Update Donasi Difabel Lanjut Usia Hari ke-13

Terima kasih atas kepercayaan para donatur dan relawan yang mengurus donasi publik untuk Keluarga-keluarga Difabel Lanjut Usia.

Sampai hari ke-13 ini, kami akan sampaikan bahwa jumlah uang yang telah kami terima adalah sebesar Rp. 20. 301.000,- (Dua Puluh Juta Tiga Ratus Seribu Rupiah).

Sebagai informasi, kami telah menyiapkan 30 paket berisi sembako (beras 5 kg, Minyak 1kg, 1 kg gula pasir, 15 butir telur, 1 kaleng susu, 5 bungkus mie-instan), higienis-kit (2 sabun anti-septik, 3 masker kain), dan uang tunai Rp. 100.000. Sampai hari ini, Kami telah mendistribusikan ke-30 paket tersebut.

Selanjutnya pada sepuluh hari kedua, kami akan membelanjakan lagi donasi dan menyiapkan 30 paket berikutnya.

Berikut Update Donasi

NONAMAJUMLAH DONASITANGGAL TRANSFER
1DITA ININNAWARp500.00025 Maret 2020
2ZaldyRp200.00025 Maret 2020
3Juliana HamRp100.00025 Maret 2020
4Not ConfirmRp2.000.00025 Maret 2020
5Abdullah SanusiRp500.00026 Maret 2020
6Hamba AllahRp151.00027 Maret 2020
7Amirullah SyarifRp500.00027 Maret 2020
8dr. HabibaRp300.00028 Maret 2020
9AwemRp1.000.00028 Maret 2020
10No NameRp300.00028 Maret 2020
11NuniRp50.00028 Maret 2020
12ElvitaRp1.000.00029 Maret 2020
13Chaerunniza FitrianiRp50.00029 Maret 2020
14Ardi YansyahRp100.00030 Maret 2020
15Cheta NilawatiRp300.00030 Maret 2020
16Helmiati Kadir Rp500.00031 Maret 2020
17Nurhayati LatiefRp150.00031 Maret 2020
18Helviani PasangRp200.00031 Maret 2020
19H. Ivan P. DjalaniRp1.000.00001 April 2020
20Hamba Allah (UN)Rp1.000.00001 April 2020
21Mustakim MunirRp300.00001 April 2020
22AAYRp250.00001 April 2020
23Muhammad Fadly Rp100.00001 April 2020
24Ruth EvelinRp200.00001 April 2020
25Hj RamlahRp1.000.00002 April 2020
26H. Andi ArkamRp500.00002 April 2020
27Cucu SaidahRp500.00002 April 2020
28Hamba Allah (MA)Rp2.500.00002 April 2020
29Komunitas Pegawai BRSPDF WirajayaRp3.200.00003 April 2020
30Irawan DanuRp500.00003 April 2020
31Maya DamayantiRp250.00004 April 2020
32Endah MarheniRp1.000.00005 April 2020
34Andi SatrianaRp100.00006 April 2020

Bantuan Barang
1. Istiana Purnamasari, 1 liter Gliserin dan 2 botol Hand sanitizer
2. Komunitas Pegawai Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Fisik (BRSPDF), 30 lembar Masker kain
3. Kamaruddin, Difabel Community of Gowa sebanyak 50 lembar masker
4. No Name (Rappokalling) , 200 lembar masker kain

5. PT Telkom Indonesia (5 karung beras @ 25kg, 6 dos mie instan, 30 batang sabun anti septik, 180 masker biasa/sekali pakai)

Kami mengucapkan terima kasih.

Jika sampai kalimat ini Anda masih membaca dan ingin juga berdonasi, maka berikut petunjuknya.

#PerDIKmemanggil
Bersama Melawan COVID19

Mari Berdonasi untuk
DIFABEL LANJUT USIA

Wabah covid19 atau penyakit akibat virus corona sedang melanda dunia, termasuk Indonesia. Semua orang dapat terkena dampaknya, terkhusus Difabel Lanjut Usia. Mari bersama-sama meringankan beban orang-orang tua kita.

Kami akan mengorganisir Donasi dari Publik, orang-orang baik seperti Anda.

Jenis bantuan:
1. Alat Perlindungan Diri (APD) seperti masker, sarung tangan, dll.
2. Alat dan cairan Desinfektan
3. Subsidi cek/tes virus corona
4. Hand sanitizer
5. Sabun Antiseptik/cuci tangan
6. Paket Sembako
7. Bahan informasi akses
8. Uang tunai

Kirim donasi Anda ke Rek BRI : 380801020912531
(a.n. lembaga pergerakan difabel Indonesia untuk kesetaraan)

Atau, jika berupa barang, silakan kirim atau antar ke alamat:

Rumah PerDIK
Perumahan Graha Aliah
Jl. Syekh Yusuf Blok E3a Kelurahan Katangka, Kec. sombaopu, kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Untuk informasi donasi
cp. Zakia di 0895356062713

Boneka-boneka Periang dan Seorang Buta yang Malang: Catatan dari Working from Home

Oleh Ishak Salim

Sebenarnya working from home atau bekerja dari rumah bagi orang macam saya itu bukan tidak kalah sibuknya dari bekerja seperti biasa. Inilah masa ketika ruang publik dan privat bukan lagi bersinggungan tapi sudah menyatu. Beberapa kali, di awal mulai menetap di rumah di hari-hari biasanya harus bergerak ke sana kemari, meeting online mulai terjadi. Beragam media dicoba, mulai dari Whatsapp, teams microsoft, skype sampai akhirnya paling sering pakai adalah zoom yang lumayan menyedot jatah pulsa ku yang cuma se-giga sehari.

