Urgensi Kolaborasi Koalisi Organisasi Disabilitas dan Jurnalis Independen Kota Makassar

Bagi tindakan aktivisme disabilitas yang memiliki target pergerakan berupa transformasi sosial, relasi antara organisasi pergerakan disabilitas dan media massa perlu dijaga. Organisasi disabilitas memiliki agenda mengubah perspektif stigmatik masyarakat terkait disabilitas. Yakni mengubah perspektif berbasis tragedi, derita serta objek amal atau bantuan, menjadi berperspektif kemampuan, subyek bermartabat dan berdaulat. 

Di sisi lain, media massa merupakan institusi yang mampu mengubah perspektif pembaca akan suatu peristiwa dan keberpihakannya untuk menyiapkan informasi yang benar dan adil kepada khalayak luas juga tak dapat diabaikan.

Dalam setahun terakhir, PerDIK bersama sejumlah organisasi disabilitas melakukan analisis dan advokasi anggaran publik pro disabilitas. Kegiatan ini  adalah melakukan peningkatan kapasitas aktivis difabel dalam membaca anggaran publik, melakukan riset persepsi difabel terhadap layanan kesehatan kota makassar, training advokasi serta melakukan kampanye jalanan dan mengajukan sengketa informasi publik ke KIP Sulawesi Selatan.

Selama proses ini berjalan, beberapa persoalan kemudian dihadapi oleh koalisi. Pertama, persoalan data jumlah difabel yang masih berantakan, fasilitas layanan kesehatan yang belum akses atau dapat mengakomodasi difabel dan minimnya alokasi anggaran yang disediakan pemerintah dalam memenuhi hak difabel di kota Makassar.

Selain itu, pemerintah cenderung merahasiakan informasi anggaran kota Makassar terhadap warganya yang difabel. Ini terjadi saat koalisi organisasi disabilitas ingin melakukan analisis anggaran dan meminta data informasi anggaran ke beberapa SKPD, informasi tersebut enggan diberikan.

Sayangnya, anggota dewan  juga cenderung menganggap isu ini tidak terlalu penting. Ini terlihat saat koalisi organisasi disabilitas melakukan public hearing ke anggota  DPR,  Koalisi hanya ditemui oleh satu anggota dewan dari fraksi PKS.

Kami kemudian memikirkan agar Kerja kolobarotif ini diperluas, khususnya dengan Pihak Media, agar  Informasi terkait proses kerja kolaborasi, informasi dari hasil kerja maupun pengetahuan yang diproduksi selama kerja kolaborasi berlangsung dapat direproduksi dan disebarluaskan melalui beragam media: Media Massa Daring maupun Luring.

Untuk itu, kami mengadakan sebuah Media Briefing  pada Kamis, 25 Juni 2020, Pukul 10.00 – 12.30 Wita, bersama Koalisi DPO Kota Makassar dengan disupport pula oleh Indonesian Corruption Watch (ICW) dengan kawan-kawan Jurnalis kota Makassar. Tentu saja hal ini terbuka untuk umum, utamanya bagi para penggiat isu disabilitas.

Diskusi ini sekaligus meminta pihak media massa memberikan masukan kepada aktivis difabel mengenai strategi perjuangan kemanusiaan berbasis media.(*)

PerDIK Berupaya Membudayakan Pencatatan Pengorganisasian dan Advokasi Difabel

Oleh: Ishak Salim

Menuliskan pengalaman aktivitas yang menjadi bagian dari gerakan difabel tak ada salahnya. Coba amati organisasi-organisasi difabel yang pernah eksis sejak jaman lampau sampai sekarang. Berapa banyak pengalaman bisa kita petik dari para pendahulu kita? Hanya beberapa saja yang punya catatan yang dengan rutin dan konsisten untuk terus menulis. 

Di Sulawesi Selatan, dari semua organisasi difabel atau organisasi penyandang disabilitas yang ada, organisasi mana yang punya catatan perjalanan dan dapat diakses secara terbuka? Sepertinya tidak ada. PerDIK yang baru berusia amat belia masih berusaha membangun kultur pencatatan dalam perlawanan anti-pencacatannya.

Sebut saja PPDI mulai dari tingkat kabupaten dan provinsi, atau Gerkatin, Pertuni, ITMI, dan organisasi berjenjang lainnya, apakah mereka memiliki catatan? Jikapun ada, di mana catatan itu dapat dibaca publik?

Saya belum ingin memikirkan mengapa perilaku mencatat dari organisasi-organisasi gerakan ini tidak menjadi budaya berorganisasi dan pergerakan kita. Namun kenyataannya cukup sulit jika kita ingin belajar bagaimana para senior dulu mengelola gerakan disabilitas mereka. 

