Pemerintah Mestinya Melibatkan DIFABEL Dalam Menyediakan Fasilitas Ramah Difabel

BEBERAPA PERWAKILAN organisasi difabel di Makassar pada jumat (11/05) mendatangi kantor perwakilan Ombusman Sulawesi Selatan yang beralamat di kompleks Plaza Alauddin Blok BA no. 9 Makassar. Gabungan organisasi difabel tersebut masing-masing Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK), Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI Sulawesi Selatan), Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI Sul-Sel), Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin Sul-Sel), dan Perhimpunan Mandiri Kusta (PERMATASul-Sel).

WhatsApp Image 2018-05-15 at 14.31.07 Continue reading “Pemerintah Mestinya Melibatkan DIFABEL Dalam Menyediakan Fasilitas Ramah Difabel”

Advertisements

Presentasi PerDIK di Simposium Pengorganisasian Rakyat, Komunitas ININNAWA.

Presentasi PerDIK pdf

Tak banyak pengorganisir rakyat mengurusi kehidupan difabel. siapa itu difabel? jika anda tak mengenal istilah itu, mungkin anda mengenal istilah lain yang lebih mainstream, orang-orang cacat. Siapa di antara pengorganisir rakyat saat ini yang mau mendalami isu mereka dan memikirkan jalan keluarnya. Dalam banyak kasus, isu ini tak menjadi perhatian pera pengorganisir rakyat. Untuk itu, difabel akhirnya memilih bergerak dengan kekuatan dirinya sendiri.

Difabel memiliki sejarah panjang stigmatisasi yang berimplikasi pada diskriminasi di seluruh sektor penghidupan masyarakat. Mulai dari penyematan beragam label yang menandakan mereka sebagai orang sakit dan tidak normal, cap miring yang mengiringi label tersebut, sampai pada pemisahan ruang aktivitas mereka yang berbasis cara padang kenormalan. Orang-orang ini, selain dianggap sakit dan tidak mampu, juga dikategorisasi sebagai abnormal.

Difabel berupaya melawannya dengan melakukan destigmatisasi baik dalam ranah pemikiran maupun kontestasi dalam kehidupan sehari-hari.

PerDIK, salah satu organisasi yang dijalankan oleh aktivis difabel di Sulawesi Selatan yang berdiri awal 2016 lalu. Organisasi gerakan ini sudah menunjukkan sejumlah tindakan yang berupaya meruntuhkan kemapanan cara pandang ‘medik’ dalam memandang difabel. Difabel bukan orang sakit, bukan pula orang tidak mampu yang hidup tanpa harapan cerah. Mereka pun bergerak mengorganisir satu demi satu difabel yang mereka temui. Tak jarang, aktivis difabel menemui orang-orang yang [baru] menjadi difabel dan menjelaskan bahwa menjadi difabel bukan akhir kehidupannya. Mereka membekali ‘kawan setara’ ini dengan beragam keterampilan teknis yang memungkinkannya bisa mandiri sebagai difabel dan melepaskan diri dari cengkaraman cara berpikir yang ‘mencacatkan’ mereka.

Saat ini, capaian mereka bersama PerDIK belum seberapa dan lagi pula, mereka tak selamanya berhasil dalam upaya kerja pengorganisasian. Masih banyak hal yang mesti dibenahi secara keorganisasian maupun kapasitas individual anggotanya.

Dalam simposium Pengorganisasian rakyat oleh Komunitas ININNAWA ini, mereka akan turut berbagi pengalaman soal apa yang sudah dan masih akan dilakukan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat difabel.

Mari simak diskusi pengorganisasian rakyat yang sepesial ini![]

PerDIK berbagi pengalaman pengorganisasian difabel dalam SIMPOSIUM PENGORGANISASIAN RAKYAT

Tak banyak pengorganisir rakyat mengurusi kehidupan difabel. siapa itu difabel?

Jika anda tak mengenal istilah itu, mungkin anda mengenal istilah lain yang lebih mainstream, orang-orang cacat. Siapa di antara pengorganisir rakyat saat ini yang mau mendalami isu mereka dan memikirkan jalan keluarnya. Dalam banyak kasus, isu ini tak menjadi perhatian para pengorganisir rakyat. Untuk itu, difabel akhirnya memilih bergerak dengan kekuatan dirinya sendiri.

