TRK INKLUSI: Menjadi Difabel Pascagempa

Relawan TRK Inklusi bukan cuma menjangkau difabel yang terdampak. Beberapa posko yang didatangi, kami juga mencari tahu korban yang mengalami luka fisik parah. Dari beberapa informasi yang diterima, ada dua korban ditemui yang mengalami situasi sulit.

Korban pertama, mengalami luka parah, terlambat ditangani dan akhirnya harus diamputasi. Korban Kedua, di desa yang berbeda, luka pada tubuhnya telah membusuk dan masih tinggal di pengungsian. Belum ada tindakan medik serius. Tempat pengungsian itu kurang nyaman, tempat peternakan ayam (kandang besar) yang belum dipakai.

Cerita-cerita miris yang dibawa relawan dari tempat-tempat pengungsian merupakan perpaduan kisah orang-orang terdampak, sistem layanan publik yang masih payah, dan orang-orang yang berupaya berbuat terbaik untuk membantu. Kami sejauh ini cuma bisa mencatat dan menuliskannya.

Selain kisah korban bencana dan kondisi tempat pengungsian yang tidak nyaman, ada juga cerita-cerita baik dari desa. Di desa Taan kecamatan Tappalang, Mamuju, misalnya. Di sini pemerintah desa, sejumlah relawan, dan orang-orang muda desa terorganisir mengelola respon darurat. Paket bantuan berdatangan silih berganti, pencatatan logistik tertulis rapih dan barang-barang terdistribusi ke keluarga-keluarga yang belum mendapatkan. Itu cerita yang menyenangkan ketimbang berita penjarahan yang selalu tidak utuh setibanya di hadapan kita.

Selain itu, hingga saat ini, pos TRK INKLUSI di Mamuju juga semakin ramai dikunjungi kawan-kawan relawan dari berbagai organisasi disabilitas daerah. Selain dari Sulawesi Tengah dan Selatan, ada juga dari luar Sulawesi. Mereka datang, mengobrol dan juga menitipkan barang-barang keperluan pengungsi untuk disampaikan ke yang berhak. Keramaian seperti ini menghibur para relawan yang seharian lelah dan bahkan bertambah lelah sebelum akhirnya istirahat beberapa jam.

Teman-teman yang peduli, bisa juga turut mendukung teman-teman di wilayah bencana melalui donasi di:

Rekening BRI 380801020912531

Atas nama: Lembaga Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan

Perdik Sulsel

Untuk konfirmasi dan informasi lebih lanjut, Hub: 0895356062713

Zakia Khyadhaniel Zaskia

Untuk update, di www.ekspedisidifabel.wordpress.com

Pembagian Sembako Ke Pengungsi Difabel
Ketua PPDI Bone, Andi Takdir berkunjung ke Pos TRK Inklusi

Jangkau, Jangkau, Jangkau Difabel

Aktivitas asessmen dampak bencana gempa bumi bagi difabel di Sulbar oleh TRK Inklusi di bawah koordinasi Shafar Malolo dan Hari Kurniawan  (Cak Wawa), masih berlangsung.

Kemarin, sebenarnya tim melakukan perjalanan ke Majene, namun terkendala karena akses jalanan terhambat.  Info dari Shafar, kondisi jalan bekas longsor masih licin, ditambah hujan deras mengguyur memperparah kemacetan.

Suasana kemacetan panjang kemarin, saat ada longsor di salah satu sudut jalan.

Mereka yang mengendarai roda empat akhirnya batal ke Majene, dan akan mencobanya lagi di hari lain. Sementara yang berkendara roda dua tetap lanjut dan menuju Desa Taan di kecamatan Tappalang, Mamuju.

Di daerah Sese dan Tappalang, mereka bertemu  15 keluarga difabel dan langsung mendatanya.

Shafar Malolo koordinator TRK Inklusi mendata sekaligus menyampaikan informasi akses air bersih.

Hari ini, teman-teman bergerak lagi, menjangkau difabel adalah keharusan. Pendataan akan berlanjut sampai target tercapai. Setelah itu menganalisis dan menyusun rencana untuk masa tanggap darurat, pemulihan dan syukur-syukur fase rehab dan rekon. Selama seminggu melakukan pendataan, tim TRK Inklusi sejauh ini sudah menjangkau ratusan difabel di tenda-tenda pengungsian dan rumah-rumah warga yang memungkinkan ditempati mengungsi. HHingga kini sudah ada 150 difabel yang terinput dalam server online TRK Inklusi, dan tentu saja masih akan bertambah.

Cak Wawa, Hari Kurniawan adalah advokat disabilitas. Sebagai salah satu penggagas TRK Inklusi saat bencana Sulteng akhir 2018 lalu, Ia kali ini berupaya memastikan tim TRK inklusi Gema Difabel Mamuju mandiri dalam merespon bencana.

Habil, salah satu anggota tim pendata TRK Inklusi, sehari-harinya menggunakan kursi roda. Saat ia mendata dan tidak memungkinkan kursi rodanya lewat, ia akan turun dan mulai bergerak menarik kedua kakinya yang lemah.

Ia bersemangat, walau gejala kambuh dekubitusnya mulai terasa. Tim TRK Inklusi sudah koordinasi dengan YEU (Yakkum Emergency Unit) untuk datangkan obat khusus untuknya.

Tetap dukung TRK Inklusi dalam menjangkau  difabel yang terdampak gempa SulBar, melalui donasi Rekening:

BRI 380801020912531
Atas nama: Lembaga Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan.

Untuk konfirmasi dan informasi lebih lanjut, Hub: 0895356062713   Zakia

Untuk update, di http://www.ekspedisidifabel.wordpress.com

Salam
TRK Inklusi.

Inclusive Humanitarian Volunteer Team (TRK Inklusi)

We invite all friends,
to distribute donations for helping earthquake victims,
especially disabled people in West Sulawesi, Indonesia.

We organize this emergency response with local Disabled People Organizations (DPOs) and other Humanitarian Volunteer Networks. Donations can be transferred to:

BRI Account 380801020912531 On behalf of:
Lembaga Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan
(The Indonesian Disability Movement for Equality).

Code SWIFT: BRINIDJAXXX
Name Bank Office: PT. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO), TBK
Address: BRI I BUILDING, FLOOR 18, 44-46 JALAN JENDERAL SUDIRMAN
City: JAKARTA; INDONESIA (Postal code: 10210) Bank code: 002

Bank Telephone Number: (62-21) 2510244, or 2510254, 2510264, 2510269, 2510279.
Account Holder email address: perdiksulsel@gmail.com

For confirmation and further information, Call: +62895356062713 (Zakia)

For updates, visit:
Instagram (@perdikofficial)
Facebook (perdik sulsel)
website (www.ekspedisidifabel.wordpress.com)

Poster



Seminggu Pasca Gempa, Tim Relawan Kemanusiaan Inklusi mendata 150 Difabel Terdampak

Oleh: Tim TRK Inklusi

Nyaris seminggu semenjak peristiwa gempa mengguncang Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat. PerDIK SulSel sebagai organisasi yang dalam kurun dua tahun terakhir mengorganisir sumber daya dalam merespon bencana, lantas merencanakan sejumlah tindakan.

Kami mengawalinya dengan menghubungi sejumlah kawan difabel yang berdomisili di Mamuju. Jumat pagi, 15 Januari 2021, kami masih sulit mengontak kawan-kawan difabel yang kami kenal aktif di Gerakan Mandiri Difabel Mamuju. Sambil melakukan itu, sejumlah kawan di PerDIK mulai membuka donasi. Poster dan narasinya dibuat, lalu kemudian di posting di media sosial PerDIK.

Setelah dua hari tak terkoneksi baik, akhirnya malam senin, (17 Januari 2021) tim PerDIK sudah bisa berdiskusi dengan Shafar Malolo dan teman-teman Gema Difabel Mamuju. Beberapa anggota difabel mamuju sudah kembali dan menyatakan bahwa sekret gema difabel adalah Pos TRK Inklusi. Untuk memudahkan komunikasi dibuat grup WA TRK Inklusi.

Malam itu juga, tim sudah menyelesaikan Form Pendataan korban bencana berperspektif difabel dan hari berikutnya tim sudah akan melakukan asesmen cepat di sejumlah titik pengungsian. Fokus utamanya difabel.

Ada sepuluh anggota tim asessmen yang dikoordinatori oleh Shafar Malolo, ketua gema difabel Mamuju. mereka mendata, mengolah data, mengolah bantuan, menyiapkan mekanisme keluhan, menjaring mitra kerja, dan seterusnya. Seiring dengan itu, saat ini YEU dan ASB akan turut menemani trk inklusi dan semoga gema difabel Mamuju bisa menjadi organisasi difabel dengan kapasitas yang setara nantinya.

Per hari ini (Kamis, 21 Januari 2021), sudah ada 150 difabel terdampak gempa yang mereka data dan telah terinput. Dari hasil input ini, analisis data sedang dilakukan dan akan merencanakan pendistribusian bantuan yang telah terhimpun.

Menurut Hari Kurniawan, masih ada data lain yang belum mereka input karena masih harus ke lapangan, mengunjungi sejumlah tenda-tenda pengungsian dan rumah-rumah warga yang dijadikan lokasi pengungsian.

Sebagai update donasi yang terhimpun dan penggunaannya, berikut laporannya:

Daftar Donasi DanPemakaian Donasi Sementara
TRK INKLUSI
pertanggal 21 Januari 2021

NOTanggal TransferNAMA PENGIRIMJUMLAH DONASIKREDITSALDO
115-Jan-21IASRp200,000Rp200,000
215-Jan-21ARURp200,000Rp400,000
315-Jan-21HARp100,000Rp500,000
416-Jan-21MJYRp1,000,000Rp1,500,000
516-Jan-21LRp100,000Rp1,600,000
616-Jan-21CSRp500,000Rp2,100,000
16-Jan-21ANRp200,000Rp2,300,000
717-Jan-21TTWRp100,000Rp2,400,000
817-Jan-21HJRRp200,000Rp2,600,000
917-Jan-21DPC-GMRp980,000Rp3,580,000
1017-Jan-21Transfer awal ke TRK Inklusi/Gema Difabel MamujuRp1,500,000Rp2,080,000
1118-Jan-21ISJNRp4,000,000Rp6,080,000
18-Jan-21ISRp883,747Rp6,963,747
1220-Jan-21AARp100,000Rp7,063,747
1320-Jan-21Transportasi RelawanRp883,747Rp6,180,000


Merencanakan Respon Cepat untuk Difabel Korban Bencana

Oleh: Ishak Salim

Setelah dua hari tak terkoneksi baik, akhirnya malam ini sudah bisa berdiskusi dengan Shafar Malolo (Difabel Kinetik, Ketua Gema Difabel Mamuju) dan teman-teman gerakan Mandiri Difabel Mamuju. Beberapa kawan sudah kembali dan menyatakan bahwa sekret gema Difabel  adalah Pos TRK Inklusi. Kami sudah menyelesaikan Form Pendataan korban bencana berperspektif difabel dan besok tim yang belum utuh akan melakukan asesmen cepat di sejumlah titik pengungsian. Fokus utamanya difabel.

