melalui aplikasi Epusnas. Sayangnya buku-buku digital yang ada disitu tidak didesain ramah bagi pengguna pembaca layar.

Mungkin sudah banyak email yang dikirim pembaca difabel netra ke pengelola EPUSNAS agar bukunya bisa di desain agar ramah bagi pengguna pembaca layar, tapi belum ada satupun yang mendapat respon. Atau mungkin pengelola epusnas sedang melakukan perbaikan tapi belum di informasikan ke publik? entahlah.

Pada momen perayaan hari buku nasional 2020, sudah seharusnya negara memikirkan penyediaan produk pengetahuan yang dapat diakses oleh semua kalangan tanpa terkecuali difabel.[*].

https://ekspedisidifabel.wordpress.com/2020/05/17/disabilitas-netra-dan-buku-digital/

Disabilitas Netra dan Buku Digital

Oleh: Nabila May Sweetha


Membaca buku bukan kegemaran saya semasa kecil. Membeli buku sampai bertumpuk-tumpuk memang pekerjaan saya, bapak, dan mamak. Tapi, bukan karena saya suka membaca kisah dalam buku, namun karena saya selalu tak berkedip jika bertemu gambar-gambar anime. Sama sekali tak ada bakat menulis pada diri ini, sebelum menjadi buta.

Pertengahan 2017, mata saya mulai low berat. Bapak berhenti membelikan buku-buku bergambar, lebih fokus mencari dokter terbaik dan sekolah luar biasa yang bisa menerima saya. Bulan juni  tahun 2017, saya dimasukkan ke dalam SLB A/YAPTI Makassar. Saya belajar membaca huruf braille, dikenalkan dengan buku-buku braille. Ada buku yang memiliki gambar juga, tapi, gambarnya berupa titik-titik yang membentuk kesatuan. Saya tidak suka dengan gambar di buku braille, lebih tidak suka lagi membaca buku dengan titik-titik timbul itu. Rasanya selalu tidak sabar, jari-jari saya terlalu kaku. Terlebih lagi, gambar yang saya dapatkan dari titik-titik itu kurang memuaskan. Akhirnya, saya tidak fokus pada buku-buku braille. Selama bersekolah di SLB, kebanyakan saya membaca di laptop atau handphone.

Satu waktu, saya membaca tulisan salah seorang teman. Itu cerbung, dan saya seperti mengenal dunia baru.

Bagi saya, remaja yang pernah mengenal rupa, membaca menggunakan pembaca layar itu sangat menyenangkan. Otak saya berproses cepat, melompat dengan sigap, dan cekatan menggambar suasana-suasana yang dibacakan pembaca layar.

“Sore itu mengandung kering yang kerontang, dengan panas yang tak membuat tumbuhan hidup.”

Mendengar kata di atas, begitu saja di benak saya tergambar suasana texas yang kering dengan tumbuhan yang minim. Mulai sejak itu, saya menjadi gemar mengumpulkan buku lagi. Bukan untuk mencari gambar anime, tentunya. Tapi untuk benar-benar membaca, mengolah tulisan menjadi gambaran utuh di pelupuk. Beda dengan membaca pakai mata atau jari-jari untuk tulisan braille, membaca di handphone dengan bantuan pembaca layar itu sangat mudah. Tak ada kendala seperti mata perih, jari-jari pegal, atau kantuk karena terlalu lama membaca. Enak sekali, saya  tinggal mendengarkan pembaca layar.

Buku-buku yang saya baca di asrama YAPTI adalah buku semacam Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Mata Kedua, Istri Pengganti, Teman Tapi Menikah, Sang Pencerah, Ayat-Ayat Cinta, dan buku penguras air mata lainnya. Buku-buku itu bagus sekali, menurut saya di masa dulu.

Lulus SMP, sekolah di SMA Negeri 11 Makassar, bertemu orang-orang PerDIK, saya mulai bertemu bacaan-bacaan bergendre lain. Semisal Sepatu Dahlan, Habibie Ainun, Gost Flit, Laut Bercerita, Le petit Prins, dan buku-buku semacam ini. Saya masih lanjut membaca, di sela-sela kesibukan bersekolah. Pulang jam empat sore, biasanya saya makan dan istirahat dengan membaca buku dulu sebelum lanjut mengerjakan PR.

Naik kelas dua SMA, saya mendapat keberuntungan untuk kuliah di Institut Sastra Makassar (ISM). Saya mulai menelan liur ketika membaca buku-buku rekomendasi dosen. Ada yang cukup ringan, tapi lebih banyak lagi yang perlu dibaca berulang-ulang kali untuk mengerti. Tentu penulis terkenal dan sastrawan semacam Aslan Abidin, Aan Mansyur, IBS Pallogai, Faisal Oddang, dan lain-lain memiliki bacaan yang nyastra sekali. Saya harus terima saat mendapati tiada buku menye-menye di dalam list buku yang harus kami (mahasiswa) baca. Membaca buku After The Prophet, Dunia Sophie, Sampar, Ayat-Ayat Setan, memerlukan banyak tenaga. Dan awal-awal membaca buku-buku ISM, tak terbilang seringnya saya  mengulang bacaan.