Ambil saja misalnya bagaimana pengalaman Pak Saharuddin Daming mulai sekolah di YAPTI dan terus hingga pendidikan tinggi dan berkontribusi membangun Pertuni di Sulawesi Selatan? Atau sebutlah bagaimana Sepasang suami – istri Pak Bambang dan Bu Mia Un memulai komitmen mereka membangun gerakan disabilitas di Sulawesi Selatan? Termasuk juga bagaimana Hj Ramlah Mella membangun Gerkatin SulSel dan terus berkembang hingga saat ini? Lalu bagaimana pula Al-Qadri Sewa dan kawan-kawan yang hidup dengan stigma kusta dan kemudian mendirikan dan mengaktifkan Perkumpulan Mandiri Kusta Sulawesi Selatan dan berdiri pula di sejumlah daerah? Pun demikian dengan kawan-kawan di daerah yang berorganisasi dan terus bergerak tetapi sayangnya tanpa jejak catatan yang dapat dipelajari oleh generasi aktivis berikutnya. 

Tentu saja masih banyak pertanyaan-pertanyaan historis lain jika kita ingin benar-benar memahami bagaimana bangkit, jatuh, kembang, mati, bangkitnya gerakan difabel atau disabilitas di Sulawesi Selatan.

Dalam penelusuran saya, beruntung ada beberapa akun pribadi yang dengan sedikit demi sedikit menuliskan pengalaman mereka berorganisasi. Tak banyak sih, hanya bilangan jari sebelah lengan saja. Saat ini masih banyak aktivis disabilitas yang aktif. Di antara mereka ada yang remaja dan menjelang dewasa, ada pula yang berada di usia matang, serta tak sedikit yang telah beruban dan mulai lemah.  Beberapa aktivis malah telah tiada. 

PerDIK berupaya membudayakan pencatatan pengorganisasian dan advokasi difabel memperjuangkan hak-haknya. Tidak mudah untuk konsisten dalam jangka panjang, karena kami hidup dalam Habitus pergerakan yang aktivisnya lebih sibuk mengurusi urusan administrasi dari pada catatan lapangan dan catatan analisis atas situasi yang dihadapi dan bagaimana mereka menghadapinya. Keluar dari habitus ‘malas menulis’ ini tak mudah, apalagi jika keinginan kita untuk menulis seringkali dikalahkan oleh mental seorang yang sudah tunduk pada rezim administrasi Ndoro funding.

Di PerDIK, belum banyak yang mau serajin-rajinnya menulis. Yang tergolong menggembirakan dalam dunia kepenulisan itu  Nur Syarif Ramadhan dan Nabila May Sweetha, keduanya sungguh produktif . Lainnya masih tertatih seperti Zakia Khyadhaniel Zaskia yang pernah sekali menulis dan @luthfi yang sudah memulai dengan dua atau tiga tulisan. Sementara Rahman Gusdur menyerah setelah dua draft tulisannya tak juga layak untuk diposting. Persoalannya sangat teknis sebenarnya, soal pengetikan dan tingginya mis-spelling dalam tulisanya.

Eh, kok malah melenceng ini hehehe . Anggap saja, kita saling mengingatkan ya teman-teman. 

Siapa pembaca Al Qur’an Braille pertama di Indonesia?

Pada 1963, A. Arif, Direktur Jenderal Rehabilitasi Penyan¬dang Cacat Departemen Sosial RI waktu itu menyerahkan sebuah Al-Qur’an Braille yang diambil dari Perpustakaan Braille Wiyata Guna Bandung kepada Supardi Abdul Somad. Supardi adalah seorang tunanetra yang bekerja sebagai juru ketik Braille [latin] di Kantor Sosial Yogyakarta. Saat itu, belum ada satupun tunanetra maupun orang awas yang dapat membaca aksara braile Al Qur’an tersebut. Untuk itu, Supardi meminta bantuan kawan dekatnya yang kuliah di IAIN bernama ‘Dharma Pakilaran’ asal Sulawesi Selatan untuk mempelajari teknik membaca taktil Al Qur’an tersebut.

Menurut penuturan Haji Dharma Pakilaran–saat kami bertamu di rumahnya di Makassar, saat itu ia sama sekali tidak mengetahui bagaimana membaca huruf braille, baik untuk membaca dengan huruf latin maupun Al Qur’an. Ia pun mempelajarinya secara otodidak dengan mengandalkan panduan yang tersedia. Menarik, karena Dharma adalah seorang muallaf yang baru masuk Islam saat remaja sewaktu bergolak pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan. Ia adalah keturunan etnis Toraja dengan agama keluarga saat itu Protestan (yang masih bercampur dengan ajaran Aluk Todolo, keyakinan/agama asli orang Toraja).

