ELTA 2018: Belajar Bahasa Inggris Bagi [Aktivis] Difabel.

“Aktivis gerakan difabel, yang bergerak di ranah akademik maupun pengorganisasian difabel, perlu belajar bahasa Inggris. Bukan sekadar gagah-gagahan, tetapi bahasa ini adalah kunci membuka ‘pintu pengetahuan disabilitas’ yang bisa membawa Anda berkelana nun jauh dan luas di luar sana. Dengan kemampuan berbahasa Inggris, di mana-mana Anda bisa bertemu dengan para ilmuwan disabilitas, aktivis gerakan disabilitas, para pemerhati disabilitas dari berbagai negara yang juga mengandalkan bahasa ini dalam berkomunikasi. Banyak karya riset ditulis dengan bahasa ini, banyak seminar disabilitas berkelas juga memakai bahasa ini. Sebaliknya, dengan kemampuan ini, Anda juga bisa menyampaikan kabar kemajuan atau kemunduran penegakan hak-hak difabel di negeri Anda.”

Kalimat di atas pernah disampaikan oleh pendiri Perdik dalam salah satu obrolan saat kami memutuskan membawa PerDIK menjadi organisasi yang peduli pada urusan literasi disabilitas. Hal ini pulalah yang mendorong saya menuliskan soal ELTA 2018. Ini adalah peluang bagi difabel, khususnya aktivis difabel untuk bisa belajar bahasa inggris yang akses bagi difabel.

Continue reading “ELTA 2018: Belajar Bahasa Inggris Bagi [Aktivis] Difabel.”

Advertisements

Emboss

Oleh Fauzan Mukrim

Syarif, nama lengkapnya Nur Syarif Ramadhan, terlahir dengan kondisi low vision. Low vision adalah kondisi seseorang dengan kemampuan melihat yang sangat terbatas, bahkan mendekati buta.

Sebagian besar orang dengan kondisi low vision mengalami penurunan fungsi penglihatan secara permanen dan tidak dapat diperbaiki dengan bantuan kacamata atau alat bantu optik standar. Pada umumnya, mereka hanya mampu merespon cahaya dan memiliki lapangan pandang sempit serta jarak pandang yang sangat pendek. Itu sebabnya mereka sering kesulitan dalam beraktivitas, seperti berjalan di tempat umum, dan apalagi membaca buku.

32079704_10155275573611697_2451501095571161088_o

Continue reading “Emboss”

Presentasi PerDIK di Simposium Pengorganisasian Rakyat, Komunitas ININNAWA.

Presentasi PerDIK pdf

Tak banyak pengorganisir rakyat mengurusi kehidupan difabel. siapa itu difabel? jika anda tak mengenal istilah itu, mungkin anda mengenal istilah lain yang lebih mainstream, orang-orang cacat. Siapa di antara pengorganisir rakyat saat ini yang mau mendalami isu mereka dan memikirkan jalan keluarnya. Dalam banyak kasus, isu ini tak menjadi perhatian pera pengorganisir rakyat. Untuk itu, difabel akhirnya memilih bergerak dengan kekuatan dirinya sendiri.

Difabel memiliki sejarah panjang stigmatisasi yang berimplikasi pada diskriminasi di seluruh sektor penghidupan masyarakat. Mulai dari penyematan beragam label yang menandakan mereka sebagai orang sakit dan tidak normal, cap miring yang mengiringi label tersebut, sampai pada pemisahan ruang aktivitas mereka yang berbasis cara padang kenormalan. Orang-orang ini, selain dianggap sakit dan tidak mampu, juga dikategorisasi sebagai abnormal.

Difabel berupaya melawannya dengan melakukan destigmatisasi baik dalam ranah pemikiran maupun kontestasi dalam kehidupan sehari-hari.

PerDIK, salah satu organisasi yang dijalankan oleh aktivis difabel di Sulawesi Selatan yang berdiri awal 2016 lalu. Organisasi gerakan ini sudah menunjukkan sejumlah tindakan yang berupaya meruntuhkan kemapanan cara pandang ‘medik’ dalam memandang difabel. Difabel bukan orang sakit, bukan pula orang tidak mampu yang hidup tanpa harapan cerah. Mereka pun bergerak mengorganisir satu demi satu difabel yang mereka temui. Tak jarang, aktivis difabel menemui orang-orang yang [baru] menjadi difabel dan menjelaskan bahwa menjadi difabel bukan akhir kehidupannya. Mereka membekali ‘kawan setara’ ini dengan beragam keterampilan teknis yang memungkinkannya bisa mandiri sebagai difabel dan melepaskan diri dari cengkaraman cara berpikir yang ‘mencacatkan’ mereka.