Pertama kali yang membutuhkan rapat adalah para steering committee untuk persiapan pertemuan Temu Inklusi Nasional 2020. Saat itu, kami belum menyinggung untuk menunda perhelatan. Kami masih berupdate informasi saja. Baru tiga hari lalu, setelah kami meeting online kembali akhirnya memutuskan menundanya.

Setelah itu satu persatu permintaan rapat atau obrolan online semakin menerpa. Group whatsapp untuk kebencanaan yang kuikuti sejak menangani bantuan Tim Relawan Kemanusiaan INSIST di Sulawesi Tengah akhir 2018 lalu, mulai ramai menyinggung dan merespon pandemi Covid19. Lalu barisan pergerakan disabilitas juga tak tinggal diam dan membentuk tim kecil yang bersepakat melakukan koordinasi nasional merespon wabah mendunia ini. Setelah itu, ada pikiran mengorganisir disabilitas juga dalam skala sulawesi selatan, walau agak jauh sebelumnya group disabilitas sulawesi yang kami sebut Sulawesibilitas sudah lama saling berkabar. Mereka semua dari sulawesi, mulai dari selatan sampai utara sana.

Kampus juga begitu, ada jadwal ujian proposal mahasiswa yang sudah mendesak. Kasihan anak orang tertunda ujian hanya karena WFH. Sebagai ketua program studi Ilmu Politik, saya memastikan ujian itu bisa berjalan melalui Zoom. Padahal saya tidak punya lisensinya dan hanya bisa pakai gratisan. Dari pengalaman memandu (host) ujian dari rumah ini, saya tahu kalau maksud zoom hanya menyiapkan jatah 40 menit itu adalah bahwa sebagai host, anda akan terputus sekian detik dan hilang dari perbincangan setiap memasuki menit ke-40 lalu masuk kembali. Saya melewati dua kali 40 menit terputus lalu ujian berjalan biasa lagi.

Hal ini juga kami alami saat panitia perekrutan peserta semiloka media inklusi, bersama Ira Hussain, Sunarti Sain, kak Yudha Yunus, Ferry mumbaya, Mia Un dan Lina yang harus segera memutuskan akan menunda pelaksanaannya ke September nanti, padahal rencananya adalah April 2020. Dari beberapa meeting from home yang kuikuti, di tim ini yang paling ramai dan nyaris kayak sedang kumpul arisan. Tidak ada etika meeting zoom yang peserta kalau tak bicara mesti mute posisi speakernya, bahkan video semuanya posisi on, tak perlu ada hal disembunyikan. Ruang privat siapapun menyembur ke ruang privat yang lain. Pokoknya siapa mau bicara langsung saja, silansungngang mi saia, begitu ungkapan Makassarnya. Tapi menurutku, pola meeting ini justru malah tidak bertele-tele tapi tetap ramai, asyik.

Working from home rupanya bukan sekadar mengikuti meeting yang terkadang bisa sampai dua jam lebih. Saya juga masih harus memantau dua – tiga group dadakan yang ramainya minta ampun. Kebanyakan adalah penggiat organisasi disabilitas di kabupaten-kabupaten. Pada awalanya, group-group baru akan dibanjiri beragam info soal wabah covid19, media poster foto atau video, lalu pelan-pelan mulai terorganisir. Jika tak sabar mengelola group, yang di dalamnya ada sekian banyak karakter: serius, sinis, ataupun pasif. Ibarat kapal yang melaut, jika penumpangnya kepenuhan dan tak mau diam, maka oleng lah kapal itu. Lama-lama tenang, dan seperlunya atau kadang riuh dan kebanjiran komentar lagi yang mau tak mau harus direspon.

Ada lagi meeting yang cukup serius, yakni saat harus merespon sejumlah masukan dari draf buku panduan monitoring pemenuhan hak-hak difabel yang saya, Mas Joni dan beberapa teman sedang susun. Padahal, rencana pelaksanaan pelatihan dan uji coba pemantauan yang instrumennya sudah dimulai dibahas sejak tahun lalu itu terpaksa juga harus ditunda sampai masa ketika wabah ini mereda.

Ini sedikit gambaran kesibukan dalam ruang publik yang sebenarnya saya lakukan di ruang kerja saya yang satu ruang dengan ruang bermain Dita (4) dan ruang belajar Tiara (11), kedua anak perempuan saya. Jadi bisa dibayangkan, saat aneka meeting yang menggunakan video itu berkali-kali mencuat wajah kedua bocah ini. Terutama si bungsu Dita, yang banyak dikenal kawan-kawan sesama aktivis karena seringnya ikut saat saya ke mana-mana untuk urusan organisasi dan advokasi.