WhatsApp Image 2018-04-05 at 21.07.41

Continue reading “PerDIK berbagi pengalaman pengorganisasian difabel dalam SIMPOSIUM PENGORGANISASIAN RAKYAT”

Kerinduan Dari Tanah Pasundan: Upaya Menanggalkan Label ‘Luar Biasa’ pada Seragam Sekolah Difabel

Oleh: Muhammad Lutfi (Alumni Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial, Jawa Barat)

WhatsApp Image 2018-03-05 at 5.45.34 AM

SAYA TIDAK TAHU, apa yang menggerakkan tangan saya menyalakan laptop. Tulisan Kang Syarif pada link ini, saudara tercinta saya beberapa hari lalu, memenuhi kepala saya dengan pikiran-pikiran. Pikiran itu lalu menuntun saya menuliskan artikel pendek ini.

Ada keresahan, kekhawatiran, bahkan mungkin juga ketakutan setelah membacanya. Satu hal pasti, semua rasa itu dibungkus oleh satu kerinduan. Kerinduan akan masa-masa berjayanya almamater kami yang tercinta. Kerinduan akan masa di mana kami saling merangkai mimpi dan berbagai kerinduan-kerinduan lainnya.

Continue reading “Kerinduan Dari Tanah Pasundan: Upaya Menanggalkan Label ‘Luar Biasa’ pada Seragam Sekolah Difabel”

Tentang Sekolah yang mendidik Difabel Netra di Makassar

BEBERAPA WAKTU LALU, seorang kawan bernama Yoga Indar Dewa mengundang saya berbagi cerita dengan warga binaan Yayasan Pembinaan Tunanetra Indonesia atau YAPTI Makassar. Yoga merupakan koordinator Asrama atau yang dulunya disebut Ketua Binaan YAPTI.

Menurut Yoga, pengalaman saya mengikuti ELTA (English Language Training Asistance) selama tiga bulan di Denpasar merupakan suatu pengalaman yang wajib hukumnya dibagi ke orang muda difabel penglihatan yang saat ini tinggal di YAPTI.

Continue reading “Tentang Sekolah yang mendidik Difabel Netra di Makassar”

Diskusi Disabilitas Dari Dua Dinding Facebook

Salam, berikut saya posting diskusi disabilitas dari dua dinding facebook, yakni dinding Fauzan Mukrim dan Ishak Salim. Atas semua komentarnya, PerDIK mengucapkan banyak terima kasih. Semoga kita dapat saling belajar dan bertindak lebih baik untuk kemanusiaan.

Bagi yang ingin membaca dalam format PDF silakan donload di sini

1

[DARI DINDING FAUZAN MUKRIM]

Fauzan Mukrim shared your post.

February 13 at 6:35am ·

Telaah kritis atas Windi dari Kak Ishak Salim,
Ketua Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK).

Sejujurnya, saya juga tak menyangka tulisan ttg Windi itu akan berdampak sedemikian. Saat menulis itu, yang saya pikirkan adalah bagaimana Windi tetap bisa menggambar dan mengembangkan bakatnya. Tak terpikirkan sama sekali untuk menjadikan dia objek “tontonan kaum Ableist”.

Meski demikian, saya minta maaf jika dianggap telah menyeret Windi ke bawah spotlight yang mungkin menyakiti matanya. 🙏🙏

Tak ada maksud juga untuk memperpanjang stigmatisasi. Perspektif saya soal disabilitas sejauh ini masih mengacu pada Aristoteles. Sebagaimana guru peradaban itu pada suatu pagi mengkhotbahi murid-muridnya:

“Tak ada yang bercacat selain pikiran, Anakku. Hanya dia yang jahat yang boleh disebut cacat.”