Sekarang, saya menjadi orang yang cinta buku. Rasanya seperti menjanda jika tak bertemu bacaan dalam seharinya. Semakin sulit pembahasan dalam buku, semakin sering pula saya mengulang. Tapi itu bukan masalah. Toh, saya mencintai buku-buku itu. Tiap kali membaca, saya akan menemukan rindu di tiap bait-bait cerita.

Orang tanya, apa saya bercita-cita jadi penulis? Hmm, rasanya tidak. Saya malah lebih condong kuliah  politik, ketimbang sastra Indonesia. Tapi rasa cinta saya pada deretan huruf menuntun saya untuk terus membaca, menulis, dan membaca lagi. Saya menulis cerita-cerita sampah, menceritakan banyak hal dalam tulisan, hanya untuk memuaskan hasrat, tak lebih dari itu.

Apa saya ini penulis? Rasanya jawaban yang tepat adalah bukan.[*]

https://ekspedisidifabel.wordpress.com/2020/05/17/hari-buku-nasional-dan-minimnya-buku-aksesibel-bagi-difabel-netra/

Donasi Dari Komunitas Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus Untuk Difabel Lansia di Makassar

Oleh Nur Syarif Ramadhan (Kepala Pustakabilitas – PerDIK)

Awalnya, Resky Chiky (juru bahasa isyarat) mengabarkan jika ada koleganya dari Australia (Melbourne) yang selama ini mengumpulkan donasi untuk disalurkan pada difabel yang terdampak pandemi covid 19 di Indonesia.

Melihat aktifitas PerDIK, yang sejak pertengahan Maret lalu menghimpun donasi, dan menyalurkannya ke difabel lansia di kota Makassar dan kabupaten Gowa, Chiki lantas merekomendasikan PerDIK kepada kawan Australianya tersebut. Chiki menginformasikan pada saya, bahwa komunitas ini merupakan perkumpulan orangtua anak berkebutuhan khusus, baik itu yang tinggal di Australia, atau juga di Indonesia. Kebetulan saja, Ibu Medi Preston yang merupakan kawan dekat dari Ibu Lili Yulianti Farid (Direktur Makassar International Writers Festival), yang menghubungi chiki saat ini sedang bermukim di Melbourne Australia.

Sejak Pandemi covid 19 ini tersebar ke berbagai tempat, yang berakibat dengan diharuskannya orang untuk tinggal di rumah, komunitas ini kemudian membuat grup belajar online melalui platform sosial media facebook yang nama grupnya; Stay home, learn and therapy with parents. Grup ini dibuat sejak 20 maret 2020 dan saat ini telah memiliki 180 anggota.

Melalui grup ini, mereka rutin menyelenggarakan kelas belajar online yang temanya seputar pengalaman orangtua dalam berinteraksi dan memberikan pembelajaran pada anaknya yang memiliki disabilitas khususnya Sindroma Down dan Autisme.

Ibu Medi kemudian meminta saya berbagi pengetahuan mengenai difabel netra serta berbagai aktivitas yang selama ini dikerjakan PerDIK pada anggota grup. Saya setuju dan akhirnya dibuatkan jadwal mengisi di grup tersebut pada 11 mei 2020.

Dengan memanfaatkan fitur live di facebook, yang ternyata juga bisa dilakukan di grup tertutup bukan di news feed seperti yang dilakukan kebanyakan orang, saya memulai sesi. Sore itu, ada 21 anggota grup yang menonton siaran langsung dari teras rumah.

Saya mengawali dengan bercerita sekilas tentang katarak yang sudah bermukim di bola mata saya sejak berumur tiga bulan, beserta keterbatasan pengetahuan medis di kampung saya saat itu sehingga saya tidak mendapatkan tindakan medis yang tepat. Kemudian lanjut pada berbagai bentuk pendidikan yang saya lalui sejak bangku sekolah dasar di sekolah luar biasa hingga kuliah di universitas Negeri Makassar. Saya memperkenalkan beberapa teknologi alat bantu (asisstive Technology) yang banyak digunakan orang buta dalam beraktivitas sehari-hari, dimulai dari yang paling biasa disaksikan orang seperti tongkat, hingga pembaca layar (screen reader) yang sejauh ini amat banyak membantu orang buta dalam mengakses pengetahuan.

Saya melanjutkan dengan memperkenalkan apa itu PerDIK serta aktivitas -aktivitas apa saja yang telah dan sedang kami lakukan dalam mendorong proses inklusi difabilitas diberbagai sektor. Saya mengawali dengan awal pendirian PerDIK, mulai dari ekspedisi difabel menembus batas difabel mendaki gunung lantimojong tahun 2016 dan gunung sesean tahun 2017.

“Kegiatan mendaki gunung bersama difabel ini bukan ingin membuktikan bahwa difabel juga mampu mendaki. Tapi kami ingin menunjukkan bahwa mendaki bersama-sama dan bahu membahu tanpa sekat perbedaan berdasarkan perbedaan kondisi tubuh adalah hal yang mungkin dilakukan dan sudah seharusnya menjadi kekuatan kita atau modal sosial untuk bersama-sama mengatasi upaya pelabelan negatif, stereotif, pemisahan, dan diskriminasi berbasis perbedaan tubuh atau disabilitas.” seru saya sore itu bersemangat.