Saat kuliah di IAIN Yogyakarta pun ia masih sedang memperlancar baca Al Qur’annya. Selain itu, Ia bukan seorang difabel netra . Tapi akhirnya ia bisa mempelajarinya setelah berulangkali mencocokkan bacaan hafalannya dengan huruf taktil Al Qur’an Braille itu.

Ia kemudian mulai mengajarkannya kepada murid-murid di Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (Yaketunis) yang saat itu baru mereka rintis bersama Supardi Abdul Somad dkk.

Bagaimana nasib Sang Perintis ini sekarang? Mari baca kisahnya yang dituturkan Nur Syarif Ramadhan di:

https://ekspedisidifabel.wordpress.com/2017/07/20/hikayat-seorang-pembaca-al-quran-braille-pertama-di-indonesia/

Bulukumba [mau] Serius Eliminasi Kusta

Oleh: Ishak Salim

Angka ideal yang hendak dicapai dunia mengeliminasi pengidap kusta adalah < 1 per 10.000 penduduk. Di Bulukumba, jumlah pengidap kusta adalah 4,6 per 10.000. kabupaten ini menduduki peringkat ke-2 tertinggi di Sulawesi Selatan. Jika tiada stigma yang mengekor isu kusta ini, maka angka ini seharusnya tidak mengkhawatirkan. Teknologi pengobatan kusta saat ini sudah menggunakan metode MDT (Multy-Drug Therapy), jaminan sembuh lebih tinggi, apalagi terdeteksi sejak dini. Persoalannya, dikarenakan beragam labelisasi dan stereotifikasi terhadap orang yang mengidap mikroba-leprae yang membuat proses deteksi dini tak semudah yang dibayangkan oleh siapapun, pemerintah maupun non-pemerintah.

Semalam diskusi publik ‘kenali kusta, hapus stigma: upaya membangun kerja kolektif masyarakat Bulukumba’ memberikan banyak pengetahuan. Peserta diskusi relatif ramai. Jumlahnya kisaran lebih 50 orang. Diskusi berlangsung di Cafe Mr. Redmont dan disiarkan langsung oleh radio suara Panrita lopi FM. Arum Spink, anggota DPRD Sulsel dan pemilik cafe yang hadir malam tadi tiba-tiba menyampaikan bahwa untuk malam ini seluruh kopi free!

Saya merasa senang bisa memfasilitasi pertemuan ini. Sebagai moderator, saya melarang partisipan bertanya, saya menyilakan 10 orang hanya menyampaikan pengetahuan dan pengalamannya soal kusta. Dengan cara itu, forum mendapatkan insight dan bukan pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban-jawaban yang boleh jadi membosankan. Bertanya bisa jadi sangat pribadi, tetapi menyampaikan pernyataan lebih bersifat publik.

Dengan cara itu saya mencatat informasi penting yang bisa menjadi masukan untuk lebih mengenali kusta di satu sisi dan men-destigmatisasi di sisi lain.

  1. Saat ini kondisi sanitasi buruk, kita perlu memperbaiki kondisi permukiman.
  2. Orang yang terpapar kusta banyak tinggal di desa dan untuk itu pemerintah desa harus hadir dan menjadi bagian upaya eliminasi ini.
  3. Eliminasi bukan hanya kerja masyarakat sipil tapi harus terintegrasi dengan kerja pemerintah daerah.
  4. Data kusta di pemerintah kabupaten harus mudah dijangkau.
  5. Informasi terkait kusta tidak gencar sehingga relatif sulit bagi orang awam mendapatkan informasi yang benar.
  6. Di sisi lain menyerap dan memahami informasi terkait kusta buruh waktu, informasi berulang melalui strategi distribusi pengetahuan harus simultan.
  7. Informasi kusta melalui iklan harus lebih sering. Saat ini, iklan anti tembakau lebih gencar ketimbang isu kusta.
  8. Agamawan khususnya Islam, harus serius menampilkan hadis-hadis positif soal kusta. Penceramah memasukkan perjuangan eliminasi stigma kusta dalam ceramahnya. Hidup bersih sebagai bagian dari iman.
  9. PerMaTa perlu mendorong Perda terkait kusta.
  10. Perlu memperhatikan pendidikan orang yang pernah mengalami kusta.
  11. Orang yang mengalami kusta jika sudah terobati tidak akan menulari orang lain.
  12. Gencarkan deteksi dini berbasis sekolah (dasar dan menengah)
  13. Perlu berani memperjuangkan hak OYPMK. Misalnya mau mengurusi kartu identitas kependudukan. Stigmatisasi membuat oypmk tak masuk dalam data kependudukan.
  14. Bangun koordinasi antar pihak.
  15. Pihak keluarga yang terpapar perlu lebih terbuka dan berani memberikan keterangan ke Puskesmas terdekat.

