Romansa Seorang Ibu Melawan Diskriminasi Disabilitas

Oleh Nur Syarif Ramadhan

SELAIN PERTAMA KALINYA MENGIKUTI DISKUSI pembahasan peraturan perundang-undangan terkait isu pemenuhan hak-hak difabel di Jogjakarta, saya juga beruntung bisa bertemu dan berdiskusi dengan seorang tokoh difabel yang telah sepuh. Sejak muda ia sudah berjuang untuk mengangkat harkat, martabat dan kesetaraan hidup bagi difabel.

Sebenarnya, saya sudah menemukan namanya dalam daftar peserta yang dikirimkan panitia sehari sebelum acara berlangsung. Saya menduga dia lah orangnya, tetapi saya belum yakin betul, apakah nama itu memang dirinya, atau sosok lain. Ternyata, dugaan itu benar. Dialah Ariani Soekanwo, yang dalam beberapa catatan sejarah lebih sering disebut Ariani Muin. Banyak aktivis difabel—tua maupun muda—mengenalnya sebagai aktivis yang membela hak-hak difabel—ibu Ariani lebih suka menyebut istilah Penyandang Disabilitas.

20170726_214843
Ibu Ariani Soekanwo dan Nur Syarif Ramadhan

Continue reading “Romansa Seorang Ibu Melawan Diskriminasi Disabilitas”

Ujian, Lulus, dan Berjuang lebih gigih lagi

SEBULAstock-photo-tg-malim-malaysia-january-disabled-person-performs-a-salah-in-a-mosque-his-575037163N PENUH ATAU selama bulan Ramadhan, kita ditempa dalam ujian puasa: Menahan lapar, menahan haus, menahan hasrat seksual dan tentu saja amarah. Di sisi lain, kita juga diminta olehNya agar terus meningkatkan derma, mulai dari berbuat amal yang paling rendah nilainya yakni menyumbang sejumlah uang sampai kepada mendedikasikan diri untuk memperjuangkan hak-hak kaum dhuafa dan mustad’afin yang tentu saja tak selesai hanya dengan kerja dua tiga jam saja. Untuk keberhasilan kalian, kami, jajaran PerDIK mengucapkan selamat atas keberhasilannya, sukses meraih poin tertingginya masing-masing.

Continue reading “Ujian, Lulus, dan Berjuang lebih gigih lagi”

Makassar Barrier Free Tourism, bisa?

 

Di Jakarta, teman-teman seperti Mbak Cucu dan suaminya, Kang Faisal Rusdi (keduanya kini sedang studi di Australia) menjalankan sebuah program bernama Jakarta Barrier Free Tourism (JBFT). Acaranya sederhana. Setiap hari libur, hari Minggu, bersama belasan sampai puluhan partisipan pergi bertamasya di beberapa tempat wisata di Jakarta. Selain untuk membiasakan orang-orang Jakarta melihat dan berinteraksi dengan difabel, rombongan JBFT ini juga menilai seberapa akses tempat-tempat publik itu bagi difabel.

Continue reading “Makassar Barrier Free Tourism, bisa?”

Setelah Taklukan Gunung Latimojong, Difabel Netra Akan Bersepeda Makassar – Bulukumba

RILIS DIFABEL BERSEPEDA:
ride-blind2

MAKASSAR – Setelah sukses menapaki puncak Gunung Latimojong, pada Desember 2016 lalu, difabel netra dan daksa di Makassar kembali akan melakukan kegiatan ekspedisi. Kali ini mereka akan melakukan turing sepeda dengan rute Makassar – Bulukumba yang berjarak 153 Kilometer.
Continue reading “Setelah Taklukan Gunung Latimojong, Difabel Netra Akan Bersepeda Makassar – Bulukumba”

GAGASAN MENUJU WISATA SULAWESI SELATAN AKSES BAGI SEMUA!

Press Release PERDIK SULSEL

Makassar, 17 Januari 2017

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Bagi kebanyakan orang yang mengetahui indahnya alam Tana Toraja dan kekayaan budaya yang dimilikinya, dapat mengunjunginya dengan mudah adalah impian yang menyenangkan. Bagi kita yang tinggal di kota Makassar, walaupun jaraknya lebih 200 km, tetaplah jauh lebih mudah dibandingkan dengan orang dari luar pulau Sulawesi. Berwisata menikmati keindahan alam dan keragaman budaya manusia merupakan suatu hal yang perlu dilakukan setiap orang. Apalagi orang-orang yang kota dengan kesibukan sehari-hari yang melelahkan. Berwisata sejenak selama dua tiga hari di saat weekend adalah jalan keluar menyiapkan semangat prima di esok harinya.