Saat ini, capaian mereka bersama PerDIK belum seberapa dan lagi pula, mereka tak selamanya berhasil dalam upaya kerja pengorganisasian. Masih banyak hal yang mesti dibenahi secara keorganisasian maupun kapasitas individual anggotanya.

Dalam simposium Pengorganisasian rakyat oleh Komunitas ININNAWA ini, mereka akan turut berbagi pengalaman soal apa yang sudah dan masih akan dilakukan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat difabel.

Mari simak diskusi pengorganisasian rakyat yang sepesial ini![]

Kerinduan Dari Tanah Pasundan: Upaya Menanggalkan Label ‘Luar Biasa’ pada Seragam Sekolah Difabel

Oleh: Muhammad Lutfi (Alumni Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial, Jawa Barat)

WhatsApp Image 2018-03-05 at 5.45.34 AM

SAYA TIDAK TAHU, apa yang menggerakkan tangan saya menyalakan laptop. Tulisan Kang Syarif pada link ini, saudara tercinta saya beberapa hari lalu, memenuhi kepala saya dengan pikiran-pikiran. Pikiran itu lalu menuntun saya menuliskan artikel pendek ini.

Ada keresahan, kekhawatiran, bahkan mungkin juga ketakutan setelah membacanya. Satu hal pasti, semua rasa itu dibungkus oleh satu kerinduan. Kerinduan akan masa-masa berjayanya almamater kami yang tercinta. Kerinduan akan masa di mana kami saling merangkai mimpi dan berbagai kerinduan-kerinduan lainnya.

Continue reading “Kerinduan Dari Tanah Pasundan: Upaya Menanggalkan Label ‘Luar Biasa’ pada Seragam Sekolah Difabel”

Tentang Sekolah yang mendidik Difabel Netra di Makassar

BEBERAPA WAKTU LALU, seorang kawan bernama Yoga Indar Dewa mengundang saya berbagi cerita dengan warga binaan Yayasan Pembinaan Tunanetra Indonesia atau YAPTI Makassar. Yoga merupakan koordinator Asrama atau yang dulunya disebut Ketua Binaan YAPTI.

Menurut Yoga, pengalaman saya mengikuti ELTA (English Language Training Asistance) selama tiga bulan di Denpasar merupakan suatu pengalaman yang wajib hukumnya dibagi ke orang muda difabel penglihatan yang saat ini tinggal di YAPTI.

Continue reading “Tentang Sekolah yang mendidik Difabel Netra di Makassar”

MEMBACA DATA DISABILITAS INDONESIA MELALUI SUPAS 2015: ‘Penyandang Disabilitas’ atau ‘Orang Dengan Beragam Kesulitan’?  

Terdapat 8,56 persen penduduk yang memiliki disabilitas di Indonesia.

(SUPAS, 2015)

SEBAGIAN KITA TENTU senang ketika BPS mulai mengambil inisiatif memperbaiki data disabilitas Indonesia yang selama ini banyak dikritik. Pada 2015 yang lalu, BPS telah menguji coba instrumen pendataan disabilitas yang diadopsi dari Washington Group for Disability Statistic.

Instrumen ini secara global dianggap sebagai instrumen yang terbaik dan terlengkap jika ingin menangkap fakta-fakta disabilitas, bukan sekadar kondisi tubuh seseorang. Instrumen ini mengacu kepada ICF (International Classification of Functioning, for Disability and Health) yang juga sudah diadopsi oleh nyaris seluruh negara-negara anggota PBB. Bahkan, untuk memastikan instrumen ini bisa dijadikan pengukuran dengan hasil yang bisa diperbandingan dengan data disabilitas dari negara lain, Washington Group MELARANG setiap negara—setiap BPS, untuk mengubah apapun!