Informasi ini kemudian mendapatkan respon dari narasumber dengan kesimpulan bahwa komitmen untuk eliminasi stigma kusta sudah harus diperkuat malam ini dan perlu adanya pertemuan lanjutan.

w, 10 Februari 2020

Bergerak Bersama Aktivis Difabel Bulukumba: Pengalaman seorang Ibu Rumah Tangga

Oleh Ira Kadir, Pembina PPDI Bulukumba

Kenalkan, saya Ira Kadir. Baik di akun facebook maupun instagram, saya juga menggunakan nama yang sama. Saya seorang ibu rumah tangga dengan dua anak, putra dan putri. Keduanya masih sekolah. Suami saya seorang ASN di Badan Pendapatan Daerah kabupaten Bulukumba.

Ira Kadir

Saya ingin berbagi kisah tentang saya sedikit. Sekadar berbagi tentang kegiatan sosial yang baru dua tahun ini saya geluti. Kisah berawal di akhir 2017

Sebuah pertemuan tak sengaja. Saya mengenalnya di medsos. Ia seorang pejuang kemanusiaan. Namanya Suherman. Saat itu ia sedang menjual stiker di akun facebooknya. Melalui penjualan stiker itu, ia sedang menghimpun dana untuk membeli kursi roda. Bukan untuk dirinya. Ia menggunakan kruk. Ada seorang yang lumpuh dan membutuhkan kursi roda.

Mencermati caranya menghimpun dana secara mandiri, saya pun merasa tertarik. Jiwa kemanusiaan saya tergerak membeli stiker yang ia jual. Saya tetap memantau akun Pak Suherman. Ia aktif memberitakan aktivitas sosialnya membantu orang-orang yang membutuhkan.

Dari hari ke hari saya semakin sering melihat Pak Suherman di medsos. Saya pun semakin terdorong untuk lebih kenal dengannya. Saya juga ingin ikut membantu kegiatannya.

Suatu hari, saya mengundang Pak Herman mengobrol dan ngopi di rumah. Ia datang.

Masya Allah, saya dan suami saya baru tahu kalau ternyata Pak Herman adalah Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas yang saat itu saya kenal dengan kata ‘penyandang cacat’.

Atas izin suami, kesokan harinya saya membantu Pak Herman menjual stiker. Saya bersyukur mendapat ridho dari suami. Sejak hari itu, saya mulai menemani Pak Herman bergerak membantu orang-orang.

salah satu kunjungan ke pelosok desa

Saya membonceng motor Pak Herman. Ia menggunakan sebuah kruk karena sebelah kakinya diamputasi. Ia memiliki kisah di masa muda sehingga kakinya diamputasi. Ia akan menceritakan jika ada yang bertanya atau sedang berbagi cerita dengan teman-teman disabilitas yang lain. Setelah hari pertama bersamanya, saya nyaris setiap waktu menemaninya jika ada rencana mengunjungi difabel di desa-desa di Bulukumba. Uang dari hasil penjualan stiker pun akhirnya cukup untuk membeli kursi roda. Saya merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Pak Herman dan orang yang dibantunya.

Sejak itu, kami semakin gencar mengunjungi teman-teman difabel. Kami menjemput dan membantu melakukan perekaman identitas jika ada difabel tidak memiliki surat identitas resmi. Setiap perjalanan, Pak Herman selalu duduk tenang saat saya memboncengnya ke pelosok-pelosok desa.

Memasuki tahun 2018, kami membuat kalender dan akan menjualnya. Kami menyebutnya ‘kalender untuk disabilitas’. Dari hasil penjualan kalender, kami bisa membeli 10 kursi roda, melakukan bedah rumah bagi keluarga difabel yang kondisi rumahnya kritis. Salah seorang yang kami rehab rumahnya adalah seorang yang lumpun bernama Agus dari desa Anrang. Saat itu, beberapa teman Tuli membantu proses ‘bedah rumah’. Ya, kami memang tidak hanya berdua. Ada sekian banyak orang turut menemani kami membantu penyandang disabilitas.

Saat bedah rumah, saya mengajak suami saya untuk turut membantu. Saya sengaja mengajaknya agar ia bisa lihat langsung apa yang saya lakukan bersama Pak Herman dan kawan-kawan disabilitas. Selain itu, ada juga seorang ibu bernama Hj. Radiah turut menyumbangkan konsumsi selama proses bedah rumah berlangsung.