Pendeknya, Berwisata adalah peristiwa yang menyenangkan setiap orang.

Continue reading “GAGASAN MENUJU WISATA SULAWESI SELATAN AKSES BAGI SEMUA!”

Begini kronologi 3 Difabel capai puncak Latimojong

Begini kronologi 3 orang Difabel capai puncak Latimojong

MAKASSAR – Tiga orang Difabel akhirnya mampu menuntaskan misi ekspedisi hingga ke puncak Rante Mario, Gunung Latimojong, Dusun Karangan, Desa Latimojong, Kecamatan Buntu Batu, Kabupaten Enrekang, Sulsel. Mereka adalah Eko Peruge dan Risma yang merupakan Difabel Daksa dan Abdul Rahman Difabel Netra. Setelah menghabiskan waktu perjalanan pendakian berhari-hari di dalam hutan, ketiganya akhirnya berhasil mencapai tranggulasi puncak gunung di hari ke-5 tepatnya Minggu 4 Desember 2016.

Selain mengabadikan dokumentasi ekspedisi, MAKASSARTERKINI.com terlibat langsung dalam perjalanan juga menyaksikan segala macam rintangan yang dihadapi para Difabel sebelum akhirnya mampu mencapai tranggulasi puncak gunung tertinggi di pulau Sulawesi ini.

Dihari pertama keberangkatan Rabu 30 November 2016, sekitar pukul 13.30 Wita dari posko induk, tepatnya di Dusun Karangan, didampingi sekitar 27 orang yang tergabung dalam tim ekspedisi yang mengusung tema Difabel Menembus Batas ini, seluruh tim mulai bergerak. Setelah menapaki setiap jejal bebatuan terjal perjalanan dan disambut dengan cuaca buruk, hujan deras dan angin kencang, tim akhirnya tiba di pos pertama pendakian pukul 15.30 Wita dan kembali melanjutkan perjalanan hingga ke pos dua pukul 20.20 Wita.

Dihari kedua, Kamis 1 Desember 2016, tim kembali bergerak sekitar pukul 10.00 Wita. Setelah kembali melewati kawasan hutan lumut, dengan jalur yang terjal dan licin serta vegetasi yang sangat merapat ditambah iklim dan suhu dingin sebelum akhirya tiba di pos Lima pendakian sekitar pukul 16.00 Wita. Memasuki hari ketiga, Jumat 2 Desember 2016, tepat sekitar pukul 11.00 Wita tim melanjutkan perjalanan. Namun kali ini, kondisi yang cukup berbeda ditemui.

Tim harus melalui setiap pijakan kaki dengan kondisi jalur terbuka. Udara yang kian menipis ditambah angin kencang karena keterbukaan jalur dengan tingkat kehati-hatian yang ekstra, tim melewati setapak jurang diantara punggungan dan tebing pegunungan sebelum akhirnya seluruhnya tiba di pos ketujuh sekitar pukul 20.00 Wita yang merupakan tempat persinggahan terakhir sebelum mencapai tranggulasi puncak gunung. Selanjutnya, Sabtu 3 Desember 2016 sekitar pukul 12.00 Wita akhirnya seluruh tim tiba di penghujung perjalanan tranggulasi puncak gunung yang memiliki ketinggian 3478 Mdpl ini.

Kordinator tim ekspedisi Eko Peruge mengungkapkan jika perjalanan ini merupakan momentum yang sangat istimewa bagi dirinya dan juga para Difabel lainnya serta tim yang selama dalam perjalanan mendampingi hingga mencapai puncak gunung yang dikenal sebagai “Atap Sulawesi” ini. “Ini adalah sesuatu yang sangat istimewa, bukan hal yang mudah bagi saya tapi dengan semangat dan keyakinan serta kerja keras dari seluruh tim, kami akhirnya bisa sampai kesini,” ucap Eko dengan bangga.