Continue reading “Diskusi Disabilitas Dari Dua Dinding Facebook”

Kontroversi Pemasangan Alat Kontrasepsi Bagi Difabel Tanpa Persetujuan Bersangkutan

Oleh Nur Syarif Ramadhan

BEBERAPA WAKTU YANG LALU, Koalisi Masyarakat Penyandang Disabilitas Indonesia mengeluarkan siaran pers menolak Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS), yang saat ini masuk sebagai prioritas dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2018.

Dalam Pasal 104 Draft RUU PKS per tanggal 23 Oktober 2017 versi DPR tertulis:

“Dalam hal pemasangan kontrasepsi terhadap orang dengan disabilitas mental yang dilakukan atas permintaan keluarga berdasarkan pertimbangan ahli untuk melindungi keberlangsungan kehidupan orang tersebut bukan merupakan tindak pidana”.

Continue reading “Kontroversi Pemasangan Alat Kontrasepsi Bagi Difabel Tanpa Persetujuan Bersangkutan”

Akhirnya, KPU Sulawesi Selatan Memiliki IKLAN PEMILU RAMAH DIFABEL

DALAM TALKSHOW BERSAMA KPU di salah satu saluran TV swasta pada Rabu, 24-01-2018, direktur eksekutif Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) Abd. Rahman yang lebih dikenal dengan nama Gusdur, menyarankan kepada KPU Sulawesi Selatan agar membuat sebuah iklan layanan masyarakat yang dapat diakses semua warga Sulawesi Selatan termasuk difabel.

Bagi Gusdur, hal tersebut teramat penting agar difabel juga bisa mengakses informasi mengenai tahapan menjelang pemilukada serentak pada 27 Juni 2018. Apalagi, pada pesta demokrasi sebelumnya, iklan yang pernah dibuat KPU kebanyakan belum memperhatikan perihal ke-akses-an informasi bagi difabel. Gusdur mencontohkan, acapkali KPU membuat sebuah iklan yang hanya berupa teks, yang tentunya tidak dapat diakses oleh seorang buta, atau berupa suara yang tanpa disertai teks yang menyulitkan pirsawan Tuli.

Continue reading “Akhirnya, KPU Sulawesi Selatan Memiliki IKLAN PEMILU RAMAH DIFABEL”

MENYIAPKAN KABUPATEN ENREKANG RAMAH TERHADAP DIFABEL

Pendahuluan

Pemerintah Indonesia telah menunjukkan komitmennya pada upaya promosi, pemenuhan, perlindungan serta penghargaan terhadap hak-hak Difabel (selanjutnya disebut secara bergantian penyandang disabilitas atau difabel) dengan meratifikasi Konvensi Internasional tentang Hak-Hak Asasi Penyandang Disabilitas melalui penerbitan Undang-Undang Nomor 19 tahun 2011. Langkah ini kemudian ditindaklanjuti dengan pengesahan Undang-Undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Continue reading “MENYIAPKAN KABUPATEN ENREKANG RAMAH TERHADAP DIFABEL”

Mengukur Kemampuan JASMANI & ROHANI Calon Kandidat Dalam PEMILU dan PILKADA: Sebuah Perspektif Disabilitas

IMG-20170813-WA0127
Ishak Salim Ketua Badan Pengurus PerDIK

Mengapa Difabel Protes?
SURAT KEPUTUSAN Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI No. 231/PL.03.1-Kpt/06/KPU/XII/2017 menuai protes dari komunitas difabel di seluruh Indonesia. Keputusan ini terkait Petunjuk Teknis Standar Kemampuan Jasmani dan Rohani serta Standar Pemeriksaan Kesehatan Jasmani, Rohani, dan Bebas Penyalahgunaan Narkotika dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota dan Wakil Walikota.

Di awali dari Kota Makassar, protes komunitas penggiat isu disabilitas kepada Misnah Attas, komisioner KPU Sulsel yang menyatakan bahwa jika seorang bakal calon teridentifikasi memiliki disabilitas-medik, maka pencalonannya dapat dibatalkan dan diganti oleh pihak pengusul.

Continue reading “Mengukur Kemampuan JASMANI & ROHANI Calon Kandidat Dalam PEMILU dan PILKADA: Sebuah Perspektif Disabilitas”