Berkat semakin aktifnya pergerakan kami, PPDI Bulukumba semakin dikenal. Pun demikian Pak Herman. Kami melewati masa-masa senang dan sulit. Berkunjung ke desa-desa tak selalu mulus. Kami pun kepanasan atau kehujanan. Bahkan kadang kami juga merasakan kelaparan jika waktu tempuh ke desa cukup jauh.

Bersama Kepala Pengadilan Negeri Bulukumba

Beruntung kami juga sama-sama rajin memposting kegiatan di medsos. Postingan juga membantu PPDI Bulukumba lebih dikenal oleh orang-orang. Hal lain, melalui postingan kami memperkenalkan orang-orang atau lembaga yang turut membantu kami. Ada banyak dermawan turut membantu memudahkan kerja-kerja kami.

Tapi, sebagai perempuan, seorang ibu, dan membonceng lelaki tampan, kami tak lepas dari perlakuan bully. Saya beruntung suami dan keluarga besar saya tidak membatasi untuk terus berbuat bersama Pak Herman dan PPDI Bulukumba. Saya pun mengacuhkan saja bulian itu. Saya tidak peduli omongan orang. Saya tetap melangkah dan berpikir positif.

Akhirnya satu persatu anggota keluarga turut membantu kami. Ada sepupu dan keponakan saya tertarik ikut dalam kegiatan sosial kami. Ibu Maya dan dek Herwin lalu bergabung. Segala kegiatan kami, mulai dari pendataan dan penjualan stiker mereka selalu ikut.

Perlahan-lahan, orang-orang mulai mengenal saya sebagai pemerhati disabilitas. Saya juga semakin aktif. Saya memperkenalkan Ketua PPDI Bulukumba dengan Ibu Andi Soraya. Ia adalah anggota dewan yang baru terpilih. Ia juga tertarik bergabung dalam pengurus PPDI Bulukumba sampai akhirnya menjadi pengurus Dewan Pembina PPDI. Saya juga diminta Pak Herman menjadi bagian dalam Badan Pengurus. Saya bersama dengan Ibu Andi Soraya sebagai bagian dari Badan Pengurus. Pada 23 September 2019, Ketua PPDI Provinsi Sulawesi Selatan melantik pengurus PPDI Bulukumba yang baru. Sebenarnya, saya hanya ingin menjadi pemerhati saja, tapi ketua PPDI Bulukumba mengharuskan saya jadi anggota dewan pembina yang diketuai Ustdz Ihwan Bahar (ketua da’i Bulukumba) dan Ibu Andi Soraya, sebagai anggota DPRD Bulukumba.

Akhir 2019, PPDI Bulukumba berduka, salah satu penyandang disabilitas buta berkasus dan menjalani hukuman. Saat itu saya dan Pak Herman kebetulan bertemu dengan Kepala Pengadilan Negeri, kepala kejaksaan, Bupati, Wakil Bupati, Sekda, Polres dan Dandim di satu acara. Saat itu, kami memohon agar kami bisa mendampingi difabel atas kasus yang dijalaninya. Alhamdullillah kami mendapat dukungan dan diberi kesempatan. Dalam proses peradilan, upaya pendampingan kami berbuah hasil yang bagus. Pak Hatib, divonis hukuman yang lebih ringan dari tuntutan awal.

salah satu kunjungan ke pelosok desa

Memasuki tahun 2020, kami kembali mengadakan dan menjual stiker menghimpun dana. Saat itu, salah satu rumah keluarga difabel roboh akibat terpaan angin kencang dan hujan deras. Ada cukup banyak dermawan turut menyumbang. Dari hasil donasi, bedah rumah dilakukan dan ada banyak pihak membantu, termasuk teman-teman disabilitas yang lain seperti Paksu, Sekjen Lidik-Pro, Pak Darwis.

Memasuki tahun 2020 ini, kami juga sedang menyiapkan diri melaksanakan Temu Inklusi Nasional ke-4 tanggal 13-16 Juli 2020. Kami dari PPDI Bulukumba aktif dalam persiapan-persiapan ini, termasuk di desa Kambuno.

Sebetulnya ada banyak yang ingin saya tulis. Ini catatan pertama saya dan ini hanya sebagian kecil saja yang sudah pernah kami lakukan. Saya berharap para sahabat yang mendukung kerja-kerja sosial ini tetap mendoakan saya dan semoga kami tetap sehat dan prima agar bisa berbuat lebih baik.

Terima kasih sudah membaca coretanku!

Pak Suherman, kini bersama motor akses

Aktivis Difabel Sudah Waktunya Paham Politik Anggaran dan Strategi Advokasi Yang Komprehensif!