Baginya pendakian ini bukan merupakan hal yang pertama, karena sebelumnya beberapa pendakian kesejumlah puncak pernah ia lakukan. Namun, untuk Sulawesi sendiri ia mengaku gunung dengan ketinggian di atas 3 ribu ini baru pertama kalinya ia tapaki. Pria Daksa ini mengaku, meski menggunakan kaki satu dengan bantuan tongkat, tak menjadi masalah untuk beradaptasi dan menapaki setiap lorong-lorong perjalanan terjal dalam pendakian menuju puncak gunung.

“Untuk gunung Latimojong sendiri, baru pertama kalinya saya daki. Kalau tingkat kesulitan pastinya ada juga tapi banyak yang bisa dimanfaatkan sebagai alat bantu seperti akar dan batang pohon misalnya,” terangnya.

Senada dengan anggota Difabel lainnya, Risma mengaku tidak terlalu mengalami banyak kendala untuk melakukan pendakian bersama dengan seluruh tim ekspedisi dalam perjalanan ini. Ia mengatakan kondisi alam di gunung Latimojong disepanjang perjalanan membuatnya yakin mampu membantunya menapaki setiap jejal bebatuan, dan tebing curam hingga ke puncak. “Mungkin ini adalah yang paling luar biasa karena bisa sampai ke puncak gunung tertinggi di sini,” katanya.

Sementara Abdul Rahman, Difabel Netra ini mengaku jika dirinya seakan tak percaya bisa sampai ke puncak gunung tertinggi ke-lima di Indonesia ini. Ia menuturkan cukup banyak rintangan yang kadang membuatnya hampir putus asa untuk bisa sampai ke puncak. “Saya tidak percaya bisa sampai kesini. Tapi berkat usaha teman-teman di tim juga yang terus memberikan motifasi dan usaha agar saya tetap semangat. Karena, jujur saja ini baru pertama kalinya untuk saya,” tutupnya. (A)

Ditulis dan diwartakan oelh Arul Ramadhan (Jurnalis Makassar Terkini)

tulisan di atas diambil dari http://www.makassarterkini.com/berita/3573/begini-kronologi-3-orang-difabel-capai-puncak-latimojong

 

Tim Ekspedisi Difabel Menembus Batas 2016, berhasil mencapai puncak Rante Mario, 3478 mdpl!

img20161203070042Anda tentu tahu, sejak beberapa minggu terakhir kami, PERDIK Sulsel dan kawan-kawan dari berbagai KPA/MAPALA, Rescue team, mempersiapkan sebuah Ekspedisi Difabel Menembus Batas.

Kami berhasil melakukannya, Kawan-kawan! Berkat kerjasama tim dan dukungan dari kalian semua. Terima kasih, kami sudah mencapai puncak Rante Mario, 3478 mdpl.

Tetapi puncak itu bukan tujuan kawan-kawan. Batu di atas sana bukanlah tujuan kami.

img_20161203_103841_hdr

Diskriminasi atas difabel bukan terjadi di sana, tetapi ada di kampung-kampung, di rumah-rumah, dan bahkan di dalam pikiran-pikiran kalian. Ke sanalah tujuan kami sesungguhnya. Kepada kalianlah, di rumah tubuh maupun rumah pikiran andalah kami akan datang, daki, jelajahi dan menjelaskan bahwa betapa diskriminasi atas difabel dan orang-orang terpinggirkan lainnya pertama-tama berasal dari cara pandang dan kekurangan pengetahuan soal-soal itu.

Jadi, jika pendakian dari pos nol ke pos 7 dan kemudian puncak sudah kita lalui, maka itu baru awal pencapaian. Di depan sana, saat kalian sudah kembali ke rumah dan mulai kembali menjelajahi cafe, perpustakaan, mall atau kantor kelurahan sebagaimana hari-hari yang lalu, disanalah jurang-jurang menganga, jalur-jalur pendakian atau penurunan yang jauh lebih menantang untuk kita lalui.

Ya, siap-siap saja. Cukup sudah sedu sedan pendakian Latimojong. Tutup albummu, lalu ambil pena, kertas dan peralatan tempurmu!

Kawan, dukungan kalian tetap kami butuhkan, bukan sekadar klik atau share dan ragam emoticon reaksi lainnya. Kami ingin kalian ada di samping kami. Memperjuangkan apa yang bisa diperbuat untuk masa depan yang lebih baik!