Terima kasih teman-teman yang sudah mensupport upaya-upaya kecil ini bisa terjadi. Kami upayakan setiap hari selalu ada upaya yang digerakkan, untuk menjangkau yang selama ini tak terjangkau, mengedepankan yang selama ini ditinggalkan.

Untuk membantu tim ini, silakan berdonasi di:

Rekening BRI 380801020912531 

Atas nama: Lembaga Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan. 

Untuk konfirmasi dan informasi lebih lanjut, Hub: 0895356062713 (Zakia)

Untuk update, di http://www.ekspedisidifabel.wordpress.com

Salam 

TRK Inklusi.

BERGERAK BERSAMA UNTUK SULAWESI BARAT

TIM RELAWAN KEMANUSIAAN INKLUSI, mengajak sahabat sekalian, menyalurkan donasi demi membantu korban bencana khususnya difabel di Sulawesi Barat. Donasi ini kami organisir bersama dengan Organisasi Disabilitas Setempat dan Jaringan TRK lainnya.

Donasi difokuskan berupa uang yang dapat di transfer ke:

Rekening BRI 380801020912531
Atas nama: Lembaga Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan.

Untuk konfirmasi dan informasi lebih lanjut, Hub: 0895356062713 (Zakia) Zakia Khyadhaniel Zaskia

Siapa Merundung Difabel Sejak Kecil? Aku!

Oleh Muthahara Yulina, Pustakawan Pustakabilitas

Saya tinggal dan bersekolah di dekat Sekolah Luar Biasa. Itu membuat saya terbiasa bertemu difabel. Jika difabel sering bercerita mengenai pengalamannya menerima perlakuan diskriminatif di lingkungannya, maka Lina kecil adalah salah satu pelakunya.

Saya hidup dan tumbuh di lingkungan Pendidikan yang memisahakan Sekolah Umum dan Sekolah Luar Biasa. Keadaan itu membuat saya dan teman-teman berfikir bahwa kami dan merekaberbeda.

Seringkali kami berfikir mereka yang bersekolah di SLB itu orang-orang bodoh. Apalagi pernah beberapa kejadian di mana teman-teman saya yang tinggal kelas beberapa kali akhirnya dipindahkan ke SLB, yang berada di samping SD saya.

Ada satu lapangan yang kami pakai bersama saat belajar di luar ruangan. Saat itu, kami berkesempatan menertawai atau apapun yang sifatnya mengejek (diskriminatif) siswa-siswa SLB. Saya ingat betul, kami selalu tertawa saat ada siswa SLB diminta menyanyi sambil memperagakan gaya bermain gitar Rhoma Irama dengan menggunakan sapu. Bahkan, betapa kejinya cara anak-anak dari SD Umum menghina temannya yang dipindahkan dari SD umum ke SLB. Bahkan sampai anak itu menangis karena malu, ejekan tak jua berhenti.

Itulah beberapa catatan-catatan dosa-dosa masa kecil saya.

*

Jika mengingat momen-momen itu, saya sering mengutuk diri sendiri. Betapa kejamnya saya dulu. Mengapa saat itu saya tidak menghentikan teman-teman menghina siswa SLB. Malah saya ikut menertawai. Malah saya menikmati pemandangan itu.

Padahal, saat saya kanak-kanak, saya sering bermain dengan para difabel yang menjaga saya. Mereka murid orang tua saya yang mengajar di salah satu SLB di Takalar. Setelah masuk SD, otak saya seperti dicuci oleh lingkungan yang memberi stigma bagi difabel.

Saya malah setuju saja dengan perlakuan stigmatik itu. Saya malah khawatir dijauhi teman-teman jika membela difabel. Saya malah takut jika berteman difabel maka teman-teman menjauhi saya. Saya malah, saya malah, …

*

Perilaku diskriminatif atau menjadikan difabel objek tertawaan bagi anak-anak pada umumnya seperti terjadi turun-temurun. Stigma miring menyebar di tengah-tengah masyarakat. Mungkinkah pemisahan antara difabel dan non-difabel dalam pendidikan yang membuat kami berfikir kami berbeda? Saat ini saya merasakan, kami tidak mengenal etika berkomunikasi dengan difabel. Kami ogah-ogahan berbicara dengan mereka. Saat itu, sampai saya tumbuh remaja, tidak ada orang yang mengajar kami soal betapa buruknya cara kami memperlakuan difabel dan betapa perlakuan itu akan mengganggu pertumbuhan psikis difabel yang menjadi korban perlakuan stigmatik kami.

Kami hanya berfikir sedangkal bahwa tindakan bulian itu hanya candaan anak-anak pada umumnya. Mereka sudah terbiasa dan tidak apa-apa jika dijadikan bahan lelucon. Toh, buktinya ia mau-mau saja disuruh menghibur kami.

Ah makin mengingat itu membuat saya makin merasa bersalah!

*

Memasuki SMP, saya sudah jarang bertemu difabel.  Saat belajar di SMA, saya memiliki teman difabel beda kelas. Mungkin bukan juga teman, hanya satu sekolah dan seangkatan saja. Saya tidak pernah berkomunikasi dengannya. Saya tidak terbiasa berkomunikasi dengan difabel. Rasa canggung untuk berkenalan dan memulai percakapan begitu membentengi saya untuk tidak beranjak. Padahal, saya sangat tertarik dengannya. Saya ingin tahu bagaimana ia belajar di kelas. Saya mau tahu, bagaimana teman-teman sekelasnya memperlakukannya.

Tapi pertanyaan demi pertanyaan itu mengambang. Sampai luluspun saya tidak berani menyapanya.

Saya mulai mengenal lebih dekat difabel justru saat berkegiatan di luar sekolah.

Dua tahun lalu (2018), saya mengikuti kegiatan Sosial Justice Youth Camp (SJYC) di desa Kambuno, Bulukumba. ISJN atau Indonesia Social Justice Network bekerjasama dengan Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) yang menjadi pelaksananya.

Saya tidak sengaja mendapatkan informasi kegiatan itu dari sosmed, social media. Saya pun iseng mendaftar. Saat itu saya bahkan belum tahu itu kegiatan macam apa. Salah satu persyaratan mendaftarnya adalah membuat tulisan. Saya membuatnya terburu-buru dan asal-asalan. Kalau kata anak gaul sih sistem ‘the power of kepepet’, plus sotta-sotta’ berhadiah (bersikap sok tau, Makassar).

Saya ingat betul proses pendaftaran itu kurampungkan hanya dalam semalam. Itupun dari pukul satu malam sampai subuh.

Alhamdulillah ternyata saya lulus.  

Lepas itu, saya baru mencari infonya lebih banyak.

Saat itu ada keraguan mengikuti kegiatan tersebut. Rupanya tempatnya jauh dari rumah, waktunya seminggu, dan tak satupun orang saya kenali. Layaknya korban tontonan sinetron, fikiran saya traveling ke mana-mana. Saya takut diculik dan menjadi korban penjualan manusia.

Saat mencari tahu lebih lanjut, keraguan lain muncul. Rupanya ada peserta difabel turut serta.

Oh iya, itu juga adalah kali pertama saya mendengar dan mengetahui kata “difabel”. Sebelumnya yang saya tahu dan ucapkan ya, hanya kata “cacat”.

Beruntung guru-guru seperti Pak Asnul dan Kak Yhaya mendukung saya. Juga setelah mengetahui ketua panitianya, kak Nur Syarif Ramadhan ternyata berasal dari tempat tinggalku, Bontonompo, Kabupaten Gowa.

Sayapun membulatkan niat untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Menghindari rasa canggung, saya berkenalan dengan beberapa peserta lain melalui chat WA. Salah satunya dalah dengan Nabila May Sweetha. Saya merasa makin mantap ikut Perkemahan Pemuda ini.

Proses chat-chatan berlanjut sampai hari keberangkatan. Beberapa peserta dari luar Makassar berkumpul di Makassar sedangkan saya hanya menunggu bus di Bontonompo. Rute bus menuju Bulukumba akan melalui kabupaten Gowa. Saya bersiap dan mulai menunggu di depan pasar Bontonompo.

Merasa jenuh menanti, saya mengirim pesan chat ke Nabila. Saya tanya sudah di mana?

Nabila enteng bilang, tidak tahu.

Saya menyuruhnya melihat-lihat spanduk atau nama-nama toko-toko. Saya pasti akan mengenali wilayah dari tanda-tanda itu.

“Saya buta, tidak melihat,” begitu bunyi pesan Lala, panggilan akrabnya.

Betapa kagetnya saya dengan pengakuan itu. Saya lalu berfikir, bagaimana bisa ia membalas chat-chat selama ini jika ia tak melihat. Nabila pasti membohongi saya. Ia pasti hanya bercanda.

Saat bertemu barulah saya percaya bahwa ia memang buta dan mengerti bagaiman ia membalas pesan-pesan saya dengan hapenya.

Handphone yang dia gunakan menggunakan aplikasi pembaca layar (screen reader). Dia bisa membca pesan teks yang disuarakan oleh aplikasi itu. Dia bisa mengetik dengan tuts yang telah ia hapal letaknya dan mendengarkan isi kata-kata yang ia tulis dan mengeditnya jika keliru ketik.

Dari kegiatan SJYC inilah, saya mulai memiliki teman difabel.

Suasana Youth Camp Di Pantai Bira, Bulukumba

Pengalaman ini sungguh berkesan dan unik. Saya menemukan banyak hal baru yang membuat saya tertarik dan penasaran untuk tau lebih jauh. Bukan hanya Lala, ada juga Sandi yang Tuli dan Selvy, berkursi roda.

Sandi ini Tuli dan dia bilang ia sangat suka menonton konser. Ini aneh bagiku, sekaligus menarik. Sandi juga adalah peserta yang paling ekspresif. Ia seperti tak peduli dengan ketuliannya. Ia berbahasa dengan wajahnya. Dan keramahan itu selalu ia tampakkan diwajahnya. Kami bisa berbicara dengan tulisan di kertas jika diperlukan.

Sepanjang kegiatan, saya menikmati belajar bersama teman-teman baru itu. Saya mulai berfikir, jika saja sistem belajar yang diterapkan di kegiatan ini juga diterapkan di SD saya dulu, mungkin saya dan teman-teman tidak akan menjadi pelaku diskriminasi. Ternyata, betapa indahnya belajar dengan memadukan kelebihan dan keterbatasan dan betapa indahnya bentuk nyata dari toleransi ini.

Saya bersama teman-teman SJYJ, ada Sandi (Tuli) di belakanku, dan Selvi (berkursi roda) saat kami berekreasi usai SJYC di Pantai Bara, Bulukumba

Saya makin tertarik dengan dunia difabel hingga saat kuliah sayapun akhirnya bergabung di PerDIK. Pelan-pelan, saya mengikuti kegiatan-kegiatannya.

Semakin lama, saya belajar dan mengetahui bagaimana teman-teman difabel beraktifitas dan belajar. Bukan hanya teknologi yang mengubah tulisan menjadi suara, ada juga teknologi yang mengubah suara menjadi tulisan yang biasa digunakan oleh teman Tuli.