Oleh: Nur Syarif Ramadhan

Sejak  kemarin (26 Januari 2020) sampai besok, (28 Januari 2020) kami (PerDIK Sul-sel)  bersama Indonesia Corruption Watch (ICW), memfasilitasi pelatihan advokasi dan strategi kampanye dengan melibatkan beberapa organisasi dan komunitas difabel di kota Makassar dan kabupaten Gowa seperti Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) kota Makassar, Perhimpunan Mandiri Kusta (PerMATA) kota Makassar, Nasional Paralimpic Committee (NPC) kota Makassar, Pustakabilitas PerDIK, Persatuan Tunanetra Indonesia (PerTUNI) Sulawesi Selatan, Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) Sulawesi Selatan, Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (GerKATIN) kota Makassar, Gerakan Mahasiswa dan pelajar untuk Inklusi dan Kesetaraan (GemPARKAN) dan Difabel Community (DC) Gowa. di Swiss Bell Hotel Panakukang.

April 2019,  Kami dan ICW mencoba menelusuri data, mendiskusikan, dan menganalisis anggaran daerah untuk pemenuhan pelayanan publik bagi difabel. Dari kegiatan-kegiatan tersebut, kami mengidentifikasi sejumlah persoalan dalam pemenuhan pelayanan publik bagi difabel.

Temuan terkait persoalan tersebut  tidak hanya penting sebagai pengetahuan bagi PerDIK, ICW, dan mitra namun juga bagi publik dan pengambil kebijakan. Tujuannya agar masalah yang terpetakan ini menjadi perhatian semua pihak dan didiskusikan dalam lanskap jangkauan yang lebih luas, termasuk dalam perumusan kebijakan selanjutnya. 

Agenda selanjutnya   adalah melakukan audiensi dengan Dewan  Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan pemerintah daerah serta kerja-kerja kampanye kreatif yang menarik perhatian publik luas. Untuk menyasar perbaikan kebijakan, respon positif dari pengambil kebijakan, atau meluaskan kampanye kepada publik, strategi kampanye yang komprehensif pada dasarnya mutlak dibutuhkan.

Rumah strategi yang disusun bersama oleh para peserta

Strategi yang didalamnya mencakup bacaan terhadap konteks permasalahan hingga menyusun taktik ini akan lebih membantu kita dalam mencapai dan mengukur tujuan advokasi.

untuk itulah  kami mengadakan pelatihan dan diskusi bersama mengenai penyusunan strategi kampanye. hal ini tak hanya bermanfaat untuk menjadi dasar langkah organisasi difabel  ke depan dalam mengadvokasi temuan analisis anggaran dan masalah pelayanan publik bagi difabel, pelatihan ini juga dapat dimanfaatkan secara luas untuk menyusun kampanye banyak isu lain.

Mengingat strategisnya penggunaan media sosial untuk tujuan-tujuan aktivisme publik, dalam pelatihan ini juga  dipaparkan materi pokok mengenai konten, strategi distribusi konten, dan keahlian dalam mengelola media sosial. Tanpa konten yang efektif dan efisien, tentu konten tersebut tidak akan memiliki makna yang tepat. Tanpa adanya strategi yang dimiliki dalam distribusi konten, tidak akan didapat pengaruh yang luas sebagaimana tujuan kampanye. Adapun keahlian dalam mengelola media sosial dibutuhkan untuk mengolah dan menempatkan konten yang tepat sesuai dengan karakter media sosial.

beberapa Materi lain yang juga  dipaparkan diantaranya, Strategi Kampanye, (Campaign Strategy, Teori perubahan (Theory of change), memotong isu, pemetaan kekuatan (power mapping), dll. dan tiba-tiba saya teringat pengalaman beberapa bulan yang lalu saat saya masih di Aotearoa dan mendapatkan ilmu ini dari orang-orang spesial dari Selandia Baru dan Australia.

Hasil analisis kekuatan organisasi dan orang-orang penting yang berpengaruh.

Sudah waktunya memang organisasi-organisasi difabel mengetahui alat-alat advokasi seperti ini untuk mendukung kerja-kerja advokasi organisasi dan komunitas difabel selanjutnya. Jika bukan difabel yang melakukan ini terus kepada siapa kita harus berharap? sudah sekitar 7 tahun kota Makassar punya peraturan daerah disabilitas, tetapi apakah pemerintah sudah mengalokasikan anggaran untuk implementasi perda tersebut?

sayangnya tak ada diantara kita yang tahu. Maka dari itu, sudah waktunya kita belajar tentang ini. Sudah waktunya difabel ambil peran, bukan lagi menunggu program-program pemerintah yang nyatanya belum benar-benar sesuai dengan hak-hak kita.

Pagi dan batik produk difabel

Oleh: Ishak Salim

Pagi ini saya bersemangat sekali. Terlalu pagi tiba di tempat berlatih advokasi difabel. Kegiatan ini kerjasama PerDIK, ICW dan organisasi disabilitas di Makassar.