Selamat Hari Difabel Internasional, 3 Desember 2016

Keterangan video: isi video adalah cuplikan proses pendakian yang dilakukan oleh Rahman Gusdur dengan dipandu oleh minimal 2 pendamping; kemudian saat-saat Rahman mencapai puncak, foto bersama di puncak.

Continue reading “Tim Ekspedisi Difabel Menembus Batas 2016, berhasil mencapai puncak Rante Mario, 3478 mdpl!”

MARI BERDONASI MENDUKUNG EKSPEDISI DIFABEL MENEMBUS BATAS 2016

Kami adalah Tim Ekspedisi Difabel Menembus Batas. Kami berasal dari berbagai lembaga yang konsern pada isu disabilitas dan lingkungan hidup. Salah satu lembaga utama pelaksana Ekspedisi ini adalah PERDIK atau Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan yang berkedudukan di Kota Makassar. Perdik menggalang dukungan dari beberapa Kelompok Pencinta Alam dan organisasi lain seperti Makassar Rescue dan Instansi Pemadam Kebakaran.

Tiga pendaki difabel Eko (difabel kinetik), Rahman dan Syarif (keduanya difabel netra) sedang menerima bimbingan teknik SRT dan Bina Jasmani.

Saat ini, kami sudah menghimpun dukungan secara sosial dari berbagai pihak untuk mendukung kami memulai dan mempersiapkan ekspedisi pendakian gunung tertinggi di Sulawesi Selatan, Gunung Latimojong (3478 mdpl). Pendakian dilakukan pada 29 Nopember – 6 Desember 2016 dengan diikuti 5 pendaki difabel dan belasan pendaki dari KPA kota Makassar dan kabupaten Enrekang. Selain pendakian, pada waktu yang sama, kami juga berdialog dengan pemerintah dan warga desa Latimojong terkait isu disabilitas dan pentingnya melibatkan difabel dalam kegiatan sosial dan pemerintahan di desa. Setelah pendakian, kami juga akan berbagi pengalaman terkait pendakian.

314986083b49022380a8abb2d0c26dcd5979ab38

Untuk dapat mengikuti persiapan kami, silakan kunjungi www.ekspedisidifabel.wordpress.com dan jika membutuhkan sarana komunikasi via email, silakan tujukan kepada kami di email: perdiksulsel@gmail.com

Jika Anda tertarik dan hendak mendukung gerakan kami ini, silakan memberikan donasi kepada tim ini melalui:
https://kitabisa.com/ayoekspedisidifabel?ref=29a6e&utm_source=facebook&utm_medium=sharebutton_payment_summary&utm_campaign=projectshare

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ekspedisi Difabel Menembus Batas: Bupati Enrekang Siap Membantu Pendaki Difabel

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Audiensi Tim Ekspedisi dengan Bupati Enrekang, 31 Oktober 2016

Bupati Enrekang, H. Muslimin Bando menerima kunjungan Tim Ekspedisi Difabel Menembus Batas pada 31 Nopember 2016. 3 Pendaki difabel, 2 Pencinta Alam dari KEPAL dan MAKASSAR RESCUE dan Pengurus PERDIK turut dalam kunjungan tersebut. Sebagaimana disampaikan dalam Konferensi Pers Tim Ekspedisi 28 Oktober 2016 yang lalu, tim Ekspedisi ini akan memeriahkan Hari Difabel Internasional 3 Desember mendatang dengan mendaki gunung tertinggi di Pulau Sulawesi, yakni Gunung Latimojong di Kabupaten Enrekang.

Continue reading “Ekspedisi Difabel Menembus Batas: Bupati Enrekang Siap Membantu Pendaki Difabel”

Difabel Menembus Batas Mendaki Gunung Latimojong

ekspedisi-difabel_konferensi-pers-2

Makassar, 28 Oktober 2016

MENDAKI GUNUNG dan menikmati petualangan alam adalah dunia orang-orang muda. Dunia orang-orang yang menyukai tantangan dan menikmati kemenangan setelah menaklukkan kelemahan diri sendiri. Memang, bukanlah menaklukkan alam itu yang disebut kemenangan, namun menaklukkan diri sendiri, melawan rasa lelah dan ingin menyerah menghadapi tantangan selama perjalanan itulah sesungguhnya kemenangan dalam pendakian gunung atau melintasi alam-alam tanpa hiruk pikuk manusia.

Continue reading “Difabel Menembus Batas Mendaki Gunung Latimojong”