Pun juga cerita-cerita dari kak Muhammad Luthfi. Ia seorang dengan mata tak melihat sama sekali, buta namun sering menikmati tontonan di bioskop.

Saya heran setangah mati. Tak punya bayangan bagaimana Kak Luthfi menikmati tontonan.

“Ada pembisiknya, Lina,” katanya suatu hari.

Tapi saya tetap penasaran bagaimana itu terjadi. Saya hanya membayangkan tapi belum melihatnya langsung.

Rasa penasaran itu terjawab beberapa hari lalu. Pada 9 Januari 2021, kami nonton bareng di Rumah PerDIK.

Usai kami menuntaskan agenda Rapat Kerja Tahunan sekian hari di Malino dan lanjut di Rumah PerDIK, kami bikin acara nobar dan menginap di Rumah PerDIK.

Malam itu, rasa penasaran sayapun terbayar tuntas!

Disepanjang pemutaran film, kami bergantian mendeskripsikan cerita film kepada teman-teman kami yang tidak melihat, termasuk Kak Luthfi. Ia paling bersemangat. Ia memang seorang penonton serius.

Deskripsi film yang disampaikan oleh pembaca—disebut juga Audio-describer—telah membantu penonton netra mengikuti alur cerita. Saya pun malah terbantu juga. Jika ada adegan yang tak ingin saya lihat karena takut atau jijik, saya cukup menikamtinya dari uraian sang pembisik.

Film yang kami tonton malam itu berjudul Silenced. Ini film Korea Selatan yang menceritakan kisah pelecehan seksual di lingkungan sekolah dan asrama Tuli. Ini kisah nyata.

Poster film Silenced

Dalam film ini, bukan hanya anak perempuan Tuli yang menjadi korban pelecehan, kekerasan bahkan eksploitasi seksual, tetapi juga anak-anak lelaki (usia kanak-kanak). Pelakunya adalah guru dan kepala sekolahnya. Saya tak habis pikir. Orang yang seharusnya melindungi justru mencelakai anak-anak.

Dari awal cerita, kami terbawa suasana dan dibuat geram dengan perlakuan-perlakuan biadab pelaku dalam film. Bertambah jengkel dengan akhir cerita di mana para pelaku mendapat hukuman ringan. Pelaku yang juga orang penting di kota itu, seorang agamawan yang dermawan, serta relasi politik yang luas, membuatnya bisa menyogok dan mempengaruhi para Aparat Penegak Hukum.

Hukuman yang diterima sangat tidak sesuai dengan penderitaan serta trauma para korban. Di akhir cerita, kesal karena proses hukum tidak memuaskan korban, seorang korban anak lelaki ini memilih menuntaskan dendamnya dengan menikam gurunya. Tikaman lemah itu menusuk perut dan guru itu terjatuh di atas rel kereta (asrama sekolah ini dekat dengan jalur kereta). Sialnya, guru itu menarik baju anak lelaki ini dan memeluknya sesaat sebuah kereta melaju dan menabrak tubuh keduanya.

Meskipun mengetahui bahwa cerita ini diangkat dari kisah nyata, sehingga akhirnya sangat mungkin memang hal tragis, saya tetap berharap diakhir film para korban mendapat keadilan.

Walau berakhir tragis, menurutku ada banyak hal yang dapat diketahui melalui adegan-adegan dalam film itu. Khususnya berkaitan dengan kurangnya pemenuhan hak-hak difabel serta pelanggaran-pelanggaran lainnya yang sering terjadi.

Pada plot di ruang persidangan, adegan sidang pertama memperlihatkan para Tuli protes karena hak mereka untuk mendapat juru bahasa isyarat dalam persidangan tidak terpenuhi. Juga ada adegan para polisi berusaha membubarkan para Tuli yang sedang berdemo, namun menggunakan TOA yang tentu tak dapat didengarkan. Ini melanggar etika berkomunikasi bersama tuli.

Bagi saya, momen mennonton bareng malam itu sungguh berkesan.

Semoga kelak, apa yang menjadi tujuan dari pergerakan-pergerakan kami bisa terwujud.

Saya pribadi memimpikan lingkungan yang selalu menerima siapapun. Semoga perasaan hangat toleransi seperti ini kelak tidak hanya saya rasakan di lingkungan PerDIK, melainkan tercipta di setiap pojok Indonesia dan di manapun saya berada[].

Impian Masa Kecil Seorang Tuli Menjadi Superhero

Oleh: Andi Kasri Unru, Mahasiswa, Aktivis Tuli, PerDIK

Saat saya masih SD, saya pernah bermimpi ingin menjadi seorang superhero,yang akan menolong orang-orang yang diperlakukan tidak adil.

Saat ini, di usia yang memasuki fase dewasa awal, saya bertanya-tanya, bagaimana saya bisa berpikir seperti itu saat kecil?

Mengapa saya bermimpi ingin menjadi seorang pahlawan super?

Akas kecil (tengah) bersama saudara-saudaranya

Saya berusaha mengingat-ingat apa alasan saya, sepenggal demi sepenggal saya merajut ingatan. Tidak ada jawaban pasti. Saya kembali melihat diri sendiri, seorang Tuli yang masih memiliki sisa pendengaran. Biasa disebut dalam dunia medis sebagai ‘Tunarungu’.

Saya mengenal istilah ini dari seorang dokter. Saat itu, usia saya masih kanak-kanak. Keluarga membawa saya berobat di Rumah Sakit di Kota Makassar. Jaraknya cukup jauh dari rumah saya di Wajo, Sulawesi Selatan. Dokter memeriksa, kemudian memvonis bahwa saya tunarungu. Dokter ini kemudian menyarankan saya menggunakan Alat Bantu Mendengar (ABM). Tapi saran Dokter tidak saya turuti. Saya merasa malu menggunakannya. Lagipula, saya tidak ingin menjadi bahan celaan dan candaan teman-temanku. Apalagi harga ABM sangat mahal bagi keluarga saya. Saat itu, bahkan sampai sekarang, perlakuan stigmatik bagi orang Tuli mudah terjadi. Dalam Bahasa Bugis, orang Tuli disebut juga To Banta’.

Saya bersekolah di SD hingga SMA umum. Keinginan saya untuk bersekolah di Sekolah Luar Biasa tidak pernah kesampaian. Saya memang mengetahui kalau ada sekolah khusus untuk siswa Tuli. Tapi SLB Tuli atau SLB B saat itu hanya ada di Kota Makassar, dan itu jauh dari kampungku. Sekitar lebih seratus kilometer.

Masa kecil saya, sebagai Orang Tuli tidak begitu ceria. Saya menerima ejekan dan candaan nyaris setiap hari. Bahkan sampai saat saya tamat SMA.

Pada 2013, saya mendapatkan beasiswa bidikmisi. Saya lalu memutuskan kuliah di Makassar. Saya memilih jurusan D3 Teknik Mesin dengan Prodi Teknik Konversi Energi. Selama 3 tahun berkuliah, saya mengalami banyak tantangan dan hambatan dalam memahami setiap perkuliahan yang ada. Berbagai rintangan saya hadapi dan berusaha melewati. Di masa-masa ini, saya masih sering menyembunyikan ketulian saya. Saya berpurta-pura memahami perbincangan. Namun, karena itu, saya malah pernah dibilangi sombong oleh Teman-teman, karena saat dipanggil tidak menengok. Tapi, dalam hal prestasi akademik, saya berhasil. Saya berhasil lulus dan malah mendapatkan IPK yang sangat memuaskan.

Foto Wisuda D3 Prodi Teknik Konversi Energi, Jurusan Teknik Mesin, Politeknik Negeri Ujung Pandang.

 “Kehidupan yang sebenarnya akan datang dan terus menghampiri seminggu setelah wisuda. Kamu harus bersiap-siap. Jangan senang dulu,” begitu pikirku.

Selulus kuliah, sebenarnya, saya membayangkan diri saya pasti mendapatkan pekerjaan. Saya percaya akan diri dan kemampuan saya. Namun, senyatanya saya masih harus menghadapi kenyataan pahit. Awal 2017, saya melamar di salah satu perusahaan BUMN dan mengikuti serangkaian tes. Saya berhasil lolos sampai tes kesehatan.

Saat tes kesehatan berlangsung, saya memasuki salah satu ruangan untuk tes kesehatan bagian dalam. Dokter mulai menanyakan alat bantu mendengar yang menempel di telinga saya. Ya, ABM itu saya gunakan sejak SMA dan telah membantu saya dalam menyelesaikan studi saya.

Saya mulai khawatir. Berbagai pikiran buruk melintas di benak saya. Benar saja, saya tidak diloloskan ke tes selanjutnya di tahap akhir, wawancara.

“Sampai kapan saya harus menghadapi rintangan-rintangan tersebut? Kapan saya mendapat pekerjaan? Mengapa orang-orang melihat saya sebagai Tuli, bukan melihat dari kemampuan saya?” begitulah tanya demi tanya dalam pikiran terlintas.

Sayapun memutuskan pulang kampung meski pikiran perlakuan diskriminatif itu terus berputar di kepalaku selama sebulan lebih.

Tidak lama, saya memutuskan bangkit dan kembali lagi ke kota. Saya tidak bisa berdiam diri di rumah saja. Saya mulai menjelajah di internet dan mencari segala informasi tentang pengalaman yang saya alami, berujung mempertemukan saya dengan Dunia Tuli dan Disabilitas. Saya berinteraksi dengan teman Tuli dengan menggunakan Bahasa Isyarat. Yah, saya sudah mulai memahami Bahasa Isyarat dan mempelajarinya langsung dari Tulinya sendiri. Saya merasakan manfaatnya, itu sangat memudahkan untuk berkomunikasi dan saya bisa mengungkapkan perasaan serta ekspresi secara utuh.

Dunia saya berubah. Semakin saya melihat lingkungan saya, saya seperti bercermin tentang diri saya. Banyak di antara mereka mengalami diskriminasi, tidak dapat diterima bekerja hanya karena keterbatasan akses informasi dan komunikasi. Saya lalu mencari informasi lebih dalam tentang diskriminasi dan mempertemukan saya dengan salah satu organisasi Difabel di Makassar yaitu PerDIK (Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan). Saya memutuskan untuk mulai bergabung dan ikut aktif menyuarakan hak-hak Tuli dan Disabilitas.

Pada bulan Juli 2017, saya mendapat informasi tentang beasiswa kuliah di jurusan Hukum dan beasiswa tersebut disponsori oleh salah satu Organisasi Nirlaba dari Amerika, yang di mana semua anggotanya Tuli. Mereka mencari kandidat Tuli yang berasal dari Indonesia, yang ingin berkuliah di jurusan hukum. Saya merasa tertantang dan merasa harus mengambil kesempatan berharga tersebut. Beasiswa tersebut sangat sesuai dengan keinginan saya kuliah lagi dengan jurusan yang sesuai dengan latar belakang pergerakan advokasi saya saat ini.  Saya kemudian mendaftar di salah satu kampus swasta terbaik di Jakarta, Universitas Esa Unggul. Saya diterima. Orang yang mengenalkan saya dengan beasiswa ini adalah Michael Stein Steven. Dia pendiri Organisasi D-LAW di Amerika Serikat.