Saat memfasilitasi training advokasi dan strategi kampanye di Makassar

Sudah terbilang lama, kawan saya aktivis kusta, Angga Van Boenija memberikan kain batik produksi komunitas difabel Blora. Mereka mencetak batik bermotif difabel, berkursi roda misalnya. Saya dapat kain berwarna hijau.

Saya lama menunda menjahitnya menjadi kemeja. Saya pikir, saya hanya akan menjahitnya kalau ada kawan difabel saya yang selain aktivis dia juga menjahit.lalu, terdengarlah info kalau ketua DC (difabe community) Gowa, Kamaruddin bisa dan punya usaha menjahit. Lalu istri saya, Ida Arianti Said membawakannya ke Gowa. Kebetulan ada pertemuan bikin kreasi kerajinan manik-manik bersama ibu-ibu Difabel Community Gowa.

Kemarin sore, saat sama-sama dalam pelatihan di hari pertama, daeng Kama menyerahkan dua baju yang telah jadi satunya bermotif batik Blora dan satunya lagi bermotif Papua, pemberian kawan baik asal Papua.

Saya jadi bersemangat pagi ini. Bahkan dalam berpakaian pun rasa ideologi gerakan difabel itu terejawantahkan. Saya membandingkan satu peristiwa penting dari satu penggal hidupnya Mahatma Ghandi, pejuang kusta di India.

Baju Batik hasil jahitan ketua difabel community Gowa (Kamaruddin).

Saat dia semakin lemah karena puasa makan demi persatuan etnis dan agama di India, ia akhirnya menerima tawaran para elit politik berbagai kalangan. Tapi Ghandi memberi satu syarat, minuman yang akan ia pakai berbuka, hanyalah dari olahan seorang yang telah sembuh dari kusta, sahabatnya yang ia rawat dengan telaten di pondoknya.

Menurutku, pilihan itu sungguh mulia. Jelas itu ekspresi kenabian. Orang macam kita ini tak ada apa-apanya, walau bisa sedikit demi sedikit mengikuti jejaknya, mengikuti saja.

Sekali lagi, selamat hari kusta sedunia!

Menyikapi Protes Difabel Visual di Bandung [urgensi menghapuskan sistem pendidikan segregatif]

Penulis: Ishak Salim

Di Makassar ada beberapa orang buta hidup mandiri dengan menjajakan kripik keliling perumahan. Kadang ia sendiri atau kali lain dengan anaknya. Jika berkeliling dianggap berat, maka seorang usahawan difabel netra cukup menyiapkan sebuah meja kecil di pinggir jalan raya dan ia duduk menunggu orang menyapa dan membeli produknya.

Selain itu, ada orang buta hidup dari usaha panti pijat, ada mahasiswa buta di universitas dan menjalani hari-hari bersama mahasiswa lainnya. Ada siswa-siswa buta yang terhimpun dalam satu sekolah namanya Yapti atau SLB A lainnya. Ada juga orang buta yang jadi aktivis kemanusiaan, menjadi direktur pergerakan seperti Rahman Gusdur [yang saat ini sedang belajar singkat di Sidney], ada pula guru dsb.

Bagi kami di PerDIK Sulsel, sekolah luar biasa (khususnya kategori A, netra), apakah berbasis panti atau tidak, hanya cocok untuk siswa netra pemula setingkat SD atau setinggi-tingginya sampai SMP saja. Masuk SMA, sudah harus ke sekolah umum.

Sistem pendidikan segregasi, apalagi bagi difabel netra/visual tidak membutuhkan banyak adaptasi di sekolah-sekolah yang selama ini hanya berisi orang melihat saja. Jika sekolah umum terbuka untuknya, maka tidak perlu lagi ia tinggal di panti, walau ia tinggal di kabupaten Maros, Pangkep, Gowa atau yang lebih jauh lagi dari Makassar. Jika ia mau sekolah, cukup di sekolah terdekatnya dan tak harus ke SLB yang jauh. Anak difabel visual ini untuk ke SMP atau SMA tidak harus ke jalan daeng tata (SLB pembina) atau ke jalan kapten tendean (SLB Yapti) untuk sekolah.

Kritik terbesar pada peristiwa Bandung sebenarnya bukan ditujukan pada perseteruan orang-orang yang merasa nyaman dengan sistem panti dan SLB dengan Kemensos yang membatasi upaya rehabilitasi dan habilitasi jangka panjang, tapi ini soal massifnya ketidakpedulian pengelola sekolah umum membuka diri pada siswa difabel dan belajar model baru, yakni metode pendidikan inklusif.