Boneka-boneka yang Periang

Usai meeting, ajakan bermain langsung disambar anak saya. Bahkan kadang itu harus bersamaan dengan keharusan menemani Tiara yang sudah kelas 5 SD dengan tugas seabrek-abrek dari gurunya. Mulai dari membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana, sampai bersama merancang dan membuat buku mini soal agama. Kalau tugas buku ini, saya lumayan bisa dia andalkan. Dia senang dengan tugas membuat buku mini itu. Tapi bagi Dita, keahlian saya yang paling ia sukai adalah bermain dengan puluhan bonekanya. Semua punya nama dan sialnya, saya menghidupkan semua boneka itu dengan karakter yang berbeda satu sama lain. Ada pak polisi berperut buncit, frogly yang pemarah, winni the pooh yang tenang, si rusa yang berasal dari keluarga kaya, Uwa Pink yang pendiam tapi suka menduduki teman-temannya (Boneka beruang gendut berwarna pink dari Uwa Syukri), si gajah yang selalu di bully karena justru berbadan paling kecil, bravo si anjing yang baik, lincah namun tak suka menyalak, kecoa yang selalu jadi subjek omelan Frogly, Marsupilamin berekor tali rapiah yang selalu dipanggil Marzuki sipenjual bakso oleh teman-temannya, dan banyak lagi. Konsistensi peran dan nama-nama mereka itu yang membuat setiap hari harus ada obrolan bersama.

Minggu pertama WFH lalu, si gajah ulang tahun dan tiba-tiba Dita ingin rayakan pestanya. Ia lalu mengajak saya menata ruang pestanya dan sampai mengatur soal penjemputan mereka satu persatu—karena saat ini para boneka menguasai satu kasur di kamar dan acara ulang tahun dibuat di ruang tengah. Saya bersedia membantunya, dan Dita yang sudah setiap hari urusi soal masak-memasak dan menyuguhkan aneka macam masakan racikan dia ke saya menjamin suatu kue tart besar untuk si gajah. Jangan bayangkan ini serius, semua makanan yang dimaksud Dita itu adalah racikan dari beragam serpihan mainannya. Ia kadang menyiapkan Pizza jamur atau sosis, Jus anggur yang dicampur buah kiwi, es krim dengan 4 rasa, atau yang paling standar nasi goreng dan telur mata sapi.

Akhirnya ulang tahun berhasil diadakan. Saya tahu ini akan sukses dengan rencananya ini. Pengalaman mengelola pesta ia ciplak dari pengalaman perayaan ulang tahunnya yang ditata oleh Ita dan Ais saat Nopember lalu.

Acara ulang tahunnya memang ramai. Semua boneka hadir. Begitu ramainya sampai-sampai ‘Pak Polisi berperut buncit itu’ membubarkan pesta karena melanggar protokol keramaian. Waktu itu sebenarnya Presiden belum umumkan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar, tapi orang-orang di TV sudah mulai  sering mengabarkan dari tempat-tempat jauh tentang larangan berkumpul. Pesta ulang tahun berakhir. Frogly paling kecewa dan sempat hampir berkelahi dengan Pak Polisi. Pak Polisi yang sabar tak meladeni kemarahan Frogly dan tetap tenang namun konsisten meminta agar pesta berakhir cepat. Akhirnya, semua boneka kembali ke kasurnya dengan menumpang pesawat yang dikemudikan oleh saya dan Dita. Hufh!

Setibanya boneka di kasur dan tertata apik kembali, meeting from home  berikutnya sudah menunggu, atau respon atas pendapat-pendapat yang menumpuk di group whatsapp mesti diluruskan atau diperjelas kembali menghadang. Ruang publik, ruang privat sungguh menyatu.

Lalu, di mana istri saya, si sulung Iyyan dan nenek dalam kesatuan ruang ini? Aha, kopi berikut penganan ringan datang dengan rutin tanpa saya harus membuatnya sendiri seperti jika sedang di PerDIK atau kantor teman. Ajakan minum jus buah yang sudah siap tenggak, sodoran vitamin C yang kadang terlupa, atau perintah beli ini dan itu, bersihkan dapur yang kayak kapal pecah, dan bersama memikirkan urusan donasi untuk difabel lanjut usia yang kami adakan lewat PerDIK turut menjadi bagian working from home. Nenek yang tak bisa lepas dari bermacam tontonan di televisi dan Iyyan yang lebih banyak mendekam di kamarnya, belajar, main game, dan segala urusan anak baru gede.

Working from home tak punya jam kerja. Mata ini seperti harus melek sepanjang hari. Kombinasi dan silih bergantinya aktivitas ruang publik dan ruang privat ini nyaris tanpa jeda. Tak ada lagi sensasi perjalanan pulang ke rumah. Usai urusan publik, sedetik kemudian sudah harus berada di samping istri, atau menggendong anak, atau shalat berjamaah dan bergantian dengan istri menemani Iyyan dan Tiara mengaji. Saya mungkin bukan pengajar mengaji yang baik. Tak sabaran dan mudah kesal jika bacaan mereka keliru. Mungkin karena saya punya guru mengaji yang tegas di masa lau, jadi cara mengajar kadang menular. Atau mungkin saya saja yang tidak becus. Saya jarang menemani mereka mengaji.

Saya belum selesai. Masih ada aktivitas lain menyempil minta diurusi. Saat ini rencana menerbitkan buku saya sudah sedang berjalan. Judulnya abot, berat ‘Keluar Dari Hegemoni Pencacatan’. Sampulnya dapat pinjaman foto lukisan Uda Al (Faisal Rusdi, pelukis mulut) yang berjudul ‘reinkarnasi’. Lukisan itu tentang dirinya, jika ia akan terlahir kembali, ia tak masalah jika tak bisa jalan seperti saat ini, tetapi ia ingin terlahir kembali dengan sepasang sayap putih yang kokoh. Lukisan itu bergambar sebutir telur menetas dan seorang bayi lelaki tersenyum dan bersayap berbaring dalam cangkang yang merekah. Menurutku, ini akan jadi sampul keren yang mengawali pandangan pembaca sebelum menelusuri gagasan dan cerita-cerita pergerakan difabel dalam bukuku nantinya. Oia, bagaimana difabel visual, pembaca blind menikmati sampul buku?