Saya melanjutkan dengan bercerita aktivitas PerDIK yang lain, mulai dari pendampingan yang dilakukan PerDIK terhadap perempuan difabel yang menjadi korban kekerasan seksual, serta advokasi-advokasi lain seperti mendorong partisipasi difabel dalam pesta demokrasi. hingga beberapa training-training kepemudaan inklusif yang pernah PerDIK kerjakan.

Saya mengakhiri sesi dengan menampilkan slide aktivitas PerDIK selama pandemi covid 19, yaitu menghimpun donasi dan menyalurkannya pada difabel lanjut usia di kota Makassar dan kabupaten Gowa. Sejauh ini kami sudah menerima donasi berupa uang yang jumlahnya sudah melebihi dua puluh lima juta dan beberapa barang baik berupa masker, hand sanitiser dan sembilan bahan pokok dan sudah kami salurkan pada 147 keluarga difabel yang terdampak.

Sharing online saya sore itu berlangsung menyenangkan. Meski belum terbiasa melakukan sharing secara daring, setidaknya apresiasi yang saya peroleh dari peserta cukup membuat saya yakin kalau apa yang saya sampaikan menarik buat mereka. Beberapa pertanyaan di kolom komentar seputar apa yang telah saya paparkan juga menunjukkan kalau mereka memperhatikan apa yang saya sampaikan.

Poster Donasi PerDIK

*

Jum’at kemarin, melalui ibu Medi Preston, komunitas orangtua anak berkebutuhan khusus sudah menyalurkan donasinya ke PerDIK. Insya allah donasi tersebut akan kami teruskan pada difabel lanjut usia yang sebelumnya belum kami datangi. Kami yakin ini akan bermanfaat khususnya dalam mennyambut hari raya idul fitri 1441 Hijriah yang sebentar lagi akan kita rayakan[*].

Ulangan Penjaskes Dimasa Pandemi dan Teman Kelas Yang Berhati Malaikat

Penulis: Nabila May Sweetha

Seperti hari-hari di masa pandemi yang lain, saya selalu siap sedia bersama handphone. Menunggu kalau-kalau ada guru yang mengabsen dan mengirim tugas. Maklum, sekolah online. Terkadang guru mengabsen di luar jam pelajarannya. Entah itu pukul lima dini hari, atau juga jam sembilan malam.

Pagi tadi (Selasa, 05 Mei 2019), guru mata pelajaran PenjasKes (Pendidikan Jasmani dan Kesehatan), mengirim list absen di grup WA. Saya mengisi daftar hadir, lalu menunggu materi atau perintah berikutnya. Tapi, lagaknya guru ingin menunggu teman-teman lain mengisi absen. Dalam penantian itu, kemudian saya berbaring dan jatuh ke dalam mimpi.

Keadaannya buruk sekali, sebab bangun-bangun jam sudah menunjukkan angka pukul satu siang. Bagaimana?

Saya membuka handphone, mengecek grub penjaskes, mendapati intruksi guru di bagian paling atas chat yang belum dibaca.

“Gambar lapangan lompat jauh,” titahnya.

Cepat-cepat saya membalas pesan itu secara pribadi, bertanya apakah boleh saya mengerjakan tugas yang lain. Entah itu membuat makalah bertema lompat jauh, atau mengumpulkan poin-poin penting yang berhubungan dengan olahraga itu. Kali ini, saya merasa santai saja. Toh, guru yang ini baik juga. Tak pernah memberi tugas yang aneh-aneh. Beberapa menit, balasan masuk.

“May belum kerja, kah?”

“Belum, Pak, tadi ketiduran.”

Tidak ada jawaban, kemudian saya menelesuri pesan-pesan yang belum dibaca lainnya. Lalu mendapati empat kontak teman sekelas mengirim foto hasil gambaran mereka, lengkap dengan nama lengkap saya di bagian atas kertas.

“Ini kugambarkan, La, biar kau tidak kena hukum lagi,” isi chat salah seorang kawan.

Dua lainnya juga berisi keterangan yang sama, intinya menggambarkan lapangan lompat jauh untuk saya. Saya langsung sedih, terharu juga. Mereka berempat mengerjakan tugas saya, padahal tanpa pintaan.

“Sudah kukirim gambarmu ke kontaknya bapak. Kubilang kuotamu habis, jadi tidak bisa kirim sendiri,” jelas teman lain.

Tentu, chat dari teman ini yang membuat saya agak gimana gitu. Saya langsung meninggalkan kontaknya, memanjat chat-chat yang menumpuk, berniat untuk mengapus pesan terakhir yang terkirim untuk guru penjas. Tapi, telat. Keterangan pesan itu sudah dibaca, dan jawaban guru sudah ada juga.

“Terus, tugas yang dikirim Fulan?”

Agak takut kena marah, saya pasrah mengetik pesan balasan.

“Iya, Pak, Fulan itu mau bantuin saya.”

“Ok, tugasmu diterima,” balas guru itu.

Rasanya antara lega sekali. Saya langsung berterima kasih ke empat teman tadi, mereka sudah repot-repot menggambarkan saya. Andai hanya satu teman yang menggambarkan, mungkin saya akan biasa-biasa saja. Ya, ini mereka berempat buang-buang waktu dengan menggambarkan gambar yang sama untuk saya.