Berfoto dengan Michael Stein Steven (Pendiri Organisasi D-LAW, Pemberi Beasiswa Tuli berkuliah jurusan hukum) dan Muh. Andika Panji (Penerima Beasiswa D-LAW dan sesama Pendiri IDHOLA)

Sejak kuliah, saya juga aktif di beberapa organisasi seperti Young Voices Indonesia, Pandulisane, dan Gerkatin. Pengalaman saya berada di organisasi dan komunitas tersebut mengajarkan saya mengenal Disabilitas lebih luas dengan kebutuhan aksesnya.

Awal 2020, saya memanfaatkan waktu libur untuk magang di salah satu organisasi Difabel di Jogjakarta, yakni SIGAB Indonesia. Saya ditempatkan di bagian advokasi dan pendampingan hukum. Saat saya magang, saya diberi kesempatan ikut bersama dengan Tim Advokasi dalam proses pendampingan difabel berhadapan dengan hukum. Saat itu saya mendatangi rumah korban di salah satu desa di Gunung Kidul. Saya mengikuti setiap proses, saya melihat bagaimana proses itu berjalan dan memberikan saya banyak hal serta perspektif yang lebih luas.

Berfoto di depan papan nama Kantor LBH Makassar

Korban dari kasus yang saya tangani merupakan seorang perempuan Tuli yang mengalami kekerasan seksual. Selain itu, korban berkomunikasi dengan bahasa isyarat alami dan tidak memahami bahasa isyarat yang umum digunakan oleh teman-teman Tuli dan juga mampu berbicara bahasa Jawa. Saya melihat data diskriminasi terhadap difabel lebih banyak lagi. Hasilnya, saya melihat fakta bahwa kasus seperti ini tidak hanya terjadi di satu daerah saja. Banyak kasus serupa di daerah lain.

Di Kota Makassar, menurut data PerDIK, kasus kekerasan seksual yang melibatkan Difabel sepanjang 2017 tercatat oleh Tim Advokasi PerDIK terdapat  delapan kasus. Sebagian kecil dari kasus tersebut berhasil masuk ke ranah kepolisian. Saya turut tergabung menjadi bagian di dalamnya sebagai anggota yang mengadvokasi difabel, yang berhadapan dengan hukum dan juga alasan saya mengapa perlu bersekolah dengan latar belakang hukum.

Jadi, pilihan kuliah dan bidang advokasi yang saya pilih ada kaitannya untuk memperkuat divisi atau organisasi PerDIK untuk mengadvokasi hak difabel. Contoh, salah satu kasus yang pernah kami tangani di PerDIK, yaitu seorang gadis Tuli yang menjadi korban pemerkosaan dan itu terjadi di beberapa daerah seperti Makassar, Soppeng, dan Bulukumba. Dalam kasus ini, korban (Tuli) berhak mendapatkan perlakuan khusus seperti didampingi juru bahasa isyarat (JBI) untuk memudahkannya menyampaikan keterangan dan pendampingan hukum secara setara dengan perspektif gender dan Disabilitas yang tepat. Bukan mengabaikan hak-haknya sehingga membuat korban tidak mendapatkan keadilan yang fair. Catatan kasus tersebut dapat ditemukan di Link https://ekspedisiDifabel.wordpress.com/2017/03/25/kekerasan-seksual-anak-gadis-Difabel dan-sejumlah-kekhawatiran-yang-harus-terjawab/.

Berdasarkan kasus tersebut, tentu saja memberikan saya banyak pertanyaan yang terlintas, “Mengapa hal itu bisa terjadi?”. Salah satunya, selama proses pendampingan banyak tantangan yang dihadapkan. Sebagai contoh, pihak kepolisian yang masih awam mengenai isu Disabilitas juga kerap keliru memperlakukan difabel berhadapan dengan hukum. Mereka bingung bersikap tidak tahu-menahu tentang bagaimana berinteraksi dengan difabel serta tidak mengetahui tentang cara penanganan yang tepat. Penegak hukum kerap merendahkan martabat Difabeldifabel. Kami menyebut perilaku seperti ini sebagai Audisme, atau perspektif orang dengar yang merasa superior dari orang Tuli dan merendahkan kemampuan mereka. Akibat pandangan Audisme ini (disadari atau tidak) kemampuan dan kecakapan hukum difabel sering kali diremehkan. Menurut saya, harus ada pengetahuan baru dan edukasi yang tepat bagi para aparat penegak hukum, agar sikap dan perlakuan audis—sebagaimana perlakuan ableist (dalam konteks lebih luas terkait perlakuan stigmatik bagi difabel) tidak terjadi lagi .

Berfoto dengan Panji dan Yusuf (Bekerja sebagai Juru Ketik di setiap kelas perkuliahan dan Pendiri sekaligus CEO Silang.id)

Selain kasus tersebut, bagaimana dengan penegakan hukumnya? Difabel juga berhak atas proses peradilan yang fair sebagaimana yang diamanahkan oleh pasal 14 International Covenant on Civil and Political Rights. Pasal ini berisi jaminan prosedural agar peradilan berjalan dengan baik dan fair. Beberapa kekhususan yang harus diperhatikan pada proses peradilan bagi difabel adalah kebutuhan ketersediaan layanan peradilan yang berbeda dengan orang kebanyakan.

Ketersediaan layanan ini berkaitan dengan dua hal, yaitu aksesibilitas fisik dan aksesibilitas prosedural. Berkaitan dengan kewajiban peradilan untuk memastikan bahwa sarana fisik seperti gedung pengadilan, ruang sidang, berkas acara pemeriksaan, surat dakwaan maupun tuntutan aksesibel bagi difabel. Gedung bertingkat dengan lantai berundak yang tajam pastilah menyulitkan pengguna kursi roda untuk mengakses peradilan. Berkas dakwaan dan tuntutan dalam bentuk hardcopy pasti akan menyulitkan bagi difabel netra untuk membacanya. Debat persidangan yang berbahasa rumit akan menyulitkan difabel intelektual untuk memahami dakwaan atau tuntutan bagi mereka.

Aksesibilitas prosedural berkaitan dengan hukum acara yang pada beberapa contoh lain yang masih mengganggu akses Difabel. Kita mengambil contoh mengenai ketentuan saksi. Saksi yang dimaknai secara khusus hanya orang yang melihat dan mendengar sendiri pasti akan sangat sulit dipenuhi bagi difabel netra dan seorang Tuli.

Selama perkuliahan, saya juga sering kali mengikuti proses beracara di pengadilan. Selain untuk menyelesaikan tugas perkuliahan, saya tetap mengamati dan melihat bagaimana akses yang ada di pengadilan. Yang saya lihat secara langsung, sangat jauh dari apa yang selama ini disuarakan oleh teman-teman difabel dalam menyuarakan pentingnya aksesibilitas fisik, arsitektur, infrastruktur maupun literatur.

Berdiskusi dengan ketua Hakim PN Wonosari beserta jajarannya mengenai peradilan yang akses untuk Disabilitas

Dari permasalahan tersebut, hal ini menguatkan tekad saya untuk tetap berjuang di garis perjuangan bersama teman-teman difabel serta berupaya mendorong perubahan dalam Dunia Hukum. Sudah seharusnya dunia hukum berbenah dan meningkatkan kesadarannya akan kehadiran difabel. Apalagi Pemerintah Indonesia telah meratifikasi Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak difabel (UN CRPD) pada 2011 dan telah menerbitkan Undang-undang Nomer 8 tahun 2016 tentang Penyadang Disabilitas. Hal ini akan menjadi pedoman  bagi saya untuk tetap bergerak dan mengadvokasi hak-hak Disabilitas dalam peradilan.

Saya tahu itu adalah sebuah mimpi yang sangat besar. Tapi tekad saya sangat bulat, saya tetap meyakini mimpi itu akan terwujud.

Pada awal Maret 2020, saya kembali ke Jakarta setelah selesai magang di Jogja dan paginya tiba di Stasiun Pasar Senen. Saya mengaktifkan gawai saya dan membaca notifikasi berita, Indonesia mendapati kasus pertamanya Covid19 dan menjadi trending topik. Karena wabah Covid19, hampir setiap hari Pemerintah Indonesia mengadakan press conference di depan layar TV nasional untuk memberikan informasi arahan dan tindakan kepada masyarakat Indonesia namun informasi tersebut tidak sampai kepada orang-orang Tuli karena tidak disediakannya juru bahasa isyarat dan teks pada layar tv.

Hal tersebut memicu kemarahan dan protes orang-orang Tuli karena pemerintah tidak menghormati hak-hak fundamental Tuli dalam memperoleh informasi dan saya mewakili Hard of Hearing beserta teman-teman Tuli lainnya berinisiatif membuat surat terbuka kepada Presiden Republik Indonesia untuk tidak meninggalkan dan menghilangkan hak-hak orang-orang Tuli serta segera membentuk tim interpreter yang bertugas saat press conference. Dua hari kemudian, pemerintah sudah memberikan akses interpreter saat menyampaikan press conference dan teks lewat video dan itu merupakan kerja advokasi yang berhasil dan dapat dinikmati oleh seluruh Tuli di Indonesia. Jika teman-teman ingin membaca isi suratnya sila berkunjung ke web PerDIK atau meng-klik tautan ini https://ekspedisidifabel.wordpress.com/2020/03/16/tuli-dan-sepucuk-surat-untuk-presiden-indonesia/

Bersama Tim PerDIK saat Penyusunan Renstra PerDIK di Malino, Desember 2020

Pada bulan Oktober 2020, saya kembali mengikuti praktik magang di Kota Makassar, tepatnya di LBH Makassar. Saya ditawari oleh Direktur PerDIK, Kak Rahman Gusdur untuk magang di sana. Magang kali ini sebagai tugas praktik kuliah yang seharusnya magang dilakukan di Jakarta tapi karena adanya Pandemi Covid19 perkuliahan dialihkan ke sistem daring yang awalnya dilakukan dengan tatap muka.

Perkuliahan dengan sistem daring membuat sebagian besar mahasiswa memilih pulang kampung termasuk saya. Perkuliahan sistem daring ini banyak menuai permasalahan, khususnya sebagai mahasiswa Tuli. Pendapat saya mengenai sistem daring ini dimuat dalam tulisan Tirto, teman-teman dapat membacanya di tautan ini https://tirto.id/kuliah-online-di-indonesia-yang-tak-ramah-bagi-mahasiswa-tuli-fQbZ.