Layout sudah ditata Cak Narto dan sekarang harus baca ulang lagi dan melihat di bagian mana mesti ada foto. Istriku dalam hal ini berniat baik membantu memeriksa aksara dan memutuskan di mana foto-foto mesti disediakan. Saya yakin ia bisa. Selain tahu betul bagaimana saya menulis buku ini, ia juga mengenal dunia pergerakan disabilitas yang saya geluti. Mungkin ia hanya akan dipusingkan oleh pikiran-pikiran Michel Foucault yang menjadi ruh buku itu. Saya yakin, ia akan terbiasa nantinya. Tebal nyaris 400 halaman ini akan menguras waktunya di sela-sela banyak urusan rumah yang harus ia selesaikan di setiap harinya.

Beberapa hari terakhir, saya dan kawan-kawan sibuk menggalang donasi publik. Kami memilih fokus membantu difabel berusia renta. Ini paling rentan terpapar dan akan terkena dampak jika ekonomi mandek gegara working from home. Kami terus menyiapkan diri dan saat donasi telah terkumpul, kami akhirnya harus keluar rumah, belanja barang sembako dan sanitasi-kit. Rupanya, Makassar di jalanan masih terbilang ramai. Tentu tidak sepadat biasanya tapi masih ramai. Beberapa tempat publik juga tak begitu mengendur keramaiannya. Pasar dan beberapa toko tetap tampak ramai dan protokol soal jaga jarak atau bermasker tak begitu dipedulikan.

Saya jadi parno sendiri. Selama dua minggu berusaha disiplin tetap di rumah, rupanya banyak orang tak peduli. Bahkan, dalam beberapa kali berpura-pura bertanya kepada orang seolah tak tahu soal covid19 ini, saya masih menemukan pandangan bahwa segala macam keseriusan menangani covid19 ini hanyalah seolah bualan saja. Isu miring yang tak perlu ditakuti sama sekali. Mendengar keragu-raguan atau keyakinan tak berdasar itu saya memilih buru-buru bermasker, atau menyemprotkan hand sanitizer di kedua telapak tangan dan mengosoknya, menyemprotkan desinfektan untuk segala macam benda didiriku, dan semakin rajin mencuci tangan.

Esok dan hari berikutnya, kami mulai mendistribusikan paket sembako ini ke rumah keluarga difabel lansia. Working from home seharusnya, tetapi barang-barang ini harus sampai juga di rumah mereka. Saya memperketat standar keluar rumah.

‘Jangan sampai tertular, dan kalaupun tertular, jangan sampai mati! Begitu seorang teman pernah bilang di salah satu group paling favoritku.

Seorang Buta yang malang

Dua malam lalu, 4 April, Nur Syarif mengabarkan infromasi menyesakkan. Di group difabel visual Makassar yang ia ikuti terdengar kabar dari seorang kawan. Syarif memperdengarkan ujaran yang mengabarkan seorang rekan mereka, penjual kripik menyatakan dirinya sudah positif terinfeksi virus corona. Ia sudah melapor di rumah sakit, dan pihak rumah sakit menolaknya tinggal karena tak punya sanak saudara yang bisa menemani. Ia penjual kripik keliling di Makassar dan berasal dari Kendari. Ia tinggal di Makassar di sebuah rumah kos, sendiri.

Saya, Syarif, Rahman Gusdur dan Zakia segera mendiskusikan apa yang harus kami lakukan. PerDIK sebagai organisasi advokasi difabel harus memperhatikan perlakuan yang tidak adil ini. Seharusnya pihak rumah sakit tidak membiarkan pasien ini pulang, apalagi saat sudah tahu kalau ia hanya sendiri di makassar ini. Kami memutuskan memakai standar penanganan resmi. Rahman segera mengontak kepala dinas sosial kota Makassar malam itu juga, Zakia menghubungi gugus tugas provinsi, dan Syarif cari tahu keberadaan kawan buta ini. Setelah Syarif berhasil dapat nomer kontaknya, alamat lengkapnya, selanjutnya Rahman memastikan pihak dinas kesehatan, dinas sosial untuk menjemput kawan yang malang ini.

Malam itu sepertinya mereka kerja cepat, entah malam atau entah pagi atau siang, akhirnya terdengar kabar beberapa jam lalu, di status ibu Aleta Karen Labobar pukul 23. 33 wita kalau kawan malang ini sudah dijemput dan diupayakan diterima kembali oleh RS Pelamonia TNI-AD. Sebelum tidur, saya mengabarkan kepada Rahman, Syarif dan Zakia kabar ini, juga teman-teman di group PerDIK Squad lainnya. Setelah itu tertidur setelah susah payah menidurkan Dita yang beberapa hari ini selalu tidur di atas jam sebelas malam.