Di sekolah integrasi, selain kurikulum yang mendukung perkembangan otak, yang saya syukuri lainnya adalah kawan-kawan ini. Karena tidak semua orang jahat, dan pasti ada mereka yang baik di tiap-tiap sekolah. Jika ada adik-adik yang mau mendaftar sekolah di sekolah umum, tapi takut dan lain-lain. Saya sarankan untuk mencoba dulu. Tak masalah guru jahat ke kita, tak masalah. Karena di sekolah manapun itu, di kelas manapun itu, selalu ada kawan-kawan yang baik macam mereka.[*]

*Penulis Merupakan totaly blind yang saat ini bersekolah di SMA Negeri 11 Makassar. Dapat di sapa di facebooknya; Nabila May Sweetha

Solidaritas Perempuan Disabilitas Untuk Balita di Masa Pandemi

Oleh: Yuki Melani (Konsultan HWDI Padang)

Sore itu, di Kota Padang. Ini hari keenam kami melaksanakan ibadah puasa. Aku sedang menyiapkan hidangan berbuka di rumah. Dari kamar terdengar dering hp. Aku mengabaikan karena takut meninggalkan masakan yang sedang terjerang. Namun dering hp tidak kunjung berhenti. Aku memutuskan menjawabnya dan bergegas menuju kamar mengangkat panggilan. Ternyata sudah 7 kali berdering. Di ujung telepon seluler terdengar suara yang akrab di telingaku. Ia pengurus HWDI Padang yang aktif.

“Ada apa Mel?” tanyaku.

Imel mulai bercerita. Keluarganya dan puluhan keluarga disabilitas netra saat ini sedang dalam kebingungan dengan pemenuhan kebutuhan susu dan makanan balita mereka. Sebagai keluarga yang menggantungkan diri dari usaha memijat, saat ini, tiada orang ingin memijat. Penghasilan dari memijatpun sudah tidak ada lagi, sedangkan teman atau keluarga lain pun sama susahnya untuk dimintai pertolongan.

Memang sebagian teman-teman sudah menerima sembako dari Dinas Sosial, namun kebutuhan dasar tersebut seperti ikan sarden kaleng, mi instan dll tidak dapat dikonsumsi bayi usia di bawah lima tahun. Imel juga memberitahu bahwa banyak diantara balita itu baru berusia beberapa bulan. Untuk sementara mereka hanya diberi air manis.

Aku terenyuh mendengarnya. Banyak pihak yang galang dana untuk kelompok rentan, namun belum ada yang terfikir untuk memenuhi kebutuhan susu dan nutrisi balita keluarga disabilitas di mana ayah bunda mereka tidak sanggup lagi membeli susu di tengah dampak ekonomi pandemi yang dahsyat menghantam dan pemberlakuan PSBB.

Usai obrolan itu, aku memberanikan diri menghubungi Ibu Ketua Tim Penggerak PKK Kota Padang (Istri Walikota). Kepadanya, aku menceritakan semua yang diceritakan Imel kepadaku. Alhamdulillah Ibu Ketua PKK merespon positif, dan keesokan harinya kami mulai mempersiapkan penggalangan dana bersama HWDI Padang.

HWDI Padang bergerak cepat berbagi tugas melakukan pendataan by name by address kepada keluarga disabilitas yang memiliki balita. Awalnya terjadi perbedaan pendapat terkait apakah akan memberikan bantuan dalam bentuk tunai saja dan diserahkan ke setiap keluarga disabilitas untuk membeli sendiri kebutuhan mereka masing-masing, atau diberikan dalam bentuk barang sesuai kebutuhan. Ada sebagian keluarga disabilitas minta diberikan tunai, dan teman-teman tidak perlu repot mendata kebutuhan setiap anak yang berbeda. Bahkan dua anak di satu keluarga bisa punya kebutuhan berbeda.

Bersama-sama, kami mulai menimbang beragam aspek untuk memutuskan bentuk dukungannya. Salah satu pertimbangan adalah kebijakan PSBB yang baru berjalan. Selain itu, kami juga memikirkan aspek kemudahan dan kenyamanan keluarga disabilitas. Akhirnya kami memutuskan memberikan bantuan dalam bentuk barang sesuai kebutuhan setiap anak. Konsekuensinya, kami harus melakukan pendataan yang terinci dan butuh kerja keras untuk validasi dan verifikasi ke setiap keluarga, serta memastikan packing setiap paket sesuai permintaan setiap keluarga.

Ada yang sampai begadang untuk menyiapkan daftar lengkapnya. Pendataan dilakukan secara mendetil terutama untuk kebutuhan setiap anak yang berbeda misalnya merek susu yang biasa diminum, ukuran pampers, jenis bubur bayi yang biasa dikonsumsi dll. Pendataan dilakukan via whatsapp dan menelpon langsung bagi yang tidak punya internet.

Imel bertugas menghubungi keluarga disabilitas netra untuk pendataan lengkap termasuk kebutuhan balita masing-masing. Bu Afrita bertanggung jawab untuk mendata keluarga disabilitas rungu/tuli yang memiliki balita. Sedangkan uni Ilusiana yang juga merupakan ketua HWDI Padang bertugas untuk pendataan keluarga disabilitas fisik. Dua orang staf setianya Uwok dan Ayuk melakukan rekapitulasi data. Aku membantu membersihkan dan merapikan data yang sudah direkap, termasuk menyiapkan daftar belanja kebutuhan balita yang akan dibeli. Bundo Titi bersama rekan-rekannya dari Jaringan Perempuan Peduli Disabilitas melakukan penggalangan dan memberikan update dana yang terkumpul dari waktu ke waktu. Semua bekerja keras tapi tetap dengan hati senang, sambil sesekali saling bercanda.