Pandemi Covid19 memaksa saya harus magang di Kota Makassar dan sangat bersyukur karena dapat lebih dekat dengan kawan-kawan di PerDIK dalam waktu yang lama. Selama magang, saya mendapati pengetahuan baru yang tidak saya temui di bangku perkuliahan dan juga mendapati hambatan. Seperti, saat saya ditugaskan untuk mendampingi pewawancara dalam melakukan wawancara dengan Pemohon bantuan hukum, saya kesulitan melakukan proses wawancara. Hal ini dikarenakan pandemi covid19 harus mengikuti aturan Protokol Kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

Sebagai Tuli, saya dapat membaca gerak bibir lawan bicara dan saat Pemohon menggunakan masker saya kesulitan untuk berkomunikasi karena bagian mulutnya yang tertutup masker sehingga tidak dapat memahami apa yang dikatakan oleh Pemohon. Selain itu, LBH Makassar merupakan salah satu lembaga bantuan hukum di Kota Makassar yang sudah mulai menerapkan sistem inklusif seperti menerima laporan korban dengan Difabel atau melakukan pendampingan hingga putusan ketika Difabel berhadapan dengan Hukum. Namun selama magang masih ada kesulitan ketika berkomunikasi dengan Difabel Tuli karena kurangnya pengetahuan tentang Budaya Tuli.

Awalnya mereka melihat saya seperti orang Dengar (Istilah untuk orang yang dapat mendengar) dan ketika berkomunikasi barulah sadar bahwa saya seorang Tuli. LBH Makassar telah melakukan langkah tepat untuk membukakan pintu yang seluas-luasnya kepada difabel untuk melakukan permohonan bantuan hukum jika berhadapan dengan hukum dan hal tersebut juga sebagai bentuk dukungan kepada Difabel sebagai pemegang hak asasi manusia.

Dukungan terhadap Tuli jangan terbatas pada proses Difabel Berhadapan Dengan Hukum saja, namun harus pula memasukkan unsur Budaya Difabel terutama Budaya Tuli. Pengalaman saya sebagai mahasiswa Tuli yang sedang magang di LBH Makassar menurut saya, juga penting menimbang Budaya Tuli yang saya miliki. Di dalam setiap proses kerja magang saya, khususnya dalam lingkaran terdekat LBH Makassar harus juga terbangun pemahaman itu. Advokat, Paralegal dan Staf LBH Makassar perlu turut mempelajari tentang perspektif difabel dan bagaimana berinteraksi dengan difabel dan itu akan sangat diperlukan ketika melakukan proses wawancara hingga pendampingan di peradilan.

Dari proses Panjang yang saya hadapi itu, sepertinya saya memang sedang mengarah pada pencapaian impian masa kecil saya, menjadi “super hero” bagi Tuli. Saya ingin mengabdikan diri dan kemampuan saya untuk memperjuangkan hak-hak Tuli khususnya dan difabel pada umumnya[]

Bisa hubungi Andi Kasri Unru atau Akas di andikasriunru@gmail.com, 085298912824

Mengurai Relasi Disabilitas dan Seksualitas

Oleh: Nabila May Sweetha (Pelajar SMU, Penulis, dan Aktivis Difabel di Pergerakan Difabel untuk Kesetaraan/PerDIK)     

Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi perkembangan penting dalam gerakan hak difabel dan gerakan feminisme di Indonesia. Perkembangan tersebut terkait makin kuatnya perhatian untuk membangun koneksi dan interseksi antara isu difabel dan isu-isu dalam feminisme. Harus diakui, selama ini, keduanya masih tampak sebagai isu yang terpisah. Melihat perkembangan terakhir tersebut, sangat penting untuk memanfaatkan semua momen dan event sebagai kesempatan (opportunity) untuk lebih menguatkan relasi antara isu-isu difabel dan isu-isu dalam feminisme, salah satunya, yang paling penting adalah isu seksualitas.

Baru-baru ini, tepatnya pada Sabtu, 28 November 2020, LETSS Talk menghadirkan acara Saturday Nite with LETSS Talk Live on Instagram yang secara khusus menghadirkan tema “Difabel dan Keadilan Gender.” Acara yang disiarkan langsung melalui akun Instagram LETSS Talk ini menampilkan Dr. Ishak Salim, Ketua Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) sebagai guest atau narasumber dan Diah Irawaty, salah satu pendiri LETSS Talk, sebagai host. Dalam tulisan ini, saya ingin mengurai poin-poin penting yang muncul dalam diskusi yang diadakan bertepatan dengan Peringatan 16 Hari Anti Kekerasan Berbasis Gender.

“Persoalan terbesar terkait difabel dan seksualitas adalah pendidikan seksualitas bagi anak atau remaja difabel baik di rumah tangga maupun di sekolah, dan hal itu tidak terjadi secara berkesinambungan, dan tidak diurus secara serius,” papar Ishak Salim, yang biasa dipanggil Kak Ichak, membuka perbincangan.

Diah Irawaty dan Ishak Salim pada diskusi “Difabel dan Keadilan Gender” melalui acara Saturday Nite with LETSS Talk LIVE on Instagram, Sabtu, 28 November 2020.

Lebih lanjut, Ishak menjelaskan, “Kurikulum pendidikan seksual bagi anak-anak, khususnya di SMP Luar Biasa, di mana banyak anak-anak sedang menuju usia remaja, belum tersedia. Dalam beberapa kasus, misalnya di SMP Luar Biasa, ketika usia anak-anak mulai baligh dan menjadi remaja, mereka akhirnya mencari sendiri informasi terkait seksualitas dan seks. Mereka mencari tahu sendiri tentang tubuhnya, mencari tahu sendiri tentang bagaimana cara membangun keintiman dengan lawan jenis. Dalam kondisi seperti itu, banyak remaja difabel menjadi keliru arahnya, karena tidak ada pedoman. Tempat untuk bertanya adalah pada teman sendiri, Sementara, teman juga sama tersasarnya dengan yang lain. Jadi dalam konteks itu pengenalan isus-isu seksualitas bisa sangat berpeluang besar menjadi keliru, dan hubungan seks antara sesama difabel bisa terjadi di luar norma-norma sosial yang diakui secara umum.”

Saya merasa senang sekali saat Ishak men-share rekaman diskusinya bersama LETSS Talk ini pada saya. Pembicaraan mengenai seks dan seksualitas dalam kaitannya dengan difabel memang masih jarang dilakukan di ruang-ruang publik. Sementara stigma difabel sebagai kelompok yang dianggap asekual di satu sisi dan hiperseksual di sisi lain masih sangat kuat di masyarakat kita. Belum lagi maraknya kasus kekerasan seksual terhadap difabel terutama perempuan difabel di samping kurangnya akses infomasi dan komunikasi tentang pendidikan seks dan seksualitas di kalangan difabel membuat persoalan ini semakin kompleks dan berat.

Selama ini masyarakat kita banyak yang mengira difabel sebagai manusia yang memiliki nafsu tinggi, dan suka-suka saja atau masa bodoh saat mereka mendapatkan pelecehan seksual. Anggapan lain yang berkembang adalah difabel tidak mempunya keinginan dan hasrat seksual atau keinginan untuk mempunyai hubungan seksual atau mempunyai hubungan intim seperti non-difabel. Dalam konteks lain, kita juga mendengar banyak teman-teman difabel melakukan hubungan intim dengan difabel lainnya dengan didasari oleh pengetahuan seks dan seksualitas yang sangat kurang, terbatas, tidak memadai, dan bahkan tidak akurat.

Sebenarnya, pengetahuan seks dan seksualitas, seperti yang pernah saya singgung di tulisan-tulisan saya lainnya, bukan hanya minim didapatkan di kalangan difabel. Pendidikan seks dan seksualitas juga minim untuk sebagian besar warga di Indonesia, di sekolah-sekolah umum termasuk sekolah milik pemerintah, apalagi di ruang-ruang publik. Ini berdampak besar pada perkembangan anak-anak yang usianya menuju masa remaja. Seperti yang dikatakan Ishak, hal ini menyebabkan banyak sekali kekeliruan dan kesalahpahaman pada masa anak-anak itu tumbuh menjadi remaja.

Dalam kondisi tidak tahu atau kurang pengetahuan, mereka melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan. Dalam kasus yang lebih ringan, ketidaktahuan membuat mereka abai terhadap kesetaraaan gender. Akibat seks masih dianggap pembicaraan dan hal tabu di Indonesia, banyak pihak merasa enggan dan canggung untuk membicarakan dan menyampaikan pengetahuan terkait hal tersebut kepada anak-anak. Karenanya, sangat perlu untuk segera memulai upaya yang membuat kita punya akses terhadap pendidikan seks dan seksualitas, khususnya yang menargetkan anak-anak yang sedang bertumbuhmenuju remaja terutama untuk difabel yang memang sangat membutuhkan pengetahuan tersebut.

Dalam diskusi selama satu jam ini, Ishak juga sempat menyinggung betapa banyak difabel, dalam hal ini perempuan, yang akhirnya tidak bisa beraktivitas dengan leluasa karena tidak adanya kesetaraan gender bahkan di rumah atau dalam keluarga mereka. Ada kasus di mana perempuan difabel berkursi roda tidak bisa ikut aktif di kegiatan organisasi sosial karena di rumah, dia menjadi orang satu-satunya yang berkemungkinan untuk mengurus adik-adik dan mengerjakan semua pekerjaan domestik. Ada juga teman Tuli yang tidak diperbolehkan bersekolah hanya karena dia adalah seorang perempuan.

Menurut saya, kasus-kasus semacam ini memang banyak sekali terjadi di kalangan difabel. Sebagai difabel, kami sering dianggap rentan, tidak bisa ke mana-mana dan tidak leluasa melakukan apa-apa di luar rumah sendirian. Sebagai perempuan, kami tambah rentan lagi. Kami dianggap memiliki kewajiban untuk menjaga rumah, mengurusi pekerjaan domestik, dan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena toh akan berakhir di dapur juga.

Contoh sederhana seperti di rumah saya. Ibu atau yang saya sering menyebutnya Mamak, memiliki adik perempuan, yang usianya tidak jauh berbeda dengan saya; dia hanya lebih tua dua tahun. Kami sudah seperti saudara, rasanya kami seusia. Setiap hari dia bebas beraktivitas. Setiap ingin keluar rumah, dia diberi izin dengan alasan dia kuliah, perlu mengurus tugas-tugas, dan banyaklah alasan lain terkait kuliah. Adik perempuan mamak tersebut juga perempuan dan Ia diberi izin untuk keluar rumah mengerjakan aktivitas-aktivitasnya. Saya juga perempuan, saya bersekolah, dan aktif di organisasi. Tapi orang tua saya tidak mau peduli itu. Saya dianggap rentan hanya karena saya difabel. Dalam banyak hal, jika ingin melakukan aktivitas di luar rumah, saya harus melalui proses minta izin terlebih dahulu dan mamak lebih sering menggeleng, ketimbang mengijinkan.

Saya tidak tahu alasan mamak. Mungkin saja mamak terlalu khawatir. Mungkin saja mamak merasa kegiatan-kegiatan saya di luar rumah tidak penting. Atau, banyaklah kemungkinan yang tidak mamak beberkan. Pokoknya, saya tidak boleh keluar rumah; ya, saya tidak boleh pergi karena tidak diizinkan.