Pukul 2.30 dini hari saya terbangun, minum air putih, mematikan air di kamar mandi yang sedari malam mengalir pelan, lalu mengambil laptop yang masih ada di mobil. Saya sengaja tak menurunkannya tadi. Saya menyemprotkan desinfektan ke dalam ruangan mobil dan membiarkan dua kaca mobil terbuka sedikit. Desinfektan ini bisa membunuh kuman yang menempel di benda-benda karena tadi saya membawa sejumlah bungkus sembako. Tadi Akas juga ikut saya ke sekretariat Gerkatin Kota Makassar untuk mengantarkan sepuluh paket sembako untuk lansia. Akas baru beberapa hari dari Jakarta. Ia kuliah di sana dan saat ini sedang karantina mandiri selama 14 hari. Ia sehat, tak punya gejala dan disiplin membersihkan diri dan kamar tidurnya di PerDIK. Ia juga melapor ke dinas kesehatan provinsi dan sudah ditelpon perkembangannya oleh Andani, perawat yang ditugaskan memantau orang yang melapor.

Tadi saya membutuhkan penerjemah bahasa isyarat dan Akas bisa bantu. Bu Faizah, ketua Gerkatin, yang juga membuat beberapa masker transparan bagi Tuli agar gerak bibir tetap terbaca menyodorkan 16 nama keluarga Tuli yang telah lansia. Kami baru menyanggupi memberikan 10 bungkus. Sisanya akan diupayakan di sepuluh hari kedua nanti.

Begitulah teman-teman, tetaplah semangat, berpikir positif, dan selalu terapkan protokol covid19: jaga jarak, rajin cuci tangan, pakai masker kain, jangan bersentuhan fisik, minum vitamin, makan makanan sehat bergizi, tidur yang cukup, tetap bekerja, tetap beramal, berdonasi, dan jangan lupa doa-doa harus tetap dipanjatkan[].

Makassar, 6 April 2020

04.11 wita

17 Difabel Lanjut Usia, Menerima Donasi Anda

Kami masih menunggu kebaikan kalian. Ini toh baru tahap pertama, di sepuluh hari pertama sejak donasi dikumpulkan. Wabah Covid19 di kampung kita juga baru mulai dibandingkan dengan tempat lain di sana yang sudah beberapa bulan.

Kita mulai rasakan kegelisahan, kepanikan, dan kecemasan. Sebagian kita mengurung diri di rumah, sebagian abai dengan segala pembatasan, dan sebagian sama sekali merasa biasa saja. Dulu, sebelum dan sesudah penetapan pembatasan sosial berskala besar, mereka sudah berdiam diri di rumah, berhari-hari, berminggu-minggu, bulan bahkan bertahun-tahun. Difabel yang telah lanjut usia atau difabel yang di sisi lain juga sedang sakit parah atau kesulitan mengakses alat untuk beranjak dari rumah merasakan dunia luar.

Perlahan-lahan, banyak dari kita mulai kebingungan dan merasa segala anjuran dan perlakuan adalah omong kosong belaka. Tak sedikit dari kita lalu marah dan berbohong merasa diri paling tahu keadaan. Kita menentang segala anjuran dan tetap kemana saja sesuka hati. Mereka yang merasakan kesulitan karena keadaan ekonomi merapuh juga menuding kondisi semacam ini sebagai tindakan berlebihan yang tak perlu. Cicilan hutang tersendat, pendapatan tersumbat, dan harga makanan atau kebutuhan pokok meroket. Keadaan akan semakin kacau balau ke depannya.

Kita tunggu saja. Orang-orang yang keras kepala, orang-orang yang tahu dan menaati aturan, dan mereka yang keraguannya terus menggunung akan menimbulkan ketidakberaturan paling parah. Mereka yang bisa mengatur ini harus bekerja keras mengendalikan keadaan. Kekacauan dari kombinasi orang-orang dengan ketidaktahuan apa yang terjadi sebenarnya, orang-orang dengan kemalasan untuk tahu dari sumber resmi, orang-orang dengan lemah kesabaran dan diri untuk berupaya bertahan hidup secara komunal akan semakin menjadi-jadi.

Tapi, sebaiknya, kita tetap tenang. Selogis-logisnya tindakan saat ini adalah berusahalah tidak tertular virus corona dan jikapun akhirnya tertular, berupayalah agar tubuh tidak melemah dan mati.

Sebelum apapun itu terjadi, hidup atau mati, tetap hidup atau sakit, kami akan melanjutkan mengalirkan kebaikan-kebaikan orang-orang baik seperti kalian. Kami sudah melewati target pertama kami.

Kami sudah melewati sepuluh hari pertama, dan masih akan mengumpulkan donasi sampai 29 mei 2020. Donasi perdana ini sudah kami belanjakan dan paketkan sebanyak 30 paket untuk difabel lanjut usia. Kami hingga hari ini sudah mengirimkan ke 17 keluarga difabel lanjut usia.

Hari ini akan kami upayakan untuk menuntaskannya. Tak muda mengantarkan paket-paket ini. Rumah keluarga difabel lanjut usia kebanyakan ada di lorong-lorong kampung kota. Mobil parkir di luar dan kami harus berjalan menyusuri lorong, mencari rumah, lalu masuk ke rumah dan bertemu dengan orang tua. Kami takut menjadi carrier, sehingga sedapat mungkin menghentikan cara ini. Kami akan coba cara lain: gosend, barang dijemput di tempat terdekat, atau ada cara lain yang belum kami pikirkan. Sudahlah, kami akan pikirkan itu.

Saat mengantar paket sembako ke keluarga difabel lanjut usia di Skarda

Kami menunggu donasi Anda!