Dalam waktu satu hari data lengkap tersedia termasuk kebutuhan setiap balita keluarga disabilitas yang berbeda-beda. Berhasil terdata 29 keluarga disabilitas yang memiliki balita dengan total 37 orang balita yang rentang usianya 4 bulan sampai 4.5 tahun. Dalam satu hari dana berhasil digalang dari ibu-ibu KORPS Dharmawanita, istri-istri pejabat dan kelompok ibu-ibu yang peduli disabilitas di Kota Padang. Alhamdulillah jumlah dana yang terkumpul melebihi biaya yang dibutuhkan untuk membeli semua kebutuhan balita yang terdata.

Keesokan harinya tim kolaborasi bergerak membeli kebutuhan lengkap sesuai data untuk masing-masing keluarga. Paket kebutuhan balita keluarga disabilitas plus uang hari itu juga langsung dibagikan dengan tetap memperhatikan aturan PSBB. Karena keterbatasan sumberdaya pengurus HWDI Padang yang semuanya perempuan dan harus mematuhi aturan PSBB, pembagian paket bantuan balita dilakukan di Sekretariat HWDI dengan meminta perwakilan dari setiap organisasi untuk menjemput paket yang sudah dilabeli nama setiap kepala keluarga, dan membagikan langsung ke setiap keluarga disabilitas yang terdata.

Salah satu anggota HWDI kota Padang menerima paket bantuan untuk balita Keluarga disabilitas

Salah seorang keluarga yang menerima menghubungi kami dan menyampaikan ucapan terima kasih dengan tangis haru. Bayi si ibu disabilitas ini ternyata hanya diberi air beras sejak ayahnya yang juga disabilitas kehilangan mata pencaharian dan tidak mampu lagi membeli susu.

Sungguh bahagia melihat senyum lebar ayah bunda disabilitas yang menerima paket susu dll sesuai kebutuhan balita tercinta mereka. Sungguh indahnya berbagi dengan sesama disabilitas di bulan penuh berkah ini. Selama kita mau bergerak, InsyaAllah akan ada yang tergerak membantu kita menolong sesama (**).

DIfabel Netra Mendaftar Kartu Prakerja

Oleh: Iyehezkiel Parudani, (Pengurus DPD Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI)

Pada berbagai kesempatan berkampanye sebagai calon presiden petahana di tahun 2019, Jokowi selalu menyampaikan tentang rencana hiroiknya untuk meluncurkan Kartu Prakerja yang menyasar jutaan pencari kerja warga Indonesia. Bahkan di setiap kota/kabupaten yang dikunjunginya, Jokowi selalu menunjukkan model Kartu Prakerja dan 2 kartu lainnya yang menurut pemberitaan media waktu itu, “Tiga Kartu Sakti Jokowi”. Rencana itu sebetulnya dikritik tajam oleh pesaingnya yakni Prabowo, tapi Jokowi tidak bergeming sedikitpun.

Kini setelah terpilih sebagai presiden periode kedua untuk tahun 2019-2024, Jokowi benar-benar merealisasikan janji kampanyenya tersebut. Ditetapkan dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 36 Tahun 2020 Tentang Pengembangan Kompetensi  Kerja Melalui Kartu Prakerja, tertanggal 26 Februari 2020, Peluncuran awal Kartu Prakerja yang masih berupa sosialisasi, dilangsungkan pada hari Jumat 20 Maret 2020. Dua minggu setelahnya, barulah masyarakat bisa melakukan pendaftaran untuk dapat memperoleh manfaat Kartu Prakerja.

Ingin menjadi salah seorang yang tercatat sebagai penerima manfaat Kartu Prakerja, teman lama yang kini berdomisili di Kota Kudus, Kendek Lurekke namanya, menelepon saya pada hari Jumat 10 April 2020. Ia menanyakan mengenai cara pendaftaran Kartu Prakerja. “Ah, sudalah sangmane, lupakan Kartu Prakerja! Di jaman edan ini, pencari kerja dari kalangan penyandang tunanetra masih sangat terdiskriminasi,” bujuk saya agar Kendek Lurekke membatalkan niatnya mendaftar Kartu Prakerja.

Saya memang pada awalnya tidak berpikir sedikit pun untuk menjadi peserta atau pemegang Kartu Prakerja. Nihilnya apresiasi pemerintah RI terhadap pencari kerja penyandang tunanetra, atau tidak adanya perhatian negara terhadap tenaga kerja penyandang tunanetra adalah dasar pertimbangan utama mengapa saya tidak tertarik. “Paling-paling kalau saya, atau Kendek Lurekke mendaftar Kartu Prakerja, mungkin awalnya manis, tapi jika ketahuan penyandang tunanetra, akan berakhir sinis, bengis dan sadis,” bisik saya dalam hati. 

Namun karena tidak ingin menciderai perasaan kawan atau dalam Bahasa Toraja sangmane yang dulu seperjuangan di Yapti Makassar tersebut, saya pun kemudian menelusuri berbagai website untuk mencari tahu cara pendaftarannya, termasuk persyaratan yang harus dipenuhi peserta sebelum mendaftar.