Satu dua kali saya mau memberontak, mau keluar rumah, meski tidak diizinkan. Saya merasa sudah cukup dewasa untuk memilih mana kegiatan penting dan mana yang kurang atau tidak penting dan tidak berguna bagi saya. Saya pokoknya merasa sudah cukup usia untuk menentukan apa saya ingin keluar rumah atau tidak ingin sekalipun.

Tapi, pemberontakan saya itu tidak ampuh; relasi kuasa antara orang tua dan anak masih kental sekali terjadi di rumah saya. Walaupun saya, dalam hal ini sebagai anak, merasa sudah benar dan cukup dewasa, tetap saja di mata mamak, atau di mata masyarakat, saya yang salah ketika saya memilih jalan yang tidak dipilihkan orang tua. Apalagi dalam posisi saya sebagai perempuan, kedudukan saya menjadi lebih rendah lagi. Orang-orang akan berpikir saya anak perempuan, difabel pula, yang tidak mendengar perkataan orang tua.

“Anak perempuan, kok suka keluar rumah. Kayak perempuan nakal saja,” begitu biasa orang akan bilang. Jika saja orang tua saya mengetahui dan mendapatkan pendidikan seks dan seksualitas, tentang betapa anak perempuan punya hak untuk hidup dan menentukan pilihannya,  betapa pentingnya kesetaraan gender diterapkan dalam membesarkan anak dan betapa rentan dan beresikonya anak perempuan difabel yang tidak mempunyai pengetahuan dan akses pendidikan seks dan seksualitas dan pendidikan mengenai kekerasan seksual, mereka tidak mungkin melarang saya keluar rumah, melarang saya aktif di organisasi, untuk hal yang seharusnya positif untuk saya sendiri.

Lalu, muncul pertanyaan lain dalam benak saya ketika mendengar rekaman diskusi Ishak Salim dan Diah Irawaty di forum LETSS Talk itu: Apa perbedaan antara kerentanan perempuan non-difabel dan kerentanan perempuan difabel dalam hal kesetaraan gender?

“Ketika terjadi ketidakadilan gender bagi difabel, maka itu sangat boleh jadi disebabkan oleh faktor seperti perspektif dan pengetahuan yang menjadi arus-utama, yang membuat aspek gender dan disabilitas itu menjadi hal yang kurang penting. Jadi dua-duanya ini benar-benar kompleks,” ujar Ishak saat menjawab pertanyaan host terkait apa isu utama dari masalah difabel dan ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender.

“Kalau merujuk pada pertanyaan apa yang menjadi isu utamanya, begitu kita masuk ke belantara persoalan ini, setiap hal yang ditemui itu adalah masalah utama,” jawab Ishak tegas. Sebagai perempuan difabel, yang kebetulan sekali memiliki tante kecil yang non-difabel,yang bisa dijadikan cerminan, saya bisa melihat, isu difabel dan gender ini sebagai isu yang sangat berkaitan.

Tante saya juga seorang perempuan, seperti saya; dia hampir seusia dengan saya, dan usianya mungkin saja sama atau bahkan lebih muda dari saya. Tapi sebagai perempuan yang bukan difabel, yang melihat dan dianggap bisa mandiri berkegiatan di luar rumah, tante saya diizinkan ke mana-mana. Urusannya di luar rumah selalu dianggap lebih penting dari pekerjaan domestik keluarga.

Sementara saya, karena saya adalah difabel, meski sedang sekolah dan berorganisasi, orang tua selalu berpikir urusan saya di luar rumah tidak lebih penting dari pekerjaan-pekerjaan di rumah. Setiap kali ingin meminta izin untuk keluar rumah, saya akan gugup sekali, seolah-olah saya ingin bepergian ke tempat-tempat yang salah. Itu karena sejak awal, semenjak saya berusia empat belas tahun saya menjadi buta, orang tua selalu berpikiran bahwa saya tidak bisa menjadi apa-apa atau siapapun.

Mamak mungkin saja masih menaruh harapan pada saya, la sekali-kali memberikan izin. Tapi bapak, yang tumbuh di lingkungan yang benar-benar patriarchal, memiliki anak perempuan saja sudah menjadi beban untuknya. Apalagi anak perempuan yang difabel. Bapak beranggapan bahwa memiliki anak difabel berarti anak tersebut tidak bisa dan tidak boleh keluar rumah sehingga tidak mungkin punya masa depan, dan itu artinya tidak memiliki harapan apa-apa lagi.

“Dalam konteks pergerakan disabilitas/difabilitas, kita sering bertanya; kalau putri-putri Disney itu adalah difabel, masihkah mereka akan ditonton orang-orang? Memang ada persoalan juga dalam hegemoni cara berpikir, atau hegemoni pengetahuan patriarkhal, tentang “kenormalan” misalnya. Sampai sekarang kita juga masih berdebat masalah Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) dan lain-lain,” ungkap Ishak lebih lanjut.

Begitulah, cantik atau tampan, seringkali direpresentasikan sangat jauh dari perspektif difabel. Saya setuju dengan Ishak, bahwa hal ini terjadi karena dalam buku-buku pelajaran, dalam dongeng semasa kecil hingga sekarang dan di kehidupan lebih luas lagi kita diberikan definisi cantik yang tidak merepresentasikan difabel.

Melangkah ke isu yang lebih kontroversial terkait gender, yaitu isu transgender, homoseksualitas atau yang biasa disebut LGBT, dan sebagainya. Dalam diskusi tersebut disampaikan, semua orang tidak bisa memilih dengan jenis kelamin apa dia terlahir dan gender apa mereka nantinya atau gender apa yang dipilih. Tapi kemudian, ketika dia besar dan memiliki ketertarikan seks pada sesama jenis, dia akan disalahkan.

Saya tidak bisa membahas poin terakhir ini lebih dalam, tapi yang perlu ditegaskan, hubungan isu-isu tersebut dengan isu difabilitas sangat kompleks. Stigma yang melekat pada difabel adalah bahwa difabel, tidak peduli beragama apa, adalah manusia yang suci. Sementara masalah LGBT, dianggap bertentangan dengan ajaran-ajaran agama. Lalu, bagaimana jika ada seorang difabel, yang biasanya dianggap suci, ternyata seorang homoseksual? Bagaimana jika ada perempuan difabel yang suka pada teman perempuannya?

Belum banyak orang yang memikirkan masalah ini, bagaimana difabel bisa memilih ketertarikan seksual dan seksualitasnya secara bebas. Cara berpikir ini merupakan cara berpikir yang mainstream dalam masyarakat kita; mungkin banyak orang yang merasa ini tidak penting. Banyak yang berpikir, difabel dan transgender sama sekali tidak bisa disatukan; keduanya adalah dua entitas yang jauh jaraknya, tidak punya keterkaitan. Tapi ini sebenarnya menarik untuk dibahas; sangat perlu orang-orang mulai berpikir untuk memenuhi hak difabel dalam hal memilih ketertarikan atau orientasi seksualnya.

Saya senang dengan diskusi seperti dilakukan LETSS Talk yang menyentuh keterkaitan antara isu difabel dan isu seksualitas. Saya berharap diskusi semacam ini lebih banyak lagi dilakukan agar semakin banyak orang yang sadar bahwa difabel dan gender atau seksualitas adalah hal yang berkaitan. Selain itu, saya juga berharap dengan diskusi ini kawan-kawan difabel juga merasa terpanggil untuk mengambil hak-hak mereka untuk bersuara, memilih jalan hidup, dan atau bahkan memilih ketertarikan seksual dan seksualitasnya secara bebas dan bertanggungjawab[].

Artikel ini sebelumnya diterbitkan di
https://letss-talk.com/mengurai-relasi-disabilitas-dan-seksualitas/ 21 Desember 2021

Media EkspedisiDifabel sudah mendapatkan izin.

Menjadi Difabel dan Beberapa Kegagalan Membunuh Diri Sendiri

Oleh: Ryand Saputra Liman, Relawan PerDIK, mahasiswa Teknik Elektro Unismuh

21 September 2016, sekitar jam dua siang, aku mendapat kabar dari kakakku, Ricky.

“Ricka pingsan di rumah kos,” katanya kepadaku. Kos mereka berada di jalan Manunggal 45 Macini Sombala. Saat itu Makassar sedang mendung. Aku sedang di Panti Asuhan saat itu. Kedua kakakku dulu juga tinggal di panti yang sama. Tapi setelah dianggap bisa mandiri, mereka pun diminta keluar dari panti.

Aku kaget mendengar berita itu dan segera meminjam motor panti untuk ke rumah kos mereka. Aku pergi bersama temanku.

Sesampainya di rumah kos, aku langsung naik ke lantai dua tergesa-gesa. Begitu tiba di kamar, aku masuk dan melihat keadaan Ricka. Dia begitu pucat pasi seperti kekurangan darah akibat capek bekerja. Ricky menyuruhku membantunya membawa Ricka ke rumah sakit.

Aku mengikuti perkataan kakakku. Ricky lalu menggendong Ricka ke motornya. Setelah kami sampai di bawah, dia menaikkan Ricka yang setengah sadar ke motor. Aku memegangi Ricka yang lemah. Kami berangkat ke rumah sakit kira-kira pukul setengah tiga.

Kami tiba di rumah sakit Bhayangkara, jalan Mappaodang. Kami lalu mengurus agar Ricka dirawat inap.

Saat diberitahukan biaya tindakan pertama, kami kekurangan uang sejumlah seratus ribu rupiah.

Ricka mengatakan ada uang di lemarinya. Aku menawarkan diri mengambilnya. Tapi Ricky bilang biar dirinya saja. Mendengarnya, Ricka bilang kalua aku saja yang pergi. Ricky mengalah. Aku keluar dan meraih motor. Di sana masih ada kawanku menunggu.

Saat melangkah keluar dari UGD tadi, perasaanku tidak enak. Seperti ada gelisah dan ragu. Aku memandang langit. Awan menutupi tanpa celah. Mendung sore ini.

“Mendung ji itu, tidak hujan,” kawanku memantapkan keputusan untuk segera beranjak.

Akupun memperbaiki perasaanku dan menaiki motor bersama temanku untuk pergi mengambil uang itu.

Langit semakin menghitam dan gerimis mulai datang. Tak lama, hujan sudah menderas. Karena sudah dekat, saya memilih menambah laju kendaraan. Aku kesulitan membuka mata lebar-lebar. Butiran air hujan ini cukup besar seperti membentuk bola-bola kecil yang menghambur di wajahku. Saat akan memasuki jalan Bajiminasa, sekitar pukul 3 jalanan mulai terasa licin. Tiba-tiba, aku tak bisa menguasai laju motor. Motor terpeleset dan oleng. Motor terputar searah jarum jam dan kami terjatuh. Temanku terlempar ke kiri dan keluar dari jalur jalan raya sedangkan aku ke kanan masuk jalur kendaraan. Jalanan cukup ramai saat itu.

Tiba-tiba, sungguh cepat, sebuah mobil avanza berwarna merah melindas sebagian tubuhku. Aku sama sekali tak bisa mengelak. Gelap, aku pingsan.