Saat ini, perlu kami sampaikan perkembangan donasi hingga hari ke-11. Kami telah menerima Rp. 19.200.000 atau Sembilan belas juta dua ratus ribu rupiah. Kami juga menerima donasi barang, utamanya masker kain.

Berikut kami sampaikan, sejak 25 Maret – 3 April 2020.

1. DITA ININNAWA, Rp500.000

2. Zaldy, Rp200.000

3. Juliana Ham, Rp100.000

4. Not Confirm, Rp2.000.000

5. Abdullah Sanusi, Rp500.000

6. Hamba Allah, Rp150.000

7. Amirullah Syarif, Rp500.000

8. Habibah, dr, Rp300.000

9. Awem, Rp1.000.000

10. No Name, Rp300.000

11. Nuni, Rp50.000

12. Elvita, Rp1.000.000

13. Chaerunniza Fitriani, Rp50.000

14. Ardi Yansyah, Rp100.000

15. CN, Rp300.000

16. Helmiati Kadir, Rp500.000

17. Nurhayati Latief, Rp150.000

18. helviani Pasang, Rp200.000

19. H. Ivan P. Djalani, Rp1.000.000

20. Hamba Allah (UN), Rp1.000.000

21. Mustakim Munir, Rp300.000

22. AAY, Rp250.000

23. Muhammad Fadly, Rp100.000

24. Ruth Evelin, Rp200.000

25. Hj Ramlah, Rp1.000.000

26. H. Andi Arkam, Rp500.000

27. Cucu Saidah, Rp500.000

28. Hamba Allah (MA), Rp2.500.000

29. Komunitas Pegawai BRSPDF, Rp3.200.000

30. Irawan Danu, Rp500.000

31. Maya Damayanti, Rp250.000

Bantuan Barang

1. Istiana Purnamasari, 1 liter Gliserin dan 2 botol Hand sanitizer

2. Komunitas Pegawai Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Fisik (BRSPDF), 30 lembar Masker kain

3. Kamaruddin, Difabel Community of Gowa sebanyak 50 lembar masker

4. No Name (Rappokalling) , 200 lembar masker kain

Kami mengucapkan terima kasih.

Jika sampai kalimat ini Anda masih membaca dan ingin juga berdonasi, maka berikut petunjuknya.

#PerDIKmemanggil

Bersama Melawan COVID19

Mari Berdonasi untuk DIFABEL LANJUT USIA

Wabah covid19 atau penyakit akibat virus corona sedang melanda dunia, termasuk Indonesia. Semua orang dapat terkena dampaknya, terkhusus Difabel Lanjut Usia. Mari bersama-sama meringankan beban orang-orang tua kita.

Kami akan mengorganisir Donasi dari Publik, orang-orang baik seperti Anda.

Jenis bantuan:

1. Alat Perlindungan Diri (APD) seperti masker, sarung tangan, dll.

2. Alat dan cairan Desinfektan

3. Subsidi cek/tes virus corona

4. Hand sanitizer

5. Sabun Antiseptik/cuci tangan

6. Paket Sembako

7. Bahan informasi akses

8. Uang tunai

Kirim donasi Anda ke Rek BRI : 380801020912531 (a.n. lembaga pergerakan difabel Indonesia untuk kesetaraan)

Atau,

jika berupa barang, silakan kirim atau antar ke alamat:

Rumah PerDIK

Perumahan Graha Aliah Jl. Syekh Yusuf Blok E3a

Kelurahan Katangka, Kec. sombaopu, kabupaten Gowa,

Sulawesi Selatan.

Untuk informasi donasi

cp. Zakia di 0895356062713

Muh. Syukri Salim 081362900071

Update Donasi Difabel Lanjut Usia Hari ke-8

Berikut kami sampaikan bahwa hingga hari ke-8 atau sejak 25 Maret sampai 1 April 2020 adalah  Rp. 8.450.000 (Delapan juta empat ratus lima puluh ribu rupiah).

Sesuai jadwal kami, hari ini kami akan menarik uang tersebut dan membelanjakan lalu mengemasnya. Kami telah memiliki daftar nama dari database disabilitas yang kami miliki untuk 30 keluarga Difabel Lanjut Usia.

Untuk lebih lengkapnya, berikut nama donatur untuk aksi bersama ini.
Silakan, bagi kawan-kawan yang baik, turut berdonasi. Kegiatan kami ini kami patok sampai tanggal 29 Mei 2020, sesuai dengan masa waktu Tanggap Darurat sebagaimana ditetapkan pemerintah. Setiap sepuluh hari, kami akan mendistribusikan donasi ini sesuai daftar yang telah kami tetapkan.

Salam tangguh, tetap jaga kesehatan, tetap jaga jarak, tetap membaca dan memantau hal-hal positif, tidak perlu panik, yakin bahwa semangat kebersamaan kita itu masih ada dan dapat diandalkan.