Melalui penelusuran yang saya lakukan pada hari Jumat 10 April 2020, saya menemukan dua artikel menarik. Pertama, artikel yang dimuat di liputan6.com edisi 04 April 2020 dengan judul “Realisasi Kartu Prakerja Dipercepat, Ini Manfaat dan Cara Membuatnya”. Artikel tersebut menyebutkan bahwa “Program pemerintah yang satu ini tidak hanya menyasar para pencari kerja saja, melainkan kelompok usia produktif seperti buruh, karyawan, atau pegawai yang masih bekerja”. Kedua, berita dari detik.com edisi hari Jumat 20 Maret. 2020. Diangkat sebagai salah satu headline berita hari itu dengan judul Jadi Andalan Jokowi, Kartu Pra Kerja Resmi Diluncurkan, detik.com memberitakan bahwa “Skema Kartu Pra Kerja ditujukan kepada setiap WNI yang berusia di atas 18 tahun dengan catatan tidak sedang menjalani pendidikan formal, lalu bagi para masyarakat yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), dan bagi pegawai yang ingin meningkatkan keterampilan”.

Membaca dua artikel tersebut, saya yang tadinya tidak kepikiran untuk menjadi peserta Kartu Pra Kerja mengingat saya adalah penyandang tunanetra dan telah menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta terbesar di Jabodetabek, seketika berubah pikiran. Ternyata kalimat “Pegawai atau pekerja yang ingin meningkatkan keterampilan bisa juga mengakses Kartu Pra Kerja” menjadi kalimat propaganda yang berhasil membius idialisme saya untuk bertahan tidak mendaftar kartu yang semenjak pembukaannya hingga gelombang kedua, pendaftarnya telah mencapai 8 juta orang. Apalagi sangmane saya itu terus meminta agar saya ikut mendaftar agar langkah-langkahnya bisa saya jelaskan kepadanya.

Dengan iseng, saya pun mendaftar pada hari Senin pagi tanggal 13 April 2020 agar mengetahui langkah-langkahnya lalu menyampaikannya kepada sangmane Kendek Lurekke. Namun karena harus melalui beberapa tahapan yang rumit, melilit, sulit, bahkan berbelit, proses pendaftarannya baru bisa saya tuntaskan keesokanharinya, Selasa pukul 22.45. Pada Selasa malam itu juga, saya langsung kirim pesan WhatsApp ke sangmane Kendek Lurekke menjelaskan langkah-langkah mendaftar Kartu Prakerja. Diawali dengan satu kalimat dalam Bahasa Toraja “Umba nakua kareba sangmane?” yang jika diterjemahkan kedalam Bahasa Jepang berarti “o genki desu ka Lurekke san,” saya mendeskripsikan langkah-langkah pendaftaran yang telah saya lalui.

Pertama, buka website Prakerja di www.prakerja.go.id. Lalu klik Daftar Sekarang. Di sini kita diminta untuk mengisi email yang aktif, passward dan konfirmasi password. Sebelum klik Daftar Botton, jangan lupa mencentang “Saya menyetujui syarat dan ketentuan dan kebijakan privasi yang berlaku” sehingga status boxnya berubah dari Not Check Box menjadi check Box Check. Dalam satu hari, website prakerja diakses oleh ratusan ribu hingga jutaan pendaftar secara bersamaan. Akibatnya website menjadi berat dan pendaftaran secara teknis mengalami kendala. Dalam keadaan seperti ini pendaftaran harus dilakukan berulang-ulang — bisa juga me-refresh laman dengan cara men-disk cleanup halaman webpage. 

Jika berhasil di tahap ini, akan ada notifikasi “anda berhasil melakukan pendaftaran. Silahkan periksa email verivikasi yang telah kami kirimkan ke email anda”. Adanya pesan seperti ini menandakan bahwa langkah pertama yaitu pembuatan akun di prakerja telah berhasil.

Kedua, keluar dari website prakerja untuk mengakses email yang telah didaftarkan. Buka email yang dikirimkan oleh tim Kartu Prakerja. Klik link verifikasi, kita akan dibawa ke dashboard dari akun yang baru saja berhasil kita buat di langkah pertama. Setelah berada di dalam dashboard kita sendiri, klik link masuk, lalu ketikkan email dan password yang telah didaftarkan sebelumnya. Jika berhasil masuk, lakukan pengisian 16 digit NIKTP, dan tanggal lahir, klik Daftar Botton.

Berikutnya, mulai mengisi data lengkap yang meliputi:

  • Nama lengkap;
  • Alamat Sesuai KTP;
  • Alamat Tempat Tinggal Sekarang;
  • Nama Kota/Kabupaten;
  • Nama Provinsi;
  • Jenis Kelamin;
  • Pendidikan Terakhir;
  • Status Pekerjaan;
  • Jenis Pelatihan yang kita inginkan jika terpilih sebagai penerima manfaat Kartu Prakerja.

Lalu, pendaftar diminta meng-upload foto KTP dan swafoto (selfie) dengan memegang KTP. Kedua foto tersebut harus berukuran kurang dari 2MB berformat jpeg. Saya menyarankan agar sangmane saya itu meminta istrinyalah yang memotret KTP-nya dan pada saat dia selfie sambal memegang KTP, bukan orang lain. Saya juga mengingatkan agar yang dipegang saat selfie benar-benar KTP, bukan gitar seperti kebiasaannya di sore hari sambal minum kopi Toraja, hehehe..