Saat aku sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Saat itu pukul 9 malam. Aku melihat, Ricky dan Ricka menangis. Akupun mengulurkan tanganku yang kukepal untuk memberikan uang. Ricky memegang tanganku.

“Apa?” ujar Ricky heran.

“Uang kak Ricka, seratus ribu,” ujarku.

“Di tangan mu tidak ada apa-apa,” ia heran.

Aku kaget dan segera melihat kepalanku yang melompong kosong.

Aku diam sejenak.

“kenapa terbaring ka di sini, kak?” aku bertanya masih heran dan takt ahu kejadian apa yang telah terjadi.

“Tadi saat kau kecelakaan,” ujar Ricky tampak sedih.

Aku terheran-heran dan tak mempercayai hal itu. Aku merasa kecelakaan tadi hanyalah mimpi. Tetapi rupanya itu kenyataan.

Sejak perawatan, teman-teman pantiku datang dan melihatku terbaring di atas tempat tidur pasien.

Awalnya aku tidak merasa sakit sedikitpun. Namun setelah sadar, aku melihat sosok putih di jendela rumah sakit. Sosok putih itu seperti bersinar.

Aku bersaha tenang dan berkata dalam hati, sosok apa itu tadi? Apakah barusan aku hamper saja mati?

Aku terdiam, mencoba merenung. Aku memilih tak memberitahukan siapapun mengenai sosok putih bersinar itu.

Keesokan paginya, aku merasakan hal aneh. Biasanya aku akan kencing di pagi hari, tapi sampai saat ini tak ada rasa ingin kencing. Aku masih diam dan menganggap tak terjadi hal yang mengkhawatirkan.

Tapi, saat hendak membalikkan badan, aku merasa kesulitan. Kakiku tidak mau bergerak sedikit pun?

“Kak, kakiku tidak bisa bergerak, kenapa?” tanyaku kepada Ricky. Ricky terdiam, tak menjawab apapun. Mungkin ini efek obat, pikirku. Akupun melanjutkan tidur.

Siang hari, aku terbangun. Sosok putih bersinar itu datang lagi. Kini ia lebih dekat dari tubuhku. Ia tepat di bawah kakiku. Aku terkejut tapi tak merasa takut. Aku malah tersenyum padanya.

Sosok itu menghilang lagi.

Aku berupaya membalikkan badan lagi. Tapi tak bergerak sedikitpun. Mengapa efek obat begitu lama hilangnya, pikirku.

Tak lama, Ricky datang dan mencoba membantuku bergerak. Setelah itu dia berkata, “Coba bangun duduk.”

Aku mencobanya. Badanku tetap diam. Aku sangat kesulitan bergerak. Aku mulai menangis. Aku juga bertanya kepada Ricky, kenapa aku tidak bisa bergerak.  Ricky membantuku duduk. Aku seperti batang pohon yang patah.

Perlahan, Ricky membantuku. Ia mengangkat tubuhku, coba berdiri. Namun ketika Ricky melepas tubuhku, badanku terjatuh ke lantai tak berdaya. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku kalut dan tak menyentuh makanan apapun. Aku hanya minum segelas air setiap hari. Setelah seminggu, aku tetap tidak bisa menggerakkan kedua kakiku.

Bahkan setelah dua bulan kemudian, setelah menjalani operasi di Rumah Sakit Wahidin, aku mengira akan bisa berjalan kembali. Tapi dari 14 dokter yang menanganiku, Sebagian besar menyatakan tidak bisa Kembali berjalan.

Seteleh mendengar hal itu, aku menangis sejadi-jadinya. Sepertinya dunia menjadi gelap gulita. Masa depan terenggut seketika. Aku panik dan terus menangis.

Hari-hari selanjutnya, aku masih dalam perawatan. Ada kekasihku turut menjaga di rumah sakit. Tapi saya masih merasa remuk redam. Semuanya hancur.

Kekasihku memelukku. Ia berusaha memberiku kekuatan. Aku tahu itu.

“Sudah mi, jangan menangis terus,” katanya menenangkanku. Tapi aku masih tetap gelisah dan kepanikan berkecamuk dalam diriku.

Seminggu kemudian, aku masih dirawat di Rumah Sakit. Pikiranku belum tenang.

Suatu pagi, kekasihku mengajakku untuk jalan-jalan dengan kursi roda. Aku perlu udara segar dan menyamankan suasana hatiku. Ia mendorongku dan kami sudah di luar kamar. Belum jauh beranjak, aku memintanya agar ia mengambilkan air mineral di kamar. Aku sengaja memintanya agar ia masuk dan meninggalkanku sejenak. Ya, aku hanya butuh beberapa detik untuk melakukannya tanpa sepengetahuannya.

Ia masuk dan aku mulai beranjak. Aku memutar ban kursi rodaku mendekati tangga. Aku ingin membunuh diriku sendiri.

Aku sudah di bibir tangga. Sedikit lagi aku bergerak dan akan mati.

Tanpa keraguan aku mendorong kursi rodaku lebih cepat dan terjadilah petaka itu.

Aku meluncur bersama kursi roda dan terpelanting, terguling-guling sampai ke lantai satu. Aku merasakan benturan berkali-kali. Tiba di lantai dasar, kepala kuberdarah, tubuhku seperti remuk, dan sial, Aku tak mati!

Di atas, kekasihku panik dan mendengar kegaduhan barusan. Ia bergegas turun dan menemukanku di lantai bawah dengan kursi roda terbalik. Tubuhku tertindih kursi roda. Sakit sekali rasanya. Darah masih bercucuran di kepalaku. Sialan betul, akum au mati, bukan cuma berdarah.

Setelah sebulan, aku keluar dari rumah sakit. Aku kembali ke panti asuhan di mana aku selama ini tinggal.

Dalam panti, suasana perlahan berubah. Aku merasa kehilangan Teman-teman di sini. Aku merasa mereka jarang mengajakku bicara. Aku bahkan mencoba menyapa mereka. Tak ada yang menanggapi, hambar sekali. Ini membuatku semakin tak karuan.

Suatu kali, pernah kudengar mereka bilang sesuatu yang tidak mengenakkan. Aku nyaris membenci mereka setelahnya.

Malam itu aku pura-pura tidur dan aku mendengar perbincangan mereka.

“Dia sisa tunggu mati, saja,” ujar salah seorang dari mereka. Kalimat itu sangat tidak mengenakkan. Aku melanjutkan kepura-puraan, tak ingin menghardik mereka. Aku malah menangisi keadaanku ini.

Malam itu aku tak tidur sampai pagi. Sesekali menangis, selebihnya memaki keadaan, di dalam hati.

Keesokan paginya, niat bunuh diri datang lagi. Aku naik ke kursi rodaku. Aku sedang berada di lantai tiga. Sunyi di sini. Ada tamu-tamu panti asuhan di bawah. Aku mendengar percakapan mereka samar-samar.

Aku menggerakkan roda kursi rodaku, menuju tangga. Kali ini aku harus mati.

Di tepi tangga, aku sudah siap. Aku bahkan menutup mataku. Ada kepasrahan yang kubiarkan menguatkan niatku meluncur.

Suara kursi roda menghentak anak-anak tangga, aku terpelanting, bergulir-guling dan bertabrakan dengan kursi rodaku sendiri, dan tak lama kami tiba di lantai satu. Tamu-tamu tampak kaget dan panik mendengar suara-suara benturan itu.

Aku tak mati. Asu!

“Kenapa aku tidak matiii!” aku berteriak.

Orang-orang terkejut dan berhamburan untuk menolongku. Mereka mengangkatku dan berusaha mengobati lukaku.

Aku sudah dua kali gagal, aku mungkin akan mencobanya sekali lagi.

Di panti, sejak upaya bunuh diri yang gagal itu, aku menjalani kehidupan apa adanya. Aku kebanyakan terbaring saja. Akses yang tidak memadai di panti membuat ruang gerakku sempit sekali. Tidak enak rasanya mengganggu teman-teman jika aku harus selalu meminta bantuan. Aku juga mulai memakai pampers karena tidak bisa mengontrol buang air kecil dan besar. Betapa tidak nyamannya.

Ryan Kecil saat di Panti Asuhan bersama anak-anak panti (memegang gendang)

Setiap hendak mandi, aku harus meminta bantuan teman-teman atau kakakku. Aku tak bisa menguasai tubuhku sehingga aku setiap hari butuh bantuan untuk diangkat. Keadaan ini sama tidak nyamannya. Menjadi orang yang tergantung untuk melakukan urusan sehari-hari. Aku merasa malu. Kebanyakan aku menggunakan pampers baik untuk buang air kecil dan buang air besar. Sungguh menyakitkan jika mendapatkan Teman yang tidak mau membantu mengambilkan, semisal nasi atau lauk yang sulit kujangkau.

Karena suasana yang tidak menggairahkan, aku memilih lebih banyak berbaring. Sampai suatu hari ternyata aku terkena decubitus atau luka tekan yang sangat serius. Luka itu ada di tulang ekorku. Awalnya luka itu hanya serupa goresan tapi lama kelamaan membesar dan sampai tulang. Sakit sekali.

Beruntung, di Panti Asuhan ini ada organisasi sosial di Belanda yang mau membantu mengurusi kebutuhan panti ini. Ibu Annete namanya, kemudian meminta perawat dari Grestelina datan untuk mengobati dekubitusku. Berkat Ibu Annete juga saya mendapatkan terapi rutin selama dua bulan lamanya. Seminggu tiga kali saya diterapi. Tapi tidak ada perubahan. Aku masih tetap hanya bisa berbaring di rumah dan semakin membuatku frustasi.

Sebulan kemudian, aku dikeluarkan dari panti asuhan. Tepatnya 4 Februari 2017. Awalnya aku tidak mau keluar. Tapi, pihak panti telah menyiapkan surat pernyataan untuk keluar. Aku tak berdaya dan akhirnya memenuhi permintaan mereka. Katanya, aku tidak akan bisa lagi berlama-lama tinggal di panti. Aku keluar, merasakan perihnya patah hati. Menangis lagi.

Karena tak punya pilihan, aku pindah ke kos kakakku, Ricka di jalan Cendrawasih, jembatan merah. Ukuran kamarnya hanya muat untuk seorang, saya harus menyesuaikan diri.

Beruntung terapi masih berlanjut. Saat itu, seorang Terapis asal Belanda rutin mendatangiku. Ia bernama Lukas. Ia juga bagian dari Somoi.

Saat itu, Lukas adalah mahasiswa di Amsterdaam University dan seorang Fisioterapis Somoi. Somoi merupakan organisasi fisioterapis untuk kerja-kerja pembangunan di Indonesia. Organisasi ini sudah bekerja kurang lebih 18 tahun di Sulawesi Selatan. Setelah beberapa tahun berhenti, kini program SOMOI berjalan lagi. Lukas adalah salah satu Terapis yang dikirim dari Belanda untuk bekerja di Tana Toraja, khususnya di sejumlah SLB dan menangani terapi fisik bagi anak-anak difabel kinetek (fisik), seperti anak dengan Cerebral Palsy, polio, atau orang dewasa yang terkena stroke.