Daftar Nama Donatur

  1. Dita Ininnawa, Rp500.000
  2. Zaldy, Rp200.000
  3. Juliana Ham, Rp100.000
  4. Abdullah Sanusi, Rp500.000
  5. Hamba Allah, Rp150.000
  6. Amirullah Syarif, Rp500.000
  7. No Name, Rp300.000
  8. Nuni, Rp50.000
  9. Elvita, Rp1.000.000
  10. Chaerunniza Fitriani, Rp50.000
  11. Ardi Yansyah, Rp100.000
  12. CN, Rp300.000
  13. Awem, Rp1.000.000
  14. Helmiati Kadir, Rp500.000
  15. Nurhayati Latief, Rp150.000
  16. Helviani Pasang, Rp200.000
  17. H. Ivan P. Djalani, Rp1.000.000
  18. Hamba Allah (UN), Rp1.000.000
  19. Mustakim Munir, Rp300.000
  20. AAY, Rp250.000
  21. Muhammad Fadly, Rp100.000
  22. Ruth Evelin, Rp200.000

Untuk info Dasar, berikut kami posting

#PerDIKmemanggil

Bersama Melawan COVID19

Mari Berdonasi untuk

DIFABEL LANJUT USIA

Wabah covid19 atau penyakit akibat virus corona sedang melanda dunia, termasuk Indonesia. Semua orang dapat terkena dampaknya, terkhusus Difabel Lanjut Usia. Mari bersama-sama meringankan beban orang-orang tua kita.

Kami akan mengorganisir Donasi dari Publik, orang-orang baik seperti Anda.

Jenis bantuan:

  1. Alat Perlindungan Diri (APD) seperti masker, sarung tangan, dll.
  2. Alat dan cairan Desinfektan
  3. Subsidi cek/tes virus corona
  4. Hand sanitizer
  5. Sabun Antiseptik/cuci tangan
  6. Paket Sembako
  7. Bahan informasi akses
  8. Uang tunai

Kirim donasi Anda ke Rek BRI : 380801020912531

(a.n. lembaga pergerakan difabel Indonesia untuk kesetaraan)

Atau, jika berupa barang, silakan kirim atau antar ke alamat:

Rumah PerDIK

Perumahan Graha Aliah

Jl. Syekh Yusuf Blok E3a Kelurahan Katangka, Kec. sombaopu, kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Untuk informasi donasi

  1. Al Ustadz, Muh. Syukri Salim 081362900071
  2. Zakia di 0895356062713

Update Donasi Difabel Lanjut Usia Hari ke-6

Terima kasih atas kepercayaan para donatur dan relawan yang mengurus donasi publik untuk Keluarga-keluarga Difabel Lanjut Usia.

Sampai hari ke-6 ini, kami akan sampaikan bahwa:

Sampai hari ke-6 ini, kami akan sampaikan bahwa:

  1. Jumlah uang yang telah kami terima adalah sebesar Rp. 4.700.000,- (Empat Juta Tujuh Ratus Ribu Rupiah).
  2. Satu Liter Hand Sanitizer dari Isti.

Sebagai informasi, pada hari kedelapan, kami akan membelanjakan donasi ini dan akan memprioritaskan 20 – 30 Keluarga Difabel Lanjut Usia di Kota Makassar. Selanjutnya, pada hari kesepuluh akan dikirimkan paket bantuan melalui pengantaran langsung atau go-send (Dengan tetap mempertimbangkan aspek higienitasnya).

Berikut Update Donasi

30 Maret 2020
12. Ardi Yansyah, Rp. 100.000
13. C N, Rp. 300.000

29 Maret 2020
10. Elvita , Rp. 1.000.000
11. Chaerunniza Fitriani, Rp. 50.000

28 Maret 2020
7. No Name, Rp. 300.000
8. Nuni, Rp. 50.000
9. Awem, Rp. 1. 000.000

27 Maret 2020
6. Amirullah Syarif, Rp. 500.000

26 Maret 2020
5. Hamba Allah, Rp. 150.000

25 Maret 2020
1. Dita Ininnawa, Rp. 500.000,
2. Zaldy, Rp. 200.000
3. Juliana Ham, Rp.100.000
4. Abdullah Sanusi, Rp. 500.000

Terus kirimkan donasi teman-teman dan lakukan konfirmasi melalui Zakia 0895356062713.

Info jenis bantuan:
1. Alat Perlindungan Diri (APD) seperti masker, sarung tangan, dll.
2. Alat dan cairan Desinfektan
3. Subsidi cek/tes virus corona
4. Hand sanitizer
5. Sabun Antiseptik/cuci tangan
6. Paket Sembako
7. Bahan informasi akses
8. Uang tunai

Kirim donasi Anda ke Rek BRI : 380801020912531
(a.n. lembaga pergerakan difabel untuk kesetaraan)

Atau, jika berupa barang, silakan kirim atau antar ke alamat:

Rumah PerDIK
Perumahan Graha Aliah
Jl. Syekh Yusuf Blok E3a Kelurahan Katangka, Kec. sombaopu, kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Untuk informasi donasi
cp. Zakia di 0895356062713

Update Donasi ‘Difabel Lanjut Usia’ Hari ke-5

Terima kasih atas kepercayaan para donatur dan relawan yang mengurus donasi publik untuk Keluarga-keluarga Difabel Lanjut Usia.

Sampai hari ke-5 ini, kami akan sampaikan bahwa jumlah uang yang telah kami terima adalah sebesar Rp. 3.350.000,- (Tiga Juta Tiga Ratus Lima Puluh Ribuh Rupiah).

Sebagai informasi, pada hari kedelapan, kami akan membelanjakan donasi ini dan akan memprioritaskan 20 Keluarga Difabel Lanjut Usia di Kota Makassar. Selanjutnya, pada hari kesepuluh akan dikirimkan paket bantuan melalui pengantaran langsung atau go-send (Dengan tetap mempertimbangkan aspek higienitasnya).