Setelah berhasil meng-upload foto KTP dan selfie memegang KTP, pendaftar akan menjumpai lagi Not Check Box dengan kalimat “Saya bersedia mengisi seluruh data yang dibutuhkan dengan sejujur –  jujurnya”. Not Check Box ini juga harus diubah statusnya menjadi Check Box Check, lalu klik Lanjutkan — kata “lanjutkan” ini sangat disukai oleh sangmane saya tersebut karena dia dulu penggemar beratnya SBY.

Keempat, saya mengingatkan sangmane Lurekke untuk mendaftarkan dan mem-verifikasi nomor HandPhone-nya dengan meng-klik link kirimkan kode verifikasi. Buka kotak pesan di handphone yang nomornya telah didaftarkan. Hal lain yang saya ingatkan, ada 6 digit kode verifikasi handphone yang akan di-SMS, tidak perlu khawatir, kode verifikasi yang di-SMS tersebut expireditasnya 15 menit. Yang terpenting, ketikkan kode rahasia itu di kotak kode verifikasi yang disediakan dengan jelas di website Prakerja.

Waktu telah menunjukkan pukul 23.50 ketika baru separuh jalan mengetikkan langkah-langkah mengakses Kartu Prakerja untuk sangmane Lurekke. Gerimis tengah malam pun mulai menitik di atas atap kamar dimana saya menulis WhatsApp sambal berbaring. Ya, gerimis itu sangat jelas terdengar, maklum atap rumah kami seng. Walau sudah larut malam dan keesokanharinya harus mengajar online, namun tiada berkurang semangat saya untuk mengetik di WhatsApp buat sangmane saya penyuka lagu-lagu melankolis Dian Piesesa itu. Persahabatan kami yang sangat harmonis sedari dulu telah membuat saya lupa bahwa umur sudah di atas 40 dan begadang tabuh hukumnya, hehehe. Saya hanya bangun sejenak untuk ke belakang meneguk segelas air putih. Tak lama kemudian, saya melanjutkan pengetikkan langkah-langkah mendaftar Kartu Prakerja buat sangmane Lurekke. Saya menjelaskan, setelah pengetikkan kode verifikasi, saatnya sangmane menjawab pertanyaan tentang pekerjaan. Sayangnya saya lupa detail pertanyaannya. Yang saya ingat adalah “Apakah anda sekarang masih bekerja?” Pertanyaan ini yang saya pilih dengan mencentang sehingga berubah dari Not Check Box menjadi Check Box Check. Saya sampaikan bahwa yang ia harus pilih / centang adalah pertanyaan-pertanyaan yang sesuai.

Selanjutnya, saya meminta agar sangmane Lurekke menekan tombol Okay. Pilihan berikut yang muncul setelah menekan tombol Okay adalah link “Mulai tes sekarang”. “Tapi,” tulis saya di WhatsApp, “jangan lupa serupuk dulu kopi Toraja agar sangmane bisa focus mengerjakan tes yang berjumlah 18 nomor dengan komposisi matematika dasar, kemampuan dasar, ketepatan dalam mengambil keputusan, dan motivasi diri atau self motivation (istilah pak Makhmur Kam – guru Bahasa Inggris kita dulu di Yapti)”. Saya menutup pesan WhatsApp saya tengah malam itu dengan mengingatkan sangmane Lurekke untuk bergabung pada pilihan gelombang yang ada Setelah menjawab semua pertanyaan yang disiapkan oleh panitia Kartu Prakerja.

Saya lega akhirnya bisa menyelesaikan pengetikkan langkah-langkah mendaftar Kartu Prakerja buat sangmane Kendek Lurekke di malam yang bermandi gerimis itu. Dan yang paling melegakan bin membahagiakan adalah enam hari setelah pendaftaran saya tersebut, atau 85 jam setelah pengetikkan itu, saya mendapat kabar baik bahwa saya lulus dan berhak menjadi pemegang Kartu Prakerja. Awalnya tidak percaya. Oleh karenanya saya kemudian menelepon call center Kartu Prakerja. Setelah mencocokkan identitas yang didaftarkan pada saat pendaftaran dan menyampaikan bahwa saya benar lulus, barulah suka cita itu terasa memenuhi kalbu. Thanks God. Your mercy on me. [*]

Foto Yeheskel Parudani yang diambil dari akun facebook-nya

Pengalaman Difabel Visual Selama Belajar Dari Rumah

Oleh: Nabila May Sweetha

Sudah sekitar satu bulan saya menetap di rumah. Learning from home atau Belajar dari rumah, tepatnya di kamar, menyimak penjelasan guru melalui aplikasi Zoom. Ada guru yang baik sekali mengirimkan file berbentuk PDF, agar saya dapat mengakses pelajaran. Ada pula guru yang menerima tugas yang saya ketik, lalu kirim berupa file ke beliau. Tapi, tak sedikit pula guru yang agak neko-neko. Tugas harus ditulis tanganlah, tugas harus difotolah, tugas inilah, tugas itulah. Sampai di kendala ini, saya masih bisa mengatasi. Satu dua tugas saya tulis tangan, tentunya dengan huruf yang dua kali lipat lebih besar dari huruf pada umumnya, dan sedikit keluar baris.