Lukas, saat berkunjung ke PerDIK 22 Maret 2017 lalu.

Lukas mengurut dan memberikan pengetahuan cara mengontrol gerak dengan otak. Kini aku harus pandai mengendalikan dan memerintah otakku. Dulu, kaki digerakkan dengan spontan, kini aku harus belajar membangun kendali gerak itu melalui otakku. Sulit, masih sulit sampai sekarang. Tapi banyak perkembangan.

Sejak terapi itu, aku mulai bersemangat. Lukas dan Bibi Fem dari Somoi membelikanku Hape Vivo dan dengan itu aku berkomunikasi dengan Teman-temanku. Teman-temanku sudah ada yang kuliah dan bekerja. Aku malah merasa rendah diri karena hanya bisa terbaring, dan tak berdaya.

Setelah enam bulan, Lukas harus kembali ke Belanda. Nyaris bersamaan, kakakku Ricky juga merantau ke Bali. Aku sendiri di rumah kos. Kakakku, Ricka memilih tinggal di kos lain. Dalam kesenderian, godaan bunuh diri muncul lagi.

Aku menenggak banyak pil obat, berharap over-dosis.

Apa saya mati kali ini?

Aku cuma tak sadarkan diri. Begitu sadar, aku sudah di rumah sakit. Dua hari kemudian kekasihku datang dan katanya, ia mau membantu mengurusku sambil kuliah. Aku tak mengelak atas bantuannya. Tampaknya ia memang tulus ingin membantuku.

Ia lalu mengontrak kamar kos di depan kos ku. Ia menepati janjinya dan aku merasa bersemangat.

Menjelang Akhir Desember, ia pulang kampung. Ia mau meminjam hapeku, dan aku meminjamkannya dengan satu pesan. Aku ingin dia bicara ke orang tuanya tentang kondisiku dan memintanya untuk merekam. Dia mengiyakan.

Kekasihku ini bernama Selvi. Saya menaruh Harapan kepadanya. Sepertinya, semangatku yang ada saat ini, tersangkut padanya. Saya merasa perlu bertahan hidup.

Aku pacarana dengan Selvi sejak SMP dan kami berpacaran selama 4 tahun 2 bulan.

Ia pulang kampung untuk merayakan natal 2017 dan merayakan peralihan tahun baru di kampungnya.

Suatu sore, ia balik dan kami bertemu melepas rindu. Ada perubahan kurasakan. Ia beberapa kali menangis.

“Kenapa, dek?’’ dia memilih diam atau paling-paling menjawab tidak apa-apa.

Aku meminta rekaman ucapan orang tuanya. Ia memutarnya.

Kata-kata orang tuanya seperti dugaanku.

“Tak ada harapan yang bisa disediakan oleh seorang Ryan jika ingin terus bersama dirinya,” kira-kira begitu intinya.

Hening.

Aku membaringkan badanku, menenangkan diri. Selvi tak tahan dan memilih pamit ke kamarnya.

Setelah beberapa hari, ada perubahan dari Selvi. Aku melihat ada lelaki yang menjemput dan mengantarnya setiap ke kampus dan kembali ke kos. Aku mengenal lelaki itu, Teman panti ku dulu. Setelah tiga minggu, aku mendapatkan kejelasan. Mereka memang berpacaran.

Kekalutan Kembali menyerangku. Biasanya, kalau kalut begini saya lantas berpikir pendek lagi.

Bunuh diri? Ya.

Suatu pagi, aku bangun sebagai orang yang kalah.  Melihat cermin dan lantas aku membenturkan kepalaku sekeras-kerasnya. Pecahan kaca berhamburan seiring suara retakan. Darah mengucur deras dari kulit kepala yang robek. Aku memungut pecahan paling besar dan mengunyahnya penuh keputusasaan. Aku tak menhiraukan bibir dan lidahku tersayat-sayat. Darah mengucur dalam mulutku. Aku berharap menelannya, tapi aku pingsan lagi.

Ketika aku tersadar aku sudah berada di UGD rumah sakit. Aku melihat di sampingku ada kakakku, Ricka. Wajahnya menunjukkan kemarahan.

“Bodoh kau itu!” Ia menamparku.

“Mau cari mati?”.

Aku mengutuki kegagalanku mati hari ini. Tak peduli dengan tamparannya.

“Kenapa aku masih hidup? harusnya aku mati!” aku berucap dalam hati.

Setelah keluar dari rumah sakit, aku kembali ke kosku dan kembali hidup sendiri.

Selang beberapa hari, ibuku datang. Ia membawaku ke Enrekang. Di sana ia tinggal bersama suami dan anaknya.  Suaminya bukan bapakku. Ia telah bercerai dan menikah kembali.’

Di Enrekang, aku tinggal di kecamatan Maiwa, tepatnya Maiwa atas. Awalnya berjalan baik. Di sana aku memasak, mengepel, menyapu rumah, mencuci piring. Aku sering di tinggal selama seminggu sendirian, entah mereka pergi kemana.

Ketika ibuku pulang pasti ada saja cara untuk bisa memarahiku. Ibuku memang temperamen. Bahkan adikku pun diperlakukan keras. Suatu kali ia marah pada adikku dan aku merasa tidak nyaman jika tak membelanya. Ibuku bertambah marah dan dia memukulku dengan gagang sapu. Dalam kekalutan, ia mengambil pakaianku dan menghamburnya.

“Kau tidak ada gunamu!” matanya mendelik.

“Anak setan, kenapa dulu pas kecelakaan tidak mati saja!” Dia seperti kesetanan dan aku cuma bisa menangis. Memunguti pakaian dan tidak beranjak. Aku tetap memilih tinggal dan melakukan apa yang bisa kulakukan. Kali ini aku tak mau berpikir pendek. Aku tak mau berusaha bunuh diri lagi. Sia-sia saja. Tobat ma!

Saya menerima keadaanku tinggal di Enrekang. Walaupun ibuku masih suka marah-marah, aku menerimanya dan berupaya memakluminya. Ia juga menghadapi masa-masa yang sulit.

Pada awal 2019, Januari, saya mulai searching informasi tentang orang-orang cacat. Bagaimana mereka hidup, di mana bisa bekerja, dan lain-lain. Saya lalu mendapat informasi tentang Balai Rehabilitasi untuk orang dengan disabilitas di Kota Makassar. Aku senang dengan informasi ini. Aku terus mencari-cari informasinya. Websitenya cukup aktif sehingga banyak informasi yang bisa kubaca.

Aku juga mencari tahu info dari Dinas Sosial Kabupaten Enrekang. Kami terhubung. Aku meminta tolong agar bisa belajar di Balai. Mereka dengan senang hati mengurus segala keperluanku.

Pencarianku berbuah beberapa bulan kemudian. Pada Agustus, pihak dinas sosial menjemputku dan membawaku ke Makassar untuk belajar selama 6 bulan di Balai.

Saat inilah aku merasakan rasa nyaman yang lama tak kurasakan. Aku bertemu Teman-teman yang juga difabel dengan beragam kondisi. Aku tidak sendiri dan aku bukanlah yang paling mengalami kesulitan. Aku tidak akan kesepian lagi.

Ryand saat di Balai BRSPDF Wirajaya, Makassar

Bersama pegawai Balai Rehabilitasi Penyadang Disabilitas Fisik Wirajaya dan teman-teman difabel yang belajar di Balai, kami berbagi rasa dan semangat. Kami belajar sesuai minat masing-masing dan kepala Balai, Pak haji Syaiful sangat perhatian kepada kami dan memberikan kami banyak kekuatan untuk bangkit.

Di Balai, kami diajarkan menerima keadaan yang sekarang kami alami. Aku menerima dan aku sudah terbiasa untuk bercanda walaupun candaan itu terkait kondisi fisikku. Tidak apa-apa. Aku bersyukur, aku masih hidup. Aku masih bisa berjuang untuk masa depanku. Kini aku memantapkan diri dengan cita-cita yang harus kuraih.

Ryand (kiri) bersama 3 rekannya sesama peserta belajar Elektro HP di Balai Rehabilitasi.

Kelak, aku akan membuktikan kepada semua orang bahwa kami difabel tidaklah lemah seperti kata orang difabel itu orang cacat. Aku sering menonton motivasi dari Jack Ma, Nick Vujicic, dan masih banyak lagi. Oia, di Balai ini, aku juga menjalin kasih dengan Nurul. Dia perempuan difabel dan baik hati.

Sekarang saya juga bergabung dan aktif di PerDIK. Awalnya perkenalanku dengan Teman-teman PerDIK punya cerita tersendiri. Aku akan menceritakan singkat saja. Kelak aku akan bercerita lebih panjang.

Saat itu, selepas berlatih di Balai. Aku tinggal di Gowa bersama Ricka. Aku mau mendaftar kuliah.  Aku bingung sekali. Pihak Somoi, yang banyak mendukungku selama tinggal di panti bersedia memberiku beasiswa. Aku pun berupaya mencari informasi. Aku tak peduli saat kakakku menentang rencanaku. Tapi aku kepalang sudah jadi batu yang keras hati. Aku ingin kuliah.

Pada saat itu aku masih mencari kampus, ibu Annette menelponku dari Belanda. Ia memberiku saran untuk menghubungi Lembaga PerDIK. Akupun mencarinya di google. Mudah saja mendapatkannya. Ada nomer tertera di sana dan aku mengontak nomer itu.

Orang yang menerima telponku adalah Kak Ishak Salim. Ia ketua PerDIK. Aku ingat, dia banyak tanya kepadaku, dan banyak melucu dengan pertanyaan-pertanyaan atau merespon cerita-ceritaku.

Aku bilang, akum au kuliah di jurusan Teknik Elektro. Ia pun mengusahakannya. Aku mendapatkan sejumlah informasi termasuk brosur Universitas Islam Muhammadiyah, Unismuh. Aku menyampaikan ke Ibu Annette kalau aku telah terhubung dengan PerDIK dan aat ini kami sedang proses pendaftaran. Teman-teman PerDIK seperti kak Mamat dan kak Nur Syarif Ramadhan membantuku ke kampus.

Aku senang. Tapi kakakku tidak. Ia masih menentang keinginannku. Aku tetap tak peduli. Ia memintaku pergi. Aku mengadu ke PerDIK dan meminta kepada Kak Ishak agar aku bisa tinggal di PerDIK.

“Biar saya bersih-bersih di kantor, kak” pintaku dengan sedikit membujuk. Tiada penolakan. Aku diterima tinggal di PerDIK. Hari itu juga aku pinjam uang tetanggaku dan memesan GoCar lalu ke PerDIK. Saat ini, aku tak mau mati lagi. Ini babak baru hidupku. Aku mulai bergiat bersama Teman-teman. Terakhir, di Akhir tahun lalu (2020), kami rapat kerja di Malino. Kami di sana selama 4 hari. Seru sekali. Menghidupkan semangatku untuk menapaki hari-hari mendatang. Aku harus bisa terus hidup dan mencapai yang kuimpikan[]

Ryand saat turut raker bersama PerDIK di Malino