Di Bandung, orang yang memulai pertama kali sistem segregatif ini adalah Dr. Westhop, seorang dokter mata dari Belanda yang juga harusnya bertanggung jawab memudarnya peran dukun-dukun mata di awal tahun 1900-an. Setelah kemerdekaan dan pemerintah mengambil alih lalu menjadi Panti Wiyata Guna dan beroperasi sampai saat ini, sistem pendidikan segregatif tetap dipertahankan. Padahal alam berpikir kita mulai marak dengan sistem pendidikan inklusif.

Sebagian besar kita ada di bagian yang tidak peduli, tidak mau tau, tidak atau belum tau bahwa sistem pendidikan segregatif sudah memisahkan warga difabel dari berbagai fasilitas mainstream yang ramah buat kedua bola mata kita, kedua gendang telinga kita, kedua lengan kita, kedua kaki kita. Bagi kita, sistem pendidikan itu sudah taken for granted dan nyaman buat kita, sementara bagi difabel itu harus melalui konfrontasi sehari-hari.

Salah satunya, kalau seorang pelajar SMA buta dan bertongkat putih harus naik Petepete (koasi) ke sekolahnya dan supir itu percaya ketemu orang buta pagi-pagi bisa dapat sial maka jangan harap siswa buta itu bisa langsung dapat Petepete. Atau ada orang tua yang anak gadisnya buta dan mau sekolah di SMA negeri terbaik di kota Makassar ini, harus menerima dulu penolakan demi penolakan sebelum akhirnya ia temukan satu sekolah yang kepala sekolahnya atau gurunya berani setidaknya ‘coba dulu’ sebelum rasa ingin coba itu dimentahkan oleh prasangka dirinya bahwa orang buta pasti tidak mampu belajar matematika!

Peristiwa Bandung seharusnya membawa kita belajar hal-hal baru untuk memajukan sistem pendidikan kita agar lebih manusiawi. Tulisan Luthfi Agenofchange berikut ini bisa membantu kita melihat bagaimana politik pendidikan bergemuruh di SLB di Makassar. 

Selamat membaca!

https://ekspedisidifabel.wordpress.com/2018/03/06/kerinduan-dari-tanah-pasundan-upaya-menanggalkan-label-luar-biasa-pada-seragam-sekolah-difabel/

Difabel Mengurai Dampak Bencana

Oleh Shafar Malolo, Ketua Gema Difabel Mamuju

Shafar saat melakukan assessment dampak bencana di Kota Palu

Bencana gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi di Donggala, Palu dan Sigi provinsi Sulawesi Tengah menyisakan duka mendalam. Tercatat, per 11 Oktober 2018 terdapat 2.073 jiwa meninggal, korban luka-luka sebanyak 10.679 terdiri dari 2.549 luka berat—dan berpotensi menjadi difabel dan 8.130 luka ringan. Jumlah penyintas telah mencapai 87.725 jiwa. (Sumber BNPB : Laporan Situsi Penanggulangan Bencan Gempa Bumi dan Tsunami Sulawesi Tengah 11 Oktober 2018)    

Continue reading “Difabel Mengurai Dampak Bencana”

DISKUSI DIFABEL DAN KEMISKINAN

dilaksanakan oleh pustak@bilitas

Poster Diskusi (teks tersedia)

Halo Sahabat Pustak@bilitas

Tahukah kamu, 17 Oktober lalu diperingati sebagai hari Pengentasan Kemiskinan Internasional?

Sebagai isu multidimensional, kemiskinan memiliki banyak kesamaan dengan isu Difabel. Menariknya, kedua lingkaran ini, sering bersinggungan hingga menghasilkan irisan yang berujung pada kerentanan berlipat.

Bersama Ishak Salim, Kaprodi Ilmu Politik Universitas Teknologi Sulawesi dan Ermawati dari PerMaTa (Perhimpunan Mandiri Kusta) DPC Gowa. Selaku pemercik bara diskusi. Kita akan mencoba menelaahnya dari berbagai perspektif.

Seperti biasa, Rumah PerDIK Sulsel (Jln. Syekh Yusuf Komp. Graha Aliyah Blok A3a, Katangka, Kec. Sombaopu, Gowa) menanti kehadiran dan gagasanmu di Sabtu sore, 15.00 WITA hingga usai, 26 Oktober 2019.

Pastikan Kehadiranmu, dengan mengirimkan pesan (Nama Lengkap_asal Instansi_Difabel dan Kemiskinan) ke Luthfi di WA-nya 085342577787. Tersedia E-Sertifikat.

credited for Andi Kasri Unru

logo pustakabilitas (buku, aksara latin, aksrara braille, audio, isyarat bahasa isyarat dan tulisan pustakabilitas/pustak@bilitas