Saya terakhir bisa melihat tulisan itu di tahun 2017, dengan mata yang masih terang benderang. Sekarang, kalau pun saya tetap bisa menulis, nyata saja bahwa tulisan saya tak sebagus dulu, Bisa disebut berantakan.

“Tidak masalah, Bila, yang jelas masih bisa dibaca,” kata salah satu guru.

Saya mengiyakan, mengikuti saja pintanya. Padahal, kalau dipikir-pikir, apa tujuan guru menyuruh saya menulis pakai tangan?

“Biar kau terbiasa, Bila. Bukankah kau memang masih tahu menulis? Walau kadang-kadang keluar baris, tapi setidaknya itu lebih bagus ketimbang tidak menulis sama sekali,” ucap guru ekonomi di satu masa.

Saya menyabarkan diri, menarik napas panjang, mencoba mengerti jalan pikiran guru-guru. Saya tahu jelas, kalau sekolah saya adalah sekolah umum. Guru tak terbiasa mengajar anak didik yang hanya mengadalkan pendengaran. Guru tak terbiasa, menerima tugas hasil ketikan yang sudah diprint. Guru-guru tak terbiasa, memiliki anak murid yang melakukan banyak hal dengan cara yang berbeda. Mereka kemudian memaksakan agar saya, anak didik yang dianggap tidak normal itu, untuk menjadi sama dengan teman-teman lain.

“Nabila harus menulis tangan juga, Nabila harus tahu membaca dengan mata, Nabila harus mulai belajar menggunakan komputer tanpa pembaca layar, Nabila harus bisa melakukan apa yang teman-temannya lakukan. Dengan satu syarat, Nabila harus melakukan semuanya dengan cara yang sama seperti apa yang dilakukan teman-temannya. Nabila tidak bersekolah di SLB, maka dia harus jadi orang yang tidak luar biasa.”

Ok, sampai di sini kelihatannya guru-guru terlalu memaksa. Sebagian besar perintah guru memang bisa saya turuti. Yang jadi masalahnya kemudian, ini tak bisa menjadi solusi untuk junior-junior saya berikutnya.

Bagaimana jika mereka tidak bisa menulis tangan? Bagaimana jika mereka tidak mengenali bentuk matahari? Bagaimana jika mereka tidak tahu bagaimana itu rupa gunung dll.

Seharusnya, sekolah dan guru-guru di dalam sana harus mengerti. Bahwa menjadi murid di sekolah umum, bukan berarti seorang Difabel harus memaksa diri menjadi non difabel. Kenapa bukan sekolah saja yang mengubah cara belajarnya? Mengapa murid, yang notabennya adalah penerima jasa, yang harus dipaksa mengikuti hal yang menjadi normal di kalangan masyarakat?

Normal itu relatif. Dan, normal di asrama tunanetra adalah orang yang jalan dengan tongkat. Normal bagi komunitas tuli, adalah orang yang bicara dengan bahasa isyarat. Lantas, ketika saya memutuskan untuk sekolah di sekolah umum, haruskah saya mengikuti batas normal menurut mereka?

“Sekolah saya tinggal satu tahun lagi,”

Kalimat ini saya selalu saya bisikkan dalam hati. Sabar akan semua penolakan, akan semua ketidak mengertian guru. Bukan masalah muda memang untuk mengertikan semua guru, semua laposan dalam sekolah, bahwa saya bisa. Hanya memiliki cara yang berbeda. Bukankah banyak jalan menuju Roma? Pun, begitu dengan kasus ini. Bukankah banyak jalan untuk menjadi pintar? Tentunya, saya tidak harus membaca dengan mata untuk jadi orang yang berwawaasan.

Saya tidak harus menulis dengan pulpen dan tangan, untuk menjadi orang yang berilmu. Namun, mungkin, pemikiran sebagian guru belum sampai ke tahap yang ini. Mereka terlalu dikuasai oleh patokan normal yang mereka tetapkan sendiri, lalu menolak kenormalan lain yang dimiliki orang-orang selain mereka.

Kenapa sekolah saya tidak bisa menjadi seperti Institut Sastra Makassar (ISM) tempat saya belajar sastra?

Toh, selama ini semua orang di ISM, mulai dari mahasiswa hingga dosen bisa menerima cara saya yang berbeda dalam menulis, membaca dan sebagainya.

Kenapa, sekolah tidak bisa?

Di masa pandemi seperti ini, semakin sulitlah saya menciptakan ruang ingklusi untuk belajar. Guru hanya mengirim chat bernada tak bisa dibantah, jika saya memohon untuk tidak disuruh menulis tangan. Saat bertatap muka, saya lebih gesit lagi memohon pada guru. Membujuk, merayu, melakukan segala cara agar mereka mengerti bahwa saya harus menulis dengan keyboard external dan handphone.

Semoga masa sulit ini berlalu, semoga semua kembali menjadi baik. Agar saya bisa sekolah lagi, agar saya bisa membujuk atau apalah namanya agar guru ingin menerima tugas-tugas yang diprint.

Penulis: Nabila May Sweetha, Blind student, Aktivis PerDIK

Baca tulisan sebelumnya:

https://ekspedisidifabel.wordpress.com/2020/03/19/belajar-dari-rumah/