Continue reading “MEMBACA DATA DISABILITAS INDONESIA MELALUI SUPAS 2015: ‘Penyandang Disabilitas’ atau ‘Orang Dengan Beragam Kesulitan’?  “

Islandia dan Upaya Menjadi Negara Tanpa Kelahiran Anak-Anak Down Syndrome

Dengan meningkatnya jumlah tes skrining prenatal (pra-lahir) di seluruh Eropa dan Amerika Serikat, jumlah bayi yang lahir dengan Down Syndrome (atau Sindroma Down dalam bahasa Indonesia) mengalami penurunan yang signifikan, namun hanya sedikit negara seperti Islandia yang mendekati penurunan angka kelahiran anak dengan Sindroma Down (SDw) sebanyak 100%.
Continue reading “Islandia dan Upaya Menjadi Negara Tanpa Kelahiran Anak-Anak Down Syndrome”

Diskusi Disabilitas Dari Dua Dinding Facebook

Salam, berikut saya posting diskusi disabilitas dari dua dinding facebook, yakni dinding Fauzan Mukrim dan Ishak Salim. Atas semua komentarnya, PerDIK mengucapkan banyak terima kasih. Semoga kita dapat saling belajar dan bertindak lebih baik untuk kemanusiaan.

Bagi yang ingin membaca dalam format PDF silakan donload di sini

1

[DARI DINDING FAUZAN MUKRIM]

Fauzan Mukrim shared your post.

February 13 at 6:35am ·

Telaah kritis atas Windi dari Kak Ishak Salim,
Ketua Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK).

Sejujurnya, saya juga tak menyangka tulisan ttg Windi itu akan berdampak sedemikian. Saat menulis itu, yang saya pikirkan adalah bagaimana Windi tetap bisa menggambar dan mengembangkan bakatnya. Tak terpikirkan sama sekali untuk menjadikan dia objek “tontonan kaum Ableist”.

Meski demikian, saya minta maaf jika dianggap telah menyeret Windi ke bawah spotlight yang mungkin menyakiti matanya. 🙏🙏

Tak ada maksud juga untuk memperpanjang stigmatisasi. Perspektif saya soal disabilitas sejauh ini masih mengacu pada Aristoteles. Sebagaimana guru peradaban itu pada suatu pagi mengkhotbahi murid-muridnya:

“Tak ada yang bercacat selain pikiran, Anakku. Hanya dia yang jahat yang boleh disebut cacat.”

Continue reading “Diskusi Disabilitas Dari Dua Dinding Facebook”

Kontroversi Pemasangan Alat Kontrasepsi Bagi Difabel Tanpa Persetujuan Bersangkutan

Oleh Nur Syarif Ramadhan

BEBERAPA WAKTU YANG LALU, Koalisi Masyarakat Penyandang Disabilitas Indonesia mengeluarkan siaran pers menolak Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS), yang saat ini masuk sebagai prioritas dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2018.

Dalam Pasal 104 Draft RUU PKS per tanggal 23 Oktober 2017 versi DPR tertulis:

“Dalam hal pemasangan kontrasepsi terhadap orang dengan disabilitas mental yang dilakukan atas permintaan keluarga berdasarkan pertimbangan ahli untuk melindungi keberlangsungan kehidupan orang tersebut bukan merupakan tindak pidana”.

Continue reading “Kontroversi Pemasangan Alat Kontrasepsi Bagi Difabel Tanpa Persetujuan Bersangkutan”

Buku Baru: Keberpihakan Media Terhadap Difabel

Selamat untuk Sasana Inklusi & Gerakan Advokasi Difabel – SIGAB Indonesia yang telah menerbitkan satu buku lagi soal “Keberpihakan Media Terhadap Difabel’.

Hadirnya buku ini menunjukkan bahwa Sigab benar-benar menyadari bahwa ‘pengetahuan adalah kekuasaan’ dan pertarungan sesungguhnya adalah pada upaya menawarkan berbagai cara ‘pemaknaan baru’ atas ‘impairment’ dan ‘disabilitas’ yang selama ini didominasi oleh cara pandang medik. Sebuah upaya kontestasi pengetahuan demi tegaknya ‘tertib sosial’ baru berbasis inklusi.

Continue reading “Buku Baru: Keberpihakan Media Terhadap Difabel”