Berikut Update Donasi

29 Maret 2020

9. Elvita , Rp. 1.000.000

10. Chaerunniza Fitriani, Rp. 50.000

28 Maret 2020

  1. No Name, Rp. 300.000
  2. Nuni, Rp. 50.000

27 Maret 2020

  1. Amirullah Syarif, Rp. 500.000

26 Maret 2020

  1. Hamba Allah, Rp. 150.000

25 Maret 2020

  1. Dita Ininnawa, Rp. 500.000,
  2. Zaldy, Rp. 200.000
  3. Juliana Ham, Rp.100.000
  4. Abdullah Sanusi, Rp. 500.000

PerDIKmemanggil

Bersama Melawan COVID19

Mari Berdonasi untuk
DIFABEL LANJUT USIA

Wabah covid19 atau penyakit akibat virus corona sedang melanda dunia, termasuk Indonesia. Semua orang dapat terkena dampaknya, terkhusus Difabel Lanjut Usia. Mari bersama-sama meringankan beban orang-orang tua kita.

Kami akan mengorganisir Donasi dari Publik, orang-orang baik seperti Anda.

Jenis bantuan:

  1. Alat Perlindungan Diri (APD) seperti masker, sarung tangan, dll.
  2. Alat dan cairan Desinfektan
  3. Subsidi cek/tes virus corona
  4. Hand sanitizer
  5. Sabun Antiseptik/cuci tangan
  6. Paket Sembako
  7. Bahan informasi akses
  8. Uang tunai

Kirim donasi Anda ke Rek BRI : 380801020912531
(a.n. lembaga pergerakan difabel untuk kesetaraan)

Atau, jika berupa barang, silakan kirim atau antar ke alamat:

Rumah PerDIK
Perumahan Graha Aliah
Jl. Syekh Yusuf Blok E3a Kelurahan Katangka, Kec. sombaopu, kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Untuk informasi donasi
cp. Zakia di 0895356062713

Dari Beranda Whatsapp Sulsel Covid19 #2

Selamat pagi teman-teman, semoga sehat selalu.

Kemarin, update daerah-daerah tidak banyak. Dari bantaeng, Makassar, bulukumba dan Gowa saja. Biodata dari anggota group juga belum terhimpun semua. Baru sekitar lebih setengah.

Kebanyakan, perbincangan kemarin adalah soal data disabilitas. Surat keputusan kementerian sosial soal kemungkinan adanya bantuan sosial bagi difabel membuat Pertuni sigap melakukan pendataan. Menurut informasi dari @ismail yapti sudah sekitar 40-60-an difabel visual/netra terdata. Jika menurut data KPU Sulsel yang telah diolah PerDIK, maka ada 4.177 difabel berusia 17 tahun ke atas untuk sulsel. Sebenarnya, pemerintah memeiliki data dari SLRT namun berdasarkan pengalaman Bantaeng, data itu sulit diperoleh. Alangkah baiknya jika data ini bisa diakses juga oleh DPOs lalu kita bisa mengolahnya untuk kepentingan database kita bersama.

Data lain yang juga sempat mencuat dan dibutuhkan adalah data dampak Covid19 terhadap usaha ekonomi sektor informal difabel. Ini sangat perlu kita himpun teman-teman. Jika setiap daerah dalam group ini memiliki koordinator, maka kita bisa buat instrumen pertanyaan untuk dampak ekonomi bagi difabel selama Covid19 ini. Lalu data itu kita olah dan koordinasikan dengan pihak pemerintah dan non-pemerintah untuk dicarikan solusinya. Dalam proses ini sungguh penting kita dari seluruh daerah memiliki data base dinas sosial seluruh daerah sehingga dengan mudah kita bisa lakukan koordinasi dan kerjasama. Saya sudah meminta bantuan ke pak @Daeng Bani untuk meminta sejumlah kontak person atau kontak dinas dari seluruh daerah agar kita bisa membangun kerjasama. Saya juga sedang berusaha meminta data ke HKI Sulsel yang selama ini bekerjasama dengan dinas kesehatan dan dinas pendidikan.

Data sungguh penting. Saat ini kami sedang mengolah data disabilitas untuk setia kabupaten dan kami akan share ke teman-teman dan semoga bisa digunakan dasar menata database disabilitas di setiap daerah.

Isu lain yang juga dibicarakan adalah zona Sulsel yang sudah merah, khususnya Makassar. Kami berharap teman-teman meningkatkan kewaspadaan. Tetap akses informasi yang positif, jangan baca berita hoax atau berita kiriman orang lain yang tidak menyertakan sumber informasinya. Baca saja di situs-situs resmi pemerintah dan otoritas ilmu dan pengetahuan. Hindari berkerumun (jangan dulu lakukan shalat berjemaah mengingat kondisi yang sudah memungkinkan untuk rukshah atau mendapat keringanan dan dieprkuat oleh keputusan alim ulama dan Ulil Amri untuk melakukan ibadah di rumah).

Saya rasa, demikian beberapa hal singkat yang bisa saya sampaikan terkait group Sulsel Covid19, ini. Harapan saya, kita tetap memberi update atau perkembangan dari daerah masing-masing. Bukan hanya soal dampak covid 19 terhadap kita tapi juga hal-hal apa yang sedang kita upayakan sebagai bagian partisipasi difabel dalam perencanaan, penanggulangan dan rehabilitasi Covid19.

Salam tangguh
Ishak Salim
Ketua PerDIK